• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum RS dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor dan Ruang Gayatri Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor (RSMM) terletak di Jalan dr. Semeru No. 114 Bogor. Rumah sakit ini berdiri pada tanggal 1 Juli 1882 sebagai rumah sakit jiwa pertama di Indonesia dan diresmikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki sistem perawatan pasien gangguan jiwa yang sebelumnya dirawat di rumah sakit umum, rumah sakit tentara, penjara, dan kantor polisi dengan cara perawatan kurungan menjadi perawatan rumah sakit jiwa yang lebih manusiawi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan adanya perubahan status rumah sakit menjadi status badan layanan umum, maka pihak RSMM berusaha untuk memenuhi dan mengembangkan berbagai pelayanan, baik di pelayanan umum, pelayanan NAPZA, maupun di bagian pelayanan psikiatrik. Salah satu pengembangan di bidang pelayanan umum adalah dibentuknya pelayanan Psikogeriatri (Ruang Akut) yang merupakan salah satu pelayanan yang bersifat khusus dengan memerlukan keterampilan tersendiri karena begitu kompleks permasalahan yang dihadapi oleh pasien lansia, sehingga dibutuhkan perawatan yang komprehensif dan bersifat spesialistik yang menangani rawat jalan, rawat inap, emergensi, dan homecare.

British Geriatric Society yang mempelopori ilmu ini, mendefinisikan geriatri sebagai cabang ilmu penyakit dalam yang berkepentingan dengan aspek pencegahan, peningkatan, pengobatan, rehabilitasi, dan psikososial dari penderita usia lanjut. Psikogeriatri atau psikiatri geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan psikologis atau psikiatri pada usia lanjut (Darmojo & Martono 2006). Ada empat ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu (Komnas Lansia 2008):

1. Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia.

2. Adanya akumulasi dan penyakit-penyakit degeneratif lanjut usia secara psikososial.

3. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia ke arah kerusakan atau kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak.

4. Munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, atau trauma psikis.

Pelayanan psikogeriatrik RSMM diresmikan oleh Direktur Utama RSMM pada tanggal 8 Juni 2009 dengan nama Ruang Gayatri serta memiliki visi, misi, dan tujuan yang mengacu pada rumah sakit dan kebutuhan masyarakat yang berkembang, dan merupakan satu-satunya ruang rawat lansia di Kota Bogor. Pelayanan psikogeriatrik RSMM mengedepankan pelayanan berbentuk Tim Psikogeriatrik yang terdiri dari Konsultan Geriatrik, Spesialis Gizi, Spesialis Internis, Spesialis Rehabilitasi Medis dan Perawat Profesional. Kriteria pasien yang dirawat di ruangan ini adalah berusia di atas 60 tahun, didiagnosa memiliki satu penyakit dan dua komplikasi yang dikonsultasikan ke bagian dokter Konsultan Geriatrik dan dokter Tim-nya.

Visi Ruang Gayatri adalah mengutamakan pelayanan yang bermutu, memuaskan, dan tepat bagi lansia sehingga dapat menjadi lansia yang sehat dan sejahtera. Misi ruang rawat inap ini adalah memberikan pelayanan secara profesional dengan mengedepankan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Ruang Gayatri memiliki slogan yang berbunyi Bertambah Umur, Bertambah Sehat dan Berguna.

Ketenagaan dalam pelayanan keperawatan di Ruang Gayatri berjumlah 13 orang tenaga perawat, satu orang tenaga administrasi, dan dua orang cleaning service. Kapasitas ruang geriatrik adalah tujuh buah tempat tidur, yang terdiri dari empat tempat tidur untuk pasien perempuan, dan tiga tempat tidur untuk pasien laki-laki. Selain itu, terdapat pula Ruang Rehabilitasi Medik, dua kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan, satu ruang perawatan, satu ruang pertemuan, untuk keluarga dan Tim Psikogeriatrik dan satu ruang dapur. Dinding di Ruang Gayatri dipasangi handball stainless hingga kamar mandi. Alat-alat kesehatan yang dipergunakan disesuaikan dengan kondisi lansia, mulai dari alat-alat standar hingga alat-alat-alat-alat kesehatan khusus. Ruang Gayatri termasuk dalam ruang rawat inap kelas II plus (Lampiran 2 dan 3).

Gambaran Umum Instalasi Gizi

Instalasi Gizi Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) Bogor memberikan pelayanan gizi bagi pasien NAPZA, psikiatri, dan umum. Dapur untuk pasien psikiatri, NAPZA, dan umum terletak dalam satu gedung namun tempat pengolahan makanan untuk masing-masing pelayanan berbeda. Gedung Instalasi Gizi RSMM terdiri dari beberapa bagian, antara lain kantor administrasi;

tempat penerimaan bahan makanan; tempat penyimpanan bahan makanan pasien NAPZA, MPKP, dan Psikiatri; tempat penyimpanan bahan makanan kering; dapur untuk persiapan dan pengolahan, serta tempat distribusi makanan untuk pasien NAPZA, MPKP, dan Psikiatri; dapur untuk persiapan dan pengolahan makanan untuk pasien Umum; dapur pembuatan snack; tempat pemasakan air; tempat penyimpanan alat-alat masak; mushola dan tempat penitipan barang karyawan; dan dua buah toilet. Penyelenggaraan makanan untuk pasien umum ditujukan pada pasien kelas VIP, I, II, dan III. Penyelenggaraan makanan untuk pasien Ruang Gayatri dilaksanakan seperti kepada pasien kelas II.

Instalasi Gizi RSMM Bogor memiliki 54 pegawai yang terdiri dari 11 orang ahli gizi, lima orang tenaga gizi, 10 orang pramusaji, dan 28 orang juru masak. Sebanyak lima orang tenaga gizi dan 10 orang pramusaji ditugaskan dalam penyelenggaraan makanan di pantry pasien umum (Lampiran 4).

Perencanaan Menu

Siklus menu 11 hari digunakan dalam penyelenggaraan makanan untuk pasien psikiatri, NAPZA, MPKP, dan pasien umum. Menu yang digunakan berbeda antar masing-masing pelayanan. Kerangka menu yang diperuntukkan bagi pasien umum adalah sama untuk setiap kelas perawatan. Perbedaan terletak pada jumlah satuan penukar (SP) dan jenis bahan makanannya. Lauk hewani pada makan pagi dan siang untuk pasien kelas VIP dan kelas I adalah 2 SP yang terdiri dari satu jenis lauk yang sama dengan kelas II dan III, serta satu jenis lauk yang berbeda. Kelas II dan III mendapatkan 1 SP lauk hewani untuk setiap waktu makan. Buah dan snack atau makanan selingan bagi pasien VIP jenisnya dibedakan dengan kelas I, II, dan III. Buah yang diberikan pada saat makan malam kepada pasien VIP berjumlah 2 SP yang terdiri dari satu jenis buah yang sama dengan kelas I, II, dan III, serta satu jenis buah yang berbeda. Pasien kelas III mendapatkan buah hanya saat makan siang saja, yaitu sebanyak 1 SP. Ruang Gayatri yang merupakan ruang rawat inap kelas II plus memiliki siklus menu dan kerangka menu seperti pasien kelas II (Lampiran 5). Kerangka menu pada penyelenggaraan makanan bagi pasien umum di RSMM dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Kerangka menu berdasarkan kelas perawatan

Waktu makan Kerangka Menu Jumlah SP setiap kelas perawatan

VIP I II III Pagi Makanan pokok 1 1 1 1 Lauk hewani* 2 2 1 1 Sayur 1 1 1 1 Selingan I Snack** 1 1 1 1 Siang Makanan pokok 1 1 1 1 Lauk hewani* 2 2 1 1 Lauk nabati 1 1 1 1 Sayur 1 1 1 1 Buah*** 1 1 1 1 Selingan II Snack** 1 1 1 1 Sore Makanan pokok 1 1 1 1 Lauk hewani 1 1 1 1 Lauk nabati 1 1 1 1 Sayur 1 1 1 1 Buah*** 2 1 1 -

Keterangan: * lauk hewani tambahan jenisnya berbeda ** snack untuk kelas VIP berbeda dengan kelas I, II, dan III ***buah untuk kelas VIP berbeda dengan kelas I, II, dan III Bahan Makanan, Standar Porsi, dan Pengolahannya

Bahan Makanan

Bahan makanan yang digunakan hampir semuanya adalah bahan makanan dalam keadaan segar, hanya bakso, kembang tahu, makaroni, dan soun saja bahan makanan olahan yang digunakan untuk pelengkap masakan. Bahan makanan pokok secara umum adalah beras (nasi, nasi tim, atau bubur). Havermut, kentang, dan roti diberikan pada pasien dengan permintaan khusus. Pasien dalam penelitian ini mendapatkan nasi, nasi tim, atau bubur sebagai makanan pokok. Lauk hewani yang digunakan terdiri dari ayam, daging sapi, ikan kakap, telur puyuh, telur ayam, dan ikan gurame. Lauk nabati yang digunakan antara lain tahu, tempe, kentang, dan makaroni. Sayuran yang digunakan terdiri dari wortel, kapri, buncis, kembang kol, brokoli, paprika, sawi hijau, labu siam, jagung manis, jamur kuping, sedap malam, bayam, labu siam, terung panjang, oyong, semi, jamur supa, dan kacang panjang. Buah-buahan yang diberikan antara lain jeruk, pisang raja sereh, semangka, pisang ambon, papaya, melon, dan anggur.

Bahan makanan dalam pembuatan makanan selingan terdiri dari kacang hijau, agar-agar, tepung susu, tepung terigu, tepung beras, tepung hunkwe, maizena, telur ayam, margarin, cokelat manis, cokelat chips, cokelat bubuk, keju, gula aren, gula pasir, santan, sirup, pisang raja, semangka, melon, papaya,

stroberi, jeruk manis, pisang tanduk, dan jambu biji. Bahan makanan tersebut kemudian diolah menjadi makanan dalam bentuk kue-kue, bubur, dan minuman. Standar Porsi dan Pengolahan Bahan Makanan

Daya tampung pasien pada pelayanan rawat inap pasien umum adalah sebanyak 100 orang, sehingga jumlah porsi maksimal yang disiapkan adalah 100 porsi. Instalasi gizi menetapkan standar porsi untuk setiap bahan makanan. Standar porsi yang diberikan untuk pasien lansia Ruang Gayatri adalah sama dengan standar porsi untuk pasien umum. Standar porsi tersebut diperoleh dari dokumentasi Unit Perencanaan dan Perbekalan dan ditampilkan pada Tabel 11. Tabel 11 Standar porsi bahan makanan untuk pasien umum kelas II

Bahan makanan Satuan Jumlah Keterangan

Beras Gram 400 Sehari

Ayam Gram 125 Sekali penyajian

Daging sapi Gram 60 Sekali penyajian

Ikan Gram 65 Sekali penyajian

Telur ayam Gram 60 Sekali penyajian

Telur puyuh Gram 40 Sekali penyajian

Tempe Gram 50 Sekali penyajian

Tahu Gram 50 Sekali penyajian

Sayur Gram 100 Sekali penyajian

Buah Gram 150 Sehari

Snack Buah 2 Sehari

Pengumpulan data ketersediaan tidak menggunakan dokumen standar porsi tersebut tetapi dari hasil penimbangan sampel makanan.

Proses pengolahan yang dilakukan antara lain terdiri dari perebusan, pengetiman, pengukusan, penggorengan, penumisan, pemasakan dengan oven, ataupun kombinasi dari cara memasak tersebut. Proses pengolahan tersebut ditujukan pada penyelenggaraan makanan pasien umum, termasuk pasien lansia Ruang Gayatri.

Pendistribusian Makanan RS

Setelah makanan untuk pasien umum matang, selanjutnya makanan diantarkan menggunakan mobil dari Instalasi Gizi menuju pantry yang dikhususkan untuk ruang rawat umum. Selanjutnya makanan didistribusikan sesuai dengan diet masing-masing pasien dan diberi label.

Makanan yang sudah disiapkan selanjutnya diantarkan oleh pramusaji kepada pasien. Berdasarkan proses tersebut terlihat bahwa Instalasi Gizi RSMM Bogor menerapkan sistem distribusi desentralisasi, yaitu makanan pasien dibawa dari tempat pengolahan menuju dapur dalam jumlah banyak untuk selanjutnya disajikan dalam alat makan masing-masing pasien sesuai dengan permintaan

makanan. Peralatan makan yang digunakan untuk pelayanan makanan pasien Ruang Gayatri terdiri dari satu pasang plato aluminium beserta tutupnya, satu buah piring keramik, satu buah sendok plastik, dan satu buah nampan. Selain itu, setiap kali waktu makan pasien juga mendapatkan satu gelas air mineral kemasan. Diet konsistensi biasa, lunak, dan saring terdiri dari tiga kali makan utama (pagi, siang, dan sore) dan dua kali selingan. Diet dengan konsistensi cair memiliki waktu dan frekuensi yang telah disesuaikan dengan resep diet yang diberikan oleh dokter gizi. Secara umum, penyelenggaraan makanan yang dimulai dari proses perencanaan anggaran belanja makanan hingga tahap pendistribusian makanan bagi pasien lansia di Ruang Gayatri adalah sama dengan penyelenggaraan makanan bagi pasien umum lainnya (Lampiran 6).

Karakteristik Pasien

Sebanyak 63,3% pasien berjenis kelamin wanita. Usia pasien berkisar antara 60 hingga 100 tahun. Klasifikasi lansia berdasarkan usia menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) yaitu usia lanjut (elderly) (60 – 74 tahun), usia lanjut tua (old) (75 – 90 tahun), dan usia lanjut sangat tua (very old) (di atas 90 tahun) (Komnas Lansia 2008). Rata-rata usia pasien adalah 72 tahun. Sebanyak 60% pasien termasuk dalam kategori usia lanjut/elderly.

Pasien yang berstatus sebagai duda atau janda yaitu sebesar 63,3%. Sebelum pasien dirawat di RS, sebagian besar yaitu 93,3% pasien mengaku tinggal serumah bersama keluarga. Berdasarkan Komnas Lansia (2008), lansia yang hidupnya sendirian atau karena meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat akan mengalami kesepian. Keadaan lansia tersebut terkadang diperburuk dengan menurunnya kondisi kesehatan. Lansia yang mengalami kesepian seringkali merasa jenuh dan bosan dengan hidupnya, sehingga ia berharap agar kematian segera datang menjemputnya.

Sebanyak 60% pasien mendapat biaya perawatan RS dari keluarga. Kisaran lama rawat pasien adalah 3 – 33 hari. Sebanyak 43,3% pasien dirawat selama 3 – 6 hari. Sebesar 30% pasien keluar dari Ruang Gayatri atas permintaan keluarga (APK) atau sebelum dokter menyatakan pasien sudah diperbolehkan pulang. Alasan keluarga meminta pasien untuk dipulangkan antara lain pertimbangan biaya, pindah ke ruang dengan kelas yang lebih tinggi, ataupun karena pertimbangan ketiadaannya anggota keluarga yang mampu menunggu pasien selama dirawat di RS (Lampiran 7). Sebaran pasien berdasarkan karakteristiknya ditunjukkan pada Tabel 12.

Tabel 12 Sebaran pasien berdasarkan karakteristik

Karakteristik pasien n % Total Jenis kelamin 30 Wanita 19 63,3 Pria 11 36,7 Usia 30

Usia lanjut (60 – 74 tahun) 18 60,0

Usia lanjut tua (75 – 90 tahun) Usia lanjut sangat tua (> 90 tahun)

11 1 36,7 3,3 Status pernikahan 30 Menikah dan masih memiliki pasangan

Duda atau janda

11

19

36,7

63,3

Pihak yang merawat sebelum dirawat di RS

30 Tinggal sendiri Keluarga 2 28 6,7 93,3 Sumber pembiayaan 30 Keluarga Asuransi kesehatan

Lainnya (bantuan dari pihak lain)

18 10 2 60,0 33,3 6,7 Lama rawat 30 3 – 6 hari 13 43,3 7 – 10 hari 7 23,3 > 10 hari 1 3,3 APK 9 30,0

Jenis Penyakit dan Status Gizi Jenis Penyakit

Setiap pasien yang dirawat di Ruang Gayatri adalah pasien lansia yang didiagnosa memiliki minimal tiga jenis penyakit. Jenis penyakit yang diderita oleh contoh dikelompokkan menjadi gangguan sistem syaraf, sistem kardiovaskuler, sindrom metabolik dan asam urat, sistem pernafasan, sistem gastrointestinal dan hati, sistem urinaria, dan sindrom Steven Johnson.

Gangguan sistem syaraf meliputi penyakit stroke, vertigo, parase, dan tekanan intrakranial. Stroke merupakan serangan mendadak gangguan pembuluh darah otak yang dapat berupa stroke iskemik maupun stroke hemoragik (Hartono 2006). Parese adalah suatu kondisi yang ditandai oleh hilangnya sebagian gerakan, atau gerakan terganggu. Jenis parese yang diderita pasien adalah hemiparese dan tetraparese. Vertigo merujuk pada halusinasi dari gerakan yang dapat linear, jatuh, atau goyang. Seringkali digambarkan sebagai sensasi berputar baik pada salah satu dari rotasi sendiri (subjective vertigo) atau rotasi dari lingkungan sekelilingnya (objective vertigo). Pada kebanyakan kasus-kasus, gejala dari vertigo menyiratkan penyakit dari telinga bagian dalam atau sistim vestibular (keseimbangan) (Anonim 2008a). Tekanan intrakranial adalah peningkatan tekanan otak normal yang dapat disebabkan karena peningkatan

tekanan cairan serebrospinal atau karena adanya tumor dalam otak (Anonim 2009a).

Gangguan sistem kardiovaskuler meliputi hipertensi, gagal jantung kongestif, dan kardiomegali. Hipertensi merupakan tekanan darah arteri yang abnormal tinggi, ditandai dengan tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan darah diastolik di atas 90 mmHg (Krummel 2004). Gagal jantung kongestif adalah sindrom yang dicirikan oleh ketidakmampuan jantung dalam mempertahankan aliran darah yang memadai di dalam sistem sirkulasi sehingga terjadi penurunan aliran darah ke ginjal, retensi cairan dan natrium yang berlebihan, edema perifer dan paru, serta jantung yang keletihan dan membengkak. Kardiomegali adalah istilah untuk pembesaran jantung (Hartono 2006).

Sindrom metabolik adalah kumpulan keadaan seperti kegemukan perut dan gangguan toleransi glukosa, kenaikan kadar trigliserida, hipertensi ringan dan mikroalbuminuria. Diabetes melitus merupakan kumpulan keadaan yang disebabkan oelh kegagalan pengendalian gula darah. Kegagalan ini terjadi karena dua hal, yaitu (1) produksi hormon insulin yang tidak memadai atau tidak ada, atau (2) resistensi insulin yang meningkat. Asam urat berhubungan dengan gangguan metabolisme purin yang menimbulkan hiperurisemia jika kadar asam urat dalam darah melebihi 7,5 mg/dl (Hartono 2006).

Gangguan sistem pernafasan terdiri dari tuberkulosis, bronko pneumonia, dan efusi pleura. Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh mycobacteria, khususnya Mycobacterium tuberculosis, M. bovis, atau M. africanum (Mueller 2004). Pneumonia adalah suatu infeksi dari satu atau dua paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri-bakteri, virus-virus, atau jamur. Jadi bronkopneumonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru terutama alveoli atau parenkim (Anonim 2009b). Efusi pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah rongga yang terletak di antara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada (Anonim 2011).

Gangguan gastrointestinal dan hati meliputi dispepsia, tukak peptik, hematemesis, melena, gastroenteritis, fatty liver, dan hepatoma. Dispepsia adalah gangguan pada saluran pencernaan yang ditandai dengan rasa sakit pada perut bagian atas yang berulang atau kronis, atau perut terasa cepat penuh atau kenyang, dapat disertai kembung, mual, atau sakit pada ulu hati (Sandjaja

et al 2009). Hematemesis-melena adalah keadaan muntah dan buang air besar berupa darah akibat luka atau kerusakan pada saluran cerna (Hartati 2005). Gastroenteritis (diare) dicirikan dengan buang air besar sering berkonsistensi cair dengan volum biasanya melebihi 300 ml, disertai dengan kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan, terutama narium dan kalium. Fatty liver adalah salah fase awal dalam patogenesis penyakit Alcoholic liver (Beyer 2004). Kanker hati adalah suatu kanker yang timbul dari hati, dan dikenal sebagai kanker hati primer atau hepatoma (Anonim 2008b).

Mukosa lambung dan duodenum secara normal terlindung dari aksi pencernaan oleh asam lambung dan pepsin dengan mensekresi mukus, memproduksi bikarbonat, membuang kelebihan asam melalui aliran darah normal, serta memperbarui dan memperbaiki sel epitel yang terluka. Tukak peptik adalah terdapatnya tukak yang terjadi akibat adanya gangguan terhadap mekanisme dan pertahanan ini (Beyer 2004).

Gangguan sistem urinaria meliputi sistitis, nefrolitiasis, dan gagal ginjal kronis. Sistitis adalah infeksi kandung kemih sedangkan nefrolitiasis adalah terdapatnya batu ginjal (Anonim 2008c). Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan kerusakan ginjal yang progresif dan ireversibel karena suatu penyakit. Terapi diet hanya bersifat membantu memperlambat progresivitas gagal ginjal kronis (Hartono 2006).

Sindrom Steven Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit, mukosa orifisium serta mata disertai gejala umum berat. Etiologi SSJ sukar ditentukan dengan pasti, karena penyebabnya berbagai faktor, walaupun pada umumnya sering berkaitan dengan respon imun terhadap obat. Sekitar 50% penyebab SSJ adalah obat. Patogenesis SSJ sampai saat ini belum jelas walaupun sering dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe III dan IV. Proses hipersensitivitas itu memicu kerusakan kulit sehingga terjadi: (1) kegagalan fungsi kulit yang menyebabkan kehilangan cairan, (2) stres hormonal diikuti peningkatan resistensi terhadap insulin, hiperglikemia, dan glukosuria, (3) kegagalan termoregulasi, (4) kegagalan fungsi imun, dan (5) infeksi (Harsono 2006).

Beberapa pasien juga mengalami gangguan penyerta seperti anemia, penurunan kemampuan ataupun nafsu makan sehingga menyebabkan low intake, dan masalah status gizi lebih ataupun kurang. Penyakit yang paling banyak diderita adalah gangguan kardiovaskuler, selanjutnya sindrom metabolik

dan asam urat, gastrointestinal dan hati, pernafasan, syaraf, ginjal, dan sindrom Steven Johnson. Selain diagnosa utama, sebanyak 36,7% pasien menderita anemia. Pasien yang dinyatakan berisiko low intake karena adanya gangguan seperti penurunan kesadaran, mual, muntah, ataupun penurunan nafsu makan adalah 60% pasien. Sebaran pasien berdasarkan jenis penyakit dan gangguan penyerta dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran pasien berdasarkan jenis penyakit

Jenis penyakit dan gangguan penyerta n %

Gangguan kardiovaskuler 24 80,0

Sindrom metabolik dan asam urat 10 33,3

Gangguan gastrointestinal dan hati 10 33,3

Gangguan pernafasan 7 23,3

Gangguan syaraf 6 20,0

Gangguan ginjal 4 13,3

Sindrom Steven Johnson 1 3,3

Status Gizi

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan (Supariasa et al. 2001). Klasifikasi IMT untuk populasi Asia Pasifik berdasarkan WHO (2004) dalam PDGKI (2008) adalah kurang (IMT< 18,5), normal (IMT= 18,5 – 24,9), dan lebih (IMT≥ 25). Kisaran IMT pasien adalah 12,6 hingga 26,5. Rata-rata nilai IMT pasien adalah 19,0 sehingga digolongkan berstatus gizi normal. Setengah dari pasien berstatus gizi normal. Sebaran pasien berdasarkan status gizi ditampilkan pada Tabel 14. Tabel 14 Sebaran pasien berdasarkan status gizi

Status gizi n % Kurang (≤18,5) 12 40,0

Normal (18,5 – 25,0) 15 50,0

Lebih (>25,0) 3 10,0 Total 30 100,0 Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

Kebutuhan energi berubah dalam keadaan sakit. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan energi orang sakit dapat dilakukan dengan menurut persen kenaikan kebutuhan di atas Angka Metabolisme Basal (AMB), yaitu dengan mengalikan AMB dengan faktor aktivitas dan faktor trauma atau stres (Almatsier 2005). Kebutuhan protein, lemak, dan karbohidrat ditentukan berdasarkan keadaan penyakit yang diderita pasien, serta disesuaikan dengan asupan zat gizi makro bagi lansia yang disarankan dalam Harris (2004). Kebutuhan vitamin dan mineral berdasarkan Angka Kecukupan

Gizi untuk lansia ditetapkan sesuai ketentuan dalam WNPG VIII tahun 2004. Kebutuhan energi dan zat gizi pasien disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 15 Rata-rata kebutuhan energi dan zat gizi

Energi dan zat gizi Rata-rata±SD

Energi (kkal) 1.362 ± 244 Protein (g) 51,6 ± 13,3 Lemak (g) 37,8 ± 6,8 Karbohidrat (g) 203,8 ± 33,8 Vit.A (RE) 537 ± 49 Vit. E (mg) 15 ± 0 Vit. B1 (mg) 1,0 ± 0,1 Asam folat (mcg) 400 ± 0 Vit. B6 (mg) 1,6 ± 0,1 Vit. B12 (mcg) 2,4 ± 0,0 Vit. C (mg) 81 ± 7 Kalsium (mg) 800 ± 0 Besi (mg) 12 ± 1 Seng (mg) 11,1 ± 1,8

Selama dirawat di RS, pasien memperoleh energi dan zat gizi untuk memenuhi kebutuhannya melalui makanan RS (makanan olahan RS dan formula komersial) yang dikelola oleh Instalasi Gizi RS dan makanan dari luar RS yang dibawa oleh keluarga pasien yang berkunjung. Selain memperoleh dalam bentuk pangan, sebanyak 90% (27 orang) pasien juga memperoleh energi dan zat gizi dari cairan infus (Futrolit, Asering, Renosan, Ringer Laktat, Aminofluid, NaCl, dan Dekstrosa 5%) serta sebanyak 26,7% (8 orang) pasien mendapatkan suplemen (Bion 3, Neurobion, Lesichool, Cal 95, dan Neurodex). Pemberian cairan infus dan suplemen ditangani oleh bagian farmasi.

Ketersediaan Energi dan Zat Gizi dari Makanan RS

Makanan RS yang diberikan oleh pihak Instalasi Gizi RS terdiri dari makanan olahan RS dan formula komersial. Pemberian makanan olahan RS dan formula komersial ini disesuaikan dengan keadaan pasien dan diresepkan oleh dokter (preskripsi diet). Makanan RS diberikan kepada pasien berupa makanan olahan RS saja, formula komersial saja, atau kombinasi makanan olahan RS bersama dengan formula komersial.

Makanan olahan RS merupakan hasil penyelenggaraan makanan yang dilakukan oleh pihak Instalasi Gizi RS. Makanan olahan RS meliputi makanan

Dokumen terkait