BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Kegiatan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) pada pembelajaran materi sistem
reproduksi manusia ini telah dilaksanakan pada tanggal 24 April 2013 hingga 03 Mei 2013 dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 30 siswa. Data pada penelitian merupakan kuantitatif yang kemudian diolah menjadi data kualitatif. Data diperoleh melalui hasil tes akhir setelah perlakuan (postest) yang berkaitan dengan materi
sistem reproduksi manusia dan melalui lembar kuisioner. Langkah–langkah dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut :
Siklus I
Pada Siklus I penelitian dilakukan dalam dua kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari empat bagian yaitu penyusunan rencana kegiatan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, refleksi.
a. Rencana Kegiatan
Pada siklus I peneliti melakukan atau merencanakan hal-hal yang akan dipakai dalam proses pelaksanaan penelitian. Perencanaan itu meliputi menyiapkan silabus, RPP, LKS, soal dan kunci jawaban turnament TGT,
soal–soal yang akan diujikan, lembar observasi untuk siswa dan peneliti serta lembar kuisioner.
b. Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian pada siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 24 April 2013 dan 26 April 2013 di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dengan jumlah siswa 30 siswa. Pertemuan pertama dan kedua diikuti oleh 30 siswa. Pada awal pembelajaran siswa diberikan postest terlebih dahulu hal ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi sistem reproduksi manusia. Soal pretest terdiri dari 20 soal pilihan ganda.
Gambar 4.1. Siswa Mengerjakan Soal Pretest
Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Team-Games-Tournament). Pembelajaran awal
berlangsung dengan pemberian materi sistem reproduksi manusia mengenai alat reproduksi manusia hingga proses oogenesis pada wanita. Pemberian
materi ini berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat oleh peneliti. Tujuan pemberian materi sebelum memulai game tournament adalah untuk membuka pengetahuan siswa agar siswa memiliki gambaran dan lebih memahami materi tersebut. Setelah pemberian materi selesai siswa diajak untuk masuk kedalam kelompok diskusi yang masing – masing kelompok terdiri 5 orang siswa. Didalam kelompok yang telah terbentuk masing–masing kelompok diberikan LKS mengenai organ reproduksi pria dan wanita, pengelompokkan siswa dalam kelompok diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar anggota kelompok. Setelah berdiskusi salah satu perwakilan kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Gambar 4.2. Siswa Berdiskusi dalam Mengerjakan LKS
Pada pertemuan kedua siswa diingatkan kembali mengenai materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, setelah penyampaian materi secara singkat siswa dibagi dalam kelompok yang berjumlah 4 hingga 5 orang siswa, pembagian kelompok dilakukan secara hetereogen dan sesuai dengan
tingkat kemampuan siswa, setelah melakukan pembagian kelompok siswa melakukan permainan Team Games Tournament (TGT) secara berkelompok.
Tujuan dari permainan ini adalah untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar kelompok dengan cara bersaing secara positif. Pada akhir siklus I siswa diminta kembali pada posisi duduk awal dan siswa mengerjakan soal postest yang terdiri dari delapan (8) soal uraian. Pemberian postest ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah menerima materi pembelajaran yang dijadikan sebagai hasil belajar siswa.
Gambar 4.3 Siswa Melakukan Permainan TGT Siklus I c. Pengamatan
Selama pelaksanaan pembelajaran, diskusi kelompok, permainan TGT dan selama siswa mengerjakan soal test, peneliti yang dibantu oleh observer yang terdiri dari guru pengampu mata pelajaran biologi dan 3 rekan mahasiswa yang ikut membantu dalam pelaksanaan penelitian. Tugas yang dilakukan oleh observer adalah memantau berjalannya pembelajaran sesuai dengan
rencana pelaksanaan pembelajaran atau tidak dan mengamati aktifitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
Pengamatan ini dilakukan dengan tujuan sebagai bahan refleksi dalam pelaksanaan pembelajaran selanjutnya. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Lembar observasi ini meliputi lembar observasi siswa yang berfungsi untuk mengamati dan menilai keaktifan siswa dalam kelompok diskusi, serta lembar observasi kelompok tournament yang berfungsi untuk menilai keaktifan siswa dalam bermain games, kerjasama dan kejujuran siswa dalam turnamen. Pengamatan juga dilakukan untuk mengetahui keseriusan siswa dalam memperhatikan materi yang disampaikan oleh peneliti. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada saat peneliti menyampaikan materi, siswa memperhatikan dengan serius dan aktif dalam tanya-jawab mengenai materi yang disajikan, namun masih ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru/peneliti dikarenakan siswa sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam tanya-jawab. Selain itu pada saat postest berlangsung masih ada beberapa siswa yang bekerjasama dengan siswa lain dalam mengerjakan soal postest dan membuka buku secara diam-diam.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir siklus I. Hasil refleksi tersebut kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki dan mengembangkan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Dari hasil
penelitian yang sudah dilakukan pada siklus I terdapat kelebihan dan kekurangan dalam proses pembelajaran. Kelebihan dari proses pembelajaran ini adalah siswa sangat antusias dalam melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Banyak siswa yang aktif bertanya saat proses pembelajaran berlangsung dan perbandingan hasil pretest siswa dengan hasil postest siswa yang menunjukkan peningkatan walaupun belum mencapai target yang diharapkan. Sedangkan kekurangannya adalah aktivitas peneliti yang kurang optimal selama proses pembelajaran berlangsung. Peneliti yang bertindak sebagai guru belum dapat sepenuhnya memberikan perhatian kepada siswa secara menyeluruh dan kurang optimal dalam menyampaikan materi kepada siswa sehingga masih banyak siswa yang belum memahami materi yang diajarkan. Peneliti juga kurang mampu mengatur waktu dengan baik (manajement waktu), nada bicara yang kurang keras dan tegas dalam mengarahkan siswa serta penyampaian materi yang terlalu cepat.
Dalam pembelajaran dengan menggunakan model TGT siswa kurang memahami aturan permainan tersebut sehingga menyebabkan banyak kelompok yang masih bingung dan banyak bertanya selain itu terbatasnya waktu saat permainan. Saat melakukan postest ditemukan banyak siswa yang saling bekerjasama dengan teman sebangkunya dan ada beberapa siswa yang membuka buku. Berdasarkan kekurangan yang ditemukan pada siklus I, peneliti mencoba untuk memperbaikinya agar pembelajaran pada siklus II
dapat berjalan dengan maksimal. Adapun usaha yang dilakukan peneliti untuk memperbaiki kekurangan yang telah terjadi pada siklus I adalah :
1) Lebih memperjelas materi yang disampaikan kepada siswa sehingga siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan.
2) Memperjelas aturan permainan
3) Mengubah beberapa soal pada postest siklus II 4) Memberikan ringkasan materi yang telah dipelajari 5) Memberikan sedikit kisi-kisi soal postest.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I ini belum memenuhi target yang diharapkan yaitu 70% siswa dapat memperoleh hasil belajar sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Oleh karena itu peningkatan hasil belajar harus tetap ditingkatkan pada siklus II.
Siklus II
Siklus II, terdiri dari dua kali pertemuan, setiap pertemuan terdiri dari empat bagian yaitu perancangan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, pengamatan dan refleksi.
a. Perancangan Kegiatan
Pada siklus II rencana yang dilakukan oleh peneliti yaitu menyiapkan RPP, soal dan kunci jawaban permainan TGT, soal-soal yang akan diujikan lembar kuisioner, lembar observasi, pedoman wawancara untuk siswa.
b. Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian pada siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 01 Mei 2013 dan 03 Mei 2013 di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dengan jumlah siswa 30 siswa. Pertemuan pertama dan kedua diikuti oleh 30 orang siswa. Pada awal pembelajaran siswa langsung diberikan lanjutan materi sistem reproduksi manusia dengan pokok bahasan menstruasi hingga penyakit pada sistem reproduksi manusia. Pembelajaran berlangsung dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dibuat oleh peneliti. Setelah penyampaian materi selesai siswa diajak untuk bergabung dengan kelompok yang telah dibentuk oleh peneliti dan guru pamong untuk melakukan permainan TGT. Terdapat 7 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang siswa, pembagian kelompok dilakukan secara heterogen dan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Tujuan dari permainan ini adalah untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar kelompok dengan cara bersaing secara positif.
Pada hari kedua sebelum memulai pembelajaran peneliti memberitahu kepada siswa pemenang dalam permainan TGT. Peneliti memberikan reward kepada kelompok yang memiliki nilai tertinggi sebagai Team Super dan kelompok tertinggi kedua sebagai team hebat.
Gambar 4.5 Kelompok Pemenang Permainan TGT
Setelah pengumuman pemenang permainan siswa kembali diingatkan mengenai materi yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya secara singkat, pada pertemuan kedua ini siswa diminta kembali mengerjakan soal postest dengan bentuk soal pilihan ganda dan essai. Pemberian postest pada akhir siklus II ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran yang kemudian akan dijadikan sebagai hasil belajar siswa.
Gambar 4.6 Siswa Mengerjakan Soal Postets Siklus II
Setelah pemberian soal postest selesai kemudian siswa diminta untuk mengisi lembar kuisioner dengan tujuan untuk mengetahui motivasi siswa dalam belajar. Selain itu siswa juga dituntun untuk membuat kesimpulan dari materi sistem reproduksi manusia serta membuat refleksi selama proses pembelajaran berlangsung. Pada akhir pembelajaran beberapa siswa diwawancarai mengenai metode pengajaran yang telah dilakukan. Siswa yang akan diwawancarai dipilih secara acak.
c. Pengamatan
Selama pelaksanaan pembelajaran, bermain TGT, pengisian lembar kuisioner dan selama siswa mengerjakan soal peneliti melakukan pengamatan kepada siswa. Pengamatan ini dibantu oleh observer yang terdiri dari guru pamong dan tiga (3) rekan mahasiswa. Tugas observer adalah memantau berjalannya penelitian apakah peneliti telah melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan rencana pelakasanan pembelajaran atau tidak dan mengamati aktifitas siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan ini dilakukan sebagai bahan refleksi oleh peneliti. Berdasarkan pengamatan yang berhasil ditinjau kelebihan pada proses pembelajaran siklus II adalah siswa lebih aktif dalam menanggapi materi yang disajikan oleh peneliti, selain itu siswa lebih dapat bekerjasama dalam permainan TGT dan siswa juga sudah mengerti mengenai aturan permainan TGT sehingga permainan dapat berjalan sangat menyenangkan, selain itu suasana kelas yang lebih kondusif dari siklus I karena siswa lebih tenang dan sungguh-sungguh dalam memperhatikan. Kekurangan dalam proses pembelajaran siklus II adalah masih ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan peneliti dalam menyajikan materi, selain itu masih ada beberapa siswa yang tidak fokus dan serius dalam mengerjakan soal postest. Sedangkan dari pihak peneliti, nada bicara yang kurang keras dan tegas serta dalam penyampaian materi terlalu cepat.
d. Refleksi
Pada penelitian siklus II kesulitan siswa berkurang, siswa lebih terlihat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Proses pembelajaran kooperatif model TGT sudah berjalan dengan sesuai prosedur yang direncanakan oleh peneliti dalam pengelolaan waktu dan manajemen kelas sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil test siswa pada akhir siklus II, peneliti menyimpulkan telah terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II, tetapi peningkatan ini belum mencapai target yang diinginkan yaitu sebesar 70%. Penyimpulan hasil belajar tersebut dilihat dari nilai rata-rata postest pada siklus
II yaitu sebesar 66,67. Sedangkan nilai rata-rata siswa pada postest siklus I yaitu sebesar 44,26 antara siklus I dan siklus II terjadi peningkatan sebesar 22,41. Siswa yang tuntas belajar ≥ 80 pada siklus II ini sebanyak 4 orang siswa
atau sebesar 13,3 %. Adapun penyebab tidak tercapainya target hasil belajar adalah adanya gangguan eksternal dalam proses pembelajaran yaitu konsentrasi siswa terganggu oleh mata pelajaran lain yang akan mengadakan ujian setelah pelajaran biologi berlangsung. Sedangkan pada proses permainan TGT siswa lebih menikmati permainan di bandingkan pada siklus I dikarenakan pada siklus II ini siswa sudah memahami bagaimana cara bermainnya. Siswa juga tebih tertarik pada permainan tersebut dan merasa terpancing untuk berusaha menjawab soal dengan benar agar mendapatkan poin sebanyak-banyaknya dan kelompok diskusinya dapat menang.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II mengalami peningkatan walaupun belum memenuhi target yang diharapkan. Pada siklus II ini 4 siswa mengalami ketuntasan dalam hasil belajar, sedangkan 26 siswa mengalami peningkatan dalam hasil belajar namun belum mencapai nilai ketuntasan yang ditentukan ≥80. Berdasarkan data yang telah diperoleh pada siklus II, hasil yang dicapai belum mencapai target yang diharapakan. Kurangnya hasil yang belum mencapai target yang diharapkan maka perlu adanya perlakuan kembali pada siklus III namun karena keterbatasan waktu yang diberikan oleh pihak sekolah maka penelitian tersebut hanya dapat dilakukan hingga siklus II saja.
2. Hasil Belajar Siswa
a. Hasil Belajar Ranah Kognitif
Dalam penelitian ini, hasil belajar siswa pada ranah kognitif ditinjau melalui kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan menjelaskan sistem reproduksi pada manusia. Dari pretest yang digunakan sebagai alat ukur sebelum perlakuan berlangsung dapat diketahui nilai tertinggi yang dihasilkan oleh siswa adalah 65 dan nilai terendah adalah 20. Pada awal sebelum perlakuan hasil belajar siswa tidak ada yang mencapai target KKM yaitu ≥ 80. Berikut ini disajikan tabel frekuensi tingkatan nilai siswa pada awal sebelum dimulainya pembelajaran :
Tabel 4.1
Frekuensi Nilai Pretest Siswa pada Materi Sistem Reproduksi Manusia. No. Rentang Skor Frekuensi
1. 100 – 81 0 2. 80 – 61 2 3. 60 – 41 13 4. 40 – 21 14 5. 20 – 0 1 Tabel 4.2
Frekuensi Nilai Postest Siswa Siklus I Materi Sistem Reproduksi Manusia
No. Rentang Skor Frekuensi
1. 100 – 81 2
No. Rentang Skor Frekuensi
3. 60 – 41 11
4. 40 – 21 8
5. 20 – 0 4
Berdasarkan tabel 4.2 hasil belajar siswa ranah kognitif pada hasil nilai postest siswa setelah proses pembelajaran siklus I menunjukkan terjadinya perubahan mengenai pemahaman siswa tentang materi sistem reproduksi manusia dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT).
Peningkatan pemahaman dari 30 orang siswa di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta memiliki tingkat pemahaman yang bervariasi. Perhitungan penilaian untuk mengetahui jumlah persentase peningkatan pemahaman siswa secara klasikal dapat diketahui dari hasil postest siklus I yang dilakukan dengan menggunakan perbandingan jumlah siswa yang mencapai KKM dengan jumlah siswa secara keseluruhan di kalikan 100%.
Sedangkan target peningkatan pemahaman konsep sebesar 70 %, sehingga hasil pencapaian nilai rata-rata masih belum mencapai target yang telah ditetapkan. Skor rata-rata siswa pada postest siklus I adalah 44,26 dengan nilai tertinggi adalah 88 dan nilai terendah adalah 10,5. Pada siklus I ini jumlah siswa yang berhasil mencapai nilai KKM sebanyak 2 orang siswa dan 28 orang siswa mendapatkan nilai dibawah KKM dengan persentase ketuntasan sebesar 6,67%. Melalui hasil penilaian tersebut peneliti memutuskan untuk melakukan perlakuan kedua dengan
melanjutkan ke siklus II. Hal ini disebabkan karena hasil yang dicapai/diperoleh belum memenuhi target yang ditentukan.
Sedangkan hasil nilai postest siswa pada pembelajaran siklus II dalam penelitian ini menunjukkan perubahan pemahaman siswa terhadap materi sistem reproduksi manusia dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games
Tournament (TGT). Perubahan ini meliputi meningkatnya pemahaman siswa yang
bervariasi dari 30 orang siswa di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Perhitungan penilaian untuk mengetahui jumlah persentase peningkatan pemahaman siswa secara klasikal dapat diketahui dari hasil postest siklus II yang dilakukan dengan menggunakan perbandingan jumlah siswa mencapai KKM dengan jumlah siswa secara keseluruhan di kalikan 100%
Sedangkan target peningkatan pemahaman konsep sebesar 70 %, sehingga hasil pencapaian nilai rata-rata masih belum mencapai target yang telah ditetapkan. Belum tercapainya target yang diharapkan dapat disebabkan karena soal posttes siklus II yang terlalu sulit dan kurangnya persiapan siswa dalam mempelajari materi yang disampaikan. Skor rata-rata siswa pada postest siklus II adalah 66,67 dengan nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 33. Pada siklus II ini jumlah siswa yang berhasil mencapai nilai KKM sebanyak 4 orang siswa dan 26 orang siswa mendapatkan nilai dibawah KKM dengan persentase ketuntasan sebesar 13,3%. Akan tetapi bila ditinjau dari hasil belajar siswa pada siklus I dengan siklus II dapat dilihat terjadinya peningkatan. Melalui hasil penilaian tersebut peneliti memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT).
Tidak dilakukannya penelitian pada siklus selanjutnya dikarenakan terbatasnya waktu yang diberikan oleh pihak sekolah sehingga penelitian hanya dapat dilaksanakan sampai siklus II saja. Berikut ini disajikan tabel frekuensi tingkatan nilai siswa pada pembelajaran siklus II :
Tabel 4.3
Frekuensi Nilai Postest Siswa Siklus II Materi Sistem Reproduksi Manusia
No. Rentang Skor Frekuensi
1. 100 – 81 0
2. 80 – 61 21
3. 60 – 41 7
4. 40 – 21 2
5. 20 – 0 0
Grafik 4.1 Grafik Peningkatan Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif
44.26 66.67 0 10 20 30 40 50 60 70 80
Skor Rata-Rata Hasil Belajar (Kognitif)
Hasil nilai pretest dan postest siswa pada siklus I dan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 21 hingga lampiran 23 beserta grafik hasil belajar
siswa siklus I dan II dapat dilihat pada lampiran 24.
Hasil dari ketiga test tersebut kemudian dihitung kembali dengan menggunakan uji statistika. Tujuan menggunakan uji statistika ini adalah agar data yang diperoleh valid dan signifikan. Pengujian uji statistika tersebut dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 16 for Windows
Dari hasil perhitungan dengan mengunakan uji t adanya peningkatan rata-rata pada nilai siklus I dan siklus II. Peningkatan nilai rata-rata pada post-test I dari 44,26 menjadi 66,67 pada post-test II. Hubungan korelasi antara nilai post-test siklus I dengan nilai post-test siklus II adalah 0,319, maka dikatakan signifikan atau terjadi peningkatan hasil belajar karena nilai korelasi lebih besar dari nilai signifikan yaitu 0,05.
b. Hasil Belajar Ranah Afektif
Hasil belajar siswa ranah afektif ditinjau melalui kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan diskusi dan turnamen. Dalam kegiatan tersebut siswa dituntut untuk memiliki sikap bekerjasama, saling menghargai, jujur dan bersikap lapang dada. Penilaian dalam aspek afektif ini diperoleh dari hasil observasi siswa kelompok diskusi dan data hasil observasi siswa saat turnamen yang telah dilakukan oleh observer saat pembelajaran berlangsung.
Observasi terdiri dari 2 (dua) tahap yaitu observasi saat kelompok diskusi dan observasi saat tournament. Data hasil yang telah diperoleh dapat dilihat pada tabel
berikut ini. Hasil analisis observasi kelompok diskusi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 26
Tabel 4.4
Hasil Analisis Hasil Belajar Ranah Afektif Kelompok Diskusi
No. Aspek yang diamati
Rata-Rata Hasil observasi kelompok diskusi Persentase hasil observasi kelompok diskusi a. Siswa memperhatikan penjelasan guru. 19 79,1 %
b. Siswa antusias mengerjakan LKS yang diberikan dengan sungguh-sungguh.
23 95,8 %
c. Siswa ikut terlibat aktif dalam
diskusi kelompok. 22
91,6 %
d. Siswa mencatat hasil diskusi. 18 75 %
e. Siswa berani
mempresentasikan hasil diskusi bersama kelompok.
19 79,1 %
f. Siswa menghargai kelompok lain pada saat presentasi dengan cara mendengarkan sungguh-sungguh.
23 95,8 %
g. Siswa aktif mengajukan pertanyaan dan menanggapi pertanyaan.
17 70,8 %
Berdasarkan tabel 4.4 dapat kita ketahui bahwa aktivitas siswa dalam kelompok diskusi sangat mendukung hasil belajar siswa pada ranah afektif saat mengikuti proses pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati saat kelompok diskusi meliputi Siswa memperhatikan penjelasan guru, antusias siswa dalam mengerjakan LKS, siswa ikut terlibat aktif dalam diskusi kelompok, siswa mencatat hasil diskusi,
siswa berani mempresentasikan hasil diskusi, siswa menghargai kelompok lain saat persentase dengan cara mendengarkan dengan sungguh-sungguh, siswa aktif mengajukan pertanyaan dan menanggapi pertanyaan.
Dari tabel di atas tampak bahwa indikator tertinggi terjadi pada indikator “antusias siswa dalam mengerjakan LKS dan menghargai kelompok pada saat presentasi” sebesar 95,8%. Sedangkan indikator terendah terjadi pada indikator “keaktifan siswa dalam bertanya-jawab” sebesar 70,8%. Untuk dapat melihat hasil belajar siswa ranah afektif pada setiap indikator yang telah dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 4.2 Grafik Hasil Observasi Siswa Terhadap Materi Sistem Reproduksi Manusia Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament
(TGT).
Selain data observasi kelompok diskusi, data perbandingan observasi hasil kelompok tournament selama proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II disajikan dalam tabel berikut ini.
19 23 22 18 19 23 17 0 5 10 15 20 25 S ko r ti ap in di ka to r
Aspek yang diamati
Tabel 4.5
Perbandingan Hasil Analisis Ranah Afektif Kelompok Turnamen
No. Aspek yang Diamati Siklus I Siklus II
Rata-Rata Persentase Rata-Rata Persentase
a. Siswa tertarik mengikuti games turnamen. 28 100 % 28 100 % b. Siswa mengikuti games turnamen
dengan baik dan jujur.
24 85,7 % 25 89,2 %
c. Siswa dapat mengerti mengenai materi yang dipelajari melalui games turnamen
24 85,7 % 23 82,1 %
d. Siswa dapat bekerja sama dalam games turnamen.
26 92,8 % 27 96,4 %
e. Siswa dapat menerima kekalahan dengan lapang dada.
22 78,5 % 20 71,4 %
Hasil analisis observasi kelompok tournament siklus I dan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 28 dan lampiran 30.
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui perbandingan antara siklus I dan siklus II. Melalui tabel tersebut juga kita dapat mengetahui terjadinya peningkatan aktivitas siswa dalam bermain tournament yang mendukung hasil belajar siswa pada saat proses pembelajaran. Dari aspek-aspek yang diamati pada lembar observasi kelompok tournament dapat diketahui hasil persentase dari masing-masing aspek.
Untuk dapat melihat perbedaan persentase ketuntasan hasil belajar ranah afektif pada setiap indikator tiap siklus dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 4.3
Grafik Hasil Belajar Ranah Afektif Saat Turnamen Pada Setiap Indikator.