• Tidak ada hasil yang ditemukan

Leukosit, P ersentase Heterofil dan Limfosit

Hasil pengamatan terhadap jumlah leukosit, persentase heterofil, limfosit dan rasio heterofil/limfosit ayam pedaging penelitian umur 5 minggu disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan jumlah leukosit, persentase heterofil (H), limfosit (L) dan rasio H/L ayam pedaging penelitian

Perlakuan Peubah P0 P1 P2 P3 P4 Leukosit (103/mm3) 16.90 16.15 11.42 10.73 7.77 Heterofil (%) 27.75 24.33 31.75 37.67 36.25 Limfosit (%) 71.90 64.00 67.58 61.42 62.67 Rasio H/L 0.39 0.38 0.47 0.61 0.58

Keterangan : P0 (Ransum basal tanpa penambahan tepung daun sambiloto), P1 (Ransum basal + 0.2 % tepung daun sambiloto), P2 (Ransum basal + 0.4 % tepung daun sambiloto), P3 (Ransum basal + 0.6 % tepung daun sambiloto), P4 (Ransum basal + 0.8 % tepung daun sambiloto)

Leukosit

Jumlah leukosit ayam pedaging tidak menunjukkan hasil yang signifikan diantara perlakuan . Hal ini menunjukkan bahwa penambahan tepung daun sambiloto dalam ransum tidak meningkatkan jumlah leukosit ayam pedaging, kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti cekaman yang dialami ayam pada saat penimbangan berat badan, stress pada saat pengambilan sampel darah dan udara panas. Menurut Sturkie dan Grimminger (1976) faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit adalah jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan dan obat-obatan.

Rataan jumlah leukosit pada ayam penelitian (Tabel 4) berada dibawah kisaran normal. Sturkie (1976) melaporkan jumlah leukosit normal pada ayam umur 2-21 minggu sebesar 29.400/mm3, Swensen (1977) sebesar 20.000-30.000/mm3. Penambahan 0.2 -0.8 % tepung daun sambiloto dalam ransum belum memperlihatkan respon imun pada ayam berdasarkan jumlah leukosit yang dihasilkan. Kondisi ayam yang demikian disebut imunosupresan. Menurut Deng (1978) pemberian sambiloto diduga berkaitan erat dengan fungsi sambiloto

sebagai imunosupres an. Unandar (2003) menyatakan ayam tidak memberikan respon yang optimal terhadap rangsangan sesuatu yang bersifat imunogenik, yang dalam hal ini adalah feed additive ransum. Feed additive yang dimaksud adalah tepung daun sambiloto.

Pada minggu ke tiga rata-rata jumlah leukosit naik untuk semua perlakuan (P0, P1, P2, P3 dan P4). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tepung daun sambiloto yang mengandung zat aktif serta perlakuan vaksin yang bersifat merangsang tanggap kebal dalam tubuh ayam sehingga meningkatkan jumlah leukosit. Meningkatnya rangsangan produksi leukosit merupakan proses timbulnya kekebalan. Adanya androgopholid dalam sambiloto sebagai immunostimulan membantu tubuh ayam dalam mencegah infeksi mikroorganisme maupun benda asing ditandai dengan meningkatnya jumlah leukosit (Puri et al. 1993; Iptek 2002). Untuk lebih jelas jumlah leukosit pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Jumlah leukosit ayam pedaging penelitian sampai umur 5 minggu

Berdasarkan kisaran jumlah leukosit hasil penelitian secara keseluruhan berada di bawah kisaran normal, kemungkinan bahwa ayam penelitian mengalami stress panas karena lingkungan.

Heterofil

Persentase heterofil ayam pedagin g tidak menunjukkan perbedaan yang nyata diantara perlakuan. Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah persentase heterofil terjadi fluktuasi diantara perlakuan. Berfluktuasinya persentase heterofil diduga

0 5 10 15 20 25 30 Jumlah Leukosit (10 3 /mm 3 ) 1 3 5 Minggu Po P1 P2 P3 P4

berkaitan erat dengan fungsi sambiloto sebagai imunosupresan dan imunostimulan. Mekanisme kerja dari herba sambiloto sebagai imunosupresan sangat terkait dengan keberadaan dari kelenjar adrenal. Hal ini dikarenakan sambiloto dapat merangsang pelepasan hormon adrenokortikotropik hormon (ACTH) dari kelenjar pituitar i anterior yang berada didalam otak yang selanjutnya akan merangsang kelenjar adrenal bagian kortek untuk memproduksi kortisol. Kortisol yang dihasilkan ini selanjutnya akan bertindak sebagai imunosupresan. Akibat pelepasan kortisol sistem imun ayam akan ditekan. Penampakan hal tersebut terlihat dari penurunan persentase heterofil sebagai salah satu sistem kekebalan. Peningkatan fungsi heterofil dikarenakan fungsi sambiloto sebagai imunostimulan (Puri et al. 1993).

Rataan persentase heterofil ayam penelitian berkisar antara 27.75-37.67%. Hasil ini lebih besar dari yang dilaporkan oleh Swensen (1977) kisaran normal persentase ayam sebesar 25-30 %. Sturkie dan Grimminger (1976) menyatakan bahwa efek pemberian obat-obatan akan meningkatkan jumlah heterofil. Dalam hal ini tanaman obat yang ditambahkan pada ransum pada penelitian ini yaitu tanaman sambiloto. Kanniapan et al. (1991); Nuratmi et al. (1996) menyatakan bahwa andrographolid bersifat sebagai antiimflamasi dan antibakteri sehingga rata-rata persentase heterofil melebihi normal. Rataan persentase heterofil ayam pedaging selama penelitian disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Persentase heterofil ayam pedaging penelitian sampai umur 5 minggu 0 10 20 30 40 50 60 Heterofil (%) 1 3 5 Minggu Po P1 P2 P3 P4

Gambar 6 terlihat bahwa rataan persentase heterofil cenderu ng meningkat sesuai dengan bertambahnya umur untuk setiap perlakuan. Peningkatan persentase heterofil diduga terkait dengan fungsi heterofil sebagai basis pertahanan tubuh pertama yang langsung bereaksi apabila terdapat bahan asing yang masuk kedalam tubuh (Tizzard 1987). Ganong (1995) menyatakan bahwa heterofil akan mencari, mencerna dan membunuh benda asing serta berperan sebagai garis pertahanan pertama. Puri et al. (1993) menyatakan bahwa peningkatan persentase heterofil dikarenakan fungsi sambiloto sebagai immunostimulan. Menurut Mills dan Bone (2000) androgopolide yang berfungsi sebagai immunostimulan akan membantu tanggap kebal tubuh ayam terhadap infeksi Emiria tenella yang terjadi pada dinding usus dengan cara meningkatkan mobilisasi sel heterofil dalam memfagosit parasit di dinding usus.

Kisaran heterofil yang tinggi pada ayam penelitian ini dari kisaran normal mengindikasikan adanya upaya ayam tersebut untuk meningkatkan sistem kekebalan terhadap serangan penyakit atau benda asing sehingga dalam hal ini sambiloto berperan merangsang jumlah heterofil dalam jumlah banyak.

Limfosit

Persentase limfosit ayam pedaging tidak menunjukkan hasil yang signifikan diantara perlakuan. Artinya penambahan tepung daun sambiloto dengan level 0.2-0.8 % pada ransum tidak mempengaruhi persentase limfosit ayam penelitian. Rataan persentase limfosit disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Persentase limfosit ayam pedaging penelitian sampai umur 5 minggu 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Limfosit (%) 1 3 5 Minggu Po P1 P2 P3 P4

Gambar 7. terlihat bahwa persentase limfosit pada minggu pertama melebihi kisaran normal. Kisaran limfosit yang lebih tinggi dari kisaran normal mengindikasikan adanya upaya ayam tersebut untuk meningkatkan sistem kekebalan terhadap serangan penyakit atau benda asing sehingga dalam hal ini tepung daun sambiloto berperan merangsang jumlah limfosit dalam jumlah banyak. Puri et al. (1993) menyatakan bahwa sambiloto dapat merangsang sistem kekebalan tubuh baik berupa respon kekebalan spesifik maupun non spesifik. Kekebalan spesifik ditandai dengan adanya peningkatan persentase limfosit dalam jumlah besar terutama limfosit B. Limfosit B akan menghasilkan antibodi yang merupakan plasma glikoprotein yang akan mengikat antigen dan merangsang proses fagositosis, sedangkan kekebalan non spesifik ditandai dengan adanya peningkatan persentase heterofil. Tizzard (1987) unsur utama dalam mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang salah satunya adalah limfosit. Disamping itu tingginya persentase limfosit dari normal kemungkinan disebabkan oleh cekaman yang diperoleh setelah vaksinasi dan setelah penimbangan berat badan.

Pada minggu ke tiga dan ke lima persentase jumlah limfosit cenderung normal pada setiap perlakuan. Menurut Swensen (1977) rata-rata persentase limfosit ayam berkisar antara 55-60 %; Sturkie (1976) berkisar antara 60-69 %. Kisaran limfosit yang normal menunjukkan adanya upaya ayam tersebut untuk mempertahankan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit maupun benda asing.

Rasio Heterofil/Limfosit

Rasio heterofil/limfosit merupakan sebuah ukuran yang cepat untuk menunjukkan tingkat cekaman yang dialami ayam pada lingkungan (Gross dan Siegel 1983). Rataan rasio heterofil/limfosit pada penelitian berkisar antara 0.15-1.32 (Tabel 4) Hasil penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan rasio heterofil/limfosit yang dilaporkan Sugiarto (2003) yaitu berkisar 0.02-0.17 dan Rahayu (2000) sebesar 0.19-0.40. Menurut Sturkie dan Grimingger (1976) nilai

rasio heterofil/limfosit normal adalah 0.17 sedangkan Swensen (1977) sebesar 0.45-0.50. Lebih tingginya rasio dalam penelitian ini, kemungkinan karena pengaruh penambahan tepung daun sambiloto dalam ransum. Menurut Iptek (2002) ekstrak sambiloto mampu meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri dan ditandai dengan meningkatnya netrofil dan limfosit pada tikus. Menurut Siegel (1980) sel darah putih merespon stres dengan meningkatkan jumlah heterofil untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit akibat bakteri. Gross (1962) menyatakan bahwa pertahanan melawan infeksi virus maupun bakteri lebih banyak melib atkan peran limfosit dan heterofil secara berturut-turut. Cekaman yang mengakibatkan kenaikan jumlah heterofil dan penurunan jumlah limfosit akan meningkatkan ketahanan terhadap infeksi bakteri tetapi tidak untuk infeksi virus begitu juga sebaliknya (Zulkifli dan Siegel 1995).

Rataan rasio heterofil/limfosit ayam pedaging penelitian disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8. Rasio heterofil/limfosit ayam pedaging penelitian sampai umur 5 minggu

Pada penelitian ini perlakuan P3 (penambahan 0.6% tepung daun sambiloto) menunjukkan ayam menderita cekaman diantara perlakuan lain kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 Rasio heterofil/limfosit 1 3 5 Minggu Po P1 P2 P3 P4

Kandungan kolesterol daging dada, High Density Lipoprotein (HDL) dan Low

Density Lipoprotein (LDL) darah

Hasil pemeriksaan terhadap kandungan kadar kolesterol pada daging dada ayam pedaging dan LDL yang diberi ransum perlakuan sambiloto sampai level P3 menunjukkan bahwa nyata (P<0.01) menurun, sedangkan HDL nyata meningkat (P<0.05) dibandingkan dengan kontrol (P0). Kandungan kolesterol total daging dada, HDL dan LDL serum darah disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan kandungan kolesterol total daging dada, HDL dan LDL serum darah ayam pedaging

Perlakuan Peubah P0 P1 P2 P3 P4 Kolesterol Total (mg %) 42.72 ± 0.84 A 34.66 ± 0.60 B 28.29 ± 0.78 C 20.52 ± 0.70 D 21.43 ± 0.76 D HDL ( mg/dl) 69.63 ± 9.16 a 106.30 ± 7.80 b 102.15 ± 6.18 b 97.11 ± 5.02 b 93. 48 ± 10.04 b LDL (mg/dl) 71.47 ± 20.97 a 34.17 ± 3.72 b 41.52 ± 3.37 b 39.95 ± 8.29 b 63.57 ± 20.71 a Rasio HDL : LDL 0.97 3.10 2.41 2.26 1.47 Keterangan : P0 (Ransum basal tanpa penambahan tepung daun sambiloto), P1 (Ransum basal +

0.2 % tepung daun sambiloto), P2 (Ransum basal + 0.4 % tepung daun sambiloto), P3 (Ransum basal + 0.6 % tepung daun sambiloto), P4 (Ransum basal + 0.8 % tepung daun sambiloto). S uperscrip huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (P < 0.01). Superscrip huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P < 0.05)

Pengaruh perlakuan tepung daun sambiloto terhadap kandungan kolesterol total daging dada menunjukkan hasil yang signifikan (P<0.01) diantara perlakuan (Tabel 5). Nugroho et al. (2001) melaporkan bahwa pemberian ekstrak sambiloto dosis 160 mg/100g bb (berat badan) selama 8 minggu menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) dan menaikan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) secara bermakna pada tikus putih.

Kandungan kolesterol daging dada ayam pedaging umur lima minggu akibat penambahan tepung daun sambiloto nyata mengalami penurunan. Rataan penurunan kandungan kolesterol daging dada ayam pedaging selama penelitian cukup tajam. Hal ini terlihat antara perlakuan 0% (P0) dengan 0.2% (P1) sebesar 18.87 %, antara 0% (P0) dengan 0.4% (P2) sebesar 32.78 %, antara 0% (P0) dengan 0.6% (P3) sebesar 51.96 %, antara 0% (P0) dengan 0.8% (P4) sebesar

49.84 % sangat berbeda (P<0.01), demikian juga antara perlakuan 0.2% (P1) dengan 0.4% (P2) sebesar 18.38 %, antara 0.2% (P1) dengan 0.6% (P3) sebesar 40.80 %, antara 0.2% (P1) dengan 0.8% (P4) sebesar 38.17 % dan penambahan 0.4% (P2) dengan 0.6% (P3) sebesar 26.89 %, antara 0.4% (P2) dengan 0.8% (P4) sebesar 24.25 % terlihat perbedaan yang nyata, sedangkan antara penambahan 0.6% (P3) dengan 0.8% (P4) tidak terlihat perbedaan yang nyata. Kandungan kolesterol total terendah terjadi pada pada penambahan 0.6% (P3) sebesar 20.52 ± 0.70 mg% (Tabel 5).

Proses penurunan kolesterol pada penelitian ini dapat diduga terjadi akibat pengaruh tepung daun sambiloto yang mengandung zat aktif andrographolide yang menghambat efek fisiologis dalam tubuh dalam menghambat sintesa cairan empedu, sehingga sekresi cairan empedu menurun. Akibat menurunnya sekresi cairan empedu, maka kecernaan lemak kasar dan absorbsi lemak juga menurun sehingga komponen lemak dan kolesterol menjadi berkurang. Dalam mekanisme ini kolesterol berperan sebagai prekusor pembentukan asam empedu. Mills dan Bone (2000) menyatakan bahwa sambiloto berperan dalam merangsang produksi empedu. Zat aktif sambiloto di dalam usus halus akan mengikat asam empedu dan lemak yang akan membentuk senyawa komplek yang susah untuk diserap usus dan akan dikeluarkan bersama feses. Peningkatan asam empedu akan meningkatkan ekskresi kolesterol sehingga kadar kolesterol pada jaringan menurun (de Roos dan Katan 2000). Mayes (1999) menyatakan bahwa 2/3 kolesterol disintesa di dalam tubuh sedangkan yang 1/3 berasal dari makanan yang di konsumsi. Menurut Piliang dan Djojosoebagio (1990), kadar kolesterol di dalam darah dianggap aman jika tidak melebihi 225 mg/dl.

Berdasarkan Tabel 5 kandungan HDL hasil penelitian nyata mengalami peningkatan cukup tajam (P < 0.05) antara P0 dengan P1, P2, P3 dan P4 berturut-turut sebesar 52.66 %, 46.70 %, 39.47 % dan 34.25 %. Kandungan HDL paling tinggi terdapat pada perlakuan P1 sebesar 106.30 ± 7.80 mg/dl, sedangkan kandungan LDL nyata mengalami penurunan (P < 0.05) antara P0 dengan P1, P2, P3 dan P4 berturut-turut sebesar 52.19 %, 41.91 %, 44.10 %, 11.05 %. Kandungan LDL paling rendah terdapat pada perlakuan P1 sebesar 34.17 ± 3.72 mg/dl.

Rasio HDL -LDL perlakuan yang diberikan daun sambiloto memberikan respon yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P0). Hal ini menggambarkan bahwa kekuatan peran dari HDL lebih besar daripada LDL di dalam proses pembentukan ko lesterol daging dada ayam pedaging. Lehninger (1997) menyatakan jika kandungan HDL meningkat maka kandungan kolesterol total akan menurun karena HDL akan mentransfer kolesterol dari jaringan otot menuju hati sedangkan peranan LDL merupakan kebalikan dari peranan HDL yaitu mentransfer kolesterol dari hati ke jaringan.

Taraf penambahan tepung daun sambiloto dalam ransum memiliki tendensi meningkatkan HDL dan LDL yang diikuti dengan penurunan kandungan kolesterol. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan transportasi kolesterol dari jaringan hati sehingga kandungan kolesterol pada daging dada menurun. Kandungan HDL yang tinggi akan bermanfaat dalam menurunkan resiko penyakit jantung koroner dan mencegah terjadinya atherosklerosis (Heslet 1977 dan Wirahadikusuma 1985).

Rasio HDL dan LDL paling tinggi terdapat pada perlakuan P1 sebesar 3.10. Menurut Alais dan Linden (1991) bahwa resiko atherosklerosis akan tinggi apabila rasio HDL dan LDL kurang dari 0.25.

Peningkatan rasio HDL-LDL ini akan memberikan informasi mengenai peningkatan HDL serta kesehatan ayam pedaging yang dihasilkan sehingga aman bagi konsumen.

Performa ayam pedaging

Hasil pengamatan terhadap konsumsi ransum total, pertambahan berat badan dan konversi ransum ayam pedaging umur 5 minggu disajikan pada Tabel 6.

Tabel. 6 Rataan konsumsi ransum total, pertambahan berat badan dan konversi ransum ayam pedaging penelitian

Perlakuan Konsumsi ransum total (gr/ekor) Berat akhir (gr/ekor)

Pertambahan berat badan (gr/ekor/minggu) Konversi ransum P0 2 662.19 ± 5.62 1 449.06 ± 35.86 281.09 ± 6.92 1.84 ± 0.04 P1 2 664.38 ± 1.25 1 444.69 ± 29.66 279.79 ± 5.98 1.84 ± 0.04 P2 2 664.41 ± 1.20 1 470.63 ± 39.95 285.16 ± 7.08 1.81± 0.04 P3 2 652.19 ± 16.89 1 471.86 ± 59.92 285.22 ± 11.77 1.80 ± 0.06 P4 2 660.00 ± 6.52 1 433.75 ± 33.56 280.25 ± 9.24 1.85 ± 0.05 Keterangan : P0 (Ransum basal tanpa penambahan tepung daun sambiloto), P1 (Ransum basal +

0.2 % tepung daun sambiloto), P2 (Ransum basal + 0.4 % tepung daun sambiloto), P3

(Ransum basal + 0.6 % tepung daun sambiloto), P4 (Ransum basal + 0.8 % tepung daun sambiloto).

Konsumsi Ransum

Nilai konsumsi ransum sangat menentukan dalam analisis ekonomi pemeliharaan ayam potong. Ransum yang dikonsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan untuk hidup pokok, produksi dan pertumbuhan.

Perlakuan penambahan tepung daun sambiloto dalam ransum ayam pedaging terhadap konsumsi ransum menunjukkan hasil yang tidak signifikan (Tabel 6). Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan tepung daun sambiloto tidak memperbaiki dan juga tidak menurunkan terhadap konsumsi ransum ayam penelitian. Hasil ini sama dengan penelitian Tipakorn (2002) bahwa penggunakan tepung daun sambiloto sebanyak 0.1-0.4 % ternyata tidak mempengaruhi konsumsi ransum ayam broiler. Selanjutnya dilaporkan oleh Wanti (2004), pemberian air rebusan daun dan batang sambiloto level 7.5-22.5 ml/ekor tidak menyebabkan peningkatan konsumsi ransum ayam petelur. Hal ini karena pada setiap ransum perlakuan mengandung nutrisi yang sama. Disamp ing hal tersebut walaupun sambiloto mengandung zat aktif yaitu androgopholid yang terasa pahit dan bau yang menyengat ternyata tidak mempengaruhi konsumsi ransum selama penelitian sehingga palatabilitas ransum tetap baik. Berbeda dengan hasil tersebut Nuratmi et al. (1996) khasiat tanaman sambiloto antara lain adalah meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki saluran pencernaan. Zat pahit dari sambiloto yang

dikonsumsi akan merangsang sekresi kelenjar saliva (Prapanza dan Marianto 2003).

Meskipun tidak menunjukkan hasil yang signifikan, namun pada Tabel 6 terlihat bahwa ayam yang mendapat ransum yang mengandung tepung daun sambiloto 0.6 % (P3) cenderung mengkonsumsi ransum lebih rendah yaitu sebesar 2 652.19 ± 16.89 gr/ekor atau sekitar 0.36 %, 0.46 %, 0.46 % dan 0.29 % dibandingkan berturut-turut dengan perlakuan P0 (Ransum basal tanpa penambahan tepung daun sambiloto), P1 (Ransum basal + 0.2 % tepung daun sambiloto), P2 (Ransum basal + 0.4 % tepung daun sambiloto) dan P4 (Ransum basal + 0.8 % tepung daun sambiloto).

Rataan konsumsi ransum mingguan disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Konsumsi ransum mingguan ayam pedaging penelitin sampai umur 5 minggu

Gambar 9 terlihat bahwa rataan konsumsi ransum meningkat dengan bertambahnya umur hingga minggu akhir penelitian. Peningkatan konsumsi ini diperlukan sejalan dengan bertambahnya ukuran tubuh ayam sesuai pendapat North dan Bell (1990), konsumsi pakan mingguan akan meningkat seiring dengan kenaikan bobot tubuh. Menurut Scott et al. (1982), bahwa sebagian besar pakan yang dikonsumsi ayam digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pertumbuhan, jaringan tubuh dan melaksanakan aktivitas fisik.

0 200 400 600 800 1000 1 2 3 4 5 Umur (minggu) Konsumsi Ransum gr/ekor/minggu

P0 P1 P2 P3 P4

Pada penelitian ini konsumsi ransum berkisar antara 2 652.19 – 2 664.41 gr/ekor. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan yang dilaporkan oleh Widjaya (2005) berkisar antara 2 767.62 – 2 842.41 gr/ekor, akan tetapi lebih tinggi dari yang dilaporkan National Research Council (1994) dimana konsumsi ransum pada minggu ke lima sebesar 2.576 gr/ekor. Perbedaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain Strain, lingkungan atau tempat pemeliharaan. Wahyu (1982) menyatakan banyaknya makanan yang dikonsumsi tergantung pada jenis ternaknya (strain), aktivitas, temperatur, lingkungan dan pertumbuhan maupun untuk mempertahankan produksi serta tingkat energi di dalam ransum.

Pertambahan berat badan

Pertambahan berat badan tidak menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata diantara perlakuan (Tabel 6). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kandungan zat-zat makanan yang tidak berbeda antara kontrol dengan perlakuan (pemberian tepung daun sambiloto dalam ransumnya). Disamping itu bahan aktif yang ada pada sambiloto antara lain androgapholid yang tidak mempengaruhi proses metabolisme yang merugikan pada ternak. Hasil penelitian ini sama dengan yang dilaporkan Tipakorn (2002) bahwa pemberian tepung sambiloto dengan level 0.1% sampai 0.4 % tidak berpengaruh terhadap bobot badan.

Hasil yang ditunjukkan pada rataan pertambahan berat badan perminggu terlihat meningkat seiring bertambahnya umur pemeliharaan. Menurut North and Bell (1990) peningkatan pertambahan berat badan tidak terjadi secara seragam. Setiap minggunya pertumbuhan ayam mengalami peningkatan hingga mencapai pertumbuhan maksimal setelah itu mengalami penurunan. Jull (1979) menyatakan bahwa peningkatan yang terjadi pada ukuran tubuh akan membawa serta meningkatnya organ tubuh dan jaringan struktural seperti tulang dan otot. Lebih jelas mengenai hasil ini dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Pertambahan berat badan mingguan ayam pedaging penelitian sampai umur 5 minggu

Konversi ransum

Nilai konversi ransum semua perlakuan cukup baik (1.80 – 1.85) dan tidak menunjukkan hasil yang signifikan diantara perlakuan (Tabel 6). Nilai konversi ransum yang diperoleh pada penelitian ini tidak berbeda dengan hasil penelitian Tipakorn (2002) melaporkan bahwa pemberian tepung sambiloto dengan berbagai level (0.1- 0.4 %) tidak berpengaruh terhadap konversi ransum.

Secara statistik konversi ransum tidak berpengaruh nyata namun apabila ditinjau dari sudut ekonomi nilai konversi ransum P3 lebih baik dari yang lainnya, dimana pada perlakuan P0 (kontrol) nilai konversi ransum sebesar 1.84, sedangkan pada perlakuan P3 (penambahan tepung daun sambiloto 0.6 %) nilai konversi ransum sebesar 1.80, berarti ada selisih 0.04. Apabila harga ayam Rp.8.000,00/kg berarti ada nilai lebih sebesar Rp.320,00/ekor. Jika berat ayam 1.000 kg maka nilai lebih yang di dapat sebesar Rp.320.000,00. Hasil ini menunjukkan bahwa tanaman sambiloto dapat digunakan sebagai feed suplemen untuk meningkatkan efisiensi peningkatan ransum pada ayam pedaging. Menurut Tipakorn (2002) menyatakan zat aktif dalam sambiloto dapat menyebabkan menipisnya dinding usus, bersifat antibakterial yang dapat menghambat bakteri patogen dan dapat menghambat aktivitas enzim urease. Perkembangan bakteri patogen dan aktivitas enzim urease yang terhambat menyebabkan semakin sedikit protein atau asam amino yang dirombak menjadi produk amonia dan air, sehingga protein atau

0 100 200 300 400 500 1 2 3 4 5 Umur (minggu)

Pertambahan bobot badan

(gr/ekor/minggu) P0 P1 P2 P3 P4

asam-asam amino yang terdapat dalam pakan dapat dimanfaatkan lebih baik untuk pertumbuhan berat badan.

Nilai konversi ransum pada penelitian ini (Tabel 6) lebih rendah dari yang dilaporkan Widjaya (2005) bahwa nilai konversi ransum ayam pedaging umur 5 minggu berkisar antara 1.81-2.24. Rendahnya nilai konversi ransum pada perlakuan P3 kemungkinan dikarenakan oleh produk metabolisme yang terdapat pada daun sambiloto, sehingga secara langsung produk metabolisme tersebut dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak untuk membentuk atau menambah ukuran jaringan baru, sehingga dapat memperbaiki angka konversi ransum. Rendahnya konversi ransum pada perlakuan P3 memberikan pengaruh positif yang ditandai dengan rendahnya jumlah konsumsi ransum dan tingginya pertambahan berat badan dibandingkan dengan kontrol (P0) (Tabel 6).

Semakin tinggi nilai konversi ransum menunjukkan semakin banyak ransum yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan persatuan berat. Demikian sebaliknya semakin rendah nilai konversi ransum semakin baik kualitas ransum.

Anggorodi (1985) melaporkan bahwa konversi ransum merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran tentang tingkat efisiensi penggunaan ransum. Semakin rendah nilai konversi ransum, maka semakin tinggi tingkat efisiensi penggunaan ransumnya.

Nilai efisiensi pakan yang besar merupakan tujuan utama dalam pemeliharaan ayam. Hal tersebut karena efisiensi pakan berhubungan dengan tingkat pertumbuhan ayam. Jull (1979) menyatakan bahwa pertumbuhan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi efisiensi penggunaan pakan. Ayam yang memiliki pertumbuhan yang cepat lebih efisien dalam menggunakan pakan daripada ayam pertumbuhan lambat (Esminger 1992). Untuk lebih jelas mengenai konversi ransum pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Konversi ransum mingguan ayam pedaging penelitian sampai umur 5 minggu

Mortalitas

Mortalitas adalah angka yang menunjukkan jumlah ayam yang mati selama pemeliharaan. Mortalitas merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam suatu usaha peternakan ayam. Menurut North dan Bell (1990) faktor-faktor yang mempengaruhi angka kematian antara lain bobot badan, bangsa, tipe ayam, kebersihan lingkungan, sanitasi peralatan dan penyakit.

Selama penelitian berlangsung tidak ada mortalitas (0 %). Hal ini kemungkinan karena kekebalan tubuh ayam pedaging meningkat selama penelitan. Tipakorn (2002) melaporkan bahwa pemberian tepung sambiloto dengan level 0.1–0.4 % berpengaruh menurunkan mortalitas dibanding kontrol. Semakin tinggi level sambiloto yang digunakan semakin rendah mortalitas ayam pedaging. Tanaman sambiloto dapat mengobati berbagai penyakit diantaranya penyakit saluran pencernaan dan pernafasan (Abeysekeres et al. 1990), antidiare yang disebabkan oleh bakteri (Gupta et al. 1990 ; Kanniapan et al. 1991). Selanjutnya Dairse dan Sulaeman (1997) menyatakan jamu – jamuan bersifat sebagai antibakteri yang mampu membunuh mikroorganisme patogen seperti Eschenchia coli, Streptococcus aureus dan Salmonella typhosa, sambiloto mampu meningkatkan immunostimulant (Nuratmi et al. 1996).

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 1 2 3 4 5 Umur (minggu) Konversi Ransum P0 P1 P2 P3 P4

Indeks Produksi

Salah satu cara yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam usaha ternak adalah dengan menghitung indeks produksi. Menurut Arifien (1997) tingkat keberhasilan usaha ternak tidak hanya dipengaruhi rendahnya nilai konversi ransum akan tetapi juga perlu dilihat indeks produksinya. Indeks produksi dipengaruhi oleh bobot badan akhir, persentase ayam yang hidup, lama pemeliharaan dan konversi ransum.

Indeks produksi ayam pedaging dari lima macam ransum perlakuan selama penelitian disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Indeks produksi ayam pedaging penelitian Perlakuan Peubah

P0 P1 P2 P3 P4

Persentase ayam hidup 100 100 100 100 100 Rataan bobot badan akhir

(gr /ekor) 1 449.06 1 444.69 1 470.63 1 470.94 1 446.25 Konversi ransum 1.84 1.84 1.81 1.80 1.84 Lama pemeliharaan (hari) 35 35 35 35 35 Indeks produksi 225.00 224.33 228.36 228.41 224.57 Prestasi Istimewa Istimewa Istimewa Istimewa Istimewa Keterangan : P0 (Ransum basal tanpa penambahan tepung daun sambiloto), P1 (Ransum basal +

0.2 % tepung daun sambiloto), P2 (Ransum basal + 0.4 % tepung daun sambiloto), P3 (Ransum basal + 0.6 % tepung daun sambiloto), P4 (Ransum basal + 0.8 % tepung daun sambiloto)

Dari Tabel 7 terlihat bahwa indeks produksi tertinggi dicapai pada pakan perlakuan P3 dan P2 yaitu 228.41 dan 228.36. Namun secara numerik terlihat

Dokumen terkait