Kandidat bahan baku yang dikultur massal dan dianalisis kandungan nutriennya pada penelitian ini yaitu mikroalga dari jenis Spirulina platensis, Tetraselmis chuii dan Chaetoceros calcitrans, mikrobial flok dan klekap. Produktivitas kandidat bahan baku hasil budidaya tersebut disajikan pada Tabel 2. Hasil perhitungan biaya produksi (penggunaan pupuk teknis) untuk menghasilkan 1 kg tepung bahan baku, maka pada mikroalga T. chuii yang diperoleh berat kering 96,86 g/m3 pada kepadatan 1.300.000 sel/mL, didapatkan biaya produksi sebesar Rp. 5.059/kg. Berat kering mikroalga S. platensis sebesar 60,73 g/m3 pada kepadatan 140.000 sel/mL, biaya produksinya Rp. 8.068/kg,
mikroalga C. calcitrans dengan berat kering 115,1 g/m3 dengan kepadatan
3.080.000 sel/mL, biaya produksi Rp. 11.800/kg. Untuk produksi mikrobial flok, dengan berat kering sebesar 491,06 g/m3, biaya produksinya sebesar Rp. 3.666/kg dan pada klekap, berat kering 110,9 g/m2 diperoleh biaya produksi Rp. 3.783/kg.
27
Tabel 2. Produksi bahan baku sumber protein alternatif berbasis perairan No. Bahan Baku Kepadatan
(nx10 sel/mL) Berat Kering (g) Waktu produksi (hari) Volume Air Harga (Rp/Kg) 1 T. chuii (m³) 130 96,86 5 1 5.059 2. S. platensis (m³) 14 60,73 4 1 8.068 3. C. calcitrans (m³) 308 115,1 5 1 11.800 4. Mikrobial flok (m³) 882 491,06 14 5 3.666 5. Klekap (m2) 244 110,9 14 3,2 3.783
Kandungan nutrien kandidat bahan baku hasil kultur massal berupa hasil analisis proksimat dan asam amino ditampilkan pada Tabel 3. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tepung Tetraselmis chuii (TTc), tepung Spirulina platensis (TSp) dan tepung mikrobial flok (TMF) memiliki kandungan nutrien yang lebih baik dibandingkan dengan tepung mikroalga Chaetoceros calcitrans (TCc) dan tepung klekap (TKl). Hal ini terlihat pada kadar protein TTc, TSp dan TMF yang memiliki kadar protein di atas 20%, sebaliknya TCc dan TKl memiliki kadar protein dibawah 20%.
Kandungan asam amino essensial (AAE) yang ditunjukkan pada bahan baku penelitian ini, secara kuantitas lengkap, namun secara kualitas, persentasenya lebih rendah dibandingkan dengan TI dan TK. Komposisi AAE yang hampir menyerupai TI dan TK ditunjukkan oleh TSp dan TMF. Asam amino yang menjadi faktor pembatas utama sumber protein pada pertumbuhan juvenil cobia yaitu lisin (lys) dan arginin (Arg). Komposisi lys dan arg TSp diperoleh hasil sebesar 2,72% dan 3,45% dan TMF dengan komposisi AAE lys 1,58% dan arg 1,71% dibandingkan dengan TI (lys 2,71%; arg 3,81%) dan TK (lys 2,01%; arg 2,87%).
28
Tabel 3. Kandungan nutrien bahan baku sumber protein berbasis perairan
Hasil analisis Bahan baku Pustaka
1) TTc TSp TCc TMF TKl TI TK Proksimat 2) Protein (%) 46,16±0,9 46,39±1,0 4,92±0,4 34,54±0,6 9,42±0,7 57,12 45,2 Lemak (%) 1,31±0,1 7,29±0,8 10,75±0,4 1,72±0,1 0,40±0,03 7,74 4,8 Abu (%) 50,81±1,5 6,86±0,3 38,85±0,01 21,11±0,6 66,73±0,03 25,08 6,4 Serat (%) 0,77±0,1 4,28±0,1 5,30±1,9 8,40±0,6 7,69±0,8 1,43 5,9 BETN (%) 0,95±0,5 35,17±1,4 40,19±1,9 34,23±0,1 15,77±0,01 7,63 35,7
Asam Amino Essensial (% bahan)3)
Leucine 3,08 4,91 0,57 2,73 0,73 4,03 2,63 I-leucine 1,57 3,35 0,50 1,78 0,61 2,41 2,70 Histidine 0,65 0,71 0,08 0,55 0,05 0,90 0,90 Lysine 2,03 2,72 0,32 1,58 0,28 2,71 2,01 Threonine 1,81 2,44 0,27 1,96 0,41 2,30 2,06 Arginine 2,66 3,45 0,34 1,71 0,42 3,81 2,87 Methionine 0,87 0,86 0,16 0,67 0,12 1,01 2,21 Phenylalanine 1,95 2,50 0,40 1,81 0,55 2,61 2,82 Valine 2,27 3,81 0,41 2,37 0,59 3,30 2,6 Triptophan 0,61 0,96 0,10 0,82 0,14 0,94 0,49 Total 17,5 25,71 3,15 15,16 3,90 24,02 21,29
Asam Amino Non Essensial (% bahan)
Alanine 2,79 4,09 0,45 2,38 0,67 3,12 3,09 Tyrosine 1,38 1,70 0,24 1,10 0,27 1,70 2,01 Glycine 2,25 2,79 0,33 2,01 0,5 3,92 2,81 Sistin 0,14 0,05 0,01 0,12 0,005 0,71 0,50 Aspartic acid 3,71 5,26 0,81 4,24 1,17 4,80 3,01 Glutamic acid 4,67 7,52 0,88 4,47 1,12 8,10 5,70 Serine 1,63 2,28 0,40 1,63 0,4 3,70 1,41 Total 16,57 23,64 3,12 15,83 4,26 26,05 18,53
Keterangan: 1) Sitompul (2004); 2) berat kering; 3) % bahan; TI = Tepung Ikan; TK = Tepung Kedelai; BETN = bahan ekstrak tanpa nitrogen; TTc = Tepung Tetraselmis chuii; TSp = Tepung Spirulina platensis; TCc = Tepung Chaetoceros calcitrans; TMF = Tepung Mikrobial Flok; TKl = Tepung Klekap
Hasil perbandingan proksimat bahan baku penelitian ini dengan tepung ikan (TI) dan bahan baku berbasis daratan disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan kandungan nutrien, tepung Spirulina platensis (TSp) dan tepung Tetraselmis chuii (TTc) memiliki kadar protein yang masuk dalam batasan tepung ikan, tepung kedelai dan tepung daging dan tulang (46-47%), namun hanya TSp yang memiliki komposisi kadar lemak yang masuk dalam batasan TI dan sumber protein berbasis
29 daratan. Tepung mikrobial flok (TMF) memiliki komposisi kadar protein yang mendekati tepung kedelai (TK) yakni 34-35% namun kadar lemaknya lebih rendah. Berbeda dengan bahan baku di atas, tepung Chaetoceros calcitrans (TCc) dan tepung klekap (TKl) memiliki kadar protein yang sangat rendah (4-5% dan 9- 10%) dibandingkan dengan TI dan sumber protein alternatif berbasis daratan, sehingga kedua bahan baku tersebut tidak dapat direkomendasikan untuk dijadikan bahan baku sumber protein alternatif.
Tabel 4. Perbandingan hasil analisis proksimat bahan baku tepung ikan dan sumber protein berbasis daratan dengan bahan baku berbasis perairan (berat kering)
Keterangan: *) Millamena et al. (2002)
Perbandingan indeks asam amino essensial (Essential Amino Acid Index/EAAI) bahan baku berbasis perairan dengan tepung ikan (TI) dan tepung kedelai (TK) ditampilkan pada Tabel 5. Dari tabel tersebut, terlihat bahwa kandungan asam amino essensial (AAE) tepung Spirulina platensis (TSp) memiliki kandungan asam amino hampir mendekati komposisi asam amino TI, defisiensi hanya ditemukan pada empat macam asam amino yaitu histidin (78,89%), methionin (85,15), arginin (90,55%) dan fenilalanin (95,79%). Dibandingkan dengan komposisi AAE TK, AAE TSp mengalami defisiensi pada tiga macam yaitu methionin (38.91%), histidin (78.89%) dan fenilalanin (88.65%). Pada komposisi AAE tepung Tetraselmis chuii (TTc) dibandingkan dengan AAE TI, secara umum mengalami defisiensi dengan rata-rata 26,83% dan bila dibandingkan dengan AAE TK, defisiensi terrendah ditemukan pada AAE Methionin (39.37%). Komposisi AAE tepung mikrobial flok (TMF) dibandingkan dengan AAE TI, secara keseluruhan AAE TMF mengalami defisiensi dengan rata- rata 31,41%, defisiensi yang hampir keseluruhannya terlihat bila dibandingkan dengan AAE TK, komposisi AAE methionin diperoleh terrendah (30.32%).
Bahan baku Protein Lemak Serat kasar Abu BETN
Tepung ikan (%) 45-68 5-8 1-2 17-28 4-8
Berbasis daratan*)
Tepung kedelai (%) 35-46 3-6 7-9 5-8 42-50
Tepung daging dan tulang (%) 45-55 5-9 2-3 15-25 30-33 Tepung sisa produk poultry (%) 50-60 5-8 2-3 15-20 20-28 Berbasis perairan
Tepung S. platensis (%) 46-47 6-7 4-5 6-7 34-35
Tepung T. chuii (%) 46-47 1-2 1-2 45-50 1-2
Tepung C. calcitrans (%) 4-5 10-11 4-5 37-38 39-40 Tepung Mikrobial flok (%) 34-35 1-2 7-8 20-21 33-34
30
Tabel 5. Indeks asam amino essensial (IAAE) tepung ikan dan tepung kedelai dengan bahan baku berbasis perairan (%)
Bahan
Baku Leu Ile His Lys Thr Arg Met Phe Val Trp
IAAE tepung ikan dengan bahan baku berbasis perairan
TTc 76,43 65,15 72,22 74,91 78,70 69,82 86,14 74,71 68,79 64,89 TSp 121,84 139,00 78,89 100,37 106,09 90,55 85,15 95,79 115,45 102,13 TCc 14,14 20,75 8,89 11,81 11,74 8,92 15,84 15,33 12,42 10,64 TMF 67,74 73,86 61,11 58,30 85,22 44,88 66,34 69,35 71,82 87,23 TKl 18,11 25,31 5,56 10,33 17,83 11,02 11,88 21,07 17,88 64,89
IAAE tepung kedelai dengan bahan baku berbasis perairan
TTc 117,11 58,15 72,22 101,00 87,86 92,68 39,37 69,15 87,31 124,49 TSp 186,69 124,07 78,89 135,32 118,45 120,21 38,91 88,65 146,54 195,92 TCc 21,67 18,52 8,89 15,92 13,11 11,85 7,24 14,18 15,77 20,41 TMF 103,80 65,93 61,11 78,61 95,15 59,58 30,32 64,18 91,15 167,35 TKl 27,76 22,59 5,56 13,93 19,90 14,63 5,43 19,50 22,69 28,57
Keterangan: TTc = Tepung Tetraselmis chuii; TSp = Tepung Spirulina platensis; TCc = Tepung Chetoceros calcitrans; TMF = Tepung Mikrobial Flok; TKl = Tepung Klekap
Hasil analisis komposisi asam lemak terhadap kelima bahan baku ditampilkan pada Tabel 6. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa secara kuantitas, tepung Chetoceros calcitrans (TCc), tepung mikrobial flok (TMF) dan tepung klekap (TKl) memiliki asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SAFA) lebih lengkap (8 macam SFA) dibandingkan dengan tepung Tetraselmis chuii (TTc) dan tepung Spirulina platensis (TSp) yang berturut-turut hanya 6 dan 4 macam SFA. Pada asam lemak tidak jenuh satu ikatan rangkap (monounsaturated fatty acid/MUFA) TTc dan TMF hanya satu macam yang tidak ditemukan, sedangkan pada TSp, TCc dan TKl, MUFA yang tidak ditemukan dua macam. Kandungan asam lemak tidak jenuh dua atau lebih dari dua ikatan rangkap (polyunsaturated fatty acid/PUFA) pada TKl hanya ditemukan satu macam, TSp dan TTc diperoleh 3 dan 4 macam dan TCc dan TMF ditemukan lima macam PUFA. Berdasarkan kandungan asam lemak essensial (essential fatty acid/EFA), TTc mengandung EFA linoleat, linolenat dan asam eicosapentaenoic (EPA), TCc dan TMF memiliki kandungan EFA linoleat, EPA dan asam docosahexaenoic (DHA), sedangkan TSp dan TKl hanya mengandung EFA linoleat.
31 Tabel 6. Komposisi asam lemak bahan baku uji (% bahan)
Asam Lemak TTc TSp TCc TMF TKl
Saturated Fatty Acid (SFA)
Capric Acid, C10:0 nd 0,02 0,01 nd nd Lauric Acid, C12:0 0,03 0,03 0,02 0,02 0,02 Myristic Acid, C14:0 0,01 nd 0,32 0,10 0,02 Pentadecanoic Acid, C15:0 nd nd 0,02 0,02 0,01 Palmitic Acid, C16:0 0,68 1,66 0,36 1,07 0,14 Heptadecanoic Acid, C17:0 0,01 nd 0,01 0,03 0,01 Stearic Acid, C18:0 0,08 0,05 0,04 0,22 0,03 Arachidic Acid, C20:0 0,17 nd nd 0,02 0,01 Lignoceric Acid, C24:0 nd nd 0,01 0,01 0,01
Monounsaturated Fatty Acid (MUFA)
Myristoleic Acid, C14:1 0,02 0,03 0,02 nd 0,01 Palmitoleic Acid, C16:1 0,04 0,11 0,51 0,15 0,04 Heptadecanoic Acid, C17:1 nd 0,01 0,10 0,03 nd Eicosenoic Acid, C20:1 0,02 nd nd 0,04 nd Elaidic Acid, C18:1n9t 0,02 nd nd 0,09 0,01 Oleic Acid, C18:1n9c 0,28 0,05 0,10 1,35 0,11
Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA)
Linolenic Acid, C18:2n6 0,27 0,61 0,05 0,34 0,03 α-Linolenic Acid, C18:3n3 0,18 nd nd nd nd ϒ-Linolenic Acid, C18:3n6 nd 0,80 0,04 0,02 nd Eicosenoic Acid, C20:3n6 nd 0,01 nd nd nd Arachidic Acid, C20:4n6 0,04 nd 0,17 0,22 nd Eicosapentaenoic Acid, C20:5n3 0,07 nd 0,33 0,07 nd Docosahexaenoic Acid, C22:6n3 nd nd 0,03 0,05 nd Total SFA 0,98 1,76 0,79 1,49 0,25 Total MUFA 0,38 0,2 0,73 1,66 0,17 Total PUFA 0,56 1,42 0,62 0,7 0,03
Essential Fatty Acid (EFA)
Linoleat 0,27 0,61 0,05 0,34 0,03
Linolenat (α-Linolenic Acid) 0,18 nd nd nd nd Eicosapentaenoic Acid (EPA) 0,07 nd 0,33 0,07 nd
Docosahexaenoic Acid (DHA) nd nd 0,03 0,05 nd
Keterangan: nd = non detected (tidak ditemukan); TTc = Tepung Tetraselmis chuii; TSp = Tepung Spirulina platensis; TCc = Tepung Chaetoceros calcitrans; TMF = Tepung Mikrobial Flok; TKl = Tepung Klekap
Pembahasan
Produksi mikroalga telah banyak dilakukan untuk kepentingan komersial, seperti untuk biofuel, bahan baku pakan dan kosmetik (Kiron et al. 2012). Hal ini dikarenakan mikroalga kaya akan protein, pigmen karoten, vitamin, asam amino essensial dan sudah banyak digunakan sebagai bahan baku pakan akuakultur (Ju et
32
al. 2012; Kiron et al. 2012). Pada penelitian ini, mikroalga yang diproduksi dengan tujuan untuk digunakan sebagai bahan baku pakan, dengan proses produksinya menggunakan pupuk teknis (pupuk pertanian). Penggunaan pupuk teknis (urea, Double Superphosphate/DSP dan ammonium sulfat/ZA) dalam produksi mikroalga, ditujukan agar diperoleh bahan baku yang harganya relatif murah.
Mikroalga yang diproduksi sebagai kandidat bahan baku merupakan alga hijau yang berbentuk benang (S. platensis) dan berbentuk bulat (T. chuii). Kedua kandidat bahan baku pakan ini, memiliki biaya produksi lebih murah dibandingkan dengan alga kersik (keemasan) yaitu mikroalga C. calcitrans. Oleh karena dalam proses produksi mikroalga C. calcitrans, selain menggunakan pupuk teknis, juga ditambahkan pupuk silikat. Kandidat bahan baku lainnya yang diproduksi adalah tepung mikrobial flok dan tepung klekap dan hasil analisis biaya produksi, kedua bahan baku ini lebih murah dari bahan baku lainnya (Tabel 2). Secara umum, hasil perhitungan biaya produksi kelima kandidat bahan baku tersebut, didapatkan hasil perhitungan bahwa biaya produksi masih di bawah harga tepung ikan impor Rp 14.000-16.000/kg dan tepung kedelai Rp 8.000- 10.000/kg, kecuali pada tepung C. calcitrans yang lebih mahal dibanding dengan tepung kedelai.
Kualitas suatu bahan baku dapat dilihat dari komposisi nutrien yang dikandungnya. Komposisi suatu bahan baku terdiri atas kadar protein, lemak dan karbohidrat merupakan sumber energi yang dapat dimanfaatkan oleh ikan. Tetapi, dari ketiga sumber energi tersebut protein merupakan sumber energi utama yang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ikan untuk pertumbuhannya. Bahan baku yang dapat digunakan sebagai sumber protein utama dalam pakan harus mempunyai kadar protein lebih dari 20% (Halver 1989). Hasil analisis proksimat lima bahan baku yang diproduksi yang ditampilkan pada Tabel 3, terdapat tiga bahan baku yang memiliki kandungan nutrisi dengan kadar protein di atas 20% (tepung T. chuii/TTc), S. platensis/TSp dan mikrobial flok/TMF) dan dua bahan baku yang memiliki kadar protein di bawah 20% (tepung C. calcitrans/TCc dan klekap/TKl). Dengan demikian kandungan protein yang rendah dari bahan baku tepung C. calcitrans dan klekap tidak dapat dijadikan kandidat bahan baku sumber protein alternatif utama.
Selanjutnya, untuk menentukan kualitas kadar protein bahan baku, maka ketiga bahan baku yang memiliki kadar protein di atas 20% dibandingkan bahan baku yang biasa digunakan dalam pakan yaitu tepung ikan (TI) dan bahan baku yang berbasis daratan (tepung kedelai/TK, tepung daging dan tulang/MBM dan tepung sisa produk poultry/PM). Hasil proksimat diperoleh hasil bahwa TTc dan TSp memiliki kandungan protein yang termasuk dalam batasan TI dan bahan baku berbasis daratan, sedangkan TMF mendekati kandungan protein TK.
Penentuan kualitas bahan baku selain dengan menganalisis kandungan proteinnya, kualitas protein bahan baku juga ditentukan dengan komposisi asam
33 aminonya. Apabila terjadi defisiensi salah satu asam amino pembatas, akan mengakibatkan terhentinya sintesis protein, dampaknya pertumbuhan ikan terhambat. Webster and Lim (2002) menyatakan bahwa kualitas protein suatu bahan baku sangat ditentukan oleh komposisi asam amino penyusunnya dan dalam menentukan kualitas protein dapat dilakukan dengan membandingkan komposisi asam amino essensial yang dikandung bahan baku pakan dengan standar kebutuhan asam amino essensial hewan uji, dalam hal ini bahan baku standar yang dibandingkan adalah tepung ikan dan tepung kedelai.
Hasil pengukuran asam amino essensial dengan menggunakan indeks asam amino essensial (Essential amino acid index/EAAI) pada Tabel 5, diperoleh hasil bahwa secara umum ketiga bahan baku (TSp, TTc dan TMF) memiliki profil asam amino yang mendekati komposisi asam amino essensial TI, namun dari ketiga bahan baku tersebut, TSp yang paling mendekati profil asam amino TI. Hanel et al. (2007) menyatakan bahwa S. platensis mengandung protein yang tinggi dan keseimbangan profil asam amino dibandingkan dengan sumber protein nabati lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan formula.
Sementara itu, apabila dibandingkan dengan komposisi asam amino essensial TK, ketiga bahan baku ini mengalami defisiensi asam amino methionin (met). Methionin merupakan asam amino pembatas bahan baku yang berasal dari nabati, asam amino ini berperan dalam sintesis protein dan fungsi-fungsi fisiologis penting lainnya (Lovell 1989). Defisiensi asam amino ini dapat menyebabkan katarak pada rainbow trout (Walton et al. 1982). Buwono (2000) menyatakan bahwa defisiensi salah satu asam amino essensial dapat diganti atau ditambah dengan salah satu asam amino non essensial yang mempunyai struktur kimiawi serupa. Interaksi methinonin dapat diganti sebagian oleh sistin atau interaksi lisin- arginin; methionin-threonin; arginin-glisin-methionin-threonin; (histidin, fenilalanin, tirosin)-arginin dan (threonin, glisin)-arginin.
Asam lemak merupakan salah satu unsur yang penting dari lipid dan merupakan senyawa asam karboksilat tinggi (rantai atom C-nya panjang). Asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap dan asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acids) yaitu asam lemak yang memiliki ikatan rangkap. Asam lemak tidak jenuh dibedakan menjadi Mono Unsaturated Fatty Acid (MUFA) yang memiliki satu ikatan rangkap dan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA) dengan satu atau lebih ikatan rangkap. Secara kuantitatif, kelima bahan baku yang diproduksi memiliki komposisi asam lemak SFA, MUFA dan PUFA. Meskipun demikian, secara kualitas perlu dikaji keberadaan asam lemak essensialnya. Asam lemak essensial (essensial fatty acid/EFA) adalah asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan dan fungsi normal semua jaringan yang tidak dapat disintesis oleh tubuh, oleh karena itu harus disuplai dari pakan. Asam lemak essensial terdiri dari asam alfa linoleat (omega 6) dan asam alfa linolenat (omega
34
3) serta turunannya yaitu ARA (arakidonat) dari asam linoleat, EPA (eikosapentaenoat), dan DHA (dokosaheksaenoat) dari asam linolenat. Millamena et al. (2002) menjelaskan bahwa ikan membutuhkan asam lemak ω3 dan ω6,
berupa asam linolenat (18μ3ω3), asam linoleat (18μ2ω6), asam eicosapentaenoic (EPA, 20μ5ω3) dan decosahexaenoic (DHA, 20μ6ω3), oleh karena asam lemak omega-3 dan omega-6 penting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan, sumber steroid untuk menjaga sistem membran, transport lemak, dan sebagai prekusor hormon steroid. Lemak juga membantu dalam penyerapan berbagai jenis vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K).
Hasil produksi bahan baku pada penelitian ini, ditemukan asam lemak essensial linoleat (yang dibutuhkan oleh ikan air tawar) pada semua bahan baku namun nilai tertinggi ditemukan pada TSp, sedangkan asam lemak linolenat hanya ditemukan pada TTc. Asam lemak essensial yang dibutuh oleh ikan laut yaitu EPA (asam eikosapentanoik) dan DHA (asam dokosaheksanoik) ditemukan pada TMF dan TCc, sedangkan TTc hanya asam lemak EPA. Asam lemak essensial ini (EPA dan DHA) tidak ditemukan pada TSp (Tabel 6). Ikan air tawar membutuhkan asam lemak linoleat dan atau asam linolenat dalam pakannya, sedangkan ikan laut membutuhkan asam lemak essensial EPA dan DHA dalam pakannya untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Beberapa penelitian yang memanfaatkan mikroalga sebagai bahan baku pakannya yaitu: pada ikan herbivora/omnivora (Olivera-Novova et al. 1998; Tartiel et al. 2008; Kiron et al. 2012; Vizcaino et al. 2014; Walker and Berlinsky 2011), ikan karnivora (Kiron et al. 2012; Walker and Berlinsky 2011), udang (Hanel et al. 2007; Kiron et al.2012; Ju et al. 2012; Macias-Sancho et al. 2014). Penelitian yang memanfaatkan mikrobial flok telah dilakukan terhadap udang (Bauer et al. 2012; Kuhn et al. 2009), ikan laut yellowtail dan red sea bream (NRC 2011). Berdasarkan uraian di atas dan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahan baku mikroalga T. chuii, S. platensis dan mikrobial flok dapat dimanfaatkan sebagai pakan dalam pakan organisme akuakultur.