• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karbon tetraklorida (CCl4) merupakan xenobiotik yang bersifat sangat

toksik terhadap sel-sel hati, dan kerusakan yang ditimbulkannya sebanding dengan dosis yang diinduksikan. Hasil biotransformasi CCl4 oleh sitokrom P450

2E1 (CYP 2E1), yakni CCl3* dan CCl3O2* dikatakan sebagai penyebab

peroksidasi lipid membran yang dapat mengganggu homeostasis Ca2+ hingga menyebabkan terjadinya kematian sel (Shanmugasundaram dan Venkataraman, 2006). Keadaan ini ditandai dengan peningkatan kadar enzim-enzim transaminase. Kadar enzim-enzim tersebut di dalam darah mencerminkan tingkat kerusakan hati, yang secara histopatologi ditandai dengan adanya massive centrilobular necrosis

dan balloning degeneration (Wang et al., 2004), dan secara ultrastruktur memperlihatkan mitokondria yang membengkak, degenerasi hidropik pada retikulum endoplasmik, proliferasi retikulum endoplasmik halus, lepasnya ribosom dari retikulum endoplasmik kasar, dan membran sel yang terputus-putus (Thomas, 1984). Dikatakan bahwa aktivitas hepatoprotektor suatu sediaan terkait dengan kemampuannya dalam menghambat peroksidasi lipid (Teselkin et al., 2000), menekan aktivitas enzim ALT dan AST (Lin dan Huang, 2000), dan meningkatkan aktivitas antioksidan enzim dan antioksidan nonenzim (Sanmugapriya dan Venkataraman, 2006).

Pada dasarnya tubuh setiap organisme mempunyai sistem pertahanan untuk menetralisir dan mendetoksifikasi radikal bebas yang lebih dikenal dengan istilah antioksidan. Peranan antioksidan ini sangat luas dalam bidang kesehatan, antara lain sebagai hepatoprotektor (Jin et al., 2005; Harish dan Shivanandappa, 2006; Rao et al., 2006; Shanmugapriya dan Venkataraman, 2006; Teselkin et al. 2000), serta pelindung tubuh dari penyakit kanker, arteri koroner, stroke, diabetes, dan artritis rheumatoid (Harish dan Shivanandappa, 2006). Antioksidan adalah zat yang dalam konsentrasi kecil dapat mencegah atau memperlambat terjadinya oksidasi, sebaliknya, dalam konsentrasi tinggi dapat bersifat prooksidan atau meningkatkan oksidasi (Harish dan Shivanandappa, 2006). Menurut Venukumar dan Latha (2002); Sanmugapriya dan Venkataraman (2006); Wang et al. (2006) ada dua jenis antioksidan. Pertama, antioksidan enzim contohnya superoksida

dismutase, glutation peroksidase, dan katalase. Kedua, antioksidan nonenzim contohnya vitamin E, vitamin A, dan vitamin C.

Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung di dalam fraksi metanol-air akar pasak bumi memiliki potensi sebagai hepatoprotektor, dan pemberian 1000 mg/kg BB fraksi metanol-air mampu melindungi sel-sel hati dari kerusakan yang disebabkan oleh CCl4 dosis 0,1 ml/kg BB. Senyawa yang

dominan dalam fraksi polar menurut Kuo et al. (2004) adalah golongan triterpenoid. Senyawa-senyawa golongan triterpenoid sebagaimana yang dilaporkan Wang et al. (2004) mampu mengurangi jumlah metabolit CCl4

sehingga sel-sel hati dapat terlindungi dari kerusakan. Aktivitas hepatoprotektor senyawa golongan triterpenoid berkaitan dengan kemampuannya dalam memelihara stabilitas membran sel hati serta aktivitasnya sebagai antioksidan sehingga memungkinkannya berperan sebagai scavenger terhadap spesies oksigen reaktif (ROS). Secara keseluruhan, diduga bahwa mekanisme hepatoprotektor (preventive dan curative) fraksi metanol air akar pasak bumi didukung oleh: 1. Kemampuan fraksi metanol-air akar pasak bumi dalam menghambat ekspresi

dan aktivitas sitokrom P450. Hasil penelitian Jeong (1999) menunjukkan bahwa pemberian asam oleanolat mendahului pemberian CCl4

memperlihatkan adanya penghambatan terhadap peningkatan kadar enzim ALT, laktat dehidrogenase (LDH), peroksidasi lipid, serta upaya mempertahankan kadar GSH. Namun, pemberian asam oleanolat tanpa diikuti dengan pemberian CCl4 ternyata tidak meningkatkan kadar GSH dan GST

dibanding normal kontrol. Dengan demikian, diduga ada suatu mekanisme lain yang lebih mempengaruhi daya perlindungan sel-sel hati oleh CCl4 selain

dengan meningkatkan kadar GSH dalam tubuh. Untuk itu dilakukan pengukuran aktivitas hidroksilasi substrat spesifik CYP 2E1, yakni p- nitrophenol dan anilin, hasilnya menunjukkan bahwa pemberian asam oleanolat mengurangi aktivitas hidroksilasi p-nitrophenol dan anilin yang diperlihatkan dengan penurunan kadar sitokrom P450. Menurunnya ekspresi dan aktivitas sitokrom P450 mengakibatkan penurunan jumlah CCl3* dan

Mekanisme preventive sel-sel hati diduga lebih didukung oleh kemampuan fraksi metanol-air akar pasak bumi dalam menghambat ekspresi dan aktivitas sitokrom P450. Namun, peran fraksi metanol-air dalam proses detoksifikasi tetap dibutuhkan.

2. Peran fraksi metanol-air sebagai scavenger. Detoksifikasi metabolit reaktif juga dilakukan oleh enzim antioksidan, yakni SOD, GPx, dan katalase (Jeong

et al., 2002; Wang et al., 2004; Rao et al., 2006). Enzim SOD berperan dalam mengkatalisis pemusnahan radikal bebas dalam sel dengan cara mendekomposisi radikal superoksida menjadi hidrogen peroksida, selanjutnya enzim GPx dan katalase berperan mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen. Dalam hal ini diduga bahwafraksi metanol-air akar pasak bumi juga melakukan proses yang sama, yakni berperan sebagai scvenger terhadap metabolit CCl4.

3. Kemampuan fraksi metanol-air akar pasak bumi dalam mempertahankan kadar GSH, GR, dan GST. Detoksifikasi radikal triklorometil dan triklorometil peroksil juga dapat dilakukan oleh glutation. Menurut Rao et al. (2006) metabolit CCl4 akan bereaksi dengan golongan sulfhidril seperti GSH

dan protein thiol, tetapi dalam keadaan stres oksidatif tubuh akan mengubah GSH menjadi GSSG yang mengakibatkan penurunan kadar GSH dan akhirnya menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid. Namun, dengan pemberian rubiadin (1,3-dihydroxy-2-methyl anthraquinone) maka kadar GSH dapat dipertahankan dengan cara mengubah kembali GSSG menjadi GSH dengan bantuan GR. Glutation sendiri dalam memainkan perannya mendetoksifikasi metabolit reaktif dibantu oleh GST untuk mengkatalisis konjugasi antara GSH dengan metabolit reaktif sehingga metabolit reaktif tersebut dapat langsung dieliminasi atau diubah menjadi turunan asam merkapturat. Diduga fraksi metanol-air juga memiliki peran yang sama. Pemberian fraksi metanol-air diduga dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kadar GSH, di samping itu juga meningkatkan kadar GR dan GST, sehingga CCl3* dan CCl3O2* dapat

segera dikeluarkan dari dalam tubuh, dan tingkat kerusakan menjadi berkurang.

4. Kemampuan fraksi metanol-air dalam memulihkan kondisi sel-sel hati ke keadaan normal. Daya hepatoprotektor juga didukung oleh kemampuan suatu senyawa dalam meningkatkan daya regenerasi sel-sel hati yang mengalami perubahan-perubahan yang masih bersifat reversible (Cotran et al., 1999). Sebagaimana yang terlihat dari gambaran ultrastruktur, bahwa pada kelompok silymarin dengan individu yang mengalami peningkatan kadar enzim ALT yang terjadi adalah beberapa sel hati memperlihatkan mitokondria yang membengkak dan dilatasi retikulum endoplasmik. Namun perubahan ini masih bersifat reversible, artinya jika penyebab perubahan (CCl3* dan CCl3O2*) ini

dihilangkan maka sel akan berupaya untuk kembali pada keadaan normal. Gambaran ultrasturktur sel-sel hati yang kembali normal setelah ditantang dengan CCl4 pada kelompok fraksi metanol-air akar pasak bumi ditandai

dengan membran sel yang tidak terputus-putus, mitokondria yang tidak membengkak, retikulum endoplasmik yang tidak mengalami dilatasi, serta membran inti yang tidak mengkerut. Mekanisme curative sel-sel hati diduga lebih didukung oleh peran fraksi metanol-air akar pasak bumi dalam proses detoksifikasi dan regenerasi. Namun, peran fraksi metanol-air dalam menghambat sitokrom P450 tetap dibutuhkan.

Jika kembali pada manfaat akar pasak bumi yang berkembang di masyarakat, yakni aktivitasnya sebagai aprodisiaka, maka hasil penelitian ini memberikan suatu informasi baru. Ternyata akar pasak bumi mampu melindungi dan mengoptimalkan fungsi hati, serta relatif aman terhadap organ hati jika dikonsumsi dalam rentang waktu tertentu.