• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengukuran kadar enzim ALT dan AST dalam serum menunjukkan bahwa dosis 0,1 ml CCl4/kg BB mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar

enzim ALT dibandingkan kontrol (Tabel 1). Pemberian 1 ml CCl4/kg BB

mengakibatkan peningkatan kadar enzim ALT dalam serum sampai dua kali lebih tinggi dibanding kontrol, sebaliknya kadar enzim AST terlihat mengalami penurunan dibanding kontrol. Hal ini mungkin disebabkan karena waktu paruhnya yang pendek sehingga kadar enzim AST pada kelompok ini terlihat lebih rendah dibanding kontrol. Pemberian CCl4 10 ml/kg BB bahkan terlihat sangat merusak

sel hati, hal ini ditandai dengan penurunan kadar enzim ALT dan AST yang sangat drastis. Kisaran kadar enzim ALT dan AST pada kelompok kontrol; 0,1;

1,0; dan 10 ml CCl4/kg BB masing-masing 120,00-146,60 U/L dan 288,20-385,90

U/L; 155,20-169,70 U/L dan 283,40-344,90 U/L; 67,65-685,90 U/L dan 129,20- 461-90 U/L; serta 0,75-3,76 U/L dan 0 U/L. Alanin transaminase merupakan enzim sitosol dan terlibat dalam glukoneogenesis. Peningkatan kadar enzim ALT dalam darah terutama disebabkan oleh kerusakan sel hati dan sel otot rangka. Aspartat transaminase juga merupakan enzim yang terlibat dalam glukoneogenesis. Enzim ini terdapat di dalam sitosol serta mitokondria sel hati, otot rangka, otot jantung, dan eritrosit. Peningkatan kadar enzim AST di dalam darah disebabkan oleh kerusakan hati yang parah dan disertai nekrosis sehingga enzim dari mitokondria juga ikut keluar sel (Stockham dan Scott, 2002).

Tabel 1 Rataan kadar enzim ALT, AST, ALP, bilirubin total, dan protein total dalam serum tikus jantan strain Sprague Dawley. Pengambilan sampel darah dilakukan 24 jam setelah pemberian CCl4 (n=3)

Parameter Dosis CCl4 (ml/kg BB) 0 (Kontrol) 0,1 1,0 10,0 ALT (U/L) 134,57 ± 13,48a 161,70 ± 7,37a 308,50 ± 331,25a 2,67 ± 1,67b AST (U/L) 330,87 ± 50,01a 330,67 ± 42,00a 260,83 ± 176,88a 0 ± 0b ALP (U/L) 651,33 ± 76,17a 770,00 ± 103,20a 1066,67 ± 270,14a 854,00 ± 276,93a Bilirubin Total (mg/dl) 1,87 ± 2,36a 6,33 ± 6,16a 0,98 ± 0,95a 0,89 ± 0,40a Protein Total (mg/ml) 122,25 ± 4,11a 100,47 ± 19,11a 113,52 ± 8,92a 116,95 ± 8,41a

Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan beda nyata pada uji Tukey dengan taraf 5%

Kerusakan yang relatif kecil pada sel hati akan meningkatkan kadar enzim ALT dan AST di dalam darah. Namun, pada tingkat kerusakan yang luas dan parah, ketersediaan enzim ALT dan AST di dalam sel hati sudah sangat rendah akibat kemampuan sel hati mensintesis enzim tersebut sudah berkurang atau hilang sama sekali. Karbon tetraklorida adalah xenobiotik yang bersifat sangat toksik terhadap sel hati (Lin et al., 1998; Jeon et al., 2003; Shanmugasundaram dan Venkataraman, 2006). Hasil biotransformasi CCl4 di dalam sel hati akan

dapat menyebabkan peroksidasi lipid dan mengganggu homeostasis Ca2+, juga dapat menyebabkan kematian sel.

Dari percobaan yang dilakukan terlihat bahwa pemberian CCl4 0,1 ml/kg

BB meningkatkan kadar enzim ALP di dalam darah hewan coba dibanding kontrol. Namun, secara keseluruhan, perubahan kadar enzim ini tidak terlalu mencolok dan secara statistik juga dinyatakan tidak berbeda (p>0,05) pada peningkatan dosis CCl4 dari 0,1 sampai 10 ml/kg BB. Artinya, pemberian CCl4

tidak mempengaruhi aliran empedu ekstrabiliar dan intrabiliar. Pada pemberian CCl4 1 ml/kg BB, terjadi peningkatan kadar enzim ALP hampir dua kali lipat

dibanding kontrol, bahkan dengan pemberian 10 ml CCl4/kg BB kadar enzim ALP

menurun. Hal ini disebabkan karena dengan pemberian CCl4 dosis 10 ml/kg BB,

kemampuan hati dalam mensintesis enzim ini sudah sangat terganggu akibat terjadinya kerusakan sel hati yang luas dan berat. Kisaran kadar enzim ALP pada kelompok kontrol; 0,1; 1,0; dan 10 ml CCl4/kg BB masing-masing 595-738 U/L;

651-835 U/L; 849-1369 U/L; dan 623-1161 U/L. Alkalin fosfatase merupakan enzim yang berperan dalam mempercepat hidrolisis fosfat organik dengan melepaskan fosfat anorganik. Peningkatan ALP terjadi akibat adanya kolestasis, dan pada obstruksi intrabiliar maupun ekstrabiliar enzim ini akan meningkat 3-10 kali dari nilai normal sebelum timbul ikterus (Baron, 1992).

Pemberian CCl4 0,1 ml/kg meningkatkan kadar bilirubin total dibanding

kontrol. Peningkatan ini diduga karena terjadi kebocoran sel-sel hati atau sel-sel duktuli. Sebaliknya, pada pemberian CCl4 1 ml/kg BB dan 10 ml/kg BB terjadi

penurunan bilirubin total secara drastis. Kejadian ini dapat dipahami karena pemberian 1 ml CCl4/kg BB dan 10 ml CCl4/kg BB mengakibatkan kerusakan sel-

sel hati yang luas dan berat sehingga mengganggu fungsi hati dalam metabolisme bilirubin. Kisaran kadar bilirubin total pada kelompok kontrol; 0,1; 1,0; dan 10 ml CCl4/kg BB masing-masing 0,37-4,59 mg/dl; 1,23-13,17 mg/dl; 0,35-2,07 mg/dl;

dan 0,45-1,23 mg/dl. Bilirubin merupakan pigmen empedu yang berasal dari sel eritosit tua yang dihancurkan di limpa serta dari sumber-sumber lain seperti mioglobin dan sitokrom (Baron, 1992).

Kadar protein total secara keseluruhan menurun dibanding kontrol, walaupun secara statistik dinyatakan tidak berbeda (p>0,05). Kisaran kadar protein total pada kelompok kontrol; 0,1; 1,0; dan 10 ml CCl4/kg BB masing-

masing 117,52-124,96 mg/ml; 88,12-122,48 mg/ml; 104,08-114-68 mg/ml; dan 107,60-123,92 mg/ml. Terkait dengan fungsi hati dalam mensintesis protein, jika sel-sel hati mengalami kerusakan maka kemampuan hati dalam mensintesis protein juga akan turun (Trivedi dan Rawal, 1998).

Untuk mendukung analisis biokimiawi darah juga dilakukan pengamatan terhadap gambaran patologi anatomi dan histopatologi hati. Gambaran patologi anatomi menunjukkan bahwa dengan pemberian CCl4 0,1 dan 1,0 ml /kg BB

belum terlihat perubahan yang berarti, namun dengan pemberian CCl4 10 ml/kg

terjadi nekrosis milier pada permukaan hati (Gambar 2).

Gambar 2. Makroanatomi hati tikus yang diinduksi 0 ml CCl4 (kontrol, A), 0,1 ml

CCl4/kg BB (B), 1,0 ml CCl4/kg BB (C), dan 10 ml CCl4/kg BB (D).

Tanda panah menunjukkan adanya nekrosis milier pada hati.

Karbon tetraklorida merupakan penyebab kerusakan hati yang ditandai dengan terjadinya nekrosis serta steatosis pada bagian sentral lobulus (Venukumar

dan Latha, 2002; Shanmugasundaram dan Venkataraman, 2006). Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapatkan CCl4 0,1 ml/kg BB terjadi degenerasi sel-sel hati, bahkan pada kelompok yang

mendapatkan CCl4 1 dan 10 ml/kg BB mengalami steatosis multifokal (Gambar

3). Steatosis merupakan gambaran patologi yang ditandai dengan akumulasi lemak di dalam sel hati yang disebabkan oleh gangguan pada metabolisme lipid di hati. Ada beragam faktor penyebab terjadinya steatosis, yang secara garis besar dibedakan atas faktor primer, yakni obesitas, hiperlipidemia, dan resistensi insulin, serta faktor sekunder yang meliputi diet yang tidak seimbang, malabsorpsi, kehamilan, alkohol, serta obat-obatan antara lain aspirin dan tetrasiklin (Chitturi dan Farrell, 2001; Falck-Ytter et al., 2001; Pessayre et al., 2001; Neuschwander-Tetri dan Caldwell, 2003; Day et al., 2004).

Gambar 3. Gambaran histopatologi hati tikus yang diinduksi 0 ml CCl4

(kontrol, A), 0,1 ml CCl4/kg BB (B), 1,0 ml CCl4/kg BB (C), dan 10

ml CCl4/kg BB (D). Akumulasi lemak dalam sel hati (S). H & E.

Secara keseluruhan hasil percobaan ini sejalan dengan hasil-hasil penelitian lainnya yang menyatakan bahwa pemberian CCl4 akan meningkatkan

kadar bilirubin total, enzim ALT, AST, dan ALP, sebaliknya kadar protein total dalam serum akan menurun (Teselkin et al., 2000; Jin et al., 2005; Porchezhian dan Ansari 2005; Rao et al., 2006; Shanmugasundaram dan Venkataraman, 2006). Disimpulkan bahwa injeksi tunggal CCl4 secara intraperitoneal pada tikus

menyebabkan gangguan fungsi hati yang sangat jelas. Dengan demikian, daya proteksi suatu senyawa terhadap CCl4 dapat dinilai dari kemampuannya dalam

menghambat peroksidasi lipid (Teselkin et al., 2000), menekan aktivitas enzim ALT dan AST (Lin dan Huang, 2000), dan meningkatkan aktivitas antioksidan enzim dan antioksidan nonenzim (Sanmugapriya dan Venkataraman, 2006). Dosis CCl4 yang dipilih untuk pengujian aktivitas hepatoprotektor di penelitian tahap

berikutnya adalah 0,1 ml/kg BB.

SIMPULAN

Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi jumlah CCl4

yang diinduksikan, kerusakan yang terjadi pada sel-sel hati semakin berat dan luas. Dosis CCl4 yang dipilih untuk pengujian aktivitas hepatoprotektor di

PENGARUH PEMBERIAN AKAR PASAK BUMI