• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pendidikan

Cerpen Cinta Laki-Laki Biasa karya Asma Nadia, pendidikan yang menjadi masalah utama dalam cerita tersebut. Adanya perbedaan tingkat pendidikan diantara ke dua tokoh utama yaitu Nania dan Rafli sehingga hubungan mereka kurang mendapatkan restu dari pihak keluarga wanita.

“Sebab kamu paling berprestasi dibanding kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba bela diri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi se-provinsi. Suaramu bagus!”(Cinta Laki-Laki Biasa:4)

Komunikasi yang terdapat dalam dialog tersebut terjalin sebuah komunikasi antara tokoh Nania dengan ayahnya, isi dialog tersebut ayah Nania berusaha meyakinkan Nania bahwa dirinya penuh dengan segudang prestasi yang wanita lain belum tentu bisa meraih prestasinya. Ayah Nania berusaha pula meyakinkan Nania bahwa dia bisa mendapatkan lelaki luar biasa, berpendidikan lebih atau sebanding dengan Nania. Tak perlu menikahi lelaki yang tak dapat menjamin masa depannya.

“Sebab masa depanmu cerah, sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki mana pun yang kamu mau!”(Cinta Laki-Laki Biasa:5)

Berdasarkan dialog di atas dapat dikatakan masalah pendidikan, karena dalam dialog tersebut terjalin komunikasi antara Nania dengan

47

ayahnya isi dialog tersebut ayah Nania merasa bangga pada Nania karena dia segera akan menyandang gelar insinyur maka dari itu ayah Nania sangat menginginkan anak gadisnya yang cantik dan pintar itu mendapatkan laki-laki laur biasa, yang sebanding dengan pendidikan yang Nania capai sehingga dimata masyarakat akan nilai pasangan yang sepadan. Ayah Nania sangatlah kecewa terhadap keputusan yang dipilih oleh Nania, Rafli yang hanya menyadang gelar jauh di bawah Nania seharusnya tak menjalin hubungan dengan anak cantik dan pintarnya.

“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”(Cinta Laki-Laki Biasa:7)

Berdasarkan percakapan di atas yang terjalin antara Nania dengan kakaknya, isi dialog tersebut menjelaskan tentang kakak Nania sangat tak merestui pernikahan Nania dan Rafli. Menurut kakaknya, Nania mampu bersanding dengan laki-laki yang kaya, tampan, berpendidikan tinggi dan berpenghasilan yang luar biasa, tidak perlu menikah dengan laki-laki yang biasa-biasa saja dengan tingkat pendidikan jauh dibawah Nania. Kakak Nania tak menyangka bahwa Nania memilih seorang pria yang akan membuat nama keluarga tercoreng karena perbedaan status sosial. Apa yang dimiliki Nania sangatlah luar biasa sedangkan Rafli yang tidak memiliki apa-apa sama sekali membuat para saudara Nania menyayangkan atas keputusan Nania menikahi laki-laki biasa saja.

“Rafli juga pintar!”

“Tidak sepintar kamu, Nania” (Cinta Laki-Laki Biasa:7)

Percakapan di atas yang terjalin antara Nania dengan adik Nania, isi dari komunikasi tersebut mengenai masalah keluarga Nania melihat adanya perbedaan sangat jauh antara Nania dan Rafli. Keluarga Nania seolah-olah berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan Nania bahwa Rafli bukanlah orang yang tepat untuknya karena banyaknya kekurangan yang dimiliki oleh Rafli. Namun begitu, Nania tetap teguh memilih Rafli menjadi pendamping hidupnya. Nania berusaha pula berada di pihak Rafli, menurutnya apakah kelayakan seseorang menjadi suami harus dilihat dari kekayaan, dan tingkat pendidikannya. Tak seharusnya seseorang dinilai dari segi materinya saja namun dapat pula dilihat dari ketulusan dan keikhlasannya.

2. Jabatan

Pada cerpen Cinta Laki-Laki Biasa karya Asma Nadia, bukan hanya masalah pendidikan namun ada berbagai masalah terdapat dalam cerita tersebut salah satunya lagi adalah masalah mengenai jabatan. Keluarga Nania menginginkan laki-laki mapan untuk Nania agar dimata masyarakat dipandang sebanding dengan Nania atas prestasi dan pendidikan yang dicapai oleh Nania. Keluarga Nania mencoba menjodohkan Nania dengan seorang yang mapan, tapi Nania pun masih tetap kokoh dengan keputusannya memilih Rafli.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Bukannya kamu sudah merencanakan menikah dengan Tyo? Sebentar lagi dia jadi dokter, Nania!”(Cinta Laki-Laki Biasa:4)

Pada dialog di atas dilakukan antara Nania dengan ibunya, maksud dari dialog tersebut ialah ibu Nania tidak yakin dengan keputusan Nania yang memilih Rafli si laki-laki biasa sedangkan keluarganya menginginkan seorang pria yang mapan untuknya, agar masa depan Nania terjamin. Maka ibu Nania berencana menjodohkannya dengan anak sahabatnya yang tampan dan akan segera menjadi seorang dokter. Menurut Nania, mengapa harus bersama orang yang mapan namun tak ada perasaan yang Nania miliki, apakah sekarang semuanya harus dibeli dengan uang atau jabatan untuk mendapatkan tanggapan positif di masyarakat. Keluarganya hanya menginginkan suatu pengakuan dalam masyarakat tapi tak melihat bagaimana keadaan Nania sesungguhnya.

“Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa”(Cinta Laki-Laki Biasa:5)

Komunikasi yang terjalin pada dialog di atas antara Nania dengan kakaknya, isi dari percakapan tersebut kakak Nania menjelaskan secara tegas kepada Nania tentang semua kekurangan Rafli yang seharusnya Nania sadari bahwa diantara mereka perbedaannya sangatlah jauh, bagaikan langit dan bumi, jika disatukan akan menjadi perbincangan masyarakat. Menurut Kakak Nania apa yang dilihat dari sosok Rafli, mungkin saja Rafli hanya menginginkan kehidupan yang layak bersama Nania atau mungkin saja Rafli

hanya memanfaatkan apa yang dimiliki Nania. Menurut Kakak Nania seharusnya Nania tak perlu memilih Rafli menjadi suaminya. .

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nia!”

“Kalian tak sepadan.”

“Kalau boleh jujur, keberaniannya melamarmu itu tindakan lancang.”(Cinta Laki-Laki Biasa:5)

Percakapan di atas dilakukan antara Nania dengan ke tiga saudaranya, maksud dari percakapan tersebut ke tiga saudaranya mencoba membuka mata Nania untuk melihat sosok seorang Rafli yang menurut kakaknya tidak bisa diandalkan dari segi manapun, baik itu pendidikannya, pekerjaannya, wajahnya, mapannya, dan bahkan gajinya jauh di bawah Nania. Bagaimana tanggapan semua orang tentang pilihan Nania, Nania yang pintar dari segi manapun namun tak pintar memilih seorang pendamping hidup. Tindakan Rafli melamar Nania sangatlah menjadi tanda tanya, bukan hanya di keluarga Nania namun orang-orang disekitarnya heran dengan hubungan yang tak sebanding ini. Semua saudara Nania menentang hubungan mereka, seolah tak ada lagi harapan untuk meyakinkan keluarganya.

“Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan”

“Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.”(Cinta Laki-Laki Biasa:7)

Pada percakapan di atas masih antara Nania dengan saudaranya, isi percakapan tersebut Nania berusaha meyakinkan saudara-saudaranya bahwa Rafli juga memiliki pekerjaan yang layak, Rafli lelaki yang penuh dengan tanggung jawab dan pekerja keras, namun tetap saja

saudara-saudara Nania tak setuju dengan hubungan mereka karena adanya perbedaan kelas sosial diantara mereka. Kakak Nania menginginkan sosok laki-laki yang sepadan atau lebih dari Nania, bukan laki-laki yang berada di bawah Nania yang hanya kesuksesannya dikatakan lumayan. Banyak laki-laki yang menginginka Nania tapi, mengapa Nania harus memilih laki-laki yang biasa saja.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”(Cinta Laki-Laki Biasa:7)

Berdasarkan dialog di atas antara Nania dengan kakaknya, maksud dialog tersebut kakak Nania membandingkan Nania dengan Rafli dari segala aspek, Rafli lelaki yang sederhana tidak mampu menyandingi Nania. Rafli yang terlahir dari keluarga sederhana, jabatan yang bukan apa-apanya dimata keluarga Nania. Rafli yang terlihat kecil dipandang sebelah mata memang tak layak bersanding dengan Nania. Nania mampu hidup dan mandiri walaupun tanpa adanya Rafli disampingnya.

3. Penghasilan

Dalam cerpen Cinta Laki-Laki Biasa karya Asma Nadia, mengisahkan tentang penghasilan menjadi permasalahan dalam cerita yang menjadi realisasi dimasyarakat modern sekarang ini, meningkatnya kebutuhan hidup sehingga menjadikan manusia menjadi serakah akan kelas sosial. Pada cerpen ini sangat menggambarkan problematik masyarakat modern.

“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”(Cinta Laki-Laki Biasa:8)

Komunikasi yang terjalin pada percakapan di atas antara Nania dengan Rafli, isi dari dialog tersebut Nania tidak ingin menyinggung perasaan sang suami bahwa tanpa gaji sang suami pun gaji Nania sudah sangat cukup.

Sebagai istri yang menjaga perasaan suami, Nania berusaha mengimbangi dirinya agar Rafli tak merasa berada di bawah Nania. Keluarga Nania khawatirkan perbedaan penghasilan antara keduanya yang akan menjadi perbincangan di masyarakat sehingga akan mencoreng nama baiknya sendiri, menikahi sosok laki-laki yang miskin. Berpenghasilan seadanya yang bisa saja cukup penghasilan Nania yang digunakan tanpa harus penghasilan Rafli.

“Menginjak tahun ke tujuh pernikahan, posisi Nania di kantor yang didirikannya bersama Lulu, sahabatnya semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar.”(Cinta Laki-Laki Biasa:9)

Kalimat di atas menceritakan tentang kesuksesan yang diraih oleh Nania, walaupun pernikahan mereka sudah terbilang lama, namun masih saja masyarakat disekeliling mereka masih belum percaya akan hubungan mereka ditambah lagi dengan suksesnya Nania membuat pandangan masyarakat bahwa mereka tak imbang. Rafli sekian lama telah terpojokkan dan makin tambah terpojokkan karena kesuksesan Nania sudah di atas awan. Keluarga Nania semakin tak mendukung hubungan mereka. Seharusnya Nania tak memilih laki-laki yang tak dapat diandalkan dan dibanggakan.

4. Konflik

Dalam cerpen Cinta Laki-Laki Biasa karya Asma Nadia, konflik yang paling menonjol ialah tokoh utama yaitu Nania dan Rafli adanya perbedaan kelas sosial di dalam cerita tersebut, yang mana Nania dan Rafli tidak mendapat restu oleh keluarga Nania disebabkan Rafli hanyalah seorang lelaki biasa dari keluarga yang biasa pula.

“Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan sebuah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar, sebab setelah itu, berpasang-pasang mata kembali menghujani, seperti tatapan penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.”

(Cinta Laki-Laki Biasa:4)

Kalimat di atas menunjukkan konflik dikarenakan semua sanak keluarga Nania melihat ke arah Nania seakan tak mengerti dengan pikiran Nania, mengapa Nania harus memilih laki-laki seperti Rafli. Nania tak menyangka respon sanak keluarga Nania yang begitu negatif terhadap pernyataan Nania. Memang apa yang salah dengan pernyataan Nania, seolah semuanya terkejut setelah mendengarnya.

“Nania cuma mau Rafli. (dengan air mata mengambang).”(Cinta Laki-Laki Biasa:5)

Konflik yang terjadi dalam percakapan tersebut ialah Nania dengan tegas di depan keluarganya akan keputusannya yang memilih Rafli sebagai pendamping hidupnya. Walaupun Rafli tak memiliki materi yang dapat ia banggakan namun ia memiliki cinta dan kasih sayang yang tulus untuk Nania dan keluarganya kelak. Nania yakin bahwa Rafli dapat membahagiakan dia

walaupun bukan karena harta yang melimpah dan jabatan yang tinggi. Rafli memang laki-laki biasa namun dapat memberikan kenyamanan yang luar biasa.

“Hari itu ia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Sentimen parah. Mencapai stadium empat.”(Cinta Laki-Laki Biasa:5)

Konflik yang terjadi dalam kalimat di atas ialah Nania menyadari bahwa keluarganya sangat tak menyukai Rafli, di mata keluarganya Rafli bukanlah lelaki yang pantas untuk Nania, Rafli terlalu beruntung memiliki sosok Nania. Keluarga Nania memberikan tanggapan yang sangat negatif yang tak menerima apapun yang dikatakan Nania untuk membela Rafli. Di mata keluarga Nania, Rafli memang sudah tak memiliki kebaikan sama sekali.

Walaupun demikian Nania masih teguh dengan pilihannya untuk bersama Rafli. Rafli memang tak semapan Tyo namun, Rafli mampu membahagiakan Nania dengan cinta yang dimilikinya.

“Dada Nania bergetar, terasa sesak. Marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kelayakan seorang manusia berdampingan dengan manusia lain, apalagi jika menyangkut ibadah.

Bukankah perkawinan adalah ibadah? Di mana iman, di mana tawakal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?”(Cinta Laki-Laki Biasa:5)

Konflik yang terjadi dalam kalimat di atas ialah Nania tak menyangka jika keluarganya hanya menilai seseorang dari segi materinya, bukan dari iman yang dimiliki oleh Rafli. Nania beranggapan bahwa materi bukanlah hal yang utama dipermasalahkan dalam sebuah perkawinan namun masalah yang

utama ialah apakah Nania mampu bahagia jika ia menikah dengan seseorang yang kaya raya sedangkan Nania tak mencintainya. Kekecewaan Nania terhadap keluarganya membuatnya sedih, semuanya seakan tak ada yang memihak kepadanya. Berharap keluarga yang Nania sayang bisa memberikan ia restu tanpa melihat sosok Rafli yang tidak mempunyai apa-apa yang terlahir biasa-biasa saja, dari keluarga biasa pula. Jika semua orang menolak dan tak menginginkan hubungan mereka namun Nania tetap akan memilih Rafli menjadi pendamping hidupnya, karena baginya bukan orang lain yang melihat dan merasakan cinta Rafli tapi Nania sendiri yang merasakan kelembutan dan kasih sayang seorang laki-laki biasa.

“Orang-orang masih sering menanyakan hal serupa, masih berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang ia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu menjelaskan kelebihan-kelebihan sang suami agar tampak di mata mereka.”(Cinta Laki-Laki Biasa:6)

Konflik yang terjadi pada kalimat di atas ialah bukan hanya keluarga Nania yang tak setuju akan hubungannya dengan Rafli, namun masyarakat pun masih tak percaya akan hubungan mereka yang perbedaannya sangatlah jauh. Kebanyakan manusia hanya menilai dari materi seseorang tanpa melihat kebaikan dan ketulusan cinta Rafli. Orang yang mereka anggap biasa saja sebenarnya sangatlah luar biasa bagi Nania. Mengapa perlu persetujuan orang-orang di luar sana, padahal yang menjalani adalah Nania, mengapa orang-orang hanya menilai seseorang dari luarnya saja tanpa mengenal sosoknya lebih dalam. Masyarakat terlalu dini untuk menilai hubungan Nania

dan Rafli, mereka tidak tau bagaimana seluk-beluk dalam hubungan Nania dan Rafli mengapa seenaknya saja mereka bebas menilai dan menghakimi hubungan mereka.

“Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukan sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.”(Cinta Laki-Laki Biasa:7)

Konflik yang terjadi pada kalimat di atas ialah Nania tak tahan dengan ucapan-ucapan yang menjatuhkan Rafli, Rafli memang hanya dari keluarga yang biasa, pendidikan biasa, gaji tidak banyak dan pekerjaan biasa pula namun, Rafli dimata Nania ialah lelaki yang luar biasa dan biasa diandalkan menurut dia. Seseorang yang cintai harus dicemoh oleh keluarganya sendiri dan masyarakat, Rafli juga manusia yang ingin dihargai dan disayangi walaupun Rafli tidak memiliki apa-apa setidaknya jangan membuat Rafli terhina dimata Nania. Semua orang menginginkan pasangan hidup atas dasar pilihan masing-masing, bukankah Nania sudah dewasa untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Restu orang tua memang perlu tetapi kalau orang tua memilihkan seseorang yang Nania tak suka, bagaimana Nania ke depannya apakah Nania akan bahagia hidup bersama orang yang Nania tak cintai.

“Seolah tak ada apa pun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli.”(Cinta Laki-Laki Biasa:7)

Konflik yang terjadi pada kalimat di atas ialah Nania sudah tak tau apa yang harus ia lakukan karena kakaknya sama sekali tak menyukai Rafli.

Apapun yang ia katakan tidak akan mengubah pendirian para saudaranya.

Bagi saudaranya Rafli hanyalah pria yang tak dapat diandalkan dan dibanggakan, mereka menganggap Rafli menikahi Nania karena apa yang dicapai Nania sekarang ini. Nania tau Rafli memang laki-laki biasa tapi apa susahnya para saudara Nania melihat sedikit saja usaha dan keberanian Rafli datang melamar Nania dengan penuh kesungguhan dan keikhlaskan untuk meminang Nania dan menjadikan Nania permainsuri yang dipenuhi cinta.

Rasa takut yang dimiliki oleh para saudaranya yang membuat Nania sangat susah meyakinkan mereka, mereka takut akan masa depan Nania kelak tak terjamin dikarenakan menikahi seorang yang biasa-biasa saja.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania.harus dikeluarkan!”(Cinta Laki-Laki Biasa:10)

Konflik yang terjadi pada percakapan di atas antara dokter dengan Rafli yaitu kehamilan Nania sudah tua namun tak melahirkan juga, jadi Dokter harus segera mengeluarkan anak yang ada dikandungan Nania jika tidak akan membahayakan nyawanya. Nania sangat sedih karena keluarganya tak datang menemani Nania di rumah sakit, betapa bencikah keluarganya dengan suaminya, sehingga keluarganya tega terhadap Nania. Bagaimana jika pada saat Nania menikahi Rafli dengan penuh kekayaan apakah akan seperti ini pula sikap para keluarga Nania.

“Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.

Hanya waktu-waktu sholat, lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan sholat di samping ranjang. Sementara kakak-kakak serta orang tua Nania belum satu pun datang.”(Cinta Laki-Laki Biasa:10)

Konflik yang terjadi pada kalimat di atas keluarga Nania tak datang ke rumah sakit untuk melihat Nania bahkan waktu sekarat pun keluarganya tak kunjung datang. Namun demikian Nania sangat beruntung telah memiliki suami seperti Rafli yang sangat setia menemani Nania dalam keadaan suka maupun duka walaupun tanpa kehadiran para keluarganya. Bagi Nania materi dapat dicari di mana saja dan kapan saja namun ketulusan dari seseorang sangatlah sukar didapat, apalagi pada zaman modern ini manusia hanya memandang seseorang dari segi materi dan pencapaian kesuksesan yang belum tentu dapat memberi kebahagiaan. Inilah kebahagiaan yang diimpikan setiap wanita, walaupun materi tak mencukupi tapi ketulusan dapat melenyapkan segalanya. Asalkan Nania bersama Rafli semuanya akan baik-baik saja, tak perlu dukungan dari orang lain jika kebahagiaan yang telah Nania idamkan telah tercapai.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarga barunya, si kecil.(Cinta Laki-Laki Biasa:13)

Konflik pada kalimat di atas Rafli sebagai seorang ayah sekaligus suami harus kerja ekstra merawat Nania dan anak-anaknya. Tak ada yang dapat diandalkan olehnya dari segi manapun kecuali cinta yang dimilikinya untuk keluarga tercintanya. Sekian lamanya umur pernikahan mereka namun

keduanya belum mendapat respon yang positif dari keluarga Nania, tapi Rafli tak merasa gentar untuk mempertahankan hubungannya. Hidup mereka semakin lengkap dengan kehadiran anak ke tiganya, apa yang mengharuskan Rafli untuk mundur dan meninggalkan Nania, kebahagiaan tak perlu di ukur dari mananya namun, kebahagiaan selalu terlihat jika Rafli melihat wajah Nania walaupun sedang koma, Rafli penuh harap semoga Nania membuka mata dan melihat si kecil mereka.

“Bisik-bisik masih terdengar setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik papa dan mama.”(Cinta Laki-Laki Biasa:9)

Konflik yang terjadi pada kalimat di atas ialah orang-orang disekeliling Nania dan Rafli melihat hubungan mereka yang sangat tidak cocok, perbedaan diantara mereka berdua sangatlah jauh. Masyarakat bertanya-tanya apa yang Nania lihat dari sosok pria yang semuanya serba biasa saja, dengan apa yang Nania sudah dapatkan. Seharusnya Nania mencari laki-laki yang lebih dari pada apa yang ia capai. Yang membuat Nania tambah kecewa adalah Papa dan Mama Nania pun tidak merespon positif hubungan mereka berdua, mereka selalu mengatakan hal-hal yang membuat Nania terjatuh dengan mengatakan Rafli tak pantas untukmu, Rafli hanya laki-laki biasa, Rafli hanya lelaki yang tak memiliki apa-apa. Ucapan yang seperti itu yang sering terucap Papa dan Mama Nania. Bagi Nania

bisikan masyarakat tidaklah penting, tapi bisikan keluarga sangat menyakitkan hati Nania.

B. Pembahasan

Pada bab sebelumnya penulis telah menyajikan data dan menganalisis aspek sosiologis berdasarkan pendidikan, jabatan, penghasilan dan konflik. Oleh karena itu temuan tersebut di uraikan sebagai berikut.

Dalam cerpen Cinta Laki-Laki Biasa karya Asma Nadia terdiri dari 18 halaman yang mengandung aspek-aspek sosiologi yang ditemukan dalam cerpen tersebut.

Hasil analisis data berikut ini akan diuraikan secara sistematika pembahasan dari seluruh aspek. Dalam cerpen Cinta Laki-Laki Biasa karya Asma Nadia, aspek sosiologi lebih menekankan pada perbedaan status sosial seperti pendidikan, jabatan, dan penghasilan yang mana pada aspek sosiologi tersebut mencerminkan keadaan masyarakat modern sekarang ini.

Menurut Faruk (1994:1) sosiologi sebagai studi ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Sosiologi berkaitan dengan kenyataan sosial. Aspek sosiologis terbagi atas empat jenis diantaranya :

a. Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu tingkatan yang dapat menjadi penilaian seseorang dalam masyarakat, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang

Pendidikan merupakan salah satu tingkatan yang dapat menjadi penilaian seseorang dalam masyarakat, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang

Dokumen terkait