Kondisi Sosial Ekonomi Daerah Pinggiran Perkotaan
Karakteristik Demografis
Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung
Kelurahan Andir secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, dan terdiri dari 13 Rukun Warga yang membawahi 116 Rukun Tetangga. Adapun batas wilayah Kelurahan Andir adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Dayeuhkolot - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Malakasari - Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Baleendah - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bojongmalaka
Jarak pusat pemerintahan Kelurahan Andir dengan pusat pemerintahan dalam struktur yang lebih tinggi adalah sebagai berikut :
- Jarak ke ibukota kecamatan : 1 Km - Jarak ke ibukota kabupaten : 18 Km - Jarak ke ibukota propinsi : 15 Km - Jarak ke ibukota negara : 191 Km
Sarana transportasi umum yang digunakan penduduk dalam melakukan aktivitas sehari-hari adalah ojeg, angkutan pedesaan dan dokar/andong. Sarana transportasi tersebut menghubungkan Kelurahan Andir dengan desa lainnya. Untuk dapat mencapai ibukota kabupaten dan ibukota propinsi tersedia angkutan umum yang dapat melayani setiap saat.
Kelurahan Andir terletak pada ketinggian 700 m dpl yang secara topografi seluruhnya merupakan lahan datar pada dataran medium. Suhu udara tiap tahun berkisar antara 19°C - 29°C dengan rata-rata curah hujan tiap tahun 2500 mm. Kondisi geografis dan iklim yang menunjang telah memberikan keuntungan bagi petani di Kelurahan Andir untuk melakukan usahatani padi sawah secara optimum, terlebih lagi ditunjang oleh sistem pengairan yang memadai. Faktor-faktor tersebut sangat memungkinkan bagi petani untuk menerapkan pola tanam padi – padi – padi atau padi – padi – palawija.
Total luas wilayah Kelurahan Andir adalah 378,291 Ha, yang sebagian besar digunakan untuk usahatani padi sawah. Luas lahan pertanian padi sawah menempati luas lahan seluas 179,41 Ha atau sebesar 47,43% dari total luas wilayah keluarahan. Lahan usahatani padi sawah tersebut seluruhnya dilayani oleh daerah irigasi DAS Ciherang yang terbagi menjadi irigasi teknis dan semi teknis.
Tabel 3 Luas dan penggunaan lahan di Kelurahan Andir tahun 2008 No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 104,99 27,50 2 Pemakaman 1,46 0,39 3 Pekarangan 59,48 15,72 4 Sawah 179,41 47,43 5 Kas desa 19,86 5,25 6 Lain-lain 13,09 3,46 Total 378,29 100,00
Lahan yang digunakan untuk pemukiman (27,50%) sebagian besar adalah lahan konversi dari lahan sawah yang beralih fungsi menjadi kompleks perumahan baru. Berdasarkan data monografi kelurahan, lahan sawah yang beralih fungsi menjadi kompleks perumahan selama lima tahun terakhir adalah seluas 34 Ha.
Berdasarkan data monografi jumlah penduduk Kelurahan Andir tahun 2008 adalah 27 892 orang, yang terdiri atas penduduk laki-laki sebanyak 14.207 orang (50,94%), perempuan 13 685 orang (49.06%). Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Andir adalah 7 794 KK dan sebagian besar (49,18) termasuk dalam kategori keluarga miskin (pra-KS) dan KS-1).
Tabel 4 Komposisi kepala keluarga di Kelurahan Andir berdasarkan tingkat kesejahteraan tahun 2008
No Kategori Kesejahteraan Jumlah (KK) Persentase (%)
1 Pra sejahtera (pra-KS) 1 674 21,48
2 Keluarga Sejahtera 1 (KS-1) 2 159 27,70
3 Keluarga Sejahtera 2 (KS-2) 2 344 30,07
4 Keluarga Sejahtera 3 (KS-3) 1 574 20,20
5 Keluarga Sejahtera 3 plus (KS-3 plus) 43 0,55
Total 7 794 100,00
Dari data potensi dan perkembangan Kelurahan Andir tahun 2008, diketahui bahwa sebagian besar keluarga telah memiliki WC yang sehat, yaitu sebanyak 7.046 keluarga (90,93%), namun masih terdapat 276 (3,54%) keluarga yang memiliki WC yang kurang memenuhi standar kesehatan, bahkan terdapat keluarga yang biasa buang air besar di sungai/parit/kebun/hutan sebanyak 98 keluarga (1,25%). Keluarga yang memanfaatkan fasilitas MCK umum saat ini adalah sebanyak 132 keluarga (1,69%).
Dilihat dari komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur, pada Tabel 5 di bawah ini dapat diketahui besarnya angka beban ketergantungan (dependency ratio), yaitu angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk yang belum produktif (0-14 tahun) dan penduduk yang tidak produktif (> 65 tahun) dengan banyaknya penduduk
yang termasuk usia produktif (15-65 tahun) (Lembaga Demografi FE-UI, 1981). Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka beban ketergantungan penduduk Kelurahan Andir adalah sebesar 74, artinya bahwa setiap 100 orang penduduk yang produktif harus menanggung 74 orang yang tidak produktif. Hal ini menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh penduduk yang produktif bagi orang yang tidak produktif sangat berat.
Indikator lain yang dapat diperoleh dari tabel penggunaan lahan dan tabel luas penduduk adalah mengenai man land ratio (MLR), yang merupakan perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas lahan pertanian. Beradasarkan perhitungan, diperoleh MLR Kelurahan Andir sebesar 155 , ini berari setiap satu hektar lahan pertanian digunakan untuk menghidupi 155 orang penduduknya. Hal ini menunjukkan bahwa daya dukung lahan pertanian sebagai sumber kehidupan berada dalam posisi yang sangat berat, karena menurut Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, batas beban berat lahan pertanian adalah 7 orang per hektar.
Tabel 5. Komposisi penduduk Kelurahan Andir berdasarkan kelompok umur tahun 2008 No Kelompok Umur (tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 0 -5 3 000 10,76 2 6-14 8 051 28,86 3 15-60 14 985 53,73 4 60-65 1 074 3,85 5 > 65 782 2,80 Total 27 892 100,00
Sebagian besar penduduk di Kelurahan Andir bekerja sebagai karyawan swasta (74,96%), penduduk yang sebagai petani hanya sebanyak 8,25%. Tenaga kerja di sektor pertanian ini hampir seluruhnya bekerja pada usahatani padi sawah, adapun komoditas lain seperti palawija merupakan tanaman penyelang diantara musim tanam padi dengan musim tanam berikutnya. Sebagian besar petani tidak memiliki lahan sendiri, mereka hanya menggarap atau menyewa lahan milik orang lain, hanya 5% petani yang berstatus sebagai pemilik lahan. Sektor lain yang banyak dimasuki oleh penduduk adalah sektor industri kecil dan menengah (Tabel 6).
Tabel 6. Komposisi penduduk Kelurahan Andir berdasarkan mata pencaharian tahun 2008 No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Petani 329 8,25 2 Buruh tani 57 1,43 2 Pengrajin 81 2,03 3 Karyawan swasta 2 991 74,96 4 Wiraswasta 238 5,96 5 Jasa 148 3,71 6 PNS 111 2,78 7 Lain-lain 35 0,88 Total 3 990 100,00
Sarana pendidikan yang terdapat di Kelurahan Andir saat ini adalah Sekolah Dasar (SD) sebanyak lima buah, Sekolah Menengah Pertama sebanyak dua buah. Sekolah Menengah Atas (SMA) terdekat terdapat di ibu kota kecamatan atau ibukota propinsi. Tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Andir didominasi oleh lulusan SLTP atau sederajat, yakni sebesar 35,75% (Tabel 7).
Tabel 7. Komposisi penduduk Kelurahan Andir berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2008
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Belum sekolah 3 114 11,16
2 Tidak tamat SD/sederajat 718 2,57
3 Tamat SD/sederajat 5 458 19,57 4 Tamat SLTP/sederajat 9 972 35,75 5 Tamat SMU/sederajat 5 996 21,50 6 Akademi 1 656 5,94 7 Perguruan Tinggi 634 2,27 8 Tidak sekolah 344 1,23 Total 27 892 100,00
Desa Mekarwangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat
Desa Mekarwangi secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat Propinsi Jawa Barat. Desa Mekarwangi berbatasan dengan : - Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Langensari
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cimenyan - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Bandung - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pagerwangi
Jarak pusat pemerintahan Desa Mekarwangi dengan pusat pemerintahan dalam struktur yang lebih tinggi adalah sebagai berikut :
- Jarak dari desa ke ibukota kecamatan : 5 Km - Jarak dari desa ke ibukota kabupaten : 20 Km
- Jarak dari desa ke ibukota propinsi : 7 Km - Jarak dari desa ke ibukota negara : 191 Km
Sarana transportasi umum yang digunakan penduduk dalam melakukan aktivitas sehari-hari adalah ojeg dan angkutan pedesaan. Angkutan pedesaan yang tersedia adalah sarana transportasi yang menghubungkan Desa Mekarwangi menuju ibukota kecamatan. Angkutan pedesaan tersebut hanya beroperasi tiga kali dalam sehari dan hanya tersedia di pagi hari. Kondisi jalan di Desa Mekarwangi relatif baik, dan 8 Km jalan telah beraspal, dimana 3 Km tergolong dalam kondisi baik dan 5 Km tergolong dalam kondisi sedang.
Desa Mekarwangi berada pada ketinggian 1 070 m dpl, yang secara topografi sebagian besar (86%) termasuk dalam kategori lahan berombak-berbukit, sisanya termasuk dalam kategori datar-berombak. Suhu rata-rata tiap tahun berkisar antara 18ºC - 24ºC, dengan rata-rata hari hujan setiap tahunnya adalah 150 hari. Kondisi topografi Desa Mekarwangi membuat desa ini potensial untuk dijadikan sebagai lokasi budidaya tanaman hortikultura. Total luas wilayah Desa Mekarwangi saat ini adalah 523,820 Ha, dan hanya 14.51% yang merupakan lahan tegalan yang digunakan untuk budidaya tanaman hortikultura, dan sebagian besar digunakan untuk budidaya tanaman tomat dan cabai merah.
Tabel 8. Luas dan penggunaan lahan di Desa Mekarwangi tahun 2008
No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 66,00 12,60 2 Pemakaman 3,00 0,57 3 Pekarangan 8,00 1,53 4 Tegalan 76,00 14,51 5 Hutan lindung 200,00 38,18 6 Kas desa 4,50 0,86 7 Lain-lain 166,32 31,75 Total 523,82 100,00
Ketersediaan air di Desa Mekarwangi tergolong memprihatinkan. Pada musim hujan, hampir seluruh penduduk mengandalkan ketersediaan air bersih dari air hujan, hampir setiap rumah memiliki tempat penampungan air hujan. Pada saat musim kemarau, penduduk harus mengambil air dari mata air yang letaknya sekitar 2,5 Km dari pemukiman penduduk. Hal ini juga mempengaruhi pola tanam yang dilakukan, dimana pada musim kemarau penduduk tidak dapat menanami lahannya karena tidak tersedianya air untuk budidaya tanaman hortikultura. Akibatnya pada musim kemarau sebagian besar petani memilih bekerja di sektor lain seperti menjadi buruh bangunan. Saat ini, pemerintah Desa Mekarwangi bersama warga setempat tengah melakukan pipanisasi air yang diambil dari
Kecamatan Cibodas yang berjarak sekitar 18 Km dari Desa Mekarwangi. Diharapkan dengan cara demikian ketersediaan air bersih bagi penduduk dapat terjamin sepanjang tahun.
Berdasarkan data monografi jumlah penduduk Desa Mekarwangi tahun 2008 adalah 5 023 orang, yang terdiri atas penduduk laki-laki sebanyak 2 599 orang (51,74%), perempuan 2 424 orang (48.26%). Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Mekarwangi adalah 1 485 KK dan sebagian besar (51,72%) termasuk dalam kategori keluarga miskin (pra-KS) dan KS-1).
Tabel 9 Komposisi kepala keluarga di Desa Mekarwangi berdasarkan tingkat kesejahteraan tahun 2008
No Kategori Kesejahteraan Jumlah (KK) Persentase (%)
1 Pra sejahtera (pra-KS) 381 25,66
2 Keluarga Sejahtera 1 (KS-1) 387 26,06
3 Keluarga Sejahtera 2 (KS-2) 376 25,32
4 Keluarga Sejahtera 3 (KS-3) 247 16,63
5 Keluarga Sejahtera 3 plus (KS-3 plus) 94 6,33
Total 1 485 100,00
Berdasarkan data monografi desa, sebagian besar rumah penduduk merupakan rumah semi permanen (750 rumah), dan masih terdapat rumah yang berdinding papan (463 rumah) dan berdinding bambu (16 rumah). Masih banyak rumah penduduk yang tidak memiliki WC sendiri, karena keterbatasan air, sehingga banyak penduduk yang menggunakan WC umum yang berada di dekat sumber air.
Dilihat dari komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur, pada Tabel 10 di bawah ini dapat diketahui besarnya angka beban ketergantungan (dependency ratio). Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka beban ketergantungan penduduk Desa Mekarwangi adalah sebesar 53, artinya bahwa setiap 100 orang penduduk yang produktif harus menanggung 53 orang yang tidak produktif. Hal ini menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh penduduk yang produktif bagi orang yang tidak produktif sangat berat.
Indikator lain yang dapat diperoleh dari tabel penggunaan lahan dan tabel luas penduduk adalah mengenai man land ratio (MLR), yang merupakan perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas lahan pertanian. Beradasarkan perhitungan, diperoleh MLR Desa Mekarwangi sebesar 66, ini berari setiap satu hektar lahan pertanian digunakan untuk menghidupi 66 orang penduduknya. Hal ini menunjukkan bahwa daya dukung lahan pertanian sebagai sumber kehidupan berada dalam posisi yang sangat berat, karena
menurut Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, batas beban berat lahan pertanian adalah 7 orang per hektar.
Tabel 10 Komposisi penduduk Desa Mekarwangi berdasarkan kelompok umur tahun 2008
No Kelompok Umur (tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 0 -5 489 9,73 2 6-14 964 19,19 3 15-60 2 962 58,97 4 60-65 324 6,45 5 > 65 284 5,66 Total 5 023 100,00
Sebagian besar penduduk di Desa Mekarwangi bekerja sebagai petani, dan sebagian besar petani tidak memiliki lahan sendiri, mereka hanya menggarap atau menyewa lahan milik orang lain, hanya 10 orang atau 2 persen petani yang berstatus sebagai pemilik lahan. Sektor lain yang banyak dimasuki oleh penduduk adalah sektor industri dan bangunan (Tabel 11).
Tabel 11 Komposisi penduduk Desa Mekarwangi berdasarkan mata pencaharian tahun 2008
No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Petani 419 30,97 2 Pengrajin 8 0,59 3 Buruh Industri 305 22,54 4 Buruh bangunan 375 27,72 5 Jasa Pengangkutan 148 10,94 6 PNS 98 7,24 Total 1 353 100,00
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Mekarwangi saat ini adalah Taman Kanak-Kanak (TK) swasta sebanyak dua buah dan Sekolah Dasar (SD) negeri sebanyak tiga buah. Sedangkan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat di Desa Langensari, yang berjarak sekitar 2,5 Km dari Desa Mekarwangi. Sekolah Menengah Atas (SMA) terdekat hanya terdapat di ibu kota kecamatan atau ibukota propinsi. Kondisi ini pula yang menyebabkan banyak anak-anak Desa Mekarwangi tidak dapat meneruskan sekolah selepas SD, karena orangtua tidak mampu untuk membiayai biaya pendidikan anak-anaknya, termasuk untuk biaya transportasi. Tingkat pendidikan Desa Mekarwangi didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar, yaitu sebesar 38,78% (Tabel 12).
Tabel 12 Komposisi penduduk Desa Mekarwangi berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2008
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Belum sekolah 319 6,35
2 Tidak tamat SD/sederajat 945 18,82
3 Tamat SD/sederajat 1 948 38,78 4 Tamat SLTP/sederajat 687 13,68 5 Tamat SMU/sederajat 592 11,76 6 Akademi 143 2,86 7 Perguruan Tinggi 267 5,32 8 Tidak sekolah 122 2,43 Total 5 023 100,00
Keragaan Usahatani Pinggiran Kota Status Penguasaan Lahan
Tanah bagi petani merupakan faktor produksi yang sangat penting selain sumberdaya ekonomi dan sumberdaya manusia. Sumberdaya ekonomi dan manusia akan menjadi sumberdaya yang sia-sia jika petani tidak mengusasai sumberdaya alam berupa lahan usahatani. Petani secara umum memiliki sebuah ikatan emosional yang sangat kuat dengan lahan tempatnya berusaha, karena dari lahan tersebut diharapkan mampu menghidupi keluarga petani. Petani akan menggantungkan semua harapannya kepada apa yang dihasilkan oleh lahan tersebut, hubungan ini biasanya terjadi pada petani yang menjadikan usahatani sebagai satu-satunya andalan untuk menghidupi keluarganya.
Sebagian besar keluarga petani padi (80%) dan 64 persen keluarga petani hortikultura berstatus sebagai penyakap (Tabel 13). Banyaknya keluarga contoh yang berstatus sebagai penyakap disebabkan karena banyak keluarga contoh yang tadinya memiliki lahan sendiri namun kemudian menjual lahannya karena desakan faktor ekonomi dalam rumah tangga. Pada usahatani padi sistem bagi hasil yang diterapkan bagi petani penyakap dikenal dengan sistem maro, dimana hasil panen dibagi 50 : 50 antara petani penyakap dan pemilik lahan sedangkan biaya untuk memperoleh input produksi biasanya ditanggung oleh penggarap.
Pada usahatani hortikultura kondisi tersebut sedikit berbeda, dimana sebagian besar petani penyakap biasanya memang sengaja diminta oleh pemilik lahan untuk menggarap sekaligus menjaga lahan miliknya. Biasanya lahan tersebut dulunya merupakan lahan milik petani, dan setelah dibeli oleh pihak lain, pembeli menyuruh petani untuk menggarap lahan tersebut. Penyakap tetap menanggung seluruh ongkos produksi, tetapi tidak berkewajiban membagi hasil panen dengan pemilik. Sebagian besar pemilik lahan di lokasi penelitian
keluarga petani hortikultura adalah penduduk di luar desa yang biasanya berasal dari Bandung atau Jakarta. Bagi petani hortikultura yang berstatus penyewa, petani biasanya menyewa lahan milik kas desa ataupun pemilik dengan harga sewa berkisar antara Rp. 3 000,00 - Rp 5.000,00 / tumbak per tahun.
Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan status penguasaan lahan
Penguasaan Lahan Petani Padi Petani Hortikultura
(n = 50) % (n = 50) %
Penyewa penggarap 0 0,00 15 30,00
Penyakap 40 80,00 32 64,00
Pemilik penggarap 8 16,00 3 6,00
Rata-rata luas penguasaan lahan
2194 m2 1707 m2
Pola Tanam
Pola tanam yang diterapkan pada usahatani padi sawah maupun hortikultura sepenuhnya sangat tergantung pada jaminan pasokan air di lahannya. Pada usahatani padi sawah, semua contoh menyatakan bahwa pola tanam padi-padi-padi akan tercapai jika pasokan air bagi sawahnya memadai. Berdasarkan pada kondisi pasokan air pada saat ini, maka pilihan terbaik adalah dengan pola tanam padi-padi-bera atau padi-padi-palawija (Tabel 14).
Petani yang menerapkan pola tanam padi (4%) ataupun padi-padi-palawija (36%) adalah petani yang lokasi sawahnya berdekatan dengan saluran sekunder. Lebih dari separuh contoh petani (60%) memilih memberakan sawahnya, karena pada saat musim kemarau sawah mereka sama sekali tidak mendapatkan air. Seringkali petani di lokasi penelitian berebut air dengan petani di desa lain, hal ini disebabkan dengan terbatasnya pasokan air di DAS Ciherang, kondisi ini diperparah dengan penggunaan air oleh pabrik-pabrik yang banyak terdapat di sekitar lokasi penelitian.
Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan pola tanam pada usahatani padi sawah
Pola Tanam Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Padi – Padi – Padi (4%) Padi- Padi – Palawija (36%) Padi – Padi – Bera (60%)
Padi Padi Padi
Padi Padi Palawija
Usahatani hortikultura sepenuhnya mengandalkan sistem tadah hujan, karena belum adanya jaringan air ataupun sumber air di sekitar desa untuk mengairi lahan petani. Saat ini, sedang diusahakan proyek penyambungan pipa dari mata air di daerah Cibodas yang letaknya 20 Km dari lolasi penelitian. Jika usaha ini berhasil, petani memiliki kesempatan untuk melakukan usahatani sepanjang tahun.
Lebih dari dua per tiga petani (72%) mengusahakan komoditas tomat – cabai merah, yang diusahakan dengan cara tumpang sari (Tabel 15). Pemilihan jenis komoditas yang relatif beragam pada usahatani hortkultura sepenuhnya bergantung pada preferensi dan pengalaman petani mengenai komoditas yang dianggap paling menguntungkan bagi petani.
Tabel 15 Komoditas yang diusahakan petani hortikultura
Pola Tanam n = 50 %
Tomat – Cabai Merah 36 72,00
Tomat saja 5 10,00
Cabai saja 2 4,00
Cabai merah – bunga kol 2 4,00
Cabai merah – buncis 2 4,00
Buncis – bunga kol 1 2,00
Kacang tanah – bawang 1 2,00
Sosin 1 2,00
Keterjangkauan Pada Lembaga Ekonomi, Pendidikan dan Kesehatan
Sub bab ini menggambarkan keterjangkauan penduduk pada berbagai fasilitas ekonomi (pasar, koperasi), industri, pendidikan (sekolah) dan kesehatan (puskesmas). Hal ini juga dimaksudkan untuk menggambarkan seberapa besar kesempatan bagi keluarga petani yang tinggal di daerah pinggiran perkotaan untuk memasuki sektor di luar sektor pertanian.
Pada keluarga petani padi, lebih dari separuh contoh (54%) menyatakan mudah untuk mengakses pasar. Jarak tempuh yang dirasakan tidak terlalu jauh (< 5 Km) oleh 60 persen contoh serta biaya transportasi yang dinilai terjangkau oleh sebagian besar contoh (84%) membuat sebagian contoh tertarik untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi di pasar. Sarana transportasi (angkutan umum) yang tersedia sepanjang hari turut menunjang kelancaran kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh sebagian keluarga contoh. Sebagian contoh sering ke pasar untuk menjual hasil usahatani nya, baik berupa beras atau hasil usaha sampingan lainnya ataupun membeli barang-barang dan sayuran untuk dijual kembali di lingkungan tempat tinggalnya. Sedangkan pada keluarga petani hortikultura, lebih dari separuh contoh (52%) menyatakan mudah untuk mengaskses dan berpartisipasi
dalam kegiatan ekonomi di pasar, namun jarak yang dinilai cukup jauh (5-10 Km) oleh sebagian besar contoh (78%) serta sarana transportasi umum yang kurang memadai membuat sebagian besar contoh menilai biaya transportasi menuju pasar menjadi tidak terjangkau dan tidak efisien untuk melakukan kegiatan ekonomi dalam skala kecil di pasar sehingga sektor ini bukan merupakan pilihan untuk mencari penghasilan tambahan di luar sektor pertanian (Tabel 16).
Lebih dari separuh contoh keluarga petani padi (56%) menyatakan mudah untuk mengakses koperasi. Jarak yang dekat dan biaya transportasi juga dinilai terjangkau oleh sebagian besar contoh keluarga petani padi dan hortikultura. Namun hal ini tidak membuat sebagian contoh tertarik ikut dalam kegiatan simpan pinjam di koperasi. Sebagian contoh merasa berat dengan iuran bulanan yang sifatnya rutin jika menjadi anggota koperasi. Hal ini menyebabkan koperasi bukan merupakan pilihan untuk melakukan kegiatan simpan pinjam (Tabel 16).
Lokasi tempat tinggal keluarga petani padi yang dekat dengan daerah industri menjadikan lebih dari separuh contoh (56%) menilai biaya untuk mencapai lokasi industri cukup terjangkau, namun keberadaan sektor industri yang dekat tempat tinggal tidak menjadikan contoh mudah untuk terlibat di dalamnya. Pada keluarga petani hortikultura, lokasi industri dinilai jauh (> 10 Km) oleh 50 persen contoh dan biaya transportasi dinilai tidak terjangkau oleh 82 persen contoh, hal ini menyebabkan sektor industri bukan merupakan sektor yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan di luar sektor pertanian. Lebih dari separuh contoh keluarga petani padi (64%) dan sebagian besar contoh keluarga petani hortikultura (98%) menyatakan sulit untuk mengakses sektor industri. Hal ini turut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan contoh yang relatif rendah. Berdasarkan penuturan contoh, untuk bekerja di pabrik saat ini dibutuhkan ijazah SMA atau sederajat, ditambah lagi persaingan yang ketat membuat sebagian besar contoh sulit untuk terlibat dalam sektor industri (Tabel 16).
Sebagian besar contoh keluarga petani padi (86%) dan keluarga petani hortukultura (98%) menyatakan mudah untuk memperoleh fasilitas pendidikan. Adanya fasilitas pendidikan gratis di sebagian sekolah pada tingkat SD dan SLTP turut mengurangi beban orangtua. Lokasi fasilitas pendidikan yang relatif dekat dari tempat tinggal membuat biaya transportasi dinilai terjangkau bagi sebagian besar contoh keluarga petani padi (92%) dan 90 persen contoh keluarga petani hortikultura (Tabel 16). Berdasarkan hasil wawancara pada contoh keluarga petani padi, diketahui sebagian besar contoh mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang SLTA, mereka berharap dengan semakin tingginya jenjang
pendidikan yang ditempuh akan membuka kesempatan bagi anak-anaknya untuk bekerja dan memperbaiki taraf hidup. Sedangkan pada keluarga petani hortikultura, contoh yang memiliki anak yang duduk di bangku SLTA menilai biaya untuk menjangkau fasilitas pendidikan tersebut dinilai tidak terjangkau karena lokasinya yang cukup jauh serta biaya pendidikan dinilai mahal, hal ini menyebabkan banyak orangtua yang hanya menyekolahkan anaknya hanya hingga jenjang SLTP.
Seluruh contoh keluarga petani padi dan hortikultura menyatakan mudah untuk menjangkau fasilitas kesehatan (Puskesmas), karena contoh dapat berobat di Puskesmas dengan biaya yang terjangkau. Jarak yang dinilai dekat dan biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan yang dinilai terjangkau oleh sebagian besar contoh membuat contoh mudah untuk medapatkan layanan kesehatan di Puskesmas (Tabel 16).
Tabel 16 Sebaran contoh (%) berdasarkan keterjangkauan pada lembaga ekonomi, pendidikan dan kesehatan
Keterjangkauan Pasar Koperasi Industri Sekolah Puskesmas
P H P H P H P H P H Kemudahan mengakses Mudah Sulit 54 46 52 48 56 44 46 54 36 64 2 98 86 14 98 2 100 0 100 0 Jarak < 5 Km 5 – 10 Km > 10 Km 60 38 2 20 78 2 64 28 8 34 66 0 18 52 30 2 48 50 82 16 2 80 18 2 88 12 0 74 22 4 Biaya Transportasi Terjangkau Tidak terjangkau 84 16 18 82 80 20 72 28 56 44 18 82 92 8 90 10 100 0 96 4 Ket :
P : Keluarga petani padi H : Keluarga petani hortikultura
Keadaan Umum Keluarga Contoh Karakteristik Keluarga
Karakteristik keluarga contoh pada penelitian ini digambarkan oleh umur suami dan istri, tingkat pendidikan suami dan istri, pekerjaan utama suami dan istri, besar keluarga, tingkat pendapatan keluarga, serta bantuan yang diterima keluarga contoh.
Umur Suami dan Istri
Pada beberapa literatur, banyak disebutkan bahwa yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah penduduk yang berusia antara 15 – 64 tahun (Lembaga Demografi UI). Berpijak pada batasan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia kerja. Pada keluarga petani padi, 92 persen suami dan 94