• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini memaparkan hasil penelitian yang dilengkapi dengan pembahasan tentang hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri Bogo Bantul. Hasil yang dipaparkan berupa data pelaksanaan tindakan pada tiap siklus menggunakan metode role playing. Tindakan ini dilakukan dalam 2 siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari 3 kali pertemuan atau 11 jam pelajaran.

1. Deskripsi Awal Pra Tindakan

Pemberian tindakan dalam penelitian pra tindakan ini dilakukan secara kolaboratif dengan guru kelas V, yaitu Ida Nur Hayati. Peneliti melakukan dialog dengan guru kelas V tentang permasalahan yang terjadi pada saat pembelajaran IPS. Setelah mengetahui permasalahan yang terjadi, peneliti berdiskusi dengan guru sehingga diputuskan untuk menerapkan metode role playing sebagai alternatif dalam mengatasi masalah.

Peneliti melakukan pengamatan di kelas yang akan dikenai tindakan yaitu kelas V dengan melihat aktivitas belajar dan nilai hasil belajar IPS siswa. Pengamatan dilakukan dengan berfokus pada bagaimana keadaan atau perilaku siswa selama pembelajaran, hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS, dan metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru. Berdasarkan hasil observasi pra siklus diperoleh data penilaian akhir semester I pada mata pelajaran IPS tahun ajaran 2016/2017 siswa kelas V SD Negeri Bogo Bantul. Terdapat beberapa nilai siswa yang belum mencapai KKM yang telah ditetapkan sekolah yaitu ≥ 76. Jumlah siswa yang tuntas adalah 11 siswa (55%) sedangkan jumlah

89

siswa yang belum tuntas adalah 9 siswa (45%), dengan rata-rata sebesar 68,00. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, yaitu karena pembelajaran IPS dianggap kurang menarik dan kurang variatif. Selain itu, permasalahan ini juga terjadi karena cakupan materi IPS cukup banyak namun waktu yang tersedia terbatas, sehingga guru lebih fokus untuk mengejar keterselesaian materi. Penyampaian materi pelajaran didominasi menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, terlihat bahwa pada proses pembelajaran IPS kurang menunjukkan adanya komunikasi dan interaksi antara siswa dengan guru. Aktivitas belajar siswa pada proses pembelajaran IPS juga kurang aktif jika dibandingkan dengan aktivitas belajar siswa pada proses pembelajaran lainnya. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Terdapat beberapa siswa yang melakukan aktivitas di luar pembelajaran saat guru memberikan penjelasan, seperti menggambar, bermain kertas, berbicara dengan teman, dan tiduran.

Peneliti mengambil data hasil belajar yang berupa data awal pra tindakan. Data pra tindakan tersebut diperoleh dari hasil pre-test yang peneliti berikan sebelum diadakannya tindakan. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS sebelum menggunakan metode role playing. Berikut data yang diperoleh sebelum tindakan dilakukan.

Tabel 6. Hasil Belajar Ranah Kognitif Pra Tindakan (Pre-test) Jumlah

Siswa

Ketuntasan Persentase (%)

Rata-rata Tuntas Belum Tuntas Tuntas (%) Belum Tuntas

(%)

20 2 18 10 90 68,55

KKM = 76 Sumber: Lampiran 24

90 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Tuntas Belum Tuntas

Hasil Belajar IPS Pra Tindakan (Pre-test)

10%

90%

Berdasarkan tabel di atas, diketahui dari 20 siswa yang berhasil mencapai ketuntasan hanya 2 siswa (10%), sedangkan yang belum tuntas terdapat 18 siswa (90%). Rata-rata siswa masih rendah, yaitu 68,55. Untuk lebih jelas, uraian tabel di atas dapat dilihat dalam diagram di bawah ini.

Gambar 3. Diagram Hasil Belajar IPS Pra Tindakan (Pre-test) 2. Pelaksanaan Tindakan

a. Deskripsi Tindakan Siklus I

1) Planning (Perencanaan Tindakan Siklus I)

Peneliti melakukan beberapa kegiatan pada perencanaan siklus I, sebagai berikut.

a) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan metode role playing (lihat lampiran 5, 6, 7 halaman 156, 162, 168)

b) Menyusun lembar kerja siswa (lihat lampiran 20 halaman 215) c) Menyiapkan soal tes (lihat lampiran 12 halaman 192)

91

e) Menyusun instrumen penelitian (lampiran 16, 17, 18 halaman 209, 210, 211) 2) Act and Observe (Pelaksanaan dan Observasi Tindakan Siklus I)

Tindakan dilakukan oleh guru dengan cara melaksanakan pembelajaran menggunakan metode role playing sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Tindakan dilakukan dalam 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Kamis, 30 Maret 2017 pukul 09.15 sampai 10.25. Pertemuan kedua dilaksanakan pada Kamis, 6 April 2017 pukul 09.15 sampai 10.25. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Selasa, 18 April 2017 pukul 09.50 sampai 10.25. Materi pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga sama yaitu peristiwa sekitar proklamasi. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan satu dan dua dilaksanakan dalam 2 jam pelajaran (70 menit) dan pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan ketiga dilaksanakan dalam 1 jam pelajaran (35 menit).

a) Pertemuan Pertama Kegiatan Awal

Materi yang diajarkan pada pertemuan pertama adalah materi IPS tentang peristiwa sekitar proklamasi (pertemuan di Dalat, peristiwa Rengasdengklok, perumusan teks proklamasi dan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan). Pada kegiatan awal, proses pembelajaran diawali dengan mengkondisikan siswa agar tenang, karena pembelajaran dilaksanakan pada jam 4 dan 5 setelah jam istirahat. Guru mengajak siswa bernyanyi bersama lagu kemerdekaan. Sebagian siswa bernyanyi dengan antusias. Guru melakukan apersepsi dengan mengaitkan lagu kemerdekaan dengan materi peristiwa menjelang proklamasi. Guru mengajukan pertanyaan mengenai siapa bapak proklamator Indonesia dan kapan Indonesia

92

merdeka. Kemudian guru mengaitkan pertanyaan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran IPS kali ini. Kondisi kelas masih kurang kondusif karena siswa masih gaduh, kemudian guru bertanya kepada siswa apakah pembelajaran akan dilanjutkan atau tidak. Akhirnya siswa dan guru menyepakati peraturan selama pembelajaran berlangsung, yaitu siswa aktif bertanya, siswa berkonsentrasi mengikuti pembelajaran dan siswa menghargai orang yang sedang berbicara. Guru menjelaskan pembelajaran menggunakan metode role playing pada siswa. Role playing belum pernah diterapkan dalam pembelajaran IPS di kelas V, sehingga terdapat beberapa siswa yang memiliki rasa ingin tahu seperti apa metode pembelajarannya.

Kegiatan Inti

Kegiatan inti dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah role playing. Langkah pertama yang dilaksanakan oleh guru yaitu pemanasan, dilakukan dengan menceritakan akibat penjajahan Jepang yang mendorong bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Jepang memberikan janji kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, dengan maksud untuk mengambil hati bangsa Indonesia agar bangsa Indonesia mau membantu Jepang yang makin terdesak dalam perang melawan sekutu. Janji Jepang tersebut diwujudkan dengan pembentukan BPUPKI yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Pembentukan BPUPKI ini diresmikan oleh Jendral Terauchi yang memanggil Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Widyodiningrat ke Dalat. Berita kekalahan Jepang teryata didengar oleh salah satu golongan muda, yang

93

mengakibatkan golongan tua terdesak oleh golongan muda agar memanfaatkan moment ini untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Golongan muda membawa Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok untuk menghindari pengaruh Jepang dan mengamankan kedua tokoh tersebut. Perbedaan pendapat golongan tua dan muda dapat terselesaikan dengan musyawarah demi kepentingan bangsa (lampiran 29 halaman 237). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan cerita yang mereka ketahui berkaitan dengan penjajahan Jepang.

Langkah kedua role playing yaitu memilih siswa yang akan berperan. Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok yang heterogen. Penentuan kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan siswa dalam belajar, sehingga dalam satu kelompok terdapat siswa yang pintar, sedang dan kurang. Masing-masing kelompok beranggotakan 10 siswa. Kelompok 1 beranggotakan AYS, RA, RN, MASP, TPP, DN, FZN, MS, LF, dan MHu. Kelompok 2 beranggotakan FA, AD, HS, MM, RAAP, YIW, ADZ, MHa, LNI, dan IY. Pembagian peran dalam kelompok 1, yaitu AYS berperan sebagai Ir. Soekarno, RA sebagai Moh. Hatta, RN sebagai Sutan Syahrir, MASP sebagai Ahmad Subarjo, TPP sebagai Chaerul Shaleh, DN sebagai Sukarni, FZN sebagai Wikana, MS sebagai Dr. Muwardi, LF sebagai Jendral Terauchi, dan MHu berperan sebagai narator. Pembagian peran dalam kemlompok 2, yaitu FA sebagai Ir. Soekarno, AD sebagai Moh. Hatta, HS sebagai Sutan Syahrir, MM sebagai Ahmad Subarjo, RAAP sebagai Chaerul Shaleh, YIW sebagai Sukarni, ADZ sebagai Wikana, MHa sebagai Dr. Muwardi, LNI sebagai Jendral Terauchi, dan IY sebagai narator.

94

Siswa mendapatkan naskah drama yang akan mereka mainkan. Siswa membaca naskah drama sekitar proklamasi dalam kelompoknya. Sembari membaca naskah drama, guru meminta siswa untuk memperhatian gambar tokoh yang akan mereka perankan di buku paket. Guru dan siswa berdiskusi mengenai watak-watak tokoh yang akan diperankan. Siswa berlatih bermain peran bersama kelompoknya (lampiran 29 halaman 237). Siswa berlatih melakukan role playing di depan kelas setelah berlatih dengan kelompoknya masing-masing (lampiran 29 halaman 237). Saat kelompok 1 memainkan role playing, kelompok 2 mengamati dan setelah kelompok 1 selesai memainkan role playing, kelompok 2 menyampaikan kekurangan dalam hal penjiwaan tokoh-tokoh yang diperankan kelompok 1. Kelompok 2 juga berlatih memainkan role playing di depan kelas, kelompok 1 mengamati permainan yang dilakukan kelompok 2. Setelah permainan selesai, kelompok 1 menyampaikan hasil pengamatannya. Setelah siswa selesai menyampaikan hasil pengamatannya, siswa menyamaikan hasil evaluasi terhadap permainan kelompok 2. Evaluasi ini bertujuan agar materi pembelajaran yang hendak disampaikan diterima dengan baik. Evaluasi yang disampaikan terkaiat dengan penjiwaan tokoh yang diperan oleh kelompok 2.

Langkah ketiga role playing yaitu menyiapkan penonton yang akan mengobservasi. Guru menentukan kelompok yang menjadi penonton pada permainan role playing yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya. Guru menjelaskan tugas penonton yaitu mengamati permainan role playing yang dilakukan kelompok lain dan menuliskan hasil pengamatannya dalam lembar observasi (LKS) yang disediakan. Penonton menuliskan peristiwa yang terjadi,

95

tokoh yang terlibat, dan nilai-nilai yang dapat diteladani dari peristiwa maupun tokoh-tokoh.

Kegiatan Akhir

Kegiatan akhir dilakukan dengan melakukan tanya jawab mengenai materi yang baru saja dipelajari. Guru melakukan refleksi dan mengharapkan siswa untuk menghafal naskah drama agar permaian role playing pada pertemuan berikutnya dapat berjalan dengan lancar. Kemudian telah disepakati bahwa pada pertemuan selanjutnya, kelompok 2 akan memainkan peran pada sesi 1. Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk giat belajar. Guru menutup pelajaran dengan salam penutup.

b) Pertemuan Kedua Kegiatan Awal

Kegiatan awal dimulai dengan berdoa untuk memulai pembelajaran IPS. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang latar belakang pertemuan golongan tua dan Jendral Terauchi di Dalat, dan dijawab oleh siswa. Guru mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Guru menjelaskan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran IPS menggunakan metode role playing.

Kegiatan Inti

Guru melaksanakan langkah keempat role playing yaitu mengatur panggung. Meja dan kursi diatur atau dipusatkan di bagian kiri ruang kelas, agar ruang kelas bagian kanan dapat digunakan untuk ruang gerak siswa selama melakukan permainan role paying. Siswa menyiapkan bendera dan tiang bendera

96

di dalam kelas. Sebelum permainan role playing dilaksanakan, guru membagikan LKS dan menjelaskan cara mengisi LKS. Lembar Kerja Siswa (LKS) pada pertemuan kali ini diberi tanggal untuk mempermudah siswa menentukan peristiwa dan tokoh-tokoh yang terlibat.

Langkah kelima yaitu permainan. Permainan diawali dengan pembacaan narasi oleh IY tentang terdesaknya Jepang oleh Sekutu. Jepang memberikan janji kemerdekaan bagi Indonesia, dengan maksud supaya Jepang mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia. Terjadilan peristiwa Dalat, ketiga tokoh Indonesia (Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Widyodiningrat) dipanggil Jendral Terauchi ke Dalat, Vietnam. Narator (IY) kembali membacakan narasi tentang kekalahan Jepang terhadap sekutu karena kota Hirosima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Berita tersebut didengar oleh Sutan Syahrir (HS) dan menyebabkan perbedaan pendapat antara golongan tua dan muda. Golongan muda kemudian mengadakan rapat di Asrama Baperpi Jalan Cikini No. 71 Jakarta dan disepakati untuk mengasingkan Ir. Soekarno (FA) dan Moh. Hatta (AD) ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945 untuk menghindari pengaruh dari Jepang. Setelah terjadi kesepakatan antara golongan tua dan muda di Rengasdengklok, akhirnya Ir. Soekarno (FA) dan Moh. Hatta (AD) dibawa kembali ke Jakarta untuk menyusun teks proklamasi. Tanggal 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, Ir. Soekarno (FA) didampingi Moh. Hatta (AD) memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sang saka merah putih

97

dikibarkan oleh Suhud dan Latif Hendraningrat diiringi lagu Indonesia Raya (lampiran 29 halaman 238).

Langkah keenam yaitu diskusi dan evaluasi. Setelah permainan role playing pada sesi 1 tersebut selesai, kemudian dilakukan diskusi dan evaluasi. Kelompok 1 yang berperan sebagai penonton memaparkan hasil pengamatannya. Pengamatan yang disampaikan meliputi peristiwa, tokoh yang terlibat dan nilai-nilai yang dapat diteladani. Setelah penonton memaparkan hasil penagamatan, penonton memaparkan saran dan tanggapan terhadap permainan yang dilakukan oleh kelompok 2. Guru juga memberikan masukan terhadap permainan peran dari kelompok 2. Setelah diskusi selesai, dilanjutkan dengan permainan role playing sesi 2.

Langkah ketujuh yaitu permainan berikutnya. Permainan role playing pada langkah ini dilakukan oleh kelompok 1 yang beranggotakan AYS, RA, RN, MASP, TPP, DN, FZN, MS, LF dan MHu. Kelompok 2 bertugas sebagai penonton yang mengamati permainan role playing yang dimainkan oleh kelompok 1. Permainan pada sesi 2 ini diawali dengan narasi yang dibacakan oleh MHu. Tokoh-tokoh yang berperan sesuai dengan narasi, segera memasuki panggung setelah narasi selesai dibacakan. Peristiwa pertama yang dimainkan yaitu peristiwa dipanggilnya Ir. Soekarno (AYS), Moh Hatta (RA) dan Dr. Radjiman Widyodiningrat oleh Jendral Terauchi (LF) ke Dalat.

Narator (MHu) membacakan narasi mengenai golongan muda yang mengadakan rapat setelah mendengar berita kekalahan Jepang. Menurut Sutan Syahrir (RN) kesempatan ini harus dimanfaatkan supaya Indonesia dapat segera

98

memproklamasikan kemerdekaan. Sebagai tindak lanjut dari rapat tersebut, akhirnya golongan muda mengasingkan Ir. Soekarno (AYS) dan Moh. Hatta (RA) ke Rengasdengklok untuk menghindari pengaruh dari Jepang. Setelah terjadi kesepakatan antara golongan tua dan muda dalam hal proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 16 Agustus 1945 Ir. Soekarno (AYS) dan Moh. Hatta (RN) dibawa kembali ke Jakarta untuk menyusun teks proklamasi. Penyusunan teks proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Maeda, yang bertujuan untuk menghindari kecurigaan dari Jepang. Tanggal 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.00 WIB, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan dan bendera merah putih dikibarkan oleh Suhud dan Latif Hendraningrat yang diiringi lagu Indonesia Raya (lampiran 29 halaman 238).

Langkah kedelapan yaitu diskusi lebih lanjut. Setelah permainan pada sesi 2 selesai, kemudian dilanjutkan dengan diskusi lebih lanjut. Kelompok 2 memaparkan hasil pengamatannya atas permainan role playing yang dilakukan oleh kelompok 1. Pengamatan yang dilakukan oleh kelompok 2 sudah sesuai dengan urutan peristiwa, tokoh yang terlibat dan nilai-nilai yang dapat diteladani dari tokoh dan peristiwa sekitar proklamasi tersebut. Setelah penonton memaparkan hasil penagamatan, penonton menyampaikan saran dan tanggapan terhadap permainan yang dilakukan oleh kelompok 2. Guru juga memberikan masukan terhadap permainan peran dari kelompok 2.

Kegiatan Akhir

Memasuki kegiatan penutup, guru memberikan motivasi kepada siswa untuk giat belajar. Guru juga memberikan penguatan kepada siswa atas kinerja

99

siswa yang baik selama melaksanakan permainan role playing. Guru dan siswa bersama-sama membaca doa untuk mengakhiri pembelajaran.

c) Pertemuan Ketiga Kegiatan Awal

Kegiatan awal pembelajaran diawali dengan salam dan doa serta mengkondisikan siswa agar tenang. Guru memberikan apersepsi berupa pertanyaan-pertanyaan terkait materi peristiwa sekitar proklamasi untuk mengantarkan siswa memasuki kegiatan inti pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan yang guru sampaikan, sebagian besar dijawab oleh siswa yang memiliki kemampuan kognitif tinggi.

Kegiatan Inti

Kegiatan inti dari pembelajaran pada pertemuan ini adalah melaksanakan langkah role playing yang terakhir, yaitu generalisasi. Siswa dan guru meyimpulkan materi yang dipelajari dari permainan role playing yang telah dilaksanakan. Guru dan siswa menyimpulkan urutan peristiwa yang berupa tanggal-tanggal peristiwa, tokoh-tokoh yang terlibat dan nilai-nilai yang dapat diteladani dari peristiwa sekitar proklamasi. Guru menuliskan kesimpulan di papan tulis, yang kemudian dicatat oleh siswa (lampiran 29 halaman 239). Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk menanyakan materi yang belum mereka pahami.

Kegiatan Akhir

Kegiatan akhir pada pembelajaran ini digunakan untuk mengerjakan evaluasi hasil belajar siklus I (lampiran 29 halaman 239). Setelah semua siswa

100

selesai mengerjakan evaluasi hasil belajar, guru memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu giat belajar. Guru menutup pembelajaran dengan salam penutup.

Observasi dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan pembelajaran pada siklus I. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas siswa. Adapun hasil observasi aspek psikomotor siswa pada saat proses pembelajaran IPS menggunakan metode role playing siklus I diperoleh dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer selama proses pembelajaran dengan mengisi lembar observasi aspek psikomotor siswa. Berdasarkan hasil observasi siklus I, pada pertemuan pertama perhatian siswa terhadap pembelajaran IPS masih rendah. Pada kegiatan inti, sebagian besar siswa kurang memperhatikan cerita pengantar yang disampaikan oleh guru. Masih banyak siswa yang mengobrol dengan teman sebangkunya. Siswa sudah dapat berlatih permainan dengan baik ketika berlatih dengan kelompoknya, namun ketika siswa berlatih permainan di depan kelas, siswa masih kurang percaya diri dan suaranya kurang terdengar jelas ketika berdialog.

Pada pertemuan kedua, permainan belum dapat terlaksana dengan baik. Beberapa siswa ada yang percaya diri ketika bermain peran, namun ada pula siswa yang tidak bersungguh-sungguh dan tidak menghayati peran yang dibawakannya. Terdapat siswa yang melaksanakan permainan dengan senang hati, namun ada pula siswa yang memainkan permainan dengan terpaksa. Ada beberpa siswa yang kurang senang dengan peraturan yang telah disepakati, yaitu siswa tidak mau untuk menggunakan nomor punggung. Ketika salah satu kelompok bermain peran,

101

siswa yang bertugas sebagai penonton kurang memperhatikan jalannya permainan. Masih ada beberapa siswa yang mengobrol dengan temannya, bermain sendiri dan ada pula yang tiduran. Saat diskusi berlangsung, terdapat hasil pengamatan siswa yang kurang tepat, karena siswa masih mengalami kesulitan untuk menentukan nilai-nilai yang dapat diteladani dari peristiwa dan tokoh-tokoh. Siswa yang tidak sedang menyampaikan hasil pengamatannya kurang menyambut baik pendapat dari temannya, karena kurang mendengarkan apa yang disampaikan oleh temannya. Pada kegiatan evaluasi, saran dan tanggapan untuk kelompok yang bermain didominasi oleh siswa yang memiliki tingkat kemampuan akademik tinggi saja.

Pada pertemuan ketiga, masih terdapat beberapa siswa yang cenderung diam saat melaksanakan generalisasi. Ada pula siswa yang aktif bertanya namun bukan terkait dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Kegiatan pada langkah ini masih didominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi. Berikut ini hasil belajar ranah psikomotor siklus I.

Tabel 7. Hasil Belajar Ranah Psikomotor Siklus I

Kriteria Perilaku Jumlah Siswa (%)

Sangat Baik (SB) 0 0

Baik (B) 4 20

Cukup (C) 14 70

Kurang (K) 2 10

Kurang Sekali (KS) 0 0

Sumber: Lampiran 22 halaman 219

Berdasarkan data di atas sebanyak 0 siswa (0%) mencapai kriteria perilaku kurang sekali, sebanyak 2 siswa (10%) mencapai kriteria perilaku kurang, 14 siswa (70%) mencapai kriteria perilaku cukup, 4 siswa (20%) mencapai kriteria perilaku baik dan 0 siswa (0%) mencapai kriteria perilaku sangat baik.

102

Tes atau evaluasi juga digunakan sebagai alat pengumpul data pada penelitian ini. Adapun tes yang berupa pemberian soal pada akhir siklus I, berguna bagi peneliti untuk mengetahui seberapa besar persentase ketuntasan siswa dalam melaksanakan pembelajaran IPS menggunakan metode role playing. Nilai yang diperoleh siswa setelah mengerjakan tes pada akhir siklus ini termasuk dalam hasil belajar kognitif yang dapat dinyatakan dalam bentuk persentase, sehingga diperoleh persentase perolehan hasil belajar kognitif pascatindakan siklus I yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 8. Hasil Belajar Ranah Kognitif (Post-test) Siklus I Jumlah Siswa Ketuntasan Persentase (%) Keterangan Tuntas Belum Tuntas Tuntas (%) Belum Tuntas (%) 20 11 9 55 45 Nilai Tertinggi 87,5 Nilai Terendah 67,5

Rata-rata Nilai Siswa 77,50

Sumber: Lampiran 25 halaman 222

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa post-test siklus I diikuti oleh 20 siswa. Siswa yang tuntas atau telah mencapai KKM (≥76) sebanyak 11 siswa atau jika dipersentasekan sebesar 55%. Siswa yang belum tuntas sebanyak 9 siswa atau jika dipersentasekan sebesar 45%. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 87,5 dan nilai terendah yang diperoleh siswa yaitu 67,5. Rata-rata nilai siswa pada tes hasil belajar siklus I ini sebesar 77,50. Berikut adalah perbandingan hasil belajar ranah kognitif pra tindakan dengan siklus I.

103 2 11 18 9 0 5 10 15 20 Pratindakan Siklus I

Peningkatan Hasil Belajar IPS Ranah Kognitif pada Pratindakan dan Siklus I

Tuntas Belum Tuntas

Gambar 4. Histogram Peningkatan Hasil Belajar IPS Ranah Kognitif pada Pratindakan dan Siklus I

Tabel 9. Perbandingan Hasil Belajar Ranah Kognitif pada Pratindakan dan Siklus I

Ketuntasan

Pra Tindakan Siklus I

T BT T BT

2 18 11 9

10% 90% 55% 45%

Rata-rata Kelas

Pra Tindakan Siklus I

68,55 77,50

Keterangan: T = Tuntas BT = Belum Tuntas Sumber: Lampiran 25 halaman 222

Data pada tabel di atas jika disajikan dalam bentuk histogram peningkatan hasil belajar ranah kognitif pada pratindakan dan siklus I menjadi seperti berikut.

Berdasarkan data di atas, pada hasil belajar IPS ranah kognitif pra tindakan dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas atau telah mencapai KKM (≥76) sebanyak 2 siswa (10%) dan siswa yang belum tuntas sebanyak 18 siswa (90%). Setelah dilakukan tindakan siklus I, terjadi kenaikan jumlah siswa yang tuntas. Pada siklus I jumlah siswa yang tuntas sebanyak 11 siswa (55%), sedangkan

104

jumlah siswa yang belum tuntas berkurang yaitu menjadi 9 siswa (45%). Kenaikan persentase ketuntasan siswa pada pra tindakan dan setelah tindakan (siklus I) sebesar 45% (dari 10% menjadi 55%).

Kemudian untuk mengetahui tingkat hasil belajar IPS ranah kognitif siswa kelas V digunakanlah klasifikasi kecakapan akademik. Klasifikasi hasil belajar IPS kelas V pada siklus I dapat disajikan dalam tabel berupa frekuensi perolehan nilai dengan rentang nilai sebagai berikut.

Tabel 10. Klasifikasi Kecakapan Akademik Hasil Belajar Ranah Kognitif Siklus I

No Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 0 – 55 Kurang 0 0

2 56 – 70 Cukup Baik 3 15

3 71 – 85 Baik 16 80

4 86 – 100 Sangat Baik 1 5

Sumber: Lampiran 25 halaman 222

Berdasarkan data hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Bogo di atas, perolehan nilai hasil belajar tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 87,5 sedangkan nilai terendah yang diperoleh siswa yaitu 67,5, dengan rata-rata kelas sebesar

Dokumen terkait