• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Dalam dokumen VOLUME 1 NOMOR 2, JULI 2018 (Halaman 59-63)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perusaiiaan Melakukan Right Issue Di Bursa Efek Indonesia

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Perusahaan Yang Melakukan Right Issue a. PT. Citra Kebun Raya Agri, Tbk

PT Citra Kebun Raya Agri Tbk (Perusahaan) didirikan pada tanggal 19 September 1990 dengan nama PT Ciptojaya Kontrindoreksa, Tbk. Ruang lingkup kegiatan perusahaan terutama bergerak dalam bidang real estat dan kontraktor. Untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan dan dengan meyakini akan prospek yang baik dari sektor perkebunan terutama industri perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, maka Perusahaan merencanakan pada tahun 2008 merubah fokus kegiatan usahanya kepada sektor pertanian dan perkebunan yang berfokus pada penanaman, industri

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 1, No 2, Juli 2018 |123 pengolahan, perdagangan, dan transportasi produk pertanian maupun perkebunan serta industri pengolahan tanaman kelapa sawit. Dalam menjalankan usahanya Perusahaan mengkhususkan pada penanaman dan industri pengolahan tanaman kelapa sawit, cassava serta industri pengolahan kelapa sawit, dan tanaman cassava menjadi produk lanjutan seperti CPO (Crude Palm Oil), PKO (Palm Kernel Oil), dan Tepung Tapioka. Dalam pengembangan usaha inilah, PT. Citra Kebun Raya Agri, Tbk mengeluarkan right issue I di awal Tahun 2008, dana yang didapatkannya dari dikeluarkannya right issue tersebut digunakan untuk membeli Mandatory Bond dari PT. Kurnia Selaras yang memiliki 70% saham dalam PT Transpacipic Agro Industry.

b. PT. United Tractor, Tbk.

Didirikan pada 13 Oktober 1972 sebagai distributor eksklusif alat berat Komatsu diIndonesia.

Mencatatkan sahamnya di Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1989, dimana PT. United Tractors, Tbk (UNTR), dengan PT Astra International Tbk sebagai pemegang saham mayoritas. Selain sebagai distributor alat berat terbesar di negara ini, Perseroan juga berperan aktif di bidang kontraktor penambangan dan baru-baru ini berkelana ke bisnis srtambangan batubara. Ketiga unit usaha ini dikenal sebagai Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan dan Pertambangan. Perusahaan PT.

United Tractors, Tbk yang bergerak di sektor penambangan yang bertindak sebagai kontraktor penambangan melakukan right issue 111-2008 senilai Rp3,5 triliun. Setiap pemegang enam lembar saham UNTR yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 19 Agustus 2008. Satu lembar saham dibanderol senilai Rp7.500 per lembar saham, dimana 304 dana hasil right issue ini rencananya akan digunakan perseroan untuk melunasi utangnya sebesar USD115,6 juta, kepada The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, Jepang.

c. PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk

PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk adalah produsen terbesar pakan ternak di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 1972 sebagai pabrik pakan volume tinggi pertama di Jakarta manufaktur premium pakan kualitas unggas. Saat ini, Perseroan berfokus pada kegiatan agrobisnis yang mencakup seluruh spektrum dari bisnis unggas, dari produksi produk pakan unggulan, untuk pengembangbiakan tumbuh dengan cepat, stok unggas penyakit-tahan dan penciptaan kualitas tinggi diproses produk unggas. Pakan unggas adalah landasan dari bisnis Perusahaan. Jaringan luas distributor dan agen mendukung kegiatan Perusahaan, memastikan bahwa para petani perunggasan Indonesia di mana pun mereka berada - memiliki akses yang mudah tepat waktu untuk produk pakan kami. Perusahaan juga merupakan kekuatan yang dominan dalam produksi dan penyediaan stok pembibitan unggas untuk layer dan ayam boiler di Indonesia. PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk mengeluarkan right issue pada tahun 2007 dalam bentuk akusisi dengan membeli 12.990.000 saham atau mewakili 99,924 kepemilikan saham dalam PT. Vista Grain milik PT. Central Pertiwi dan saham PT. Primafood Internasional Milik PT Pertiwi Indonesia sebanyak 229.900 saham atau mewakili 99,964 kepemilikan sahamnya.

d. PT. Gajah Tunggal, Tbk.

Didirikan pada tahun 1951, PT Gajah Tunggal, Tbk mulai memproduksi Ban dengan memproduksi ban sepeda. Setelah itu, Perusahaan telah berkembang menjadi produsen ban terintegrasi terbesar di Asia Tenggara. Pada awal tahu 1990, Perseroan mulai memproduksi Ban radial untuk mobil penumpang dan truk ringan, menjadikannya sebagai produsen Ban terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, memproduksi dan mendistribusikan ban berkualitas tinggi untuk mobil penumpang, SUV's komersial, off-jalan-, industri dan sepeda motor. Guna mendapatkan dana untuk

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 1, No 2, Juli 2018 |124 modal kerja, perusahaan melakukan rights issue pada tahun 2007 yang menghasilan Rp 158,4 milyar.

Di samping kepemilikan mayoritas di PT Prima Sentra Megah, GJTL juga memiliki 28,946 saham perusahaan kimia dan tekstil PT Polychem Indonesia Tbk yang tercatat di BEI (ADMG). GJTL sendiri 42,26 dimiliki oleh publik: 27,976 oleh Denham Pte. Ltd. - anak perusahaan GITI Tire, produsen Ban terbesar di China 1994 oleh Light Speed Resources, perpanjangan tangan investor Singapura: serta 10% oleh Michelin Berdasarkan data Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI), GJT memiliki pangsa pasar yang cukup besar dalam produksi ban bias, radial, dan sepeda motor di Indonesia.

e. PT. Ades Water Indonesia, Tbk.

PT. Ades Waters, Tbk berdiri tahun 1985 dengan nama PT, Alfindo Putrasetia.

Ades kemudian beberapa kali berganti nama. Yang terbaru adalah pada tahun 2009 ketika perusahaan ini mengubah namanya menjadi PT. Akasha Wira International, Tbk adalah perusahaan air minum Indonesia berbasis pengolahan dan perusahaan distribusi. Segmen usahanya adalah air kemasan dan sewa dispenser. Fasilitas produksi Perusahaan terletak di Jawa Barat dan Jawa Timur, Indonesia. PT. Ades Water Indonesia, Tbk melakukan right issue digunakan untuk membayar utang perseroan kepada Citibank sejumlah Rp470 miliar. Untuk mencapai efisiensi operasional dan untuk mengurangi kerugian usaha yang lebih besar di masa datang yang disebabkan oleh produk perusahaa, serta untuk dapat terus menjaga kelangsungan usahanya menjadi alasan perseroan melakukan rights issue.

f. PT. Summarecon Agung, Tbk

Didirikan pada tahun 1975 oleh keluarga Nagaria dan asosiasinya. Hingga saat ini, Summarecon telah berkembang menjadi salah satu perusahaan properti terkemuka di Indonesia. Summarecon telah berhasil mengembangkan kawasan Summarecon Kelapa Gading dari sebuah lahan kurang produktif hingga menjadi kawasan pemukiman dan komersial terpadu dengan salah satu perputaran bisnis tercepat, lengkap dengan infrastruktur dan fasilitas pendukung termasuk pusat perbelanjaan, pusat makanan, pusat gaya hidup, klub keluarga, sekolah dan rumah sakit. Bisnis Summarecon dikelompokkan menjadi tiga unit bisnis: Pengembangan Properti, Investasi dan Manajemen Properti, dan Rekreasi dan Hospitality. PT.

Summarecon Agung, Tbk mengeluarkan right Issue pada tahun 2007 dan memperoleh dana sebesar Rp413.113.008.700. untuk peningkatan persediaan lahan di Bekasi, peningkatan persediaan lahan di Kelapa Gading, dan pengembangan infrastruktur di Bekasi.

g. PT. Darma Henwa, Tbk

Didirikan pada tahun 1991, telah berkembang dari sebuah perusahaan kontraktor rekayasa untuk menjadi pertambangan terpadu dan energi perusahaan jasa dengan pijakan yang solid dalam sektor industri energi yang menguntungkan yang kaya sumber alam Indonesia. Dengan lebih dari 19 tahun pengalaman di garis depan kontraktor tambang dan sektor pembangunan infrastruktur, PT. Darma Henwa, Tbk selalu memusatkan perhatian untuk mencari cara untuk memenuhi hasil yang luar biasa dengan menjalankan bisnis secara efisien, menjaga kualitas kerja, memenuhi kebutuhan pelanggan dan pertemuan pada jadwal waktu penyelesaian. PT. Darma Henwa, Tbk mengeluarkan corporate action dalam bentuk right issue bertujuan untuk melunasi utang dengan total dana sebanyak 68,54 atau sebesar Rp 427,52 miliar kepada Royal Bank of Scotland (dahulu Bank ABN AMRO).

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 1, No 2, Juli 2018 |125 h. PT. Bank Negara Indonesia, Tbk.

Awalnya disebut dengan nama unabbreviated sebagai Bank Negara Indonesia ketika didirikan pada 1946, BNI merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Dengan penambahan modal, status hukum Bank secara resmi berubah menjadi Bank komersial milik negara pada tahun 1995. Status hukum Bank BNI ditingkatkan pada tahun 1992 dengan sebuah perusahaan terbatas milik negara dengan nama PT Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank memutuskan untuk menjadi perusahaan publik melalui penawaran umum perdana saham pada tahun 1996. Kemampuan BNI untuk beradaptasi dengan kemajuan lingkungan, sosial-budaya serta teknologi dicerminkan melalui penyempurnaan terus identitas perusahaan yang dilakukan untuk memenuhi tuntutan perubahan dan kecenderungan zaman. Sesuai dengan semangat perjuangan nasional heroik yang berakar pada sejarahnya, BNI berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi negara dan untuk akhirnya menjadi Kebanggaan. PT. Bank Negara Indonesia, Tbk melakukan penawaran umum terbatas III yang akan dipergunakan oleh BNI dalam rangka memperkuat struktur permodalan, yang selanjutnya menurut rencana sekitar 15% akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur pada teknologi informasi, outlet dan ATM dan lain-lain.

i. PT. First Media, Tbk

PT. First Media, Tbk mencatat tingkat penetrasi pelanggan yang mengesankan selama tahun 2009, mencapai 38,34 pada 500.000 jaringan homes passed. Sekalipun tumbuh pesat, tingkat penetrasi pengguna Internet per 100 penduduk di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negaranegara tetangga. Kondisi ini menyiratkan prospek pertumbuhan layanan Internet di Indonesia yang masih terbuka lebar, baik dari segi kapasitas jaringan maupun utilisasi jaringan. Lisensi untuk mengoperasikan layanan sambungan Internet nirkabel dengan teknologi mutakhir, WiMax, yang diperoleh First Media pada bulan Nopember 2009, akan memperluas jangkauan pasar First Media tidak hanya secara geografis namun juga secara demografis. Dengan penguatan bisnis Internetnya, First Media juga diuntungkan oleh peluang pertumbuhan layanan TV-berbayar HomeCable kepada pelanggan yang tadinya kurang memilki alasan untuk berlangganan. Sementara segmen pasar single family home terlayani secara efektif oleh First Media melalui jasa Internet dan TV Berbayar, maka segmen pasar bisnis juga terlayani secara efektif melalui layanan DataComm First Media yang melayani transmisi data bervolume sangat besar 24-jam sehari, tujuh hari seminggu. PT. First Media, Tbk di tahun 2010 telah mengeluarkan kebijakan corporasi yang bertujuan menggunakan dana yang didapatnya dari right issue untuk modal kerja, dengan membuat Perseroan menjadi penyedia produk jaringan 4G Wimax. Perseorangan melepaskan 912.421.400 saham pada harga pelaksanaan Rp. 500 per unit dana right issue yang diperkirakan mencapai 456 Miliar.

Pembahasan

Right Issue Untuk Ekspansi Usaha

Perluasan usaha atau Expansi bisnis diperlukan oleh suatu perusahaan untuk mencapai efisiensi, menjadi lebih kompetitif, serta untuk meningkatkan keuntungan profit perusahaan. Ekspansi menjadi salah satu alasan utama perusahaan melakukan right issue.

Pada penelitian ini dilakukan oleh : PT. Citra Kebun Raya Agri, Tbk, PT Summarecon Agung, Tbk , PT. Bank Negara Indonesia, Tbk, dan PT charoen pokphand Indonesia , Tbk.

Right Issue Untuk Memenuhi Kewajiban Jatuh Tempo

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 1, No 2, Juli 2018 |126 Hutang jangka panjang merupakan salah satu sumber permodalan yang mengandung resiko karena memiliki komitmen untuk melakukan pembayaran sesuai jumlah yang disepakati meski perusahaan dalam keadaan rugi sekalipun sehingga hutang dapat saja menanggung resiko melebihi jumlah modal sendiri. Oleh karenanya, melakukan right issue dapat menjadi pilihan bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban jatuh temponya. Pada penelitian ini, perusahaan yang melakukannya adalah : yaitu PT. Darma Henwa, Tbk , PT. First Media, Tbk , PT. Ades Water Indonesia, Tbk dan PT. United Tractors, Tbk .

Right Issue Untuk Memperkuat Modal Kerja

Pengelolaan modal kerja mencakup semua aspek pengelolaan baik aktiva lancar maupun hutang lancar. Tidak diragukan lagi, modal kerja berperan penting dalam kontinuitas perusahaan, sehingga dalam kondisi tertentu right issue menjadi alternatif dalam manajemen modal kerja. Perusahaan yang melakukannya dalam penelitian ini : PT. Gajah Tunggal, Tbk , PT. Darma Henwa, Tbk , PT. United Tractors, Tbk, PT. Bank Negara Indonesia, Tbk , dan PT.

First Media, Tbk.

Motif Baru Dalam Melakukan Right Issue

Secara khusus tidak ditemukan faktor baru yang menjadi alasan perusahaan dalam melakukan right issue di BEI. Namun demikian, terdapat penjelasan mengenai alasan melakukan right issue yaitu adanya kebutuhan perusahaan untuk memperkuat struktur modal. Kondisi ini terjadi pada PT. Bank BNI, Tbk dimana alasan melakukan right issue adalah karena ingin memperbaiki struktur modal guna memperbaiki CAR dan LDR. Temuan ini sesungguhnya berbeda dalam konteks teori yang berkaitan dengan alasan melakukan right issue karena memperkuat modal kerja.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen VOLUME 1 NOMOR 2, JULI 2018 (Halaman 59-63)

Dokumen terkait