Hasil
Pengambilan sampel ikan nila dilakukan setiap 10 hari sekali selama 61 hari pemeliharaan. Adapun parameter yang diamati yaitu perbedaan kadar protein pada pakan dan taraf feeding rate yang menghasilkan berat rata, panjang rata-rata, laju pertumbuhan spesifik, feed convertion ratio (FCR), tingkat kelangsungan hidup serta data kualitas air. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah P1 (pakan dengan protein 39%), P2 (pakan dengan protein 31%), P3 (pakan dengan protein 26 %) dengan perlakuan F1 (feeding rate 3%), F2 (feeding rate 4%) dan F3 (feeding rate 5%).
Peningkatan bobot ikan nila (Oreochromis niloticus)
Data pengamatan terhadap peningkatan bobot ikan nila selama 61 hari masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 2. Untuk melihat peningkatan bobot rata-rata ikan nila disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Bobot rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan
Perlakuan Ulangan dijumlahkan kemudian dirata-ratakan. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa
Selanjutnya, data pada Tabel 5 dapat dilihat pada Gambar 3 yang disajikan dalam bentuk diagram batang untuk melihat peningkatan bobot ikan nila secara keseluruhan.
Gambar 3. Diagram peningkatan bobot ikan nila pada tiap perlakuan Hasil pada Gambar 3 menunjukkan laju peningkatan bobot rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan. Peningkatan bobot tertinggi berada pada interaksi P1F1 sebesar 12,05 g dan terendah pada interaksi P3F1 sebesar 8,49 g. Bobot ikan nila pada interaksi P1F1 di H1 penelitian berkisar pada 18,53 g hingga akhir penelitian mencapai 30,58 g. Kemudian diikuti oleh interkasi P2F2 pada H1 penelitian berkisar pada 18,55 gr hingga akhir penelitian sebesar 30,07 g, dan interaksi P3F3 pada H1 penelitian sebesar 18,43 g hingga akhir penelitian mencapai 29,36 g.
yang terendah berada pada interaksi P3F1 yang pada H1 penelitian sebesar 18,43 g hingga akhir penelitian hanya mencapai 26,93 g. Untuk melihat laju peningkatan bobot ikan nila selama 61 hari pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 4 yang disajikan dalam bentuk grafik.
Gambar 4. Grafik laju peningkatan bobot ikan nila selama 61 hari
Hasil pada Gambar 4 menunjukkan laju peningkatan bobot ikan nila yang pada seluruh perlakuan mengalami peningkatan dari hari ke hari. Diketahui bahwa interaksi P1F1 mengalami peningkatan bobot yang paling cepat dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh dari tiap variabel terhadap bobot ikan nila, dilanjutkan dengan uji anova yang hasilnya disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Analisis variansi terhadap bobot (g) ikan nila selama masa pemeliharaan Sumber
Keterangan : * Berpengaruh nyata
** Tidak berpengaruh nyata
Berdasarkan Tabel 6, pengaruh dari perlakuan yang diberikan selama 61 hari dapat dilihat dari nilai Fhitung. Jika nilai Fhitung > Ftabel maka terdapat pengaruh yang berbeda nyata dari perlakuan terhadap variabel yang diamati,
sedangkan jika nilai Fhitung < Ftabel maka tidak adanya pengaruh yang berbeda nyata terhadap variabel yang diamati. Dari Tabel 6, diketahui bahwa nilai Fhitung dari pakan sebesar 8,630 dimana nilai ini lebih besar dari nilai Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa variabel pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap peningkatan bobot ikan nila. Namun untuk nilai Fhitung dari variabel feeding rate sebesar 1,072 dan nilai ini lebih kecil dari nilai Ftabel yang artinya
variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot ikan nila.
Selanjutnya untuk interaksi antar perlakuan (pakan x feeding rate) terjadi pengaruh yang berbeda nyata karena nilai Fhitung sebesar 16,366 dan nilai ini lebih besar dari nilai Ftabel.
Setelah mendapatkan kesimpulan dari uji anova, maka dilakukan perhitungan koefisien keseragaman untuk mengetahui uji lanjutan yang akan dilakukan. Uji lanjutan dilakukan sesuai dengan kaidah statistik, dimana jika nilai koefisien keseragaman (KK) < 5% maka dilakukan uji BNJ, jika nilai KK 5 – 10% dilakukan uji BNT, dan jika nilai KK 10 – 20% dilakukan uji Duncan.
Karena hasil koefisien keseragaman terhadap peningkatan bobot ikan nila sebesar 5,72%, maka dilakukan uji BNT untuk melihat perbedaan wilayah (notasi) pada tiap perlakuan. Data perhitungan uji BNT dapat dilihat pada Lampiran 3.
Selanjutnya, data mentah selama penelitian diolah menggunakan bantuan program SPSS untuk mendapatkan nilai mean, standart error, dan anova secara keseluruhan untuk melihat signifikansi antar perlakuan. Nilai mean dan standart error terhadap peningkatan bobot ikan nila dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Mean dan standart error terhadap peningkatan bobot ikan nila P2F3 18,400a 19,986bc 22,086cd 23,590ab 25,536bc 26,700b 27,833b
± 0,140 ± 0,153 ± 0,753 ± 0,295 ± 0,168 ± 0,112 ± 0,095 P3F1 18,433a 19,406a 21,126a 22,936a 23,813a 25,920a 26,926a
± 0,071 ± 0,012 ± 0,042 ± 0,050 ± 0,108 ± 0,151 ± 0,200 P3F2 18,350a 19,410a 21,676b 23,183ab 25,120b 27,030bc 28,060b
± 0,144 ± 0,110 ± 0,117 ± 0,060 ± 0,138 ± 0,151 ± 0,438 P3F3 18,430a 19,853b 21,873bc 23,946bc 25,856cd 27,386cd 29,360cd
± 0,060 ± 0,032 ± 0,089 ± 0,078 ± 0,077 ± 0,247 ± 0,381 Keterangan : Perbedaan notasi a, b, c, d, e, f menunjukkan perbedaan yang signifikan antar
perlakuan
Berdasarkan Tabel 7, peningkatan bobot rata-rata ikan nila dapat dilihat dari nilai mean pada masing-masing perlakuan. Nilai mean diartikan sebagai nilai rata-rata suatu data. Nilai rata-rata tersebut didapatkan dari penjumlahan seluruh data sampling kemudian dibagi berdasarkan banyaknya data sampling. Sedangkan nilai standart error yang terdapat pada Tabel 7, mencerminkan keakuratan sampel. Jika nilai standart error semakin kecil, mengindikasikan bahwa sampling yang dilakukan selama penelitian representatif atau tergolong cukup mewakili populasi yang diteliti.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansi terhadap bobot ikan nila, maka dilanjutkan dengan uji anova dengan bantuan program SPSS yang hasilnya disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Analisis variansi keseluruhan terhadap bobot (g) ikan nila
Keterangan : * Berpengaruh nyata
Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata-rata perlakuan secara keseluruhan. Jika nilai signifikansi diatas 0,05 (t > 0,05) artinya terima H0 dimana tidak ada pengaruh yang nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen, dan jika nilai signifikansi dibawah 0,05 (t < 0,05) maka tolak H0 adanya pengaruh yang berbeda nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan Tabel 8, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,00. Dari nilai signifikansi t sebesar 0,00, diketahui bahwa nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang artinya tolak H0 terdapat pengaruh yang signifikan atau berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot ikan nila.
Pertambahan panjang ikan nila (Oreochromis niloticus)
Data pengamatan terhadap pertambahan panjang ikan nila selama 61 hari masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 4. Untuk melihat peningkatan rata-rata bobot ikan nila disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Panjang rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan
Perlakuan Ulangan
Berdasarkan Tabel 9, data tersebut diperoleh dari hasil perhitungan data mentah yang dijumlahkan kemudian dirata-ratakan. Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa pertambahan panjang rata-rata ikan nila berkisar antara 4,0 – 5,7 cm.
Selanjutnya, data pada Tabel 9 dapat dilihat pada Gambar 5 yang disajikan dalam bentuk diagram batang untuk melihat pertambahan panjang ikan nila pada tiap perlakuan.
Gambar 5. Diagram pertambahan panjang ikan nila pada tiap perlakuan Hasil pada Gambar 5 menunjukkan laju pertambahan panjang rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan. Pertambahan panjang tertinggi berada pada interaksi P1F1 sebesar 5,7 cm dan terendah pada interaksi P3F2 sebesar 4,0 cm.
Panjang ikan nila pada interaksi P1F1 di H1 penelitian berkisar pada 10,5 cm hingga akhir penelitian mencapai 16,2 cm. Kemudian diikuti oleh interkasi P2F2 pada H1 penelitian berkisar pada 10,5 cm hingga akhir penelitian sebesar 15,8 cm, dan interaksi P2F1 pada H1 penelitian sebesar 10,1 cm hingga akhir penelitian mencapai 15,0 cm, dan yang terendah berada pada interaksi P3F2 yang pada H1 penelitian sebesar 10,4 cm hingga akhir penelitian hanya mencapai 14,4
cm. Untuk melihat laju pertambahan panjang ikan nila selama 61 hari dapat dilihat pada Gambar 6 yang disajikan dalam bentuk grafik pertambahan panjang ikan nila.
Gambar 6. Grafik laju pertambahan panjang ikan nila selama 61 hari Hasil pada Gambar 6 menunjukkan laju pertambahan panjang ikan nila yang pada seluruh perlakuan mengalami peningkatan dari hari ke hari. Diketahui bahwa interaksi P1F1 mengalami peningkatan bobot yang paling cepat dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh tiap variabel terhadap panjang ikan nila, maka dilanjutkan dengan uji anova yang disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Analisis variansi terhadap panjang (cm) ikan nila Sumber
Keterangan : * Berpengaruh nyata
Berdasarkan Tabel 10, pengaruh dari perlakuan yang diberikan selama 61 hari dapat dilihat dari nilai Fhitung. Jika nilai Fhitung > Ftabel maka terdapat pengaruh yang berbeda nyata dari perlakuan terhadap variabel yang diamati, sedangkan jika nilai Fhitung < Ftabel maka tidak adanya pengaruh yang berbeda nyata terhadap variabel yang diamati. Dari Tabel 10, diketahui bahwa nilai Fhitung dari pakan sebesar 15,688 dimana nilai ini lebih besar dari nilai Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa variabel pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila. Untuk nilai Fhitung dari variabel feeding rate sebesar 8,332 dan nilai ini juga lebih besar dari nilai Ftabel yang artinya variabel ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila. Selanjutnya untuk interaksi antar perlakuan (pakan x feeding rate) juga terjadi pengaruh yang berbeda nyata karna nilai Fhitung sebesar 16,351
dan nilai ini lebih besar dari nilai Ftabel.
Setelah mendapatkan kesimpulan dari uji anova, maka dilakukan perhitungan koefisien keseragaman untuk mengetahui uji lanjutan yang akan dilakukan. Uji lanjutan dilakukan sesuai dengan kaidah statistik, dimana jika nilai koefisien keseragaman (KK) < 5% maka dilakukan uji BNJ, jika nilai KK 5 – 10% dilakukan uji BNT, dan jika nilai KK 10 – 20% dilakukan uji Duncan.
Karena hasil koefisien keseragaman terhadap pertambahan panjang ikan nila sebesar 10,98%, maka dilakukan uji BNT untuk melihat perbedaan wilayah (notasi) pada tiap perlakuan. Data perhitungan uji BNT dapat dilihat pada Lampiran 5.
Selanjutnya, data mentah selama penelitian diolah menggunakan program SPSS untuk mendapatkan nilai mean, standart error, dan anova secara
keseluruhan untuk melihat signifikansi antar perlakuan. Nilai mean dan standart error terhadap pertambahan panjang ikan nila yang dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Mean dan standart error terhadap pertambahan panjang ikan nila
Interaksi Hari ke- Keterangan : Perbedaan notasi a, b, c, d menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan
Berdasarkan Tabel 11, pertambahan panjang rata-rata ikan nila dapat dilihat dari nilai mean pada masing-masing perlakuan. Nilai mean diartikan sebagai nilai rata-rata suatu data. Nilai rata-rata tersebut didapatkan dari penjumlahan seluruh data sampling kemudian dibagi berdasarkan banyaknya data sampling. Sedangkan nilai standart error yang terdapat pada Tabel 11, mencerminkan keakuratan sampel. Jika nilai standart error semakin kecil, ini mengindikasikan bahwa sampling yang dilakukan selama penelitian representatif atau tergolong cukup mewakili populasi yang diteliti.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansi terhadap panjang ikan nila, maka dilanjutkan dengan uji anova yang hasilnya disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Analisis variansi keseluruhan terhadap panjang (cm) ikan nila
Keterangan : * Berpengaruh nyata
Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata-rata perlakuan secara keseluruhan. Jika nilai signifikansi diatas 0,05 (t > 0,05) artinya terima H0 artinya tidak ada pengaruh yang nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen, jika nilai signifikansi dibawah 0,05 (t < 0,05) maka tolak H0 terdapat pengaruh yang berbeda nyata dari tiap variabel. Berdasarkan Tabel 12, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,00. Dari nilai signifikansi t sebesar 0,00, diketahui bahwa nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang artinya tolak H0 terdapat pengaruh yang signifikan atau berpengaruh nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila.
Laju pertumbuhan spesifik ikan nila (Oreochromis niloticus)
Data terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan nila diperoleh dari bobot awal dan bobot akhir ikan nila yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Untuk mengetahui data perhitungan laju pertumbuhan spesifik ikan nila disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Data perhitungan laju pertumbuhan spesifik ikan nila
Perlakuan Bobot awal Bobot akhir Ln SGR(%)
Laju pertumbuhan spesifik ikan menunjukkan pertumbuhan ikan dalam harian. Berdasarkan Tabel 13, dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan spesifik ikan nila berkisar antara ± 0,62 – 0,82 %.
Selanjutnya, data pada Tabel 13 dapat dilihat pada Gambar 7 yang disajikan dalam bentuk diagram batang untuk melihat laju pertumbuhan spesifik ikan nila.
Gambar 7. Diagram laju pertumbuhan spesifik ikan nila secara keseluruhan Hasil pada Gambar 7 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik tertinggi berada pada interaksi P1F1 sebesar 0,82 % dan laju pertumbuhan spesifik terendah berada pada interaksi P3F1 sebesar 0,62 %.
Selanjutnya, untuk mengetahui laju pertumbuhan spesifik ikan nila per 10 hari yang diolah dengan bantuan program SPSS, dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Diagram laju pertumbuhan spesifik ikan nila per 10 hari
Laju pertumbuhan spesifik menjelaskan bahwa ikan mampu memanfaatkan nutrisi dalam pakan untuk disimpan dalam tubuh dan mengkonversinya menjadi energi. Laju pertumbuhan spesifik akan berbeda pada tiap ikan karna dipengaruhi oleh kualitas air dan kondisi internal ikan tersebut.
Gambar 8 menunjukkan laju pertumbuhan spesifik ikan nila yang mengalami fluktuasi dari hari ke-1 hingga hari ke-61, laju pertumbuhan spesifik ini menggambarkan pertambahan panjang dan peningkatan bobot harian dalam persen. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi terjadi pada hari ke-21 sebesar 2,07
%, ini dikarenakan kondisi kualitas air yang optimal dan tubuh ikan menyerap pakan dengan sangat baik, sedangkan laju pertumbuhan spesifik terendah terdapat pada hari ke-61 sebesar 1,36%.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dilakukan pengolah data lanjutan secara keseluruhan (dari H1 sampai H61 penelitian) dengan bantuan program SPSS untuk mendapatkan nilai mean dan standart error terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR) ikan nila dan disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Mean dan standart error terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan nila Keterangan : Perbedaan notasi a, b, c, d menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan
Berdasarkan Tabel 14, laju pertumbuhan spesifik rata-rata ikan nila dapat dilihat dari nilai mean pada masing-masing perlakuan. Nilai mean diartikan sebagai nilai rata-rata suatu data. Nilai rata-rata tersebut didapatkan dari penjumlahan seluruh data sampling kemudian dibagi berdasarkan banyaknya data sampling. Sedangkan nilai standart error yang terdapat pada Tabel 14, mencerminkan keakuratan sampel. Jika nilai standart error semakin kecil, ini mengindikasikan bahwa sampling yang dilakukan selama penelitian representatif atau tergolong cukup mewakili populasi yang diteliti.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansi terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan nila, dilanjutkan dengan uji anova yang disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Analisis variansi terhadap laju pertumbuhan spesifik (%) ikan nila
Keterangan : * Berpengaruh nyata
Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata-rata perlakuan secara keseluruhan. Jika nilai signifikansi diatas 0,05 (t > 0,05) artinya terima H0 artinya tidak ada pengaruh yang nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen, dan jika nilai signifikansi dibawah 0,05 (t < 0,05) maka tolak H0 terdapat pengaruh yang berbeda nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan Tabel 15, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,00. Dari nilai signifikansi t sebesar 0,00, nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang artinya tolak H0 terdapat pengaruh yang signifikan atau berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan nila.
Tingkat kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus)
Data pengamatan terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama 61 hari masa pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 7. Untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16. Tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan
Perlakuan Ulangan
Berdasarkan Tabel 16, data tersebut diperoleh dari hasil perhitungan data mentah yang dijumlahkan kemudian dirata-ratakan. Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila berkisar antara 70,0% - 80,0%.
Selanjutnya, data pada Tabel 16 dapat dilihat pada Gambar 9 yang disajikan dalam bentuk diagram batang untuk melihat tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan selama masa pemeliharaan.
Gambar 9. Diagram tingkat kelangsungan hidup ikan nila pada tiap perlakuan Hasil pada Gambar 6 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila pada tiap perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi berada pada interaksi P1F1 sebesar 80,0% dan terendah pada interaksi P2F2 sebesar 70,0%.
Selanjutnya untuk melihat tingkat kelangsungan hidup ikan nila dan jumlah ikan yang mati selama masa pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 10 yang disajikan dalam bentuk grafik.
Gambar 10. Grafik tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama 61 hari Hasil pada Gambar 10 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup ikan nila yang pada seluruh perlakuan mengalami fluktuasi dari hari ke hari. Diketahui bahwa kematian tertinggi terjadi pada hari ke-21 pada interaksi P2F3 sebanyak 5 ekor dan hari ke-31 pada interaksi P2F2 sebanyak 5 ekor. Kematian ini terjadi dikarenakan biomassa ikan yang semakin meningkat yang menyebabkan persaingan ikan dalam mendapatkan makanan dan oksigen tinggi dan mengakibatkan terjadinya kanibalisme antar ikan.
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh dari tiap variabel terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila, dilanjutkan dengan uji anova yang hasilnya disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Analisis variansi terhadap tingkat kelangsungan hidup (%) ikan nila Sumber
Berdasarkan Tabel 17, pengaruh dari perlakuan yang diberikan selama 61 hari dapat dilihat dari nilai Fhitung. Jika nilai Fhitung > Ftabel maka terdapat pengaruh yang berbeda nyata dari perlakuan terhadap variabel yang diamati, sedangkan jika nilai Fhitung < Ftabel maka tidak adanya pengaruh yang berbeda nyata terhadap variabel yang diamati. Dari Tabel 17, diketahui bahwa nilai Fhitung dari pakan sebesar 1,306 dimana nilai ini lebih kecil dari nilai Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa variabel pakan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila. Untuk nilai Fhitung dari variabel feeding rate sebesar 0,571 dan nilai ini juga lebih kecil dari nilai Ftabel yang artinya variabel ini tidak memberikan berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila. Selanjutnya untuk interaksi antar perlakuan (pakan x feeding rate) juga tidak terjadi pengaruh yang berbeda nyata dengan nilai Fhitung sebesar 0,693 dan nilai ini lebih kecil dari nilai Ftabel.
Setelah mendapatkan kesimpulan dari uji anova, maka dilakukan perhitungan koefisien keseragaman untuk mengetahui uji lanjutan yang akan dilakukan. Uji lanjutan dilakukan sesuai dengan kaidah statistik, dimana jika nilai koefisien keseragaman (KK) < 5% maka dilakukan uji BNJ, jika nilai KK 5 – 10% dilakukan uji BNT, dan jika nilai KK 10 – 20% dilakukan uji Duncan.
Karena hasil koefisien keseragaman terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila sebesar 7,71% maka dilakukan uji BNT untuk melihat perbedaan wilayah (notasi) pada tiap perlakuan. Data perhitungan uji BNT dapat dilihat pada Lampiran 8.
Selanjutnya, data mentah selama penelitian diolah menggunakan program SPSS untuk mendapatkan nilai mean, standart error, dan anova secara
keseluruhan untuk melihat signifikansi antar perlakuan. Nilai mean dan standart error terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Mean dan standart error terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila
Interaksi Hari ke- Keterangan : Perbedaan notasi a, b, c, d menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan
Berdasarkan Tabel 18, tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila dapat dilihat dari nilai mean pada masing-masing perlakuan. Nilai mean diartikan sebagai nilai rata-rata suatu data. Nilai rata-rata tersebut didapatkan dari penjumlahan seluruh data sampling kemudian dibagi berdasarkan banyaknya data sampling. Sedangkan nilai standart error yang terdapat pada Tabel 18, mencerminkan keakuratan sampel. Jika nilai standart error semakin kecil, ini mengindikasikan bahwa sampling yang dilakukan selama penelitian representatif atau tergolong cukup mewakili populasi yang diteliti.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansi terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila, maka dilanjutkan dengan uji anova yang disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19. Analisis variansi keseluruhan terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila
Keterangan : ** Tidak berpengaruh nyata
Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata-rata perlakuan secara keseluruhan. Jika nilai signifikansi diatas 0,05 (t > 0,05) artinya terima H0 artinya tidak ada pengaruh yang nyata dari variabel independen terhadap variable dependen, dan jika nilai signifikansi dibawah 0,05 (t < 0,05) maka tolak H0 adanya pengaruh yang berbeda nyata dari variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan Tabel 19, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 1,00. Dari nilai signifikansi t sebesar 1,00, nilai ini lebih besar dari 0,05 yang artinya terima H0 dan tidak terdapat pengaruh yang signifikan atau berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan nila.
Selanjutnya untuk mengetahui frekuensi kematian ikan nila berdasarkan data yang diolah menggunakan program SPPS, hasilnya disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20. Frekuensi kematian ikan nila selama penelitian Statistics
ikan H1 H11 H21 H31 H41 H51 H61
N Valid 270 270 270 270 270 270 270 270
Percent 100.0 100.0 100.0 92.6 88.9 88.9 85.2 66.7
Range 0 0 0 3 3 3 2 1
Berdasarkan Tabel 20, nilai percent menunjukkan persentase kehidupan
ke-11 masih 100% dimana belum terjadi kematian pada ikan. Pada hari ke-21 ikan nila mulai mengalami kematian yang disebabkan oleh biomassa ikan yang semakin meningkat sehingga terjadi persaingan makanan dan oksigen yang semakin tinggi. Nilai range menunjukkan kisaran angka kematian yang terjadi dalam 10 hari. Dari hari ke-21 hingga hari ke-41 range kematian ikan diatas 3 ekor, sedangkan di hari ke-51 range kematian ikan diatas 2 ekor dan di hari ke-61 range kematian ikan diatas 1 ekor. Hingga akhir penelitian hanya tersisa 66,7%
ikan nila yang masih hidup Feed convertion ratio (FCR)
Pengamatan terhadap feed convertion ratio (FCR) ikan nila diperoleh dari jumlah pemberian pakan data bobot ikan nila yang dapat dilihat pada Lampiran 9.
Sedangkan data perhitungan FCR tiap perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 10.
Untuk melihat data feed convertion ratio (FCR) ikan nila secara keseluruhan disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21. Data feed convertion ratio (FCR) ikan nila pada tiap perlakuan
Perlakuan FCR
Data pada Tabel 21 menunjukkan bahwa rasio pemberian pakan terendah terdapat pada interaksi P1F1 sebesar 1,77% dan tertinggi terdapat pada interaksi P2F3 sebesar 3,99%. Selanjutnya, data pada Tabel 21 dapat dilihat pada Gambar
11 yang disajikan dalam bentuk diagram batang untuk melihat feed convertio ratio (FCR) ikan nila secara keseluruhan.
Gambar 11. Diagram feed convertion ratio (FCR) ikan nila secara keseluruhan Feed convertio ratio (FCR) dalam kegiatan budidaya diperlukan untuk
Gambar 11. Diagram feed convertion ratio (FCR) ikan nila secara keseluruhan Feed convertio ratio (FCR) dalam kegiatan budidaya diperlukan untuk