BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Deskripsi Implementasi Pendidikan Karakter Self Leadership melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning.
a. Data Awal Penelitian (Pra Tindakan)
Sebelum tindakan dilaksanakan, peneliti mengumpulkan data awal (pra tindakan) pada hari Selasa, 17 Mei 2016, pukul 11.00-11.45 WIB. Subjek yang digunakan adalah siswa kelas VIII A SMP BOPKRI 1 Yogyakarta. Jumlah siswa yang hadir sebanyak 34 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan Tes Karakter Self Leadership sebagai data pretest dan Self Assesment Scale Karakter Self Leadership sebagai data pra tindakan.
Peneliti secara khusus memberikan informasi tentang karakter self leadership yang ingin ditingkatkan. Pemberian informasi dilakukan dengan diskusi dan tanya jawab pada siswa. Suasana pada saat kegiatan berlangsung kurang kondusif dan ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan, mengobrol dengan teman sebelahnya, dan mengerjakan tugas mata pelajaran lainnya.
Setelah informasi selesai diberikan, peneliti memberikan Tes Karakter Self Leadership dan Self Assesment Scale Karakter Self
86
Leadership kepada siswa untuk diisi. Data hasil pretest dan pra tindakan direfleksikan untuk tindakan siklus I.
b. Siklus I
1) Tahap Perencanaan
Peneliti menyiapkan Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB) dan materi layanan bimbingan klasikal dengan topik “Mengenal Diri (My Self)”, menyiapkan Self Assesment Scale, lembar observasi dan alat dokumentasi.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus I berlangsung pada Jumat, 20 Mei 2016 pukul 11.30-13.00 WIB di aula SMP BOPKRI 1 Yogyakarta. Jumlah siswa yang hadir pada saat siklus I sebanyak 34 orang. Pada pelaksanaan tindakan siklus I, peneliti membuat rincian kegiatan sebagai berikut.
a) Kegiatan Awal
Kegiatan awal, sebelum memulai aktivitas peneliti memimpin doa agar diberi kelancaran selama bimbingan berlangsung. Peneliti membuka kegiatan dengan salam pembuka dan memberikan pengantar singkat tentang topik bimbingan. Peneliti memberikan lembar refleksi “Character Card” pada siswa yang digunakan untuk refleksi pada setiap akhir pertemuan. Peneliti membagikan name tag sebagai tanda pengenal siswa. Siswa juga mendapatkan penjelasan
87
bahwa siswa yang aktif bertanya dan berpendapat akan mendapatkan stiker sebagai penghargaan terhadap dirinya.
b) Kegiatan Inti
Peneliti mengajak siswa bermain permainan “Angin Bertiup” sebagai awal menghantar siswa pada topik “Mengenal Diri”. Siswa membuat lingkaran besar dan memberikan satu tanda (sepatu atau benda lain) sebagai tanda posisi berdiri siswa. Salah satu siswa berdiri di tengah lingkaran sebagai instruktur dan wasit permainan. Instruktur berkata,“angin bertiup”, lalu siswa membalas dengan pertanyaan, “bertiup kemana?”, dan instruktur pun menjawab dengan menyebutkan salah satu ciri dari siswa, “bertiup ke anak yang memakai baju berwarna merah”. Siswa yang ciri-cirinya disebutkan oleh instruktor harus berpindah tempat dengan siswa yang memiliki ciri yang sama. Instruktur yang di tengah pun harus berpindah mencari tempat kosong. Siswa yang tidak mendapatkan tempat menggantikan instrukur sebelumnya di posisi tengah lingkaran.
Permainan di atas mengajak siswa untuk mengenal dan memahami apa yang ada pada dirinya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Ketika instruktur mengatakan “bertiup ke anak yang memakai baju berwarna merah”, maka siswa yang memakai baju berwaran merah secara sadar dan jujur harus berpindah. Kadang kala ada yang tidak mau berpindah, ketika instruktur menyebutkan
88
kata kunci sifat, misalnya “bertiup ke anak yang malas”. Pernyataan itu sulit terlihat karena berada pada dalam diri pribadi masing-masing siswa, maka perlu kesadaran dan kejujuran. Permainan itu sebagai proses experiencing (mengalami) dalam siklus model experiential learning. Siswa diajak mengalami sebuah permainan yang memiliki makna tentang pengenalan pribadi siswa.
Aktivitas selanjutnya adalah mengajak siswa memaknai pengalaman ketika bermain permainan Angin Bertiup. Siswa membagikan hasil refleksi pengalamannya dengan megungkapkan makna di balik permainan tersebut. Makna dari permainan tersebut seperti, sebenarnya dalam diri seseorang ada yang bisa dilihat oleh orang lain, ada yang hanya bisa dilihat oleh diri sendiri dan bahkan ada yang tidak bisa sama sekali dilihat oleh diri sendiri dan orang lain. Aktivitas tersebut sebagai proses publishing (membagikan pengalaman) pada siswa lainnya.
Selanjutnya siswa diajak untuk menuliskan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri siswa. Hasilnya siswa cenderung mudah menuliskan kekurangan daripada kelebihan. Peneliti berinisiatif agar siswa memiliki kesadaran gambaran diri yang positif, maka siswa diajak untuk saling memberikan pendapat positif melalui inventori segi positif. Peneliti meminta siswa membuat lingkaran kecil dengan beberapa kelompok kecil. Kemudian setiap siswa dalam kelompok kecil memberikan ceklist pada lembar
89
inventori temannya. Hasilnya siswa menerima gambaran positif diri dari teman-temannya. Harapannya siswa dapat memandang diri dengan lebih positif, sehingga siswa dapat mengenal, memahami dan menerima diri secara positif. Aktivitas itu dalam siklus model experiential learning adalah processing (memproses pengalaman).
Peneliti menguatkan proses mengolah pengalaman siswa dengan memutarkan sebuah video singkat Real Beauty Sketches sebagai gambaran bahwa pribadi kita memandang diri cenderung lebih negatif daripada pandangan orang lain terhadap diri kita. Aktivitas itu sebagai generalizing (merumuskan kesimpulan) tentang seluruh rangkaian bimbingan. Selanjutnya peneliti perlu memastikan bahwa siswa sungguh-sungguh menangkap relevansi dari bimbingan ini, serta memiliki tekad untuk menerapkan hasil belajarnya maka peniliti mengajak siswa untuk menuliskan refleksi pada lembar refleksi untuk mengetahui hasil belajar siswa dan niat siswa untuk mewujudkannya dalam perilaku nyata. Perwujudan dalam perilaku nyata dalam model pembelajaran eksperiensial adalah applying (menerapkan).
c) Kegiatan Penutup
Peneliti memberikan kisah bergambar dengan judul “Jangan Tutupi Kekurangan dan Kelebihan” sebagai bacaan ringan dan memberikan lembar Self Assesment Scale. Siswa mengisi Self
90
Assesment Scale sebagai gambaran hasil bimbingan siklus I. Kemudian peneliti menutup kegiatan dengan doa penutup.
3) Tahap Observasi
Observasi penelitian ini dibantu oleh mitra kolaboratif yaitu rekan peneliti. Berdasarkan hasil observasi, siswa sangat bersemangat dalam mengikuti bimbingan, aktif bertanya dan gembira. Peneliti juga menemukan beberapa siswa yang masih malu untuk berpendapat dan takut salah, serta masih banyak siswa yang mengobrol dengan temannya saat bimbingan. Hasil observasi dapat dilihat pada grafik 4.5. 4) Tahap Evaluasi dan Refleksi Siklus I
Tahap ini dilakukan pengolahan data hasil Self Assesment Scale, dan observasi perilaku siswa untuk memperoleh data yang akurat dan dapat dijadikan acuan untuk penelitian tindakan siklus selanjutnya. Hasil refleksi dan evaluasi dengan mitra kolaboratif pada siklus I ini adalah masih ada siswa yang skor skala penilaian diri berkategori sedang sebanyak 17 siswa. Jumlah siswa berkategori sedang tersebut bertambah 1 dari sebelumnya 16 siswa pada pra tindakan. Siswa yang skornya berkategori rendah sudah tidak ada, artinya bahwa pemahaman siswa telah naik pada kategori sedang.
Peneliti juga melihat bahwa peran aktif siswa dalam bimbingan masih belum optimal, terbukti dari hasil observasi di atas menunjukkan bahwa masih ada siswa yang malu dan takut salah untuk berperan aktif.
91
Oleh sebab itu, peneliti belum merasa puas dengan hal tersebut. Selanjutnya, peneliti melakukan perbaikan pada siklus II.
c. Siklus II
1) Tahap Perencanaan
Peneliti menyiapkan Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB) dan materi layanan bimbingan klasikal dengan topik “Menegaskan Mimpi (My Dream)”, menyiapkan Self Assesment Scale, lembar observasi dan alat dokumentasi.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan a) Kegiatan Awal
Peneliti memberikan salam semangat dan akrab kepada siswa. Peneliti juga mempersilahkan salah satu siswa untuk memimpin doa pembuka. Peneliti mengingatkan siswa untuk menggunakan name tag. Setelah itu, peneliti memberikan penjelasan singkat tentang topik bimbingan.
b) Kegiatan Inti
Peneliti mengajak siswa untuk review topik “Mengenal Diri” untuk bridging ke topik “Menegaskan Mimpi”. Setelah itu siswa diajak untuk membuat perisai diri yang di dalamnya terdapat unsur sifat diri positif, kebiasaan, kelemahan, impian, dan dukungan dari berbagai pihak. Siswa menuliskan impian berdasarkan pada kondisi dirinya. Menuliskan impian adalah sebuah pengalaman. Terbiasa menuliskan impian bermanfaat bagi siswa untuk memahami tujuan
92
yang ingin dicapai, sehingga siswa mampu mengarahkan segala tindakannya menuju impiannya. Proses menuliskan impian juga dapat disebut sebagai proses experiencing (mengalami).
Peneliti mempersilahkan para siswa untuk mengungkapkan impiannya satu per satu di depan kelas (publishing/proses membagikan). Kemudian peneliti memberikan materi singkat cara membuat mimpi secara “SMART” atau yang dapat dicapai dan realistis. Lalu siswa masuk dalam kelompok kecil untuk berdiskusi (processing/memproses pengalaman) bertukar pendapat apakah mimpi yang telah dituliskan realistis dan dapat dicapai.
Peneliti memberikan penguatan dan kesimpulan
(generalizing/merumuskan kesimpulan) dengan memutarkan cuplikan film “Sang Pemimpi”. Cuplikan film tersebut mengungkapkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa, maka peneliti menyimpulkan bahwa kata-kata dalam impian siswa dapat menggetarkan diri sendiri maupun orang lain jika disusun dengan baik. Setelah kesimpulan, harapannya siswa dapat menerapkan cara menulis dan menegaskan impiannya dengan baik dalam kehidupan nyata (applying/menerapkan).
c) Kegiatan Penutup
Peneliti memberikan kisah bergambar dengan judul “Menjadi Pemenang Berawal dari Mimpi” sebagai bacaan ringan dan memberikan lembar Self Assesment Scale. Siswa mengisi Self
93
Assesment Scale sebagai gambaran hasil bimbingan siklus II dan menuliskan refleksi pribadi. Kemudian peneliti menutup kegiatan dengan doa penutup.
3) Tahap Observasi
Observasi perilaku siswa dilakukan oleh mitra kolaboratif yaitu 1 orang rekan peneliti. Observer itu bertugas mengamati dan menuliskan hasil observasi terhadap perilaku siswa selama proses penelitian di dalam kelas berlangsung. Hasil Observasi pada siklus II menunjukkan bahwa keaktivan siswa bertanya, berpendapat dan semangat terlibat meningkat. Siswa juga lebih mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Frekuensi siswa yang mengobrol dengan teman, takut salah dan malu berkurang, tetapi masih ada sekitar 2 siswa yang malu. Siswa lebih dapat kerja sama dan fokus dalam mengikuti bimbingan. Hasil observasi dapat dilihat pada grafik 4.5.
4) Tahap Evaluasi dan Refleksi
Tahap ini dilakukan pengolahan data hasil Self Assesment Scale, dan observasi perilaku siswa untuk memperoleh data yang akurat dan dapat dijadikan acuan untuk penelitian tindakan siklus selanjutnya. Tahap ini pula peneliti telah melakukan perbaikan siklus I yaitu dengan menambah waktu diskusi. Diskusi berguna untuk mempermudah siswa lebih aktif dalam menyampaikan pendapat, sehingga siswa lebih berani berpendapat.
94
Data hasil Self Assesment Scale mengungkapkan bahwa siswa yang memiliki skor berkategori sedang menurun dari 17 siswa (Siklus I) menjadi 12 siswa (Siklus II), siswa dengan skor berkategori tinggi tetap 15 siswa, dan siswa dengan skor berkategori sangat tinggi jumlahnya naik menjadi 7 siswa. Hasil observasi juga mengungkapkan bahwa masih ada siswa yang malu untuk berpendapat, sehingga perlu perbaikan pada siklus III agar semua siswa dapat aktif dan berani. Kondisi itu bagi peneliti sudah cukup baik, akan tetapi peneliti tetap berusaha meningkatkan karakter self leadership siswa pada siklus III. d. Siklus III
1) Tahap Perencanaan
Siklus III berlangsung pada Sabtu, 4 Juni 2016 pukul 11.30-14.00 WIB. Aktivitas bimbingan tersebut memerlukan berbagai peralatan. Peneliti menyiapkan Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB) dan materi layanan bimbingan klasikal dengan topik “Aksiku Menggapai Mimpi (My Action)”, menyiapkan peralatan games outdoor, menyiapkan Self Assesment Scale, lembar observasi dan alat dokumentasi.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan a) Kegiatan Awal
Peneliti membuka aktivitas bimbingan dengan salam pembuka yang akrab kepada para siswa dan dilanjutkan dengan meminta salah satu siswa untuk memimpin doa pembuka. Kemudian, peneliti menjelaskan rencana bimbingan pertemuan ketiga/siklus III kepada
95
para siswa. Aktivitas bimbingan pada siklus III berlangsung di halaman tengah sekolah. Aktivitas bimbingan ini menekankan eksplorasi siswa di sekolah dengan aktivitas mini outbond. Harapannya siswa memiliki pengalaman yang lebih kuat dalam memaknai permainan berbasis experiential learning.
b) Kegiatan Inti
Aktivitas bimbingan siklus III menekankan pada mini outbond. Aktivitas yang dilakukan adalah permainan “Raih Aku”. Permainan ini berlangsung secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima siswa. Peneliti meminta siswa untuk menuliskan impiannya pada selembar kertas. Setelah itu siswa diminta meletakkan kertas impiannya di sebuah tempat yang tidak boleh diketahui oleh siswa lain. Kemudian siswa membuat lingkaran per kelompok kecil dan kaki setiap siswa diikat menggunakan tali pada kaki siswa lainnya. Setelah diikat, peneliti meminta setiap kelompok untuk mengambil kertas impian setiap anggota kelompok dengan cara apapun tanpa melepaskan ikatan tali yang ada di kaki. Jika setiap kelompok sudah menemukan semua kertas impian, maka siswa dapat melepaskan tali yang ada di kaki dan salah satu anggota menuju ke peneliti untuk meniup balon hingga pecah sebagai simbol bahwa telah sukses meraih mimpi-mimpinya.
Permainan itu diikuti oleh siswa dengan sangat antusias dan gembira. Permainan ini merupakan experiencing (Mengalami)
96
dalam model siklus experiential learning sebagai upaya menamkan pada diri siswa bahwa meraih mimpi tidaklah mudah, perlu strategi dan bantuan dari orang lain.
Aktivitas selanjutnya adalah siswa membagikan hasil pengalamannya saat bermain “Raih Aku”. Siswa diajak untuk berbagi apa yang dialami, sehingga siswa dapat sukses melakukan permainan tersebut. Aktivitas ini masuk dalam publishing (membagikan pengalaman).
Setelah siswa berbagi pengalaman, bersama peneliti memaknai proses permainan yang telah dialami. Siswa saling merefleksikan pengalamannya dengan proses diskusi, processing (Memproses pengalaman). Peneliti mengarahkan siswa pada kesimpulan pengalaman yang dialami. Kemudian Siswa juga mencoba membuat perwujudan tindakan yang akan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
c) Kegiatan Penutup
Peneliti memberikan lembar Self Assesment Scale dan Tes Hasil Pendidikan Karakter Self Leadership. Siswa mengisi Self Assesment Scale dan Tes Hasil Pendidikan Karakter Self Leadership sebagai gambaran hasil bimbingan siklus III dan posttest, serta menuliskan refleksi pribadi. Kemudian peneliti menutup kegiatan dengan doa penutup.
97
3) Tahap Observasi
Observasi perilaku siswa dilakukan oleh mitra kolaboratif yaitu 1 orang rekan peneliti. Observer itu bertugas mengamati dan menuliskan hasil observasi terhadap perilaku siswa selama proses penelitian di dalam kelas berlangsung. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa lebih aktif bertanya, berpendapat, dan gembira mengikuti bimbingan. Siswa dapat membaur satu sama lain dan sangat antusias. Siswa yang malu dan takut salah sudah tidak ada. Kerja sama antarsiswa semakin kuat. Hasil observasi dapat dilihat pada grafik 4.5.
4) Tahap Evaluasi dan Refleksi
Tahap ini dilakukan pengolahan data hasil observasi perilaku siswa dan skala minat siswa untuk memperoleh data yang akurat. Hasil evaluasi dan refleksi pada siklus III ini adalah siswa nampak senang dan bersemangat karena topik yang diberikan sangat menarik apalagi dikemasi menggunakan mini outbond. Siswa sangat antusias dan bersemangat, bahkan meminta permainan serupa diadakan kembali.
3. Peningkatan Karakter Self Leadership melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning antara Sebelum dan Sesudah Implementasi Pendidikan Karakter.
Penelitian ini menggunakan Tes Karakter Self Leadership. Data Tes Karakter Self Leadership itu bersumber dari hasil tes sebelum implementasi (pretest) dan tes sesudah implementasi (posttest). Berikut ini disajikan grafik peningkatan karakter self leadership antara pretest dan posttest.
98
Grafik. 4.1.
Peningkatan Rata-Rata Skor Karakter Self Leadership Siswa Antara Pretest dan Posttest
Grafik 4.1 di atas menunjukkan bahwa Capaian rata-rata skor karakter self leadership jika kita melihat dengan ketentuan O2 – O1, maka capaian rata-rata skor siswa mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu naik 4,82 poin. Kemudian penelitian ini juga mendapatkan data distribusi peningkatan karakter self leadership antara sebelum dan sesudah implementasi sebagai berikut.
Tabel. 4.1
Distribusi Peningkatan Karakter Self Leadership
Antara Sebelum dan Sesudah Implementasi Pendidikan Karakter
Rentang Skor Kategori Pretest Posttest Selisih
F % F % F % >68 Sangat Tinggi 0 0 0 0 0 0 59-68 Tinggi 15 44% 25 74% 10 29% 43-58 Sedang 19 56% 9 26% -10 29% 32-42 Rendah 0 0 0 0 0 0 <32 Sangat Rendah 0 0 0 0 0 0
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil tes karakter sefl leadership sebelum tindakan (pretest) capaian skor siswa berkategori
56.74 61.56 54.00 55.00 56.00 57.00 58.00 59.00 60.00 61.00 62.00
Pre Test Post Test
R A TA -R A TA S KO R
99
sedang berjumlah 19 siswa atau 56%, sedangkan capaian skor siswa berkategori tinggi berjumlah 15 siswa atau 44%. Hasil tes karakter self leadership sesudah tindakan (posttest) capaian skor siswa berkategori sedang menurun dan jumlahnya menjadi 9 siswa atau 26%, sedangkan capaian skor siswa berkategori tinggi menaik dengan jumlah 25 siswa (74%). Hasil data sebelum dan sesudah tindakan memiliki selisih tiap kategorinya, kategori sedang memiliki selisih (-10) sedangkan kategori tinggi (+10) artinya pada kategori sedang antara sebelum dan sesudah mengalami penurunan jumlah siswa, sedangkan pada kategori tinggi antara sebelum dan sesudah mengalami kenaikan jumlah siswa, maka pendidikan karakter self leadership berhasil meningkatkan karakter self leadership siswa.
Selain penyajian data distribusi peningkatan karakter self leadership di atas, penelitian ini juga memperoleh data komposisi sebaran subjek berdasarkan capaian skor pendidikan karakter self leadership antara pretest dan posttest sebagai berikut.
100
Grafik. 4.2
Komposisi Sebaran Subjek
Berdasarkan Capaian Skor Karakter Self Leadership Antara Pretest dan Posttest
Grafik 4.2 di atas mengungkapkan bahwa sebagian besar capaian skor karakter self leadership siswa meningkat.
4. Peningkatan Karakter Self Leadership antar Siklus melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning.
Berdasarkan perolehan data penelitian kuesioner Self Assesment Scale yang dihimpun setiap akhir siklus dalam implementasi pendidikan karakter self leadership melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII A SMP BOPKRI 1 Yogyakarta, peneliti melakukan analisis data menggunakan teknik pengkategorisasian menurut Azwar. Berikut gambaran distribusi peningkatan karakter self leadership pada setiap siklus implementasi pendidikan karakter.
51 68 6565 50 4747 52 46 54 6468 505051 4648 686766 52515053 656565 4548 52 66646664 63 68 6467 56 52 58595761 6465 69 6568 60 65 61 69 59615959 5459 6765 53585857 67 6165 12 0 -1 2 6 5 11 7117 0 -3 19 15171417 -7 2 -7 9 8 9 1 -6 2 0 8 10 6 -9 3 -5 1 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516171819202122232425262728293031323334 SKO R SUBJEK
101 Tabel. 4.2
Distribusi Peningkatan Karakter Self Leadership pada Setiap Siklus Implementasi Pendidikan Karakter
Rentang
Skor Kategori
Pra
Tindakan Siklus I Siklus II Siklus III
F % F % F % F % >68 Sangat Tinggi 2 6% 2 6% 7 21% 10 29% 59-68 Tinggi 12 35% 15 44% 15 44% 15 44% 43-58 Sedang 16 47% 17 50% 12 35% 9 26% 32-42 Rendah 4 12% 0 0 0 0 0 0 <32 Sangat Rendah 0 0 0 0 0 0 0 0
Data distibusi peningkatan karakter self leadership di atas mengungkapkan bahwa mulai pra tindakan hingga siklus III capaian skor siswa dengan kategori sangat tinggi dan tinggi mengalami peningkatan jumlah siswa. Capaian skor siswa mulai pratindakan hingga siklus III dengan kategori sedang dan rendah mengalami penurunan. Kondisi itu menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter sefl leadership melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning dapat ditingkatkan. Peningkatan secara umum dapat dilihat melalui grafik peningkatan capaian rata-rata skor pendidikan karakter self leadership sebagai berikut.
102
Grafik. 4.3
Peningkatan Rata-Rata Skor Karakter Self Leadership Siswa Pada Setiap Siklus
Berdasarkan grafik capaian rata-rata skor pendidikan karakter self leadership di atas menunjukkan bahwa mulai pratindakan hingga siklus III capaian rata-rata skor siswa meningkat 5,8 poin. Hal itu membuktikan implementasi pendidikan karakter self leadership melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning efektif dan dapat meningkatkan karakter self leadership siswa. Adapun komposisi sebaran subjek berdasarkan capaian skor karakter self leadership pada setiap siklus sebagai berikut. 56.26 58.56 62.00 64.06 52.00 54.00 56.00 58.00 60.00 62.00 64.00 66.00
Pra Tindakan SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS III
R A TA -R A TA S KO R
103
Grafik. 4.4
Komposisi Sebaran Subjek
Berdasarkan Capaian Skor Karakter Self Leadership pada Setiap Siklus
Setelah mengetahui gambaran capaian skor pendidikan karakter self leadership, peneltian ini perlu menguji signifikansi peningkatan karakter self leadership melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning agar dapat mengetahui kebermaknaan peningkatan skor sebagai penguat bahwa implementasi pendidikan karakter ini benar-benar efektif. 64 63 37 64 66 48 62 50 36 57 58 63 50 40 65 5359 57 39 55 56 49 65 58 69 61 74 52 61 54 5356 68 51 67 60 54 66 62 58 67 50 51 61 55 63 50 50 51 57 63 63 50 61 5155 64 59 71 6569 54 61 53 50 58 69 53 71 63 57 63 63 59 71 58 54 5962 69 57 56 72 59 71 62 53 66 57 5358 57 68 66 73 62 68 57 54 59 70 61 70 63 6568 69 666964 57 64 69 66 54 56 71 62 75 64 58 64 576157 57 71 63 74 6771 59 54 6669 58 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 CA PAIA N S KO R S UBJE K SUBJEK
104
5. Signifikansi Peningkatan Karakter Self Leadership melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning
a. Hasil uji T berdasarkan hasil pretest dan posttest
Tabel 4.3
Hasil Uji T-Test Peningkatan Karakter Self Leadership Antara Sebelum dan Sesudah Implementasi Pendidikan Karakter
Paired Samples Test Paired Differences t df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 PreTest - PostTest -4.82353 7.41199 1.27115 -7.40970 -2.23736 -3.795 33 .001
Uji signifikansi dilakukan menggunakan Uji T-Test untuk kelompok dependen (paired sample T-Test). Peneliti menganalisis data pretest dan posttest menggunakan program SPSS 17.
Berdasarkan hasil pada tabel Paired Sample Test di atas tampak bahwa rata-rata skor karakter self leadership sebelum dan sesudah tindakan terjadi peningkatan senilai 4.823. Nilai signifikansi (Sig. (2-tailed)) yang diperoleh sebesar 0.001 dimana lebih kecil dari batas kritis penelitian 0.05. Nilai signifikansi tersebut menunjukkan Ho ditolak. Artinya secara statistik terdapat peningkatan karakter self leadership secara signifikan melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII A SMP BOPKRI 1 Yogyakarta.
105
b. Hasil uji T berdasarkan hasil Self Assesment Scale antarsiklus
Tabel 4.4
Hasil Uji T-Test Peningkatan Karakter Self Leadership Antarsiklus
Paired Samples Test Paired Differences t df Sig. (2-tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Mean Std. Deviation Std. Error
Mean Lower Upper
Pair 1 Pra – Siklus I -2.29412 5.96723 1.02337 -4.37618 -.21205 -2.242 33 .032 Pair 2 Pra – Siklus II -5.73529 6.10171 1.04643 -7.86428 -3.60631 -5.481 33 .000 Pair 3 Pra – Siklus III -7.79412 7.43366 1.27486 -10.38785 -5.20039 -6.114 33 .000 Pair 4 Siklus I – Siklus II -3.44118 4.81910 .82647 -5.12264 -1.75971 -4.164 33 .000 Pair 5 Siklus I – Siklus III -5.50000 5.32717 .91360 -7.35874 -3.64126 -6.020 33 .000 Pair 6 Siklus II – Siklus III -2.05882 3.53289 .60588 -3.29151 -.82614 -3.398 33 .002
Berdasarkan data pada tabel di atas mengungkapkan beberapa kesimpulan berikut.
1) Berdasarkan hasil olah data dengan perhitungan SPSS 17, pada pair1(Pra-SiklusI) diperoleh t = -2.242. p = 0.032 < α =0.05; maka terdapat peningkatan karakter self leadership secara signifikan antara pra siklus dan siklus I melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning.
2) Berdasarkan hasil olah data dengan perhitungan SPSS 17, pada pair2(Pra-SiklusII) diperoleh t = -5.481. p = 0.000 < α =0.05; maka terdapat peningkatan karakter self leadership secara signifikan antara pra siklus dan siklus II melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning.