• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Kabupaten

ANALISIS HUKUM TERHADAP PENGGUNAAN HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK

KONSERVASI HUTAN MANGROVE BERBASIS SOSIO EKOLOGIS DALAM UPAYA PELESTARIAN HUTAN DI KABUPATEN KONAWE

G. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Kabupaten

Konawe

Kabupaten Konawe dibentuk berdasarkan Undang-Undang nomor 29 Tahun 1959 tentang pembentukan Dae-rah Tingkat II di Sulawesi Tenggara, dengan nama Kabupaten Kendari den-gan ibukota di Kendari. Ketika pertama diberlakukan UU Nomor 6 Tahun 1995 tentang Pembentukan Kota Madya Ken-dari, daerah Kabupaten Konawe terdiri dari 19 wilayah kecamatan dengan 334 desa/kelurahan. Pada tahun 2002 Kabu-paten Konawe terdiri dari 23 wilayah kecamatan dengan 631 desa/kelurahan.

Bagian selatan kabupaten ini terbentuk menjadi kabupaten Konawe Selatan yang meliputi 11 kecamatan.

Berdasarkan Peraturan Pemerin-tah Nomor 26 Tahun 2004, tanggal 28 September 2004 berubah nama menjadi Kabupaten Konawe. Kawasan Kabupa-ten Konawe merupakan kawasan yang kaya dengan potensi alam salah satunya adalah hutan seperti hutan mangrove.

Secara umum kawasan Hutan Mangrove di Provinsi Sulawesi Tenggara seluas 41.525.91 Ha yang tersebar kebeberapa Kabupaten/Kota :

1. Kabupaten Konawe/Konawe Utara seluas 2.180.05 Ha

2. Kabupaten Konawe Selatan seluas 9.101.98 Ha

3. Kabupaten Kolaka Utara seluas 1.545.32 Ha

4. Kabupaten Muna/Buton Utara se-luas 20.402.99 Ha

5. Kabupaten Buton seluas 2.218.27 Ha

6. Kabupaten Wakatobi seluas 0.24 Ha

7. Kabupaten Bombana seluas 6.077.06 Ha33

Untuk Kabupaten Konawe yang menjadi daerah penelitian pen-gembangan mangrove adalah pada dae-rah pesisir Kecamatan Kapoiala dan Ke-camatan Bondoala. Untuk KeKe-camatan Kapoiala pada daerah yang termasuk dalam wilayah administratif Desa Ka-poiala Baru, Desa Ulu Lalembue dan Desa Lalembue Jaya. Kemudian untuk Kecamatan Bondoala pada satu wilayah Desa Laosu Jaya.

Pada Kecamatan Kapoiala, luas Desa Kapoiala Baru 1500 Ha, Desa Ulu Lalembue 267 Ha dan Desa Lalembue Jaya seluas 485 Ha. Kemudian untuk Kecamatan Bondoala, luas wilayah Desa Laosu Jaya adalah 1200 Ha.

Secara administratif, batas-batas wilayah dari masing-masing desa terse-but yaitu :

- Desa Kapoiala Baru :

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ulu Lalimbue;

Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bangina;

Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Kapoiala;

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Laosu Jaya.

- Desa Ulu Lalembue :

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Lalongombuno;

Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tani Indah;

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Lalimbue Jaya;

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kapoiala Baru.

- Desa Lalembue Jaya :

33

(http://bpmdsultra.com/index.php?p=fkomoditi

&id=17, akses Tanggal 1 desember 2012)

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tani Indah;

Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ulu Lalimbue;

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Laut Banda;

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lalongombuno.

- Desa Laosu Jaya :

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bangina;

Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Morosi;

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kapoiala Baru;

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Laosu.

Berdasar data yang diambil pada masing-masing pemerintah desa, untuk tahun 2012 jumlah penduduk Kecamatan Kapoiala yang ada di Desa Kapoiala Baru adalah 468 jiwa, Desa Ulu Lalembue adalah 282 jiwa dan Desa Lalembue Jaya adalah 366 jiwa.

Kemudian untuk Desa Laosu Jaya yang berada di wilayah Kecamatan Bondoala, jumlah penduduk desanya adalah 323 jiwa.

Mata pencaharian penduduk sebagian besar (50%-70%) adalah sebagai nelayan dan petani tambak (petambak), sedangkan sisanya adalah sebagai petani.

2. Degradasi Hutan Mangrove pada Pesisir Pantai Kecamatan Kapoia-la dan Kecamatan BondoaKapoia-la

Kondisi hutan mangrove di Su-lawesi Tenggara saat ini cukup mem-prihatinkan karena sebagian besar telah dikonversi menjadi lahan pertambakan maupun daerah pemukiman. Hal ini sangat disayangkan karena ekosistem mangrove berperan penting sebagai dae-rah perikanan yang produktif, penyum-bang materi dan nutrien untuk

kesubu-ran peraikesubu-ran di sekitarnya dan sebagai pelindung pantai dari hempasan gelom-bang, aberasi dan intrusi air laut.

Ada beberapa faktor yang men-yebabkan terjadinya kerusakan hutan mangrove di wilayah ini yaitu di anta-ranya adalah konversi hutan menjadi lahan tambak, pengambilan kayu seba-gai kayu bakar, kayu bangunan, maupun alih fungsi menjadi lahan pemukiman penduduk dan pelabuhan ikan. Meski-pun hal ini cukup menguntungkan seca-ra ekonomi namun beseca-rakibat pada de-gradasi ekosistem mangrove. Fisiogno-mi atau kenampakan luar mangrove akan bervariasi tergantung dari habitat maupun kondisi biologi termasuk ting-kat kerapatan mangrove disuatu kawa-san. Hal ini kemungkinan karena karak-ter pertumbuhan mangrove sangat karak- ter-gantung pada kondisi habitat maupun tingkat kerapatan tegakan. Parameter pertumbuhan mangrove cukup banyak antara lain tinggi pohon, diameter ba-tang, percabangan, sistem tajuk dan lain-lain merupakan bagian yang sangat penting bagi tumbuhan yang memberi-kan arah bagi kelangsungan hidup tum-buhan tersebut dan secara tidak lang-sung mempengaruhi pembentukan ko-munitas mangrove pada suatu wilayah.

Pertumbuhan tajuk atau kanopi mangro-ve sangat bergantung pada faktor biotik seperti kerapatan populasi dan faktor lingkungan fisik seperti distribusi inten-sitas cahaya pada tajuk yang akan me-nentukan kualitas daun pada tajuk.

Kondisi hutan mangrove di se-putaran Kecamatan Kapoiala dan Ke-camatan Bondoala makin berkurang dan terancam punah. Kondisi hutan man-grove saat ini dipengaruhi antara lain semakin banyaknya jumlah penduduk yang bertempat tinggal di desa sehingga areal pengelolaan tambak semakin luas

pula dimana ini mempengaruhi habitat mangrove yang berkurang karena sete-lah masyarakat membuka tambak maka tanaman (mangrove) di seputar wilayah tambak mereka dibersihkan atau dite-bang.(Anwar (Desa Laosu Jaya, wa-wancara 29 November 2012), Dirih (Desa Ulu Lalimbue, wawancara 26 November 2012), Ras (Desa Lalimbue Jaya, wawancara 27 November 2012), Andi Aan (Desa Kapoiala Baru, wa-wancara 28 November 2012), Anwar (Desa Laosu Jaya, wawancara 29 No-vember 2012)).

Sampai saat ini belum ada tinda-kan dalam bentuk pemeliharaan dari pemerintah daerah. Pemerintah kecama-tan dan desa seharusnya melakukan pe-meliharaan dengan cara mengadakan penyuluhan akan pentingnya hutan mangrove tersebut serta memfasilitasi masyarakat agar melakukan penanaman mangrove di desanya.

3. Pengembangan Konservasi Hutan Mangrove

Ekosistem mangrove bisa menjadi sangat produktif, sehingga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Namun kadang kala daerah hutan bakau merupakan daerah yang tidak subur, sehingga memerlukan upaya perlindungan. Mangrove memiliki fungsi yang sangat penting bagi masyarakat terutama di daerah pesisir.

Mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar adalah nelayan dan petambak menyebabkan masyarakat sebagian besar berusaha untuk mempertahankan kondisi hutan mangrove yang masih ada sekarang.

Mangrove berfungsi untuk menahan pematang akibat terpaan ombak, akar-akarnya juga bisa menahan tanah-tanah pematang yang akan jatuh.

Keberadaan mangrove dimanfaatkan sebagai penahan pematang empang yang terkikis dengan ombak sebab bila pematang tidak ditanami mangrove maka air dari saluran bisa masuk ke dalam pematang dan ikan yang dipelihara akan keluar dari tambak terbawa aliran air.

Upaya merehabilitasi daerah pesisir pantai dengan penanaman jenis mangrove sebenarnya sudah dimulai sejak tahun sembilan-puluhan. Data penanaman mangrove oleh Departemen Kehutanan selama tahun 1999 hingga 2003 baru terealisasi seluas 7.890 ha (Departemen Kehutanan, 2004), namun tingkat keberhasilannya masih sangat rendah. Data ini menunjukkan laju rehabilitasi hutan mangrove hanya sekitar 1.973 ha/tahun. Di samping itu, masyarakat juga tidak sepenuhnya terlibat dalam upaya rehabilitasi mangrove, dan bahkan dilaporkan adanya kecenderungan gangguan terhadap tanaman mengingat perbedaan kepentingan (Chairil Anwar dan Hendra Gunawan, 2006)..

Menurut pemerintah desa Laosu Jaya, sampai saat ini belum ada tindakan dalam bentuk pemeliharaan dari pemerintah daerah. Pemerintah kecamatan dan desa seharusnya melakukan pemeliharaan dengan cara mengadakan penyuluhan akan pentingnya hutan mangrove tersebut serta memfasilitasi masyarakat agar melakukan penanaman mangrove di desanya. Tindakan pemerintah tersebut dianggap bisa mempertahankan keberadaan hutan mangrove namun masyarakatpun tidak boleh melakukan penebangan pohon mangrove, bisa melakukan penebangan namun harus ditanami kembali pohon mangrove kecil.

Dalam mengakomodasi

kebutuhan lahan dan lapangan pekerjaan, hutan mangrove dapat dikelola dengan model silvofishery atau wanamina yang dikaitkan dengan program rehabilitasi pantai dan pesisisr.

Kegiatan silvofishery berupa empang parit pada kawasan hutan mangrove, terutama di areal Perum Perhutani telah dimulai sejak tahun 1978. Empang parit ini pada dasarnya adalah semacam tumpangsari pada hutan jati, di mana ikan dan udang sebagai pengganti tanaman polowijo, dengan jangka waktu 3-5 tahun masa kontrak (Wirjodarmodjo dan Hamzah, 1984).

Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. Ada beberapa masalah yang dihadapi para pembuka lahan, seperti pengasaman tanah, tidak bercampurnya tanah, serta berkurangnya anakan untuk keperluaan perkembangan ikan. Dalam banyak kasus pestisida dan antibiotika juga sering kali digunakan bahkan untuk tambak tradisional. Tambak tidak selalu berarti hilangnya mangrove hal ini dapat dilihat pada pola tambak tumpang sari yang di praktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini mangrove di tanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. (Anonim, dalam Edi Mulyadi dkk, 2009).

Pada masyarakat di Kecamatan Kapoiala dan Bondoala berdasar hasil

pengamatan maka bentuk

pengembangan mangrove yang dilakukan oleh masyarakat yaitu melakukan pemeliharaan dengan cara menanam pohon-pohon mangrove yang kecil di tepi pematang serta tepi saluran air. Namun hanya sebagian masyarakat

yaitu hanya yang memiliki tambak yang melakukan kegiatan tersebut.

Pengembangan dengan hanya menanam di seputaran daerah tambak petambak dengan tujuan untuk menjadi penahan areal pematang dari kikisan air laut menyebabkan hanya daerah-daerah tertentu saja di seputaran pesisir Kecamatan Kapoiala dan Kecamatan Bondoala yang ditanami mangrove.

Itupun penanamannya hanya dilakukan oleh sebagian masyarakat yaitu masyarakat yang memiliki tambak sedangkan masyarakat lain yang tidak merasa memiliki kepentingan secara langsung dengan keberadaan hutan mangrove tidak melibatkan diri dalam kegiatan penanaman tersebut. Peran pemerintah daerah yang sangat minim dalam pelestarian hutan mangrove ikut mendukung kurang berkembangnya upaya pengembangan hutan mangrove.

Dalam merehabilitasi mangrove diperlukan adalah master plan yang disusun berdasarkan data obyektif kondisi biofisik dan sosial.

4. Daya Dukung Pengembangan Konservasi Hutan Mangrove Secara Sosio Ekologis

Mangrove mempunyai peranan ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat penting dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir. Hutan mangrove mempunyai peranan dalam ekosistem yang berfungsi sebagai pelindung terhadap hempasan gelombang dan arus, sebagai tempat asuhan, sebagai tempat mencari makan, berkembang biak berbagai jenis biota laut, juga pohon mangrove sebagai tempat burung bersarang, tempat anggrek, pakis, benalu dan berbagai kehidupan lainnya.

Belum ada bentuk perlindungan resmi dari pemerintah sehingga

masyarakat bebas untuk melakukan penebangan pohon mangrove. Dinas kehutanan Kabupaten Konawe pun belum pernah mengadakan penyuluhan tentang hutan mangrove di seputaran daerah lokasi penelitian.

Pengembangan mangrove memiliki dampak sosio ekologis bagi masyarakat dan lingkungan pesisir.

Secara ekologis, baik sebagai tempat pemijahan ikan di perairan, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung daratan dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kandungan logam berat yang berbahaya bagi kehidupan, tempat singgah migrasi burung, dan sebagai habitat satwa liar serta manfaat langsung lainnya bagi manusia. hasil penelitian Martosubroto dan Naamin (1979) dalam Dit. Bina Pesisir (2004) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara luasan kawasan mangrove dengan produksi perikanan budidaya. Semakin meningkatnya luasan kawasan mangrove maka produksi perikanan pun turut meningkat dengan membentuk persamaan Y = 0,06 + 0,15 X; Y merupakan produksi tangkapan dalam ton/th, sedangkan X merupakan luasan mangrove dalam ha. Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar.

Kemudian peranan sosial ekonomis mangrove, kayu atau batang mangrove dapat dijadikan sebagai arang yang disebut arang mangrove. Kayu mangrove seperti R. apiculata, R.

Mucronata, dan B. gymnorrhiza sangat cocok digunakan untuk tiang atau kaso dalam konstruksi rumah karena batangnya lurus dan dapat bertahan sampai 50 tahun. Nipah (Nypa fruticans) memiliki arti ekonomi yang sangat penting bagi masyarakat sekitar

hutan mangrove. Daun nipah dianyam menjadi atap rumah yang dapat bertahan sampai 5 tahun. Pembuatan atap nipah memberikan sumbangan ekonomi yang cukup penting bagi rumah tangga nelayan dan merupakan pekerjaan ibu rumah tangga dan anak-anaknya di waktu senggang. Keberadaan hutan mangrove penting bagi pertanian di sepanjang pantai terutama sebagai pelindung dari hempasan angin, air pasang, dan badai.

Pelibatan masyarakat dengan melakukan penanaman mangrove di seputar daerah pesisir terutama di pinggir-pinggir lokasi tambak mereka memiliki dampak sosio ekologis yang sangat besar dimana mata pencaharian penduduk yang sebagian besar adalah nelayan dan petambak menyebabkan keberadaan mangrove sangat menunjang dalam pemeliharaan sumber mata pencaharian masyarakat tersebut.

Perlindungan mangrove terhadap tepi-tepi pematang dari hempasan air laut sehingga ikan dan jenis hewan lain yang dibiakkan akan berkembang dengan baik dan dapat dipanen sesuai perencanaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari petambak. Demikian pula bagi nelayan dengan adanya mangrove maka mereka bila tidak melaut sampai ke tengah laut dapat mencari ikan diseputaran pohon mangrove, akar-akar mangrove merupakan tempat perkembangbiakan ikan. Di sisi lain dengan melakukan penanaman mangrove walaupun hanya diseputaran pematang tambak akan dapat melestarikan hutan mangrove.

H. KESIMPULAN

Kondisi hutan mangrove di seputaran Kecamatan Kapoiala dan Kecamatan Bondoala makin berkurang

dan terancam punah. Kondisi hutan mangrove saat ini dipengaruhi antara lain semakin banyaknya jumlah penduduk yang bertempat tinggal di desa sehingga areal pengelolaan tambak semakin luas pula dimana ini mempengaruhi habitat mangrove yang berkurang karena setelah masyarakat membuka tambak maka tanaman (mangrove) di seputar wilayah tambak mereka dibersihkan atau ditebang.

Keberadaan mangrove dimanfaatkan sebagai penahan pematang empang yang terkikis dengan ombak sebab bila pematang tidak ditanami mangrove maka air dari saluran bisa masuk ke dalam pematang dan ikan yang dipelihara akan keluar dari tambak terbawa aliran air. Bentuk pengembangan mangrove yang dilakukan oleh masyarakat yaitu melakukan pemeliharaan dengan cara menanam pohon-pohon mangrove yang kecil di tepi pematang serta tepi saluran air. Namun hanya sebagian masyarakat yaitu hanya yang memiliki tambak yang melakukan kegiatan tersebut.

Pengembangan mangrove harusnya dilakukan menyeluruh pada seluruh daerah pesisir di Kecamatan Kapoiala dan Kecamatan Bondoala sebab dampak akibat tidak adanya mangrove tidak hanya akan dirasakan oleh pemilik tambak namun juga seluruh masyarakat yang berada di daerah pesisir.

Pengembangan mangrove memiliki dampak sosio ekologis bagi masyarakat dan lingkungan pesisir. Secara ekologis, baik sebagai tempat pemijahan ikan di perairan, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung daratan dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kandungan logam berat yang berbahaya bagi kehidupan.

Kemudian secara sosial ekonomis

mangrove, kayu atau batang mangrove dapat dijadikan sebagai arang yang disebut arang mangrove, atap rumah dan kebutuhan lainnya. Peran pemerintah daerah yang masih sangat minim dalam pelestarian hutan mangrove ikut mendukung kurang berkembangnya upaya pengembangan hutan mangrove.

Sampai saat ini belum ada tindakan dalam bentuk pemeliharaan dari pemerintah daerah.