• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini berisi mengenai prosedur pengembangan, dan kualitas produk.

4.1.1 Prosedur Pengembangan

Prosedur pengembangan yang diterapkan peneliti terdiri dari enam tahap, yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, dan uji coba desain produk.

4.1.1.1 Potensi dan Masalah

Tahap pertama penelitian dan pengembangan (R & D) adalah potensi dan masalah, dimana peneliti mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkaitan dengan penelitian. Pada awal penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan 2 orang praktisi gamelan. Praktisi pertama adalah seorang pelatih karawitan di salah satu SD yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan juga menjadi pelatih karawitan di salah satu Universitas yang ada di DIY. Praktisi ke-2 adalah seorang seniman karawitan yang sering turut serta dalam pementasan gamelan, sekaligus sebagai pelatih karawitan di Kabupaten Kulon Progo. Wawancara yang dilakukan dengan kedua praktisi tersebut bertujuan untuk mengetahui mengenai nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam memainkan gamelan, dan mengenai perlunya mengenalkan gamelan kepada anak sejak usia dini. Dari wawancara didapatkan informasi bahwa dalam memainkan gamelan terdapat berbagai nilai-nilai budi pekerti. Peneliti juga mengetahui bahwa gamelan perlu diperkenalkan kepada anak sejak dini dan diperlukan juga sebuah panduan.

Hasil wawancara yang didapatkan peneliti kemudian dijadikan acuan untuk menyusun angket kebutuhan siswa. Setelah angket divalidasi, kemudian disebarkan di SD Kanisius Minggir yang beralamatkan di Kebonangung, Sendangarum, Minggir, Sleman, DIY. Angket disebarkan pada 15 siswa kelas IV

65 dan V. Hasil angket menunjukkan bahwa 11 siswa (73%) menjawab belum pernah membaca buku untuk memainkan gamelan, dan sisanya menjawab pernah membaca buku karawitan (bukan buku yang berisi nilai-nilai dalam memiankan gamelan).

Dari hasil wawancara dan koesioner, peneliti mengetahui bahwa terdapat nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan. Nilai-nilai tersebut perlu dikenalkan dan diajarkan pada siswa sejak dini. Akan tetapi belum terdapat buku yang berisi informasi mengenai gamelan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

4.1.1.2 Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara dan koesioner. Peneliti melakukan wawancara kepada dua orang narasumber yang merupakan guru gamelan, dan praktisi gamelan. Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara tersebut, yaitu 1) mengapa anda tertarik pada gamelan?, 2) apakah ada nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan?, 3) apakah yang anda pikirkan/rasakan setiap kali mendengarkan musik gamelan? 4) apakah menurut anda anak-anak perlu diperkenalkan gamelan sejak dini untuk menyukai gamelan? mengapa? 5) apakah menurut anda perlu ada buku sederhana untuk anak SD yang memuat informasi tentang gamelan yang memiliki nilai-niali budi pekerti? mengapa perlu?. Dari 5 pertanyaan tersebut, narasumber menyatakan bahwa merasa senang dan nyaman ketika mendengarkan musik gamelan (gendhing). Ada nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan, antara lain kerja sama, religiusitas, tanggung jawab, kepemimpinan, kesopanan, dan lain sebagainya. Nilai budi pekerti juga termuat pada syair (tembang) yang dinyanyikan bersamaan dengan musik gamelan. Narasumber juga berpendapat bahwa gamelan perlu dikenalkan pada anak sejak dini karena dapat dijadikan sarana mengajarkan nilai budi pekerti sekaligus sebagai pelestarian budaya yang adi luhung. Akan tetapi belum ditemui mengenai buku yang memuat informasi gamelan yang mengandung nilai-nilai budi pekerti untuk kalangan siswa usia sekolah dasar.

Pengumpulan data selanjutnya dilakukan peneliti dengan teknik koesioner menggunakan instrumen angket. Angket yang disusun memuat beberapa aspek,

66 yaitu 1) gamelan sebagai salah satu kesenian Jawa, 2) budi pekerti dalam memainkan gamelan, 3) literasi, 4) perlu tidak prototipe buku tentang memainkan gamelan. Dari 4 aspek tersebut disusun 8 pertanyaan untuk menggali pemahaman siswa mengenai gamelan, nilai-nilai yang diperoleh saat memainkan gamelan, dan kebutuhan buku yang berisi nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan. Setelah angket disusun, kemudiaan divalidasi oleh dua ahli yang merupakan praktisi gamelan. Kritik dan saran dari ahli digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki angket. Setelah diperbaiki, peneliti menyebar angket tersebut di SD Kanisius Minggir. Siswa yang mengisi angket berjumlah 15 siswa kelas IV dan V. Berikut ini merupakan daftar pertayaan beserta hasil rekap angket yang disajikan dalam tabel.

Tabel 4.1 Rekap Jawaban Angket Analisi Kebutuhan Siwa

No. Pernyataan Jawaban 1 Saya sudah memainkan

gamelan sejak kelas ...

15 siswa (100%) menjawab mulai memainkan gamelan sejak kelas IV.

2 Gamelan merupakan salah satu alat musik dari ...

15 siswa (100%) menjawab bahwa gamelan merupakan salah satu alat musik dari Jawa Tengah/ Yogyakarta. 3 Pakaian yang dikenakan

saat pementasan gamelan adalah ...

12 siswa (80%) menjawab pakaian yang dikenakan saat pementasan gamelan adalah pakaian adat Jawa (sorjan/ kebaya).

2 siswa (13%) menjawab pakaian sekolah. 1 siswa (7%) menjawab baju batik. 4 Sebelum memainkan

gamelan, kita harus ...

10 siswa (67%) menjawab sebelum memainkan gamelan harus berdoa.

4 siswa (27%) menjawab sebelum memainkan gamelan harus menyiapkan pemukul (tabuh).

1 (7%) siswa menjawab harus mempersiapkan teks notasi. 5 a. Pada saat memainkan

gamelan, kita harus ...

5 siswa (33 %) menjawab bahwa pada saat memainkan gamelan harus fokus.

4 siswa (27%) menjawab serius. 2 siswa (13%) menjawab siap.

3 siswa (20%) menjawab harus benar dalam memaikan gamelan. dan mematuhi aturan dalam permainan gamelan 1 siswa(7%) menjawab hormat.

b. Pada saat memainkan gamelan, kita harus bersikap ...

10 siswa (67%) menjawab bahwa pada saat memainkan gamelan harus bersikap sopan (baik), 4 siswa (27%) menjawab tenang.

67 6 Sesudah memainkan

gamelan, kita harus ...

7 siswa (47%) menjawab sesudah memainkan gamelan harus berdoa.

4 siswa (27%) menjawab mengembalikan pemukul (tabuh) ke tempatnya.

3 siswa (20%) menjawab merapikan gamelan yang telah dipakai.

1 siswa(7%) siswa menjawab bersyukur. 7 Tuliskan pengalaman yang

mengesankan saat memainkan gamelan ...

Siswa 1 dan 2 menjawab bahwa dia merasa senang ketika memainkan gamelan, dan bermain gamelan merupakan sesuatu yang asyik dan seru.

Siswa 3 anak menuliskan bahwa merasa senang dan gembira ketika memainkan gamelan.

Siswa 4 menuliskan ketika latihan karawitan pada hari jumat, dia memainkan instrumen kempul dan merasa senang.

Siswa 5 menuliskan bahwa pernah terkena pemukul gamelan, karena pemukul tersebut digunakan untuk bermain.

Siswa 6 menjawab pernah tertawa ketika berlatih karawitan karena merasa senang.

Siswa 7 menuliskan pernah bergantian dalam memukul gamelan dan juga berlatih koor/bernyanyi.

Siswa 8 menuliskan pernah ditertawakan oleh teman-temannya saat berlatih karawitan, karena pada sat itu dia belum benar dalam bermain gamelan.

Siswa 9 menuliskan merasa gugup ketika bermain gamelan saat pertama kali, tetapi kemudian menjadi bisa bermain gamelan dan merasa tidak gugup.

Siswa 10 menuliskan bahwa dia merasa bahagia ketika bermain gamelan, dan dia menganggap bahwa gamelan meupakan hal yang seru.

Siswa 11 menuliskan senang karena dapat pentas dengan teman-teman.

Siswa 12 menuliskan senang bisa tampil di depan orang banyak.

Siswa 11 bangga karena dapat mengiringi misa Minggu paskah.

Siswa 14 senang memainkan gamelan pada masa Natal bersama teman-teman tidak terlupakan.

Siswa 15 senang memainkan gamelan karena memiliki suara merdu.

8 Buku untuk memainkan gamelan yang pernah saya baca adalah ...

11 siswa (73%) menjawab belum pernah membaca buku untuk memainkan gamelan.

3 siswa (20%) menjawab buku karawitan. 1 siswa (7%) satu siswa menjawab buku tulis.

68 Dari angket yang disebarkan, sebanyak 10 siswa (67%) menjawab bahwa sebelum memainkan gamelan harus berdoa, sebanyak 5 siswa (33%) menjawab saat memainkan gamelan harus fokus, 4 siswa (27%) menjawab saat memainkan gamelan serius, 2 siswa (13%) menjawab siap ,10 siswa (67 %) siswa menjawab pada saat bermain gamelan harus bersikap sopan, 7 siswa (27%) siswa menjawab setelah bermain gamelan mengembalikan pemukul (tabuh) ke tempatnya (disiplin), 4 siswa (27%) menjawab saat bermain gamelan harus bersikap tenang, dan 11 siswa (73%) menjawab belum pernah membaca buku untuk memainkan gamelan. Dari jawaban para siswa tersebut, peneliti memperoleh data bahwa bermain gamelan akan menumbuhkan kebiasaan berdoa, sopan, fokus, disiplin, dan lain sebagainya. Selain itu 73% siswa belum pernah membaca dan memerlukan buku mengenai gamelan dan nilai-nilai yang terkaandung di dalamnya.

Data awal yang didapatkan oleh peneliti tersebut kemudian digunakan acuan untuk menyusun desain produk. Hal tersebut bertujuan agar produk yang disusun peneliti sesuai dengan kebutuhan siswa dan bermanfaat bagi siswa. Produk yang disusun berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan yang diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada siswa mengenai gamelan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

69 4.1.1.3 Desain Produk

Pada tahap desain produk, peneliti mendesain produk berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan untuk siswa SD berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner. Prototipe buku yang disusun berjudul Nilai-Nilai Budi Pekerti dalam Memainkan Gamelan, yang terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama adalah artkel nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan. Bagian kedua Cergam “Bermain Bonang Barung, Melatih Tanggung Jawab”. Pada prototipe buku yang disusun juga terdapat kata pengantar, daftar isi, refleksi, kepustakaan, biografi singkat penulis, dan puisi. (Kisi-kisi pembuatan prototipe buku dapat diliahat pada lampiran 8, halaman 116).

Desain produk ini dimulai dari penyusunan artikel pada bagian pertama, yang memuat penjelasan mengenai gamelan Jawa, nilai-nilai dalam instrumen gamelan, dan nilai-nilai dalam memainkan gamelan. Tiga hal tersebut diuraikan secara sederhana dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa SD. Selanjutnya peneliti membuat sebuah cerita yang mengisahkan pengalaman seorang anak bernama Budi memainkan gamelan (bonang barung). Tokoh Budi yang duduk di kelas V SD tersebut belajar memainkan gamelan bersama teman-teman sebayanya. Dalam belajar memainkan gamelan, Budi juga dibiasakan untuk sopan, berdoa, bertanggung jawab, konsentrasi, dan lain sebagainya. Cerita ini juga berisi kekhasan salah satu instrumen gamelan yang dimainkan tokoh utama, yaitu instrumen bonang barung. Kemudian untuk memudahkan pembaca memahami alur cerita dan nilai yang disampaikan, peneliti mendesian ilustrasi gambar yang sesuai. Adapun ilustrasi gambar yang didesain seperti berdoa sebelum memainkan gamelan, mengembalikan pemukul gamelan, dan berjalan jongkok (sopan) ketika meninggalkan tempat pementasan gamelan. Berikut gambar yang didesain oleh peneliti.

70 Gambar 4.1 Sketsa awal

Tokoh utama yang bernama Budi

Seorang anak yang belajar bermain bonang bersama Pamannya

Berdoa sebelum memainkan

gamelan. Seorang anak yang berlatih gamelan.

Sekelompok anak yang sedang melakukan pementasan

gamelan.

Meletakkan tabuh setelah pementasan gamelan.

Ilustrasi gambar yang dibuat oleh peneliti dirasa kurang menarik untuk dijadikan sebuah produk, maka peneliti meminta bantuan pada seorang ilustrator gambar untuk memperbaiki gambar yang telah dibuat. Hal tersebut bertujuan untuk membuat prototipe buku menjadi lebih menarik, sehingga siswa yang akan membaca prototipe ini menjadi tertarik dan lebih mudah untuk memahami isi

71 cerita tentang nilai yang didapatkan saat memainkan bonang barung. Berikut gambar yang telah diperbaiki oleh ilustrator gambar.

Gambar 4.2 Perbaikan Sketsa Oleh Ilustrator

Seorang anak bernama Budi dan Pamannya.

Seorang anak yang belajar bermain bonang bersama Pamannya.

Berdoa sebelum memainkan gamelan. Sekelompok anak yang berlatih gamelan.

Sekelompok anak yang sedang melakukan pementasan gamelan

Meletakkan tabuh setelah pementasan gamelan.

72 4.1.1.4 Validasi Desain

Produk yang telah disususun berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan untuk SD yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah artkel nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan. Bagian kedua Cergam “Bermain Bonang Barung, Melatih Tanggung Jawab”. Produk tersebut divalidasi oleh dua ahli untuk mengetahui kualitas produk yang dibuat. Melalui validasi peneliti akan mendapat saran guna perbaikan produk yang telah dibuat sehingga layak diuji cobakan. Validasi dilakukan dengan cara memberikan desain produk dan instrumen penilaian kepada ahli. Terdapat beberapa aspek prototipe buku yang dinilai dan terdapat dalam instrumen validasi. Aspek tersebut yaitu 1) bahasa, 2) format penulisan buku, 3) isi prototipe buku. Validasi desain ini dilakukan oleh satu guru gamelan di SD, dan satu ahli bahasa. (Rekap hasil validasi produk terdapat pada lampiran 9c, halaman 129).

Berdasarkan validasi yang dilakukan oleh guru gamelan SD didapatkan hasil rerata skor 3,56 dengan kategori “sangat baik”. Prototipe buku dinyatakan layak untuk digunakan atau diuji cobakan dengan revisi sesuai saran validator. Adapun saran diberikan pada 3 aspek yang dinilai, yaitu bahasa, format penulisan buku, dan isi prototipe buku. (1) Pada aspek bahasa validator memberi saran perlu memperbaiki beberapa penggunaan kata di awal kalimat, dan perlu menyederhanakan pengunaan kaliamat pada bagian pertama protoripe buku. (2) Pada aspek format penulisan buku, validator memberi saran perlu menambahkan beberapa pemahaman mengenai pengertian buka, suwuk, ompak, dan lagu. (3) Pada aspek isi prototipe buku, validator memberi saran kalimat pada bagian pertama perlu disederhanakan, mengganti pemahaman instrumen rebab; siter; suling dengan pemahanan insrumen; kenong; dan kempul, peneliti juga perlu menambahkan gambar urutan nada bonang barung pada bagian kedua prototipe buku.

Berdasarkan validasi yang dilakukan oleh ahli bahasa, didapatkan hasil rerata skor 3,56 dengan kategori “sangat baik”. Prototipe buku dinyatakan layak untuk digunakan atau diuji cobakan dengan revisi sesuai saran validator. Adapun saran diberikan pada 3 aspek yang dinilai, yaitu bahasa, format penulisan buku, dan isi prototipe buku. (1) Pada aspek bahasa validator memberi saran perlu

73 memperhatikan penggunaan tanda baca, dan perlu menyerderhanakan penjelasan beberapa istilah. (2) Pada aspek format penulisan buku, validator memberi saran perlu memperhatikan penggunaan tanda baca. (3) Pada aspek isi prototipe buku, validator memberi saran beberpa penjelasan beberapa istilah perlu menggunakan bahasa yang lebih sederhan, dan perlu memperbaiki beberpa pola kalimat pada bagian cergam.

4.1.1.5 Revisi Desain

Peneliti melakukan perbaikan atau revisi produk prototipe buku pendidikan budi pekerti menjadi lebih baik dari sebelumnya. Revisi desain dilakukan berdasarkan kritik dan saran yang diberikan oleh para validator. Saran yang diberikan oleh para validator adalah: (1) perlu memperbaiki penggunaan kata di awal kalimat, dan perlu mempehatikan penggunaan tanda baca. Peneliti melakukan perbaikan pada penggunaan kata di awal beberapa kalimat dan penggunaan tanda baca disesuaikan dengan EBI, (2) bagian pertama prototipe masih susah dipahami, bahasa yang digunakan perlu disederhanakan, dan penjelasan istilah perlu disederhanakan. Peneliti melakukan perbaikan dengan cara memilih kosa kata yang sederhana dan mudah untuk dipahami siswa SD, peneliti juga menggunakan kosa kata yang lebih sederhana dalam menjelaskan isitilah-istilah yang tekait dengan gamelan, (3) perlu memperhatikan penggunaan tanda baca. Peneliti melakukan pebaikan pada penggunaan tanda baca yang tidak tepat dan diseuaikan dengan kaidah penulisan buku, (4) perlu menambahkan pemahaman mengenai pengertian buka, suwuk, ompak, dan lagu. Pada bagian pertama produk, peneliti menambahkan pengertian buka, suwuk, ompak, dan lagu menggunakan bahasa yang sederhana, (5) istilah dan kalimat pada bagian pertama perlu disederhanakan, pemahaman instrumen rebab; siter; dan suling lebih baik diganti dengan instrumen kenong; dan kempul. Peneliti mengubah penjelasan yang terkait dengan istilah dan kalimat pada bagian pertama menjadi lebih sederhana. Peneliti juga mengganti penjelasan instrumen rebab; siter; dan suling menjadi penjelasan mengenai instrumen kenong; dan kempul, (6) perlu menambahkan gambar urutan nada bonang barung. Pada cergam, peneliti menambahkan gambar urutan nada bonang bonang dan penjelasannya. (7)

74 perbaiki beberapa pola kalimat. Peneliti memperbaiki beberapa pola kalimat pada cergam agar lebih mudah dipahami siswa. Berikut ini disajikan contoh perbaikan prototipe buku yang dilakukan peneliti.

Pada bagian pertama prototipe buku halaman 2 belum memuat mengenai pengertian buka, ompak, lagu, dan suwuk.

Gambar 4.3 Isi Prototipe Buku Sebelum Direvisi

Validator memberi saran perlu menambahkan mengenai pengertian buka,

ompak, lagu, dan suwuk . Peneliti melakukan revisi pada bagian pertama prototipe

75 Gambar 4.4 Isi Prototipe Buku Sesudah Direvisi

Pada bagian pertama prototipe buku halaman 5 memuat penjelasan mengenai instrumen suling.

76 Validator memberi saran untuk mengganti pemahaman mengenai instrumen

suling, rebab, dan siter dengan pemahaman mengenai instrumen kenong, dan kempul. Peneliti melakukan revisi pada bagian prototipe buku halaman 5 dengan

mengganti penjelasan instrumen suling menjadi penjelasan instrumen kenong.

Gambar 4.6 Isi Prototipe Buku Sesudah Direvisi

4.1.1.6 Uji Coba Produk

Uji coba produk dilakukan setelah prototipe buku direvisi sesuai saran dari para ahli. Peneliti melakukan uji coba produk pada 19 siswa kelas V SD Kanisius Minggir yang terletak di Minggir, Sendangangung, Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Uji coba prduk dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 17 Februari 2017. Tujuan dari uji coba produk adalah untuk mengetahui keefektifan dan kualitas produk, apakah prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan yang telah disusun dapat membantu siswa mengetahui

nilai-77 nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan dan memberikan pemahaman siswa lebih lanjut mengenai gamelan terutama instrumen bonang barung.

Selama uji coba produk, peneliti mendampingi dan memandu para siswa dalam melakukan beberapa kegiatan. Kegiatan uji coba produk diawali dengan perkenalan peneliti dan memberikan sedikit pengantar mengenai isi prototipe buku sebagai bagian kegiatan literasi sekolah dasar. Kegiatan selanjutnya adalah membagikan prototipe buku pada 19 siswa. Para siswa diminta untuk membaca prototipe buku dalam hati. Setelah para siswa selesai membaca, kemudian peneliti membagikan lembar refleksi dan meminta para siswa mengisi lembar refleksi tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai isi bacaan yang terdapat dalam prototipe buku. Jawaban siswa pada lembar refleksi merupakan data yang didapat peneliti untuk mengetahui kualitas produk yang telah diuji cobakan. Siswa yang telah selesai mengisi lembar refleksi diminta mewarnai gambar. Gambar yang diwarnai sama dengan gambar yang terdapat pada cergam, tetapi peneliti menyiapkan gambar untuk diwarnai pada lembar tersendiri supaya tidak terdapat corer-coretan pada prototipe buku, sehingga prototipe tersebut dapat digunakan kembali di lain waktu. Setelah kegiatan mewarnai, para siswa kemuian diminta untuk membuat kalimat yang sesuai dengan gambar. Hal tersebut sesuai dengan salah satu kegiatan literasi, yaitu membuat catatan setelah membaca.

Gambar 4.7 Kegiatan Uji Coba Produk

Para siswa sedang membaca prototipe buku.

78 4.1.2 Kualitas Produk

Produk yang disusun peneliti berupa prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan untuk siswa SD. Prototipe buku tersebut berjudul “Nilai-Nilai Budi Pekerti dalam Memainkan Gamelan”, dan terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan artikel nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan, berisi penjelasan sederhana mengenai gamelan, nilai-nilai dalam instrumen gamelan, dan nilai-nilai dalam memainkan gamelan. Bagian kedua adalah cergam berjudul “Bermain Bonang Barung, melatih Tanggung Jawab” yang menceritakan pengalaman seorang anak memainkan gamelan (bonang barung). Produk tersebut divalidasi oleh guru gamelan SD dan ahli bahasa. Hasil validasi yang dilakukan oleh guru gamelan SD didapatkan skor 3,56. Hasil validasi yang dilakukan oleh ahli bahasa didapatkan skor 3,56. Dari hasil validasi oleh dua ahli tersebut didiapakan skor rerata 3,56. Hal tersebut menunjukkan produk yang dikembangkan oleh peneliti memiliki kualitas “sangat baik”.

Produk setelah divalidasi kemuian diperbaiki peneliti sesuai dengan saran yang diberikan para ahli. Peneliti melakukan uji coba produk dengan membagikan prototipe buku tersebut pada 19 siswa kelas V SD Kanisius Minggir. Pada uji coba tersebut siswa melakukan kegiatan membaca prototipe buku, kemudian menjawab beberapa pertanyaan pada lembar refleksi. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai isi prototipe buku berkaitan dengan nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan dan dalam instrumen

bonang barung. Lembar refleksi terdiri dari 5 pertanyaan yang mengacu pada isi

prototipe buku. Pertanyaan pada lembar refleksi yaitu 1) pengertian gembyang sebagai salah satu cara memainkan Bonang barung, 2) Pengertian imbal sebagai salah satu cara memainkan bonang barung, 3) Nilai yang didapatkan penabuh saat memainkan gamelan, 4) pengertian tanggung jawab sebagai salah satu nilai dalam memainkan bonang barung, dan 5) informasi yang didapatkan oleh siswa setelah membaca porototipe buku. Jawaban siswa pada lembar refleksi, akan dikonversikan menjadi nilai dalam skala 1 – 4 menggunakan pedoman penilan yang disusun peneliti (Lampiran 10c, halaman 135). Nilai yang diperoleh pada setiap jawaban akan dijadikan acuan menentukan kulaitas produk.

79 Berdasarkan pertanyaan mengenai informasi yang didapatkan para siswa setelah membaca isi prototipe buku, sebanyak 4 siswa menuliskan jawaban bahwa mereka mendapatkan informasi tentang bonang barung/ cara memainkannya. Sebanyak 2 siswa mendapatkan informasi bahwa gamelan merupakan bagian dari kebudayaan yang perlu dilestarikan. Sebanyak 2 siswa menuliskan jawaban bahwa harus menghargai gamelan. Setelah jawaban para siswa dinilai, diperoleh hasil rata-rata skor 3,26 untuk jawaban soal mengenai informasi yang didapatkan para siswa setelah membaca isi prototipe buku.

Berdasarkan pertanyaan mengenai nilai yang didapatkan penabuh saat memainkan gamelan. Para siswa mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat. Sebanyak 10 siswa mampu menjawab bahwa nilai yang didapatkan penabuh saat memainkan gamelan adalah religius, sopan, konsentrasi, siap, kerja sama, tanggung jawab, kepemimpinan, disiplin. Siswa yang lainnya pun dapat menuliskan nilai budi pekerti dengan tepat, akan tetapi tidak secara lengkap. Setelah semua jawaban soal ini dinilai, didapatkan rerata skor 3,12.

Dokumen terkait