• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Implementasi Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga

Implementasi Program LARASITA, merupakan Kantor Pertanahan bergerak (Mobile Land Office) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Tujuan dari Program LARASITA adalah sebagai berikut :

a. Mendekatkan Layanan Pertanahan kepada masyarakat, sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan dan informasi pertanahan.

b. Mengurangi beban biaya transportasi masyarakat saat mendaftar dan mengambil sertipikat.

c. Menghilangkan campur tangan pihak ke-3 yang berkaitan dengan pelayanan pertanahan.

d. Memberikan kepastian pelayanan pertanahan yang bertanggungjawab. e. Untuk kegiatan penyuluhan pertanahan, menerima pengaduan secara

langsung oleh masyarakat yang dilayani oleh Tim LARASITA.

Program LARASITA pada Kantor Pertanahan Kota Salatiga menggunakan kendaraan mobil dengan dilengkapi seperangkat Tehnologi Informasi (IT), yang dapat menghubungkan secara "On Line" pelayanan pertanahan dari mobil LARASITA dengan server KKP (Komputerisasi Kantor Pertanahan), dengan demikian warga masyarakat pengguna layanan tidak perlu datang ke Kantor Pertanahan (statis), cukup dilayani di lokasi masing-masing yang dikunjungi oleh mobil LARASITA, sesuai jadwal kunjungan yaitu Hari Rabu dan Kamis jam 09.00 WIB sampai dengan selesai jam kerja, ke-22 kelurahan di Kota Salatiga.

Program LARASITA, siap untuk melayani masyarakat yang akan mendaftarkan bidang-bidang tanahnya untuk diterbitkan sertipikat hak atas tanahnya di kelurahan-kelurahan, sehingga masyarakat tidak perlu datang ke Kantor Pertanahan Kota Salatiga. Di Kota Salatiga belum seratus persen

bidang-bidang tanah sudah bersertipikat. Jumlah bidang-bidang tanah di Kota Salatiga adalah sebagai berikut :

- Jumlah Seluruh Bidang Tanah : + 82.000 bidang

- Jumlah Bidang Tanah Terdaftar (bersertipikat) s/d akhir Th. 2012 adalah sebanyak 70.348 bidang (85,79%)

- Sisanya adalah bidang-bidang tanah yang belum terdaftar (belum bersertipikat ).

Data Semua bidang tanah yang telah bersertipikat, disimpan baik secara manual dengan Buku Tanah maupun format digital. Semua data dalam Buku Tanah di entry kan ke komputer kemudian divalidasi untuk selanjutnya menjadi data base pertanahan. Apabila data base ini sudah lengkap dalam arti sudah semua bidang tanah yang bersertipikat di entry kan 100 %, maka Program LARASITA bisa berjalan dengan efektif. Hal ini dikarenakan data digital dapat diakses dimanapun, sehingga ketika petugas LARASITA melayani masyarakat di lapangan maka tidak perlu balik lagi ke Kantor Pertanahan untuk melihat data buku tanah manual yang tersimpan di Kantor Pertanahan. Jadi masyarakat bisa dilayani sepenuhnya dilapangan tanpa harus melanjutkan proses ke Kantor Pertanahan.

Dari pengamatan Implementasi Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga, pelaksanaannya belum efektif. Hal ini karena belum komplitnya data base pertanahan yang dimiliki, sehingga proses pensertipikatan masih harus dilanjutkan di Kantor Pertanahan Kota Salatiga. Data tentang rekapitulasi Buku

Tanah yang ada di Kantor Pertanahan Kota Salatiga, dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini.

Tabel 4.7 Rekapitulasi Tanah Terdaftar Kantor Pertanahan Kota Salatiga Dari Tahun 1960 s.d. Tahun 2012

DATA FISIK BUKU TANAH

JML AKTIF TIDAK AKTIF DATA ENTRY TELAH DI VALIDASI SISA BELUM DIENTRY

HM HGB HGU WAKAF SARUSUN HPL

60.365 8.748 4 901 146 36 70.34 41.849 7.661 49.510 49.510 20.838

Sumber : Kantor Pertanahan Kota Salatiga , 2013

Jumlah produk sertipikat melalui pelayanan Program LARASITA di Kantor Pertanahan dari tahun 2010 sampai dengan bulan September tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 4.8 di bawah ini :

Tabel 4.8 Jumlah Sertipikat melalui pelayanan Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga Tahun 2010 – 2013

No. Tahun Jumlah

1. 2010 121

2. 2011 79

3. 2012 121

4. 2013 40

Jumlah Total 361

Dalam Implementasi Program LARASITA pada Kantor Pertanahan Kota Salatiga, komunikasi didesain melalui rencana operasional yang disepakati bersama pada naskah buku saku pelayanan LARASITA, yang didukung dengan serangkaian rapat koordinasi, baik dalam penyusunan program dan kegiatan maupun perencanaan anggaran. Rapat koordinasi dilakukan secara internal di dalam Kantor Pertanahan Kota Salatiga maupun eksternal. Diselenggarakan oleh Kepala Kantor Pertanahan dengan melibatkan pihak kelurahan dan pimpinan unit kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

Pelaksanaan Program LARASITA didukung oleh segenap sumber daya yang ada baik dari sisi sumber daya manusia, kewenangan, informasi, maupun fasilitas–fasilitas lain yang dibutuhkan. Sikap dan struktur birokrasi juga memiliki porsi pengaruhnya tersendiri dalam pelaksanaan Program LARASITA tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bagaimana variabel implementasi Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga, yang meliputi : komunikasi, sumber daya, sikap pelaksana dan struktur birokrasi.

2. Implementasi Program LARASITA Variabel Komunikasi, Sumberdaya, Sikap Pelaksana, dan Struktur Birokrasi

a. Komunikasi dalam Program LARASITA

Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu proses yang amat komplek dan rumit. Sumber informasi yang berbeda dapat melahirkan interpretasi yang berbeda pula. Implementasi akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan dipahami oleh individu-individu yang bertanggungjawab

dalam pencapaian tujuan kebijakan. Kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan sehingga implementors mengetahui secara tepat ukuran maupun tujuan kebijakan itu.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dalam implementasi Program LARASITA, antara pembuat kebijakan dan aktor implementasi LARASITA tidak ada komunikasi langsung melalui lisan. Namun para Implementor/ pelaksana di dalam Kantor Pertanahan Kota Salatiga, yaitu Kepala Kantor beserta seluruh stafnya memahami Program melalui kebijakan yang telah dibuat secara tertulis. Kebijakan tersebut adalah Peraturan Kepala BPN RI Nomor 18 Tahun 2009 serta Buku Saku Pelayanan LARASITA. Sehingga mereka terlebih dahulu memahami seluk beluk program secara utuh.

Para implementor dapat mengidentifikasi hal-hal atau masalah-masalah yang telah, sedang dan akan dihadapi terkait dengan pelaksanaan Program LARASITA di wilayah Kota Salatiga baik masalah itu dari internal

sendiri (antar seksi tehnis) maupun yang ada di luar Kantor Pertanahan (eksternal).

Komunikasi dengan masyarakat pengguna jasa, dilakukan dengan cara sosialisasi program dilakukan oleh pejabat eselon 4 di lingkungan Kantor Pertanahan Kota Salatiga dan staf yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi sebelum implementasi Program LARASITA di lapangan. Sosialisasi dilaksanakan dalam berbagai tingkatan. Tahap pertama, dimulai dengan sosialisasi

di tingkat kabupaten/kota dengan sasaran para pejabat Pemerintah Daerah, para Camat, para Kepala Desa/Lurah dan organisasi masyarakat. Tahap berikutnya, sosialisasi dilaksanakan di tingkat kecamatan dan kelurahan/desa dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

Dalam Implementasi Program LARASITA, konsistensi dan keseragaman dari standards dan objectives telah dikomunikasikan dengan berbagai sumber informasi. Walaupun komunikasi di dalam dan antara organisasi-organisasi merupakan suatu proses yang kompleks dan sulit, namun dalam pelaksanaan Program LARASITA telah dilakukan berbagai koordinasi dan sosialisasi baik di dalam organisasi Kantor Pertanahan maupun Organisasi di luar Kantor Pertanahan.

Berdasarkan pengamatan terhadap berbagai agenda sosialisasi kebijakan, kegiatan sosialisasi dilakukan untuk tingkat pimpinan unit kerja. Pimpinan unit kerja kemudian menindaklanjuti dengan melakukan sosialisasi di tingkat unit kerja. Alur ini yang banyak tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga pengetahuan staff lebih ditentukan oleh inisiatif untuk mengakses informasi.

Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa tingkat efektifitas variabel komunikasi pada implementasi Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga adalah “tinggi”. Hal ini dikarenakan, pembuat kebijakan telah mengkomunikasikan Program secara tertulis dengan jelas dan konsisten, sehingga pelaksana mengetahui apa yang harus dilakukan mengetahui tujuan , memberi manfaat &memenuhi keinginan kelompok sasaran (pengguna layanan).

b. Sumber Daya dalam Program LARASITA

Komponen sumberdaya ini meliputi jumlah staff, keahlian dari para pelaksana, informasi yang relevan dan cukup untuk mengimplementasikan kebijakan dan pemenuhan sumber-sumber terkait dalam pelaksanaan program, adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan sebagaimana yang diharapkan, serta adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana.

Dengan kata lain, dalam hal sumber daya berkaitan erat dengan siapa melakukan apa (SDM), berdasarkan baseline apa (informasi), dengan cara bagaimana (kewenangan), dan dengan dukungan apa (fasilitas). Artinya, dalam sumber daya berkaitan erat dengan pengelolaan SDM, informasi, kewenangan, dan fasilitas secara sistematis dan menyeluruh.

Penggunaan Sumber Daya dalam Program LARASITA pada Kantor Pertanahan Kota Salatiga adalah sebagai berikut :

1) Sumber Daya Manusia

Tim LARASITA yang ditetapkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kota Salatiga, keanggotaannya terdiri paling sedikit 5 (lima) orang :

a) Koordinator, dengan persyaratan paling rendah pejabat eselon IV yaitu Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan Kantor Pertanahan Kota Salatiga;

b) Petugas Pelaksana, paling sedikit 4 (empat) orang, dengan persyaratan paling tinggi pejabat eselon IV atau staf yang menurut penilaian dianggap

cakap dan mampu untuk melaksanakan LARASITA. (Surat Keputusan Tim sebagaimana terlampir).

c) Kondisi SDM Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga bisa diuraikan sebagai berikut :

Aspek Kuantitas : Tim Larasita yang terdiri dari 5 orang, sudah cukup memadai, dalam memberikan pelayanan publik melalui mobil Larasita.

Aspek Kualitas : jenjang pendidikan S1 dan mempunyai kecakapan dan pengetahuan dalam hal pelayanan pertanahan, sebagai mana yang dipersyaratkan dalam peraturan perundangan.

2) Sumber Daya Pembiayaan.

Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga dibiayai oleh ABPN yang memadai, yang setiap tahunnya dituangkan dalam DIPA ( Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Dalam satu tahun Anggaran Kantor Pertanahan Kota salatiga mendapatkan Alokasi Dana sebesar Rp 54.000.000,- (Lima Puluh Empat Juta Rupiah).

3) Sumber Daya Peralatan

Sumber daya peralatan yang digunakan dalam kegiatan operasional Program LARASITA adalah menggunakan kendaraan mobil dengan dilengkapi seperangkat Laptop dan modem, yang dapat menghubungkan secara "On Line" pelayanan pertanahan dari mobil LARASITA dengan server KKP (Komputerisasi Kantor Pertanahan), dengan demikian warga masyarakat pengguna layanan tidak perlu datang ke Kantor Pertanahan (statis), cukup

dilayani di lokasi masing-masing yang di kunjungi oleh mobil LARASITA, sesuai jadwal kunjungan yang telah ditetapkan.

4) Sumber Daya Metoda.

Implementasi Program LARASITA dilaksanakan dengan metoda sebagai

berikut :

Kegiatan dengan teknologi informasi dan komunikasi, Apabila telah tersedia infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, LARASITA dilakukan dengan memanfaatkan infrastruktur tersebut yang menyambungkan LARASITA secara langsung dengan server di kantor pertanahan. Apabila tidak tersambung karena sesuatu hal, maka kegiatan tetap dapat dilaksanakan karena aplikasi untuk keperluan ini sudah ada dalam perangkat komputer LARASITA yang tersedia. Aplikasi LARASITA menyiapkan laporan harian kegiatan LARASITA yang harus dicetak oleh petugas. Hasil cetakan laporan menjadi laporan serah terima berkas dan keuangan kepada petugas di kantor pertanahan.

Kegiatan LARASITA secara manual, Apabila infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi belum tersedia, maka kegiatan LARASITA dapat dilakukan secara manual. Setiap kegiatan dicatat dan dibukukan dengan Daftar-daftar Isian atau buku-buku lainnya yang berlaku. Khusus untuk kegiatan legalisasi aset, nomor berkas permohonan, misalnya, diberikan nomor sementara. Apabila petugas LARASITA telah kembali ke kantor pertanahan, maka nomor berkas sementara tersebut disinkronisasikan dengan nomor berkas di kantor pertanahan.

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa variabel sumber daya pada implementasi Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga, mempunyai tingkat efektifitas yang tinggi karena didukung dengan sumber daya berupa : SDM, pendanaan, peralatan dan metode teknologi informasi, serta fasilitas yang sangat memadai.

c. Sikap Pelaksana dalam Program LARASITA

Salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas implementasi kebijakan adalah sikap implementor. Jika implementor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah. Disamping itu, dukungan dari pejabat pelaksana sangat dibutuhkan dalam mencapai sasaran program. Wujud dari dukungan pimpinan ini diantaranya adalah menempatkan kebijakan menjadi prioritas program dan penyediaan dana yang cukup guna memberikan insentif bagi para pelaksana program agar mereka mendukung dan bekerja secara total dalam melaksanakan kebijakan/program.

Pengalaman-pengalaman subyektivitas individu memegang peranan yang sangat besar, disaring melalui persepsi-persepsi pelaksana Program LARASITA, dalam yurisdiksi dimana kebijakan tersebut dihasilkan. Tiga unsur dari pelaksana yang mungkin mempengaruhi kemampuan dan keinginan mereka untuk melaksanakan kebijakan Program LARASITA, yakni:

1) Kognisi (komprehensi, pemahaman) tentang kebijakan Program LARASITA. 2) Macam tanggapan terhadapnya (penerimaan, netralitas, penolakan), dan

3) Intensitas tanggapan terhadap Program LARASITA.

Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa tingkat efektifitas variabel sikap pelaksana pada implementasi Program LARASITA Kantor Pertanahan Kota Salatiga, adalah sedang. Hal ini dikarenakan bahwa petugas LARASITA sikap dan komitmen yang cukup baik. Mereka mempunyai pemahaman yang baik terhadap Program, menerima dengan baik dan menanggapi Program dengan kontinyu serta sungguh-sungguh.

d. Struktur Birokrasi Program LARASITA

Struktur birokrasi adalah karakteristik, norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijakan. Kebijakan yang komplek membutuhkan kerjasama banyak orang. Unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam implementasi kebijakan diantaranya tingkat pengawasan hierarkis terhadap keputusan-keputusan sub unit dan proses-proses dalam badan pelaksana.

Karakteristik badan pelaksana Implementasi Program LARASITA dalam ini jajaran Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mempunyai struktur birokrasi, karakteristik-karakteristik, norma-norma dan koordinasi yang baik, potensial serta nyata dalam menjalankan kebijakan Program LARASITA, khususnya di Kantor Pertanahan Kota Salatiga.

Pendekatan dalam implementasi kebijakan Program LARASITA adalah pendekatan secara top-down, yaitu pendekatan secara satu pihak dari atas ke bawah. Dalam proses implementasi peranan pemerintah sangat besar, pada pendekatan ini asumsi yang terjadi adalah para pembuat keputusan merupakan aktor kunci dalam keberhasilan implementasi, sedangkan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses implementasi dianggap menghambat, sehingga para pembuat keputusan meremehkan inisiatif strategi yang berasal dari level birokrasi rendah maupun subsistem-subsistem kebijaksanaan yang lain.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingkat efektifitas variabel struktur birokrasi dalam implementasi Program LARASITA di Kota Salatiga ini adalah rendah atau kurang efektif, karena susunan komponen (unit kerja) dalam organisasi sudah menunjukan fungsi dan pembagian kerja yang kurang jelas. Tidak menunjukkan spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan serta pengawasan secara kurang jelas. Jenis-jenis kegiatan yang berbeda tidak dikoordinasikan & diintegrasikan secara jelas. Standart Operasional Prosedur (SOP) yang ada, masih dirasa kurang jelas belum transparan dan berbelit-belit. Adanya fragmentasi (penyebaran tanggung jawab) dalam struktur organisasi, yang menyulitkan koordinasi.

Hasil pengamatan lainnya adalah bahwa di wilayah perkotaan yang seperti Kota Salatiga yang luasnya relatif lebih kecil dibandingkan wilayah kabupaten, maka letak Kantor Pertanahan di wilayah kota mudah dijangkau sehingga masyarakat pengguna layanan cenderung memilih datang langsung ke Kantor Pertanahan. Kendatipun demikian, kebijakan Program LARASITA tetap

diberlakukan juga kota-kota di seluruh Indonesia. Padahal program ini lebih cocok dimplementasikan di wilayah pedesaan. Untuk lebih jelasnya, pada Tabel 4.9 ditampilkan matrik tingkat efektifitas implementasi Program LARASITA, untuk masing-masing variabel implementasi yaitu komunikasi, sumber daya, sikap pelaksana / desposisi dan struktur birokrasi.

Tabel 4.9 Matrik Tingkat Efektifitas Implementasi Program LARASITA pada Kantor Pertanahan Kota Salatiga

Variabel Implementasi

Tingkat Efektifitas Implementasi

Tinggi Sedang Rendah

1. Komunikasi buat kebijakan telah mengkomunikasikan Program secara jelas dan konsisten, sehingga pelaksana mengetahui apa yang harus dilakukan mengetahui tujuan , memberi manfaat &memenuhi keinginan kelompok sasaran (pengguna layanan)

-

-2. Sumber Daya - SDM sangat memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

- Ada informasi yang jelas sehingga pelaksana Program dapat meng-ambil keputusan.

- Pelaksana punya kewenangan tugas dan tanggung jawab secara penuh.

- didukung dengan sumber daya berupa : SDM, pen- danaan, peralatan dan metode teknologi informasi, serta fasilitas yang sangat memadai

-

-3. Sikap Aparat pelaksana

- - sikap dan komitmen pelaksana dalam menjalankan Program cukup baik.

- kinerja pelaksana Program cukup baik sehingga kelompok sasaran cukup puas.

-4. Strukur

Birokrasi -

-- susunan komponen (unit kerja) dalam organisasi sudah menunjukan fungsi dan pembagian kerja yang kurang

jelas.

- menunjukkan spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan serta pengawasan secara

kurang jelas.

- jenis-jenis kegiatan yang berbeda dikoordinasikan & diintegrasikan secara kurang jelas.

- Adanya Standart Opera -sional Prosedur (SOP) yang kurang jelas

dan berbelit-belit.

-fragmentasi (penye-baran tanggung jawab) dalam struktur orga nisasi, yang menyulitkan koordinasi, banyak

terjadi.

3. Responsivitas Pelayanan dalam Implementasi Program LARASITA

Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan akan didapat hasil terhadap indikator responsivitas pelayanan publik untuk masing-masing informan (responden), baik informan internal (aparat Kantor Pertanahan Kota Salatiga) maupun informan eksternal (masyarakat pengguna layanan). Diambilnya responden dari masyarakat pengguna layananan, dimaksudkan untuk mendapatkan data yang lebih akurat, untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap responsivitas pelayanan yang telah dilakukan oleh Kantor Pertanahan Kota Salatiga dalam mengimplementasikan Program LARASITA.

Pertanyaan dalam wawancara kepada masing-masing sampel telah disiapkan sebelumnya dan berfungsi sebagai panduan. Pertanyaan perihal responsivitas pelayanan publik telah isesuaikan dengan indikator yang ada. Sebagai penjelas tentang penyebutan informan (responden) dalam penulisan ilmiah ini dibedakan dengan responden aparatur, yaitu informan internal yang berasal dari Kantor Pertanahan Kota Salatiga, dan responden masyarakat, yaitu informan eksternal yang berasal dari masyarakat pengguna layanan Program LARASITA.

a. Keluhan dari Pengguna Jasa

Indikator pertama yang muncul dari reponsivitas ini adalah keluhan dari masyarakat selaku pengguna layanan publik, dalam hal ini pengguna dari layanan Program LARASITA. Pada indikator ini disampaikan tanggapan dari masing-masing responden aparatur yang dilanjutkan dengan responden

masyarakat. Pertanyaannya adalah apakah dalam melayani masyarakat pernah mendengar keluhan?

Uraian dari reponden aparatur Kantor Pertanahan Kota Salatiga Bp. Dwi Haryo Seno, Kepala Sub Seksi Pengendalian Pertanahan yang dalam Tim LARASITA sebagai staf pelaksana, perihal keluhan dari pengguna jasa layanan Program LARASITA, dapat diuraikan sebagai berikut :

“Terima kasih, masalah keluhan dari masyarakat itu ada, yaitu

terkait dengan layanan dalam Program LARASITA yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu sekali pertemuan di lapangan. Masyarakat menganggap bahwa seketika itu juga semua urusan/masalah pertanahan bisa selesai, walaupun mungkin berkas-berkas kurang lengkap, Ini mungkin terkait dengan kekurang pengertian masyarakat mengenai LARASITA. Padahal dalam melaksanakan tugasnya, LARASITA juga melakukan penyuluhan pertanahan disamping pendaftaran pertanahan. Sebenarnya, tujuannya adalah memberikan pelayanan dengan mendekati masyarakat, jadi seperti Kantor Pertanahan yang berjalan yang proaktif gitu, tetap diperlukan berkas-berkas yang lengkap, saksi-saksi yang lengkap seperti halnya kantor yang ada di masing-masing kota atau kabupaten. Jadi mengenai prosedur dan persyaratan adalah tetap. Jadi di situlah masyarakat kadang-kadang mengeluh karena tidak sesuai dengan harapan mereka

Dari pendapat yang diuraikan oleh responden aparatur Kantor Pertanahan Kota Salatiga Bp. Dwi Haryo Seno mengandung arti bahwa pelaksanaan pelayanan publik khususnya untuk pensertipikatan tanah, Program LARASITA belum dapat memenuhi semua harapan masyarakat pengguna layanan. Masyarakat berharap dengan adanya Program LARASITA yang melayani di lapangan, sudah dapat menyelesaikan proses sertipikasi hingga selesai. Masyarakat juga berharap ada kemudahan prosedur dan persyaratan yang harus dilengkapi.

Namun kenyataannya Program LARASITA, dalam hal pendaftaran tanah masih harus kembali ke Kantor Pertanahan untuk menyelesaiakan prosesnya. Karena masih diperlukan pengecekan pada buku tanah yang ada pada Kantor Pertanahan. Hal itu dikarenakan belum adanya data base yang lengkap tentang kepemilikan tanah (buku tanah) yang bisa dikses secara on line di lapangan.

Secara rinci terkait dengan salah satu pelayanan Program LARASITA yaitu pendaftaran tanah, juga masih terdapat keluhan seperti yang dijelaskan oleh responden aparatur Kantor Pertanahan Kota Salatiga Bp. Eko Widiatmo Kepala Sub Seksi Perkara, yang dalam Tim LARASITA sebagi staf pelaksana, sebagai berikut :

Untuk keluhannya Bu banyak, salah satunya adalah masalah biaya pendaftaran tanah. Bahwa ada perbedaan biaya antara yang ditentukan oleh petugas LARASITA saat datang di lapangan dengan biaya yang ditentukan oleh aparat lain yang di Kantor Pertanahan. Kita petugas LARASITA mengemukakan biaya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena proses tidak dapat diselesaikan langsung di lapangan, masyarakat pengguna layanan datang sendiri ke Kantor Pertanahan, dan ketemu dengan aparat Kantor Pertanahan lainnya, masyarakat ditarik biaya yang lebih banyak bahkan kadang dua kali lipat, lha itu yang menjadi kendala yang dikeluhkan masyarakat.”

Dari uraian di atas dapat diketahui, bahwa Program LARASITA belum bisa menyelesaian keluhan masyarakat tentang adanya pungutan biaya tambahan yang dilakukan oleh oknum aparat Kantor Pertanahan. Karena layanan sertipikasi belum bisa seratus persen dilakukan di lapangan saat Program

LARASITA dijalankan, pengguna layanan masih harus datang sendiri ke Kantor Pertanahan untuk melanjutkan proses pengurusan sertipikat.

Sedangkan jawaban responden masyarakat pengguna layanan Bp. Asroi, terkait dengan keluhan adalah sebagai berikut :

“ Selama ini yang kami amati petugas itu baik, tidak ada permasalahan hanya saja ada hal-hal teknis, masalah prosedur cukup merepotkan kami, dan itu memang karena sudah menjadi regulasi yang baku sehingga apa yang diharapkan masyarakat pengurusan sertipikat tanah secara mudah itu belum bisa dijalani oleh masyarakat.”

Dari pernyataan responden masyarakat pengguna layanan tersebut bisa diketahui bahwa masyarakat masih merasa direpotkan oleh prosedur pengurusan sertipikat

Dokumen terkait