BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian adalah laporan keuangan tahunan perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek Indonesia selama periode tahun 2018-2020. Data ini diperoleh dari www.idx.co.id. Berikut adalah hasil kinerja keuangan perusahaan
Tabel 4. 1 Perhitungan Rasio Keuangan
No. Kode
Perusahaan Tahun Likuiditas Pertumbuhan
Pendapatan EPS Nilai Saham
Berdasarkan hasil tabel diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2018 rasio likuiditas yang tertinggi didapatkan oleh perusahaan ULTJ dengan nilai rasio likuiditas sebesar 439.81% dan rasio likuiditas terendah terdapat pada perusahaan AISA dengan nilai 15,42%.
Sedangkan pada tahun 2019 perusahaan yang memiliki rasio likuiditas tertinggi masih didapatkan oleh perusahaan ULTJ dengan nilai rasio
sebesar 444,41% dan terendah juga masih perusahaan AISA dengan nilai 41.14%. Dan untuk ditahun 2020 nilai likuiditas tertinggi adalah perusahaan ROTI dengan nilai rasio sebesar 383.03% lalu terendah ada perusahaan AISA senilai 15,42%. Dengan artian semakin tinggi nilai rasio likuiditas berarti makin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban lancar.
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan pada tahun 2018 tertinggi adalah perusahaan MYOR dengan nilai 15,58% namun mengalami penurunan dari tahun ketahun yaitu turun menjadi 4,01% ditahun 2019 lalu turun lagi menjadi -2,20%
ditahun 2020 dan nilai pertumbuhan pendapatan terendah adalah perusahaan AISA dengan nilai -18,83%. Lalu pada tahun 2019 pertumbuhan pendapatan tertinggi ada perusahaan KINO dengan nilai 29,55% namun mengalami ketidakseimbangan dari tahun ketahun yaitu pada tahun 2018 senilai 14,27% lalu pada tahun 2019 naik menjadi 29,55% lalu turun pada tahun 2020menjadi 13,98% dan nilai pertumbuhan pendapatan terendah ada perusahaan ADES dengan nilai -4,92%. Dan pada tahun 2020 tertinggi dengan niilai 10,27% adalah perusahaan ICBP. Pada perusahaan ICBP mengalami kenaikan dari tahun ketahun yaitu pada tahun 2018 dengan nilai 7,88% lalu pada tahun 2019 senilai 10,11% lalu pada tahun 2020 naik lagi menjadi 10,27%. Dan nilai pertumbuhan pendapatan ditahun terendah ditahun 2020 adalah perusahaan MLBI dengan nilai -46,52%. Dengan artian pertumbuhan pendapatan yang konsisten dianggap penting bagi perusahaan yang dijual kepublik melalui saham untuk menarik investor.
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa nilai EPS pada perusahaan MLBI mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dimana pad tahun 2018 sebesar Rp 581,30 lalu pada tahun 2019 sebesar 572,41 dan pada tahun 2020 sebesar 135,56. Sama seperti perusahaan MLBI, perusahaan UNVR juga mengalami penurunan dari tahun ketahun. Berbeda dengan perusahaan ADES justru mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Dimana pada tahun 2018 senilai Rp89,78 lalu naik ditahun 2019 senilai 142,20 lalu ditahun 2020 lagi menjadi Rp 230,19. Sama seperti perusahaan ADES, perushaan ICBP, MYOR, dan ULTJ mengalami kenaikan dari tahun ketahun. Artinya semakin meningkat nilai EPS dari tahun ketahun, maka perusahaan tersebut semakin baik karena laba perusahaan meningkat, serta perusahaan juga dapat dikatakan bertumbuh.
Terakhir pada harga saham menunjukkan bahwa pada tahun 2018 harga saham yang tertinggi didapatkan oleh perusahaan UNVR dengan harga saham sebesar Rp 45.000 dan nilai terendah terdapat pada perusahaan AISA dengan nilai Rp 0. Sedangkan pada tahun 2019 perusahaan yang memiliki nilai saham tertinggi masih didapatkan oleh perusahaan UNVR dengan harga saham sebesar Rp 42.150 dan terendah juga masih perusahaan AISA dengan nilai Rp 0 ditambah juga dengan perushaan MLBI. Dan untuk ditahun 2020 harga saham tertinggi adalah perusahaan MLBI dengan harga saham sebesar Rp 9.500 lalu terendah ada perusahaan AISA senilai Rp 0 Dengan artian semakin tinggi harga saham perusahaan maka nilai perusahaan
tersebut juga akan semakin tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi indikator dari meningkatnya kemakmuran shareholder perusahaan.
2. Analisis Uji Asumsi Klasik a) Uji Normalitas
Uji normalitas adalah uji yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel.
Apakah sebaran data berdistribusi normal atau tidak. Uji noralitas breguna untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen dan independen atau keduanya memiliki nilai distribusi normal atau tidak. Salah satu untuk melakukan uji normalitas yaitu dengan menggunakan uji grafik histogram.
Gambar 4. 1 Hasil Uji Normalitas
(Sumber: OUTPUT SPSS 24 data sekunder diolah)
Hasil pengujian grafik histogram menunjukkan bahwa model regresi terdistribusi dengan normal, dikarenakan data didalam garis melengkung dan titik tertinggi pada garis melengkung sejajar dengan 0 serta banyaknya angka disebelah 0 sama banyak atau balance.
b) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji suatu model Regresi Linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (periode sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka terdapat masalah autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu yang berkaitan satu sama lain. Berikut adalah hasil uji autokorelasi
Tabel 4. 2 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
(Sumber: OUTPUT SPSS 24 data sekunder diolah)
Dalam melakukan uji autokorelasi, perlu dengan tabel Durbin Watson, dimana dalam penelitian ini terdapat 30 sampel dan 3 variabel independen maka dapat diketahui nilai dL dan dU pada tabel Durbin Watson t=30. K=3, dL=1,2138,dan dU=1,6498.
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat d=2,213, nilai tersebut lebih besar dari dU (1,6498) dan lebih kecil dari 4-dU (2,3511). Jadi
dU,DW,4-dU = 1,6498<2,213<2,3511. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi dalam model regresi dalam penelitian ini
c) Uji Multikolinieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi yang digunakan terdapat korelasi antar variabel independen.Untuk mengetahui terjadinya multikolonieritas pada suatu model dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Model regresi dapat dikatakan terbebas dari multikolonieritas apabila nilai Tolerance diatas 0,1 dan VIF dibawah 10. Berikut merupakan tabel hasil uji multikolonieritas.
Tabel 4. 3 Uji Hasil Multikolinieritas
Coefficientsa
(Sumber: OUTPUT SPSS 24 data sekunder diolah)
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang 0,1 dimana nilai likuiditas 0,639, pertumbuhan pendapatan 0,793,dan EPS 0,722. Sementara hasil VIF juga menunjukkan hasil bahwa tidak ada satupun variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih
dari 10, dimana likuiditas 1,564, pertumbuhan pendapatan 1,260,dan EPS 1,384. Maka dapat disimpulkan data terbilang baik karena persamaan model regresi bebas dari multikolonieritas.
d) Uji Heteroskeditas
Uji Heteroskedisitas bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedasitisitas pada suatu model, dapat dilihat pada pola grafik scatterplot berikut.
Gambar 4. 2 Uji Hasil Heteroskeditas
(Sumber: OUTPUT SPSS 24 data sekunder diolah)
Berdasarkan pada gambar diatas dapat dilihat bahwa titik-titik data penyebar diatas dan dibawah atau disekitar angka 0, penyebaran titik-titik data tidak membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali, dan penyebaran titik-titik data tidak berpola. Maka hasil menunjukkan bahwa tidak terjadi heteroskedisitas.
3. Pengujian Hipotesis a. Uji T
Uji T pada tingkat kepercayaan 95% dari hasil output SPSS yang diperoleh, apabila thitung > ttabel. Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Maka sebaliknya apabila thitung < ttabel. Maka Ho diterima dan Ha ditolak, atau dengan signifikan (Sig) < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dan sebaliknya apabila signifikan (Sig) > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Tabel 4. 4 Uji T
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -5224.165 3214.579 -1.625 .116
Current Ratio 12.999 10.703 .164 1.215 .235
Pertumbuhan Pendapatan
-131.480 92.766 -.171 -1.417 .168
Earning per share 33.749 4.707 .909 7.170 .000
(Sumber: OUTPUT SPSS 24)
Dari tabel diatas ttabel diperoleh melalui tabel T sehingga a=0,05 dan df= 30-4 = 26. Maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1,705.
Maka dapat diambil kesimpulan setiap variabel sebagai berikut:
i. Variabel likuiditas (X1) nilai thitung sebesar 1,215 yang artinya bahwa thitung < ttabel (1,215 <1,705) dan tingkat signifikan sebesar 0,235 > 0,05, artinya bahwa Ho diterima dan Ha ditolak. Maka likuiditas tidak berpengaruh yang signifikan terhadap nilai saham.
ii. Variabel pertumbuhan pendapatan (X2) nilai thitung sebesar -1,417 yang artinya bahwa thitung < ttabel (-1,417 < 1,705) dan tingkat signifikan sebesar 0,168 > 0,05, artinya bahwa Ho diterima dan Ha ditolak. Maka pertumbuhan pendapatan tidak berpengaruh terhadap nilai saham.
iii. Variabel EPS (X3) nilai thitung sebesar 7,170 yang artinya bahwa thitung > ttabel (7,170 > 1,705) dan tingkat signifikan sebesar 0,00 < 0,05, artinya bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Maka EPS ada pengaruh signifikan terhadap nilai saham.
b. Uji F
Menggunakan Uji F memiliki tingkat kepercayaan 95% atau a sebesar 0,05 dari hasil output SPSS yang diperoleh, apabila Fhitung
> Ftabel Maka model dinyatakan layak digunakan dalam penelitian ini dan sebaliknya apabila Fhitung < Ftabel Maka Model dikatakan tidak layak, atau dengan signifikan (Sig) < 0,05 maka model dinyatakan layak digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 4. 5 Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 2402687306.000 3 800895768.700 20.038 .000b Residual 1039187074.000 26 39968733.620
Total 3441874380.000 29
(Sumber: OUTPUT SPSS 24)
Dari tabel diatas terlihat bahwa Fhitung sebesar 20,038 sedangkan Ftabel diperoleh melalui tabel F (Df1 = k-1, Df2 = n-k) sehingga Df1 = 4-1 = 3, dan Df2 = 30-4 = 2, maka diperoleh nilai
Ftabel sebesar 2,98 artinya Fhitung > Ftabel (20,038 > 2,98) dan tingkat signifikan p-value < 0,05 (0,00 < 0,05), dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, model diterima dan penelitian dapat diteruskan kepenelitian selanjutnya.
c. Uji Regresi Linier Berganda
Uji regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui apakah variabelindependen yaitu likuiditas (X1), pertumbuhan pendapatan (X2), dan EPS (X3) mempengaruhi variabel dependen nilai saham (Y).
Tabel 4. 6 Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -5224.165 3214.579 -1.625 .116
Current Ratio 12.999 10.703 .164 1.215 .235
Pertumbuhan Pendapatan
-131.480 92.766 -.171 -1.417 .168
Earning per share 33.749 4.707 .909 7.170 .000
(Sumber: OUTPUT SPSS 24)
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai konstanta (nilai a) sebesar -5.224,165, dan untuk likuiditas (nilai β1) sebesar 12,999, lalu untuk pertumbuhan pendapatan (nilai β2) sebesar -131.480 serta EPS (nilai β3) sebesar 33.749. sehingga dapat diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut
Y = -5.224,165 + 12,999X1 + (-131.480)X2 + 33.749 X3 + e Berdasarkan hasil persamaan di atas terlihat bahwa:
1) Nilai kosntanta loyalitas nilai saham (Y) sebesar -5.224,165 yang menyatakan jika variabel X1, X2, dan X3 sama dengan nol yaitu likuiditas, pertumbuhan pendapatan, dan EPS maka nilai saham bertambah sebesar -5.224,165.
2) Nilai likuiditas (X1) sebesar 12,999 artinya adalah setiap terjadi peningkatan variabel X1 (likuiditas) sebanyak 1x maka nilai saham meningkat sebesar 12,999 atau sebaliknya setiap terjadi penurunan X1 (likuiditas) sebanyak 1x maka nilai saham menurun sebesar 12,999.
3) Nilai pertumbuhan pendapatan (X2) sebesar -131.480 artinya adalah setiap terjadi peningkatan variabel X2 (pertumbuhan pendapatan) sebanyak 1x maka nilai saham meningkat sebesar -131.480 atau sebaliknya setiap terjadi penurunan X2 (pertumbuhan pendapatan) sebanyak 1x maka nilai saham menurun sebesar -131.480.
4) Nilai EPS (X3) sebesar 33.749 artinya adalah setiap terjadi peningkatan variabel X3 (EPS) sebanyak 1x maka nilai saham meningkat sebesar 33.749 atau sebaliknya setiap terjadi penurunan X3 (EPS) sebanyak 1x maka nilai saham menurun sebesar 33.749.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa likuiditas, pertumbuhan pendapatan, dan EPS berpengaruh terhadap nilai saham.
d. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen.
Tabel 4. 7 Uji Koefisien Determinasi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .836a .698 .663 6322.08301
(Sumber: OUTPUT SPSS 24)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0,663. Hal ini berarti 66,3% harga saham dapat dijelaskan oleh current ratio, pertumbuhan pendapatan, dan EPS. Sedangkan sisanya yaitu 33,7% harga saham dipengaruhi atau dapat dijelaskan oleh variabel-variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
C. Pembahasan
1. Pengaruh Current Ratio terhadap harga saham
Current Ratio merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya. Likuiditas atau sering juga disebut dengan rasio modal kerja merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang sudah jatuh tempo. Rasio likuiditas dimaksudkan sebagai perbandingan antara jumlah uang tunai dan aktiva lain yang dapat disamakan dengan uang tunai disatu pihak dengan jumlah utang lancar di lain pihak (likuiditas
badan usaha), juga dengan pengeluaran-pengeluaran untuk menyelenggarakan perusahaan di lain pihak (likuiditas perusahaan).
Berdasarkan hasil uji persamaan regresi maka diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 1,215 < 1,705, dan nilai signifikan 0,235 >
0,05 sehingga likuiditas berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai saham. Dalam mengitung likuiditas yakni terdiri dari total aset dan kewajiban lancar. Artinya total aset dan kewajiban lancar dalam suatu perusahaan tidak ada pengaruh dalam nilai saham.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Thaib, 2017) dimana (Thalib, 2017) melakukan penelitian tentang pengaruh profitabilitas dan likuiditas terhadap nilai perusahaan dengan struktur modal sebagai variabel intervening (studi pada perusahaan transportasi laut di Bursa Efek Indonesia). Hasil menunjukkan bahwa likuiditas keuangan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan transportasi laut umum.
Dari hasil tersebut sesuai dengan hipotesis teori pasar modal efisien yakni lemah dimana teori ini mengimplikasikan bahwa tidak ada informasi apapun yang bisa menunjukkan bagaimana pergerakan pasar dan harga saham.
2. Pengaruh pertumbuhan pendapatan terhadap harga saham
Pertumbuhan pendapatan mencerminkan keberhasilan investasi periode masa lalu dari suatu perusahaan. Pertumbuhan pendapatan dapat digunakan untuk meramalkan pertumbuhan perusahaan pada masa yang akan datang. Bagi perusahaan, peramalan pendapatan adalah budget yang direncanakan, sedangkan bagi analis merupakan
target yang harus dicapai perusahaan pada masa yang akan datang (Manurung, 2007).
Berdasarkan hasil uji persamaan regresi maka diperoleh nilai koefisien regresi sebesar -1,417 < 1,705 dan tingkat signifikan sebesar 0,168 > 0,05 sehingga pertumbuhan pendapatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai saham. Dalam menghitung pertumbuhan pendapatan yakni terdiri dari penjualan periode dan periode sebelumnya. Artinya pada penjualan dalam suatu perusahaan tidak ada pengaruh dalam nilai saham.
Hal ini sejalan dengan (Nurmasari, 2017) yang melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh current ratio, return on equity, debt to equity ratio dan pertumbuhan pendapatan terhadap return saham pada perusahaan pertambangan di bursa efek Indonesia tahun 2010 – 2014. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel pertumbuhan pendapatan terhadap variabel return saham.
Dari hasil tersebut sesuai dengan hipotesis teori pasar modal efisien yakni lemah dimana teori ini mengimplikasikan bahwa tidak ada informasi apapun yang bisa menunjukkan bagaimana pergerakan pasar dan harga saham.
3. Pengaruh Earning Per Share terhadap Harga Saham
Earning Per Share (EPS) sebagai suatu rasio yang biasa digunakan dalam prospektus, bahan penyajian, dan laporan tahunan kepada pemegang saham yang merupakan laba bersih dikurangi dividen (laba tersedia bagi pemegang saham biasa) dibagi dengan
rata-rata tertimbang dari saham biasa yang beredar yang akan menghasilkan laba per saham. Sehingga Earning Per Share (EPS) merupakan jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar.
Berdasarkan hasil uji persamaan regresi maka diperoleh nilai regresi 7,170 > 1,705 dan tingkat signifikan sebesar 0,00 < 0,05 sehingga EPS berpengaruh signifikan terhadap nilai saham. Dalam menghitung EPS yakni terdiri dari laba bersih dan lembar saham beredar. Artinya pada laba bersih dan lembar saham beredar dalam suatu perusahaan ada pengaruh yang signifikan dalam nilai saham.
Hal ini sejalan dengan penelitian (Badruzaman, 2017) yang melakukan penelitian tentang pengaruh earning per share terhadap harga saham pada perusahaan industri dasar dan kimia. Hasil menunjukkan bahwa earning per share berpengaruh positif. Artinya jika earning per share semakin besar maka akan berdampak pada harga saham naik. Dan sebaliknya, jika earning per share mengalami perubahan turun maka harga saham cenderung turun.
Dari hasil tersebut sesuai dengan hipotesis teori pasar modal efisien yakni kuat dimana teori ini menyiratkan bahwa semua informasi yang beredar bisa menjadi cara bagi investor untuk menentukan langkah investasinya.
67 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian beserta pembahasan yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Variabel current ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil uji persamaan regresi maka diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 1,215 < 1,705, dan nilai signifikan 0,235 >
0,05 sehingga H1 dalam penelitian ini ditolak.
2. Variabel pertumbuhan pendapatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil uji persamaan regresi maka diperoleh nilai koefisien regresi sebesar -1,417 < 1,705 dan tingkat signifikan sebesar 0,168 > 0,05 sehingga H2 dalam penelitian ini ditolak.
3. Berdasarkan hasil uji persamaan regresi maka diperoleh nilai regresi 7,170 > 1,705 dan tingkat signifikan sebesar 0,00 < 0,05 sehingga EPS berpengaruh signifikan terhadap nilai saham. Dalam menghitung EPS yakni terdiri dari laba bersih dan lembar saham beredar. Artinya pada laba bersih dan lembar saham beredar dalam suatu perusahaan ada pengaruh yang signifikan dalam nilai saham.
B. Saran
1. Saran untuk para investor disarankan untuk melakukan analisa laporan keuangan perusahaan dan profil perusahaan terlebih dahulu sebelum melakukan investasi.
2. Saran untuk peneliti selanjutya, agar memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan yang terjadi dalam jangka waktu panjang sehinnga menggambarkan kondisi yang terjadi.
3. Kepada peneliti selanjutnya agar menggunakan objek lain sehingga pengaruh variabel independen dapat dilihat dalam objek yang berbeda.
69
DAFTAR PUSTAKA
Asman, Jimmi, Titin Ruliana dan Adi Suroso. (2016). Pengaruh Likuiditas dan Profitabilitas terhadap Harga Saham pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Subsektor Pakan Ternak Tahun 2010 – 2015:
Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
Badruzaman, Jajang. (2017). Pengaruh Earning Per Share Terhadap Harga Saham. Tasikmalaya: Universitas Siliwangi.
Bambang D. Prasetyo, N. S. (2020). Teori dan Perspektif Komunikasi dalam Bisnis. Universitas Brawijaya Press.
Beatrix, Stefany Gledies Sonya. (2018) Pengaruh Profitabilitas Dan Pertumbuhan Pendapatan terhadap Harga Saham (Studi Empiris Perusahaan Jasa Dengan Kategori Sub Sektor Kontruksi, Bangunan, Jalan Tol, Bandara, Pelabuhan Dan Sejenisnya Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2016: Universitas Pancasila
Eryigit, Canan and Mehmet Eryigit. 2014. The Impact of Brand Value on Stock Price. International Conference on Business, Economic and Accounting.
Hongkong. 26-28 March 2014.
Firmansyah, A. (2019). Pemasaran Produk dan Merek. Penerbit Qiara Media.
Herujito, Y. M. (n.d.). Dasar Dasar Manajemen. Jakarta: Grasindo.
https://www.academia.edu/30568159/HIPOTESIS_PASAR_EFISIEN diakses pada tanggal 30 April 2021
https://datakata.wordpress.com/2015/10/18/teori-eficiency-market-hipotesis-emh/
diakses pada 29 April 2021
https://insight.kontan.co.id/news/daftar-emiten-makanan-minuman-dengan-per-eps-dan-pbv-22-februari-2019 diakses pada 23 Juni 2021,
https://investasi.kontan.co.id/news/kena-kasus-saham-garuda-indonesia-turun-241 diakses tanggal 28 Juni 2021
Hartono, J. (2017). Teori Portofolio dan Analisis Investasi (9th ed.). Yogyakarta:
BPFE.
Hartono, J. (2018). Strategi Penelitian Bisnis. Penerbit Andi. Yogyakarta:
Haetoro, A. (2017). Ekonomi Industri Kecil. Universitas Brawijaya Press. Malang..
Indrarini, S. (2019). Nilai Perusahaan Melalui Kualitas Laba. Surabaya: Scopindo Media Pustaka.
Kariyoto. (2017). Analisa Laporan Keuangan. Surabaya: Universitas Brawijaya
Kasmir (2015), Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja GRafindo Persada.
Kirk, Collen P., Ipshita Ray and Berry Wilson. 2012. The Impact of Brand Value on Firm Valuation: The Moderating Influence of Firm Type. Journal of Brand Management. I-13.
Kusuma, Ghea Ayu (2019), Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Earning Per Share, dan Net Profit Margin Terhadap Harga Saham dengan Return On Assets sebagai Variabel Intervening pada Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesi.
Palembang: Universitas Sriwijaya Palembang.
Millman, D. 2018. Brand Thinking: Brand Thinking and Other Noble Pursuits.
Noura Books.
Munawir. (2010). Analisa Laporan Keuangan (Edisi 4). Yogyakarta: Liberty Yogyakarta
Nurmasari, Ifa. (2019). Analisis Current Ratio, Return On Equity, Debt To Equity Ratio Dan Pertumbuhan Pendapatan Berpengaruh Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia 2010-2014. Tangerang: Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi.
Nahariyah, Rohmatun. (2017). Pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Sub Sektor Konstruksi Bangunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015: Universitas Diponegoro
Pontoh W., Budiarso N.S. 2020. Keputusan Investasi pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. The Studies of Social Science. Vol. 2, No. 1. Manado Rahmawati, Windy Dwi. 2018. Pengaruh Return On Asset (Roa), Debt To Equity
Ratio (DER), Current Ratio (CR), Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017. Kediri: Universitas Nusantara PGRI Kediri
Rasti, Pegah and Somaye Gharibvand. 2013. The Influence of Brand Value on Selected Malaysia’s Companies Book Value and Shareholders. Review of Contempory Business Research.
Riduwan, dan Akdor. 2015. Rumus dan Data Dalam Analisis Statistika. Cetakan Kelima. Bandung: Alfabeta.
Riyano, Y.B.A, Lukas Purwato, dan Caecilia Wahyu E.R. 2019. Testing The Weak Form of Efficient Market Hypothesis: Empirical Study From the Stocks of Telecomunications Sector in Indonesia Stock Exchange. Jurnal Ilmiah Manajemen. Vol. 7 No. 2.
Setianto, B. 2016. Mengungkap Strategi Investor Institusi Sebagai Penggerak Utama Kenaikan Harga Saham. BSK Capital. Jakarta
Simamora, B. 2002. Aura Merek. Gramedia Pustaka Utama.
Sudarso, A. 2020. Manajemen Merek. Yayasan Kita Menulis.
Suganda, T. R. (2018). Teori dan Pembahasan Reaksi Pasar Modal Indonesia.
Puntadewa.
Sugiono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). CV. Alvabeta : Bandung
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. CV. Alvabeta : Bandung
Suwardjono. (2011). Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.
Yogyakarta: BPFE.
Tandelilin, E. (2017). Pasar Modal: Manajemen Portofolio & Investasi.
Yogyakarta: PT Kanisius.
Thalib, Ilham. (2017). Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas Terhadap Nilai Perusahaan dengan Struktur Modal sebagai Variabel Intervening (Studi pada Perusahaan Transportasi Laut Di Bursa Efek Indonesia). Jakarta:
Alumni Sekolah Pascasarjana, IKPIA Perbanas Jakarta
Utami, Wuri Retno. (2018). Pengaruh Current Ratio (CR), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), dan Price Earning Ratio (PER) terhadap Harga Saham (Studi Empiris Pada Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2016). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Tatang Ary Gumanti, E. S. (2002). Bentuk Pasar Efisien Dan Pengujiannya.
Widoatmodjo, S. (2015). Pengetahuan Pasar Modal. Jakarta: Kompas Gramedia.
Widiasmara, Anny, dan Agus Sudrajat. (2016). Perbedaan Current Ratio, Return on Asset, Book Value Per Share Sebelum dan Saat Indonesia Most Valuable Brand pada Perusahaan BEI: Universitas PGRI Madiun
Wijaya, D. (2017). Manajemen Keuangan Konsep dan Penerapannya. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Windarto, & Kurniasih, A. (2016). Pengaruh Corporate Brand Value Terhadap Performansi Saham Pada Perusahaan Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.
Yuni, E. (2011). Pengaruh Struktur Modal Dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Profitabilitas Dan Nilai Perusahaan Pada Perusahaan
Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia
72 LAMPIRAN
LAMPIRAN
1 ADES Rp 364,138,000,000 Rp 262,397,000,000 Rp 804,302,000,000 Rp 814,490,000,000 Rp 52,958,000,000 Rp 589,896,800 138.77% -1.25% Rp 89.78 920 2 AISA Rp 788,973,000,000 Rp 5,117,830,000,000 Rp 1,583,265,000,000 Rp 1,950,589,000,000 Rp (123,513,000,000) Rp 3,218,600,000 15.42% -18.83% Rp (38.37) 0 3 ICBP Rp 14,121,568,000,000 Rp 7,235,398,000,000 Rp 38,413,407,000,000 Rp 35,606,593,000,000 Rp 4,658,781,000,000 Rp 11,661,908,000 195.17% 7.88% Rp 399.49 10450 4 MYOR Rp 12,647,858,727,872 Rp 4,764,510,387,113 Rp 24,060,802,395,725 Rp 20,816,673,946,473 Rp 1,760,434,280,304 R 22,358,699,725 265.46% 15.58% Rp 78.74 2620
1 ADES Rp 364,138,000,000 Rp 262,397,000,000 Rp 804,302,000,000 Rp 814,490,000,000 Rp 52,958,000,000 Rp 589,896,800 138.77% -1.25% Rp 89.78 920 2 AISA Rp 788,973,000,000 Rp 5,117,830,000,000 Rp 1,583,265,000,000 Rp 1,950,589,000,000 Rp (123,513,000,000) Rp 3,218,600,000 15.42% -18.83% Rp (38.37) 0 3 ICBP Rp 14,121,568,000,000 Rp 7,235,398,000,000 Rp 38,413,407,000,000 Rp 35,606,593,000,000 Rp 4,658,781,000,000 Rp 11,661,908,000 195.17% 7.88% Rp 399.49 10450 4 MYOR Rp 12,647,858,727,872 Rp 4,764,510,387,113 Rp 24,060,802,395,725 Rp 20,816,673,946,473 Rp 1,760,434,280,304 R 22,358,699,725 265.46% 15.58% Rp 78.74 2620