• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Proses Penelitian

Pelaksanaan penelitian diawali dengan melakukan pengamatan yang bertujuan untuk mengetahui keadaan hasil belajar dan awal kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Matematika sebelum penerapan pembelajaran inovatif tipe Problem Based Learning (PBL). Data untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa diperoleh dari nilai tahun sebelumnya yaitu 2014/2015 khususnya pada materi perkalian dan pembagian.

Kondisi awal dijadikan sebagai bahan untuk melaksanakan tindakan pada siklus I dan siklus II.

Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran tipe Problem Based Learning (PBL). Langkah- langkah kegiatan menggunakan pembelajaran tipe PBL menurut Arends (dalam Ngalimun, 2012: 96) adalah sebagai berikut:

a. Langkah pertama: Orientasi siswa pada masalah

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan jelas, menunbuhkan sikap positif terhadap pelajaran.

b. Langkah kedua: Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Siswa menyelidiki masalah secara bersama-sama, oleh karena itu siswa di bentuk kedalam kelompok-kelompok belajar. Guru membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan.

c. Langkah ketiga: Membantu penyelidikan siswa

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data-data sampai siswa benar-benar memahami masalah tersebut. Setelah itu siswa menjelaskan dan memaparkan pemecahan masalah. Guru mendorong semua ide siswa dan menerima semua ide-ide tersebut.

d. Langkah keempat: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang akan disajikan. Masing-masing kelompok menyajikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh ketika diskusi.

e. Langkah kelima: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Siswa diberi kesempatan untuk menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, juga untuk mengevaluasi ketrampilan penyelidikan dan ketrampilan intelektual yang mereka gunakan. 2. Penjelasan Proses Pembelajaran

Penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar dan Kemampuan

Berpikir Kritis Matematika Kelas III pada Materi Perkalian dan Pembagian Melalui Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) SD

Kanisisus Klepu” telah dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2015 – 4 November 2015.

a. Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan siklus I dimulai tanggal 8 dan 12 Oktober. Pelaksanaan siklus I dilakukan sebanyak dua kali pertemuan, dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2 x 35 menit.

1) Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan peneliti adalah mempersiapkan segala sesuatu yang digunakan dan dibutuhkan dalam proses penelitian ini. Persiapan tersebut meliputi penyusunan silabus, RPP, LKS, dan soal evaluasi. Selain itu peneliti juga menyusun kuesioner berpikir kritis matematika.

a) Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan, kegiatan pembelajaran dilakukan sebanyak dua kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuannya 2 x 35 menit (2 jam pelajaran) karena menyesuaikan dengan jam pelajaran yang berlaku disekolah. (1) Pertemuan I

Pertemuan pertama pada siklus I dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran) sesuai dengan alokasi yang diterapkan di SD Kanisius Klepu. Pertemuan pertama membahas tentang konsep perkalian dan juga menyinggung sedikit tentang sifat perkalian.

Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, guru membagikan kuesioner berpikir kritis matematika kepada siswa. Selanjutnya siswa memperhatikan demostrasi yang dilakukan guru, yaitu menggunakan media gambar yang diberi perekat untuk ditempelkan pada sebuah karton. Beberapa siswa diminta untuk maju kedepan kelas untuk mengisikan atau menempel gambar yang sudah disediakan di depan kelas untuk menerapkan konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang. Kemudian guru menjelaskan materi tentang sifat-sifat operasi hitung perkalian yaitu sifat pertukaran dan pengelompokan. Siswa dibagi dalam 5 kelompok yang berisi 4-5 anak setiap kelompoknya. Guru memberikan soal evaluasi tentang materi yang sudah dipelajarai

Di kegiatan akhir siswa merefleksikan hal-hal yang telah dipelajari selama kegiatan berlangsung, kesulitan apa yang dihadapi siswa selama pembelajaran. Setelah itu siswa diminta menyimpulkan materi yang telah dipelajari selama pembelajaran pada hari tersebut.

(2) Pertemuan II

Pertemuan kedua pada siklus I dilaksanakan pada hari Senin, 12 Oktober 2015 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran) sesuai dengan alokasi waktu yang ada di SD Kanisius Klepu. Pada pertemuan kedua ini

membahas tentang perkalian satu angka dengan bilangan dua angka. Kegiatan awal guru melakukan apersepsi. Setelah itu guru melakukan tanya jawab seputar perkalian untuk memancing pengetahuan siswa.

Kegiatan inti, siswa menerima penjelasan dari guru dengan cara bercerita mengenai sifat penyebaran dalam operasi hitung perkalian. Siswa mencoba memecahkan masalah berdasarkan cerita yang diberikan oleh guru. Setelah itu siswa menerima penjelasan dari guru mengenai cara mengalikan bilangan satu angka dengan bilangan dua angka. Siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara individu.

Siswa mengakhiri kegiatan pada hari itu dengan refleksi dan menyimpulkan materi bersama-sama. Selanjutnya mengerjakan soal evaluasi akhir siklus I secara Individu.

b) Pengamatan

Pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan peneliti diibantu oleh teman sejawat untuk melakukan kegiatan observasi dan untuk mendokumentasikan kegiatan proses belajar mengajar.

c) Refleksi

Setelah melaksanakan siklus I, peneliti melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan. Refleksi yang

dilakukan peneliti mencakup dua aspek yaitu yaitu refleksi proses pembelajaran dan refleksi hasil belajar.

(1) Proses Pembelajaran

Siklus I pertemuan pertama dilakukan pada hari Senin, 8 Oktober 2015 selama 2 x 35 menit (2 jam pelajaran) menyesuaikan dengan alokasi waktu di SD Kanisius Klepu. Pertemuan pertama membahas tentang konsep perkalian. Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menerangkan konsep perkalian tersebut dengan beberapa gambar yang disusun mendatar untuk dijumlahkan secara berulang. Siswa kelas III di SD K Klepu ini tergolong siswa yang istimewa, yaitu dengan kebanyakan karakteristik siswa sering ramai dikelas. Beberapa dari mereka memiliki daya tangkap yang kurang dalam proses pembelajaran. Untuk menangani hal tersebut peneliti melibatkan mereka untuk aktif dalam penggunaan media gambar tersebut agar mereka lebih tertarik dan mudah menerima materi.

Pelaksanaan kegiatan pada pertemuan I sudah sesuai dengan RPP juga sudah sesuai dengan alokasi waktu yang sudah disediakan. Namun dalam penyampaian materi pada pertemuan I ini, media gambar yang peneliti gunakan ternyata terlalu kecil, sehingga siswa yang duduk dibelakang

kurang dapat melihat dengan jelas gambar apa yang ditempel di depan papan tulis.

Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan hari Senin, 12 Oktober 2015 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Pada pertemuan kedua materi yang diajarkan tentang perkalian dua angka dengan cara bersusun. Pada pertemuan ini guru menggunakan media kertas lipat yang ditulisi dengan angka-angka. Pertama-tama guru menjelaskan perkalian dengan cara bersusun menggunakan kertas lipat tersebut, dimana di papan tulis sudah disediakan kertas karton yang digunakan untuk menempel kertas lipat tersebut. Guru memberikan contoh perkalian bersusun dengan memilih angka yang ada pada kertas lipat tersebut kemudian disusun dengan cara ditempel sesuai dengan cara perkalian bersusun. Setelah menjelaskan materi guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba menggunakan media tersebut dengan memberi soal sederhana. Siswa menempelkan angka sesuai dengan soal dan juga menempelkan jawaban yang benar. Pada pertemuan kedua siswa sudah dapat diatur sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat sesuai dengan RPP yang dirancang. (2) Hasil Belajar

Perolehan hasil belajar pada siklus I dapat terlihat jelas telah mengalami peningkatan. Untuk hasil belajar mengalami

peningkatan, dari kondisi awal sebesar 72,90 (71%) menjadi 74,09 (76%) di siklus I. Selain perolehan rata-rata yang meningkat berdasarkan hasil yang didapatkan pada siklus I masih perlu dilakukan perbaikan pembelajaran baik itu dalam proses pembelajaran ataupun hasil yang didapatkan. Dengan harapan agar kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I dapat diperbaiki pada siklus II. Oleh karena itu perbaikan dilakukan dengan melanjutkan ke siklus II supaya kemampuan berpikir kritis matematika dan hasil belajar siswa dapat meningkat lebih maksimal.

b. Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dimulai pada hari Selasa, 3 November 2015 dan Kamis 5 November 2015 di kelas III SD Kanisius Klepu. Pelaksanaan siklus II dilakukan sebanyak dua kali pertemuan, dengan alokasi waktu di setiap pertemuannya 2 x 35 menit (2 jam pelajaran) sesuai dengan alokasi waktu yang sudah diterapkan di tempat SD Kanisius Klepu.

1) Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan peneliti adalah mempersiapkan segala sesuatu yang digunakan dan dibutuhkan dalam penelitian ini. Persiapan tersebut meliputi penyusunan silabus, RPP, LKS dan soal evaluasi. Selain itu peneliti akan memberikan kuesioner kemampuan berpikir kritis siswa pada akhir pembelajaran siklus II. 2) Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan, kegiatan pembelajaran dilakukan sebanyak dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran) sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ada di SD Kanisius Klepu.

a) Pertemuan I

Pertemuan pertama pada siklus II dilaksanakan pada hari Selasa. 3 November 2015 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2jp). Materi yang dibahas adalah tentang konsep pembagian. Kegiatan awal diawali dengan apersepsi dari guru, setelah itu guru melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang pembagian.

Siswa melihat demonstrasi yang dilakukan guru menggunakan kelereng. Setelah itu siswa mengerjakan lembar kerja bergambar yang diberikan guru dalam kelompok. Setelah mengerjakan lembar kerja, siswa melanjutkan mengerjakan soal evaluasi. Kegiatan akhir siswa dan guru bertanya jawab tentang materi yang sudah dipelajari, membuat refleksi pembelajaran dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari. b) Pertemuan II

Pertemuan kedua pada siklus II dilaksanakan pada hari Kamis, 5 November 2015 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2jp). Materi yang dibahas adalah pembagian dua bilangan dengan cara bersusun. Kegiatan diawali dengan apersepsi,

setelah itu guru memberikan materi. Selanjutnya siswa mengerjakan soal diskusi tentang operasi hitung campuran.

Kegiatan akhir siswa membuat refleksi pembelajaran dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Sebelum ditutup dengan doa siswa mengerjakan soal evaluasi akhir siklus II secara individu dan mengisi kuesioner kemampuan berpikir kritis matematika.

3) Pengamatan

Peneliti melakukan pengamatan melalui observasi dan dengan memberikan kuesioner berpikir kritis kepada siswa setelah proses pembelajaran siklus II selesai. Berdasarkan hasil observasi kemampuan berpikir kritis siswa kelas III, sudah nampak hanya saja masih ada beberapa anak yang belum menunjukkan kemampuan berpikir kritis sesuai dengan indikator yang sudah ditentukan peneliti.

4) Refleksi

Setelah melaksanakan siklus II, peneliti melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan. Refleksi yang dilakukan peneliti mencakup dua aspek yaitu refleksi proses pembelajaran dan refleksi hasil belajar.

a) Proses Pembelajaran

Siklus II dilaksanakan selama dua pertemuan yaitu tanggal 3 dan 5 November 2015. Pada pertemuan di siklus II, dimulai dengan tanya jawab terlebih dahulu. Dalam siklus II

siswa sudah terlihat lebih aktif dan berani dalam mengemukakan pendapat secara tertib dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Siswa juga sangat senang dan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II pertemuan I sudah sesuai dengan RPP dan berjalan dengan baik.

Pada siklus II pertemuan kedua, siswa sudah lebih berani dalam melakukan tanya jawab dengan guru, serta mengemukakan pendapat mereka dengan tertib. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan ini sudah dapat berjalan baik. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua ini juga sudah sesuai dengan RPP yang disusun.

b) Hasil Belajar

Perolehan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis pada siklus II dapat terlihat jelas mengalami peningkatan. Pada siklus I rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu 68,76 dengan KKM 65, sedangkan perolehan rata-rata meningkat menjadi 79,38 di siklus II dengan KKM 70. Selain perolehan rata-rata meningkat, persentase pemerolehan KKM juga mengalami peningkatan. Persentase siswa yang mencapai KKM pada siklus I adalah 56 % (14 siswa) dari 25 siswa, dan yang tidak mencapai KKM sebesar 44 % (11 siswa), meningkat pada siklus II sebanyak 80 % (20 siswa) yang sudah mencapai KKM dan 20 % (5 siswa) yang belum mencapai KKM.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pada siklus II dapat berjalan dengan baik dan dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Berdasarkan pencapaian yang telah didapatkan tersebut maka penelitian ini dihentikan sampai siklus II.

3. Hasil Belajar

a. Kondisi Awal Sebelum Penelitian

Peneliti mendapat data nilai hasil belajar matematika melalui nilai ulangan harian siswa kelas III SD Kanisius Klepu satu tahun terakhir tahun pelajarn 2014/2015 pada materi perkalian dan pembagian. KKM yang digunakan adalah 60. Berikut ini adalah data nilai matematika siswa kelas III tahun pelajaran 2014/2015

Tabel 4.1 Nilai Kondisi Awal

No Nama Siswa Nilai

Evaluasi Kriteria

1 PSA 50 Tidak Tuntas

2 BVWA 50 Tidak Tuntas

3 APK 45 Tidak Tuntas

4 ACV 55 Tidak Tuntas

5 TAE 65 Tuntas 6 AW 50 Tidak Tuntas 7 BRPY 70 Tuntas 8 BJWK 55 Tidak Tuntas 9 CNMW 80 Tuntas 10 DA 70 Tuntas 11 EV 45 Tidak Tuntas 12 FNA 90 Tuntas 13 FMKR 80 Tuntas

14 GWM 85 Tuntas

15 HBS 50 Tidak Tuntas

16 JPH 55 Tidak Tuntas

17 MHPY 70 Tuntas

18 RKAP 50 Tidak Tuntas

19 SNR 80 Tuntas 20 SGP 55 Tidak Tuntas 21 SNE 80 Tuntas 22 VDRD 65 Tuntas 23 VJM 75 Tuntas 24 GPP 50 Tidak Tuntas Jumlah Nilai 1520 Rata-rata 63,3

Jumlah Siswa Tuntas 12

Presentase Jumlah Siswa Tuntas 50% ( 12 siswa)

Tabel diatas menunjukkan data keadaan awal hasil belajar siswa mata pelajaran matematika siswa kelas III satu tahun terakhir pada materi perkalian dan pembagian dengan standar KKM 60. Dari data diatas diperoleh nilai rata-rata 63,3 dengan nilai tertinggi yang di dapatkan oleh siswa adalah 90 sedangkan nilai terendah adalah 45 dari standar KKM yang sudah ditentukan. Dari table di atas terlihat bahwa siswa yang mencapai KKM sebanyak 50% dari seluruh siswa yang berjumlah 24 orang.

b. Hasil Belajar Siklus I

Hasil belajar siswa didapatkan dari nilai evaluasi yang dilakukan di akhir siklus I dengan menaikkan Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) dari kondisi awal 60 menjadi 65 dengan mempertimbangkan masukan dari guru kelas. Data hasil belajar kognitif siswa siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.2 Nilai hasil belajar siswa siklus 1

No Nama Siswa Nilai

Evaluasi Kriteria

1 F P M 46,6 Tidak Tuntas

2 A K L 86,6 Tuntas

3 ADK 60 Tidak Tuntas

4 APW 86,6 Tuntas 5 AFA 73,3 Tuntas 6 BRRF 73,3 Tuntas 7 CV 73,3 Tuntas 8 DPK 100 Tuntas 9 EKN 86,6 Tuntas 10 EDP 80 Tuntas 11 FSA 86,6 Tuntas 12 GO 46,6 Tidak Tuntas 13 GFW 86,6 Tuntas 14 GES 86,6 Tuntas 15 GDS 80 Tuntas 16 KJ 60 Tidak Tuntas 17 MDA 86,6 Tuntas 18 MPA 73,3 Tuntas 19 NARW 86,6 Tuntas 20 OBDN 86,6 Tuntas 21 RRW 73,3 Tuntas 22 VF 73,3 Tuntas

23 PREM 40 Tidak Tuntas

24 YAPN 73,3 Tuntas

25 ADBA 46,6 Tidak Tuntas

Jumlah nilai 1852

Rata –rata 74,09

Jumlah Siswa Tuntas 19

Persentase Siswa Tuntas 76 %

Berdasarkan tabel 4.2 jumlah siswa adalah 25 siswa, jumlah nilai 1852 dengan nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas III materi perkalian

nilai di atas KKM. Data hasil nilai evaluasi siklus I secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 6.

c. Hasil Belajar Siklus II

Hasil belajar siswa didapatkan dari nilai evaluasi yang dilakukan di akhir siklus II dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70, peneliti mencoba menaikkan KKM setelah berdiskusi dengan guru kelas. Data hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.3 Nilai Evaluasi Siklus II

No Nama Siswa Nilai Evaluasi Kriteria 1 F P M 64,2 Tidak Tuntas 2 A K L 71,4 Tuntas 3 ADK 71,4 Tuntas 4 APW 78,5 Tuntas

5 AFA 64,2 Tidak Tuntas

6 BRRF 71,4 Tuntas

7 CV 85,7 Tuntas

8 DPK 85,7 Tuntas

9 EKN 92,8 Tuntas

10 EDP 64,2 Tidak Tuntas

11 FSA 100 Tuntas 12 GO 64,2 Tidak Tuntas 13 GFW 85,7 Tuntas 14 GES 78,5 Tuntas 15 GDS 78,5 Tuntas 16 KJ 92,8 Tuntas 17 MDA 85,7 Tuntas 18 MPA 100 Tuntas 19 NARW 78,5 Tuntas

20 OBDN 64,2 Tidak Tuntas

21 RRW 78,5 Tuntas

22 VF 100 Tuntas

23 PREM 71,4 Tuntas

25 ADBA 85,7 Tuntas

Jumlah Nilai 1985

Rata –rata 79,38

Jumlah Siswa Tuntas 20

Persentase Siswa Tuntas 80 %

Berdasarkan tabel 4.3 jumlah seluruh siswa adalah 25 siswa didapatkan jumlah nilai dengan rata-rata yang diperoleh siswa kelas III pada materi perkalian dan pembagian sebesar 79,38. Sebanyak 20 siswa dikatakan tuntas karena dapat mencapai nilai diatas KKM. Maka siklus II ini dikatakan berhasil dan tidak melanjutkan ke siklus berikutnya. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9.

Peneliti menyajikan data persentase hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis berupa tabel, sedangkan peningkatan hasil belajar dan persentase pencapaian KKM menggunakan diagram agar mempermudah peneliti untuk dapat melihat adanya peningkatan dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II maka peneliti memaparkan dalam bentuk tabel seperti berikut:

Tabel 4.4 Data Hasil Belajar Rata – rata Nilai

Kondisi awal Siklus I Siklus II

63,33 74,09 79,38

Persentase Ketuntasan

50 % 76 % 80 %

Berdasarkan tabel 4.4 hasil belajar siswa kelas III mengalami peningkatan, hal ini lebih jelasnya akan dijabarkan melalui diagram.

Diagram peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil soal evaluasi setiap akhir siklus I dan siklus II yang telah dikerjakan siswa apakah siswa dapat mencapai KKM atau tidak. Diagram pencapaian nilai rata-rata dan persentase KKM dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 4.1 Nilai Rata-rata Peningkatan Hasil Belajar

Gambar 4.2 Persentase Pencapaian KKM

Dari gambar 4.1 dan 4.2 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan pada setiap siklusnya dari nilai kondisi awal persentase jumlah siswa yang

mencapai KKM sebesar 50% (12 anak) sedangkan rata-rata nilai ulangan siswa sebesar 63,33.

Pada siklus I setelah menerapkan pembelajaran PBL, nilai rata- rata yang diperoleh siswa mengalami peningkatan menjadi 74,09 dengan 19 siswa (76 %) dari 25 siswa mencapai KKM dan 6 siswa (24 %) dari 25 siswa yang tidak mencapai KKM. Perolehan hasil belajar pada siklus I dapat dikatakan berhasil karena telah melampaui kriteria ketuntasan yang diharapkan peneliti yaitu 70% dengan KKM 65, siswa dapat mencapai KKM sebesar 76 %.

Peneliti melanjutkan pada siklus II untuk meningkatkan lagi hasil belajar siswa. Pada siklus II setelah menerapkan pembelajaran PBL perolehan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Rata-rata yang didapatkan siswa sebesar 79,38 dengan 20 siswa (80 %) dari 25 siswa mencapai KKM 70 dan 5 siswa (20 %) dari 25 siswa belum mencapai KKM.

4. Kemampuan Berpikir Kritis

a. Sebelum Siklus

Pengamatan kemampuan berpikir kritis siswa dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Oktober 2015. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika di setiap indikator adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5 Skor Indikator 1 Kemampuan Berpikir Kritis Setiap Siswa

No Nama No Soal Skor Kriteria

1 2 7 15

3 ADK 3 4 4 2 13 Cukup Kritis

4 APW 4 2 4 3 13 Cukup Kritis

5 AFA 3 3 3 2 11 Tidak Kritis

6 BRRF 3 4 3 2 12 Tidak Kritis

7 CV 3 4 2 3 12 Tidak Kritis

8 DPK 4 3 2 2 11 Tidak Kritis

9 EKN 3 4 2 3 12 Tidak Kritis

10 EDP 4 3 3 4 14 Cukup Kritis

11 FSA 3 4 3 3 13 Cukup Kritis

12 GO 3 3 2 3 11 Tidak Kritis

13 GFW 3 2 2 3 10 Sangat Tidak Kritis

14 GES 2 3 3 2 10 Sangat Tidak Kritis

15 GDS 3 4 4 2 13 Cukup Kritis

16 KJ 3 3 3 3 12 Tidak Kritis

17 MDA 4 4 3 3 14 Cukup Kritis

18 MPA 4 4 4 3 15 Cukup Kritis

19 NARW 3 4 3 2 12 Tidak Kritis

20 OBDN 4 4 4 3 15 Cukup Kritis

21 RRW 3 3 2 3 11 Tidak Kritis

22 VF 3 4 2 2 11 Tidak Kritis

23 PREM 4 4 4 3 15 Cukup Kritis

24 YAPN 3 4 3 2 12 Tidak Kritis

25 ADBA 3 4 3 4 14 Cukup Kritis

Jumlah Skor Kelas 315

Rata-rata Skor Kelas 12,6 Tidak Kritis

Nilai Rata-rata Kelas 63 Tidak Kritis

Jumlah siswa yang minimal cukup

kritis 12

Persentase jumlah siswa minimal

cukup kritis 48 %

Dari tabel 4.5 diatas, dengan dasar kriteria tabel 3.11 dapat dilihat bahwa dari 25 siswa, 12 (48%) siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Hasil pengamatan kemampuan berpikir kritis siswa pada indikator 2 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.6 Skor Indikator 2 Kemampuan Berpikir Kritis Setiap Siswa

No Nama No Soal Skor Kriteria

5 6 10 11 12 13 16

1 F P M 2 2 3 2 1 4 2 16 Sangat Tidak Kritis

2 A K L 4 3 4 3 3 5 3 25 Cukup Kritis

3 ADK 4 2 2 2 2 5 3 20 Tidak Kritis

4 APW 3 4 3 3 1 5 4 23 Cukup Kritis

5 AFA 3 2 3 2 2 5 1 18 Sangat Tidak Kritis

6 BRRF 2 2 2 2 2 5 2 17 Sangat Tidak Kritis

7 CV 2 2 2 2 2 4 2 16 Sangat Tidak Kritis

8 DPK 2 2 3 4 2 4 2 19 Sangat Tidak Kritis

9 EKN 1 1 2 1 2 5 1 13 Sangat Tidak Kritis

10 EDP 2 2 3 4 2 4 2 19 Sangat Tidak Kritis

11 FSA 2 2 4 1 2 4 2 17 Sangat Tidak Kritis

12 GO 3 4 4 3 2 3 4 23 Cukup Kritis

13 GFW 3 4 3 4 2 5 3 24 Cukup Kritis

14 GES 3 4 3 2 3 4 4 23 Cukup Kritis

15 GDS 2 3 2 2 2 4 2 17 Sangat Tidak Kritis

16 KJ 3 2 3 4 3 5 3 23 Cukup Kritis

17 MDA 4 4 4 3 3 4 2 24 Cukup Kritis

18 MPA 2 2 2 3 2 3 2 16 Sangat Tidak Kritis

19 NARW 3 3 4 3 3 4 3 23 Cukup Kritis

20 OBDN 3 3 4 3 2 4 4 23 Cukup Kritis

21 RRW 2 2 4 2 2 2 2 16 Sangat Tidak Kritis

22 VF 2 3 4 2 1 4 2 18 Sangat Tidak Kritis

23 PREM 2 2 3 1 2 4 3 17 Sangat Tidak Kritis

24 YAPN 2 3 2 2 2 4 2 17 Sangat Tidak Kritis

25 ADBA 2 2 3 2 2 2 2 15 Sangat Tidak Kritis

Jumlah Skor Kelas 482

Rata-rata Skor Kelas 19,28 Tidak Kritis

Nilai Rata-rata Kelas 55,08 Tidak Kritis

Jumlah siswa yang minimal cukup kritis 9

Persentase jumlah siswa minimal cukup kritis 36%

Dari tabel 4.6 diatas, berdasarkan kriteria tabel 3.12 dapat dilihat bahwa dari 25 siswa, 9 (36%) siswa yang memiliki kemampuan berpikir cukup kritis.

Hasil pengamatan kemampuan berpikir kritis siswa pada indikator 3 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7 Skor Indikator 3 Kemampuan Berpikir Kritis Setiap Siswa

No Nama

No Soal

Skor

Kriteria

3 4 8 9 19 20

1 F P M 3 2 3 2 2 4 16 Sangat Tidak Kritis

2 A K L 3 4 3 3 3 4 20 Cukup Kritis

3 ADK 2 2 3 3 2 4 16 Sangat Tidak Kritis

4 APW 4 2 4 3 4 3 20 Cukup Kritis

5 AFA 3 3 3 3 2 2 16 Sangat Tidak Kritis

6 BRRF 2 3 4 3 2 2 16 Sangat Tidak Kritis

7 CV 3 2 3 3 3 2 16 Sangat Tidak Kritis

8 DPK 2 2 4 3 3 2 16 Sangat Tidak Kritis

9 EKN 2 4 3 2 1 1 13 Sangat Tidak Kritis

10 EDP 2 3 4 3 2 2 16 Sangat Tidak Kritis

11 FSA 3 4 4 4 2 3 20 Cukup Kritis

12 GO 3 2 4 3 4 4 20 Cukup Kritis

13 GFW 3 2 3 3 3 2 16 Sangat Tidak Kritis

14 GES 2 2 3 2 3 3 15 Sangat Tidak Kritis

15 GDS 2 3 4 2 2 2 15 Sangat Tidak Kritis

16 KJ 4 3 3 3 3 4 20 Cukup Kritis

17 MDA 3 3 3 3 2 1 15 Sangat Tidak Kritis

18 MPA 4 3 4 3 4 2 20 Cukup Kritis

19 NARW 3 4 4 3 2 4 20 Cukup Kritis

20 OBDN 2 2 2 3 2 2 13 Sangat Tidak Kritis

21 RRW 3 4 3 2 2 2 16 Sangat Tidak Kritis

22 VF 2 3 2 3 3 2 15 Sangat Tidak Kritis

23 PREM 2 3 4 2 3 2 16 Sangat Tidak Kritis

24 YAPN 3 4 3 4 3 3 20 Cukup Kritis

25 ADBA 3 3 3 2 3 2 16 Sangat Tidak Kritis

Jumlah Skor Kelas 422

Rata-rata Skor Kelas 16,88 Sangat Tidak Kritis

Nilai Rata-rata Kelas 56,26 Tidak Kritis

Jumlah siswa yang minimal cukup kritis 8

Dari table 4.7 diatas, berdasarkan kriteria tabel 3.13 dapat dilihat bahwa dari 25 siswa, 8 (32%) siswa yang memiliki kemampuan berpikir cukup kritis.

Hasil pengamatan kemampuan berpikir kritis siswa pada indikator 4 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8 Skor Rata-Rata Indikator 4 Kemampuan Berpikir Kritis Setiap Siswa

No Nama No Soal Skor Kriteria

14 17 18

1 F P M 1 2 3 6 Sangat Tidak Kritis

2 A K L 2 3 2 7 Sangat Tidak Kritis

3 ADK 3 4 3 10 Cukup Kritis

4 APW 2 3 2 7 Sangat Tidak Kritis

5 AFA 1 2 2 5 Sangat Tidak Kritis

6 BRRF 2 2 2 6 Sangat Tidak Kritis

7 CV 3 4 3 10 Cukup Kritis

8 DPK 2 2 2 6 Sangat Tidak Kritis

9 EKN 1 1 1 3 Sangat Tidak Kritis

10 EDP 2 2 2 6 Sangat Tidak Kritis

11 FSA 1 2 3 6 Sangat Tidak Kritis

12 GO 2 3 2 7 Sangat Tidak Kritis

13 GFW 2 2 3 7 Sangat Tidak Kritis

14 GES 3 3 4 10 Cukup Kritis

15 GDS 2 2 2 6 Sangat Tidak Kritis

16 KJ 2 5 4 11 Cukup Kritis

17 MDA 2 4 4 10 Cukup Kritis

18 MPA 3 3 4 10 Cukup Kritis

19 NARW 1 2 4 7 Sangat Tidak Kritis

20 OBDN 3 2 2 7 Sangat Tidak Kritis

Dokumen terkait