• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

1. Gambaran Pengalaman Abusive Workplace Informan a. Informan 1 (P1)

P1 mengikuti kegiatan magang sejak Agustus 2021 hingga Maret 2022 dalam divisi Research & Development di salah satu lembaga yang bertujuan memperkenalkan ilmu Psikologi kepada masyarakat melalui sosial media serta memberikan pelatihan bagi lembaga ataupun instansi yang membutuhkan. Pada awalnya, alasan P1 mengikuti kegiatan magang yaitu karena meningkatnya trend magang di kalangan rekan sebaya. Hal tersebut mendorong P1 untuk mengikuti kegiatan magang agar tidak tertinggal dari rekan sebayanya dalam hal pengalaman kerja. P1 berharap pengalaman kerja tersebut dapat membantu mempermudah dirinya untuk memperoleh karier yang diinginkannya setelah menyelesaikan pendidikan. Selain itu P1 menambahkan bahwa alasan lain dirinya tertarik untuk mengikuti kegiatan magang yaitu untuk memperluas networking yang dimilikinya.

Berkaitan dengan pengalaman abusive workplace yang dialaminya, P1 menuturkan bahwa dirinya merasa beban kerja yang diberikan padanya cukup berat. P1 dan satu orang rekan kerjanya diminta untuk melakukan riset mengenai topik-topik Psikologi setiap harinya lalu dijadikan konten yang akan diunggah di Instagram perusahaan setiap harinya. Hal tersebut cukup memberatkan P1 karena hanya dikerjakan oleh 2 orang. Beban kerja tersebut membuat P1 kesulitan menyeimbangkan waktu kerja dengan waktu perkuliahan dan waktu untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu, P1 menuturkan bahwa selama kegiatan magang, dirinya tidak memiliki mentor secara khusus yang membimbing kegiatan magang, yang mana gambaran mengenai pekerjaan diarahkan langsung oleh manajer divisi. Meskipun begitu, manajer divisi selaku atasan pun cenderung hanya memberikan beban tugas kepada P1 selaku peserta magang untuk diselesaikan dalam jangka waktu tertentu tanpa melakukan follow up perkembangan penyelesaian tugas. Berkaitan dengan tingginya beban kerja yang diberikan, P1 telah mencoba menyampaikan kesulitannya serta menawarkan solusi berupa mengurangi jatah upload konten di Instagram. P1

menuturkan meskipun mengurangi jumlah konten yang di upload namun setiap konten yang di upload akan memberikan informasi yang rinci dan kritis terkait topik yang disampaikan. Keluhan dan pendapat P1 tersebut tidak mendapat respon positif dari pihak perusahaan, di mana pendapat P1 diabaikan karena pemimpin ingin mencapai “goals” yang telah ditetapkannya yaitu untuk terus memberikan konten-konten Psikologi setiap harinya kepada pengikut Instagram perusahaan.

Selain beban kerja yang tinggi serta pengabaian peserta magang, P1 juga merasa kegiatan magang seperti rapat kerap mengganggu waktu pribadinya.

Kegiatan rapat terkadang dilaksanakan di luar jam kerja. Selain itu, sering kali kegiatan rapat menggunakan sistem “menunggu seluruh anggota hadir”. Hal tersebut membuat waktu rapat berlangsung lebih lama dari yang telah ditetapkan. P1 juga menuturkan bahwa dirinya tidak memperoleh uang saku atas kinerjanya selama magang di perusahaan tersebut.

P1 merasa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pengalaman abusive workplace yang dirasakannya yaitu atasan atau pemimpin perusahaan.

Pemimpin yang hanya berfokus pada idealisme pribadi tanpa mempertimbangkan kondisi pekerjanya membuat beban kerja peserta magang tinggi. Selain itu kondisi instansi atau perusahaan yang belum stabil, baik secara konsep maupun finansial juga turut berkontribusi terhadap terjadinya abusive workplace pada peserta magang. Instansi atau perusahaan perlu mempertimbangkan kesiapannya terlebih dahulu sebelum menerima anak magang.

b. Informan 2 (P2)

Berkaitan dengan kegiatan magang, P2 menuturkan pernah beberapa kali mengikuti kegiatan magang di berbagai tempat. Namun, apabila ditanya mengenai pengalaman abusive workplace ketika magang maka P2 menuturkan yaitu kegiatan magang yang dilakukannya pada periode Juli 2020 hingga Oktober 2020 sebagai Social Media Specialist di salah satu perusahaan startup event serta magang pada periode Oktober 2021 hingga Januari 2022 dalam divisi Human Resource Development di salah satu perusahaan startup pendidikan. Alasan P2 untuk mengikuti kegiatan magang cukup sederhana yaitu untuk menambah pengalaman kerjanya.

P2 menuturkan bahwa bentuk abusive workplace yang diterimanya pada kedua periode magang tersebut yaitu pengabaian dari atasan, tidak memperoleh uang saku atau insentif atas kinerjanya, perpanjangan waktu magang tanpa persetujuan, serta memperoleh beban kerja tambahan. Pengabaian yang diterima oleh P2 ketika magang di perusahaan startup event yaitu ketika dirinya mengajukan izin bekerja kepada atasan dengan alasan kesehatan, yang mana saat itu P2 menyampaikan bahwa dirinya mengalami hysteria conversy. Namun, atasannya memberikan respon negatif seperti memberikan jawaban singkat seolah tidak mempercayainya serta tidak memberikan dukungan pada P2. Selain itu, dalam mengerjakan tugas-tugasnya P2 tidak mendapat bimbingan seperti ketika mengerjakan konten dalam bahasa Jawa yang mana informan tidak memahami bahasa Jawa. Informan perlu mencaritahu dari teman-teman kuliahnya dalam menyelesaikan tugas tersebut.

Pengabaian yang diterima oleh P2 ketika mengikuti magang di perusahaan startup pendidikan yaitu manajer P2 (yang merupakan seorang peserta magang juga) secara tiba-tiba menghilang dan tidak memberikan arahan dalam penyelesaian tugas. Hal tersebut semakin menambah beban kerja informan dan rekan divisinya karena perlu menyelesaikan beban tugas manajer pula. P2 dan rekan divisinya telah berusaha mencari dan menghubungi manajer tersebut, namun tidak mendapatkan respon sehingga P2 dan rekan divisinya perlu mencari dan mempelajari sendiri tugas-tugas selama kegiatan magangnya terutama tugas-tugas manajer yang dilimpahkan pada mereka tanpa arahan apapun. Selain pengabaian, informan juga diminta untuk memperpanjang periode magangnya ketika di perusahaan startup event dengan alasan perlu menyelesaikan konten suatu event yang sudah sejak awal dirinya kerjakan.

Informan juga mendapat beban kerja tambahan untuk meliput suatu acara yang mana hal tersebut tidak termasuk ke dalam beban kerjanya. Meskipun beban kerja yang diberikan cukup tinggi, P2 tidak memperoleh uang saku pada kedua kegiatan magang tersebut termasuk ketika dirinya diminta memperpanjang periode magangnya.

Ketika ditanyai hal yang berkontribusi terhadap pengalaman abusive workplace-nya, P2 menuturkan hal tersebut dapat terjadi karena kondisi perusahaan yang belum stabil secara konsep maupun finansial mengingat perusahaan tersebut baru saja dirintis. Selain itu perusahaan juga kurang

mempertimbangkan kompetensi yang perlu dimiliki pemimpin sebelum memilih atasan. Hal tersebut terbukti dari terpilihnya peserta magang sebagai manajer namun tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang manajer.

Informan menuturkan bahwa stabilitas perusahaan dan karakteristik pemimpin perlu dipertimbangkan sebelum membuka lowongan magang.

c. Informan 3 (P3)

Kegiatan magang yang diikuti oleh P3 merupakan salah satu program pendidikan pasca sarjana yang perlu ditempuhnya. P3 mengikuti kegiatan magang tersebut pada bulan Maret 2021 hingga Juni 2021 dalam divisi Human Resource Development di salah satu perusahaan yang bergerak dalam pembuatan aplikasi guna mempermudah penandatanganan dokumen secara digital. Berkaitan dengan pengalaman abusive workplace yang dialaminya ketika magang tersebut, P3 menuturkan bahwa beban kerja yang diberikan padanya setara dengan beban kerja karyawan tetap perusahaan. Selain itu, P3 sering kali mendapat pekerjaan diluar jam kerja yang membuat P3 kesulitan menyeimbangkan waktu kerja, kuliah dan waktu untuk diri sendiri. P3 juga tidak memperoleh uang saku atas kontribusinya pada perusahaan selama mengikuti kegiatan magang tersebut. Namun, setelah menyelesaikan periode magang sesuai dengan perjanjian antara perusahaan, universitas dan informan selanjutnya perusahaan memperbarui perjanjian kerja informan sebagai peserta magang independen. Informan diberikan uang saku sebesar Rp.60.000,- untuk satu hari kerja. Akan tetapi, informan menuturkan beban kerja yang diberikan semakin bertambah setelah pembaruan perjanjian magang tersebut.

Selama periode magang, pernah suatu kali P3 mendapat tugas yang belum ditentukan secara jelas seperti mencari narasumber dalam kegiatan training perusahaan. Namun ketika mendekati hari pelaksanaan, kegiatan tersebut tiba-tiba ditunda atau dibatalkan. Hal tersebut membuat P3 merasa tidak nyaman secara emosional kepada narasumber yang mana merupakan temannya sendiri mengingat perusahaan meminta dirinya untuk mencari narasumber yang bersedia memberikan pelatihan secara free. Mengenai kesulitannya tersebut, P3 pernah menyampaikan pendapatnya terkait beban kerja yang diberikan, namun periode perubahan perilaku yang dilakukan oleh atasan dalam memberikan tugas tidak berlangsung lama. Pada awal setelah P3 menyampaikan keluhan

tersebut, pihak perusahaan tidak memberikan tugas di luar jam kerja. Namun setelah beberapa hari kemudian, keadaan kembali seperti semula. Informan merasa bahwa pihak top management yang kurang memperhatikan kesejahteraan sumber daya manusianya dan cenderung berfokus pada keuntungan perusahaan saja menjadi salah satu faktor terjadinya abusive workplace pada peserta magang bahkan karyawan. P3 menuturkan bahwa tingkat turnover karyawan pada perusahaan tersebut cukup tinggi, yang mana salah satu penyebabnya yaitu dikarenakan tingginya beban kerja yang diberikan.

d. Informan 4 (P4)

P4 mengikuti kegiatan magang di salah satu perusahaan digital marketing yang terletak di kota Malang. Selama sekitar 4 bulan yaitu sejak Oktober 2020 hingga Februari 2021, P4 bekerja sebagai content writer yang bertugas membuat konten-konten sesuai dengan permintaan klien, secara khusus terkait dengan mempromosikan usaha klien. Pengalaman abusive workplace yang dialami P4 selama kegiatan magang yaitu berkaitan dengan fleksibilitas jam kerja serta tingginya beban kerja yang diberikan, sehingga seringkali hingga pukul 9 malam P4 masih diberikan tugas baru oleh karyawan perusahaan. Pada suatu kejadian, P4 juga pernah diminta untuk membuat konten dalam waktu singkat ketika masa libur tahun baru. P4 merasa dirinya tidak dapat menolak permintaan tersebut karena sejak awal dirinya menjadi peserta magang di perusahaan tersebut, telah ditekankan konsep “kekeluargaan” antar pekerja. Hal tersebut juga menjadi salah satu bentuk abusive workplace yang dialami oleh P4, yang mana antar karyawan tidak dapat membangun hubungan yang profesional ketika bekerja. Tidak jarang pula ketika antar karyawan dan peserta magang sedang berkumpul santai, hal yang menjadi topik pembicaraan yaitu mengenai pekerjaan. P4 menuturkan bahwa penting untuk menjaga profesionalitas kerja serta memberikan batasan hubungan ketika sebagai pekerja dengan sebagai teman.

P4 menuturkan bahwa dirinya telah mencoba untuk menyampaikan pendapat terkait beban kerja, termasuk mengingatkan tenggat periode magangnya yang semakin dekat sehingga perusahaan dapat segera melakukan persiapan dalam membuka lowongan magang. Namun, pendapat yang

disampaikan oleh P4 diabaikan begitu saja. Pengabaian tersebut membuat P4 terpaksa menambah periode magangnya untuk melatih peserta magang baru.

Bahkan terkait dengan tingginya beban kerja, pihak atasan menyampaikan bahwa melalui beban kerja tersebut mereka ingin mengetahui “batas maksimal”

P4 dalam mengerjakan sesuatu. Selain itu, P4 juga tidak memperoleh uang saku selama kegiatan magangnya.

P4 merasa bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pengalaman abusive workplace yang dialaminya ketika magang yaitu atasan. P4 merasa bahwa atasannya cenderung tidak mempertimbangkan situasi lingkungan dalam menetapkan target perusahaan. Atasan cenderung terpaku pada pencapaian anak perusahaan lainnya sehingga beban kerja yang diberikan kepada karyawan dan peserta magang tinggi. Selain itu, P4 merasa bahwa kurangnya profesionalitas antar karyawan turut berkontribusi terhadap terciptanya kondisi abusive di tempat kerja. Namun, meskipun begitu, P4 menuturkan bahwa meskipun dirinya mengalami abusive workplace ketika magang, P4 merasa bahwa kegiatan magang tersebut tetap membantu dirinya dalam mengembangkan kompetensi sebagai seorang content writer serta menambah pengetahuannya seputar konten dalam dunia digital marketing.

e. Informan 5 (P5)

Kegiatan magang yang diikuti oleh P5, merupakan salah satu program perkuliahan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa. Setiap mahasiswa diberikan kebebasan untuk menentukan tempat magang mereka masing-masing.

Saat ini P5 tidak memiliki kriteria khusus dalam memilih tempat magang. P5 hanya mencoba memasukkan beberapa lamaran magang pada berbagai perusahaan yang membuka lowongan magang. Setelah memasukkan berbagai lamaran, P5 diterima untuk magang di salah satu firma hukum sebagai sekretaris dengan periode magang terhitung sejak Maret 2021 hingga April 2021.

Berkaitan dengan pengalaman abusive workplace yang dialami oleh P5, dirinya memaparkan bahwa selama periode magang tersebut, dirinya tidak memperoleh bimbingan dalam menyelesaikan pekerjaanya. P5 menuturkan bahwa dikarenakan user yang dipilih untuk membimbingnya tidak sesuai dengan bidang pekerjaannya sebagai sekretaris maka pihak yang dipilih oleh perusahaan untuk mengarahkan serta memberikan tugas kepadanya yaitu

manajer yang merupakan sekretaris senior. Manajer tersebut sering kali hanya memberikan tugas kepada P5 tanpa memberikan arahan atau penjelasan untuk menyelesaikan tugasnya. P5 merasa bahwa dirinya dipandang sudah memiliki banyak pengalaman sebagai seorang sekretaris. P5 juga menuturkan bahwa terkadang dirinya “dimarahi” oleh karyawan lain karena tidak menyelesaikan tugas sesuai dengan standar mereka. Namun, P5 merasa bahwa dirinya tidak tahu mengenai standar tersebut karena tidak memperoleh bimbingan. Selain tidak memperoleh bimbingan, P5 juga sering kali diminta lembur untuk menyelesaikan tugas-tugas yang didelegasikan kepadanya sehingga dirinya merasa beban kerja yang diberikan padanya setara dengan karyawan tetap.

2. Tema-tema Pengalaman Abusive Workplace pada Peserta Magang

Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan 3 tema utama yang berkaitan dengan pengalaman abusive workplace peserta magang. Ketiga tema tersebut yaitu: 1) Magang untuk mempercepat eksplorasi dunia kerja; 2) Abusive Workplace sebagai bentuk tegangan antara ketidaksiapan ekosistem magang dengan perjuangan peserta magang; serta 3) Membayangkan ekosistem magang yang kolaboratif. Setiap tema akan dipaparkan bersamaan dengan beberapa tema tingkat 2 yang membentuk tema tersebut. Hal ini dilakukan agar semakin memberikan pemahaman terkait dengan pengalaman informan.

Dalam penelitian analisis tematik yang dilakukan oleh Frith & Gleeson (2004), tema yang ditemukan oleh peneliti dikategorisasikan menjadi beberapa kualitas kesepakatan yang telah ditentukan guna melihat tingkat kesepakatan mengenai pengkodean tema antar peneliti serta meninjau kemunculan tema tersebut dalam pemaparan seluruh informan mengenai fenomena yang diteliti. Dalam penelitian ini, kategorisasi kualitas kesepakatan informan diberikan guna memberikan gambaran terkait pola kemunculan tema tingkat 2 dalam data informan. Setiap tema tingkat 2 akan dikategorisasikan menjadi 5 kategori kualitas kesepakatan diantaranya: 1) Sangat bagus, apabila tema tingkat 2 muncul pada seluruh data informan; 2) Bagus, apabila tema tingkat 2 muncul pada 4 dari 5 informan penelitian; 3) Cukup, apabila tema tingkat 2 muncul pada data 3 dari 5 informan; 4) Kurang, apabila tema tingkat 2 hanya muncul pada data 2 informan; serta 5) Sangat kurang, apabila hanya satu informan yang menyampaikan hal tersebut.

Sebagai catatan bahwa dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada kualifikasi data, maka kuantifikasi data dalam bentuk tema tingkat 2 yang memiliki pengulangan yang kurang dan sangat kurang tetap dipaparkan dalam penelitian ini guna memberikan kekayaan data mengenai pengalaman informan. Lantas, kualitas kesepakatan dalam tabel sekadar menunjukkan bahwa ada yang sama dan ada yang unik dari pengalaman tematik tiap informan. Selain itu, kualitas kesepakatan juga akan membantu dalam memahami proses terbentuknya tema penelitian.

a. Tema 1: Magang untuk Mempercepat Eksplorasi Dunia Kerja

Berdasarkan hasil wawancara, informan penelitian menggambarkan magang sebagai salah satu langkah awal bagi mereka untuk menjelajahi dunia kerja sebelum nantinya akan terjun langsung ketika menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Hal tersebut tampak dari hasil analisis data yang disajikan pada tabel berikut:

Tabel 3. Magang untuk Mempercepat Eksplorasi Dunia Kerja

Tema Tingkat 2 Informan Kualitas Kesepakatan Jembatan Dunia Kerja P1,P2, P3, P4,

P5

5/5 (Sangat bagus)

Persaingan Kerja antar Rekan Sebaya

P1,P2,P4 3/5 (Cukup)

Personal Branding P1, P2, P4, P5 4/5 (Bagus) Tuntutan Perkuliahan P3, P5 2/5 (Kurang) Workplace Environment P2, P4 2/5 (Kurang) Pemerdayaan tenaga kerja murah P3 1/5 (Sangat kurang)

Magang dipandang sebagai jembatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi dunia kerja. Informan memaparkan bahwa magang berkontribusi bagi mereka untuk mempelajari dunia kerja serta menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan yang telah diperoleh ke dalam realitas kerja. Kegiatan magang dimanfaatkan oleh informan untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja, sehingga informan cenderung memilih kegiatan magang yang sesuai dengan minat bidang kariernya. Hal tersebut dapat dicermati pada penuturan informan berikut:

“...Ada kasus, eee A terus kita bener-bener terjun sendiri untuk eee me...nyelesaikannya dan, dan emang, emang ada feedback nya gitu loh. Jadi ya gak sekedar materi, ada prakteknya terus pasti juga lebih, apa yaa maksudnya juga lebih kaya real gitu kita ketemu klien, kita ketemu temen-temen, ada bosnya kaya gitu-gitu sih (baris 79-83)” (P1)

“..emang magang itu ya tempat buat kita tuh eee apa ya bisa belajar tentang hal-hal yang kita suka, yang berhubungan dengan dunia kerja sih (baris 663-664)” (P2)

“Makna magang, makna magang buat Aku ya sebagai sarana belajar sih. Jadi, ee ini kan kalo buat Aku, jadi dunia pendidikan dengan ee dunia kerjaan itu kan beda ya, jadi, ee bahkan bedanya bisa jauh banget gitu. Nah, jadi magang itu sebenernya salah satu ee sarana bagi, menurut Aku ya, untuk me-me-apa menjembatani antara yang kita biasanya di dunia pendidikan itu kek gini terus di dunia kerja tu kek gitu, jadi, ee menjembatani masa peralihannya ini lho.

Jadi, ee supaya nggak terlalu kaget gitu, apalagi kan ee begitu lulus terus langsung kerja, dikasih kerjaan tetep gitu terus ditarget juga.

(baris 89-97)” (P3)

“Kalau buat aku makna magang itu kaya kita belajar kerja. Jadi kan kalau misalnya di kuliah kan kita kan dapat ilmu tuh cuma kan pas kerja kan kadang-kadang ilmunya bisa gak kepake tapi juga bisa ada baru gitu loh nambah. Nah menurut ku magang itu jadi sarana mahasiswa itu buat belajar kerja sih. Jadi ntar pas kita kerja beneran, yang bisa yang dibayar beneran itu gak kaget-kaget amat.

Seengaknya udah punya skill-skill dasar gitu loh dari magang itu.

(baris 54-59)” (P4)

“Kalau dari aku pribadi sih itu cara buat hmm ini ya mengimplementasi apa yang udah kita terapkan, eh apa yang udah kita pelajari di kampus gitu. Jadi buat praktikin ini masih berlaku gak sih teori kaya gini atau udah berubah sebenarnya sistemnya gitu (baris 28-30).. soalnya kan dengan aku.. apa namanya kerja disana jadi ngerti oh caranya tuh begini ya, caranya jadi sales tuh begini,

cara bikin program tuh begini gitu. Jadi mendapat hal-hal baru.

(baris 176-179)” (P5)

Berdasarkan penuturan informan tersebut tampak bahwa melalui kegiatan magang, informan merasa terfasilitasi untuk mengenal dan mempelajari dunia kerja lebih dekat dan secara mendalam. P1 menuturkan bahwa melalui kegiatan magang yang diikutinya, dirinya berkesempatan untuk mempraktikkan teori yang dipelajari sekaligus melatih diri agar dapat bekerja secara profesional nantinya. P2 memaparkan bahwa melalui kegiatan magang dirinya dapat mempelajari berbagai hal dalam lingkup area kerja sesuai dengan minat dirinya.

Di sisi lain, P3 berpendapat bahwa terdapat kesenjangan antara dunia perkuliahan dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Magang menjadi media yang menjembatani kesenjangan tersebut. P3 menuturkan bahwa beberapa teori yang diperoleh selama perkuliahan memaparkan langkah-langkah pemecahan suatu masalah, tetapi dalam realita kerjanya P3 memaparkan bahwa setiap langkah dalam teori memiliki kesulitan tersendiri yang lebih kompleks (Lihat lampiran P3 baris 105-148). P4 dan P5 memiliki pendapat yang kurang lebih serupa, yang mana mereka menjelaskan bahwa melalui magang dirinya mengetahui ilmu pengetahuan yang dapat diimplementasikan ketika bekerja dan pengetahuan apa yang perlu dipelajari dirinya untuk mengembangkan kompetensi yang menunjang pekerjaan.

Selain dipandang sebagai jembatan menuju dunia kerja, informan juga memaparkan bahwa kegiatan magang mencerminkan bagaimana persaingan kerja antar-rekan sebaya terjadi. Meningkatnya trend mahasiswa yang mengikuti kegiatan magang, menjadi salah satu alasan informan juga turut serta berpartisipasi dalam kegiatan magang. Hal tersebut tampak pada penuturan informan berikut:

“Magang sendiri kalau dari aku tuh eee melatih kita buat apa yaa.. buat jadi prof.. profesional gitu. Jadi, ya memang diarahkan untuk eee kerja secara profesional, terus eee nambah networking juga (baris 61-63)” (P1)

“[K]arena kan dari yang magang pertama sampai magang ke..

ked.. dari magang pertama ke magang kedua itu kan jaraknya setahun lebih ya nah itu aku merasa kaya aduh aku ketinggalan banget gitu,

jadi aku ngerasa kayanya emang perlu sih aku cari pengalaman lain tapi gak dibidang eee perkontenan lagi karena aku udah mulai.. udah gak ada rasa pengen kesana. Aku udah cape gitu, karena aku merasa aku gak kreatif juga kan jadi aku lebih pengen fokus ke HR sih sampai sekarang gitu. (baris 49-55)” (P2)

“Karena pengen nambah pengalaman sih yang pasti, karena lihat teman-teman waktu itu kok kayanya udah pada mulai ada pengalaman. Ada sesuatu yang bisa ditulis di CV gitu, terus ke-trigger kan terus yaudahlah ikut magang aja. (baris 33-36)” (P4)

Bagi P1, P2, P4 salah satu alasan yang memicu mereka untuk mengikuti kegiatan magang yaitu karena persaingan antar-teman sebaya yang tampak mengikuti program magang juga. Ketiga informan tersebut memiliki kekhawatiran tersendiri apabila dirinya tidak berpartisipasi juga dalam program magang maka dirinya akan tertinggal dalam kaitannya memiliki pengalaman kerja dan kesulitan mencari kerja nantinya. Oleh sebab itu, magang juga digunakan informan sebagai personal branding bahwa mereka telah memiliki pengalaman kerja yang mencerminkan kemampuan diri dalam menguasai kompetensi kerja tertentu (P1, P2, P4 dan P5).

Namun, P3 menuturkan bahwa hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak lain sebagai pemerdayaan peserta magang sebagai tenaga kerja murah.

Jumlah mahasiswa yang bersaing untuk mendapatkan pengalaman magang cukup tinggi sehingga peserta magang cenderung menerima tindak tidak adil yang diterimanya.

“[S]ebenernya tuh dulu gak tau sih kaya kayanya juga karena culture nya anak muda yang tiba-tiba jadi rame buat eee.. ikut magang, biar nanti ada pengalaman, mudah dicari kerjaan jadinya mungkin ikut yang merasa sekeliling juga kok mereka pada magang ya, kita jadi kaya merasa pengen magang juga supaya gak, supaya gak kalah loh maksudnya ya da..da..dalam segi pengalaman tuh kita juga jadi ada pengalaman kan? Jadinya ya tertarik buat ikut magang, sempet apply di mana-mana dan yang kebetulan disini lolosnya jadi yaudah deh disini gitu. (baris 43-50)” (P1)

“Tapi, apa ya di cara yang lebih keras gitu loh kalau menurut aku, jadi ya itu sih ngebukain.. ngebukain mata aku banget kalau gak selamanya kita bisa.. apa ya.. ngandelin orang, ngandelin orang lain sih. Jadi ya biar lebih mandiri, lebih banyak belajar mungkin gitu (baris 138-141)” (P2)

“[A]ku jadi lebih ngerti apa yang aku butuhkan dan aku inginkan di tempat magang atau di dunia kerja selanjutnya (baris 380-382)”

(P4)

“Tapi kalo magangnya itu magang yang paid intern-internship itu masih mending-mending lah, karena ee magang ini sering kali di salahgunakan oleh perusahaan untuk mencari ee tambahan SDM, tetapi dengan biaya yang ee murah, gitu. Aku langsung to the point murah gitu ya, ee karena emang yang terjadi di lapangan itu seperti itu (baris 534-537)” (P3)

Di sisi lain, selain sebagai bentuk persaingan rekan sebaya, P3 dan P5 memaparkan bahwa kegiatan magang juga dapat mencerminkan tuntutan kurikulum perkuliahan. Bagi P3 dan P5, kegiatan magang merupakan kewajiban yang perlu dipenuhi selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hal tersebut tampak dari penuturan informan berikut:

“Nah, terus lanjut ke, apa, ee S2 di *** kan. Nah, itu ada yang namanya PKPP, jadi Praktik Kerja Profesi Psikolog. Nah, jadi di bulan Maret itu ee sebenernya Aku magang itu karena ee harus itu PKPP itu. (baris 38-41)” (P3)

“Oke, kalo coba magang sebenernya kar-karena PKPP itu sih, tapi kalo yang ee perpanjangan kontrak itu memang Aku ee coba dulu deh gitu. (baris 69-70)” (P3)

“Soalnya kan dari.. apa.. sekolah ku sendiri juga kan di wajibin kan. Setiap mahasiswa akhir tuh kita harus magang buat itu jadi bahan dasar pembuatan laporan TA gitu. (baris 18-19)” (P5)

Perjalanan informan mencicipi dunia kerja melalui kegiatan magang juga disertai dengan beberapa kriteria tertentu yang melatarbelakangi informan dalam memilih tempat magang seperti sistem kerja yang diberlakukan, lokasi kerja dan

Dokumen terkait