• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Contoh pada penelitian ini memiliki karakteristik seperti mayoritas berjenis kelamin wanita (63,3%), berusia lanjut (elderly) (60 – 74 tahun) (60%), berstatus duda atau janda (63,3%), tinggal serumah bersama keluarga sebelum contoh dirawat di RS (93,3%), dan biaya perawatan diperoleh dari keluarga (60%). Paling banyak contoh (43,3%) dirawat selama 3 – 6 hari. Setiap pasien yang dirawat di Ruang Gayatri didagnosa memiliki minimal 3 jenis penyakit. Penyakit yang paling banyak diderita oleh pasien adalah gangguan kardiovaskuler dan yang paling sedikit adalah sindrom Steven Johnson. Sebanyak 50% contoh berstatus gizi normal sedangkan sisanya mengalami keadaan salah gizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih.

Mengingat porsi makanan yang diberikan kepada pasien lansia sama dengan porsi yang diberikan kepada pasien umum lainnya maka makanan olahan RS sudah memberikan ketersediaan energi dan zat gizi (kecuali vitamin E dan asam folat) yang dapat mencukupi kebutuhan gizi pasien lansia di Ruang Gayatri. Tidak hanya porsi saja, namun pada umumnya penyelenggaraan makanan bagi pasien lansia di Ruang Gayatri disamakan seperti pasien umum. Pemberian formula komersial saja dalam sehari ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi pasien. Kombinasi pemberian antara makanan RS dan formula komersial dapat menyediakan energi dan zat gizi (kecuali vitamin E dan asam folat) dalam jumlah yang cukup hingga berlebih.

Makanan pokok dan sayuran cenderung dikonsumsi kurang dari jumlah minimal yang disarankan dari ketersediaan. Secara umum makanan lauk nabati dan hewani cenderung dikonsumsi sesuai jumlah yang disarankan dari ketersediaan. Namun, pada beberapa jenis lauk yang memiliki konsistensi lebih lembut ternyata lebih cenderung dikonsumsi dengan baik daripada lauk dengan konsistensi yang lebih keras. Buah-buahan yang memiliki konsistensi lembut seperti pepaya, melon, semangka, dan jus cenderung dikonsumsi sesuai jumlah yang disarankan. Secara umum terdapat kecenderungan pasien untuk menghabiskan setiap makanan selingan yang diberikan, kecuali biskuit dan krakers yang cenderung tidak dikonsumsi sama sekali. Formula komersial merupakan jenis makanan selingan yang paling cenderung dihabiskan oleh pasien.

Sebagian besar pasien masih mengkonsumsi energi dan zat gizi (kecuali vitamin A) dalam jumlah yang rendah sehingga banyak pasien yang belum terpenuhi kebutuhan gizinya. Selain formula komersial dan makanan luar RS, energi dan zat gizi juga diperoleh pasien melalui sumber non pangan yaitu suplemen dan cairan infus.

Berdasarkan Uji Korelasi Pearson tidak terdapat hubungan yang nyata antara variabel usia dengan status gizi (p = 0,537; r = -0,117), usia dengan kebutuhan energi (p = 0,129; r = -0,283), serta usia dengan tingkat konsumsi energi makanan RS terhadap ketersediaan (p = 0,574; r = 0,111). Berdasarkan Uji Korelasi Spearman tidak terdapat hubungan yang nyata antara variabel jumlah penyakit dengan status gizi (p = 0,466; r = -0,138).

Masih rendahnya konsumsi pasien terhadap makanan RS dapat disebabkan oleh faktor dari dalam diri pasien maupun faktor dari luar. Faktor dari dalam diri pasien meliputi adanya penurunan kondisi fisik karena faktor usia dan penyakit, serta kondisi psikososial yang mempengaruhi nafsu dan kemampuan makan pasien. Faktor dari luar diri pasien dapat meliputi konsistensi makanan yang tidak sesuai dengan kemampuan makan pasien, rasa makanan, serta kegiatan konsultasi gizi yang belum merata ke seluruh pasien lansia di Ruang Gayatri.

Saran

Berdasarkan rendahnya konsumsi energi dan zat gizi dari makanan RS maka disarankan kepada pihak RS untuk meningkatkan pelayanan makanan sehingga pasien dapat mengkonsumsi makanan RS dengan baik. Standar porsi makanan bagi pasien lansia di Ruang Gayatri sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan agar secara ekonomi lebih efisien serta menghindari konsumsi energi dan zat gizi yang berlebihan. Tekstur makanan sebaiknya lebih disesuaikan dengan kemampuan mengunyah dan menelan pasien. Pemberian makanan sebaiknya dilakukan dalam porsi kecil namun frekuensi yang sering.

Penelitian mengenai daya terima dan persepsi pasien terhadap makanan RS disarankan untuk dilakukan sehingga dapat memberikan masukan bagi penyelenggaraan makanan untuk pasien Ruang Gayatri selanjutnya. Selain itu, pelayanan konsultasi gizi dengan dokter atau ahli gizi supaya lebih ditingkatkan agar pasien dan keluarga dapat lebih memahami makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh diberikan serta meningkatkan motivasi pasien dalam mengkonsumsi makanan RS secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier S. 2005.. Penuntun Diet. Jakarta: Gramedia.

Almatsier S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.

[Anonim]. 2008a. Vertigo. www.totalkesehatananda.com. [30 Maret 2011]. _______. 2008b. Kanker hati. www.totalkesehatananda.com. [30 Maret 2011]. _______. 2008c. Infeksi saluran kencing orang dewasa.

www.totalkesehatananda.com. [30 Maret 2011].

_______. 2009a. Peningkatan tekanan intrakranial. www.health.detik.com. [30 Maret 2011].

_______. 2009b. Asuhan keperawatan bronkopneumonia.

www.blog.ilmukeperawatan.com. [30 Maret 2011].

_______. 2011. Efusi pleura. www.medicastore.com. [30 Maret 2011]. Arisman. 2003. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Astawan M, Wahyuni M. 1988. Gizi dan Kesehatan Manula. Bogor: Medyatama

Sarana Perkasa.

Baliwati YF, Retnaningsih. 2004. Kebutuhan gizi. Di dalam: Baliwati YF, Khomsan A, Dwiriani CM, editor. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya. hlm 64-68.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2004. Angka Harapan Hidup. www.datastatistik-indonesia.com. [20 Desember 2010].

_______________________. 2007. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2007. Jakarta: BPS.

Daldiyono, Syam AF. 2002. Peran Nutrisi dalam Proses Penyembuhan Pasien Rawat Inap. Di dalam: Idrus Alwi, editor. Naskah Lengkap Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI Pr. hlm. 135 – 138.

Darmojo RB, Martono H. 2006. Buku Ajar Geriatri. Edisi ke-3. Jakarta: UI-Press [Depkominfo] Departemen Komunikasi dan Informasi. 2009. Jumlah lansia di

Indonesia 16,5 juta orang. www.depkominfo.go.id [25 Mei 2010].

[Depkes RI] Departemen Kesehatan RI. 2003. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI.

Dorfman L. 2004. Medical nutrition therapy for rheumatic disorders. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food,

Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 1121 - 1138.

Ettinger S. 2004. Macronutrients: Carbohydrates, Proteins, and Lipids. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 37 - 73.

Frary CD, Johnson RK. 2004. Energy. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 21 - 33.

Garrow et al. 2000. Human Nutrition and Dietetics. Edisi ke-10. London: Harcourt.

Gregoire MB, Spears MC. 2007. Foodservice Organization, a Managerial and Systems Approach. Ed ke-6. New Jersey: Prentice Hall.

Gibson RS. 2005. Principles of Nutritional Assessment. New york: Oxford University Press.

Hammond KA. Dietary and Clinical Assessment. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 407 - 430.

Harris NG. 2004. Nutrition in aging. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 318 – 335.

Harsono A. 2006. Naskah lengkap Continuing Education, Sindroma Steven Johnson: Diagnosis dan Penatalaksanaan. Surabaya: FK-Unair.

Hartono A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: EGC.

Hasse JM, Matarese LE. 2004. Medical nutrition therapy for liver, biliary system, and, exocrine, pancreas disorders. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 738 - 764.

Heimburger DC, Weinsler RL. 1997. Handbook of Clinical Nutrition. Edisi ke-3. Missouri: Mosby.

Mc Cance, Widdowsons. 2007. The Composition of Foods. Ed ke-6. London: The Royal Society of Chemistry.

[Komnas Lansia] Komisi Nasional Lanjut Usia. 2008. Pedoman Rumah Pelayanan dan Kegiatan Lansia. Jakarta: Komisi Nasional Lanjut Usia. Krummel DA. 2004. Medical nutrition therapy in cardiovascular disease. Di

dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 860 - 896.

[LIPI] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2004. Prosiding Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VIII, Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi. Jakarta: LIPI.

McWhirter JP, Pennington CR. 1994. Incidence and recognition of malnutrition in hospital. British Medical Journal 308:945-8.

Mueller DH. 2004. Medical nutrition therapy for pulmonary disease. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 937 - 957.

[NCEP] National Cholesterol Education Program. 2002. Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). Washington: National Institutes of Health. Payhe-Palacio J, Theis M. 2009. Introduce to Foodservice. Ed ke-11. New

Jersey: Prentice Hall.

[PDGKI] Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia. 2008. Pedoman Tata Laksana Gizi Klinik. Jakarta: PDGKI.

Rindengan B, Novarianto H. 2006. Pembuatan dan Pemanfaatan Minyak Kelapa Murni. Jakarta: Penebar Swadaya.

Roedjito D. 1989. Kajian Penelitian Gizi. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa. Sandjaja et al. 2009. Kamus Gizi. Jakarta: Kompas.

Setiati S. 2006. Terapi Nutrisi Pasien Usia Lanjut yang Dirawat di Rumah Sakit. Di dalam: Harjodisastro D, Syam AF, Sukrisman L, editor. Dukungan Nutrisi pada Kasus Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI Pr. hlm. 64-77.

Soehardjo et al. 1988. Survey Konsumsi Pangan. Bogor: Faperta-IPB.

Stopler T. 2004. Medical nutrition therapy for anemia. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 838 - 856. Subandriyo VU, Santoso H. 1995. Pengelolaan Makanan di Rumah Sakit.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Supariasa IDN, Fajar I, Bakri B. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Syafiq A et al. 2009. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rajawali Pers. Watson K. 2003. Keperawatan pada Lansia. Jakarta: EGC.

Wilkens KG. 2004. Medical nutrition therapy for renal disorders. Di dalam: L Kathleen Mahan dan Sylvia Escott-Stump, editor. Krause’s Food,

Nutrition, and Diet Therapy. Edisi ke-11. Philadelphia: Saunders Pr. hlm. 961 - 994.

Wirakusumah ES. 2001. Menu Sehat untuk Lanjut Usia. Jakarta: Puspa Swara. Witte KA, Clark AL. 2004. Nutrition and Heart Disease: Causation and

Lampiran 1 Kuesioner penelitian

Kuesioner Penelitian

KONSUMSI ENERGI DAN ZAT GIZI, SERTA STATUS GIZI

Dokumen terkait