• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA PERTUMBUHAN DAN RESPONS STRES JUVENIL COBIA ( Rachycentron canadum )

4 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

1. Kombinasi mikrobial flok dan mikroalga Spirulina platensis (MFMS) pada 15%, menunjukkan kinerja pertumbuhan yang terbaik pada juvenil cobia 2. Pakan MFMS dapat diberikan hingga 30% tanpa memberikan pengaruh negatif

pada pertumbuhan juvenil cobia

3. Juvenil cobia yang mengkonsumsi pakan MFMS 15% dan 30% dapat mengatasi dampak negatif (fisiologis) akibat perendaman air tawar.

Saran

Evaluasi terhadap bahan baku kombinasi mikrobial flok dan mikroalga Spirulina platensis dapat dikembangkan pada pakan ikan air tawar atau ikan laut yang berbeda dan respons fisiologis lainnya seperti respons stres akibat dampak transportasi.

77

PEMBAHASAN UMUM

Kegiatan akuakultur yang mengalami peningkatan, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap suplai ikan dunia, sehingga menyebabkan meningkatnya kebutuhan bahan baku pakan. Pakan menempati biaya produksi terbesar dalam operasional akuakultur, dengan total biaya produksi lebih dari 50% (Suprayudi 2010). Tingginya biaya produksi disebabkan oleh tingginya harga bahan baku pakan yaitu tepung ikan (TI) dan tepung kedelai (TK). TI dan TK merupakan bahan baku yang diandalkan dalam komposisi pakan organisme akuakultur. Untuk menekan biaya produksi, maka perlu dicari sumber protein alternatif yang ketersediaannya bersifat lokal dan berkesinambungan. Namun sumber protein alternatif lainnya harus memiliki beberapa kriteria seperti: bahan baku harus mengandung nutrien yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan, diutamakan dari sumber nabati, tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan manusia, hasil samping produk dan jumlah tersedia melimpah (Suprayudi 2010).

Potensi besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif yakni sumber protein berbasis perairan, seperti mikroalga, mikrobial flok dan klekap. Bahan-bahan baku tersebut dapat dimanfaatkan dalam pakan buatan ikan dalam upaya mengurangi atau menggantikan peran tepung ikan. Beberapa penelitian yang telah berhasil memanfaatkan sumber protein alternatif berbasis perairan dalam pakannya antara lain dengan mengganti tepung ikan dengan mikroalga (Vizcaino 2014; Walker and Berlinsky 2011; Olivera-Novoa et al. 1998; Kim et al. 2013; Badawy et al. 2008; Ju et al. 2012), dengan mikrobial flok (Bauer et al. 2012; Kuhn et al. 2009).

Keberhasilan dalam mengkultur mikroalga Spirulina platensis (MS), Tetraselmis chuii (MT) dan Chaetoceros calcitrans (MC), mikrobial flok (MF) dan klekap, menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat bahan baku pakan, terutama ikan-ikan laut yang masih memiliki nilai jual yang rendah seperti ikan cobia.

Untuk menekan biaya produksi bahan baku mikroalga, mikrobial flok dan klekap, maka dalam proses produksinya digunakan pupuk/sumber karbon yang relatif murah, seperti penggunaan pupuk teknis (urea, DSP dan ZA) untuk memproduksi mikroalga dan klekap, atau menggunakan molase yang merupakan sisa hasil produk dari gula untuk memproduksi mikrobial flok.

Evaluasi terhadap kandungan nutrien kandidat bahan baku mikroalga, mikrobial flok dan klekap pada penelitian tahap satu ini, diperoleh hasil bahwa mikroalga Tetraselmis chuii, Spirulina platensis dan mikrobial flok dapat dijadikan kandidat bahan baku utama berbasis perairan, oleh karena bahan-bahan baku tersebut memiliki kandungan nutrien protein di atas 20% dan keseimbangan asam amino yang mendekati TI dan TK. Sedangkan mikroalga Chaetoceros calcitrans dan klekap memiliki kandungan nutrien protein di bawah 20%. Menurut Halver (1989) bahwa kualitas suatu bahan baku dapat dilihat dari

78

komposisi nutrien yang dikandungnya. Komposisi suatu bahan baku terdiri atas kadar protein, lemak dan karbohidrat yang merupakan sumber energi yang dapat dimanfaatkan oleh ikan. Tetapi, dari ketiga sumber energi tersebut, protein merupakan sumber energi utama yang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ikan untuk pertumbuhannya. Bahan baku yang dapat digunakan sebagai sumber protein utama dalam pakan harus mempunyai kadar protein lebih dari 20%. Selanjutnya menurut Webster and Lim (2002) bahwa kualitas protein suatu bahan baku sangat ditentukan oleh komposisi asam amino penyusunnya dan dalam menentukan kualitas protein dapat dilakukan dengan membandingkan komposisi asam amino essensial yang dikandung bahan baku pakan dengan standar kebutuhan asam amino essensial hewan uji, dalam hal ini bahan baku standar yang dibandingkan adalah tepung ikan dan tepung kedelai.

Hasil analisis kimia kandungan nutrien, mikroalga Spirulina platensis memiliki kriteria yang lebih baik sebagai bahan baku dibanding dengan mikroalga Tetraselmis chuii dan mikrobial flok, hal ini dikarenakan Spirulina platensis mengandung nutrien seperti protein yang tinggi (46,39%), kadar lemak 7,29% dengan kadar abu dan serat kasar rendah (6,86%; 4,28%) dan BETN tinggi (35,17%) serta keseimbangan asam amino yang lebih baik terutama asam amino arginin dan lisin yang dibutuhkan juvenil ikan untuk pertumbuhannya. Sebaliknya pada Tetraselmis chuii, walaupun kandungan protein tinggi (46,16%), namun memiliki kadar abu tinggi dan kadar lemak yang rendah. Sedangkan pada mikrobial flok, bahan baku ini selain memiliki kadar lemak yang rendah (1,72%) juga memiliki serat kasar yang tinggi (8,39%).

Hasil pengukuran asam amino essensial dengan menggunakan indeks asam amino essensial (Essential amino acid index/EAAI), diperoleh hasil bahwa secara umum ketiga bahan baku (mikroalga Spirulina platensis, Tetraselmis chuii dan mikrobial flok) memiliki profil asam amino yang mendekati komposisi asam amino essensial TI, namun dari ketiga bahan baku tersebut, Spirulina platensis yang paling mendekati profil asam amino TI. Hanel et al. (2007) menyatakan bahwa Spirulina platensis mengandung protein yang tinggi dan keseimbangan profil asam amino dibandingkan dengan sumber protein nabati lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan formula. Pada profil asam amino MF, terjadi defisiensi salah satu asam amino essensialnya yaitu arginin, bila dibandingkan dengan asam amino TI. Arginin merupakan asam amino yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan ikan muda dan berperan dalam sintesis protein dan biosintesis ammonia, defisiensi arginin akan menyebabkan peningkatan penggunaan lisin, sehingga kadar lisin dapat menurun. Menurut Zhou et al. (2007) bahwa ikan yang mengalami defisiensi lisin, akan mengalami kerusakan sirip ekor (nekrosis), apabila berkelanjutan, maka ikan akan kehilangan selera makan dan kinerja pertumbuhannya menurun. Sementara itu, apabila dibandingkan dengan komposisi asam amino essensial TK, ketiga bahan baku ini mengalami defisiensi asam amino methionin (met). Methionin merupakan asam

79 amino pembatas bahan baku yang berasal dari nabati, asam amino ini berperan dalam sintesis protein dan fungsi-fungsi fisiologis penting lainnya (Lovell 1989) seperti katarak pada rainbow trout (Walton et al. 1982).

Pada analisis kandungan nutrien asam lemak, ditemukan asam lemak essensial linoleat (yang dibutuhkan oleh ikan air tawar) pada semua bahan baku namun nilai tertinggi ditemukan pada Spirulina platensis, sedangkan asam lemak linolenat hanya ditemukan pada Tetraselmis chuii. Asam lemak essensial yang dibutuhkan oleh ikan laut yaitu EPA (asam eikosapentanoik) dan DHA (asam dokosaheksanoik) ditemukan pada mikrobial flok, sedangkan Tetraselmis chuii hanya asam lemak EPA. Asam lemak essensial ini (EPA dan DHA) tidak ditemukan pada Spirulina platensis. Ikan air tawar membutuhkan asam lemak linoleat dan atau asam linolenat dalam pakannya, sedangkan ikan laut membutuhkan asam lemak essensial EPA dan DHA dalam pakannya untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan, maka ketiga bahan baku tersebut (Spirulina platensis, Tetraselmis chuii dan mikrobial flok), perlu dievaluasi kecernaan dan palatabilitas dalam pemanfaatannya sebagai pakan ikan. Untuk itu, dilakukan penelitian tahap dua dengan tujuan untuk mengevaluasi aktivitas enzim pencernaan dan nilai biologis sebagai pakan ikan cobia. Cobia (Rachycentron canadum) merupakan ikan laut karnivora yang dapat tumbuh cepat dan sudah dibudidayakan sejak tahun 1990an untuk dikonsumsi, hal ini dikarenakan kandungan dagingnya yang baik, memiliki tulang yang sedikit, kaya akan omega 3, sehingga merupakan salah satu kandidat utama spesies ikan laut akuakultur (Zhou at al. 2005; Chou et al. 2001; Kaiser and Holt 2005; Mach et al. 2010).

Pada penelitian tahap dua ini, evaluasi dilakukan terhadap bahan baku terpilih dari tahap satu, Chaetoceros calcitrans dan klekap merupakan bahan baku yang tidak terpilih, karena tidak memiliki kriteria sebagai bahan baku utama. Pada tahap ini, Tetraselmis chuii tidak berhasil dievaluasi, dikarenakan juvenil cobia tidak mengkonsumsi pakan MT. Hal ini karena rasa dan aroma yang tidak disukai ikan dan diduga bahwa pakan dengan bahan baku Tetraselmis chuii bersifat basa (pH tinggi). Sifat basa pada pakan ini dapat disebabkan oleh zat kimia natrium hidroksida (NaOH), bahan kimia ini (NaOH) digunakan dalam proses terjadi pengendapan Tetraselmis chuii agar dapat dipanen. Upaya yang dilakukan agar bahan baku Tetraselmis chuii dapat dikonsumsi oleh juvenil cobia yaitu dengan menurunkan pH pakan hingga netral, namun upaya ini tidak berhasil, ikan tetap tidak mengkonsumsi pakan Tetraselmis chuii yang diberikan.

Aktivitas spesifik enzim pencernaan juvenil cobia sangat dipengaruhi oleh jumlah pakan dan bahan baku pakan yang dikonsumsi. Pakan yang mengandung mikroalga Spirulina platensis diperoleh nilai aktivitas enzim amilase dan lipase yang lebih tinggi dibandingkan dengan mikrobial flok. Hal ini dikarenakan jumlah konsumsi pakan Spirulina platensis yang dikonsumsi juvenil cobia lebih banyak,

80

sehingga nilai aktivitas enzim pencernaan lebih tinggi. Halver and Hardy (2002) menyatakan bahwa level aktivitas spesifik enzim pencernaan lebih ditentukan oleh banyaknya pakan yang dikonsumsi sebagai substrat cerna. Selain itu, kandungan nutrien juga mempengaruhi level aktivitas enzim pencernaan dan tingkat penyerapannya, sehingga juvenil cobia yang mengkonsumsi pakan Spirulina platensis mengalami pertumbuhan yang lebih cepat, dibanding dengan ikan yang mengkonsumsi pakan mikrobial flok. Hal ini terlihat juga pada nilai rasio tripsin dan kimotripsin yang lebih tinggi pada ikan yang diberikan pakan Spirulina platensis dibandingkan ikan yang diberi pakan mikrobial flok, dengan demikian pakan Spirulina platensis memiliki efisiensi yang lebih tinggi dalam kecernaan dan peningkatan kinerja pertumbuhannya. Meskipun demikian, secara nilai biologis, pakan mikrobial flok memiliki nilai biologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan Spirulina platensis. Sehingga secara umum, kedua bahan baku ini, tidak memberikan dampak negatif pada pertumbuhan juvenil cobia.

Pada tahap tiga penelitian ini (tahap akhir), kedua bahan baku tersebut (Spirulina platensis dan mikrobial flok/MFMS) yang terpilih dari tahap sebelumnya (tahap dua) dikombinasikan dalam formulasi pakan. Hasil penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut, terutama ikan-ikan laut yang masih memiliki nilai jual yang rendah seperti ikan cobia. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya pertumbuhan ikan cobia yang lebih cepat (MFMS 15%) dan pemberian pakan MFMS dapat diberikan hingga 30%, oleh karena tidak memberikan dampak negatif pada pertumbuhan.

Juvenil cobia yang diberikan pakan MFMS 15% dan 30% dapat menjaga keseimbangan pola osmoregulasinya terhadap perubahan salinitas tiba-tiba, hal ini dapat dilihat pada kandungan kortisol dan glukosa serum darahnya setelah diberikan tekanan berupa perendaman air tawar. Ikan yang diberi pakan MFMS 15 dan 30% tidak mengalami peningkatan kortisol pada jam ke-1, berbeda yang didapatkan dengan pada ikan kontrol dan yang diberikan pakan MFMS 45%. Dengan demikian, kombinasi pakan MFMS dapat mengatasi dampak negatif (fisiologis) pada juvenil cobia akibat perendaman air tawar.

Dokumen terkait