BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Hipotesis
Diduga hipotesis menurut penulis pada penelitian ini yaitu : 1. Pengaruh current ratio terhadap Harga Saham
Current Ratio adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya dalam jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada waktu ditagih (Kariyanto, 2017). Semakin tinggi likuiditas perusahaan (yang salah satunya tercermin dalam rasio kas atas aktiva lancar), semakin banyak dana tersedia bagi perusahaan untuk membayar dividen, membiayai operasi dan investasinya, sehingga persepsi investor pada kinerja perusahaan akan meningkat.
(Asman et al, 2016) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh likuditas dan profitabilitas terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia subsektor pakan
ternak 2010 – 2015. Hasil menunjukkan Current Ratio berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham.
H1 : Diduga current ratio berpengaruh terhadap harga saham 2. Pengaruh Pertumbuhan Pendapatan terhadap Harga Saham
Pertumbuhan pendapatan mencerminkan keberhasilan investasi periode masa lalu dari suatu perusahaan. Pertumbuhan pendapatan dapat digunakan untuk meramalkan pertumbuhan perusahaan pada masa yang akan datang. Bagi perusahaan, peramalan pendapatan adalah budget yang direncanakan, sedangkan bagi analis merupakan target yang harus dicapai perusahaan pada masa yang akan datang (Manurung, 2007).
(Nurmasari, 2017) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh current ratio, return on equity,debt to equity ratio dan pertumbuhan pendapatan terhadap return saham pada perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 – 2014. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel pertumbuhan pendapatan terhadap variabel harga saham.
H2 : Diduga pertumbuhan pendapatan berpengaruh terhadap harga saham
3. Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham
Earning Per Share (EPS) sebagai suatu rasio yang biasa digunakan dalam prospektus, bahan penyajian, dan laporan tahunan kepada pemegang saham yang merupakan laba bersih dikurangi dividen (laba tersedia bagi pemegang saham biasa) dibagi dengan rata-rata tertimbang dari saham biasa yang beredar yang akan
menghasilkan laba per saham. Sehingga Earning Per Share (EPS) merupakan jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar.
(Badruzaman, 2017) melakukan penelitian tentang pengaruh earning per share terhadap harga saham pada perusahaan industri dasar dan kimia. Hasil menunjukkan bahwa earning per share berpengaruh positif.
H3 : Diduga Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham.
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Explanatory. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang didasarkan pada filosofi positivis, yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, menggunakan alat penelitian untuk mengumpulkan data, dan menganalisis data untuk tujuan pengujian hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2017). Explanatory adalah penelitian yang bertujuan untuk menguji teori atau hipotesis guna memperkuat atau menolak hasil penelitian yang ada (Hartono, 2018).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini mengumpulkan data laporan keuangan yang menjadi objek penelitian pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam periode 2018 – 2020. Laporan keuangan tersebut didapat dari website resmi perusahaan makanan dan minuman ataupun Bursa Efek Indonesia melalui www.idx.co.id. Waktu penelitian ini dimulai pada bulan September hingga November 2021.
C. Defenisi Operasional Variabel Penelitian 1. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah adalah pengertian variable (yang diungkap dalam definisi konsep) tersebut, secara operasional, secara
praktik, secara nyata dalam lingkup objek penelitian/objek yang diteliti.
Berdasarkan definisi tersebut maka variable yang akan digunakan untuk penelitian ini yaitu variable bebas dan terikat.
a. Variabel Bebas
Variabel bebas (x) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi penyebab terjadinya perubahan atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini variable bebas yaitu :
1. Current Ratio (Rasio Lancar)
Rasio lancar adalah rasio yang membandingkan aset lancar perusahaan dengan jatuh tempo utangnya. Current Ratio merupakan salah satu rasio yang mengukur kinerja keuangan. Menurut (Kasmir, 2015), Current Ratio berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi. Menurut (Kasmir, 2015), rumus untuk menghitung rasio lancar adalah sebagai berikut:
Current Ratio =
x 100%
2. Pertumbuhan Pendapatan
Pertumbuhan pendapatan (growth) memegang peranan penting dalam menentukan pencapaian perusahaan.
Pendapatan yang masuk akan menjadi sumber dana dan keuntungan pemilik perusahaan. Dengan mengetahui seberapa besar pendapatan yang meningkat, perusahaan dapat memprediksi berapa keuntungan yang akan diperoleh
dan menentukan harga saham perusahaan. Rumus perhitungan pertumbuhan pendapatan perusahaan adalah :
Peningkatan Pendapatan = x 100 3. Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share (EPS) atau laba per saham merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham. EPS menunjukkan besarnya laba bersih yang akan dibagikan perusahaan kepada seluruh pemegang saham perusahaan. EPS adalah rasio laba bersih setelah pajak dengan jumlah saham perusahaan yang diterbitkan. Berikut rumus menghitung EPS menurut (Kasmir, 2015)
Earning per share =
b. Variabel Terikat
Variabel terikat sering disebut juga dengan variabel terpengaruh atau dependent, tergantung, efek, tak bebas, dan disingkat dengan nama variabel Y. Dalam penelitian ini, yang merupakan variabel terikat adalah harga saham. Harga saham sendiri adalah hak kepemilikan atas aset suatu perusahaan sehingga bagi sebuah perusahaan.
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan objek maupun subjek penelitian.
Populasi pada penelitian ini seluruh saham perusahaan makanan dan
minuman dengan jumlah 56 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018 – 2020.
Tabel 3. 1 Daftar Perusahaan Makanan dan Minuman
No. Kode Saham
35. WIIM 18/12/2012 Lengkap x
Sampel merupakan bagian atau jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik penentuan sampel berdasarkan purposive sampling, denggan menentukan kriteria sebagai berikut : a. Perusahaan yang termasuk dalam sub sektor makanan dan
minuman dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2018 – 2020.
b. Menerbitkan laporan keuangan lengkap tahun 2018-2020.
c. Tidak dikeluarkan selama periode penelitian.
d. Merupakan 10 perusahaan makanan dan minuman selama periode penelitian.
Berdasarkan kriteria tersebut, ada 10 perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Selanjutnya dari ke 10 perusahaan
yang ditetapkan, maka diambil 3 tahun laporan keuangan tahunan yang ada di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan jumlah perusahaan dan jumlah laporan keuangan, maka jumlah sampel pada penelitian ini adalah (10 x 3 = 30) 30 sampel. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain:
Tabel 3. 2 Daftar Perusahaan yang Menjadi Sampel Penelitian
NO. KODE SAHAM NAMA EMITEN
1. ADES Akasha Wira International Tbk.
2. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.
3. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
4. MYOR Mayora Indah Tbk.
5. ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk.
6. MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk.
7. ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & Trading Tbk.
8. SIDO Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk
9. KINO Kino Indonesia Tbk
10. UNVR Unilever Indonesia Tbk
Sumber : https://www.invesnesia.com
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Tidak Langsung
Observasi tidak langsung dilakukan oleh penulis dengan cara mengumpulkan informasi laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018 – 2020 dengan mengakses ke situs www.idx.co.id.
2. Studi Keputustakaan (Library Research)
Studi kepustakaan adalah pengumpulan data yang sumbernya berupa sumber-sumber tertulis. Studi ini dilakukan dengan cara
membaca, mempelajari, meneliti dan menelaah berbagai literatur-literatur, teori-teori, serta data data berupa buku-buku, jurnal serta penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
F. Teknik Analisis Data 1. Uji Asumsi Klasik
Menurut (Riduwan dan Akdon, 2015) uji asumsi klasik memiliki tujuan dalam memperoleh model regresi yang baik, untuk menghindari kesalahan dalam pengujian asusmsi klasik. Pada uji asumsi klasik terdiri dari:
a. Uji Normalitas
Menurut (Riduwan dan Akdon, 2015) uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi, variabel terikat, variabel bebas atau keduanya memilisi distribusi yang normal. Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah residual normal atau tidak yaitu salah satunya dengan menggunakan analisis grafik.
b. Uji Autokorelasi
Menurut (Riduwan dan Akdon, 2015) uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linier ada korelasi antara kesalah pengganggu pada periode tertentu dengan variabel pengganggu periode sebelumnya. Untuk menguji ada tidaknya gejala autokorelasi maka dapat dideteksi dengan uji Durbin Waston (DW Test)
- Angka D-W dibawah -2 berarti terdapat autokorelasi
- Angka D-W diantara -2 dan +2 berarti tidak terdapat autokorelasi.
- Angka D-W diatas +2 berarti tidak ada autokorelasi negatif.
c. Uji Multikolinieritas
Menurut (Riduwan dan Akdon, 2015) uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ada hubungan dengan variabel bebas dalam satu model. Model regresi yang baik sebaiknya tidak terjadi korelasi antara variabel bebas.
d. Uji Heterokedastisitas
Pengujian ini bertujuan untuk melihat penyebaran data. Uji ini dapat dilakukan dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel independen (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).
Apabila dalam grafik tersebut tidak terdapat pola tertentu yang teratur (menyebar) maka diidentifikasi tidak terdapat hiteroskedastisitas.
2. Uji Hipotesis a. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui tingkat signifikan variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Tingkat signifikansi yang dipilih adalah 5% (α = 0,05) atau dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dari derajat (dk) = n-k-1. Angka ini dipilih tepat untuk mewakili dalam pengujian variabel dan merupakan tingkat signifikansi yang sering digunakan dalam penelitian. Kriteria pengambilan keputusan adalah H0 diterima bila:
thitung<ttabel dan H0 ditolak bila : thitung>ttabel, dengan catatan apabila
H0 diterima, maka disimpulkan bahwa suatu pengaruh adalah tidak signifikan, artinya tidak ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen, sedangkan apabila H0 ditolak, maka disimpulkan bahwa dapat diartikan suatu pengaruh adalah signifikan, yang berarti adanya pengaruh yang kuat dari variabel independen terhadap variabel dependen.
b. Uji f
Tingkat signifikansi yang dipilih adalah 5% (α = 0,05) atau dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dari derajat (dk) = n-k-1.
Angka ini dipilih tepat untuk mewakili dalam pengujian variabel dan merupakan tingkat signifikansi yang sering digunakan dalam penelitian.
Kriteria pengambilan keputusan : a. H0 diterima bila : Fhitung < Ftabel b. H0 ditolak bila : Fhitung > Ftabel
Apabila H0 diterima, diartikan sebagai tidak signifikannya suatu pengaruh dari variabel bebas secara bersamaan terhadap suatu variabel terikat. Sedangkan apabila H0 ditolak, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari variabel-variabel bebas secara bersamaan terhadap suatu variabel terikat.
c. Uji Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji hubungan antara dua variabel atau lebih melalui koefisien regresi. Peneliti menggunakan analisis regresi berganda, jika peneliti bermaksud untuk memprediksi bagaimana kondisi variabel dependen, dan jika
dua atau lebih variabel independen sebagai prediktor dimanipulasi (kenaikan nilai). Oleh karena itu, jika jumlah independen minimal 2, maka analisis regresi berganda ini akan dilakukan (Sugiyono, 2012).
Pada penelitian ini menggunakan tiga variabel independen (X1, X2, dan X3) dengan variabel dependen (Y). persamaan regresi linier berganda dalam adalah sebagai berikut :
Y = a+ β1X1 + β2X2 + β3X3 + e Keterangan :
Y = Nilai Saham a = Konstanta
β1-β3 = Koefisien regresi variable independen X1 =Current Ratio
X2 = Pertumbuhan Pendapatan X3 = Earning per share
E = Standar eror
d. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Menurut (Riduwan dan Akdon, 2015) menjelaskan bahwa koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.
37 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia adalah lembaga pasar modal yang menyelenggarakan dan menyediakan sarana (akses) untuk mempertemukan penawaran jual dan beli surat-surat berharga (efek) dari pihak pembeli (investor) dan penjual (perusahaan go public). Bursa Efek Indonesia merupakan bursa resmi di Indonesia, sehingga bagi para perusahaan yang ingin go public di Indonesia harus melalui BEI.
Bursa Efek Indonesia pun harus mengontrol agar proses transaksi efek yang terjadi berjalan dengan adil dan efisien. Adapun peran dari Bursa Efek Indonesia adalah sebagai fasilitator perdagangan efek dan sebagai otoritas yang mengontrol jalannya transaksi.
Pasar modal di Indonesia sudah ada jauh sebelum Indonesia mengumumkan kemerdekaan, yaitu pada masa kolonial Belanda 1912 di Batavia. Pendiri pasar modal saat itu adalah pemerintahan Hindia Belanda. Kala itu, pasar modal hanya diperuntukkan untuk keperluan pemerintah kolonial (VOC). Namun, akibat satu dan beberapa hal, seperti perang dunia I dan II, perpindahan pemerintahan Republik Indonesia, dan seterusnya, pasar modal menjadi vakum.
Pada 1977, pasar modal mulai diaktifkan kembali oleh pemerintah Indonesia dan yang meresmikan adalah Presiden Soeharto, dengan
diberi nama Bursa Efek Jakarta (BEJ). Perusahaan yang pertama kali go public atau melakukan penawaran saham perdana (IPO) adalah PT.
Semen Cibinong. Kemudian, pada 16 Juni 1989, lahir bursa efek lainnya yang dikenal dengan Bursa Efek Surabaya (BES). BES dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya. Pada 30 November 2007, BEJ dan BES secara resmi bergabung yang kemudian mengubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Profil Singkat Perusahaan yang Menjadi Sampel a. ADES (PT Akasha Wira International Tbk.)
PT Akasha Wira International Tbk. didirikan dengan nama PT Alfindo Putrasetia pada tahun 1985. Nama perusahaan telah diubah beberapa kali, terakhir pada tahun 2010, ketika nama Perusahaan diubah menjadi PT Akasha Wira International Tbk.
PT Akasha Wira International Tbk. bergerak dibidang pembuatan produk air minum botolan dan pembuatan dan distribusi produk kosmetik. Perusahaan memulai produksi air memulai produmsi air minum dalam kemasan secara komersial pada tahun 1986 dengan merek AdeS dan Vica. Perseroan mengeluarkan produk baru yaitu produk air kemasan Merek AdeS dengan kemasan baru dan Nestle Pure Life di tahun 2004 pada saat Water Partners Bottling S.A. (WPB), sebuah perusahaan patungan antara Nestle S.A. dan Refreshment Product Services (anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki The Coca-Cola Company), mengambil mayortitas saham di Perseroan. Ditahun 2007 Perseroan mengeluarkan produk air minum baru dalam kemasan gallon
dengan merek Vica Royal untuk menggantikan produk AdeS yang penggunaan mereknya telah berakhir setelah Perjanjian Lisensi antara Perseroan dan The Coca Cola Company tidak diperpanjang.
Alamat pabrik Industri air kemasan berada di Jalan Tapos KM. 1, Desa Kranji, Kel. Ciriung, Kecamatan Cibinong dan Jalan Raya Surabaya – Malang KM. 59, Desa Sengonagung Pandaan East Java. Sedangkan alamat pabrik industri minuman berada di Jalan Siliwangi Desa Benda Kecamatan Cicurug Sukabumi.
Selain bergerak dalam industri minuman, PT Akasha Wira International Tbk. juga bergerak dibidang industri kosmetika.
Perusahaan memulai produk kosmetika perawatan rambut dengan merek Makarizo di tahun 2010 dengan melakukan pembelian mesin produksi dan perlengkapannya PT Damai Sejahtera Mulia.
Pembelian aset tersebut telah disetujui oleh mayoritas para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan pada tanggal 21 Oktober 2010 dan pembelian aset tersebut selesai dilaksanakan pada tanggal 11 November 2010.
Dengan pembelian aset tersebut, Perseroan secara resmi mulai melaksanakan bisnis kosmetika perawatan rambut. Alamat industri kosmetika berada di Kawasan Industri Pulogadung, Jalan Pulo Buaran II blok II A No. 1-8, Jakarta Timur.
PT Akasha Wira International Tbk. memiliki tujuan yaitu
“Memberikan solusi konsumen terbaik untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup berkualitas sebagai bentuk pemenuhan komitmen kami
kepada pemangku kepentingan melalui orang, budaya, dan sistem terbaik yang kami miliki”
Visi:
Menyediakan solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas hiduop konsumen kami.
Misi:
Membangun merek yang kuat yang memberikan solusi konsumen terbaik melalui orang, budaya dan system terbaik.
b. AISA (PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.)
PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPSF) merupakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 yang pada awalnya hanya bergerak di bisnis makanan (TPS Food). Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPS Food) (AISA) didirikan pada tanggal 26 Januari 1990 dengan nama PT Asia Intiselera dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1990.
Kantor pusat AISA berada di Gedung Plaza Mutiara, LT. 16, Jl. DR.
Ide Agung Gede Agung, Kav.E.1.2 No 1 & 2 (Jl. Lingkar Mega Kuningan), Jakarta Selatan 12950. Lokasi pabrik mie kering, biskuit dan permen terletak di Sragen, Jawa Tengah. Usaha perkebunan kelapa sawit terletak di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Usaha pengolahan dan distribusi beras terletak di Cikarang, Jawa Barat dan Sragen, Jawa Tengah.
PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk hadir dalam industri makanan dengan kesadaran bahwa industri ini harus dihadapi dengan inovasi dan penciptaan produk yang berkualitas serta
berdaya saing tinggi. Dalam upaya mengukuhkan keberadaan Perusahaan, memposisikan diri untuk menjadi Perusahaan pengolahan pangan dengan teknologi modern. Diiringi dengan komitmen yang kuat dan inovasi yang dijalankan secara berkelanjutan, kontribusi Perusahaan terhadap perolehan industri akan semakin meningkat.
Visi:
Menjembatani potensi menuju kesuksesan.
Misi:
Mengembangkan dan mengatur kombinasi terpercaya dari orang-orang, infrastruktur, dan proses diseluruh rantai nilai atas nama mitra dan pelanggan.
c. ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.)
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 14 agustus 1990 oleh Sudono Saim dengan nam PT. panganjaya Intikusuma yang pada tanggal 5 februari 1994 menjadi Indofood sukses makmur.perusahaan ini mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa. PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Dan PT.Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas Jakarta, Indonesia.
Dalam beberapa dekade ini Indofood telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan total food solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi
makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.
Visi:
Produsen barang-barang konsumsi yang terkemuka Misi :
a. Senantiasa melakukan inovasi, fokus pada kebutuhan pelanggan, menawarkan merek-merek unggulan dengan kinerja yang tidak tertandingi
b. Menyediakan produk berkualitas yang merupakan pilihan pelanggan
c. Senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi dan teknologi kami
d. Memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan
e. Meningkatkan stakeholders’ values secara berkesinambungan
d. MYOR (PT Mayora Indah Tbk.)
Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1977, PT Mayora Indah Tbk telah menjadi salah satu industri makanan penting di Indonesia. Sebagai hasil dari pertumbuhan negara di bidang ekonomi dan pergeseran pola konsumtif terhadap produk sosial yang lebih praktis, PT Mayora menawarkan pertumbuhan pesat selama bertahun-tahun. Untuk memenuhi tuntutan pasar yang semakin meningkat, PT Mayora Indah Tbk menjadi go public melalui Initial Public Offering (IPO) pada tahun 1990. Sebuah langkah
sukses yang nyata dalam wujud pabrik-pabrik di Tangerang, Bekasi dan Surabaya, yang mempekerjakan 5.300 pekerja.
Didukung dengan jaringan distribusi yang kuat dan luas, produk PT. Mayora Indah, Tbk. tersedia di seluruh Indonesia dan beberapa negara luar negeri seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Singapura, Hong Kong, Arab Saudi, Australia, Afrika, Amerika dan Italia.
Visi Misi:
1) Untuk terus meningkatkan posisi kompetitif kami dalam kategori
2) Untuk membangun merek yang kuat dan saluran distribusi di semua lini
3) Untuk menyediakan lingkungan kerja yang menantang, menyenangkan dan menguntungkan secara finansial di mana persaingan yang adil dan sikap bertanggung jawab didorong
4) Secara sosial dan ramah lingkungan
5) Untuk membawa nilai-nilai kepada stakeholder kita dengan mengamankan pertumbuhan dan struktur keuangan yang kuat di industri.
e. ROTI (PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.)
Nippon Indosari Corpindo Tbk merupakan salah satu perusahaan roti dengan merek dagang Sari Roti terbesar di Indonesia. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1995 sebagai sebuah perusahaan penanaman modal asing dengan nama PT Nippon
Indosari Corporation. Perkembangan perusahaan ini semakin meningkat dengan semakin meningkatnya permintaan konsumen.
Sehingga perseroan mulai meningkatkan kapasitas produk dengan menambahkan dua lini produksi, yakni roti tawar dan roti manis sejak tahun 2001.Sejak tanggal 28 Juni 2010 perseroan telah melakukan Penawaran Umum Perdana dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bisnis roti yang dijalani perusahaan ini semakin berkembang, dengan ini perusahaan semakin giat melakukan pembangunan pabrik baru di beberapa tempat, seperti pembangunan tiga pabrik sekaligus di Semarang (Jawa Tengah), Medan (Sumatera Utara), dan Cikarang (Jawa Barat) pada tahun 2011 serta pembangunan dua pabrik di Palembang (Sumatera Selatan) dan Makassar (Sulawesi Selatan).
Visi:
Menjadi perusahaan roti terbesar di Indonesia dengan menghasilkan dan mendistribusikan produk – produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau bagi rakyat Indonesia.
Misi
Membantu meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia dengan memproduksi dan mendistribusikan makanan yang bermutu tinggi, sehat, halal, dan aman bagi pelanggan.
f. MLBI (PT Multi Bintang Indonesia Tbk.)
Siantar Top Tbk (STTP) didirikan tanggal 12 Mei 1987 dan mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 1989.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Siantar Top terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snack noodle, antara lain: Soba, Spix Mie Goreng, Mie Gemes, Boyki, Tamiku, Wilco, Fajar, dll), kerupuk (crackers, seperti French Fries 2000, Twistko, Leanet, Opotato, dll), biskuit dan wafer (Goriorio, Gopotato, Go Malkist, Brio Gopotato, Go Choco Star, Wafer Stick, Superman, Goriorio Magic, Goriorio Otamtam, dll), dan kembang gula (candy dengan berbagai macam rasa seperti: DR. Milk, Gaul, Mango, Era Cool, dll). Selain itu, STTP juga menjalankan usaha percetakan melalui anak usaha (PT Siantar Megah Jaya).
Pada tanggal 25 Nopember 1996, STTP memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham STTP (IPO) kepada masyarakat sebanyak 27.000.000 saham dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dan harga penawaran Rp2.200,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 16 Desember 1996.
Visi:
WOW Indonesia melalui performanya,mereknya,dan orang-orangnya.
Misi:
Menjadi perusahaan minuman Indonesia yang memiliki reputasi baik dan bertanggung jawab denganportofolio merek bir dan minuman terkemuka
g. ULTJ (PT Ultra Jaya Industry & Trading Tbk.)
Kisah PT Ultrajaya diawali dari sebuah perusahaan susu yang kecil pada tahun 1958. Lalu pada tahun 1971, perusahaan ini
Kisah PT Ultrajaya diawali dari sebuah perusahaan susu yang kecil pada tahun 1958. Lalu pada tahun 1971, perusahaan ini