• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Deskripsi Responden

HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Deskripsi Responden

Responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah masyarakat lokal yang tinggal di kawasan wisata Tanjung Bira dan masyarakat yang menjadi responden sebanyak 150 orang.

a. Responden berdasarkan jenis kelamin

Keadaan responden berdasarkan umur dapat didefinisikan dalam tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1

Responden berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase (%)

1. Laki-laki 81 54%

2. Perempuan 69 46%

Total 150 100%

Sumber : data diolah 2020

Berdasarkan tabel 4.1 jumlah responden laki-laki sebanyak 81 orang (54,0%) dan responden perempuan sebanyak 69 orang (46,0%), ini menunjukkan bahwa responden masyarakat lokal lebih banyak laki-laki.

b. Responden berdasarkan umur

Keadaan responden berdasarkan umur dapat di definisikan dalam bentuk table 4.2 berikut :

47

Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu Persepsi Masyarakat Lokal (X1) dan Kesiapan Masyarakat Lokal (X2), dan variabel terikat yaitu Penerapan Wisata Syariah (Y). Survey ini menggunakan skala pengukuran dengan skala Likert dengan bobot tertinggi disetiap pertanyaan adalah 5 (lima) dan bobot terendah adalah 1 (satu) dengan jumlah responden sebanyak 150 orang.

a. Deskripsi Variabel Persepsi Masyarakat Lokal (X1)

Adapun deskripsi data tanggapan Responden mengenai Persepsi Masyarakat Lokal di kawasan Wisata di Tanjung Bira dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut :

Tabel 4.3

Tanggapan Responden mengenai Persepsi Masyarakat Lokal (X1)

Pertanyaan Tingkat Jawaban Responden

Kawasan pantai harus dipisahkan antara laki-laki dan perempuan

32 21,3 118 78,7

Kawasan Bira tidak boleh ada makanan haram 132 88 18 12,1 Pelayanan di objek pariwisata di Bira harus sesuai dengan

prinsip syariah

117 78 33 22

Masyarakat merasa nyaman jika wisata syraiah dapat diterapkan di Bira

124 82,7 26 17,4

Lebih aman bila di Bira diberlakukan wisata syariah 119 79,3 31 40,7 Masyarakat harus mendukung bila di Bira diberlakukan

wisata syariah

119 79,3 31 40.7

Sumber : data diolah 2020

Dari table 4.3 di atas dapat diihat bahwa dari enam pertanyaan terkait persepsi masyarakat lokal terhadap penerapan wisata syariah yang diajukan, mayoritas responden (penduduk) pada umumnya setuju dengan adanya prinsip wisata syariah diantaranya tidak boleh ada makanan haram di Bira, pelayanan yang sesuai prinsip syariah akan lebih aman juga nyaman dan masyarakat

mendukung bila diberlakukan wisata syariah di Bira. Hanya satu yang tidak sepenuhnya diterima responden yaitu pemisahan antara laki-laki dan perempuan di kawasan pantai Bira.

b. Deskripsi Variabel Kesiapan (X2)

Adapun deskripsi data tanggapan Responden mengenai Kesiapan Masyaralat Lokal di kawasan Wisata di Tanjung Bira dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.4

Tanggapan Responden mengenai Kesiapan Masyarakat Lokal (X2)

Pertanyaan Tingkat Jawaban Responden Objek wisata Bira memberi kesempatan kepada

masyarakat melakukan kegiatan ekonomi

143 95,3 7 4,6

Kegiatan wisata Bira membantu ekonomi masyarakat setempat

Kawasan Bira harus melarang kegiatan hiburan yang mendekati maksiat

118 78,7 32 21,4

Sumber : data diolah 2020

Deskripsi table 4.4 di atas menunjukkan bahwa dari enam pertanyaan yang diajukan kepada responden terkait kesiapan dalam penerapan wisata syariah di Bira mayoritas penduduk pada umumnya menyatakan siap terutama dalam kegiatan ekonomi yang memberi kesempatan dan membantu pererkonomian masyarakat setempat juga tidak ada kegiatan hiburan yang tidak sesuai aturan agama sehingga masyarakat harus melarang adanya kegiatan hiburan yang mendekati maksiat. Sementara untuk kepemilikan usaha ternyata banyak

49

masyarakat lokal yang belum memiliki usaha di Bira dan masyarakat tidak yakin Bira akan tetap ramai bila wisata syariah diterapkan.

c. Deskripsi Variabel Penerapan (Y)

Adapun deskripsi data tanggapan Responden mengenai Persepsi Masyarakat Lokal di kawasan Wisata di Tanjung Bira dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut :

Tabel 4.5

Tanggapan responden terkait Penerapan Wisata Syariah

Pertanyaan Tingkat Jawaban Responden

Kawasan Bira sudah menyediakan makanan halal 128 85,4 22 14,7 Kawasan Bira sudah menyediakan fasilitas ibadah

yang memadai

118 78,7 32 21,4

Kawasan Bira sudah menyediakan penginapan syariah

72 48 78 52

Penginapan di Bira harus melakukan pemeriksaan terhadap tanda pengenal dan buku nikah pasangan tamu yang datang

81 80,7 29 19,3

Kawasan Bira tidak boleh ada minuman beralkohol 125 83,4 25 16,6

Sumber : data diolah 2020

Dari tabel 4.5 di atas menunjukkan data lapangan bahwa ternyata Bira secara tidak langsung sudah menerapkan konsep wisata syariah terlihat dari tersedianya fasilitas ibadah yang memadai, makanan halal dan mayoritas responden menolak adanya minuman beralkohol serta mengharuskan penginapan melakukan pemeriksaan identitas pada tamu yang datang. Ini berarti secara konsep, penerapan wisata syariah di Bira telah dilakukan meskipun belum tidak resmi sebagai contoh penginapan berlabel syariah yang masih sangat kurang.

3. Uji Validitas dan Realibilitas

Tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa variabel persepsi dan kesiapan masyarakat lokal serta penerapan wisata syariah dinyatakan valid. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai koefisien korelasi (rhitung) > 0,1339 sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan item variabel penelitian adalah valid untuk digunakan sebagai instrument dalam penelitian. Nilai rtabel yaitu 0,1339 diperoleh dari nilai rhitung dengan N= 150.

51

b. Uji Realibilitas

Hasil uji reliabilitas ditunjukkan pada tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.7 Uji Realibilitas

No. Variabel Cronbach‟s Alpha Keterangan

1. Persepsi (X1) 0, 726 Reliabel

2. Kesiapan (X2) 0,482 Reliabel

3. Penerapan (Y) 0,427 Reliabel

Sumber : data diolah 2020

Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat dilihat bahwa semua nilai cronbach‟s alpha variabel Persepsi (X1) 0,726 dinyatakan reliabel, sementara untuk nilai variabel Kesiapan 0,482 (X2) dan Penerapan (Y) 0,427 dinyatakan cukup reliabel.

Nilai cronbach‟s alpha yang reliable adalah antara 0,61-0,8, sementara daftar nilai croanbach‟s alpha yang cukup reliabel adalah antara 0.42-0.60. Sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :

a) Nilai alpha Cronbach 0.00 s.d 0.20, berarti kurang reliable.

b) Nilai alpha Cronbach 0.21 s.d 0.40, berarti agak reliable.

c) Nilai alpha Cronbach 0.42 s.d 0.60, berarti cukup reliable.

d) Nilai alpha Cronbach 0.61 s.d 0.80, berarti reliable.

e) Nilai alpha Cronbach 0.81 s.d 1.00, berarti sangat reliable.

4. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Gambar 4.1 Uji Normalitas

Sumber : data diolah 2020

Berdasarkan gambar 4.1 di atas dapat dilihat bahwa hasil pengujian menunjukkan normalitas dimana grafik histogram memberikan pola distribusi yang melenceng ke kanan yang artinya adalah data berdistibusi normal.

b. Uji Heteroskedastsitas

Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar scatterplot model tersebut, tidak dapat heteroskedastisidas jika :

1. Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola

2. Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0.

3. Titik-titik data mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.

53

Gambar 4.2 Uji Heroskedastisitas

Sumber : data diolah 2020

Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa titik-titik pada grafik scatterplot tidak mempunyai pola penyebaran yang jelas dan titik-titik tersebut menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat gangguan heteroskedastisitas pada model regresi.

5. Uji Hipotesis a. Uji Regresi

Untuk lebih jelasnya akan disajikan hasil olahan data mengenai persamaan regresi dibawah ini :

Tabel 4.8

a. Dependent Variable: Penerapan Wisata Syariah Sumber: data diolah 2020

Berdasarkan tabel 4.8 diatas dapat dianalisis model estimasi sebagai berikut :

Y = α + bX1 + cX2 0 + e

Y = 6,749 + 0,271X1 + 0,309X2 + 1,383 Dimana :

Y = Penerapan Wisata Syariah X1 = Persepsi masyarakat lokal X2 = Kesiapan masyarakat lokal a = Konstanta

b = Koefisien Variabel X e = Nilai Kritis (Standar Error)

Berdasarkan tabel 4.8 di atas dapat dijelaskan bahwa persamaan tersebut dapat diketahui nilai konstantanya sebesar 6,749. Secara matematis, nilai konstanta ini menyatakan bahwa nilai konsisten variabel Penerapan wisata syariah. Koefisien regresi X1 sebesar 0,271 dan X2 sebesar 0,309 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 poin nilai Persepsi (X1) dan Kesiapan (X2) maka

55

Penerapan (Y) wisata syariah akan bertambah 1 poin. Koefisien regresi tersebut bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa arah hubungan pengaruh variabel X1 dan X2 terhadap Y adalah positif.

b. Uji Parsial (Uji t)

Berdasarkan analisis data pada penelitian ini yang tergambar pada tabel 4.8 dapat diketahui bahwa Persepsi (X1) dan Kesiapan (X2) mempunyai pengaruh yang Signifikan terhadap Penerapan (Y). Hal ini ditunjukkan dari hasil uji parsial dimana thitung 4,878 dan ttabel 1,655. Maka secara parsial persepsi dan kesiapan masyarakat lokal berpengaruh terhadap penerapan wisata syariah di Tanjung Bira karena thitung > ttabel atau 4,878 > 1,655.

a. Dependent Variable: Penerapan Wisata Syariah b. Predictors: (Constant), Kesiapan, Persepsi Kesiapan (X2) secara simultan berpengaruh terhadap Penerapan (Y). Karena F >

Ftabel atau 48,169 > 3,50.

d. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi merupakan besaran yang menunjukkan variasi variabel bebas yang dapat dijelaskan oleh variabel independennya. Dengan kata lain, koefisien determinasi ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh variabel bebas (Persepsi masyarakat lokal) dan (Kesiapan masyarakat lokal) dalam menerangkan variabel terikatnya (Penerapan wisata syariah). Nilai koefisien determinasi ditentukan dengan nilai R square sebagaimana dapat dilihat pada tabel dibawah :

Tabel 4.10

Uji Koefisien Determinasi (R2) Model Summaryb b. Dependent Variable: Penerapan Wisata Syariah Sumber: data diolah 2020

Berdasarkan hasil uji koefisien deteminasi pada tabel 4.10 diatas, nilai R2 (R Square) dari model regresi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel bebas dalam menerangkan variabel terikat. Dari tabel diatas diketahui bahwa nilai R2 sebesar 0,396. Hal ini berarti bahwa 39,6% yang menunjukkan bahwa persepsi dan kesiapan masyarakat dalam mempengaruhi penerapan wisata syariah di Bira. Sisanya sebesar 60,4% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum atau tidak diteliti dalam penelitian ini.

C. Pembahasan

Terkait persepsi masyarakat lokal terhadap penerapan wisata syariah yang diajukan, mayoritas responden (penduduk) pada umumnya setuju dengan

57

adanya prinsip wisata syariah diantaranya tidak boleh ada makanan haram di Bira, pelayanan yang sesuai prinsip syariah akan lebih aman juga nyaman dan masyarakat mendukung bila diberlakukan wisata syariah di Bira. Hanya satu yang tidak sepenuhnya diterima responden yaitu pemisahan antara laki-laki dan perempuan di kawasan pantai Bira.

Terkait kesiapan dalam penerapan wisata syariah di Bira mayoritas penduduk pada umumnya menyatakan siap terutama dalam kegiatan ekonomi yang memberi kesempatan dan membantu pererkonomian masyarakat setempat juga tidak ada kegiatan hiburan yang tidak sesuai aturan agama sehingga masyarakat harus melarang adanya kegiatan hiburan yang mendekati maksiat. Sementara untuk kepemilikan usaha ternyata banyak masyarakat lokal yang belum memiliki usaha di Bira dan masyarakat tidak yakin Bira akan tetap ramai bila wisata syariah diterapkan.

Data lapangan menunjukkan bahwa ternyata Bira secara tidak langsung sudah menerapkan konsep wisata syariah terlihat dari tersedianya fasilitas ibadah yang memadai, makanan halal dan mayoritas responden menolak adanya minuman beralkohol serta mengharuskan penginapan melakukan pemeriksaan identitas pada tamu yang datang. Ini berarti secara konsep, penerapan wisata syariah di Bira telah dilakukan meskipun belum tidak resmi sebagai contoh penginapan berlabel syariah yang masih sangat kurang.

58 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil akhir dan pembahasan dalam penelitian ini, maka didapatkan kesimpulan bahwa :

1. Persepsi masyarakat lokal terhadap penerapan wisata syariah di kawasan wisata pada umumnya positif, masyarakat lokal pada umumnya setuju pada konsep syariah diterapkan di kawasan wisata, hanya saja menolak beberapa konsep syariah yang biasa diterapkan pada wisata seperti pemisahan antara laki-laki dan perempuan di kawasan wisata terutama pantai.

2. Kesiapan masyarakat lokal terhadap penerapan wisata syariah juga pada umumnya positif dan menyatakan siap dari berbagai aspek seperti kegiatan ekonomi dan peluang ekonomi namun tidak begitu yakin bahwa kawasan wisata Bira akan tetap ramai apabila diterapkan.

3. Penerapan wisata syariah sendiri secara konsep telah diberlakukan di kawasan wisata Bira meskipun tidak secara resmi dilabelkan sebagai kawasan wisata syariah, terlihat dari beberapa aktifitas wisata yang menyediakan makanan halal dan pemeriksaan identitas tamu.

Dengan demikian, persepsi dan kesiapan masyarakat lokal disimpulkan mempengaruhi penerapan wisata syariah di Tanjung Bira. Hanya saja meskipun responden menyatakan setuju pada prinsip wisata syariah dan siap menerapkan wisata syariah di Bira, tidak sepenuhnya prinsip dan konsep itu dapat disetujui dan diyakini oleh responden.

59

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini maka diajukan saran-saran sebagai pelengkap terhadap hasil penelitian, yaitu :

1. Untuk pemerintah agar dapat melihat peluang ini untuk menambah pendapatan daerah dengan meningkatkan pariwisata daerah khususnya wisata syariah di Tanjung Bira dengan melakukan promosi agar masyarakat semakin mengenal pariwisata syariah dan memberikan kesan yang positif bagi masyarakat.

2. Pemerintah harus mempertimbangkan bila diberlakukan konsep penerapan syariah di pantai Bira agar kesehjateraan masyarakat lokal tidak terdampak dan Bira tetap ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun asing.

3. Untuk peneliti agar dapat dijadikan bahan acuan jika dilakukan penelitian lanjutan terkait penerapan wisata syariah di Tanjung Bira.

60

Bimo, Walgito. 2010. Pengantar Psikolog Umum. Yogyakarta: C.V Andi Offse.

Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Dalyono, M. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Danang, Sunyoto. 2012. Teori, Kuesioner dan Analisis Data. Yogyakarta Graha : Timur.

Dennis L, Foster, 2000. First Class An Introduction Travel & Tourism.

Jakarta:PT Raja Grafindo Persada

Depag RI, 2005. Alqur’an dan terjemahannya, QS. Al-Baqarah: 168. Bandung:

Syamil Al-Qur‟an.

Depdikbud, 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Ediwarsyah. 1987. Pengaruh Pengembangan Obyek Pariwisata Terhadap Pendapatan Masyarakat di Lingkungan Objek Pariwisata : Tesis Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Yogyakarta.

Foster Dennis L. 2000. First Class An Introduction Travel & Tourism. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Sinar Grafika Hasanuddin. 2010. Pembangunan dan Konflik Kepariwisataan. Padang : Andalas

University Press.

https://tafsirku.com/2015/Tafsir-Quraish-Shihab.html, diakses pada 18 Desember 2019

https://www.e.jurnal.com/2013/12/pengertianmasyarakatdalampandangan.html, diakses pada tanggal 29 November 2019

Hasan Hurriah Ali. 2019. Humanities & Social Sciences.

https://scholar.google.co.id/scholar/q=related:O_Idaafw0vEJ:scholar.googl e.com/&hl=id&as_sdt=0,5Diakses pada Juni 2020

M Malta, 2018. ”The Transmigrants’ Empowerment in Farming in Banyuasin and Ogan Ilir Regencie, South Sumtera Province”, https://journal.ipb.ac.id.

(diakses 12 Desember 2019)

Dokumen terkait