ANALISIS HUKUM TERHADAP PENGGUNAAN HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK
LATAR BELAKANG
D. URGENSI ATAU MANFAAT PENELITIAN
Sesuai dengan tujuan penelitian di atas, diharapkan penelitian ini akan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis, khusus-nya aparat penegak hukum yang terkait persyaratan penetapan hakim anak.
Adapun yang menjadi manfaat akade-mik (teoretikal), yaitu untuk pengem-bangan ilmu hukum pidana khususnya tentang prosedur beracara terhadap tin-dak pidana yang dilakukan anak.
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori-Teori Pemidanaan dan Tujuan Pidana
Secara garis besar ada tiga ali-ran dalam hukum pidana yang mengkaji sistem pemidanaan. Aliran tersebut ada-lah aliran klasik, aliran neoklasik, dan aliran modern.
Aliran Klasik
Aliran klasik merupakan reaksi keras terhadap Ancien Regime, karena dianggap banyak menimbulkan ketidak-pastian hukum, ketidaksamaan hukum, dan ketidakadilan. Teori ini merupakan teori kriminologi yang pertama yang mengembangkan pemikiran tentang per-lunya perlindungan hak-hak dasar ma-nusia, persamaan didepan hukum, per-lindungan hak hidup, kebebasan, dan harta benda sebagaimana dikembangkan oleh John Locke dan Rousseau. Menu-rut aliran klasik, dengan menjatuhkan pidana maka kehidupan masyarakat akan tenang, tetapi pidana tidak boleh kejam dan berlebihan.
Ciri-ciri aliran klasik adalah legal definition of crime, let the punisment fit the crime, doctrin of free will, dead pe-nalty of some offences, anecdotal me-thod no empirical research, definite sen-tence.
Aliran klasik memiliki ciri-ciri bahwa pendefinisian kejahatan sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam hukum tertulis, penjatuhan pida-na dianggap sebagai satu-satunya alat memberantas kejahatan, doktrin kebeba-san kehendak manusia dalam bertingkah laku, penjatuhan pidna disamakan atau setimpal dengan tingkat perbuatan atau pelanggarannya, tidak memperhatikan hasil penelitian atau penafsiran empiris, pidana ditentukan secara pasti oleh pembuat Undang-Undang.
Aliran klasik sebagai aliran tertua dalam hukum pidana menekankan pada kepastian hukum sehingga menghendaki agar dalam setiap peraturan perundang-undangan dituangkan dalam bentuk ter-tulis untuk menjamin kepastian hukum.
Pembentuk Undang-Undang sangat ke-tat dalam menetukan sanksi pidana. Da-lam hal pidana dan pemidanaan, aliran ini sangat membatasi kebebasan hakim
dalam menetapkan pidana dan ukuran pemidanaannya. Pada saat itu, sistem pemidanaan ditetapkan secara pasti (de-finiti sentence) yang sangat kaku (rigid).
Aliran klasik berpijak pada tiga asas yaitu :
1. Asas legalitas, yaitu tiada pidana tanpa Undang-Undang, tiada tin-dak pidana tanpa Undang-Undang;
2. Asas kesalahan (asas kulpabili-tas), berarti orang hanya dapat di-pidana untuk tindak di-pidana yang dilakukan dengan kesengajaan atau kealpaan;
3. Asas pengimbalan (pembalasan) yang sekuler, bahwa pidana seca-ra kongkret tidak dijatuhkan den-gan maksud untuk mencapai hasil yang bermanfaat, melainkan se-timpal dnegan berat atau ringan-nya perbuatan.
Aliran Neo klasik
Aliran neoklasik melakukan pem-benahan terhadap beberapa kelemahan aliran klasik. Antara lain kalsik dengan aliran neoklasik mempunyai prinsip yang sama, tetapi dalam aliran neoklasik terdapat beberapa modifikasi pada dok-trin kebebasan berkehendak dari manu-sia. Aliran neoklasik mengajarkan bah-wa kebebasan berkehendak dan bebuat dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Patologi, ketidakmampuan, pe-nyakit jiwa, atau keadaan-keadaan lain;
2. Penerimaan atas keberlakuan kea-daan-keadaan yang meringankan terdakwa baik dari segi fisik, ling-kungan, maupun mental;
3. Modifikasi doktrin pertanggung-jawaban (responsibility doctrine) pidana untuk menetapkan peringa-nan pidana dengan pertanggunja-waban sebagian dari tindak pida-na; dan
4. Diperkenankannya saksi ahli un-tuk menenun-tukan pertanggungja-waban pidana.
Aliran Modern
Aliran modern dibangun berda-sarkan pandangan bahwa manusia ada-lah mahluk yang tidak bebas dalam me-nentukan tingkah lakunya (determinis-tik). Menurut vrij alirah hukum pidana modern meninjau kegunaan dan tujuan pidana (punishment), yaitu untuk melin-dungi masyarakat terhadap sifat berba-hayanya kejahatan dan mencegah pen-gulangan tindak kejahatan. Muladi dan Barda Nawawi Arief menjelaskan bah-wa teori-teori pemidanaan yang berali-ran modern muncul pada abad ke-19 sebagai koreksi atas teori sebelumnya.
Berkaitan dengan pemidanaan, perlu diungkapkan bahwa pusat perhatian ali-ran modern adalah pada si pembuat (pe-laku tindak pidana). Aliran ini sering disebut aliran positif karena dalam men-cari sebab-sebab kejahatan menggunka-na pendekatan ilmu-ilmu alam. Aliran ini bermaksud langsung mendekati bah-kan mempengaruhi penjahat secara po-sitif sejauh penjahat tersebut masih da-pat diperbaiki. Menurut aliran positivis, perbuatan jahat seseorang dipengaruhi oleh watak pribadinya, faktor biologis dan faktor lingkungan masyarakat. Ber-dasarkan asumsi tersebut aliran positivis bercorak determinitik yang menganggap bahwa manusia adalah mahluk yang ti-dak bebas yaitu dipengaruhi lingkungan dann instink.
Aliran determinisme menolak pandangan yang menyatakan bahwa pi-dana adalah pembalasan yang didasar-kan pada kesalahan yang subjektif. Me-nurut positivisme pertanggungjawaban terpidana atas perbuatan yang didasar-kan pada kesalahan (schuld) harus di-ganti dengan sifat berbahayanya sipela-ku (etat dangeroux). Karena itu sifat
pertanggungjawaban pidana harus lebih berupa tindakan untuk melindungi ma-sayarakat (social defence). Jika bentuk pertanggunjawaban tersebut dinamakan pidana (straf) maka harus dijatuhkan pada pelaku sesuai dengan sifat-sifat pribadinya. Berdasarkan pemikiran ter-sebut dalam hukum pidana lahir ide in-dividualisasi pidana yang bertujuan ra-sosialisasi penjahat.
2. Teori Individualisasi Pidana
Untuk melaksanakan ide pemasya-rakatan terhadap anak nakal sebagaima-na dalam uraikan diatas, perlu dikaitkan dnegan konsep individualisasi pemida-naan. Berkaitan dengan ide pemidanaan, saat ini diberbagai belahan dunia ber-kembang suatu ide tentang individuali-sasi pidana yang berakar pada paham humanisme. Individualisasi pidana ada-lah pemidanaan yang berorientasi pada orang (pelaku) pemidanaan secara indi-vidual tersebut mengutamakan pada proses pembinaan atau perawatan pela-ku kejahatan (the treatmen of effenders).
Konsep indivudualisasi pidana melahir-kan pendekatan kemanusiaan (humanis-tik) sehingga selalu memperhatikan ma-nusiia sebagai insan yang utuh dan patut mendapatkan perlakuan yang manusia-wi. Individualisasi pidana mengarah pa-da upaya rehabilitasi, redukasi, reforma-si, resosialisareforma-si, re-adaptasi sosial. Pen-gertian individualisasi pidana bukan hanya berarti bahwa pidana yang akan dijatuhkan harus disesusi-kan/diorientasikan pada pertimbangan individual, tetapi juga pidana yang telah dijatuhkan oleh hakim harus dapat di-ubah/dimodifikasi atau disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan terpidana.
Meskipun ide individualisasi pida-na secara formal belum diterima dan dicantumkan dalam KUHP indonesia,
tetapi secara substansial ide individuali-sasi pidana tersebut sudah dipahami oleh sebagian hakim indonesia sehingga banyak hakim yang dalam memutuskan perkara tidak hanya berorientasi pada perbuatan, tetapi juga pada masa depan terpidanma. Hakim sudah mulai mem-pertimbangkan kepribadian individu terdakwa sebagai impleimentasi dari asas individualisasi pemidanaan.
Dalam ilmu hukum pidana terjadi pergeseran paradigma pemidanaan (Sen-tencing Paradigm), dari paradigma lama yang mendasarkan pada asas legalitas sehingga menimbulkan pertanggungja-waban pidana yang berorientasi pada perbuatan, ke arah pertanggungjawaban pidana yang berorientasi pada orang (perilaku) yang mendasarkan pada asas kulpabilitas. Perkembangan pembaha-ruan pidana dan pemidanaan telah me-masuki era baru dari punitive reactions (reaksi pemidanaan) tumbuh ke arah suatu modifikasi treatmen reachtions (reaksi).
Konsekuensi adanya pemikiran tentang individualisasi pemidanaan yang harus memperhatikan asas-asas sebagai berikut.
(a) Asas Kulpabilitas (Culpability Principle)
Asas kulpabilitas menganggap bahwa tiada pidana tanpa kesala-han (geen straf zoder schuld), se-hingga meskipun secara nyata ter-dapat tindak pidana, tetapi apabila pelaku tidak melakukan perbbua-tan tersebut secara bersalah maka pelaku tidak dapat dijatuhi pidana.
Apabila seseorang terbukti mela-kukan tindak pidana dan hakim menyatakan bahwa perbuatan ter-sebut dilakukan secara melawan hukum (bersalah) maka pidana yang dijatuhkan harus didasarkan pada kondisi pelaku kejahatan.
Kondisi tersebut meliputi aspek fi-sik, psikis maupun latar belakang seseorang, dan kondisi keluar-ganya (sosiologis).
(b) Asas Personalitas (Personal Prin-ciple)
Asas ini menganggap bahwa hanya orang (individu) yang me-lakukan kejahatan saja yang dapat dijatuhi pidana, sehingga pengope-ran (pengalihan) sanksi pidana ke-pada pidak lain tidak dibenarkan.
Secara sederhana seakan-akan asa personalitas tersebut bertenatangan dengan asas vicarious liability, te-tapi apabila dicermati secara bijak maka diantara keduanya tidak ada pertentangan karena asas vicarious liability dikenakan pada tindak pi-dana khusus, misalnya kejahatan dan pertanggungjawaban koorpo-rasi.
(c) Asas Fleksibilitas (Fleksibility Principle)
Asas fleksibilitas memberikan pe-luang bagi hakim untuk memilih jenis dan kuantitas pidana yang paling cocok dengan pelaku keja-hatan. Berdasarkan karakter terse-but maka hukum pidana harus me-nyediakan berbagai macam jenis pidana yang dapat dijatuhkan pada nara pidana. Semakin banyak jenis pidana yang mungkin dapat dija-tuhkan, makin baik hasilnya kare-na kondisi manusia yang melaku-kan tinfak pidana antara satu den-gan lainnya dan karakteristik keja-hatan satu dengan yang lainnya ti-dak mesti sama. Asas fleksibilitas (elastisitas pemidanaan) harus te-tap dalam batas-batas kebebasan berdasarkan Undang-Undang. Ha-kim boleh memakai kebebasan as-al tidak melanggara dasar kepas-tian hukum dan keadilan. Hal ini
terjadi karena ide individualisasi menuntut adanya paham mono-dualistik (daad-dader strafrech), artinya hukum pidana harus mem-perhatikan segi-segi objektif dari perbuatan (daad) dan juga sendi-sendi objektif dari pelaku perbua-tan/orangnya (dader).
(d) Asas Modifikasi (Modification Principle)
Asas modifikasi memberi peluang kepada hakim untuk melakukan modifikasi pidana yang telah dija-tuhkan pada pelaku kejahatan.
Asas ini cukup rasional karena penjahat secara kriminologis dan menurut paradigma aliran pemida-naan modern dianggap sebagai orang sakit sehingga perlu diobati.
Obat bagi penjahat adalah pidana, sehingga pemberian obat oleh dokter pada pasien tidak boleh over dosid dan harus disesuaikan dengan diagnosis hakim yang di-lakukan pada proses penjatuhan pidana. Apabila hakim mengang-gap bahwa pemberian obat terse-but sudah cukup maka hakim ha-rus segera memberhentikan peng-gunaan obat karena apabila pasien terus diobati dikhawatirkan justru didalam penjara, etrpidana yang sudah sembuh terkena pengaruh negatif (terkontaminasi) oleh ling-kungan yang kurang kondusif.
Pengkajian tentang penyebab anak melakukan kenakalan dapat digunakan teori-teori kriminologi. Berkaitan den-gan kenakalan anak, teori labeling, teori asosiasi diferensial dan teori kontrol so-sial dapat digunakan sebagai dasar ana-lisis. Analisis kriminologi diperlukan oleh hakim anak dalam rangka menge-tahui secara tepat tentang kondisi-kondisi lingkungan dan kondisi-kondisi anak
yang mengiringi terjadinya kenakalan.
Hasil analisis tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam menentukan jenis pidana atau tindakan yang dijatuhkan, dan lamanya penjatuhan pidana.
a. Teori Labeling
Teori Labeling mengguna-kan istilah deviance (penyimpan-gan) untuk menyebut perbuatan yang melanggar hukum, bukan is-tilah criminality (kejahatan). Per-soalan mendasar yang diajukan oleh teori labeling adalah “ ba-gaimana masyarakat bereaksi ter-hadap pelaku penyimpangan atau devian. Teori ini tidak menekan-kan pada fokus kajian terhadap penjahat semata. Menurut Liment, dalam teori labeling terdapat dua macam devian, yaitu devian pri-mer dan devian sekunder. Devian primer adalah perbuatan melawan huku, dan devian sekunder adalah reaksi dari devian primer.
b. Teori Asosiasi Diferensial
Teori Asosiasi Diferensial dikemukakan oleh Suherland.
Teori ini dilandasi oleh paradigma pembelajaran dan proses belajar.
Menurut teori ini, kejahatan seper-ti juga perilaku pada umumnya merupakan sesuatu yang dipelaja-ri. Asumsi yang melandasi teori ini adalah “that deliquency, like any other form of behavior, is product of social interaction.”
(Kenakalan, sebagaimana tingkah yang lain, merupakan hasil dari interaksi dalam masyarakat).
c. Teori Kontrol Sosial
Travis Hirschi dalam Romli, mengemukakan teori kontrol so-sial atau bonding theory. Teori ini berpijak pada asumsi bahwa
indi-vidu dalam masyarakat mempu-nyai kecenderungan yang sama kemungkinannya untuk menjadi baik atau jahat. Baik atau jahatnya tingkah laku seseorang sepenuh-nya tergantung pada masyarakat yang membuatnya. Seseorang akan menjadi baik jika masyara-katnya membuatnya baik. Seseo-rang akan menjadi jahat apabila masyarakatnya membuatnya jahat.
F. METODE PENELITIAN 1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian hukum normatif yaitu penelitian tentang analisa Putusan Tindak Pidana Anak di Tinjau dari Proses Beracara. Penelitian hukum normatif ini bersumber dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perun-dang-undangan) dan bahan-bahan hu-kum sekunder (berbagai referensi).
Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian normatif yaitu penelitian yang didasarkan pada kajian ilmu hukum yang menekankan pada peraturan perundang-undangan untuk mengakaji, menganalisis, kenyataan- kenyataan di masyarakat.
2. Pendekatan (approach)
1. Pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dila-kukan untuk mempelajari konsis-tensi dan kesesuaian diantara ber-bagai peraturan;
2. Pendekatan konseptual (concep-tual approach) yakni pendekatan dengan cara menelaah konsep-konsep tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan anak.
3. Sumber Bahan Hukum
1. Bahan hukum primer, yaitu pera-turan perundang-undangan, putu-san pengadilan.
2. Bahan hukum sekunder, yaitu ba-han yang terutama adalah baba-han- bahan-bahan hukum termaksud skripsi, tesis, disertasi hukum dan jurnal-jurnal hukum. Disamping itu juga, kamus-kamus hukum, dan komen-tar atas putusan pengadilan.
3. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petun-juk atau penjelasan terhadap ba-han hukum primer dan sekunder, dalam hal ini kamus, ensiklopedia hukum dan sebagainya.
4. Metode Pengumpulan Data
Dalam menjawab permasalahan diperlukan data primer dan data sekunder. Bahan hukum primer, yaitu peraturan perundang-undangan dan pu-tusan pengadilan. Data sekunder diperoleh dengan cara menelaah sumber-sumber yang terkait dengan judul penelitian.
G. HASIL DAN PEMBAHASAN