• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Ikan nila berasal dari Sungai Nil, Mesir. Ikan nila berpotensi besar sebagai ikan budidaya terkait potensinya sebagai ikan yang toleran terhadap kondisi lingkungan, survive pada kerapatan tinggi, dan mengandung 65 % hingga 75 % protein dari biomassanya. Oreochromis niloticus merupakan nama ilmiah ikan nila yang resmi digunakan sekitar 30 tahun yang lalu (Arafat et al., 2015).

Gambar 2. Ikan nila (Oreochromis niloticus)

Sumber : Dokumentasi pribadi

Menurut Pujiastuti (2015), ikan nila memiliki ciri-ciri yang menyerupai ikan mujair, namun secara sistematik atau taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Osteichtyes Ordo : Percomorphi Famili : Cichlidae Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Secara umum, bentuk tubuh ikan nila panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar dan menonjol. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah badan kemudian berlanjut. Ikan nila memiliki rupa yang mirip dengan ikan mujair, tetapi ikan ini berpunggung lebih tinggi dan lebih tebal, ciri khas lain adalah garis-garis kearah vertikal disepanjang tubuh yang lebih jelas dibanding badan sirip ekor dan sirip punggung. Sebagian besar tubuh ikan ditutupi oleh lapisan kulit dermis yang memiliki sisik. Jumlah sisik pada gurat sisi sebanyak 34 buah (Ridho, 2015).

Habitat merupakan lingkungan hidup tertentu sebagai tempat tumbuhan atau hewan hidup dan berkembang biak. Ikan nila besifat eurihaline yang menyebabkan Ikan nila dapat hidup di dataran rendah yang berair tawar hingga perairan bersalinitas, sehingga pembudidayaannya sangat mudah. Ikan nila dapat hidup pula pada perairan yang dalam dan luas maupun dikolam yang sempit dan dangkal, Nila juga dapat hidup di perairan sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, danau, rawa, sawah, tambak air payau, ataupun di dalam jaring terapung di laut. Termasuk di kolam beton dan kolam terpal. Kualitas air yang kurang baik mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat (Pujiastuti, 2015).

Feeding Rate

Kebutuhan pakan harian dinyatakan sebagai tingkat pemberian pakan per hari yang ditentukan berdasarkan persentase dari bobot ikan. Secara berkala, jumlah pakan harian ikan disesuaikan dengan penambahan bobot ikan dan perubahan populasi. Informasi bobot rata-rata dan populasi diperoleh dari kegiatan pemantauan ikan dengan cara sampling (Effendi, 2004).

Salah satu upaya untuk efisiensi pakan dalam budidaya ikan adalah dengan penerapan manajemen pemberian pakan yang baik. Tujuannya agar pakan yang diberikan pada ikan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pertumbuhan yang tinggi sehingga didapatkan laju pertumbuhan tinggi dan nilai ratio konversi pakan yang rendah, serta meminimalkan sisa pakan dan feses serta ekskresi hasil metabolik ke lingkungan budidaya (Bokau et al., 2014).

Dalam pemberian pakan ikan perlu memperhatikan beberapa aspek penting yaitu, penggunaan pakan yang berkualitas baik sesuai dengan kebutuhan ikan, menentukan berapa jumlah minimal pakan yang diberikan setiap hari (feeding rate) dan menentukan berapa kali minimal ikan yang dipelihara harus diberi pakan dalam sehari (feeding frekuensi). Aspek-aspek yang berkaitan dengan pemberian pakan ikan tersebut harus mempertimbangkan beberapa aspek budidaya terutama tingkah laku makan ikan (kebiasaan dan cara makan) dan kondisi optimal lingkungan hidupnya (Helpher, 1990).

Makan dan Kebiasaan Makan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Makanan sangat penting untuk pertumbuhan ikan karena makanan berfungsi dalam pertumbuhan sel organisme. Makanan adalah organisme,bahan, maupun zat yang dimanfaatkan ikan untuk menunjang kehidupan organ tubuhnya.

Kebiasaan makan adalah tingkah laku ikan saat mengambil dan mencari makanan.

Prinsip yang kemudian dikembangkan adalah dengan mengidentifikasi pencernaan (makanan yang telah dimakan ikan) (Anhar, 2015).

Makanan alami ikan terdiri atas berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di perairan. Keberadaan suatu jenis ikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberadaan makanan dengan mengetahui kebiasaan makanan ikan.

Ikan nila memakan makanan alami berupa plankton, perifiton dan tumbuhan lunak seperti hydrilla, ganggang sutera dan klekap. Oleh karena itu Ikan nila digolongkan ke dalam omnivora (pemakan segala) (Az Zahra, 2019).

Ikan nila saat masih benih, pakannya berupa plankton dan lumut sedangkan jika sudah dewasa akan diberi makanan tambahan seperti pelet. Untuk memelihara ikan nila, diberikan pakan pelet yang mengandung protein 20 – 26 - 28%. Menurut penelitian sebelumnya, nila yang diberikan pelet yang mengandung protein 26 - 28% akan tumbuh secara optimal. Untuk memacu pertumbuhan ikan nila, pakan yang diberikan hendaknya mengandung protein 25 – 39 - 41%

(Kordi, 2010).

Frekuensi pemberian pakan untuk benih berbeda (lebih sering) dengan ikan yang sudah dewasa. Hal ini disebabkan larva atau benih lebih banyak membutuhkan energi untuk pemeliharaan, perkembangan, serta penyempurnaan organ-organ di dalam tubuhnya (Affandi et al, 2005). Untuk ikan nila, frekuensi pemberian pakannya lebih sering karena ukuran lambungnya relatif lebih kecil seperti tabling lurus. Menurut Gwither dan Grove (1981), makin kecil kapasitas lambung maka makin cepat waktu pengosongan lambung sehingga frekuensi pemberian pakan yang dibutuhkan lebih sering.

Pakan Ikan

Pakan ikan harus memiliki sifat fisik dan mekanik yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Karakteristik pakan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada ikan serta menetukan tingkat penerimaan pada para pembudidaya ikan. Syarat pakan yang berkualitas tinggi adalah yang memiliki kandungan nutrisi yang lengkap, mudah dicerna oleh ikan dan tidak mengandung

zat-zat berbahaya bagi ikan. Di samping itu, pakan harus memiliki bentuk fisik yang tahan lama serta mampu bertahan selama proses penanganan dan pengangkutan (Yunaidi et al., 2019).

Salah satu bentuk pakan ikan yang paling banyak digunakan adalah pelet.

Pelet tersedia dalam mengandung berbagai macam bahan mentah yang dicampur untuk menghasilkan makanan seimbang. Pelet harus mengandung kualitas dan kuantitas yang tepat dalam berbagai kandungan gizi yakni protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral (Romansyah, 2015).

Pelet adalah bentuk pakan buatan yang dibuat dari beberapa macam bahan yang diramu dan dijadikan adonan, kemudian dicetak sehingga merupakan batangan atau bulatan kecil-kecil dengan ukuran tertentu. Jadi pelet tidak berupa tepung, tidak berupa butiran, dan tidak berupa larutan. Pelet dikenal sebagai bentuk massa dari bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dengan cara menekan melalui lubang cetakan secara mekanis (Yunaidi et al., 2019).

Jenis pakan yang diberikan pada ikan nila yaitu pakan jenis pelet dengan kandungan protein sekitar 14 – 16 %. Konversi pakan dan efisiensi pakan merupakan indikator untuk menentukan efektifitas pakan. Konversi pakan dapat diartikan sebagai kemampuan spesies akuakultur mengubah pakan menjadi daging. Nilai konversi pakan menunjukkan bahwa sejauh mana makanan efisien dimanfaatkan oleh ikan peliharaan. Oksigen secara tidak langsung mempengaruhi besar kecilnya konversi pakan (Amalia et al., 2018).

Pelet adalah pakan yang melaui mekanisme pabrik atau campur tangan manusia yang diolah sedemikian rupa. Adapun kebutuhan protein ikan nila untuk tumbuh optimal berkisar 28-35 %. Pelet berkode B memiliki keunggulan yaitu

menggunakan bahan baku yang berkualitas tinggi dan dipilih untuk tumbuh secara selektif, memiliki nutrisi yang tinggi dengan kandungan protein yang sesuai untuk pertumbuhan ikan. Mempunyai atractant yang kuat, merangsang nafsu makan ikan dan ukuran pakan sesuai dengan bukaan mulut ikan sehingga mudah dicerna dengan baik, diformulasikan khusus untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan dan menghasilkan pertumbuhan yang maksimum, diproduksi di bawah pengawasan kontrol kualitas yang ketat untuk menjamin hasil produk yang terbaik (CP Pertiwi, 2017).

Pakan berkode A adalah pakan larva dan benih ikan kualitas terbaik.

Pakan ini dibuat dari bahan baku kualitas premium dengan nutrisi yang efektif untuk pertumbuhan ikan lebih cepat, diproses dengan teknologi terkini dengan pengawasan mutu yang ketat sehingga kualitas pakan lebih terjamin. Keunggulan pakan ikan A adalah memiliki komposisi bahan kualitas terbaik, menseragamkan ukuran ikan, memperpanjang umur ikan dan menjaga kualitas air (MS, 1988).

Pakan dengan kode C merupakan perusahaan pakan ternak yang menduduki peringkat kedua dalam penguasaan pangan pasar pakan ternak di Indonesia. Perusahaan selalu menjaga kualitas pakan ternak yang diproduksi. Baik buruknya kualitas dari pakan ternak ini hanya dilihat dari kandungan nutrisi pakan yang sesuai dengan spesifikasi tanpa adanya pengendalian kualitas secara statistik.

Salah satu produk dari perusahaan ini adalah pelet C yang merupakan pelet terapung pada ikan nila. Pelet ini dapat menaikkan berat ikan secara optimal dengan nilai FCR yang baik. Pelet ini dapat mengoptimalkan kelangsungan hidup pada ikan nila dengan limbah sisa pelet yang minimum (Comfeed, 2018).

Kebutuhan Nutrisi Ikan

Ikan membutuhkan energi untuk dapat tumbuh dan berkembang, dimana energi tersebut berasal dari nutrisi yang dikonsumsi oleh ikan. Menurut Lovell (1989), faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi pada ikan diantaranya adalah jumlah dan jenis asam amino esensial, kandungan protein yang dibutuhkan, kandungan energi pakan dan faktor fisiologis ikan. Campuran yang seimbang dari bahan penyusun pakan serta kecernaan pakan merupakan dasar untuk penyusunan formulasi pakan yang sesuai dengan kebutuhan pakan ikan.

Ikan nila akan memperlihatkan pertumbuhannya yang baik apabila diberi pakan dengan formulasi yang seimbang, dimana didalamnya terkandung bahan-bahan seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan serat (Fitzsimmons, 1997).

Halver (1989) menyebutkan bahwa protein merupakan komponen organik terbesar pada jaringan tubuh ikan, karena sekitar 65-75% dari total bobot tubuh ikan terdiri dari protein. Protein digunakan untuk mempertahankan kondisi tubuh, memperbaiki jaringan tubuh yang rusak dan untuk pertumbuhan. Menurut Webster dan Lim (2002), kadar protein yang optimal dalam menunjang pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus berkisar antara 28% - 50%, nilai ini akan menjadi lebih rendah apabila pemeliharaan dilakukan di kolam dengan mempertimbangkan kehadiran pakan alami yang juga dapat memberikan kontribusi protein dalam jumlah tertentu. Hal ini disebabkan sifat ikan nila yang omnivor. Untuk pemeliharaan ikan nila yang ukurannya mencapai 50 gram per ekor perlu diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein antara 25 – 31%, agar dapat tumbuh dengan baik (Suyanto, 1998).

Kemampuan nila dalam mencerna pakan alami cukup tinggi seperti fitoplankton, zooplankton, detritus serta organisme bentik. Selain itu, melalui hasil analisa Schroeder (1983) dalam Lovell (1989) terhadap usus tilapia yang dipelihara pada kolam intensif, ditemukan bahwa 50% isi usus merupakan pakan alami. Sementara itu kebutuhan beberapa asam amino esensial bagi tubuh Ikan nila dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Asam Amino Esensial Ikan Nila

Asam Amino Esensial % Dalam Protein

Arginin 4,20

Sumber : *) Santiago dan Lovell (1998) dalam Webter dan Lim (2002) **) ditambah Cystin, kebutuhan sebesar 3,21% dalam pakan

***) ditambah Tyrosin, kebutuhan sebesar 5,54% dalam pakan

Kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan ikan berbeda menurut jenis dan ukurannya. Pada nutrisi ikan, protein merupakan komponen organik utama yang bahannya dari jaringan tubuh hewan, 65-75% protein berperan sebagai sumber energi dan sebagai zat pembangun dan pengatur untuk pertumbuhan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Halver (2002), bahwa protein berperan sebagai sumber berbagai zat yang menentukan pertumbuhan ikan. Berdasarkan penelitian dari Nioede et al. (2016) nilai komposisi nutrisi pakan yang diberikan diketahui bahwa tingginya pertumbuhan panjang mutlak benih ikan nila yang diberi perlakuan pakan A disebabkan oleh kandungan protein pada pakan tersebut yang lebih besar dibanding pakan lainnya.

Feed Convertion Ratio (FCR)

Feed convertion ratio adalah rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk

menghasilkan daging ikan. Semakin kecil nilai FCR, maka menunjukkan indikasi baik dari pakan berkualitas tinggi. Pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari dengan dosis 3% dari bobot ikan mampu meingkatkan berat tubuh ikan nila secara optimal. Sesuai dengan hasil penelitian Popma dan Lovshin (1994), berat tubuh ikan meningkat secara optimal jika diberi pakan sebanyak 2,5 – 4% dari berat tubuh ikan (Salsabila dan Suprapto, 2018).

Jumlah dosis pakan yang dibutuhkan untuk ikan nila berkisar 3 – 7% dari berat biomassa, karena pemberian dosis pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan budidaya ikan nila. Menurut penelitian dari Nuraeni (2004), budidaya ikan nila membutuhkan pakan dengan kandungan protein 25 – 41%. Namun dari pakan yang diberikan hanya 26 - 28% yang dikonversi sebagai hasil produksi dan sisanya terbuang sebagai limbah. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas air sehingga menyebabkan pertumbuhan ikan terganggu.

Untuk mencapai produksi semaksimal mungkin maka perlu diperhatikan tingkat pemberian pakan (feeding rate) yang tepat untuk pertumbuhan yang optimal.

Efisiensi pakan adalah bobot basah daging ikan yang diperoleh per satuan berat kering pakan yang diberikan. Hal ini sangat berguna untuk membandingkan nilai pakan yang mendukung pertambahan bobot. Efisiensi pakan berubah sejalan dengan tingkat pemberian pakan dan ukuran ikan. Efisiensi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kualitas pakan, jumlah pakan, spesies ikan, ukuran ikan dan kualitas air (Amalia et al., 2018).

Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Pertumbuhan merupakan proses utama dalam hidup ikan, selain reproduksi. Pertumbuhan adalah perubahan ukuran ikan dalam jangka waktu tertentu, ukuran ini bisa dinyatakan dalam satuan panjang, bobot maupun volume.ikan tumbuh terus sepanjang hidupnya, sehingga dikatakan bahwa ikan mempunyai sifat pertumbuhan tidak terbatas (Rahardjo et al., 2011).

Terdapat dua macam pertumbuhan yaitu petumbuhan mutlak dan pertumbuhan relatif. Pertumbuhan mutlak adalah pertambahan bobot atau panjangikan pada saat umur tertentu, sedangkan pertumbuhan relatif adalah perbedaan antara ukuran pada akhir interval dengan ukuran pada awal interval dibagi dengan ukuran pada awal interval. Pertumbuhan merupakan proses biologis yang komplek dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis.

Hal ini terjadi apabila ada kelebihan input energy dan asam amino (protein) berasal dari makanan (Effendie, 1997).

Ditinjau dari segi pertumbuhan, ikan nila merupakan jenis ikan yang memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan dapat mencapai bobot tubuh yang jauh lebih besar dengan tingkat produktivitas yang cukup tinggi. Menurut Khairuman dan Amri (2003), pertumbuhan ikan ini tergolong cepat karena pada umur 4-5 bulan sudah mencapai fase dewasa. Ikan nila yang masih berukuran kecil pada umumnya lebih tahan terhadap perubahan lingkungan, dibandingkan dengan ikan nila yang berukuran besar. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Suyanto (2010), bahwa ikan nila akan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan ikan nila dewasa.

Pertumbuhan akan mengalami peningkatan dengan meningkatnya jumlah pemberian pakan. Tingkat pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan akan memberikan pertumbuhan yang optimum. Pertumbuhan sangat erat hubungannya dengan pakan karena pakan memberikan nutrisi dan energi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan. Pertumbuhan terjadi apabila terdapat kelebihan energi setelah energi yang tersedia digunakan untuk metabolisme standar, pencernaan, dan aktivitas (Pratiwi et al., 2011).

Laju Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate/SGR)

Pertumbuhan menurut Mudjiman (1998) yang dikutip oleh Hermawan et al. (2012) didefenisikan sebagai perubahan ikan dalam berat ukuran maupun volume seiring dengan berubahnya waktu. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor menurut Harper dan Pruginin (1981) dalam Utami (2001) yaitu hubungan dengan keadaan ikan itu sendiri seperti genetik dan keadaan fisiologis, kemudian lingkungan tempat hidup ikan, kualitas air seperti sifat fisika kimia air, suhu, sisa metabolisme, oksigen dan pakan. Maryam (2010) mengemukakan bahwa ikan memiliki batas tertentu (carrying capacity) dimana pertumbuhannya akan terhenti sama sekali. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain kualitas air, pakan dan ukuran ikan.

Laju pertumbuhan spesifik (specific growth rate) merupakan kecepatan pertumbuhan seiring pertambahan waktu (Rasidi, 2012). Laju pertumbuhan spesifik menjelaskan bahwa ikan mampu memanfaatkan nutrisi pakan untuk disimpan dalam tubuh dan mengkonversinya menjadi energi. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain umur, ukuran ikan dan kepadatan.

Masing-masing jenis ikan mempunyai nilai SGR tertentu yang tergantung pada kualitas air (Putri, 2014).

Pertumbuhan terjadi apabila ikan hidup pada lingkungan yang optimum serta kebutuhan makanan yang mencukupi. Kekurangan pakan akan memperlambat laju pertumbuhan ikan dan ruang gerak merupakan faktor luar yang mempengaruhi laju pertumbuhan spesifik, dengan adanya ruang gerak yang cukup luas ikan dapat bergerak secara maksimal. Padat penebaran yang tinggi ikan mempunyai daya saing di dalam memanfaatkan makanan dan ruang gerak, sehingga akan mempengaruhi laju pertumbuhan ikan (Herawati et al., 2018).

Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Kelangsungan hidup merupakan peluang hidup suatu individu dalam waktu tertentu. Kelangsungan hidup ditentukan oleh kualitas induk, kualitas telur, kualitas air, serta perbandingan antara jumlah pakan dan padat tebar. Tingkat kelangsungan hidup akan menentukan produksi yang diproleh dan erat kaitannya dengan ukuran ikan yang dipelihara. Pakan yang mempunyai nutrisi yang baik sangat berperan dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan mempercepat pertumbuhan ikan (Amalia et al., 2018).

Kelangsungan hidup yaitu persentase jumlah ikan yang hidup selama masa pemeliharaan tertentu. Padatnya populasi akan mengganggu proses fisiologis dan tingkah laku ikan sehingga ikan mengalami stress. Terganggunya proses fisiologis menyebabkan penurunan pemanfaatan makanan oleh tubuh, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup (Hepher dan Pruginin, 1981).

Kelangsungan hidup ikan nila pada setiap perlakuan merupakan rata-rata persentase dari jumlah ikan yang hidup dan jumlah ikan yang ditebar selama

pemeliharaan. Berdasarkan penelitian (Aliyas et al., 2018), peningkatan salinitas dari 0 ppt sampai 30 ppt tidak mempengaruhi kelangsungan hidup ikan nila.

Kondisi ini disebabkan ikan nila bersifat euryhaline sehingga mampu mentoleransi salinitas sampai 30 ppt. Sesuai pendapat (Kordi, 2013), ikan nila dapat hidup dengan salinitas 0 ppt sampai 35 ppt.

Menurut Nugroho et al. (2012), pada sistem akuaponik faktor padat tebar tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila. Kepadatan 200, 400 dan 600 ekor yang diteliti dengan ukuran kolam sebesar 2 m2 (setara dengan 0,2; 0,4; 0,6 ekor per liter) masih layak untuk dikembangkan dalam pendederan ikan nilaistem akuaponik. Ikan nila mengalami stres saat pemindahan dari lingkungan lama ke lingkungan baru merupakan salah satu penyebab kematian ikan. Kepadatan tebar ikan 1 ekor per 2 liter (atau setara dengan 0,5 ekor per liter) masih layak untuk sistem akuaponik.

Parameter Kualitas Air Suhu

Wijayanti et al. (2019) menyebutkan bahwa pengukuran suhu dan pH dilakukan pada awal pemeliharaan sampai akhir pemeliharaan dan pengukurannya dilakukan setiap hari dengan tujuan untuk mengetahui perubahan suhu pada air setiap harinya. Pengukuran dilakukan dengan menenggelamkan bagian badan sensoris dari termometer, posisi thermometer dipertahankan sampai nilai yang tertera di layar digital stabil.

Menurut Mahendra (2018), suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik dilautan maupun diperairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan

meningkatkan sejalan dengan kenaikan suhu dapat menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebebkan kematian bila peningkatan suhu eksrim. Suhu menjadi faktor pembatas bagi kegiatan budidaya karena mampu mempengaruhi berbagai reaksi fisika dan kimia di lingkungan dan tubuh ikan. Suhu terkait pula dengan parameter air lainnya, diantaranya adalah oksigen terlarut. Pada level suhu yang meningkat, kandungan oksigen berkurang karena proses metabolisme lebih cepat.

Adanya peningkatan suhu pada air media pemeliharaan disebabkan oleh penempatan wadah pemeliharaan. Selama penelitian lokasi pemeliharaan benih ikan nila berada di luar ruangan. Berdasarkan Effendi (2003), bahwa cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan energi panas. Sehingga wadah pemeliharaan terpapar langsung pada sinar matahari dan mengakibatkan nilai suhu air media pemeliharaan mengalami perubahan pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Kisaran suhu untuk produksi ikan nila kelas pembesaran di kolam air tenang adalah 25-320C (BSNI, 2009) dan menurut Kordi (2009), suhu optimal untuk pertumbuhan ikan nila yaitu 25-300C.

Menurut SNI:7550-2009, Kordi (2010) dan PP No 82 tahun 2001 (kelas II), persyaratan media air untuk budidaya ikan nila dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Persyaratan media air untuk budidaya ikan nila

Jenis Uji Satuan Persyaratan

Suhu °C 25 – 32a

pH - 6,5 – 8,5b

Oksigen Terlarut Mg/L Min. 5a

Amoniak Mg/L Maks. 0,02a

Nitrat Mg/L Maks. 50c

Nitrit Mg/L Maks. 0,2c

Sumber : a. SNI:7550-2009; b. Kordi (2010); c. PP no. 82 tahun 2001 (kelas II)

pH (Derajat keasaman)

Derajat keasaman (pH) merupakan ukuran asam basa dalam suatu perairan. Menurut Boyd (1982) pH ideal untuk kehidupan ikan yaitu 6.5-9.0.

Sedangkan Alabaster and Lloyd (1982) menyatakan bahwa pH ideal ialah 6,7-8,6.

Selanjutnya disampaikan bahwa pH yang rendah dapat menyebabkan kenaikan toksisitas dalam suatu perairan yang lama kelamaan akan menyebabkan penurunan nafsu makan ikan (Alabaster and Lloyd, 1982). Nilai pH di bawah 4 dan di atas 11 menyebakan kematian pada ikan.

Kenaikan pH terjadi pada siang hari menunujukkan terjadinya proses kimia dan biologi berupa proses fotosintesis dari fitoplankton, mikroalga, dan tanaman air lainnya yang menghasilkan O2, sehingga nilai pH air kolam tersebut naik. Sedangkan, pada waktu malam hari sampai menjelang pagi hari, semua biota di dalam air termasuk ikan yang sedang dibudidayakan mengalami respirasi, sehingga menghasilkan senyawa CO2 yang menyebabkan pH air kolam tersebut turun. Selain itu, pada siang hari banyaknya daun, sampah, dan kotoran binatang masuk ke dalam kolam pemeliharaan benih menyebabkan nilai pH naik. Dampak perubahan pH secara ekstrem dan melebihi standar acuan, dapat menyebabkan terganggunya metabolisme, pertumbuhan menurun, dan ikan mudah terserang penyakit dan stres (Pramleonita et al., 2018).

Menurut Mahendra (2018), air yang mendekati basa dapat lebih cepat proses pembongkaran bahan anorganik menjadi garam mineral seperti amonia, nitrat dan phosfat. Garam mineral tersebut akan diserap oleh tumbuh-tumbuhan dalam air, yang menjadi makanan alami bagi ikan. Pada umumnya perairan yang basa lebih produktif dari perairan yang asam (Soeseno, 1983). Jadi apabila dilihat

pada kisaran pH, perairan yang digunakan untuk penelitian ini termasuk produktif.

Hal ini karena pH pada air kolam yang digunakan untuk penelitian mendekati basa.

Oksigen terlarut (disolved oxygen/DO)

Oksigen terlarut (DO) dalam suatu perairan merupakan parameter pengubah kualitas air yang paling kritis dalam budidaya ikan, karena dapat

Oksigen terlarut (DO) dalam suatu perairan merupakan parameter pengubah kualitas air yang paling kritis dalam budidaya ikan, karena dapat

Dokumen terkait