• Tidak ada hasil yang ditemukan

Formulasi sediaan hydrocolloid matrix diabetic wound healing ibuprofen

Formula hydrocolloid matrix diabetic wound healing ibuprofen dalam penelitian ini diperoleh dari penelitian Thu et al. (2012) yang kemudian dimodifikasi. Konsentrasi HPMC yang digunakan adalah 8,75%, 11%, dan 13,25%, yang didapatkan dari hasil orientasi. Hasil orientasi menunjukkan semakin rendah konsentrasi HPMC maka ibuprofen menjadi semakin sukar larut sehingga terdispersi. Semakin tinggi HPMC, viskositas larutan yang dibentuk juga semakin tinggi sehingga larutan semakin susah untuk dituang. Konsentrasi HPMC 8,75% dipilih menjadi konsentrasi terendah karena telah dapat melarutkan ibuprofen, sementara konsentrasi HPMC 13,25% dipilih menjadi konsentrasi tertinggi di mana larutan masih mudah untuk dituangkan.

Sebelum dilakukan pengeringan, sediaan hydrocolloid matrix yang masih berbentuk gel disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 115°C dengan tekanan 1kgf/cm2, selama 15 menit. Penuangan sediaan ke cawan petri dilakukan dengan teknik aseptis di dalam kabinet LAF dengan nyala api bunsen. Pengeringan sediaan dilakukan dalam oven yang telah disterilkan dengan etanol 70%. Pengeringan dilakukan pada suhu 45°C selama 2 hari.

Uji sterilitas

Uji sterilitas dilakukan bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik sterilisasi akhir yang dilakukan menghasilkan sediaan yang steril. Hasil uji sterilitas basis (BF1, BF2, dan BF3), F1, F2 dan F3 adalah steril, yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan mikroba pada media. Hasil uji sterilitas terdapat pada Gambar 1.

7

a b

c d

Gambar 1. Hasil uji sterilitas hydrocolloid matrix

Keterangan: (a) F1; (b) F2; (c) F3; dan (d) BF1, BF2, BF; lingkaran putih: lokasi letak sediaan Evaluasi Sifat Fisik

Evaluasi sifat fisik yang dilakukan meliputi uji organoleptis, keseragaman bobot, ketebalan, pH larutan sediaan, persentase moisture content dan moisture absorption, dan ketahanan pelipatan.

Uji organoleptis

Pengamatan visual sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen yang dihasilkan secara keseluruhan berwarna bening tidak berwarna, jernih, dan halus. Namun pada BF3, formula F2, dan formula F3 terdapat gelembung. Gelembung tersebut muncul akibat pengadukan menggunakan stirrer yang menyebabkan adanya udara yang masuk.

Uji keseragaman bobot

Sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen yang dihasilkan memenuhi kriteria (coefficient of variation) CV yang ditentukan oleh British Pharmacopoeia, (1993) yaitu kurang dari 10% (Tabel II). Hal tersebut artinya pengeringan sediaan sudah optimal sehingga sediaan yang dihasilkan memiliki bobot yang seragam. Uji statistik yang dilakukan menyatakan bahwa bobot antar formula sediaan tidak berbeda. Pada basis, bobot BF1 berbeda dibandingkan kedua basis lainnya.

Uji ketebalan

Ketebalan yang diharapkan pada sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen adalah 0,5 mm. Semua formula sediaan telah memenuhi kriteria, sedangkan basis sediaan memiliki

8 S ed iaan M in ggu ke bobot (% CV) balan (mm) larutan sediaan content ( ̅ ± SD) absorption ( ̅ ± SD) lembab (g/jam) hanan pelipatan (DE360 ± SD)

Warna Kejernihan Kehalusan CV (%)

% kandunga

n obat BF1 0 Tidak

berwarna Jernih Halus 6,10 0,60 6,87

10,19 ± 0,007 19,25 ± 0,019 0,00043 ± 0,00003 67 - - BF2 0 Tidak

berwarna Jerih Halus 7,21 0,65 6,82

10,02 ± 0,005 17,44 ± 0,019 0,00040 ± 0,00005 68 - - BF3 0 Tidak berwarna Ada gelembung Halus 7,36 0,63 6,83 10,16 ± 0,015 9,84 ± 0,016 0,00014 ± 0,00005 110 - - F1 0 Tidak

berwarna Jernih Halus 9,84 0,50 6,70

12,36 ± 0,015 14,88 ± 0,025 0,00021 ± 0,00005 25 15,78 77,30 ± 8,73 88,86 ± 2,00 4a Tidak

berwarna Jernih Halus 25,60* 0,38 7,10

13,46 ± 0,051** 11,86 ± 0,023* 0,00016 ± 0,00007 23 14,06 56,21 ± 7,90** 4b Tidak

berwarna Jernih Halus 16,92* 0,49 6,70

11,98 ± 0,009** 5,48 ± 0,010* 0,00127 ± 0,00018 70 7,88 102,24 ± 8,06* F2 0 Tidak berwarna Ada gelembung Halus 9,04 0,50 6,71 9,18 ± 0,023 15,48 ± 0,013 0,00031 ± 0,00002 44 15,03 85,24 ± 13,71 66,19 ± 7,52 4a Tidak berwarna Ada gelembung Halus 11,40* 0,49 7,10 10,77 ± 0,006** 11,59 ± 0,010* 0,00021 ± 0,00003 30 2,78 89,31 ± 2,49** 4b Tidak berwarna Ada gelembung Halus 9,22* 0,50 6,80 11,44 ± 0,007* 4,54 ± 0,007* 0,00154 ± 0,00020 189 11,69 88,23 ± 10,31** F3 0 Tidak berwarna Ada gelembung Halus 8,42 0,50 6,74 8,24 ± 0,009 14,58 ± 0,011 0,00033 ± 0,00003 49 5,18 87,34 ± 4,52 63,92 ± 9,54 4a Tidak berwarna Ada gelembung Halus 9,29* 0,50 7,00 10,55 ± 0,004** 10,76 ± 0,009* 0,00020 ± 0,00003 36 38,41 67,65 ± 25,99** 4b Tidak berwarna Ada gelembung Halus 13,84* 0,52 6,80 11,34 ± 0,013** 6,64 ± 0,012* 0,00165 ± 0,00027 125 20,68 75,23 ± 15,56** Keterangan: a=dalam suhu 37°C; b=dalam suhu 45°C; *=hasil uji statistik stabilitas berbeda (p-value<0,05); **=hasil uji statistik stabilitas tidak berbeda

(p-value≥0,05)

9

ketebalan yang lebih dari yang diharapkan (Tabel II). Dari hasill uji yang didapat, ditemukan hubungan antara ketebalan dengan nilai persentase moisture content. Nilai persentase moisture content basis relatif lebih tinggi dibandingkan dengan formula. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai persentase moisture content maka sediaan semakin tebal.

Uji pH larutan sediaan

Nilai pH larutan sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen yang dihasilkan dapat diterima pada rentang yaitu 4-7,4 (Tabel II). Nilai tersebut merupakan pH yang dapat diterima oleh kulit normal manusia.

Uji persentase moisture content

Peningkatan persen moisture content berhubungan dengan peningkatan viskositas matriks, semakin besar HPMC maka rantai polimer yang terbentuk semakin banyak dan rapat, yang memperlambat penguapan air Pudyastuti et al., (2014). Nilai persen yang didapat menunjukkan berapa banyak lembab yang dimiliki sediaan. Urutan persen moisture content dari yang tertinggi pada basis adalah B1>B3>B2, sedangkan pada formula F1>F2>F3 (Tabel II). Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori. Hal tersebut diduga disebabkan karena kondisi lingkungan penyimpanan dan kemampuan penyerapan air oleh silika dalam desikator yang kurang dapat dikendalikan.

Uji persentase moisture absorption

Nilai persen moisture absorption menunjukkan banyaknya lembab yang dapat diserap oleh hydrocolloid matrix ibuprofen. Apabila semakin tinggi konsentrasi polimer maka sediaan semakin lembab, sehingga semakin sedikit lembab yang dapat diserap oleh sediaan tersebut. Urutan persen moisture absorption dari yang tertinggi pada basis adalah BF1>BF2>BF3, sedangkan pada formula F2>F1>F3, dengan kecepatan penyerapan lembab pada basis BF1>BF2>BF3 dan pada formula F3>F2>F1 (Tabel II). Semakin besar nilai kecepatan penyerapan lembab artinya semakin cepat sediaan menyerap lembab. Hasil pada basis telah sesuai dengan teori, sementara pada formula tidak. Hal tersebut diduga disebabkan starting point sediaan yang berbeda saat uji, dikarenakan sediaan yang digunakan adalah sediaan yang telah melalui uji persentase moisture content, di mana uji ini dilakukan berturutan.

Uji ketahanan pelipatan

Uji ini dilakukan untuk melihat efisiensi dari plasticizer dan juga efek perbedaan konsentrasi polimer pada sediaan Shirsand et al., (2012). Hasil (Tabel II) menunjukkan

10

ketahanan pelipatan sediaan kurang akibat kurangnya penambahan plasticizer sehingga nilai ketahanan pelipatan yang didapatkan kecil. Dari hasil yang didapat, ditemukan hubungan yang linear antara ketahanan pelipatan dengan ketebalan dan nilai persentase moisture content. Ketebalan basis lebih tebal dan nilai persentase moisture content basis relatif lebih besar jika dibandingkan dengan formula. Hal tersebut menunjukkan semakin tebal dan tinggi nilai persentase moisture content maka nilai ketahanan pelipatan akan semakin besar. Hal tersebut ditunjukkan pula pada data uji stabilitas minggu ke-empat pada suhu 45ºC, dimana formula menunjukkan peningkatan nilai ketahanan pelipatan dengan nilai persentase moisture content yang semakin besar pula.

Evaluasi sifat kimia

Evaluasi sifat kimia yang dilakukan meliputi uji keseragaman kandungan obat dan uji pelepasan obat secara in vitro.

Pembuatan kurva baku ibuprofen

Dari pengukuran larutan seri baku ibuprofen, didapatkan panjang gelombang maksimum ada pada 224 nm. Persamaan linear yang dihasilkan adalah y=0,0404x–0,0053 dengan nilai linearitas r=0,9996. Linearitas dari kurva baku yang dihasilkan mendekati 1, maka hubungan kenaikan kadar dengan absorbansi sudah proporsional. Dari kurva baku didapat pula nilai LOD sebesar 0,1875 µg/mL dan nilai LOQ sebesar 0,5683 µg/mL.

Uji keseragaman kandungan obat

Hasil uji keseragaman kandungan obat ditunjukkan dengan kandungan obat yang terukur kembali dari sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen. Secara perhitungan dari ibuprofen yang ditambahkan saat pembuatan, kandungan obat pada sediaan berurutan dari F1, F2 dan F3 adalah 693,761 µg; 669,217 µg; dan 695,347 µg. Hasil uji keseragaman kandungan ditunjukkan dari nilai persen perolehan kembali kandungan obat dari F1, F2 dan F3 dan juga ditunjukkan dengan nilai CV (Tabel II).

Menurut British Pharmacopoeia, (2009), sediaan ibuprofen yang memenuhi kriteria memiliki nilai persen perolehan kembali kandungan obat 95-105%. Hasil persen perolehan kembali kandungan obat yang didapat tidak sesuai dengan kriteria tersebut, artinya ibuprofen dalam sediaan tidak terdistribusi merata. Selain itu, hasil nilai CV yang didapatkan menunjukan seluruh formula masih memiliki nilai CV yang besar, artinya sediaan tidak homogen. Hal tersebut dapat dikarenakan pencampuran yang kurang homogen dalam pembuatan sediaan sehingga menyebabkan senyawa aktif obat tidak merata diseluruh permukaan sediaan. Pembuatan sediaan yang tidak utuh, dimana sediaan

11

Gambar 2. Kurva persen pelepasan obat vs waktu

jadi masih harus dicetak kembali dalam ukuran yang kecil, juga meningkatkan resiko ketidakseragaman kandungan obat. Hal tersebut dikarenakan terdapat migrasi dari bahan aktif saat pengeringan serta laju pengeringan yang tidak sama pada setiap titiknya, sehingga ketika dicetak menjadi ukuran kecil kandungan obat dalam tiap sediaanya dapat berbeda.

Uji pelepasan obat secara in vitro

Uji ini dilakukan untuk melihat kecepatan disolusi obat dalam suatu medium. Digunakan membran Milipore untuk menggambarkan kulit dan digunakan larutan aseptor berupa PBS pH 6,4 yang menggambarkan kondisi kulit luka. Dari uji ini didapatkan nilai dissolution efficiency (DE) pada waktu 360 menit. Semakin besar nilai DE maka pelepasan obat semakin baik. Formula F1 memiliki pelepasan obat yang paling baik, diikuti formula F2 dan F3 (Tabel II). Hal ini menunjukkan, semakin tinggi konsentrasi polimer, semakin lambat pelepasan obat karena matriks dalam sediaan semakin rapat (Pudyastuti et al., 2014). Selain itu, semakin tinggi konsentrasi polimer maka waktu yang dibutuhkan untuk mengembang semakin lama dan viskositasnya setelah larut oleh air juga semakin tinggi, hal tersebut menyebabkan difusi obat semakin lama. DE yang didapatkan dalam waktu 6 jam belum mencapai 100%. Hal tersebut dapat dikarenakan sediaan memiliki ketebalan yang cukup besar serta dikarenakan dosis yang tidak mencapai 100% karena sediaan kurang homogen. Persentase pelepasan obat tiap formula dibanding waktu ditunjukkan pada Gambar 2.

Uji iritasi akut dermal

Uji iritasi akut dermal dilakukan dengan subjek uji berupa kelinci albino jantan. Uji iritasi ini hanya menggunakan basis sediaan Shirsand et al., (2012). Hasil uji

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 0 100 200 300 400 % Pel epa sa n O b at Waktu (menit) F1 F2 F3

12

Tabel III. Hasil uji iritasi basis hydrocolloid matrix Jam ke- Kelinci

ke- Eritema Udema BF1 BF2 BF1 BF2 BF3 BF3 24 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 48 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 72 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 Indeks Iritasi Primer 0

Kesimpulan Semua basis tidak mengiritasi

menunjukkan bahwa basis sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen memberikan hasil negatif dengan indeks iritasi primer bernilai 0 (Tabel III). Menurut International Standar ISO 10993-10, (2002), indeks iritasi primer bernilai 0 menunjukkan bahwa iritasi sangat ringan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa basis sediaan ini tidak menimbulkan iritasi apabila diaplikasikan pada kulit. Tidak dilakukan uji iritasi akut dermal, pada sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen. Hal tersebut dikarenakan sediaan telah mengandung bahan aktif yang memiliki mekanisme anti-inflamasi dengan penghambatan enzim COX-2 (Rainsford, 2009), sehingga penambahannya pada basis tidak menimbulkan iritasi apabila diaplikasikan pada kulit.

Uji stabilitas

Uji stabilitas dilakukan selama 1 bulan dalam kondisi suhu 37°C dan 45°C. Penentuan stabilitas sediaan dilakukan dengan uji statistik. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan sifat fisika dan kandungan obat pada masa penyimpanan. Kondisi tersebut tidak mempengaruhi ketebalan sediaan, namun mempengaruhi organoleptis yaitu menjadi lebih kering, pH yang menjadi semakin basa dan ketahanan pelipatan yang semakin elastis karena sediaan semakin kering. Uji statistik (Tabel II) menunjukkan kondisi tersebut mempengaruhi keseragaman bobot, moisture content, dan moisture absorption. Sementara pada kandungan obat, uji statistik hanya menunjukkan perbedaan pada formula F1 dalam kondisi suhu 45°C. Namun, hal tersebut diduga bukan merupakan akibat dari kondisi penyimpanan namun dikarenakan kandungan

13

obat yang tidak homogen. Hasil uji stabilitas menunjukkan bahwa dalam kondisi suhu tersebut, sediaan stabil secara kimia namun tidak stabil secara fisika.

Penentuan formula optimal

Hasil uji formula yang didapatkan dalam penelitian ini diuji secara statistik untuk menunjukkan ada tidaknya perbedaan. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan pada nilai persentase moisture content dan tidak terdapat perbedaan pada keseragaman kandungan obat dan keseragaman bobot, persentase moisture absorption, dan pelepasan obat (nilai DE). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua formula dapat dipilih menjadi formula yang optimal. Sesuai dengan prioritas hasil uji yang telah ditentukan untuk memilih formula optimal, formula yang dipilih adalah F1 dengan hasil uji: DE 88,86%; CV keseragaman kandungan obat 15,78% dan keseragaman bobot 9,84%; memiliki nilai persentase moisture content 12,36% dan moisture absorption 14,88%; ketebalan 0,5 mm; pH larutan sediaan 6,70; nilai ketahanan pelipatan 25; steril; tidak berwarna, jernih, dan halus; dan stabil secara kimia. Kelebihan F1 adalah memiliki nilai DE yang paling tinggi artinya pelepasan obatnya paling baik; memiliki nilai persentase moisture content dan moisture absorption yang baik sehingga dapat menyerap eksudat dengan maksimal; merupakan sediaan yang steril, sesuai dengan kriteria sediaan penyembuh luka; dan memiliki penampakan fisik yang baik.

Uji aktivitas sediaan hydrocolloid matrix ibuprofen

F1 yang dipilih menjadi formula optimal kemudian diujikan pada subjek uji tikus. Dosis obat yang terkandung dalam sediaan telah terbukti dapat menyembuhkan luka diabetes dalam penelitian (Tunggal, 2016). Subjek uji tikus diamati setiap hari untuk memantau penutupan luka dan dihitung persen penutupan luka menggunakan software Image J. Setelah sembuh (penutupan luka 100%), dihitung lama waktu penyembuhan luka dalam hari (Tabel IV), kemudian kulit tikus diambil untuk diuji histopatologi.

Hasil uji statistik antara kecepatan penyembuhan luka pada tikus normal dan diabetes menunjukkan tidak adanya perbedaan. Dapat disimpulkan bahwa hydrocolloid matrix ibuprofen dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes menjadi sama dengan luka normal. Uji statistik menunjukkan pula, bahwa rata-rata kecepatan penyembuhan luka dengan hydrocolloid matrix ibuprofen sama dengan atau lebih cepat namun tidak signifikan dibandingkan dengan kontrol luka. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor yang tidak terkendali yaitu perilaku subjek uji tikus yang dapat melepas sediaan yang diaplikasikan, sehingga luka tidak terobati maksimal, selain itu terdapat pula kadar gula

14

Tabel IV. Interpretasi Hasil Uji Histopatologi

Tikus normal Tikus diabetes

Kontrol Lapisan epidermis tipis, jaringan granulasi masih luas, serat kolagen mulai terbentuk, jaringan ikat belum terbentuk, terdapat pembuluh darah, menunjukkan penyembuhan luka mencapai fase proliferasi.

Lama waktu penyembuhan: 15± 1,00 hari

Kontrol Lapisan epidermis tipis, jaringan granulasi masih luas, serat kolagen mulai terbentuk, jaringan ikat belum terbentuk, terdapat pembuluh darah menunjukkan penyembuhan luka mencapai fase proliferasi.

Lama waktu penyembuhan: 16 ± 0,58 hari

BF1 Lapisan epidermis tebal, jaringan granulasi masih luas, serat kolagen mulai terbentuk, jaringan ikat telah terbentuk dan rapat, terdapat pembuluh darah, menunjukkan penyembuhan luka mencapai fase remodeling.

Lama waktu penyembuhan: 15 ± 2,08 hari

BF1 Lapisan epidermmis tebal, jaringan granulasi masih luas, serat kolagen mulai terbentuk, jaringan ikat mulai terbentuk, terdapat pembuluh darah, menunjukkan penyembuhan luka mencapai fase

remodeling.

Lama waktu penyembuhan: 15± 1,00 hari

F1 Lapisan epidermis cukup tebal, jaringan granulasi sangat sedikit, serat kolagen telah terbentuk teratur, jaringan ikat telah terbentuk dan rapat, terdapat pembuluh darah, menunjukkan penyembuhan luka mencapai fase remodeling. Lama waktu penyembuhan: 15 ± 1,53 hari

F1 Lapisan epidernis tebal, jaringan granulasi masih luas, serat kolagen mulai terbentuk, jaringan ikat mulai terbentuk, terdapat pembuluh darah, menunjukkan proses penyembuhan luka mencapai tahap remodeling.

Lama waktu penyembuhan: 14 ± 1,00 hari

Bagian-bagian struktur kulit sehat tikus (tanpa jaringan granulasi karena tidak mengalami proses luka) Keterangan: 1 = lapisan epidermis; 2 = jaringan granulasi; 3 = serat kolagen; 4 = pembuluh darah; 5 = inti

sel; 6 = jaringan ikat; Kontrol: kulit tikus luka tanpa perlakuan; BF1: kulit tikus luka dengan perlakuan pemberian BF1; F1: kulit tikus luka dengan perlakuan pemberian F1

6 5 4 3 1 3 2 1 6 4 5 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6

15

darah tikus diabetes yang telah turun sebelum tikus dieutanasia. Kandungan obat yang tidak homogen dengan nilai kurang dari 100% dosis sebenarnya yang menyebabkan nilai DE belum maksimal, dapat juga menjadi faktor pengaruh penyembuhan luka tikus. Faktor lain adalah besar luka eksisi yang dibuat masih relatif kecil sehingga perbedaan penyembuhan lukanya belum cukup terlihat.

Uji histopatologi

Induksi berlebih dari enzim MMP-9 oleh PGE2 menyebabkan penyembuhan luka terhambat. Hal tersebut terjadi akibat adanya kerusakan seluler yang mencegah terbentuknya fibroblas untuk membuat matriks ekstraseluler dan keratinosit dalam jumlah yang cukup untuk mengepitalisasi luka, yang menyebabkan adanya penurunan pembentukan dan pengaturan dari jaringan kolagen. Meskipun begitu, keberadaan MMP-9 tetap dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk mengontrol angiogenesis, proliferasi jaringan, dan keteraturan matriks ekstraseluler di fase remodelling.

Hasil pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa formula F1 dapat mengobati luka pada tikus normal dan diabetes lebih baik dibandingkan BF1 dan kontrol, ditunjukkan dengan struktur kulit yang lebih menyerupai struktur kulit normal tanpa luka (Tabel IV.). Terdapat perbedaan yang jelas dimana pada luka tikus normal serat kolagen yang terbentuk lebih banyak daripada pada luka tikus diabetes. Hal tersebut adalah akibat dari adanya ekspresi MMP-9 yang memperlambat proses penyembuhan pada luka tikus diabetes. Hasil uji histopatologi menunjukkan bahwa hydrocolloid matrix ibuprofen telah dapat mengobati luka tikus hingga mencapai fase remodelling, baik pada tikus normal maupun tikus diabetes. Hal tersebut menunjukkan bahwa hydrocolloid matrix ibuprofen telah mampu mempercepat penyembuhan luka pada tikus diabetes menjadi sama dengan tikus normal, serta memberikan hasil penyembuhan luka yang lebih baik.

KESIMPULAN

Peningkatan konsentrasi HPMC terbukti berpengaruh terhadap sifat fisika kimia dan stabilitas hydrocolloid matrix diabetic wound healing ibuprofen. Seluruh sediaan memenuhi kriteria baik secara fisika maupun kimia. Konsentrasi HPMC sebesar 8,75% pada F1 dipilih sebagai formula optimal karena merupakan sediaan yang memiliki nilai DE 88,86%; CV keseragaman kandungan obat 15,78% dan keseragaman bobot 9,84%; persentase kandungan obat 77,2978%;memiliki nilai persentase moisture content 12,36% dan moisture absorption 14,88%; ketebalan 0,5 mm; pH larutan sediaan 6,70; nilai ketahanan pelipatan 25; steril; tidak berwarna, jernih, dan halus; dan stabil secara kimia.

16

Uji aktivitas dan histopatologi menunjukkan bahwa sediaan dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes.

Saran bagi penelitian selanjutnya, dapat dilakukan optimasi pembuatan, pencampuran dan pengeringan sediaan sehingga lebih homogen, uji persentase moisture content dapat menggunakan climatic chamber supaya lingkungan (suhu dan kelembaban) pada saat penyimpanan dapat lebih dikendalikan, dilakukan uji sterilitas pada formula sediaan, dan biopsy punch yang digunakan dapat dipilih dengan diameter yang lebih besar (7 mm) agar perbedaan lama penyembuhan luka dapat lebih terlihat.

Dokumen terkait