HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Penerapan doktrin Business Judgement Rule dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor : 154 PK / Pid. Sus / 2012 dalam perkara Pengadaan Solenoid Valve dan Thrustor Brake pada PT. PUSRI Palembang
Penelitian hukum ini menggunakan data sekunder yang berupa Putusan Pengadilan Mahkamah Agung Nomor : 154 PK / Pid. Sus / 2012 dalam perkara Pengadaan Solenoid Valve dan Thrustor Brake pada PT. PUSRI Palembang.
a. Deskripsi Kasus
Peristiwa ini dimulai pada tanggal 6 Juni 2005 dengan adanya Surat Keputusan Direksi Nomor : SK/DIR/102/2005 tertanggal 6 Juni 2005 tentang Penyempurnaan Prosedur Operasional Baku (POB) Pengadaan Barang dan Jasa pada PT. PUSRI dan Surat Keputusan Direktur Nomor : SK/DIR/20.2008 tentang Penujukan Panitia Lelang Pengadaan Barang dan Jasa dan Pekerjaan
Borongan PT. PUSRI Sriwijaya, yang memutuskan pengadaan jasa dan pekerjaan pemborongan dilaksanakan melalui tender bersama, dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa dengan nilai di atas Rp. 500 juta secara Rush Order, dan pengadaan barang dan jasa pabrik yang nilainya Rp. 500 juta ke bawah dan untuk non pabrik yang nilainya di bawah Rp. 1 Milyar, pengadaannya dilakukan tidak melalui panitia pelelangan tetapi dilakukan oleh unit kerja pengadaan barang dan jasa yang relevan.
Pada tanggal 30 Maret 2007, dikeluarkan Surat Keputusan Direksi PT. PUPUK SRIWIJAYA Nomor : SK/DIR/073/2007 tertanggal 30 Maret 2007 yang mengangkat Ir. Hadianto Eko Putro (Terdakwa II) selaku Asisten Manager Pembelian Material Dinas Pembelian Material PT. PUSRI.
Pada tanggal 29 November 2007, dikeluarkan Surat Putusan Direksi PT. PUPUK SRIWIJAYA Nomor : SK/DIR/258/2007 tertanggal 29 November 2007 yang mengangkat Ir. Faisal Muaz (Terdakwa I) selaku Manager Pengadaan PT. PUSRI.
Pada tahun 2008, PT. PUSRI melaksanakan kegiatan pengadaan barang/jasa berupa 2 (dua) Solenoid Valve dan Thrustor Brake, dengan sumber dana berasal dari Alokasi Anggaran Gudang PT. PUSRI Palembang tahun 2008 sebesar 21.100,00 Euro atau senilai dengan Rp. 280.000.000,00 (dua ratus delapan puluh juta rupiah) dengan spesifikasi barang Solenoid Valve Part No. 4 WE6H3XW220.50N Voltage 220-VAC Freq. 50 Hz, 46 VA MFG: REXROTH HYDRONORMANY GERMANY. Dengan ketentuan dalam Memo Permintaan Evaluasi (MPE) yang diterbitkan oleh Asmen Pergudangan, harga pembelian terakhir tahun 2002 sebesar Rp. 3.992.625,00 (tiga juta sembilan ratus sembilan puluh dua ribu enam ratus dua puluh lima rupiah). Nilai barang sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah) berdasarkan Purchase Order (PO) tidak perlu tender, melainkan Penunjukan Langsung (PL) dengan
mengundang rekanan tetap PT. PUSRI, yaitu CV. Vania; CV. Ayu Fitria Abadi; Halimah; Amanda; A.M.D.; Tanjung Jaya; dan CV. Kuala Simpang;
Dari tujuh rekanan, terdapat tiga rekanan (CV. Kuala Simpang, CV. A.M.D., CV. Tanjung Jaya) menjawab klarifikasi hasil evaluasi teknis yang dilakukan oleh Koordinator Teknik Keandalan/Tim Evaluasi Teknis yang dinyatakan disarankan dan layak untuk mengikuti tahapan berikutnya, dengan penawaran CV. Kuala Simpang dengan nilai penawaran 2 EA EUR 7,225.00 sebesar Rp. 210.224.813,50 (dua ratus sepuluh juta dua ratus dua puluh empat ribu delapan ratus tiga belas rupiah lima puluh sen), CV. A.M.D. dengan nilai penawaran 2 EA EUR 7,250.00 sebesar Rp. 210.952.235,00 (dua ratus sepuluh juta sembilan ratus lima puluh dua ribu dua ratus tiga puluh lima rupiah), dan CV. Tanjung Jaya dengan nilai penawaran 2 EA EUR 8,210.00 sebesar Rp. 238.885.220, 60 (dua ratus tiga puluh delapan juta delapan ratus delapan puluh lima ribu dua ratus dua puluh rupiah enam puluh sen).
Terdakwa I dan Terdakwa II menentukan pemenang melakukan tahapan E-Auction/Nego Harga yang sepatutnya harus diketahuinya bahwa barang yang ditawarkan rekanan (CV. Kuala Simpang) tidak layak untuk dipakai (karena tidak ada HPS/Pagu Anggaran), namun tetap dipakai dan CV. Kuala Simpang dimenangkan dengan harga barang 2 (dua) spare part EA SOLENOID VALVE PART No. 4 WE6H3XEW220.50N Voltage : 220-VAC, Freq. 50 Hz, 46 VA MFR: Rexroth Hydronorma Germany seharga 14.450 Euro (empat belas ribu empat ratus lima puluh euro) atau senilai Rp. 210.224.813,50,00 (dua ratus sepuluh juta dua ratus dua puluh empat ribu delapan ratus tiga belas lima puluh sen).
Untuk memenangkan CV. Kuala Simpang, para Terdakwa tanpa melakukan pengecekan harga distributor untuk menanyakan kepastian harga satu unit Solenoid Valve dan tidak membuat harga estimasi dan tidak pula melakukan harga pembanding pembelian material yang sejenis, melainkan menyetujui saja penawaran yang diajukan oleh CV. Kuala Simpang karena telah dilakukan negosiasi harga dengan Deddy Zatta selaku Direktur CV. Kuala Simpang.
Dalam pelaksanaan pengadaan 2 (dua) spare part Solenoid Valve, CV. Kuala Simpang tidak sesuai dengan permintaan pembelian speknya, yaitu No. 31289, PR No. 49106, namun oleh para terdakwa tetap menerima barang yang dikirimkan sebagai pengganti Solenoid Valve Part No. 4WE6H3W220.50N dengan Solenoid Valve Part No. 4WE6H6XEW220NK9K4, tanpa memperhitungkan harga pembelian sesuai dengan diperjanjikan dan melakukan pembayaran 2 item Solenoid Valve tersebut karena CV. Kuala Simpang telah menjadi rekanan PT.PUSRI.
Berdasarkan bukti pembelian INVOICE dari PT. TECHHINDO CONTRAMATRA yang sesuai dengan jenis barang Solenoid Valve No. 4WE6H6XEW230NK9K4 dengan harga USD 792 atau sekitar Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
Akibat perbuatan para terdakwa telah merugikan keuangan negara Cq. PT. PUSRI sebesar Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
b. Putusan
1) Putusan Pengadilan Negeri Palembang dengan Nomor perkara : 982/Pid.B/2010/PN.PLG tertanggal 11 Agustus 2011, menyatakan: a) Menyatakan Terdakwa I Ir. Faisal Muaz dan Terdakwa II Ir.
Hadianto Eko Putro tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan primair;
b) Membebaskan Terdakwa I dan Terdakwa II dari dakwaan primair tersebut;
c) Menyatakan Terdakwa I Ir. Faisal Muaz dan Terdakwa II Ir. Hadianto Eko Putro telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “KORUPSI SECARA BERSAMA-SAMA”;
d) Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa I dan Terdakwa II, oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing selama 1 (satu) tahun dan denda masing-masing Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar, maka akan diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan;
e) Menetapkan barang bukti berupa 104 (seratus empat) buah surat (sebagaimana terlampir) dan uang sebesar Rp. 160.000.000,00 (seratus enam puluh juta rupiah) dipergunakan untuk pembayaran:
(1) Uang denda masing-masing terdakwa Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
(2) Uang sebesar Rp. 53.350.000,00 (lima puluh tiga juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah) dikembalikan kepada Jaksa/Penuntut Umum untuk dipergunakan dalam perkara Deddy Zatta;
(3) Uang sisanya sebesar Rp. 6.700.000,00 (enam juta tujuh ratus ribu rupiah) dikembalikan kepada Terdakwa I dan Terdakwa II;
f) Membebani Terdakwa I dan Terdakwa II untuk membayar biaya perkara msing-masing sebesar Rp. 3.500,00 (tiga ribu lima ratus rupiah);
2) Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Tinggi Palembang dengan Nomor perkara : 12 / MAHKAMAH AGUNG / 2011 / PT.PLG tertanggal 22 Desember 2011, menyatakan:
a) Menerima permintaan banding dari Terdakwa I dan Terdakwa II serta dari Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Palembang;
b) Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Palembang tertanggal 11 Agustus 2011 dengan Nomor perkara : 982 / PID.B / 2010 / PN.PLG yang dimintakan banding tersebut dengan mengubah dan memperbaiki sekedar mengenai pidana penjara yang dijatuhkan kepada Terdakwa I dan Terdakwa II serta status barang bukti, sehingga amar selengkapnya sebagai berikut: (1) Membebaskan Terdakwa I Ir. Faisal Muaz dan Terdakwa II
Ir. Hadianto Eko Putro tersebut di atas tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan primair;
(2) Membebaskan Terdakwa I Ir. Faisal Muaz dan Terdakwa II Ir. Hadianto Eko Putro dari dakwaan primair tersebut; (3) Menyatakan Terdakwa I Ir. Faisal Muaz dan Terdakwa II Ir.
Hadianto Eko Putro telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “KORUPSI SECARA BERSAMA-SAMA”;
(4) Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa I dan Terdakwa II tersebut dengan pidana penjara masing-masing selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan serta denda masing-masing sebesar Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
(5) Menyatakan bahwa apabila denda itu tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan; (6) Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa I
dan Terdakwa II dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan itu;
(a) Memerintahkan agar Terdakwa tetap ditahan;
(b) Menetapkan barang bukti berupa uang sebesar Rp.160.000.000,00 (seratus enam puluh juta rupiah) sebagiannya yaitu sebesar Rp. 53.325.000,00 (lima puluh tiga juta tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah) dikembalikan kepada terdakwa I Ir. Faizal Muaz, sebagiannya lagi yaitu sebesar Rp. 53.325.000,00 (lima puluh tiga juta tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah) dikembalikan kepada Terdakwa II Ir. Hadianto Eko Putro dan sebagiannya lagi sebesar Rp. 53.350.000,00 (lima puluh tiga juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah) dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dijadikan barang bukti dalam perkara Terdakwa Deddy Zatta dan surat sebanyak 104 (seratus empat) buah dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dipergunakan sebagai barang bukti dalam perkara Deddy Zatta;
(c) Membebankan kepada Terdakwa I dan Terdakwa II untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan yang untuk tingkat banding ditetapkan masing-masing Terdakwa sebesar Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah).
3) Putusan Penunjauan Kembali pada Mahkamah Agung Republik Indonesian dengan Nomor perkara : 154 PK/PID.SUS/2012 tertanggal 10 Oktober 2012, menyatakan:
a. Menetapkan bahwa putusan yang dimohonkan peninjauan kembali tersebut tetap berlaku;
b. Membebankan Para Pemohon Peninjauan Kembali/Para Terpidana untuk membayar biaya perkara dalam Peninjauan
Kembali ini sebesar Rp. 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah);
2. Pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor : 154 PK / Pid. Sus / 2012 dalam perkara Pengadaan Solenoid Valve dan Thrustor Brake pada PT. PUSRI Palembang
Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya perbuatan dengan suatu ancaman pidana. Apakah orang yang melakukan perbuatan kemudian dijatuhi pidana, tergantung kepada apakah dalam melakukan perbuatan itu orang tersebut memiliki kesalahan.121 Dengan demikian, membicarakan pertanggungjawaban pidana mau tidak mau harus didahului dengan penjelasan tentang perbuatan pidana. Sebab seseorang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana tanpa terlebih dahulu ia melakukan perbuatan pidana. Adalah dirasakan tidak adil jika tiba-tiba seseorang harus bertanggung jawab atas suatu tindakan, sedang ia sendiri tidak melakukan tindakan tersebut.122 Sebelum membahas pertanggungjawaban secara lebih rinci, Widyo Pramono dalam bukunya yang mengutip Romli Atmasasmita memberikan gambaran concept of liability sebagai berikut :
Bagan 1. Konsep Pertanggungjawaban Pidana
121 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Cetakan Kedelapan, Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hlm. 165. Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1983, hlm. 25.
122 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana; Dua Pengertian Dasar dalam Hukum Pidana, Cetakan Ketiga, Aksara Baru, Jakarta, 1983, hlm. 20-23.
INTENTIONAL ACTION CONCEPT OF LIABILITY (philosophical point of view)
AGGRESSION AGREEMENT
DUTY TO REPAIR INJURY DUTY TO CARRY FORMAL UNDERTAKING
S E B E L U M A B A D 1 9 S E S U D A H A B A D 1 9
Keterangan :
Pertanggungjawaban pidana (toerekenbaarheid-Bld atau criminal liability-Ing), sesungguhnya tidak hanya menyangkut soal hukum semata-mata, melainkan juga menyangkut soal nilai-nilai moral atau kesusilaan umum yang dianut oleh suatu masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat. Perkembangan pesat masyarakat dan teknologi pada abad ke-21 telah menimbulkan perkembangan terhadap pandangan atau persepsi masyarakat tentang nilai-nilai kesusilaan umum, walaupun secara prinsipil nilai-nilai kesusilaan umum tidak mengalami perubahan terutama terhadap perbuatan-perbuatan seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan atau kejahatan terhadap jiwa dan badan serta terhadap harta benda.
Perubahan pandangan masyarakat terjadi terhadap perbuatan-perbuatan yang bersifat pribadi (private conduct) terutama masyarakat barat mengalami perubahan yang pesat. Berlainan dengan masyarakat timur khususnya masyarakat di beberapa negara ASEAN yang tidak 1. Changes concept of liability, was put in metaphysical from rather than ethical form. 2. Law was a realization of liberty and existed to bring about the widest possible
individual liberty (the individual liberty = the will in action). 3. The central point in the theory of liability is an abstract individual.
19th CENTURY BASES LIABILITY
LEGAL TRANSACTION “implied” (not assumed a duty) CULPABLE CONDUCT “deemed culpable”
(was not actually culpable)
The ultimate basis in WILL
=
THE FUNDAMENTAL CONCEPTION IN LEGAL LIABILITY
=
THE CONCEPTION OF AN ACT (ACT = a manifestation of the will in the
external world)
mengalami banyak perubahan pandangan terhadap nilai-nilai kesusilaan umum perbuatan-perbuatan yang bersifat pribadi (privat conduct).123 Dalam hukum pidana konsep “pertanggungjawaban” itu merupakan
konsep sentral yang dikenal dengan ajaran kesalahan. Dalam bahasa Latin ajaran kesalahan dikenal dengan sebutan mens rea. Doktrin mens rea dilandaskan pada suatu perbuatan tidak mengakibatkan seseorang bersalah kecuali jika pikiran orang itu jahat. Dalam bahasa inggris doktrin tersebut dirumuskan dengan an act does not make a person guilty, unless the mind is legally blameworthy. Berdasar asas tersebut, ada dua syarat yang harus dipenuhi untuk dapat memidana seseorang, yaitu ada perbuatan lahiriah yang terlarang/perbuatan pidana (actus reus), dan ada sikap batin jahat/tercela (mens rea).124
Pertanggungjawaban pidana diartikan sebagai diteruskannya celaan yang obyektif yang ada pada perbuatan pidana dan secara subyektif yang ada memenuhi syarat untuk dapat dipidana karena perbuatan itu. Dasar adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, sedangkan dasar dapat dipidananya pembuat adalah asas kesalahan. Ini berarti bahwa pembuat perbuatan pidana hanya akan dipidana jika ia mempunyai kesalahan dalam melakukan perbuatan pidana tersebut. Kapan seseorang dikatakan mempunyai kesalahan menyangkut masalah pertanggungjawaban pidana.125 Oleh karena itu, pertanggungjawaban pidana adalah pertanggungjawaban orang terhadap tindak pidana yang dilakukannya. Tegasnya, yang dipertanggungjawabkan orang itu adalah tindak pidana yang dilakukannya. Terjadinya pertanggungjawaban pidana karena telah ada tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang. Pertanggungjawaban pidana pada hakikatnya merupakan suatu mekanisme yang dibangun oleh
123 Widyo Pramono, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Hak Cipta, edisi Pertama, ctk. Pertama, PT. Alumni, Bandung, 2012, hlm. 78-89.
124Hanafi, “Reformasi Sistem Pertanggungjawaban Pidana”, Jurnal Hukum, Vol. 6 No.
11 Tahun 1999, hlm. 27.
125 Roeslan Saleh, op. cit., hlm. 75.
hukum pidana untuk bereaksi terhadap pelanggaran atas “kesepakatan menolak” suatu perbuatan tertentu.126 Sudarto mengatakan bahwa dipidananya seseorang tidaklah cukup apabila orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan, namun hal tersebut belum memenuhi syarat penjatuhan pidana. Untuk pemidanaan masih perlu adanya syarat untuk penjatuhan pidana, yaitu orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah. Orang tersebut harus dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatannya, perbuatan baru dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut.127
B. Pembahasan
1. Penerapan doktrin Business Judgement Rule dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor : 154 PK / Pid. Sus / 2012 dalam perkara Pengadaan Solenoid Valve dan Thrustor Brake pada PT. PUSRI Palembang
Korupsi menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh semua kalangan, dari kalangan atas sampai kalangan akar rumput. Korupsi bukan masalah baru dalam persoalan hukum dan ekonomi dalam suatu bangsa dan negara, karena korupsi telah ada sejak adanya peradaban masyarakat dari ribuan tahun yang lalu, baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.128 Globalisasi yang berkembang di semua lini kehidupan juga membawa dampak yang cukup signifikan bagi adanya perluasan subyek hukum. Apabila dahulu hanya dikenal manusia (persoon) sebagai subyek dari hukum, maka saat ini korporasi
126 Chairul Huda, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Cetakan Kedua, Kencana, Jakarta, 2006, hlm. 68.
127 Sudarto, Hukum Pidana I, Badan Penyediaan Bahan-Bahan Kuliah, FH UNDIP, Semarang, 1988, hlm. 85.
128 Edi Yunara, Korupsi dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi (Berikut Studi Kasus), ctk. Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hlm. 1.
dapat pula dimasukkan ke dalam subyek hukum. Subyek hukum merupakan pihak yang memiliki kewenangan terhadap segala hak dan kewajiban yang diberikan oleh hukum untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam pengadilan maupun dalam pergaulan hukum di masyarakat.129 Subyek hukum merupakan terjemahan dari kata rechtsubject (Bahasa Belanda), persona moralis (Bahasa Latin) dan dari kata law of subject atau legal persons (Bahasa Inggris) yang diartikan sebagai pendukung hak dan kewajiban, yaitu manusia dan badan hukum.130 Subyek hukum juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum yang meliputi manusia (naturlijke person) dan badan hukum (rechtpersoon).131 Pengertian subyek hukum dari Abdulkadir Muhammad menjelaskan bahwa subyek hukum adalah orang, yaitu pendukung hak dan kewajiban. Orang dalam pengertian hukum dapat terdiri dari manusia pribadi dan badan hukum. Manusia pribadi adalah subyek hukum dalam arti biologis sebagai makhluk sosial, sedangkan badan hukum adalah subyek hukum dalam arti yuridis sebagai gejala dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan badan ciptaan manusia berdasarkan hukum, memiliki hak dan kewajiban seperti manusia pribadi.132
Korporasi dikenal dalam hukum perdata maupun hukum pidana. Korporasi dalam hukum perdata dikenal sebagai badan hukum (rechtspersoon) atau dalam bahasa Inggris disebut dengan legal entities atau corporation, bahasa Jerman disebut corporation, dan bahasa Belanda
129 Dijan Widijowati. Hukum Dagang, Edisi Pertama, Andi, Yogyakarta, 2012, hlm. 13.
130 Titik Triwulan Tutik dalam Dijan Widijowati. 2012. Hukum Dagang, Edisi Pertama, Yogyakarta: Andi, hlm. 13.
131 A. Ridwan Halim dalam Dijan Widijowati. 2012. Hukum Dagang, Edisi Pertama, Yogyakarta: Andi, hlm. 13.
132 Adbdulkadir Muhammad dalam Dijan Widijowati. 2012. Hukum Dagang, Edisi Pertama, Yogyakarta: Andi, hlm. 14.
disebut corporatie133 yang berasal dari kata corporation dalam bahasa Latin.
Hukum pidana juga mengakui keberadaan korporasi sebagai subyek hukum. Secara garis besar apa yang disebut korporasi dalam hukum perdata sama dengan apa yang disebut korporasi dalam hukum pidana. Perbedaannya sebagaimana dikemukakan oleh Sutan Remy Sjahdeini, korporasi dilihat dari bentuk hukumnya dapat diberi arti yang sempit maupun arti yang luas. Menurut artinya yang sempit, korporasi adalah badan hukum, sedangkan dalam artinya yang luas, korporasi dapat berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum.
Dalam artinya yang sempit, yaitu sebagai badan hukum, korporasi merupakan figur hukum yang eksistensinya dan kewenangannya untuk dapat atau berwenang melakukan perbuatan hukum diakui oleh hukum perdata, artinya hukum perdatalah yang mengakui “eksistensi” korporasi dan memberikannya “hidup” untuk dapat atau berwenang melakukan perbuatan hukum sebagai suatu figur hukum. Demikian juga halnya dengan “matinya” suatu korporasi secara hukum adalah apabila “matinya” korporasi itu diakui oleh hukum.
Dalam artinya yang luas, pengertian korporasi tersebut dapat dilihat dari sudut pandang hukum pidana yang lebih luas daripada pengertiannya menurut hukum perdata. Dalam hukum pidana, korporasi meliputi baik badan hukum maupun bukan badan hukum. Badan hukum yang dimaksudkan tersebut bukan saja seperti perseroan terbatas, yayasan, koperasi atau perkumpulan yang telah disahkan sebagai badan hukum yang digolongkan sebagai korporasi menurut hukum pidana, tetapi juga firma, perseroan komanditer atau CV, dan persekutuan atau maatschap, yaitu
133 Rudhy Prasetya, Perkembangan Korporasi dalam Proses Modernisasi, Makalah pada Seminar Nasional: Kejahatan Korporasi, yang dilaksanakan oleh Fakultas Hukum Undip, Semarang, 1989, hlm. 2 dalam Edi Yunara, Korupsi dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi (Berikut Studi Kasus), ctk. Kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hlm. 25.
badan-badan usaha yang menurut hukum perdata bukan suatu badan hukum.
Selanjutnya, sekumpulan orang-orang yang terorganisasi dan memiliki pimpinan dan melakukan perbuatan hukum, misalnya melakukan perjanjian dalam rangka kegiatan usaha atau kegiatan sosial yang dilakukan oleh pengurusnya untuk dan atas nama kumpulan orang tersebut, juga termasuk ke dalam apa yang dimaksudkan dengan korporasi sesuai dengan hukum perjanjian dalam sistem hukum perdata.
Korporasi berasal dari kata “corporation”, dari kata kerja
corporare. Corporare sendiri berasal dari kata “corpus” (Indonesia = badan), yang berarti memberikan badan atau membadankan. Dengan demikian, corporation itu berarti hasil dari pekerjaan membadankan, dengan perkataan lain badan yang dijadikan orang, badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia, yang terjadi menurut alam. Dalam buku lain, penulis menemukan bahwa apabila berbicara tentang korporasi, maka tidak bisa melepaskan pengertian tersebut dari bidang hukum perdata. Korporasi adalah suatu badan hasil cipta hukum. Badan yang diciptakannya itu terdiri dari corpus, yaitu struktur fisiknya dan ke dalamnya hukum memasukkan unsur animus yang membuat badan itu mempunyai kepribadian. Oleh karena badan hukum itu merupakan ciptaan hukum maka kecuali penciptaannya, kematiannya pun juga ditentukan oleh hukum.
Korporasi sering pula disebut sebagai legal entities atau rechtsperson dengan maksud untuk menjelaskan bahwa badan tersebut memiliki identitas hukum yang memiliki kekayaan serta hak dan kewajiban yang terpisah dari anggota-anggotanya.
Alan R. Palmiter memberikan definisi korporasi sebagai berikut:
What is a “corporation” ? It is a framework by which
people conduct modern business. It is a convenient legal entity that can enter into contracts, own property, and be a party in court. It comes in assorted sizes, from a publicly held multinational conglomerate to a one-person business. The
corporation is a creature of law – a legal construct. Nobody (not even your law professor) has even seen one.134
(Terjemahan : Apakah korporasi itu ? Korporasi merupakan kerangka yang memungkinkan orang melakukan bisnis modern.