• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Abusive Workplace pada peserta magang: sebuah analisis tematik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengalaman Abusive Workplace pada peserta magang: sebuah analisis tematik"

Copied!
247
0
0

Teks penuh

(1)

PENGALAMAN ABUSIVE WORKPLACE

PADA PESERTA MAGANG: SEBUAH ANALISIS TEMATIK

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh:

Febriani Sisca Manurung 189114066

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2022

(2)

HALAMAN PERSETUJUAN

PENGALAMAN ABUSIVE WORKPLACE

PADA PESERTA MAGANG: SEBUAH ANALISIS TEMATIK

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Febriani Sisca Manurung NIM: 189114066

Telah disetujui oleh:

Dosen Pembimbing,

Albertus Harimurti, S.Psi, M, Hum. Tanggal: 26 Juli 2022

i

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

PENGALAMAN ABUSIVE WORKPLACE

PADA PESERTA MAGANG: SEBUAH ANALISIS TEMATIK

SKRIPSI

Dipersiapkan dan ditulis oleh:

Febriani Sisca Manurung NIM: 189114066

Telah dipertanggungjawabkan di depan Panitia Penguji Pada tanggal: 18 Agustus 2022

Dan dinyatakan memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji:

Nama Lengkap Tanda tangan

Penguji 1: Albertus Harimurti, S.Psi, M, Hum. ...

Penguji 2: Dr. Minta Istono, M.Si. ...

Penguji 3: Dr. Victorius Didik Suryo Hartoko ...

Yogyakarta, 28 September 2022 Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Dekan,

Dr. Y.B. Cahya Widiyanto, M.Si.

ii

(4)

iii

HALAMAN MOTTO

“Meski tujuan masih terasa jauh untuk digapai, nikmatilah perjalanannya.

Bangun, bergerak, beristirahat, dan ulangi.”

(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Bagi aku yang berusaha untuk tidak kehilangan diriku. Bagi kamu yang hadir lalu memberikan tawa, tangis, amarah, cinta, dan patah hati. Bagi kita dan segala

kenangannya yang menjadi pelajaran hidup.

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar

pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 26 Juli 2022 Peneliti

Febriani Sisca Manurung

(7)

vi

PENGALAMAN ABUSIVE WORKPLACE

PADA PESERTA MAGANG: SEBUAH ANALISIS TEMATIK

Febriani Sisca Manurung

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pengalaman abusive workplace yang dialami oleh peserta magang. Informan dalam penelitian ini merupakan mahasiswa yang telah selesai mengikuti magang akademik maupun non akademik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan analisis tematik sebagai metode analisis data. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap lima orang informan secara daring maupun luring. Informan penelitian merupakan mahasiswa yang berada pada jenjang pendidikan vokasi, sarjana dan pascasarjana ketika berpartisipasi dalam kegiatan magang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga tema yang berkaitan dengan pengalaman abusive workplace informan, yakni: 1) Magang untuk mempercepat eksplorasi dunia kerja; 2) Abusive workplace sebagai bentuk tegangan antara ketidaksiapan ekosistem magang dengan perjuangan peserta magang; serta 3) Membayangkan ekosistem magang yang kolaboratif. Kelima informan menunjukkan bahwa kegiatan magang disambut baik oleh kalangan mahasiswa, tetapi ekosistem magang dipandang masih belum sepenuhnya siap sehingga terjadi praktik abusive workplace pada peserta magang. Praktik magang yang abusive dapat disebabkan oleh berbagai pihak seperti perusahaan, atasan, pemerintah, masyarakat hingga peserta magang itu sendiri. Sebagai implikasi adalah diperlukannya kolaborasi aktif dari seluruh pihak untuk mempersiapkan ekosistem magang sehingga dapat menekan dan mencegah praktik abusive workplace dalam dunia magang.

Kata kunci: magang, abusive workplace, mahasiswa, analisis tematik

(8)

vii

ABUSIVE WORKPLACE EXPERIENCE ON INTERN:

A THEMATIC ANALYSIS

Febriani Sisca Manurung

ABSTRACT

This study aims to identify and understand the experience of abusive workplace experienced by interns. Informants in this study are students who have participated in academic or non-academic internships. This research is qualitative research that uses thematic analysis as a data analysis method. The data in this study were obtained through semi-structured interviews with five informants online or offline. Research informants are students who are at the vocational, undergraduate, and postgraduate education levels when participating in internship activities. The results of the study indicate that there are three themes related to the abusive workplace experience of the informants, namely: 1) internships to accelerate exploration of the world of work; 2) Abusive workplace as a form of tension between the unpreparedness of the internship ecosystem and the struggles of the apprentices; and 3) envisioning a collaborative internship ecosystem. The five informants indicated that the internship program was well-received by the students, but the internship ecosystem was seen as not fully ready, so the practice of abusive workplaces occurred among the interns.Abusive internship practices can be caused by various parties such as companies, superiors, government, communities to the apprentices themselves. Therefore the need for active collaboration from all parties to prepare an internship ecosystem so that it can suppress and prevent violent practices within the scope of work in the world of internships.

Keywords: internship, abusive workplace, student, thematic analysis

(9)

viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Febriani Sisca Manurung

NIM : 189114066

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul:

“PENGALAMAN ABUSIVE WORKPLACE

PADA PESERTA MAGANG: SEBUAH ANALISIS TEMATIK”

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 26 Juli 2022

Yang menyatakan,

(Febriani Sisca Manurung)

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Sebuah tulisan yang dapat mencerminkan berbagai hal tergantung pada bagaimana pembaca menginterpretasikannya. Tulisan berikut mungkin diinterpretasikan sebagai sebuah karya tulis ilmiah, dialog pengalaman manusia, akhir perjalanan seorang mahasiswa, ataupun awal lembaran baru bagi seorang manusia. Apapun itu, harapannya tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, peserta magang, serta bagi setiap bidang yang tertarik untuk mendalami topik terkait magang.

Bagi saya, tulisan ini merupakan suatu wujud proses kehidupan. Secara khusus, proses mengenali dan membentuk diri yang ingin saya kenang. Tentu saja saya menyadari bahwa dalam proses kehidupan tersebut, banyak pribadi yang hadir hingga secara sukarela dengan bersedia memberikan waktu dan tenaganya untuk menemani, menolong, serta menguatkan saya. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih saya kepada:

1. Sosok yang menjadi tempat paling nyaman untuk berbagi berbagai kisah dengan tawa ataupun tangis. Sosok Bapak yang melimpahkan segala kasih pada anak-Nya.

Sosok yang selalu menemani dan menepati janji-Nya yaitu Tuhan Yesus Kristus.

2. Mas Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum sebagai pembimbing yang senantiasa membimbing, mempercayai, mendorong dan memberikan saya berbagai kesempatan untuk terus mempelajari banyak hal serta mengembangkan diri saya.

Sungguh saya ucapkan terima kasih atas segala kesabaran, waktu, dan dukungan yang diberikan dalam membimbing saya selama saya menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Dr. Minta Istono, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik serta dosen penguji skripsi. Terima kasih atas bimbingan Bapak selama proses perkuliahan yang saya tempuh.

(11)

x

4. Mbak Febriana Ndaru Rosita, M.Psi. selaku dosen penguji. Terima kasih atas saran dan masukan yang telah Mbak berikan terkait dengan skripsi saya.

5. Seluruh dosen, staf, dan pengelola Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Terima kasih atas segala pengajaran dan pelayanan yang boleh saya terima selama menempuh pendidikan S1 di Fakultas Psikologi.

6. Papa Daulat Yosef Manurung sebagai sosok Papa yang mengajarkan arti pengorbanan dan selalu mendampingi dalam berbagai momen “pertama kalinya”

dalam hidup saya. Mama Meliati Sihombing yang selalu memberikan kepercayaan dan dukungan penuh, merawat dalam segala situasi serta mengajarkan arti perjuangan. Septiani Pricilia Manurung sebagai sosok adik dan teman yang bersabar menghadapi, menemani dan merespon berbagai tingkah konyol dan menyebalkan kakaknya. Akhirnya Doggy sebagai teman yang menunjukkan kasih dan dukungan melalui berbagai tingkah lucunya.

7. Kelima informan yang bersedia berbagi kisah dan meluangkan waktunya sehingga penelitian ini dapat terlaksana. Pengalaman yang boleh saya dengarkan memberikan berbagai pandangan baru dalam hidup saya. Terima kasih atas kebaikan dan kepercayaan yang boleh saya terima.

8. Seluruh pribadi yang mengisi dan mewarnai kehidupan saya:

a. Inosensia Swasti Adi Lumintasari, yang menemani dan mendukung dalam segala perjalanan tugas akhir ini. Terima kasih karena bersedia melakukan perjuangan ini bersama sehingga saya menjadi lebih berani dan kuat dalam menyelesaikannya.

b. Ayudhita Christiani Mendrofa, yang selalu menemani dalam banyak kisah, yang selalu menolong dalam banyak rasa sedih dan putus asa serta menerima

(12)

xi

segala tingkah konyol dan menyebalkan yang saya lakukan. Terima kasih telah menjadi sosok teman dan kakak yang dapat diandalkan.

c. Clarissa Adhisa Regita Cahyane, yang selalu mendengarkan, menemani dan mendukung dalam berbagai situasi termasuk saat saya merasa berada dalam situasi buntu. Terima kasih karena menjadi sosok yang selalu bersedia menjadi tempat bersandar dengan nyaman dan meluapkan segala emosi serta menemani dalam berbagai situasi, termasuk dalam situasi yang membahagiakan pula.

Sungguh sangat bersyukur dapat mengenal sosok Clarissa yang luar biasa.

d. Maria Paulina Kasni Nogo Henakin, sebagai individu yang selalu mendukung saya untuk selalu mengembangkan diri. Memberikan saya kepercayaan dan mengulurkan berbagai bantuan. Individu yang juga selalu bersama saya dalam berbagai tawa, amarah, dan kesedihan. Terima kasih telah menjadi tempat di mana saya dapat dengan nyaman bertingkah konyol, mengeluarkan segala kegelisahan dan kebahagiaan.

e. Aurelia Yusistia Andrea Avelino, sebagai individu lucu dan kuat yang selalu bersedia membantu ketika saya membutuhkan pertolongan. Individu yang menemani saya dalam berbagai situasi sulit perkuliahan. Terima kasih karena mau berjuang bersama dalam masa-masa sulit tersebut serta tetap bersedia dan saling mendukung hingga saat ini.

f. Antonio Ricardo Mahendra yang memberikan berbagai pelajaran hidup serta mengingatkan bahwa segala situasi dapat dilihat dari berbagai perspektif kehidupan. Individu yang selalu berusaha menolong dengan cara yang sering kali tidak terduga. Terima kasih atas segala perhatian dan pertolongannya.

g. Alessandro Yubilae Airlangga yang menemani sejak saya masih menjadi mahasiswa baru. Sosok yang mengajarkan berbagai hal mengenai budaya Jawa.

(13)

xii

Sosok yang juga selalu siap sedia ketika dibutuhkan. Terima kasih atas segala waktu yang boleh dilalui bersama.

h. Rarianti, Dede Hamdan, dan Vinca yang meskipun kita terhalang oleh jarak tetapi selalu berusaha memberikan dukungan atas segala hal yang sedang saya perjuangkan. Terima kasih karena menjadi teman yang selalu menemani dan mendukung serta teman melakukan berbagai hal bersama.

i. Maria Steffi Rosaria Dempo sebagai salah satu sosok yang tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan mengenalnya. Terima kasih karena selalu menemani, mendengarkan segala keluh kesah serta memberi dorongan untuk mengerjakan tugas akhir ini. Terima kasih juga atas segala bantuan dan waktu yang dihabiskan bersama.

j. Teman-teman student staff Sekretariat Fakultas Psikologi USD 2021 dan 2022.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak Nitya, Kak Glory, Kak Nandya, Kak Steffi, dan Flo atas segala perjuangan yang dilewati bersama, segala canda dan tawa yang memberikan energi baru untuk melanjutkan kegiatan.

k. Pak Sidiq, Bu Ratri, Bu Nimas, dan Mas Gandung yang memberikan kesempatan bagi saya untuk mengembangkan diri melalui Sekretariat Fakultas Psikologi. Selain itu, terima kasih pula atas segala pengajaran yang telah diberikan kepada saya selama ini.

l. Teman-teman kelas C 2018, Seminar K, dan pihak-pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas segala bantuan dan dukungan yang telah diberikan dan mungkin tidak dapat saya balas satu per satu. Terima Kasih.

(14)

xiii

Akhir kata, saya menyadari bahwa karya tulis saya ini masih memiliki berbagai kekurangan. Oleh karena itu, saya berterima kasih atas kritik dan saran yang diberikan sebagai masukkan untuk mengisi kekurangan karya tulis ini serta menambah pengetahuan saya sebagai seorang peneliti pemula.

Yogyakarta, 22 Agustus 2022 Febriani Sisca Manurung

(15)

xiv DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN MOTTO ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR BAGAN ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 2

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A. Realitas Pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia ... 13

B. Konsep dan Pemaknaan Kerja ... 16

C. Magang ... 18

D. Abusive Workplace ... 19

E. Abusive Workplace pada Mahasiswa Peserta Magang ... 23

F. Fokus Penelitian ... 25

G. Kerangka Berpikir ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27

A. Desain Penelitian ... 27

B. Informan Penelitian ... 28

C. Teknik dan Proses Pengumpulan Data ... 29

D. Teknik dan Proses Analisa Data ... 31

E. Kredibilitas Penelitian ... 34

(16)

xv

E. Kredibilitas Penelitian ... 34

F. Persoalan Etik dalam Penelitian ... 35

G. Refleksi Peneliti ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian ... 41

B. Informan Penelitian ... 43

C. Hasil Penelitian ... 54

D. Pembahasan ... 84

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 96

A. Kesimpulan ... 96

B. Kelebihan dan Keterbatasan Penelitian ... 97

C. Saran ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 100

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pelaksanaan Pengambilan Data... 43 Tabel 2. Data Diri Informan ... 44 Tabel 3. Magang untuk Mempercepat Eksplorasi Dunia Kerja ... 61 Tabel 4. Abusive Workplace sebagai bentuk Tegangan antara Ketidaksiapan Ekosistem Magang dengan Perjuangan Peserta Magang... 67 Tabel 5. Membayangkan Ekosistem Magang yang Kolaboratif ... 77

(18)

xvii

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Skema Abusive Workplace pada Peserta Magang... 26 Bagan 2. Peta Tematik Magang untuk Mempercepat Eksplorasi Dunia Kerja ... 67 Bagan 3. Peta Tematik Abusive Workplace sebagai Bentuk Tegangan antara Ketidaksiapan Ekosistem Magang dengan Perjuangan Peserta Magang ... 76 Bagan 4. Peta Tematik Membayangkan Ekosistem Magang yang Kolaboratif ... 84 Bagan 5. Skema Hubungan Antar-Tema... 85

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Informed Consent ... 106

Lampiran 2. Surat Undangan Partisipasi ... 109

Lampiran 3. Interview Guideline ... 112

Lampiran 4. Informed Consent Informan 1... 113

Lampiran 5. Informed Consent Informan 2... 116

Lampiran 6. Informed Consent Informan 3... 119

Lampiran 7. Informed Consent Informan 4... 122

Lampiran 8. Informed Consent Informan 5... 125

Lampiran 9. Analisis Data... 128

(20)

1

BAB I PENDAHULUAN

Penelitian ini dilakukan dengan meninjau bagaimana kegiatan magang saat ini dipandang penting dan diminati oleh berbagai pihak, khususnya perguruan tinggi serta dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Dalam kacamata perguruan tinggi maupun DUDI, secara dominan magang dipandang sebagai “jembatan” antara teori dan praktik kerja sekaligus menjadi “batu loncatan” untuk memperoleh pengalaman kerja sebelum terjun langsung ke dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Pengalaman kerja sering kali dipandang sebagai nilai lebih bagi individu yang memilikinya. Terlebih lagi saat ini Indonesia didominasi oleh masyarakat dalam usia produktif atau sering diperbincangkan sebagai fase “bonus demografi” yang mana persaingan kerja tentunya akan semakin sengit. Para pencari kerja berlomba-lomba menjadikan dirinya

“employable” melalui pengalaman kerja. Mahasiswa sebagai calon pencari kerja juga merasa perlu mempersiapkan diri untuk memiliki pengalaman kerja tersebut. Magang sebagai kegiatan yang menawarkan menjadi “jembatan” dan “batu loncatan” dunia kerja seolah menarik perhatian berbagai pihak untuk sekadar mencicipinya.

Di sisi lain, berangkat dari pengalaman berpartisipasi dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ketika menempuh pendidikan SMK turut memengaruhi saya dalam mengangkat topik mengenai kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang. Tidak sedikit teman seperjuangan saya kala itu menjalani PKL yang tidak sesuai dengan bidang kompetensi pendidikan yang ditempuh. Berbagai kasus abusive dalam kegiatan magang juga dapat dengan mudah dijumpai dalam berbagai artikel dan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang saya juga mendengarkan keluh kesah beberapa teman saya yang mengikuti kegiatan magang mengenai mereka yang kesulitan dan kelelahan menjalani kegiatan magang sembari kuliah.

Hal tersebut memicu pertanyaan lebih lanjut dalam diri saya: apakah memang menjadi suatu

“kewajaran” untuk mengalami hal tersebut ketika magang? Berdasarkan hal tersebut saya tertarik untuk mendalami dan memahami kegiatan magang di Indonesia, secara khusus mengenai praktik abusive workplace yang terjadi pada peserta magang.

Pengalaman saya terkait magang juga kembali diperkuat saat saya menjadi student staff di Fakultas dan diminta untuk mengurusi implementasi kebijakan Nadiem Makarim, yakni program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Secara resmi, dalam kebijakan nasional, kegiatan magang diselenggarakan oleh dua kementerian yang berbeda yaitu Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) yang lebih dikenal melalui program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka

(21)

(selanjutnya ditulis MBKM) (2020). Ditawarkannya kegiatan magang dalam lingkup perguruan tinggi mencerminkan pentingnya mempersiapkan kompetensi kerja sedini-dininya.

Seolah-olah dunia pendidikan menjadi begitu inferior di hadapan DUDI.

Penyelenggaraan kegiatan magang yang bertujuan mempersiapkan kompetensi kerja disambut cukup baik oleh masyarakat, secara khusus mahasiswa. Magang dipandang dapat memfasilitasi kesenjangan teori yang diperoleh ketika menempuh pendidikan tinggi dengan realitas kerja di lapangan. Namun, salah satu hal yang menjadi perhatian yaitu masih terjadi kekosongan perlindungan hukum dalam kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek. Salah satu peraturan yang berlaku terkait magang yaitu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6/2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri. Namun, peraturan tersebut merupakan peraturan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Kemnaker bagi para pencari kerja. Kekosongan perlindungan hukum bagi kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek tidak pelak lagi membuka potensi terjadinya penyingkiran hak peserta magang sebagai pekerja. Dengan demikian, terbuka kemungkinan untuk terjadi abusive workplace pada peserta magang tanpa adanya perlindungan hukum.

Tentunya dalam proses penyusunan penelitian ini, perasaan lelah, malas, kecewa, dan frustasi tidak jarang saya jumpai. Beberapa tahapan penelitian seperti mencari informan yang secara sukarela berpartisipasi berbagi pengalamannya, proses mentranskripsi hasil wawancara, tahapan analisis data yang terkadang seolah tidak ada ujungnya, serta tahap menuliskan hasil analisis sering kali membuat saya ingin menyerah dan melakukan prokrastinasi dalam waktu yang cukup lama. Namun, berbagai dukungan yang saya dapatkan dari dosen pembimbing yang selalu bersedia berdiskusi dan membimbing saya serta teman-teman sejawat yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesah saya dan mendorong saya untuk terus menjalani perjalanan penelitian ini berhasil membuat saya untuk bangkit dan kembali berjuang. Terakhir dan bukan berarti tidak penting, pengalaman perjumpaan dengan informan juga turut membuat saya bersemangat untuk melihat praktik magang dari berbagai perspektif.

A. Latar Belakang Masalah

Bekerja dapat dikatakan sebagai hal sentral yang dilakukan oleh masyarakat.

Mayoritas orang berpikir bahwa pekerjaan merupakan kenyataan dalam realitas sehari- hari yang perlu dihadapi (Komlosy, 2018). Meskipun begitu, terdapat berbagai alasan seseorang untuk bekerja, yang mana alasan tersebut akan dipengaruhi oleh pemaknaan individu terhadap “kerja” itu sendiri. Pemaknaan tersebut cenderung dipengaruhi oleh tujuan atau alasan individu untuk bekerja. Anshori (2013) memaparkan bahwa bekerja

(22)

dapat dimaknai sebagai penguat identitas sosial, media pengaktualisasian diri, ataupun sebagai usaha memenuhi kebutuhan Salah satu tujuan atau alasan yang sering dikemukakan seseorang untuk bekerja adalah usaha untuk memperoleh hidup yang layak dengan mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Gagasan tersebut juga diungkapkan oleh Komlosy (2018) yang memaparkan bahwa istilah “pekerjaan”

mencakup pada kegiatan yang berorientasi pada kebutuhan pasar termasuk aktivitas seseorang dalam memenuhi kelangsungan hidupnya serta memenuhi kepuasan diri akan status dan kemewahan.

Bagi masyarakat Indonesia kontemporer, istilah “kerja” menjadi mudah diingat melalui slogan “kerja, kerja, kerja” yang senantiasa diucapkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Pada pidato pertamanya setelah dilantik menjadi Presiden RI, disampaikan bahwa “Saya [Joko Widodo] menyerukan untuk bekerja keras, bahu- membahu, bergotong royong, karena inilah momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama, untuk bekerja, untuk bekerja, dan bekerja” (Widodo, 2014). Kata

“bekerja” yang diserukan beberapa kali dalam pidato menekankan betapa pentingnya kerja bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia berusaha memenuhi ambisinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, selambat-lambatnya pada tahun 2045 ketika perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Ambisi tersebut tentunya dirancang bukan tanpa melihat potensi sumber daya manusia yang dimiliki bangsa Indonesia karena lebih dari 50% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, tercatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2021). Penduduk Indonesia didominasi oleh masyarakat pada usia produktif (15-64 tahun) dengan jumlah mencapai 191 juta jiwa atau hampir 70% dari total penduduk Indonesia (Novrizaldi, 2021). Dominasi masyarakat usia produktif, yang disebut pemerintah sebagai fase “bonus demografi” diharapkan dapat membawa keuntungan bagi negara, secara khusus terkait perekonomian bangsa.

Di sisi lain, jumlah masyarakat produktif yang dipandang sebagai keuntungan bangsa Indonesia belum juga menunjukkan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Indonesia. Akibat pandemi Covid-19, dari total 208,54 juta orang penduduk dalam usia kerja, masih terdapat 5,53% atau setara dengan 11,53 juta penduduk yang belum bekerja (Badan Pusat Statistik, 2022). Meski mengalami penurunan dari tahun 2021 dengan tingkat pengangguran mencapai 6,26%, angka tersebut tetap tergolong besar mengingat penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif kerja. Sayangnya, pasar kerja saat ini cenderung hanya menawarkan pekerjaan tanpa-karier atau dead-

(23)

end-job (Suryomenggolo, 2022). Hal tersebut tampak dari tetap langgengnya praktik karyawan kontrak. Tingginya tingkat pengangguran serta tidak tersedianya jaminan karier tersebut tentunya meningkatkan persaingan antar para pencari kerja termasuk mahasiswa, yang mana dituntut untuk “employable” bagi perusahaan.

Magang seolah menjadi salah satu solusi untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Nurhadi Irbath, Ketua Subpokja Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), menyampaikan bahwa program magang dan studi independen bersertifikat bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata dalam dunia profesional, sehingga mahasiswa lebih siap terjun dunia kerja (Institusi Teknologi Sepuluh Nopember, 2021). Artinya melalui program magang, mahasiswa diharapkan mampu memahami kemampuan dan tingkat produktivitas yang dibutuhkan oleh industri, mengikuti laju industri bekerja, serta memenuhi kebutuhan SDM yang diperlukan (Adinda, 2022). Mahasiswa dituntut untuk “employable” agar dapat memperoleh karier yang diinginkan.

Salah satu bukti bahwa mahasiswa “employable” dapat ditunjukkan melalui pemaparan pengalaman kerja dalam portofolio atau curriculum vitae dengan disertai bukti sertifikat magang. Hal tersebut mendorong mahasiswa untuk berlomba-lomba mengikuti kegiatan magang dengan harapan bahwa dirinya memiliki “nilai lebih”

dibandingkan pelamar kerja lainnya. Namun, praktik penyelenggaraan kegiatan magang di Indonesia belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, kegiatan magang di Indonesia diselenggarakan oleh Kemnaker bagi para pencari kerja dan Kemdikbudristek bagi para mahasiswa. Kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Kemnaker telah diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6/2020 mengenai Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, yang mana pemagangan didefinisikan sebagai bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang berkompetensi dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Namun, kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek, hingga Juli 2022 belum memiliki peraturan hukum khusus dan masih mengandalkan Buku Panduan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka tahun 2020 serta mengacu pada peraturan magang Kemnaker. Kemdikbudristek memaparkan bahwa kegiatan magang diberikan kepada mahasiswa agar mendapatkan pengalaman kerja di industri atau dunia profesi nyata sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa agar dapat melakukan pembelajaran langsung di tempat kerja (experiential

(24)

learning). Harapannya, melalui kegiatan magang tersebut, mahasiswa akan mendapatkan hardskill maupun softskill yang akan mendukung dalam dunia kerja nantinya.

Mahdiyah (dalam katadata.co.id, 2019) menunjukkan bahwa berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2019 menunjukkan bahwa sejak 2014 hingga 2018 sebanyak 180.651 orang yang mengikuti kegiatan magang Kemnaker baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal tersebut menunjukkan bagaimana kegiatan magang begitu diminati oleh para pencari kerja. Selain itu, Hendaya (dalam dikti.kemdikbud.go.id, 2021) memaparkan bahwa berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebanyak 13.272 mahasiswa telah mengikuti program magang dan studi independen bersertifikat. Data tersebut menunjukkan bagaimana mahasiswa memandang kegiatan magang sebagai suatu hal yang penting, secara khusus melalui antusiasme yang ditunjukkan oleh mahasiswa dalam mengikuti kegiatan magang.

Sekalipun terjadi kekosongan ruang hukum bagi magang yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek, pada kenyataannya ketersediaan peraturan kegiatan magang yang diatur oleh Kemnaker juga belum tentu memberikan jaminan keamanan praktik magang. Kasus abusive workplace pada peserta magang dapat dengan mudah kita jumpai dari berbagai media massa. Abusive workplace merupakan suatu perilaku pelanggaran hak asasi manusia yang diarahkan pada pekerja secara sengaja dengan tujuan untuk menyakitinya sehingga mengakibatkan pengabaian atau kerugian secara fisik, seksual, emosional dan finansial (Iftikhar, dkk., 2014; Popp, 2017). Adinda (2021) memaparkan kasus abusive pada peserta magang yang merentang dari overtime sampai unpaid internship. Sebagai contoh adalah peserta magang bernama Safina yang pernah melakukan magang dengan tidak memperoleh uang saku dan kerap dituntut bekerja melewati jam kerja (overtime) hingga pukul 21.00 WIB (Adinda, 2021). Peserta magang lainnya, yaitu Nabila, juga pernah melakukan magang dengan membuat konten tetapi tidak memperoleh bayaran sama sekali. Pada peraturan magang yang dibuat Kemnaker, yaitu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6/2020, secara jelas dituliskan bahwa peserta magang memiliki hak untuk memperoleh uang saku (pasal 13), meskipun tidak secara terperinci dipaparkan jumlah yang perlu dibayarkan.

Liputan #GenerasiBurnout yang dipaparkan oleh Adinda (dalam Project Multatuli, 2022) sejak Oktober 2021 hingga Februari 2022 terhadap 153 mahasiswa yang melakukan magang menunjukkan bahwa responden mengeluhkan beban kerja

(25)

yang setara dengan pekerja tetap. Sebanyak 63 responden menyatakan bahwa mereka menanggung beban kerja yang besar saat magang. Sementara itu, 33 responden menyatakan bahwa beban kerja yang diberikan tidak sesuai dengan job description yang sejak awal ditawarkan. Keluhan lainnya yaitu mengenai permasalahan uang saku, 63 responden menyatakan bahwa tidak mendapatkan uang saku, 47 responden menyatakan uang saku telat dibayarkan, serta 37 responden menyatakan uang saku yang ditawarkan terlalu kecil. Berbagai bentuk kebijakan dan praktik yang menjurus pada tindakan abusive yang diterima oleh peserta magang menjadi salah satu alasan pentingnya melakukan penelitian terkait abusive workplace terhadap peserta magang.

Kekosongan ruang perlindungan hukum yang secara spesifik melindungi mahasiswa peserta magang meningkatkan potensi terjadinya abusive workplace workplace ketika magang. Di sisi lain, peraturan perundangan Kemnaker yang berlaku terkait pemagangan dalam negeri juga masih memiliki ruang yang perlu terus dikembangkan dan diperbaharui. Ekosistem magang perlu dipersiapkan dengan matang, jelas dan terperinci agar magang menjadi lebih tersistematisasi. Praktik kegiatan magang saat ini masih rentan terhadap terjadinya tindak abusive pada peserta magang, salah satunya terkait dengan kerentanan status peserta magang dalam dunia kerja. Peserta magang cenderung dipandang berbeda dengan pekerja lainnya di institusi atau perusahaan sehingga mereka cenderung tidak memperoleh perlindungan yang serupa dari institusi/perusahaan tersebut. Kerentanan status peserta magang tersebut berkontribusi terhadap sulitnya pelacakan kasus abusive workplace yang terjadi karena peserta magang merasa takut akan konsekuensi negatif yang akan dialami. Berrey, Nelson, dan Nielsen (2017, dalam Roscigno, 2019) memaparkan bahwa korban yang memperoleh perilaku abusive atau diskriminasi pekerjaan merupakan mereka yang memiliki status pekerjaan lebih rendah sehingga jarang membuat keluhan serta menentang perilaku tersebut. Dalam liputannya, Mantalean (dalam Kompas.com, 2020) memaparkan bahwa Mirah Sumirat selaku Presiden Asosiasi Serikat Indonesia, menekankan bagaimana pemerintah perlu membuka mata terhadap keberadaan peserta magang yang rentan menjadi korban eksploitasi perusahaan dengan tidak memperoleh hak yang setimpal sesuai dengan bobot pekerjaannya.

Kerentanan tersebut terjadi karena pengawas ketenagakerjaan tak sebanding dengan jumlah perusahaan yang diawasi. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pada tahun 2020 terdapat sekitar 252.880 perusahaan yang diawasi dengan total tenaga kerja mencapai 13.138.048 orang. Apabila merujuk pada

(26)

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 1 Tahun 2020 mengenai Tata Cara Pengawasan Ketenagakerjaan, maka seorang pengawas ketenagakerjaan wajib memeriksa paling sedikit 5 perusahaan setiap bulannya dengan total mencapai 60 perusahaan dalam satu tahun. Namun dengan total pengawas yang hanya sekitar 1.574 orang, maka pengawas hanya mampu mengawasi sekitar 103.680 perusahaan sehingga memperbesar peluang terjadinya abusive workplace, secara khusus pada peserta magang. Selain itu, tidak seperti para buruh yang memiliki serikat kerja sebagai pihak eksternal yang dapat membela ketika terjadi ketidakadilan, para peserta magang tidak memiliki serikat atau organisasi sebagai pihak eksternal yang mengayomi dan melindungi ketika terjadi ketidakadilan.

Fenomena abusive workplace sendiri bukanlah fenomena baru yang terjadi dalam lingkup kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Hackney dan Perrewe (2018) menemukan bahwa abusive workplace memengaruhi atribusi, emosi serta sikap korban dan pelaku. Di sisi lain, penelitian terkait abusive workplace cenderung didominasi oleh topik abusive supervision (Tepper, 2007; Vogel & Mitchell, 2015; Hussain & Sia, 2017;

Lopes, dkk., 2018; Arshad, dkk., 2021). Abusive supervision merupakan suatu perilaku kasar yang sengaja dilakukan atasan terhadap pekerja (Tepper, 2007). Apabila atasan menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya maka hal tersebut akan menciptakan lingkungan kerja yang abusive (Iftikhar, dkk., 2014). Dampak dari abusive supervision cenderung memengaruhi perilaku pekerja seperti menunjukkan perilaku menyimpang atau tidak sesuai dengan norma-norma perusahaan atau organisasi, memiliki tendensi untuk menunjukkan perilaku agresif ketika bekerja, menurunkan motivasi kerja, produktifitas dan kreatifitas pekerja (Hussain & Sia, 2017; Lopes, dkk., 2018; Vogel &

Mitchell, 2015; Arshad, dkk., 2021). Gagasan tersebut turut didukung oleh Tepper (2007) yang memaparkan bahwa pengawasan yang abusive cenderung membawa konsekuensi negatif diantaranya: 1) Memengaruhi pekerjaan seperti rendahnya tingkat kepuasan kerja, komitmen terhadap organisasi serta meningkatnya tingkat turnover di perusahaan; 2) Memengaruhi perilaku pekerja seperti cenderung menolak permintaan supervisor, agresivitas pekerja hingga kecenderungan minum-minuman beralkohol secara berlebih; 3) Memengaruhi kontribusi pekerja terhadap perusahaan atau menurunnya produktivitas; serta 4) Memengaruhi kondisi psikologis pekerja seperti kecemasan, depresi, menurunkan efikasi diri, serta munculnya permasalahan kesehatan somatik.

(27)

Selama ini, penelitian terhadap peserta magang terkait dengan abusive workplace cenderung dilakukan di bidang kesehatan seperti pada mahasiswa kedokteran, keperawatan, farmasi, dan sebagainya (Iftikhar, dkk., 2014; Rees, dkk., 2015; Riskin, dkk., 2015). Mahasiswa di bidang medis cenderung dituntut melakukan magang di tempat kerja yang berkecimpung pula dalam dunia medis (Iftikhar, dkk., 2014). Kewajiban melakukan magang pada mahasiswa di bidang kesehatan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa penelitian terkait abusive workplace pada peserta magang cenderung menggunakan mahasiswa di bidang kesehatan sebagai informan penelitian. Di sisi lain, topik mengenai abusive workplace pada mahasiswa di Indonesia sendiri cenderung hanya dibahas melalui media massa (Mantalean, 2020; Adinda, 2021;

Adinda, 2022) maupun dipaparkan melalui survei kuantitatif seperti survei

#generasiburnout. Rees, dkk. (2015) memaparkan bahwa survei kuantitatif kurang dapat mengeksplorasi pengalaman dan cenderung menjadi katalog masalah daripada menawarkan pemahaman mengenai abusive workplace pada peserta magang itu sendiri.

Terdapat 3 sumber yang menciptakan kondisi lingkungan kerja abusive bagi peserta magang, diantaranya: 1) pihak otoritas seperti kepala departemen, supervisor atau mentor; 2) teman sebaya atau partner kerja, serta; 3) klien, pelanggan atau pihak eksternal perusahaan (Riskin, dkk., 2015; Rees, dkk, 2015). Di sisi lain, abusive workplace yang dialami korban cenderung memberikan dampak negatif baik bagi korban maupun bagi perusahaan atau organisasi (Kisamore, dkk, 2010; Okechukwu, dkk, 2014; Yoder, 2019). Korban cenderung akan merasakan kecemasan dan takut berlebih, mengalami perubahan persepsi diri (Yoder, 2019), muncul gejala Post- Traumatic Stress Disorder (PTSD) (Okechukwu, dkk., 2014), hingga penurunan kinerja serta peningkatan tingkat turnover serta absensi korban yang pada akhirnya memengaruhi kinerja perusahaan atau organisasi (Kisamore, dkk., 2010).

Realitas persaingan kerja, meningkatnya minat masyarakat untuk berkontribusi dalam kegiatan magang, berbagai fenomena abusive workplace yang dialami peserta magang, serta masih minimnya penelitian mengenai abusive workplace pada peserta magang di Indonesia menjadi salah satu faktor pentingnya penelitian mengenai abusive workplace yang dialami peserta magang. Penelitian ini berusaha menganalisis pengalaman peserta magang yang mengalami abusive workplace menggunakan metode analisis tematik dengan pendekatan induktif. Analisis tematik merupakan salah satu metode analisis dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mencari dan menganalisis tema atau pola makna dalam suatu data (Braun & Clarke, 2006; Willig,

(28)

2013). Melalui pendekatan induktif, proses analisis dipimpin oleh data (data-driven) tanpa kerangka pengkodean secara teoritis sebelumnya (Willig, 2013). Selain itu, kerangka epistemologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tipe critical realist yang mana Terry, dkk. (2017) memaparkan bahwa critical realist berusaha memahami pengalaman informan sebagai realitas hidup yang diproduksi dan ada dalam konteks sosial. Artinya, dalam penelitian ini proses analisis dipimpin oleh data namun tetap memperhatikan konteks sosial terkait dengan magang di Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar tema-tema penelitian yang dipaparkan semakin menggambarkan pengalaman abusive workplace pada peserta magang.

***

Pada bagian di atas telah dijelaskan mengenai konteks penelitian ini, yakni bagaimana perbincangan mengenai pekerjaan dalam masyarakat Indonesia yang cenderung mengedepankan magang sebagai hal wajar yang perlu dilakukan seseorang, khususnya mahasiswa sebelum hidup dalam alam pekerjaan. Telah dipaparkan pula mengenai penelitian terdahulu serta bagaimana fenomena abusive workplace pada peserta magang yang menjadi fokus penelitian.

Sebagai catatan, dalam bahasa Indonesia, istilah abusive workplace tidak memiliki padanan umum. Dalam praktik berbahasa, istilah tersebut sering kali disebut kekerasan dalam ruang kerja, pelecehan, agresi di tempat kerja, serta perundungan atau diskriminasi kerja dalam kosakata bahasa Indonesia. Alih-alih menerjemahkannya, dalam penelitian ini akan tetap menggunakan istilah abusive workplace karena menurut MacKay & Goodbaum (2014) ciri khas dari tindak abusive adalah pengurangan kesejahteraan manusia yang dilakukan dalam bentuk sistemik tersembunyi seperti diskriminasi dan ketidaksetaraan serta bentuk kekerasan tampak seperti tindak kriminal dan pelecehan. Selain itu istilah abusive dapat mewakili beberapa kosa kata lainnya seperti perundungan, pelecehan, kekerasan, rasisme, dan eksploitasi (MacKay &

Goodbaum, 2014).

B. Rumusan Masalah

Berbagai kasus kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang yang telah dipaparkan dalam latar belakang menjadi menarik untuk dibahas lebih lanjut. Penelitian ini berusaha untuk menggali pengalaman kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang, dengan beberapa rumusan masalah yang diajukan, yaitu:

(29)

1. Bagaimana pengalaman magang mahasiswa yang mengalami abusive workplace selama periode magangnya?

2. Tema apa saja yang muncul dari pengalaman abusive workplace peserta magang tersebut?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang di Indonesia yang meliputi:

1. Pandangan dan pemaknaan peserta magang terhadap praktik kegiatan magang di Indonesia.

2. Implikasi ekosistem magang pada praktik magang dan kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbagan kajian dalam bidang Psikologi Kerja (Work Psychology) berkaitan dengan fenomena abusive workplace yang dialami oleh mahasiswa yang mengikuti kegiatan magang. Secara khusus, meninjau mulai diberlakukannya kegiatan magang sebagai salah satu program akademik bersamaan dengan kegiatan lainnya yang ditawarkan dalam program Kampus Merdeka sebagai salah satu usaha mempersiapkan kompetensi kerja mahasiswa, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kajian dalam Psikologi Industri Organisasi. Melalui analisis tematik, pola makna pengalaman mahasiswa yang mengikuti kegiatan magang dapat dijadikan data untuk peninjauan kegiatan magang dari berbagai aspek, salah satunya potensi terjadinya kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peserta Magang

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada peserta magang terkait potensi terjadinya kekerasan dalam lingkup kerja dalam kegiatan magang. Melalui berbagai kisah informan, peserta magang dapat mengetahui

(30)

hak dan kewajiban yang dimilikinya sehingga dapat mempertanggungjawabkan kewajibannya serta memperjuangkan hak yang dimilikinya.

b. Bagi Penyelenggara Magang

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan bagi pihak penyelenggara pemagangan, baik pemerintah maupun institusi kerja (perusahaan ataupun organisasi) terkait dengan praktik pelaksanaan kegiatan magang, secara khusus kekerasan dalam lingkup kerja yang mungkin belum terpotret atau diperhatikan dalam ekosistem kerja masing-masing. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan data awal sebelum merancang kegiatan magang bagi institusi kerja, sehingga baik perusahaan maupun peserta magang dapat saling menguntungkan. Selain itu, pengalaman peserta magang yang dipaparkan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi cerminan untuk semakin memperketat sistem serta pengawasan magang.

c. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian berikut diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat akademik maupun umum dalam memahami kegiatan magang. Sebelumnya hal yang menjadi sorotan masyarakat terkait kegiatan magang adalah manfaat yang diperoleh, tetapi cenderung menafikan potensi terjadinya kekerasan dalam lingkup kerja pada peserta magang yang disebabkan oleh berbagai faktor.

(31)

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Peninjauan berbagai literatur untuk mendukung pemahaman fenomena kekerasan dalam lingkup kerja terhadap peserta magang akan dipaparkan dalam Bab II. Secara khusus, dalam bab ini akan berfokus pada berbagai literatur sebelumnya terkait pengalaman kekerasan dalam lingkup kerja pada mahasiswa yang mengikuti kegiatan magang. Paparan akan dimulai dengan penjelasan konteks penelitian yang diawali dengan perubahan fokus pendidikan yang berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan fokus pendidikan tersebut turut berkontribusi terhadap eksistensi kegiatan magang di Indonesia. Setelahnya akan dibahas mengenai konsep dan pemaknaan kerja untuk memberikan gambaran bagaimana bekerja menjadi hal sentral bagi masyarakat, dari dulu hingga kini. Konsep bekerja dapat memproyeksikan berbagai hal seperti mengapa seseorang perlu bekerja, bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan, kapasitas pekerjaan yang dibebankan pada seseorang, serta siapa yang akan mengerjakan hal apa dan siapa yang menentukannya. Seiring dengan perkembangan zaman, magang menjadi salah satu tren kerja yang ditawarkan pada masyarakat dengan konsep pelatihan kerja.

Bagian selanjutnya adalah terkait dengan konsep yang akan diteliti dalam penelitian ini, yakni abusive workplace. Dalam bagian kekerasan dalam lingkup kerja, akan dibahas definisi, faktor yang memengaruhi, serta dampak yang akan ditimbulkan oleh kekerasan dalam lingkup kerja. Pembahasan selanjutnya akan dipaparkan mengenai dinamika kekerasan dalam lingkup kerja pada mahasiswa yang menjadi peserta magang. Pembahasan akan diakhiri dengan memaparkan fokus penelitian serta kerangka berpikir dalam penelitian ini.

A. Realitas Pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia

Pendidikan tinggi merupakan salah satu tahap pendidikan formal di Indonesia.

UU No.12/2012 tentang Pendidikan Tinggi memaparkan bahwa pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Belajar di perguruan tinggi dipandang sebagai suatu privilege bagi individu yang menempuhnya (Taufiq, 2018). Salah satu privilege yaitu pengakuan secara formal bahwa seseorang telah menjalani kegiatan belajar sehingga dipandang telah memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan, kepribadian, dan perilaku tertentu.

(32)

Pendidikan tinggi memiliki suatu paradigma yang digunakan sebagai acuan dalam merumuskan kurikulum pembelajaran bagi mahasiswa. Sebelumnya, pendidikan di Indonesia menggunakan paradigma behavioristik, yang mana seluruh proses belajar mengajar terfokus pada tenaga pendidik sehingga pelajar cenderung lebih pasif (Taufiq, 2018). Namun, saat ini pendidikan di Indonesia cenderung menggunakan paradigma konstruktivistik yang memandang pelajar sebagai sentral dalam proses pembelajaran, sehingga pelajar dituntut terlibat secara aktif dalam proses belajar (Taufiq, 2018). Posisi mahasiswa yang ditetapkan sebagai pusat dalam proses pembelajaran tentunya semakin memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menentukan arah pembelajarannya.

Kesempatan tersebut cenderung dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk semakin mempersiapkan kariernya di masa mendatang. Mahasiswa berlomba-lomba mengikuti berbagai kegiatan yang mendukung prospek kariernya.

Selain itu, realitas sistem pendidikan perguruan tinggi di Indonesia saat ini juga cenderung berfokus untuk mempersiapkan mahasiswa meningkatkan kualitas kompetensi sebagai persiapan menuju dunia kerja. Globalisasi menjadi salah satu faktor yang berperan dalam pergeseran fokus pendidikan tersebut. Tholani (2013) memaparkan bahwa globalisasi berkaitan dengan permasalahan ekonomi, politik- ideologi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Pemerintah Indonesia berusaha mempersiapkan mahasiswa agar siap menghadapi globalisasi tersebut melalui perancangan kurikulum perguruan tinggi yang tanggap dalam menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja, dan kemajuan teknologi. Salah satu upaya tersebut tampak dari diluncurkannya kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM; dikenal pula dengan program Kampus Merdeka). Program Kampus Merdeka diharapkan dapat menjadi wujud pembelajaran perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Di sisi lain, program MBKM juga seolah menunjukkan bagaimana pendidikan di Indonesia semakin diprivatisasi. Pendidikan perguruan tinggi diharapkan dapat link and match dengan dunia industri. Tholani (2013) memaparkan bentuk privatisasi pendidikan perguruan tinggi terjadi ketika perguruan tinggi menjadi produsen yang berusaha memenuhi kebutuhan mahasiswa (sebagai konsumen) untuk mempersiapkan diri bersaing di dunia kerja.

Globalisasi seolah menggeser budaya akademik pendidikan tinggi menjadi budaya ekonomis yang mengarahkan pendidikan pada mobilitas vertikal atau upaya

(33)

peningkatan kecakapan keahlian untuk mengondisikan tenaga produktif yang siap

“dijual” dalam bursa kerja (Tholani, 2013). Hal tersebut juga semakin didukung dengan ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045 dengan memanfaatkan fase “bonus demografi” yang dimiliki. Perguruan tinggi dituntut untuk merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif sehingga mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Perguruan tinggi diharapkan dapat menciptakan tenaga kerja yang potensial dan tentunya siap bekerja.

Mahasiswa juga dituntut untuk secara aktif mengikuti berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan potensinya tetapi tetap gayut sesuai dengan kebutuhan zaman (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Hal tersebut dilakukan mengingat tingginya kompetisi dunia kerja saat ini sehingga individu dituntut untuk memiliki keahlian tertentu yang dapat menjadi suatu nilai lebih bagi dirinya. Peserta didik dituntut untuk dapat mengidentifikasi suatu keterampilan diri yang akan menjadi fokus dalam menggambarkan dirinya (Brooks &

Anumudu, 2015) Keahlian tersebut dapat dipaparkan individu berdasarkan pengalaman kerja yang dimilikinya melalui portofolio diri. Brooks & Anumudu (2015) juga memaparkan bahwa penting bagi pencari kerja untuk dapat “memasarkan” diri mereka.

Hal tersebut dapat berkontribusi pada pencapaian karier individu, seperti yang dipaparkan oleh Gorbatov & Lysova (2018) bahwa personal branding dapat menjadi sarana untuk mencapai kesuksesan karier.

Konsep MBKM yang ditawarkan dapat dipahami lebih lanjut berdasarkan pemaparan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020), bahwa program Kampus Merdeka dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja, dan kemajuan teknologi. Terdapat berbagai kegiatan yang ditawarkan dalam program tersebut diantaranya: 1) pertukaran pelajar; 2) magang/praktek kerja; 3) asistensi mengajar di satuan pendidikan; 4) penelitian/riset; 5) proyek kemanusiaan; 6) kegiatan wirausaha; 7) studi/proyek independen; serta 8) membangun desa/kuliah kerja nyata tematik. Pemaparan mengenai Program Kampus Merdeka dalam penelitian ini guna menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi saat ini seolah difokuskan untuk mempersiapkan kompetensi kerja mahasiswa. Namun penelitian ini tidak memfokuskan diri pada peserta magang yang berpartisipasi dalam magang MBKM

(34)

saja, tujuannya agar penelitian ini sungguh-sungguh dapat menyajikan keberagaman pengalaman abusive workplace peserta magang. Sekalipun demikian, paparan mengenai MBKM menjadi penting untuk melihat konteks kehidupan akademis mahasiswa Indonesia saat ini.

B. Konsep dan Pemaknaan Kerja

Kata “kerja”, “bekerja”, dan “pekerjaan” sudah tidak asing lagi bagi setiap orang. Mayoritas orang berpikir bahwa pekerjaan merupakan kenyataan dalam realitas sehari-hari yang harus dihadapi (Komlosy, 2018). Namun pada kenyataannya terdapat hal yang lebih kompleks, yang mana konsep bekerja dapat memproyeksikan berbagai hal seperti mengapa seseorang perlu bekerja, bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan, seberapa besar kapasitas pekerjaan yang dibebankan pada seseorang, serta siapa yang akan mengerjakan hal apa dan siapa yang menentukannya.

Menurut Komlosy (2018), pekerjaan dapat disistematisasi menjadi berbagai kategori yang terkait dengan status seseorang dalam proses kerja atau dalam masyarakat, bentuk pekerjaan dan pembayarannya, regulasi hukum, jaminan sosial, serta bentuk representasi kolektif. Lebih lanjut, Komlosy (2018) memaparkan bahwa bekerja dapat dilihat dalam beberapa kerangka kerja berikut: 1) subsistence work, yang mana dalam kerangka kerja berikut bekerja dilakukan untuk memenuhi kebutuhan langsung individu dalam konteks rumah tangga. Pekerjaan ini lebih menekankan pada nilai guna daripada nilai tukar; 2) bekerja untuk komunitas, yang mana pekerjaan ini menuntut aktivitas dari kelompok tertentu untuk saling membantu satu sama lain.

Pekerjaan ini didasarkan pada norma untuk menjaga hubungan sosial; 3) bekerja sebagai bentuk kontribusi pada negara, yang mana pada kerangka kerja berikut mencakup pembayaran pajak atas barang, pajak biaya operasi pengusaha, dan pajak pendapat; serta 4) pekerjaan yang menekankan nilai jual, yang mana pekerja akan menghasilkan suatu karya untuk menghasilkan keuntungan berupa uang sebagai hasil dari nilai tukar atas komoditas yang dijual.

Selain itu, bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat menawarkan berbagai istilah untuk mendefinisikan suatu kegiatan yang menghasilkan pendapatan untuk menopang kehidupan, termasuk penunjukkan khusus untuk tugas tertentu dan penunjukkan umum yang menggolongkan sejumlah kegiatan di bawah gagasan mengenai pekerjaan (Komlosy, 2018). Oleh sebab itu, kebudayaan memiliki peranan penting dalam membangun konstruksi persepsi seseorang dalam memaknai pekerjaan.

(35)

Apapun penggambaran seseorang terkait bekerja, dapat dikatakan melalui bekerja akan membuat seseorang mempunyai kesempatan untuk menjadi siapa dia sebenarnya dan berkontribusi dalam memperbaiki kondisi kehidupannya dan lingkungan sekitarnya (Anshori, 2013).

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, pemaknaan seseorang mengenai bekerja tidak lepas dari pengaruh budaya lingkungan individu tersebut. Setiap budaya memiliki nilai dan konsepsi tersendiri dalam memaknai suatu pekerjaan (Anshori, 2013). Budaya tersebut akan membentuk sistem nilai dalam diri seseorang yang memengaruhi cara pandangnya terhadap suatu hal salah satunya kerja. Menurut Anshori (2013), sistem nilai yang tertanam dalam diri seseorang dipengaruhi oleh budaya tertentu yang disebut oleh Argrys sebagai theories-in-use. Argrys (1977) memaparkan bahwa theories-in-use merupakan asumsi implisit yang mengarahkan pada suatu perilaku, yang mana asumsi tersebut akan memberikan pedoman bagi seluruh anggota dalam kebudayaan yang sama terkait sudut pandang tertentu dalam melihat, berpikir, dan merasakan sesuatu.

Dalam konteks formal, pemaknaan terkait kerja di Indonesia akan dilihat dari definisi kerja yang termuat dalam Undang-undang Ketenagakerjaan serta berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menjadi perbendaharaan kata di Indonesia.

Berdasarkan UU No. 12/1948 Tentang Undang-undang Kerja Tahun 1948 yang menyatakan bahwa pekerjaan merupakan kegiatan yang dijalankan oleh buruh untuk majikan dalam suatu hubungan kerja dengan menerima upah (pasal 1). Namun peraturan tersebut telah digantikan dengan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan yang tidak memaparkan terkait definisi pekerjaan secara umum, tetapi dipaparkan secara spesifik pada setiap bidang seperti pelaku usaha, tenaga kerja, bidang pelatihan kerja dan sebagainya. Selanjutnya, apabila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka kerja didefinisikan sebagai kegiatan melakukan sesuatu serta sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Berdasarkan hal tersebut, tampak bahwa kerja menjadi suatu usaha individu untuk memperoleh upah atau mata pencaharian. Namun, hal tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi individu tersebut saja, melainkan kondisi kesejahteraan negara pula. Maka, tidak heran apabila pemerintah berusaha menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas melalui program pendidikan yang telah disediakan.

(36)

C. Magang

Magang merupakan salah satu kegiatan dalam lingkup kerja yang diselenggarakan untuk mendapatkan pengalaman serta menguasai kompetensi kerja tertentu. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6/2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, mendefinisikan magang sebagai suatu sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang berkompetensi dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Tidak jauh berbeda dengan tujuan penyelenggaraan kegiatan magang oleh Kemnaker, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020) juga memaparkan bahwa program magang yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek bertujuan untuk memberikan pengalaman yang cukup kepada mahasiswa melalui pembelajaran langsung di tempat kerja sehingga dapat menguasai hardskill dan soft skill kerja.

Magang menjadi salah satu trend kerja yang populer di kalangan mahasiswa, perguruan tinggi, pencari kerja, dan perusahaan. Bagi para pencari kerja dan mahasiswa, menjadi peserta magang dapat memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman kerja serta menguasai keterampilan kerja tertentu (Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6/2020; Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Bagi perusahaan, kegiatan magang dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan talenta yang cocok melalui peserta magang sehingga dapat mengurangi biaya recruitment dan training awal (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Di sisi lain, perguruan tinggi yang menerapkan kegiatan magang sebagai salah satu program akademik akan mendapat kesempatan untuk mengisi kesenjangan antara apa yang diajarkan di kelas dengan yang dipraktikkan di lingkungan kerja (Jung & Lee, 2016).

Individu yang pernah melakukan magang cenderung menghargai pengalaman magangnya karena merasa pengalaman tersebut mempersiapkan diri untuk karier profesionalnya (Zakrajsek, dkk., 2015). Magang menjadi sumber pengalaman praktis yang baik, mempelajari mengenai kerja dalam tim, menambah daya tarik resume pribadi, serta meningkatkan relasi dengan orang-orang dalam dunia profesional (Anjum, 2020). Melalui pelatihan kerja, peserta magang dapat mempraktikkan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya ke dalam konteks kerja serta memperoleh kompetensi baru. Perusahaan cenderung menyukai pelamar kerja dengan pengalaman

(37)

kerja dan pengetahuan praktis, sehingga perusahaan cenderung menjadikan pekerja magang sebagai kandidat karyawan masa depan mereka (Anjum, 2020). Selain itu, program magang menjadi salah satu strategi rekrutmen dan seleksi bagi perusahaan kaitannya dengan pendataan kemampuan calon pekerja dalam mengelola tugas pekerjaan sehari-hari (Putra & Purba, 2020).

Meskipun begitu, kualitas kompetensi peserta magang turut dipengaruhi oleh mentor dalam masa pelatihannya. Mentor akan memengaruhi masa pelatihan peserta magang melalui berbagai bimbingan dan kesempatan melakukan pekerjaan (Zakrajsek, dkk., 2015). Setiap perusahaan atau organisasi penyelenggara kegiatan magang diharapkan menyediakan supervisor yang mendampingi dan menilai kinerja peserta magang. Kemnaker telah menentukan standar kriteria seseorang yang dapat menjadi pembimbing peserta magang, diantaranya: 1) Pekerja di tempat penyelenggara magang paling singkat 6 bulan; 2) Sehat secara jasmani dan rohani; 3) Memiliki kompetensi teknis dalam jabatan sesuai dengan program magang; 4) Memiliki kompetensi metodologi pelatihan kerja; Ditunjuk sebagai pembimbing oleh manajer personalia dengan menunjukkan bukti surat penunjukkan; serta 5) Memahami peraturan pemagangan. Oleh sebab itu, peran mentor dalam memberikan bimbingan dan arahan akan memengaruhi kualitas kompetensi peserta magang.

D. Abusive Workplace

Pembahasan mengenai abusive workplace dalam dunia kerja ditunjukkan dan dipublikasikan melalui berbagai berita dan jurnal penelitian. Kemajuan teknologi memudahkan masyarakat untuk mengakses kasus-kasus abusive workplace melalui pemberitaan di berbagai media. Survei #GenerasiBurnout yang dilakukan oleh Project Multatuli menunjukkan data mengenai praktik abusive workplace yang dialami para peserta magang (lihat Bab I). Berbagai fenomena kekerasan di tempat kerja memunculkan berbagai penelitian terkait abusive workplace. Pekerjaan dalam bidang kesehatan seperti kedokteran, perawat dan sebagainya yang paling banyak melakukan penelitian terkait abusive workplace. Secara khusus penelitian tersebut berfokus pada mahasiswa dalam bidang kesehatan yang sedang melakukan magang di suatu lembaga kesehatan. Hal tersebut dapat terjadi karena kegiatan magang atau praktik kerja menjadi salah satu program pendidikan bagi mahasiswa bidang kesehatan. Selain itu, bidang pendidikan lainnya, misalnya program sarjana Psikologi, tidak selalu memberikan tingkat dukungan yang sama bagi mahasiswa yang akan mencari kerja dibandingkan

(38)

dengan mahasiswa yang bersiap menjadi Psikolog (Appleby, 2017). Hal tersebut tampak dari program praktik kerja diberikan kepada mahasiswa yang menempuh pendidikan pascasarjana, padahal tidak semua individu yang telah memperoleh gelar sarjana memiliki minat untuk melanjutkan pendidikannya.

Sementara itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Iftikhar, dkk (2014) menunjukkan bahwa mahasiswa tenaga kesehatan seringkali memperoleh kekerasan di tempat kerja dari atasan mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hierarki di tempat kerja seperti jabatan, sertifikasi kompetensi, pengalaman akan memengaruhi pelaku dalam melakukan kekerasan kepada korban. Riskin, dkk (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kekerasan di tempat kerja dapat diberikan oleh atasan, teman sebaya dan klien atau pasien. Korban yang memperoleh kekerasan di tempat kerja merupakan individu yang memiliki status pekerjaan lebih rendah dibandingkan pelaku (Roscigno, 2019). Hal tersebut berdampak pada bertahannya perilaku abusive di tempat kerja karena korban cenderung tidak mengajukan laporan (Yoder, 2019).

1. Pengertian Abusive Workplace

Abusive didefinisikan sebagai suatu pelanggaran hak asasi manusia atau suatu tindakan yang secara sengaja mengakibatkan pengabaian atau kerugian secara fisik, seksual, emosional, dan finansial (Iftikhar, dkk., 2014). Apabila suatu perilaku diarahkan pada karyawan dengan tujuan untuk menyakitinya, maka hal tersebut tergolong sebagai abusive workplace (Popp, 2017). Sebuah organisasi atau perusahaan yang secara sengaja membuat karyawannya melakukan apa yang diinginkan oleh pihak manajemen melalui rasa takut, intimidasi, dan paksaan dapat digambarkan sebagai suatu perilaku abusive (Ebeid, dkk., 2013). Perusahaan atau organisasi yang abusive cenderung minim dalam memperhatikan kebutuhan sumber daya manusia yang dimiliki serta sering kali mengabaikan perasaan karyawannya (Powell, 1998). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa abusive workplace merupakan suatu tindakan yang diberikan pada pekerja oleh pihak lain di tempat kerja dan memberikan dampak merugikan bagi berbagai pihak.

Kasus abusive workplace cenderung sulit terdeteksi karena korban jarang melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang berwenang di perusahaan atau organisasi. Hal tersebut terjadi karena korban cenderung memiliki status pekerjaan yang lebih rendah dari pelaku sehingga jarang membuat keluhan atau laporan secara

(39)

formal, selain itu korban cenderung tidak memiliki pengetahuan dan sumber daya lainnya yang dapat membantu dirinya untuk menentang perilaku diskriminatif yang mereka peroleh (Berrey, dkk., 2017). Namun, Ebeid, dkk (2013) menemukan bahwa kasus abusive workplace tidak hanya terjadi kepada karyawan yang memiliki status pekerjaan lebih rendah, tetapi dapat terjadi pula pada manajer, supervisor, bahkan kepada seluruh anggota dari suatu divisi tertentu. Beberapa bentuk perilaku abusive di tempat kerja yang diperoleh seperti memperoleh jam kerja yang panjang, diminta oleh atasan memecahkan suatu masalah tetapi tidak diberikan alat, sumber daya, ataupun kekuasaan untuk mendukung pemecahan masalah serta berbagai tindakan lainnya yang memberikan dampak negatif.

2. Penyebab Workplace Abuse

Workplace abuse dapat terjadi karena berbagai faktor penyebab. Salah satunya karena “kesengajaan” perusahaan atau organisasi yang kurang peduli terhadap kebutuhan dan keadaan sumber daya manusianya (Powell, 1998). Ebeid, dkk.

(2013) menambahkan bahwa workplace abuse juga dapat terjadi karena berbagai tren dalam dunia industri dan organisasi seperti downsizing, pengaturan ulang karyawan yang berdampak pada pemecatan, dorongan lingkungan, dan sebagainya sehingga korban cenderung tidak bertindak karena takut kehilangan pekerjaan mereka dan hal ini melestarikan work abuse di lingkungan kerja.

Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya abusive workplace menurut Ebeid, dkk (2013) diantaranya: 1) Individu yang memanfaatkan status dan kekuasaannya untuk mencapai kenyamanan pribadi dan mengamankan posisi mereka dengan menekan karyawan lainnya; 2) Organisasi atau perusahaan yang

“memaafkan” perilaku abusive yang diberikan oleh pihak tertentu kepada korban;

3) Tidak adanya pedoman standar perilaku terhadap bawahan dari atasan; 4) Gangguan kepribadian ataupun stres kerja yang dialami pelaku lalu dilimpahkan kepada korban; 5) Workplace abuse yang dipelajari atau diterima oleh pelaku dari orang lain sebelumnya; 6) Kepuasan pribadi pelaku karena merasa memiliki superioritas dan kendali atas korban; 7) Pekerja mentoleransi perilaku abuse yang diterima karena tidak ingin kehilangan pekerjaan dan merasa akan memperoleh perlakuan yang sama di tempat kerja yang baru; 8) Penerapan kebijakan kerja yang tidak adil dari pihak berwenang di perusahaan atau organisasi; serta 9) Stereotip

Referensi

Dokumen terkait

Informan penelitian ini adalah mahasiswa PGSD UMS angkatan tahun 2013, DPM (dosen pembimbing magang) dan guru pamong. Metode analisis data menggunakan analisis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perilaku belajar mahasiswa magang 3 terhadap minat mahasiswa menjadi guru pada Mahasiswa Program

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hipotesis ini diterima, dimana terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara simultan antara magang mahasiswa (X1)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami mahasiswa dalam memahami materi integral lipat dua pada koordinat polar mata kuliah

Hasil penelitian terhadap pengalaman 7 orang informan menunjukkan 2 tema untuk pengalaman praktek klinik, yaitu: (1) perasaan senang perawat baru dalam praktek klinik,

Pengalaman Magang, Motivasi Kerja, dan Soft Skill berpengaruh terhadap kesiapan kerja mahasiswa dalam memasuki dunia kerja Berdasarkan hasil analisis data mengenai pengaruh

Skripsi ini membahas pengaruh pengalaman magang, minat kerja, soft skill, dan hard skill terhadap kesiapan kerja mahasiswa Universitas PGRI Semarang angkatan

Pengaruh Hard Skill, Soft Skill, dan Pengalaman Magang Terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir Generasi Z Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah