TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Persepsi
B. Pengertian Wisata
7. Interaksi Masyarakat dengan Pariwisata
Wisatawan yang mengunjungi suatu daerah tujuan wisata antara lain didorong oleh keinginan atau motivasi untuk mengenal, mengetahui, atau mempelajari daerah dan kebudayaan, kehidupan masyarakat lokal, keindahan alam, berbagai jenis kuliner dan lain-lain. Selama berada di daerah tujuan wisata, wisatawan pasti berinteraksi dengan masyarakat lokal, bukan saja dengan mereka yang secara langsung melayani kebutuhan wisatawan melainkan juga dengan
31 Foster Dennis L. 2000. First Class An Introduction Travel & Tourism. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. h.35
masyarakat luas. Apapun motivasi seseorang melakukan perjalanan wisata, maka bagi seseorang atau kelompok wisatawan, perjalanan tersebut mempunyai beberapa manfaat dan akibat antara lain :32
a. Perjalanan wisata memberikan stimulasi bagi penyegaran fisik dan mental serta merupakan konpensasi terhadap berbagia hal yang melelahkan seperti situasi yang sibuk, ketegangan, rutinitas yang mnejemukan, sehingga melakukan perjalanan wisata merupakan konpenasasi terhadap permasalahan-permasahan tersbut di atas.
b. Selama berada di daerah tujuan wisata, wisatawan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Hubungan antara wisatawan dengan masyarakat lokal sangat dipengaruhi oleh sistem sosial budaya kedua belah pihak.
c. Hubungan wisatawan dengan masyarakat lokal bersifat sementara, ada kendala ruang dan waktu, hubungan yang terjadi banyak yang bersifat transaksi ekonomi yang tidak ada lain merupakan proses komersialisasi.
d. Pariwisata memberikan keuntungan sosial, ekonomi pada satu sisi tetapi di sisi lain membawa ketergantungan dan ketimpangan sosial dan berbagai masalah sosial. Pariwisata membawa berbagai peluang baru bagi masyarakat dan mendorog berbagai bentuk perubahan sosial.
e. Munculnya kondidsi frustasi di tengah-tenagh masyarakat yang merasa jadi obyek tetapi tidak merasa menikmati keuntungan dari pembangunan kepariwisataan.
32 A.J Muljadi. 2012. Kepariwisataan dan Perjalanan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
h36
31
Di samping berbagai dampak yang dinilai positif, hampir semua diskusi seminar tentang kepariwisataan juga banyak mengemukakan adanya berbagai dampak yang tidak diharapkan (dampak negatif). Menilai dampak pariwisata terhadap kehidupan masyarakat lokal membutuhkan pengkajian secara mendalam di tengah-tengah masyarakat setempat dan berbgai aspek seperti sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan.
Aspek-aspek tersebut berpengaruh di tengah-tengah masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat yang lain atau dampak terhadap kelompok sosial yang satu belum tentu sama, bahkan bisa bertolak belakang dengan dampak terhadap kelompok sosial yang lain. Namun sebagai gambaran dalam upaya mengurangi dampak pariwisata terhadap masyarakat lokal dapat dikemukakan pendekatan sebagai berikut :33
a. Berbagai perubahan sosial yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata semata-mata, mengingat pariwisata memiliki sifat kegiatan multidimensional dan terjalin erat dengan berbagai kegiatan lain yang mungkin pengaruhnya jauh sebelum pariwisata berkembang di satu kota atau kabupaten.
b. Mengenai penilain positifi dan negatif tidak selalu sama bagi segenap kelompok masyarakat, perlu melihat segmen-segmen yang ada atau melihat berbagai interset grup mengingat dinamika masyarakat berkembang dan berpengaruh pada ritme kehidupan sosial masyarakat.
33 Hasanuddin, 2010. Pembangunan dan Konflik Kepariwisataan. Padang :Andalas University Press. Hal 190
c. Setiap daerah wisata mempunyai citra tertentu yang mengandung keyakinan, kesan dan persepsi yang diterima wisatawan dan berbagai sumber dari pihak lain atau dari instansinya sendiri.
d. Pariwisata adalah industri yang memiliki citra tersendiri dan berbasiskan citra, karena citra atau kesan membawa calon wisatawan ke dunia simbol dan makna. Citra juga akan memberikan kesan bahwa satu destinasi akan memberikan suatu aktrasi yang berbeda dengan destinasi lainnya.Dari waktu ke waktu, aspek sosial dalam pembangunan pariwisata semakin mnendapat perhatian karena semakin meningkatnya kesadaran bahwa pembangunan kepariwisataan tanpa pertimbangan yang matang dari aspek sosial akan membawa malapetaka bagi masyarakat.
e. Secara umum bahwa pengembangan kepariwisataan semakin mendapat perhatian, karena semakin meningkatnya kesadaran bahwa pembangunan kepariwisataan tanpa pertimbangan yang matang dari aspek sosial akan mempengaruhi bagi pariwisata itu sendiri.
f. Secara umum bahwa pengembangan kepariwisataan selalu terkait dengan kreatifitas dan inovasi dalam berbagai bentuk kegiatan, karya masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan pada saat berkunjung ke satu daerah wisata yang dapat menambah pengalaman perjalanan baru bagi wistawan dan peningkatan berwirausaha bagi masyarakat.
Keberhasilan pariwisata di Tanjung Bira menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Bulukumba secara menyeluruh. Namun demikian ada banyak masalah yang
33
mendasar dalam pembangunan kepariwisataan di kawasan wisata Tanjung Bira yang mengancam keberlanjutan dari pembangunan itu sendiri.
Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain menyangkut aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Dari aspek lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam sudah melampaui daya dukung, tampak jelas dapat dilihat antara lain, pembangunan fisik yang mengikuti jalur jalan raya, berdirinya bangunan-bangunan yang tidak selayaknya. Dari aspek ekonomi, manfaat pariwisata terdistribusi secara tidak proporsioanal dan dalam beberapa kasus terjadi marginalisasi terhadap masyarakat setempat. Masalah sosial yang juga menjadi ancaman kepariwisataan.
Pada sifatnya, hubungan antara wisatawan dengan masyarakat dicirikan oleh empat hal :34
a. Mereka berhubungan sementara (transitory realtionship), sehingga tidak ada hubungan yang mendalam. Hubungan yang bersifat sementara dan tidak berulang, sering menyebabkan mereka yang berhubungan tidak memikirkan dampak di masa yang akan datang, sehingga jarang memunculkan rasa saling percaya. Akibat lebih jauh, masing-masing pihak mempunyai potensi untuk memeras dan saling membohongi. Ada kendala ruang dan waktu yang menghambat hubungan.
b. Wisatawan umumnya berkunjung secara musiman dan tidak berulang.
Apalagi kenyataan bahwa fasilitas pariwisata umumnya hanya terkonsentrasi pada tempat–tempat tertentu, maka wisatawan hanya
34 Hasanuddin, 2010. Pembangunan dan Konflik Kepariwisataan. Padang :Andalas University Press. h91
berhubungan secara intensif dengan sebagian anggota masyarakat yang secara langsung berhubungan dengan pelayanan terhadap wisatawan, sedangkan masyarakat yang jauh dari fasilitas pariwisata berhubungan dengan wisatawan secara kurang intensif.
c. Dalam Mass Tourism, tidak ada hubungan yang bersifat spontan antara wisatawan dengan masyarakat lokal, melainkan sebagian besar diatur dalam paket wisata yang ditangani oleh usaha pariwisata dengan jadwal yang ketat.
d. Kegiatan pariwisata adalah kegiatan ekonomi, yang berarti bahwa masyarakat lokal bekerja pada pariwisata adalah untuk kepentingan ekonomi atau mendapatkan penghidupan. Dengan demikan, interaksi yang terjadi antara wisatawan dengan masyarakat lokal lebih banyak bersifat transaksi ekonomi. Hubungan yang semula didasarkan atas keramahan-keramahan tradisional, dalam pariwisata telah berubah menjadi keramah-tamahan yang dikomersilkan.
e. Hubungan atau interaksi umumnya bersifat tidak setara, pada umumnya masyarakat lokal merasa inferior. Wisatawan lebih kaya, lebih berpendidikan, dan dalam suasana berlibur, sedangkan masyrakat lokal dalam suasana melakukan pekerjaan, penuh kewajiban dan mengharapkan uang wisatawan. Posisi yang tidak seimbang ini menyebabkan terjadinya hubungan eksploitatif, atau inferior-inferior.
C. Hipotesis
35
Berdasarkan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :
H1 = diduga ada pengaruh persepsi masyarakat terhadap penerapan wisata syariah di kawasan Tanjung Bira.
H2 = diduga ada pengaruh kesiapan masyarakat lokal terhadap penerapan wisata syariah di kawasan Tanjung Bira.
H3 = diduga ada pengaruh persepsi dan kesiapan masyarakat lokal secara simultan terhadap penerapan wisata syariah di kawasan Tanjung Bira.
36 BAB III
METODE PENELITIAN