ANALISIS HUKUM TERHADAP PENGGUNAAN HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
F. Persepsi Perempuan Korban KDRT Terhadap Perlindungan
F. Persepsi Perempuan Korban KDRT Terhadap Perlindungan Hukum Yang Diberikan Oleh Ke-polisian Pada Polres Bombana.
Kekerasan terhadap perempuan adalah efek dari ketimpangan historis dari hubunghubungan kekuasaan an-tara laki-laki dan perempuan yang telah mengakibatkan dominasi dan diskrimi-nasi laki-laki atas perempuan. Domidiskrimi-nasi ini terus dilanggengkan sehingga pe-rempuan terus berada dalam ketertinda-san. Budaya seperti inilah yang merupa-kan salah satu faktor awal munculnya peluang tindakan kekerasan terhadap perempuan (istri) dalam berbagai ben-tuknya.
Dalam konteks Indonesia, kondisi dari budaya yang timpang sebagaimana disebutkan di atas telah menyebabkan hukum, dan sistem hukum (materiil hu-kum, aparat huhu-kum, budaya hukum) yang ada kurang responsif dalam melin-dungi kepentingan perempuan. KUHAP sangat minim membicarakan hak dan kewajiban istri sebagai korban, ia hanya diposisikan sebagai saksi pelapor atau saksi korban. Begitu pula yang tercan-tum dalam UU. No. 1 Tahun 1974 Ten-tang Perkawinan pasal 31 ayat (3): “Su-ami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga."
Meski demikian, KUHP juga me-muat peluang istri untuk mendapat kea-dilan. Kekerasan dan penganiayaan ter-hadap istri dalam KUHP merupakan tindak pidana yang sanksinya lebih be-sar sepertiga dari tindak pidana penga-niayaan biasa atau dilakukan oleh dan terhadap orang lain, sebagaimana dite-rangkan dalam pasal 351 s.d. 355 KUHP.
Pernyataan dalam KUHP tersebut dipertegas lagi dengan keluarnya UU.
No. 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada tanggal 22 September 2004 yang meru-pakan hasil kerja cukup panjang dari berbagai elemen bangsa, baik dari pe-merintah, parlemen, dan tentu saja ma-syarakat luas yang dalam hal ini diwaki-li oleh lembaga-lembaga yang mempu-nyai perhatian serius terhadap penyele-saian kekerasan dalam rumah tangga dan pembangunan hukum yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Hj. Ramlah yang meru-pakan salah satu orang yang pernah menjadi korban KDRT bahwa :
Peran Kepolisian dalam melin-dungi perempuan khususnya keti-ka menjadi korban KDRT sangat-lah besar. Karena polisi selain se-bagai aparat penegak hukum juga dapat bertindak sebagai mediator untuk mendamaikan saya dengan suami saya. Perempuan bagaima-napun sakitnya, tersiksanya akibat kesewenag-wenangan suami, tetap berusaha untuk mempertahankan keutuhan keluarga apalagi ada anak. Saat itu, suami saya di suruh buat pernyataan agar tidak mengu-langi perbuatannya. Syukurlah, saya dapat keluar dari masalah saya, tentunya dengan peristiwa itu saya dan suami saya lebih
ba-nyak instropeksi diri lagi, saling memahami dalam setiap perbe-daan.
Dari pandangan salah satu korban KDRT tersebut diatas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa peranan kepo-lisian sangatlah penting dalam rangka mewujudkan perlindungan hukum ter-hadap korban KDRT dengan cara mela-kukan upaya-upaya hukum dan melaku-kan mediasi dalam penyelesaian kasus secara kekeluargaan antara korban den-gan pelaku. Kasus KDRT memang san-gatlah rumit dan memang harus lebih mengutamakan penyelesaian sengketa diluar pengadilan karena apabila penye-lesaian kasusnya mengikuti prosedur hukum dan ketentuan perundang-undangan, maka pelaku harus dituntut dan proses secara hukum. Resiko terbe-sarnya adalah penjatuhan pidana penjara terhadap pelaku.
Dilain sisi, apabila pelaku dalam keluarga sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah, maka dikhawatir-kan korban dan anaknya tetap adikhawatir-kan mengalami kekerasan secara psikis ka-rena ketergantungan ekonomi. Untuk itu penyelesaian kasus KDRT perlu melihat dari beberapa sisi yang lebih arif dan bijaksana.
Di dalam setiap masyarakat senan-tiasa ada sistem pengendalian sosial yang bertujuan agar warga mastarakat mematuhi norma-norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat yang ber-sangkutan. Salah satu sistem pengenda-lian tersebut adalah putusan hakim di ciptakan dengan maksud untuk melin-dungi kepentingan masyarakat dari tin-dakan yang merugikan, maka pembuat undang-undang mengancam sanksi bagi pelanggar-pelanggarnya
Menurut Briptu Muhtar, Ba. Patro-li Sat. Samapta Polresta Bombana
bah-wa bagi korban KDRT undang-undang telah mengatur akan hak-hak yang dapat dituntut kepada pelakunya, antara lain :
a. Perlindungan dari pihak keluar-ga, kepolisian, kejaksaan, pen-gadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya maupun atas penetapan perintah perlindungan dari pengadilan ;
b. Pelayanan kesehatan sesuai den-gan kebutuhan medis ;
c. Penanganan secara khusus ber-kaitan dengan kerahasiaan kor-ban ;
d. Pendampingan oleh pekerja so-sial dan bantuan hukum ; dan e. Pelayanan bimbingan rohani.
Se-lain itu korban KDRT juga ber-hak untuk mendapatkan pelaya-nan demi pemulihan korban dari, tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping dan/atau pembimbing rohani.
Pasal 15 UU No.23 tahun 2004 ju-ga menju-gatur kewajiban masyarakat da-lam PKDRT, dimana bagi setiap orang yang mendengar, melihat, atau menge-tahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) wajib melakukan upaya :
a. mencegah KDRT ;
b. Memberikan perlindungan kepa-da korban ;
c. Memberikan pertolongan darurat
; dan
d. Mengajukan proses pengajuan permohonan penetapan perlin-dungan ;
Namun untuk kejahatan kekerasan psikis dan fisik ringan serta kekerasan seksual yang terjadi di dalam relasi an-tar suami-isteri, maka yang berlaku ada-lah delik aduan. Maksudnya adaada-lah kor-ban sendiri yang melaporkan KDRT
yang dialaminya kepada pihak kepoli-sian. ( Pasal 26 ayat 1 UU 23 tahun 2004 tentang PKDRT). Namun korban dapat memberikan kuasa kepada keluar-ga atau Advokat/Penkeluar-gacara untuk mela-porkan KDRT ke kepolisian (Pasal 26 ayat 2). Jika yang menjadi korban ada-lah seorang anak, laporan dapat dilaku-kan oleh orang tua, wali, pengasuh atau anak yang bersangkutan (Pasal 27).
Adapun mengenai sanksi pidana dalam pelanggaran UU No.23 tahun 2004 ten-tang PKDRT diatur dalam Bab VIII mu-lai dari pasal 44 s/d pasal 53. Khusus untuk kekerasan KDRT di bidang sek-sual, berlaku pidana minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara atau 20 tahun penjara atau denda antara 12 juta s/d 300 juta rupiah atau antara 25 juta s/d 500 juta rupiah. ( vide pasal 47 dan 48 UU PKDRT).
G. KESIMPULAN.
Perlindungan hukum terhadap pe-rempuan korban kekerasan dapat dila-kukan dengan berbagai bentuk sebagai berikut :
a. Mencegah berlangsungnya tin-dak pidana
b. Memberikan perlindungan kepa-da korban
c. Memberikan pertolongan daru-rat, dan
d. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlin-dungan kepada lembaga terkait.
e. Melaporkan kepada pihak ber-wenang untuk melakukan pene-gakan hukum secara tegas yang bertujuan untuk memberi efek jera terhadap pelakunya. Selain itu, polisi juga berperan sebagai mediator yakni melakukan me-diasi dalam penyelesaian kasus KDRT antara pelaku (suami)
dengan korban (istri) secara ke-keluargaan dengan beberapa pertimbangan secara umum yakni kelanjutan rumah tangga, dan yang paling dominan ada-lah pertimbangan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Zainal Abidin Farid, 1995. Hukum Pidana I. Sinar Grafika, Ja-karta.
Abhott, dkk, 1997. Pembuktian dan Pe-natalaksanaan Kekerasan Terhadap Perempuan Tin-jauan Klinis dan Forensif.
PT. Alumni, Jakarta.
Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, 2001. Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual (Advokasi Atas Hak Asasi Pe-rempuan). Refika Aditama, Bandung.
Arsyad Hakim, 2005. KDRT Bukan Persoalan Baru.Harian Fajar, Makassar.
Aroma Elmina Martha, 2003. Perem-puan, Kekerasan dan Hukum.
UH Press, Yogyakarta.
Bosu. B, 1982. Sendi-sendi Kriminologi.
Usaha Nasional, Surabaya.
Baro Rahmat, Jamaluddin, 2005. Faktor Penyebab Tindak Kriminal di Sulawesi Selatan. Jurnal Il-miah Hukum Clavia, Vol. 6 Nomor 1 Januari, CV. Putra Maspul, Makassar.
E. Utrech, 1986. Hukum Pidana Bagian Pertama. Pustaka Tinta Emas, Surabaya.
Fathul Jannah, 2002. Kekkerasan Ter-hadap Isteri. LKIS, Yogya-karta.
Kususmah. W. Mulyana, 1982. Analisis Kriminologis Tentang
Keja-hatan-kejahatan Kekerasan.
Ghalia, Indonesia.
Moeljatno, 2002. Asas-asas Hukum Pi-dana. Rineka Cipta, Jakarta.
Prodjodikoro Wirjono, 1986. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia.
PT. Refika Aditama, Ban-dung.
Purnianti, Rita Serena Kalibonso, 1999.
Informasi Masalah Kekerasan dalam Keluarga. Mitra Pe-rempuan, Jakarta.
R. Soesilo, 1998. Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Komen-tar-komentarnya. Politea, Bo-gor.
Rofiq Ahmad, 2000. Hukum Islam di Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sampurna, 2000. Kekerasan Terhadap Perempuan dan Hukum Pida-na dalam Nathalie Kultum, Kekerasan Terhadap Perem-puan.
SR. Sianturi, 2002. Aasa-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Pe-nerapannya. Alumni AHM-PHTM, Jakarta.
Said Nurfaida, 2000. Kekerasan Dalam Rumah Tangga, (The omestic Violence). Jurnal Ilmiah Hu-kum Clavia Volume 1, No-mor 3 Oktober, CV. Putra Maspul, Makassar.
Saleh Ruslan, 1990. Perbuatan Pidanan dan Pertanggung Jawaban Pidana. Aksara Baru, Jakarta.
Supriadi Wila Chandrawilana, 2001.
Kumpulan Tulisan Perem-puan dan Kekerasan dalam Perkawinan. Mandar Maju, Bandung.
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Keke-rasan Dalam Rumah Tangga, 2004. Citara Umbara, Ban-dung.
A. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994, tentang Konvensi Penghapu-san Segala Bnetuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW).