• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Perception of Paddy Farmer Group Members on the Leadership of Farmers Group Leader in Kebumen, Central Java Province

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Perception of Paddy Farmer Group Members on the Leadership of Farmers Group Leader in Kebumen, Central Java Province"

Copied!
285
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI ANGGOTA KELOMPOK TANI PADI TERHADAP

KEPEMIMPINAN KETUA KELOMPOK TANI

DI KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH

SAPTORINI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

1

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Persepsi Anggota Kelompok Tani Padi terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Mei 2013

Saptorini

NRP. I351100081

1

(4)
(5)

RINGKASAN

SAPTORINI. Persepsi Anggota Kelompok Tani Padi terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Dibawah bimbingan: NINUK PURNANINGSIH dan BASITA GINTING SUGIHEN.

Pada umumnya perubahan perilaku kelompok sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya. Jika pemimpin efektif dalam mempengaruhi anggotanya maka anggota akan berperilaku sesuai yang dikehendaki oleh pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan kelompok tani menjadi hal yang strategis untuk diperhatikan pada upaya penyuluhan pertanian melalui pendekatan kelompok. Pemimpin (ketua) kelompok tani dapat menampilkan berbagai fungsi dan figur kepemimpinan dalam kelompok tani untuk menggerakkan anggota agar melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok. Persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku. Dengan demikian, apabila terdapat persepsi yang baik dari anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani, maka dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mewujudkan keberhasilan kelompok tani.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani, (2) Menganalisis hubungan faktor internal petani anggota dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani tersebut, (3) Menganalisis hubungan faktor eksternal petani anggota dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani, (4) Menganalisis tingkat keberhasilan kelompok tani, dan (5) Menganalisis hubungan antara persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dengan keberhasilan kelompok tani.

Rancangan penelitian menggunakan metode survei untuk menjelaskan hubungan antar variabel penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang menjadi anggota kelompok tani padi di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pengambilan sampel petani anggota dilakukan dengan teknik sampel acak stratifikasi (stratified random sampling) berdasarkan kelas kemampuan (tipologi) kelompok tani versi Kementerian Pertanian, yaitu: Kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama. Jumlah kelompok tani yang diamati sebanyak 12 kelompok tani dengan rincian 3 kelompok tani pada masing-masing tipologi kelompok tani, selanjutnya setiap kelompok diambil 10 petani anggota, sehingga jumlah keseluruhan adalah 120 petani responden. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus sampai November 2012. Analisis data mencakup: (1) analisis deskriptif: distribusi frekuensi dan uji beda non parametrik Kruskal-Wallis, serta (2) analisis inferensial: korelasi Rank Spearman dengan software SPSS versi 20.0.

(6)

korelasi positif nyata hingga sangat nyata dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani. Faktor eksternal petani anggota yaitu ketersediaan informasi, peran penyuluh, keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, dan manfaat yang diperoleh dari kelompok mempunyai korelasi positif sangat nyata dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani. Tingkat keberhasilan kelompok tani yang berupa mekanisme penghimpunan dana dalam kelompok, pengetahuan anggota, produktivitas kelompok dan semangat kelompok tergolong tinggi, sedangkan sarana untuk pengembangan kelompok dan kepuasan anggota tergolong sedang. Semakin tinggi kelas kemampuan kelompok tani, keberhasilan kelompok tani cenderung semakin tinggi. Persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani mempunyai korelasi positif nyata hingga sangat nyata dengan keberhasilan kelompok tani. Semakin baik persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani maka semakin tinggi keberhasilan kelompok tani.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan hal-hal berikut: (1) Ketua kelompok tani perlu mempertahankan unsur kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, keaktifan mengarahkan struktur dan interaksi kelompok, hubungan baik dengan anggotanya, upayanya dalam pencapaian tujuan kelompok, kemampuan membuat dan mengambil keputusan, kemampuan memotivasi tindakan nyata anggota, dan kejujurannya dalam memimpin kelompok; (2) Perlu adanya penyelenggaraan pelatihan kepemimpinan dan manajemen kelompok bagi ketua kelompok tani kelas Pemula dan Lanjut untuk meningkatkan fungsi kepemimpinan ketua kelompok tani; (3) Pengembangan kepemimpinan kelompok tani perlu memperhatikan umur, tingkat pendidikan, motivasi dan kekosmopolitan anggota kelompoknya dalam upaya menumbuhkan kader-kader pemimpin dalam kelompok tani; (4) Penyuluh perlu meningkatkan peran aktifnya dalam membina kelompok tani kelas Pemula dan Lanjut; (5) Unsur yang perlu ditingkatkan dalam upaya meningkatkan keberhasilan kelompok tani khususnya kelas Pemula dan Lanjut adalah sarana untuk pengembangan kelompok dan kepuasan anggota; (6) Untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan keberhasilan kelompok tani, untuk penelitian lebih lanjut selain variabel kepemimpinan ketua kelompok tani, maka variabel dinamika kelompok tani dapat dijadikan sebagai variabel tambahan.

Kata kunci: faktor eksternal, faktor internal, keberhasilan kelompok tani, kepemimpinan, persepsi

(7)

SUMMARY

SAPTORINI. The Perception of Paddy Farmer Group Members on the Leadership of Farmers Group Leader in Kebumen, Central Java Province. Under supervision of: NINUK PURNANINGSIH and BASITA GINTING SUGIHEN.

In general, the behaviour of farmer group leaders strongly influences the changes in his group behaviour. If the leader is effectively influencing his members, they will behave as desired. Therefore, the leadership of farmer groups becomes a strategic issue on agricultural extension methodology through group approach. The farmer group leader could act for some leadership functions and figures to motivate and mobilize members to perform various activities to achieve the group goals. Perceptions related to the individual's opinions and judgments of a stimulus that will lead to motivation, willingness and feelings toward the stimulus. The correct perception of an object is necessary, because the perception is the basis of the formation of attitudes and behaviour. Thus, a good perception of the group members on the leadership of their group leaders is one of the main indicators of the success of a leader in bringing about the success of his farmer groups.

This research aims to: (1) analyse the perception of group members on the leadership of farmer group leaders, (2) analyse the correlation between internal factors in the group members and their perceptions on the leadership of their group leader, (3) analyse the correlation between external factors in the group members and their perceptions on the leadership of their group leader, (4) analyse the success of farmer groups, and (5) analyse the correlation between perceptions of group members on the leadership of their group leader and the success of farmer groups.

The design of this research is using methodology of survey to explain the correlation among the variables of this research. The population in this research are all farmers who are members of paddy farmer groups in Kebumen, Central Java Province. The respondent recruited by using stratified random sampling method based on class (typology) of abilities of farmer groups set by the Ministry of Agriculture, namely: Beginners, Intermediates 1, Intermediate 2, and Advanced (Pemula, Lanjut, Madya and Utama). The number of farmer groups (respondents) observed were 12 groups with details of three farmer groups in each typology of farmer groups, then 10 members from each group selected, so the total number of respondents was 120 farmers. The research was conducted from August to November 2012. The data analysis includes: (1) descriptive analysis: the frequency distribution and different test of non-parametric Kruskal-Wallis, and (2) inferential analysis: Rank Spearman correlation. Analysis helped by SPSS software version 20.0.

(8)

positive correlation to the perception of members on the leadership of the farmer

groups’ leaders. The external factors of the group members that consist of the availability of information, the role of agriculture extension worker, member’s involvement in group activities, and the benefits derived from the group, has highly significant positive correlation with the perception of members on the leadership of the farmer groups’ leaders. The success rate of farmer groups in the form of the fund-raising mechanism in group members, the members’ knowledge, the productivity and group spirit, is high, while the means for the development of the group and member satisfaction is considered intermediate. The higher the grade of ability of farmer groups, the success rate of the farmer groups tends higher. A perception of members on the leadership of farmer group leader has a real positive correlation with the success of farmer groups. The better perception of members on the leadership of the farmer groups’ leaders brings the higher success of farmer groups.

Some recommendations offered based on the results of the research: (1) The farmer groups’ leaders need to retain an element of discipline, communication skills, actively directing the structure and interaction of groups, relationships with his members, his efforts in achieving the group's goals, and the ability to make decisions, motivate members to do real action, and honesty in the lead group; (2) There is a need for leadership and management training for the farmer groups’ leaders in the level of Beginners (kelas Pemula) and Intermediate 1 (kelas Lanjut) to improve their function as the farmer groups’ leaders; (3) There is a need to develop the leadership of farmer groups’ leaders with considers the age, education level, motivation, and cosmopolitan issue of the group members in creating the next leaders; (4) The agriculture extension worker need to increase their active role in fostering farmer groups, especially in the level of Beginners (kelas Pemula) and Intermediate 1 (kelas Lanjut); (5) There are elements that need to be improved in order to increase the success of farmers' groups, especially the level of Beginners (kelas Pemula) and Intermediate 1 (kelas Lanjut), namely group members capacity development and member satisfaction; and (6) For further research, there is a need to determine other factors associated with the success of farmer groups, other than the leadership of the farmer groups’ leaders variable, and the variable of farmer groups dynamics can be used as an additional variable.

(9)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.

(10)
(11)
(12)
(13)

1 Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan

PERSEPSI ANGGOTA KELOMPOK TANI PADI TERHADAP

KEPEMIMPINAN KETUA KELOMPOK TANI

DI KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(14)

Penguji

(15)

3

Judul Tesis : Persepsi Anggota Kelompok Tani Padi terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah

Nama : Saptorini NRP : I351100081

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Ninuk Purnaningsih, MSi Ketua

Dr Ir Basita G Sugihen, MA Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi

Ilmu Penyuluhan Pembangunan

Dr Ir Siti Amanah, MSc

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

(16)
(17)

5

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus sampai dengan November 2012 ini ialah Persepsi Anggota Kelompok Tani Padi terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Penghargaan dan ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada:

1. Ibu Dr. Ir. Ninuk Purnaningsih, M.Si dan Bapak Dr. Ir. Basita Ginting Sugihen, M.A., sebagai Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam memberikan bimbingan selama ini.

2. Ibu Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S Hubeis yang telah bersedia menjadi Penguji Luar Komisi Pembimbing dalam Ujian Tesis, dan memberikan saran-saran perbaikan.

3. Ibu Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc. selaku Ketua Program Mayor Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) IPB atas saran dan masukan terhadap draft tesis.

4. Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dan Ketua Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan yang telah memberikan kesempatan bagi penulis mengikuti pendidikan S2 di IPB.

5. Seluruh dosen PPN yang telah membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan.

6. Staf Program Studi PPN IPB (Ibu Desiar Ismoyowati) atas kerjasamanya. 7. Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (Bapak Dr.

Ir. Edi Abdurachman, MS, M.Si), dan Kepala Pusat Pendidikan, Standarisasi, dan Sertifikasi Profesi Pertanian (Bapak Ir. Heri Suliyanto, M.BA) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti program S2 di IPB. 8. Kepala Bagian Evaluasi dan Pelaporan Badan Penyuluhan dan

Pengembangan SDM Pertanian (Bapak Ir. Zahron Helmy, MP) yang telah meluangkan waktu untuk berdiskusi dan memberikan sumbangan pemikiran kepada penulis.

9. Kepala Bagian Umum Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang (Ir. Mas Iski Suharno, M.Si), Kepala Subbagian Pelaporan dan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan (Drs. Syamsudin, MM), dan teman-teman Subbagian Pelaporan dan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan yang telah memberikan dorongan moril kepada penulis.

10. Bapak Prof. Dr. Sumardjo dan Ibu Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc yang telah memberikan rekomendasi kepada penulis, sebagai syarat pendaftaran pada Sekolah Pascasarjana IPB.

(18)

12. Koordinator Penyuluh Kabupaten Kebumen (Bpk Rasyid) dan Penyuluh di Kabupaten Kebumen (Bapak Sarwedi) atas dampingannya selama pelaksanaan penelitian di lapangan.

13. Kepala UPTD Dinas Pertanian dan Peternakan Buayan (Bapak Solihin), koordinator penyuluh Kecamatan Buayan (Bapak Puryadi), koordinator penyuluh Kecamatan Rowokele (Bapak Rachmat), koordinator penyuluh Kecamatan Ayah (Bapak Cipwiyadi) atas penerimaan dan dampingannya selama penulis di lapangan.

14. Bapak dan Ibu Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) Kecamatan Buayan, Rowokele dan Ayah yang telah membantu enumerasi dalam kegiatan penelitian ini.

15. Para petani responden dari Kelompok Tani Mitra Agro, Pakarti Saribumi, Candi Wulan, Rukun Santoso, Kismorahayu, Tani Maju, Karya Utama, Eling Jaya, Kedung Jaya, Sri Mulyo, Pulungsari, dan Pucung yang telah memberikan data dan informasi pada penelitian ini.

16. Keponakan tercinta (Ririn Setyaningsih) yang telah membantu entry data dalam kegiatan penelitian ini.

17. Bapak S. Kartoharsono (alm), Ibu Lasirah (alm), Kakak dan Saudara-saudara atas do’a, dorongan dan semangat selama penulis menempuh dan menyelesaikan studi di IPB.

18. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada suami (I. Susetiyo) dan puteri tercinta (Nadhira Dzakia Setyorini) atas segala dorongan

semangat, do’a dan kasih sayangnya.

19. Rekan-rekan mahasiswa S2 PPN-IPB 2010 khususnya Ristianasari, Sri Ramadoan dan Roy Daniel Samboh yang telah meluangkan waktu untuk berdiskusi, memberikan sumbangan pemikiran dan motivasi kepada penulis. 20. Rekan-rekan mahasiswa S2, S3 PPN-IPB 2010 dan 2009 yang memberikan

do’a dan dorongan kepada penulis.

21. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini.

Penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. Bogor, Mei 2013

(19)

7

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ...

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Masalah Penelitian ... 3

Tujuan Penelitian ... 4

Manfaat Penelitian ... 5

TINJAUAN PUSTAKA 6

Kelompok Tani 6

Kemampuan Kelompok Tani 7

Persepsi, Sikap, dan Perilaku 8

Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan 11

Faktor Internal Petani 11

Faktor Eksternal Petani 15

Pemimpin dan Kepemimpinan 16

Keberhasilan Kelompok 20

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN 23

Kerangka Berpikir 23

Hipotesis Penelitian 25

METODE PENELITIAN 26

Rancangan Penelitian 26

Lokasi dan Waktu Penelitian 26

Populasi dan Sampel Penelitian 26

Pengembangan Instrumen Penelitian 28

Jenis Data 28

Variabel Penelitian 28

Konseptualisasi 29

Pengukuran Variabel Penelitian 31

Instrumentasi 42

Kisi-Kisi Instrumen 43

Uji Validitas Instrumen 44

Uji Reliabilitas Instrumen 44

Teknik Pengumpulan Data 46

Analisis Data 47

HASIL DAN PEMBAHASAN 49

Gambaran Umum Wilayah Penelitian 49

Letak Geografi 49

(20)

DAFTAR ISI

(lanjutan)

Halaman

Pola Usahatani 50

Penduduk 50

Sarana prasarana 51

Kelembagaan formal dan informal 51

Perilaku berkelompok 51

Review Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen 52

Penilaian Kelas Kemampuan Kelompok Tani 57

Faktor Internal Petani Anggota Kelompok Tani ... 59

Umur ... 59

Pendidikan formal ... 60

Luas lahan ... 61

Motivasi ... 62

Pengalaman berusahatani 63

Jumlah tanggungan keluarga 64

Kekosmopolitan 65

Faktor Eksternal Petani Anggota Kelompok Tani 67

Ketersediaan informasi 67

Peran penyuluh 69

Keterlibatan anggota dalam Kegiatan Kelompok Tani 71

Manfaat yang diperoleh dari kelompok tani 72

Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani 73

Keberhasilan Kelompok Tani 87

Hasil Uji Beda Kruskal-Wallis terhadap Kelompok Responden 96

Korelasi Faktor Internal Petani Anggota dengan Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani 100

Korelasi Faktor Eksternal Petani Anggota dengan Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani 104

Korelasi Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani dengan Keberhasilan Kelompok Tani 108

KESIMPULAN DAN SARAN 113

Kesimpulan 113

Saran 113

DAFTAR PUSTAKA 114

LAMPIRAN 120

(21)

9

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Jumlah sampel kelompok tani dan petani anggota berdasarkan kelas

kelompok tani 27

2. Variabel, definisi operasional, indikator, dan pengukuran variabel

faktor-faktor internal 31

3. Variabel, definisi operasional, indikator, dan pengukuran variabel

faktor-faktor eksternal 34

4. Variabel, definisi operasional, indikator, dan pengukuran variabel persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan ketua

kelompok tani 36

5. Variabel, definisi operasional, indikator, dan pengukuran variabel

keberhasilan kelompok tani 39

6. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian 43

7. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian 45 8. Distribusi kelompok tani di Kabupaten Kebumen 53 9. Keadaan umum kelompoktani contoh berdasarkan kelas

kemampuan kelompok tani 54

10. Distribusi responden berdasarkan umur 59 11. Distribusi responden berdasarkan pendidikan formal 60 12. Distribusi responden berdasarkan luas lahan 61 13. Distribusi responden berdasarkan motivasi 63 14. Distribusi responden berdasarkan pengalaman berusahatani 64 15. Distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga 65 16. Distribusi responden berdasarkan kekosmopolitan 66 17. Distribusi responden berdasarkan ketersediaan informasi 68 18. Distribusi responden berdasarkan peran penyuluh 70 19. Distribusi responden berdasarkan keterlibatan anggota 71 20. Distribusi responden berdasarkan manfaat yang diperoleh dari

kelompok tani 73

(22)

DAFTAR TABEL

(lanjutan)

Halaman

22. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap keaktifan ketua dalam menentukan dan mengarahkan struktur serta

interaksi kelompok 76

23. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap upaya

ketua dalam pencapaian tujuan kelompok 78 24. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap

kemampuan ketua dalam membuat dan mengambil keputusan 80 25. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap

kemampuan ketua memotivasi tindakan nyata anggota 82 26. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap

kejujuran ketua kelompok 83

27. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap

kemampuan ketua kelompok dalam berkomunikasi 85 28. Distribusi responden berdasarkan persepsi anggota terhadap

kedisiplinan ketua kelompok 86

29. Distribusi responden berdasarkan sarana untuk pengembangan

kelompok 88

30. Distribusi responden berdasarkan mekanisme penghimpunan dana 90 31. Distribusi responden berdasarkan pengetahuan anggota 91 32. Distribusi responden berdasarkan produktivitas kelompok 92 33. Distribusi responden berdasarkan kepuasan anggota 94 34. Distribusi responden berdasarkan semangat kelompok 95 35. Keputusan uji beda Kruskal-Wallis pada variabel faktor internal

petani anggota 97

36. Keputusan uji beda Kruskal-Wallis pada variabel faktor eksternal

petani anggota 97

37. Keputusan uji beda Kruskal-Wallis pada variabel persepsi anggota

terhadap kepemimpinan ketua kelompok 99

38. Keputusan uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis pada variabel

keberhasilan kelompok tani 100

39. Korelasi faktor internal petani anggota dengan persepsi anggota

terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani 101 40. Korelasi faktor eksternal petani anggota dengan persepsi anggota

terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani 105 41. Korelasi persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok

(23)

11

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka Berpikir Penelitian 25

2. Struktur kepengurusan pada kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas

Lanjut 55

3. Struktur kepengurusan pada kelompok tani Kelas Madya dan Utama 55

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Nilai rata-rata (mean) faktor internal petani anggota pada kelas

kelompok tani 121

2. Nilai rata-rata (mean) faktor eksternal petani anggota pada kelompok

responden 122

3. Nilai rata-rata (mean) persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompotani pada kelompok responden 123 4. Nilai rata-rata (mean) keberhasilan kelompok tani pada kelompok

responden 125

(24)
(25)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kepemimpinan kelompok merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi anggota kelompoknya, sehingga anggota kelompoknya bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin dalam upaya mencapai tujuan kelompok. Pada umumnya perubahan perilaku kelompok sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya. Jika pemimpin efektif dalam mempengaruhi anggotanya maka anggota akan berperilaku sesuai yang dikehendaki oleh pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan kelompok tani menjadi hal yang strategis untuk diperhatikan pada upaya penyuluhan pertanian melalui pendekatan kelompok. Pemimpin (ketua) kelompok tani dapat menampilkan berbagai fungsi kepemimpinan dalam kelompok tani, khususnya menggerakkan anggota agar melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok yang direncanakan sebaik-baiknya. Kepemimpinan yang baik diharapkan dapat membuat orang bergerak, bergiat dalam kesatuan kelompok sehingga kelompok tersebut berhasil mencapai tujuannya.

Kepemimpinan ketua kelompok tani merupakan salah satu faktor penting untuk mewujudkan kelompok tani yang berhasil mencapai tujuannya. Sills (Mardikanto 1993) menyatakan bahwa efektifitas kelompok tani merupakan keberhasilan kelompok untuk mencapai tujuannya, yang dapat dilihat pada tercapainya keadaan atau perubahan-perubahan yang memuaskan anggotanya.

Kepemimpinan di dalam kelompok tani dianggap sangat penting dalam upaya mencapai tujuan kelompok tani dan untuk mewujudkan kelompok tani yang kuat dan mandiri. Pemerintah khususnya Kementerian Pertanian di dalam upaya menumbuhkan kader-kader pemimpin dalam kelompok tani menetapkan kebijakan berupa Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian No.168/Per/SM.170/J/11/11 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kemampuan Kelompok Tani, dimana aspek kepemimpinan merupakan salah satu indikator dalam penilaian kemampuan kelas kelompok tani. Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangkan usahatani (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian 2011). Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan, meliputi: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan kelompok tani dari fungsi-fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangkan usahatani. Berdasarkan peringkat kemampuannya dari terendah hingga tertinggi, kelompok tani diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya dan kelas Utama.

(26)

menggerakkan kerjasama anggota dalam mencapai tujuan kelompok yang telah direncanakan. Hubungannya dengan pelaksanaan fungsi-fungsi kepemimpinan, menurut Slamet (2003) pemimpin kelompok haruslah melakukan hal-hal berikut ini agar kelompok atau organisasinya dapat dinamis atau efektif mencapai tujuannya yaitu: (1) mengidentifikasi dan menganalisis kelompok beserta tujuannya, (2) membangun struktur kelompok, (3) inisiatif, (4) pencapaian tujuan, (5) mempermudah komunikasi dalam kelompok, (6) mempersatukan kelompok (viscidity), (7) menciptakan suasana yang menyenangkan (hedonic tone), (8) menciptakan keterpaduan kelompok (syntality), dan (9) mengimplementasikan philosophy kelompok.

Kepemimpinan juga dapat dinilai dari figur seorang pemimpin. Pengembangan kelembagaan petani yang efektif didukung oleh figur kepemimpinan. Figur kepemimpinan yang utama di antaranya adalah memiliki kejujuran, berhasil meraih kepercayaan masyarakat, memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif, serta berkompeten (Sumardjo 2003).

Persepsi anggota dalam satu kelompok terhadap sesuatu hal adalah berbeda-beda, termasuk persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok. Proses pengambilan keputusan untuk terlibat dalam kegiatan kelompok sangat terkait dengan persepsi seseorang terhadap kepemimpinan ketua kelompok. Ketidaksukaan terhadap kepemimpinan ketua kelompok misalnya, menyebabkan orang enggan berkelompok.

Persepsi merupakan proses psikologis yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan (forming impressions) dan membuat penilaian (making judgements) (Biran 1998). Langevelt dalam Harihanto 2001 juga mengatakan bahwa persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Robbins (2008), sejumlah faktor dapat berperan dalam membentuk dan kadang memutar balik persepsi. Diantara karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, kepribadian, motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan harapan. Sedangkan definisi persepsi menurut Rakhmat (2007) adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, serta suatu proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu.

(27)

meningkatkan perluasan informasi dan meningkatkan kesediaan petani membuat keputusan.

Berdasarkan data kelembagaan petani di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen memiliki jumlah kelompok tani terbanyak kedua setelah Kabupaten Magelang (Setbakorluh Provinsi Jawa Tengah 2011). Jumlah kelompok tani di Kabupaten Kebumen sebanyak 1.934 kelompok tani dan berdasarkan kelas kemampuannya, dibedakan menjadi empat kelas yaitu Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen 2012). Dengan jumlah kelompok tani yang ada, secara teoritis seharusnya kelompok tani dapat menjadi media transformasi untuk peningkatan kualitas petani di Kabupaten Kebumen. Namun dilihat dari kelas kemampuannya, sebagian besar kelompok tani (1.682 kelompok tani atau sebesar 86,97%) masih merupakan kelompok tani kelas Pemula dan Lanjut (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen 2012). Hal ini mencerminkan bahwa ketua kelompok tani sebagai pemimpin kelompok belum menjalankan fungsinya dengan baik sehingga kelompok tani belum berfungsi efektif sebagai media interaksi petani dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Beranjak dari hal-hal tersebut di atas, maka diperlukan adanya kajian tentang persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dalam upaya mencapai tujuan kelompok tani. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku. Apabila terdapat persepsi yang baik dari anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan kelompok tani, maka dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mencapai tujuan kelompok tani yang dipimpinnya. Sebaliknya, bila terjadi persepsi yang buruk dari anggota kelompok tani, maka dapat dijadikan sebagai kontrol untuk peningkatan kualitas kepemimpinan dalam mewujudkan keberhasilan kelompok tani selanjutnya.

Masalah Penelitian

Proses kepemimpinan ketua kelompok tani diharapkan dapat mewujudkan dan mempertahankan kelompok terutama dalam membimbing dan mengarahkan petani anggota kelompok untuk mencapai tujuan. Dalam upaya pencapaian tujuan kelompok perlu kebersamaan dan kerjasama dari anggota kelompok tani maupun pihak lain.

Langevelt sebagaimana diacu dalam Harihanto (2001) mendefinisikan persepsi sebagai pandangan individu terhadap suatu objek (stimulus). Akibat adanya stimulus, individu memberikan respon berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku (Gibson 1986 diacu dalam Arey 2010). Dalam konteks persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani, respon ini bisa digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mewujudkan keberhasilan kelompok tani mencapai tujuan kelompok tani yang dipimpinnya.

(28)

pada tercapainya keadaan atau perubahan-perubahan yang memuaskan anggotanya.

Kepemimpinan dalam kelompok dianggap sangat penting dalam usaha mencapai tujuan kelompok tani. Namun demikian, masih banyak ditemui ketua kelompok tani yang belum dapat menampilkan fungsi kepemimpinannya. Artinya, kepemimpinan ketua kelompok tani belum sepenuhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan sehingga tidak mampu menjaga keberhasilan kelompok. Dengan demikian ada tuntutan yang harus dijawab, pemimpin yang bagaimana yang ideal bagi keberhasilan kelompok tani berdasarkan faktor internal dan eksternal petani anggota kelompok tani serta persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani.

Dari uraian tersebut di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dapat dikaji, di antaranya:

1. Bagaimana persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan ketua kelompok taninya?

2. Bagaimana hubungan antara faktor internal petani anggota (umur, pendidikan formal, luas lahan, motivasi, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, kekosmopolitan) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani?

3. Bagaimana hubungan antara faktor eksternal petani anggota (ketersediaan informasi, peran penyuluh, keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, manfaat yang diperoleh dari kelompok) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani?

4. Bagaimana tingkat keberhasilan kelompok tani mencapai tujuan?

5. Bagaimana hubungan antara persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dengan keberhasilan kelompok tani?

Tujuan Penelitian

Keberadaan kepemimpinan ketua kelompok pada kelompok tani diharapkan dapat bermanfaat pada kinerja kelompok tani, sehingga akan terwujud kelompok tani yang berhasil mencapai tujuannya. Anggota kelompok sebagai bagian dari fondasi kekuatan kelompok, diharapkan memiliki kemampuan dalam membangun kerjasama dengan ketua, menciptakan suasana yang kondusif, menjaga keutuhan kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Oleh sebab itu dirasa perlu dilakukan kajian-kajian ilmiah dalam membantu pengayaan ilmu pengetahuan dalam hal kepemimpinan ketua kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani. 2. Menganalisis hubungan faktor internal petani anggota (umur, pendidikan

formal, luas lahan, motivasi, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, kekosmopolitan) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani tersebut.

3. Menganalisis hubungan faktor eksternal petani anggota (ketersediaan informasi, peran penyuluh, keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, manfaat yang diperoleh dari kelompok) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani tersebut.

(29)

5. Menganalisis hubungan antara persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dengan keberhasilan kelompok tani.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kelompok tani dari aspek kepemimpinan dan manajemen.

2. Memperluas pemahaman tentang pentingnya peranan pemimpin suatu kelompok.

(30)

TINJAUAN PUSTAKA

Kelompok Tani

Sebagai makhluk sosial yang memiliki tingkah laku sosial dan hidup dalam satu medan sosial, maka setiap individu akan mengarahkan dirinya pada pribadi lainnya, yaitu untuk bergabung dan berkelompok dengan orang-orang lain. Dengan demikian individu tersebut akan menjadi anggota kelompok serta menjadi bagian dari kelompok tersebut (Nuraini & Satari 2005). Menurut Iver dan Page (Mardikanto 1993), kelompok adalah merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama sehingga terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi serta memiliki kesadaran untuk saling tolong menolong.

Pengertian kelompok tani menurut Kementerian Pertanian (2007) adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Keanggotaan kelompok tani berjumlah 20-25 orang dan atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat serta usahataninya. Ikatan dalam kelompok berpangkal pada keserasian dalam arti mempunyai pandangan, kepentingan, dan kesenangan yang sama. Diantara ketua kelompok tani dan anggota kelompok maupun diantara sesama anggota terjalin hubungan yang luwes dan wajar. Berbagai bentuk dan jenis kelompok tani pernah dibentuk dan dikembangkan di Indonesia. Berdasarkan kemampuan, yang didasarkan pada sepuluh jurus kemampuan dalam program BIMAS (Bimbingan Massal), kelompok tani dapat dibedakan menjadi empat kelas, yaitu: kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya, dan kelas Utama (Deptan 2002).

Penumbuhan kelompok tani dapat dimulai dari kelompok yang bersifat informal yang sudah ada di masyarakat yang selanjutnya melalui kegiatan penyuluhan pertanian diarahkan menuju bentuk kelompok tani yang semakin terikat oleh kepentingan dan tujuan bersama dalam meningkatkan produksi dan pendapatan dari usahataninya. Kelompok tani juga dapat ditumbuhkan dari petani dalam satu wilayah, dapat berupa satu dusun atau lebih, satu desa atau lebih, dapat berdasarkan domisili atau hamparan tergantung dari kondisi lingkungan masyarakatnya dan usahataninya. Jumlah anggota kelompok tani 20 sampai 25 petani atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usahataninya. Kegiatan kelompok tani yang dikelola tergantung pada kesepakatan anggotanya. Kegiatan kelompok tani dapat berdasarkan jenis usaha, dan unsur-unsur subsistem agribisnis, contohnya kelompok tani yang dikelola berdasarkan pengadaan sarana produksi, produksi, pasca panen, dan pemasaran (Departemen Pertanian.2007).

Keuntungan dibentuknya kelompok tani, antara lain diungkapkan oleh Torres (Mardikanto 1993), yaitu (1) semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok, (2) semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antarpetani, (3) semakin cepatnya proses difusi penerapan inovasi, (4) semakin meningkatnya kemampuan rata-rata pengembalian hutang petani, (5) semakin meningkatnya orientasi pasar,

(31)

(6) semakin dapat membantu efisiensi pembagian air irigasi serta pengawasan oleh petani sendiri.

Kelompok yang berfungsi efektif dalam lingkungan sosial menurut Sumardjo (2003), mempunyai gejala-gejala sebagai berikut (1) keanggotaan dan aktivitas kelompok lebih didasarkan kepada masalah, kebutuhan, dan minat anggota, (2) kelompok tani berkembang mulai dari informal efektif dan berpotensi serta berpeluang untuk berkembang ke formal sejalan dengan kesiapan dan kebutuhan kelompok yang bersangkutan, (3) status kepengurusan yang dikelola dengan motivasi mencapai tujuan bersama dan memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama, cenderung lebih efektif untuk meringankan beban bersama sesama anggota, dibandingkan bila pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan dilakukan secara sendiri-sendiri, (4) inisiatif anggota kelompok tinggi untuk berusaha meraih kemajuan dan keefektivan kelompok karena adanya keinginan kuat untuk memenuhi kebutuhannya, (5) kinerja kelompok sejalan dengan berkembangnya kesadaran anggota, bila terjadi penyimpangan pengurus segera dapat dikontrol oleh proses dan suasana demokratis kelompok, (6) agen pembaharu cukup berperan secara efektif sebagai pengembang kepemimpinan dan kesadaran kritis dalam masyarakat mengorganisir diri secara dinamis dalam memenuhi kebutuhan kelompok, dan (7) kelompok tani tidak terikat harus berbasis sehamparan, karena yang menentukan efektivitas dan dinamika kelompok adalah keefektivan pola komunikasi lokal dalam mengembangkan peran kelompok.

Berdasarkan berbagai pengertian mengenai kelompok tani, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok tani adalah kumpulan petani yang secara non-formal terbentuk atas dasar berbagai faktor seperti adanya kesamaan kebutuhan dan tujuan bersama, kesamaan wilayah tempat tinggal atau kesamaan wilayah hamparan (lahan) usahatani. Didalam kelompok tani, terjadi saling interaksi yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah dan pencapaian tujuan bersama.

Kemampuan Kelompok Tani

Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas/kompetensi yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangan usahatani. Berdasarkan kemampuannya, kelompok tani diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) peringkat kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas, Madya, dan kelas Utama. Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan yang meliputi: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan kelompok tani dari fungsi-fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Kelima aspek penilaian tersebut dikenal dengan Panca Kemampuan Kelompok tani atau Pakem Poktan (BPPSDMP 2011).

Klasifikasi kemampuan kelompok tani diarahkan untuk memiliki kemampuan sebagai berikut (BPPSDMP 2011):

(32)

sumberdaya (pelaksanaan rekomendasi teknologi), merencanakan kegiatan pelestarian lingkungan, merencanakan definitif kelompok (RDK), Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan rencana kegiatan kelompok lainnya, merencanakan kegiatan usaha (usahatani berdasarkan analisa usaha, peningkatan usaha kelompok, produk sesuai permintaan pasar, pengolahan dan pemasaran hasil, penyediaan jasa).

(2) Kemampuan mengorganisasikan, meliputi kegiatan: menumbuhkembangkan kedisiplinan kelompok, menumbuhkembangkan kemauan/motivasi belajar anggota, mengembangkan aturan organisasi kelompok, mengorganisasikan pembagian tugas anggota dan pengurus kelompok tani.

(3) Kemampuan melaksanakan, meliputi kegiatan: melaksanakan proses pembelajaran secara kondusif, melaksanakan pertemuan dengan tertib, melaksanakan kerjasama penyediaan jasa pertanian, melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan, melaksanakan pembagian tugas, menerapkan kedisiplinan kelompok secara taat azas, melaksanakan dan mentaati kesepakatan anggota, melaksanakan dan mentaati peratura/perundangan yang berlaku, melaksanakan pengadministrasian/pencatatan kegiatan kelompok, melaksanakan pemanfaatan sumberdaya secara optimal, melaksanakan RDK dan RDKK, melaksanakan kegiatan usahatani bersama, melaksanakan penerapan teknologi, melaksanakan pemupukan dan penguatan modal usahatani, melaksanakan pengembangan fasilitas dan sarana kerja, melaksanakan dan mempertahankan kesinambungan produktivitas.

(4) Kemampuan melaksanakan pengendalian dan pelaporan, meliputi kegiatan: mengevaluasi kegiatan perencanaan, mengevaluasi kinerja kelembagaan, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan kelompok tani, menyusun laporan pelaksanaan kegiatan.

(5) Kemampuan mengembangkan kepemimpinan kelompok tani, meliputi kegiatan: mengembangkan keterampilan dan keahlian anggota dan pengurus kelompok tani, mengembangkan kader-kader pemimpin, meningkatkan kemampuan anggota untuk melaksanakan hak dan kewajiban, meningkatkan hubungan kerjasama dalam pengembangan organisasi, meningkatkan hubungan kerjasama dalam pengembangan usahatani, mengembangkan usaha kelompok, meningkatkan hubungan kerjasama dengan mitra.

Persepsi, Sikap, dan Perilaku

Persepsi. Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat kompleks, stimulus masuk kedalam otak, kemudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard 1991).

(33)

dan akan menentukan cara ia akan bersikap dan berinteraksi dengan obyek (benda lain, orang, maupun peristiwa) yang dipersepsi tersebut.

Persepsi, menurut Biran (1998) merupakan proses psikologis yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui alam kehidupan sehari-hari. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan (forming impressions) dan membuat penilaian (making judgements).

Langevelt sebagaimana diacu dalam Harihanto (2001), mendefinisikan persepsi sebagai pandangan individu terhadap suatu objek (stimulus). Akibat adanya stimulus, individu memberikan respon berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut. Dalam konteks persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan kelompok tani, respon ini bisa digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mengefektifkan kelompok tani yang dipimpinnya. Langevelt (Harihanto 2001) juga mengatakan bahwa persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Robbins (2008), sejumlah faktor dapat berperan dalam membentuk dan kadang memutar balik persepsi. Diantara karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, kepribadian, motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan harapan.

Definisi lain tentang persepsi menurut Munir (Arimbawa 2004), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor internal adalah (1) keturunan/hereditas, (2) kondisi dan tuntutan biologis/fisiologis, (3) kecerdasan/pendidikan, (4) proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri), (5) harapan terhadap objek, (6) efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus), (7) sifat dan keyakinan keagamaan, (8) nilai-nilai individu yang dianut, dan (9) pengetahuan dan pengalaman masa lalu tentang objek. Sedangkan faktor-faktor eksternal adalah (1) norma masyarakat, (2) adat istiadat, (3) konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/tekanan sosial), dan (4) pengaruh ekosistem lainnya.

Satu orang dan atau beberapa orang berada dalam tempat yang sama, mengalami kejadian yang sama serta menerima stimulus yang sama, kemungkinan terjadi penerimaan, penafsiran yang berbeda terhadap objek atau peristiwa yang mereka alami. Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional (Rakhmat 2007). Menurut Krech dan Crutchfield (Sarwono 2005) terdapat dua variabel yang mempengaruhi persepsi, yaitu (1) variabel struktural, yaitu faktor-faktor yang terkandung dalam rangsangan fisik dan proses neurofisiologik; dan (2) variabel fungsional, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri pengamat seperti kebutuhan, suasana hati, pengalaman masa lampau dan sifat-sifat individual lainnya. Kohler (Rakhmat 2007), menyebutkan jika ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak boleh meneliti fakta-fakta secara terpisah, akan tetapi kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang, kita harus melihat konteksnya, lingkungannya dan masalah yang dihadapinya.

(34)

penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukan pencatatan yang benar terhadap suatu situasi (Thoha 1999).

Menurut Asngari (1984), persepsi orang dipengaruhi oleh pandangan seseorang pada suatu keadaan, fakta atau tindakan. Terdapat tiga mekanisme pembentukan persepsi, yaitu: selectivity, closure, interpretation. Informasi yang sampai kepada seseorang menyebabkan individu yang bersangkutan membentuk persepsi, dimulai dengan pemilihan atau penyaringan, kemudian informasi yang masuk tersebut disusun menjadi kesatuan yang bermakna, dan akhirnya terjadilah interpretasi mengenai fakta keseluruhan informasi tersebut. Pada fase interpretasi, pengalaman yang lalu memegang peran yang penting. Pengalaman di masa lalu atau pengalaman yang dimiliki sebelumnya akan mempengaruhi interpretasi terhadap objek yang dipersepsi tersebut, sehingga akan mempengaruhi sikap dan perilakunya.

Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang pesan mana yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Angari (1984) pada fase interpretasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu, memegang peranan yang penting. Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal (Rakhmat 2007). Selanjutnya Rakhmat menjelaskan yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakter orang yang memberi respons terhadap stimuli.

Sikap. Sikap terbentuk dari pengalaman, melalui proses belajar (Sarwono 2005). Pengalaman yang dimaksud adalah tentang obyek yang menjadi respon evaluasi dari sikap. Proses belajar dari pengalaman adalah sebagai peningkatan pengetahuan individu terhadap obyek sikap. Proses belajar tersebut dapat melalui interaksi dengan pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama serta pengaruh faktor emosional (Azwar 2003). Sikap akan berarti jika diwujudkan dalam bentuk tindakan, baik lisan maupun tulisan. Menurut Arif (1995) sikap merupakan tingkah laku manusia yang masih terselubung atau belum menampakkan diri keluar, yang dapat dikatakan sebagai kesiapan atau kecenderungan untuk bereaksi terhadap obyek tertentu yang dihadapi, dilihat, diraba, didengar, dicium, dan dirasa pada suatu lingkungan tertentu.

(35)

Perilaku. Perilaku merupakan suatu tindakan nyata (action) yang dapat dilihat atau diamati (Rogers dan Shoemaker 1986). Perilaku tersebut terjadi akibat adanya proses penyampaian pengetahuan suatu stimulus sampai pada penentuan sikap untuk bertindak atau tidak bertindak, dan hal ini dapat dilihat dengan menggunakan panca indera. Selanjutnya. Arif (1995) menjelaskan bahwa perilaku atau tingkah laku adalah kebiasaan bertindak yang menunjukkan tabiat seseorang yang terdiri dari pola-pola tingkah iaku yang digunakan oleh individu dalam melakukan kegiatan.Clarke 2008 (Ozmete dan Hira 2011) perilaku adalah bagaimana seseorang melihat, menggunakan dan memproses informasi (stimulus). Dengan demikian, teori perilaku berupaya menjelaskan mengapa dan bagaimana seseorang bertindak. Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri, oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas termasuk kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi.

Hubungan antara persepsi, sikap, dan perilaku. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku. Asngari (1984) mengatakan bahwa persepsi individu terhadap lingkungannya merupakan faktor penting, karena akan berlanjut dalam menentukan tindakan tersebut. Menurut Thoha (1999), persepsi merupakan unsur penting dalam penyesuaian perilaku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jika diinginkan agar seseorang berperilaku tertentu terhadap suatu kelompok, maka harus dilakukan intervensi untuk membentuk persepsi yang benar pada diri orang tersebut, terutama jika persepsinya belum benar.

Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan

Persepsi anggota tentang kepemimpinan ketua kelompok tani berhubungan dengan faktor internal dan faktor eksternal petani.

Faktor Internal Petani

(36)

Hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya yaitu Carmelita (2002) dan Dadang (2002), faktor internal yang diduga berhubungan dengan perilaku pada kegiatan kelompok adalah tingkat pendidikan formal, pendidikan nonformal, pengalaman berusahatani, pendapatan petani, sikap terhadap perubahan, kekosmopolitan, kepemilikan lahan usahatani, dan motivasi berkelompok.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, faktor-faktor internal yang diduga berpengaruh terhadap persepsi anggota dalam penelitian ini adalah umur petani, pendidikan formal, luas lahan garapan, motivasi, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, dan kekosmopolitan.

Umur. Umur merupakan suatu indikator umum tentang kapan suatu perubahan harus terjadi. Umur menggambarkan pengalaman dalam diri seseorang sehingga terdapat keragaman tindakannya berdasarkan usia yang dimiliki. Rakhmat (2007) mengatakan bahwa kelompok orang tua melahirkan pola tindakan yang pasti berbeda dengan anak-anak muda. Kemampuan mental tubuh lebih cepat pada masa anak-anak sampai dengan pubertas, dan agak lambat sampai awal dua puluhan dan merosot perlahan-lahan sampai tahun-tahun terakhir.

Umur juga berkorelasi dengan tingkat penerimaan suatu inovasi atau teknologi baru. Robbins (2008) mengatakan bahwa para pekerja yang sudah tua cenderung kurang luwes dan menolak teknologi baru. Keterampilan individu terutama menyangkut kecepatan, kecekatan, kekuatan, koordinasi menurun seiring berjalannya waktu, dan kurangnya rangsangan intelektual, semua berkontribusi terhadap menurunnya produktivitas.

Menurut Suprijanto (2007), ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang dewasa ketika dia berada dalam situasi belajar. Faktor tersebut mencakup faktor internal, misalnya adalah umur, dan faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri peserta, misalnya keadaaan ruang belajar, perlengkapan belajar, dorongan belajar dari teman dan sebagainya.

Komposisi penduduk menurut usia produktif berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dibagi dalam 4 (empat) kategori (Umar 2011) yaitu; (1) usia kurang produktif 65 tahun ke atas, (2) usia produktif 50 – 64 tahun, (3) usia sangat produktif 15 – 49 tahun dan usia tidak produktif 0 – 14 tahun.

(37)

Pendidikan menunjukkan tingkat inteligensia yang berhubungan dengan daya pikir seseorang. Menurut Gonzalez (Jahi 1988) merangkum pendapat beberapa ilmuwan bahwa pendidikan merupakan faktor yang menentukan dalam memperoleh pengetahuan. Pendidikan menggambarkan tingkat kemampuan kognitif dan derajat ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Menurut Mosher (1987) pendidikan formal mempercepat proses belajar, memberikan pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat. Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendidikan berperan dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas, menampilkan individu yang memiliki keunggulan yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional dalam bidangnya masing-masing. Slamet (2003) mengemukakan bahwa perubahan perilaku yang disebabkan oleh kegiatan pendidikan berupa: (1) perubahan dalam pengetahuan atau hal yang diketahui, (2) perubahan dalam keterampilan atau kebiasaan dalam melakukan sesuatu, dan (3) perubahan dalam sikap mental atau segala sesuatu yang dirasakan. Hernanto (1993) menyatakan rendahnya tingkat pendidikan akan berpeluang kepada rendahnya adopsi teknologi. Tingkat pendidikan merupakan salah satu tolok ukur kualitas sumberdaya manusia. Tingkat pendidikan yang relatif tinggi akan mendorong tumbuhnya pola pikir dan kreatifitas yang mampu menangkap peluang atau kesempatan berusaha.

Hasil penelitian Arey (2010) tentang Persepsi anggota tentang Kepemimpinan, Dinamika dan Keefektifan Kelompok Peternak Sapi Perah menunjukkan bahwa faktor internal anggota kelompok yang berhubungan dengan persepsi anggota tentang kepemimpinan ketua kelompok adalah pendidikan, jumlah ternak yang dimiliki dan pendapatan anggota.

Luas Lahan. Hernanto (1993) menyatakan bahwa lahan merupakan suatu sumberdaya alam fisik yang mempunyai peran sangat penting dalam berbagai segi kehidupan manusia. Luas lahan merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh petani. Luas lahan garapan petani mempengaruhi pendapatan, taraf hidup, dan derajat kesejahteraan rumah tangga tani. Luas lahan usahatani dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu (1) sempit dengan luas lahan < 0,5 ha, (2) sedang dengan luas lahan antara 0,5 sampai 2 ha, dan (3) luas dengan luas lahan > 2 ha.

Kepemilikan lahan adalah luas lahan yang dimiliki oleh responden, dinyatakan dalam satuan hektar per kepala keluarga. Kepemilikan lahan sebagian besar responden, dapat dikategorikan rendah yaitu 0,1 – 0,5 hektar berdasarkan klasifikasi lahan petani (Sastraatmaja 2010).

Tohir (1983) mengemukakan luas lahan yang sangat sempit dengan pengelolaan cara tradisional dapat menimbulkan: (1) kemiskinan, (2) kurang mampunyai motivasi dalam memproduksi bahan makanan pokok khususnya beras, (3) ketimpangan dalam penggunaan teknologi, (4) bertambahnya jumlah pengangguran, (5) ketimpangan dalam penggunaan sumber daya alam.

Motivasi. Motivasi sebagai salah satu karakteritik pribadi yang mempengaruhi persepsi. Menurut Terry (Riduwan 2007), motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan. Sedangkan menurut Hasibuan dalam Riduwan (2007), teori motivasi mempunyai sub variabel yaitu (1) motif, (2) harapan, dan (3) insentif.

(38)

manusia untuk menimbulkan dorongan berbuat dan melakukan tindakan (Soedijanto 1994).

Secara umum motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Menurut Kartono (2006), motivasi adalah:

1. Gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah laku menuju sasaran tertentu.

2. Pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat.

3. ide pokok yang sementara berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia, biasanya merupakan satu peristiwa masa lampau.

Pengalaman Berusahatani. Middlebrook (Arimbawa 2004), mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali terhadap suatu objek secara psikologis cenderung membentuk sikap yang negatif terhadap objek tertentu. Bagi orang yang telah lama menggeluti suatu pekerjaan akan lebih terampil dan cenderung menghasilkan suatu hasil yang lebih baik daripada orang yang baru. Menurut Weaver (Dewi 2004), pengalaman memberikan peran bagi individu dalam pemilihan stimulus yang akan dipersepsikan.

Menurut Soedijanto (1994) pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan akan berpengaruh pada proses belajar seseorang. Seseorang yang pernah mengalami hal yang menyenangkan tentang proses keherhasilan proses belajar di masa lalu suatu saat diberikan kesempatan mempelajari hal yang sama, maka dia telah memiliki perasaan senang dan optimis akan berhasil. Pengalaman seseorang bertambah sejalan dengan bertambahnya usia. Pengalaman dapat diukur secara kuantitatif berdasarkan jumlah tahun seseorang dalam bidang usaha tani, serta pengalaman yang bersifat kualitatif. Konsekuensi masa depan ditentukan oleh pengalaman masa lalu, dampak dari pengalaman, serta pengamatan seseorang terhadap yang lain (Bandura 1986).

Pengalaman seseorang akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan terutama penerimaan terhadap suatu inovasi bagi usaha yang dilakukan, sehingga petani yang memiliki pengalaman tinggi cenderung sangat selektif dalam menerima inovasi (Soedijanto 1994).

Jumlah Tanggungan Keluarga. Jumlah tanggungan keluarga merupakan banyaknya orang yang menjadi tanggungan baik keluarga maupun bukan yang tinggal serumah dan menjadi tanggung jawabnya (Soekartawi 1988). Jumlah tanggungan keluarga berhubungan dengan kemampuan keluarga akan penyediaan tenaga kerja. Keluarga petani merupakan kesatuan unit produksi dan kesatuan unit konsumsi. Jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi suatu keluarga (Asdi 1996). Jumlah tanggungan keluarga merupakan salah satu indikator dalam menentukan aktivitas masyarakat (Drakel 2008) berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian jumlah tanggungan keluarga diduga berhubungan erat dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan dan keefektifan kelompok tani.

Kekosmopolitan. Kekosmopolitan merupakan luas pergaulan, kecepatan pencarian informasi yang dilakukan oleh petani anggota kelompok (Kusnadi 2005). Informasi teknologi yang dibutuhkan biasanya diperoleh dari kontaktani ataupun Penyuluh Pertanian Lapangan. Menurut Dixon (Mardikanto 1993), sifat

kekosmopolitan adalah tingkat hubungannya dengan “dunia luar” di luar sistem

(39)

perjalanan yang dilakukan, serta pemanfaatan media massa. Bagi warga masyarakat yang relatif lebih kosmopolit, adopsi inovasi dapat berlangsung cepat. Bagi warga yang lebih localit (tertutup, terkungkung di dalam siste sosialnya sendiri), proses adopsi inovasi akan berlangsung sangat lamban karena tidak adanya keinginan-keinginan baru untuk hidup lebih “baik” seperti yang telah dapat dinikmati oleh orang-orang lain diluar sistem sosialnya sendiri.

Sifat kekosmopolitan individu dicirikan oleh sejumlah atribut yang membedakan mereka dari orang-orang lain di dalam komunitasnya, yaitu memiliki status sosial yang lebih tinggi, partisipasi sosial yang lebih tinggi, lebih banyak berhubungan dengan pihak luar, lebih banyak menggunakan media massa dan memiliki hubungan lebih banyak dengan orang lain maupun lembaga yang berada di luar komunitasnya.

Faktor Eksternal Petani

Menurut Sampson (Rakhmat 2007) faktor eksternal individu merupakan ciri-ciri yang dapat menekan seseorang yang berasal dari luar dirinya. Faktor eksternal individu merupakan salah satu faktor yang penting untuk diketahui dalam rangka mengetahui upaya seseorang untuk melakukan suatu usaha. Pengertian faktor eksternal dalam penelitian ini adalah keadaan atau kondisi yang mempengaruhi petani yang berasal dari luar diri, seperti: ketersediaan informasi, peran penyuluh, keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, dan manfaat yang diperoleh dari kelompok.

Ketersediaan informasi. Informasi yang diperoleh dari media merupakan akses petani untuk memperoleh informasi. Menurut van den Ban dan Hawkins (1999), suratkabar, majalah, radio, dan televisi merupakan media yang paling murah untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, media juga dapat digunakan untuk menyampaikan informasi antara lain: surat, telepon, surat kabar, radio, televisi, internet, dan sejenisnya. Ada kecenderungan untuk penerimaan pesan bersifat resistensi bilamana media gagal melakukan perubahan, padahal secara logika sumber informasi sangat mungkin diterima oleh kelompok sasaran, masalah demikian banyak ditemui dalam penyuluhan pertanian, terutama di negara sedang berkembang masyarakatnya lapar informasi.

Peran Penyuluh. Peran penyuluh bukan hanya sekedar menyampaikan informasi hasil-hasil penelitian kepada peternak. Lebih luas adalah melakukan kegiatan penyuluhan untuk mengembangkan kemampuan petani dalam menguasai, memanfaatkan, dan menerapkan teknologi baru sehingga mampu bertani dan berusahatani yang lebih baik dan lebih menguntungkan. Tugas yang harus diemban oleh penyuluh adalah memberikan dorongan kepada petani, agar mau mengubah cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi pertanian (Kartasapoetra 1994).

(40)

dengan fase-fasenya, (8) memilih teknik dan cara yang tepat dalam proses perubahan, dan (9) membantu mengembangkan teori dan kemampuan dasar sasaran sesuai dengan profesinya.

Dahama dan Bhatnagar (1980) mengemukakan bahwa peran penyuluh adalah sebagai pendidik, komunikator, dinamisator dan organisator. Menurut pendapat Lionberger dan Gwin (1991), agar lebih profesional maka penyuluh harus berperan sebagai: pembawa informasi, pendengar yang baik, motivator, fasilitator proses, agen penghubung, pembentuk kemampuan, guru keterampilan, pengelola program, pekerja kelompok, penjaga batas, promotor, pemimpin lokal, konsultan, protektor, dan pembentuk lembaga/institusi.

Hasil penelitian Arey (2010) tentang Persepsi anggota tentang Kepemimpinan, Dinamika dan Keefektifan Kelompok Peternak Sapi Perah menunjukkan bahwa faktor eksternal yang berhubungan dengan persepsi anggota tentang kepemimpinan ketua kelompok yaitu peran penyuluh, peluang pasar, peran ketua dan peran kelompok lain.

Keterlibatan Anggota dalam Kegiatan Kelompok. Menurut Robbins (2008), keterlibatan terhadap suatu objek adalah tingkat dimana seseorang mengkaitkan dirinya ke objek tersebut dan secara aktif berpartisipasi di dalamnya. Dalam partisipasi ada tiga tahapan yaitu partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemanfaatan hasil, menurut Slamet (1994) diantara ketiga tahapan itu yang paling tinggi tingkatannya ialah keterlibatannya pada tahap perencanaan yaitu diajak turut membuat keputusan.

Manfaat yang diperoleh dari Kelompok. Mardikanto (1993) menyitir pendapat Galeski tentang pentingnya pembentukan kelompok tani. Dikatakan bahwa kelompok tani perlu dibentuk untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat petani dan produktivitas serta pendapatan yang lebih merata. Ditinjau dari usaha yaitu bertani, maka kelompok tani harus memberikan manfaat bagi petani sebagai wadah untuk mendiskusikan kegiatan bertani, baik dalam hal praproduksi sampai pascaproduksi yang ditinjau dari segala aspek yang melingkupinya.

Pemimpin dan Kepemimpinan

Konsep pemimpin dan kepemimpinan berbeda. Pemimpin adalah individu atau seorang anggota yang mempunyai kemampuan menggerakkan atau mempengaruhi orang-orang lain untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu dengan mengarahkan dan mengkoordinasikan aktivitas yang berkaitan dengan tugas kelompok serta memprakarsai adanya interaksi.Sedangkan kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempenga ruhi orang lain bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemimpin tersebut (Northouse 2007).

Pengaruh kepemimpinan sangat penting dalam berbagai organisasi dan lingkungan karena aspek ini selalu terkait dengan organisasi atau kelompok. Organisasi atau kelompok akan menjadi kurang efisien tanpa pemimpin, dan dalam kasus yang sangat ekstrim organisasi tidak akan mampu mencapai tujuan yang ditentukan (Gibson et al. 1993).

Gambar

Gambar 1 Kerangka berpikir penelitian
Tabel 1 Populasi, sampel, dan jumlah sampel petani berdasarkan kelas
Tabel 2  Variabel, definisi operasional, indikator, dan pengukuran variabel faktor-faktor internal petani anggota
Tabel 2  Variabel, definisi operasional, indikator, dan pengukuran variabel faktor-faktor internal petani anggota (lanjutan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Belajar juga bisa dikatakan pengalaman pada dasarnya adalah hasil dasar dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.untuk meningkatkan mutu pembelajaran

Setelah mendapatkan penjelasan tentang penelitian ini maka saya menyatakan bersedia berpartisipasi menjadi subjek dalam penelitian yang akan dilakukan oleh saudari Raisha Octavariny

yang telah mencurahkan pikiran, tenaga, dan pengorbanan waktunya dalam.. selaku pembimbing akademik. Seluruh dosen dan karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak

Atas penghentian pengakuan aset keuangan terhadap satu bagian saja (misalnya ketika Grup masih memiliki hak untuk membeli kembali bagian aset yang ditransfer),

pada saat Pembuktian Kualifikasi penyedia Jasa harus membawa seluruh Dokumen Asli sesuai yang di Upload / diunggah beserta 1 ( satu ) rekaman Termasuk dokumen Kontrak /

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar kognitif matematika dengan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) lebih baik dari

Diumumkan kepada seluruh Peserta Pengadaan sehubungan dengan telah ditetapkannya Pemenang Pelelangan Kegiatan Pemeliharaan dan Perawatan CCTV / PPC Bid TI Polri

Business Sub arsitektur domain didapatkan dari gambar 2 yang terdiri dari proses bisnis manajemen penyuluhan dan manajemen rekomendasi ijin usaha yang akan dijelaskan