ORIENTASI KARIR MAHASISWA DISABILITAS
C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan survey menggunakan instrumen Schein diperoleh data orientasi karir mahasiswa dengan hambatan fisik di Universitas Sebelas Maret.
Tabel 1. Orientasi Karir Mahasiswa dengan Hambatan Fisik di UNS Kecenderungan Tipe
Karir
Jenis Disabilitas
Tunanetra Tunarungu Tunadaksa Kebebasan otonom
(autonomy/independence)
- 3 -
Rasa aman dan stabilitas - - 3
(security/stability) Teknis/fungsional (technical/functional)
1 2 -
Umum/manajerial
(general managerial competence)
- - -
Jiwa kewirausahaan (entrepreneurial
creativity)
1 1 1
Dedikasi sosial (service or dedication to a cause)
3 - -
Tantangan (pure challenge)
- - -
Keseimbangan gaya hidup (lifestyle)
1 - -
Kecenderungan orientasi karir mahasiswa dengan hambatan fisik tersebar di tipe kebebasan otonom (autonomy-independence), rasa aman dan stabilitas (security-stability), teknis/fungsional (technical/functional), jiwa kewirausahaan (entrepreneurial creativity), dedikasi social (service dedication for a cause), dan keseimbangan gaya hidup (lifestyle). Sebanyak 19% mempunyai orientasi karir yang memberikan kebebasan, 19% mengutamakan keselamatan dan stabilitas untuk karirnya; 19%
menginginkan bekerja di bidang khusus, yang sifatnya teknis dan fungsional ; 19%
mempunyai keinginan untuk membuka usaha mandiri; 19% menginginkan pekerjaan yang didasari dedikasi sosial; dan 5% menginginkan pekerjaan yang seimbang dengan pola hidupnya.
Selain itu terlihat pula perbedaan yang mencolok pada orientasi karir mahasiswa tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa. Mahasiswa tunanetra dominan memilih tipe karir yang sifatnya dedikasi sosial, mahasiswa tunarungu dominan memilih tipe karir yang memberikan kebebasan, dan seluruh mahasiswa tunadaksa dominan mengutamakan keamanan serta stabilitas pada orientasi karirnya.
Hasil wawancara mendalam yang dilakukan terhadap subjek penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut. Subjek mahasiswa tunanetra terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan. Subjek laki-laki terdiri dari PD, MH, AP, dan WY, sementara subjek perempuan terdiri dari NV dan SY. Tiga orang memilih orientasi karir yang didasari dedikasi sosial, satu orang memilih orientasi karir yang mengarah pada kewirausahaan, satu orang memilih orientasi karir yang sifatnya teknis atau fungsional, dan satu orang memilih orientasi karir yang seimbang dengan gaya hidupnya. Berikut uraian datanya secara detail, termasuk di dalamnya memuat hambatan yang dialami selama perkuliahan.
Subjek PD merupakan mahasiswa strata satu Teknik Informatika dan berasal dari SMA inklusi di Kebumen. Orientasi karirnya berdasarkan survey adalah entrepreneurial creativity, dengan skor 19 dari skor maksimal 20. Hal ini sejalan dengan data yang diperoleh melalui wawancara, PD memilih jurusan Teknik Informatika karena merasakan kebermanfaatan yang sangat besar dari teknologi, seperti
aplikasi JAWS dan ingin memiliki kehidupan yang layak dengan menyandang gelar sarjana. Di masa depan, PD ingin bekerja menjadi seorang programmer yang membuat beragam aplikasi. Hambatan yang dialami oleh PD saat menjalani perkuliahan adalah kesulitan mengakses informasi visual yang sering ditampilkan oleh dosen melalui tayangan power point, dan ia mengharapkan ada pendampingan khusus serta pemberian beasiswa tugas belajar untuk disabilitas di Universitas Sebelas Maret.
Subjek MH merupakan mahasiswa strata satu Pendidikan Luar Biasa dan berasal dari MA Inklusi di Klaten. Orientasi karirnya berdasarkan survey adalah service dedication to a cause, dengan skor 18 dari skor maksimal 20. Hal ini sejalan dengan data yang diperoleh melalui wawancara, MH memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa karena menyukai kegiatan mengajar dan ingin meningkatkan kualitas moral dari teman-teman tunantera sehingga bisa mendapatkan penghargaan dari orang lain. Selain itu, MH terinspirasi oleh tokoh Didi Tarsidi sehingga ia menjadikan ilmu yang didapatkan selama perkuliahan sebagai referensi kerja sebagai guru atau dosen. Hambatan yang dialami oleh MH saat menjalani perkuliahan adalah aksesibilitas bus kampus, ia mengharapkan adanya petugas yang memberitahukan lokasi-lokasi pemberhentian bus selama perjalanan. Selain itu, MH menginginkan adanya paguyuban yang mewadahi mahasiswa berkebutuhan khusus di Universitas Sebelas Maret agar dapat berdiskusi dan sebagai sarana advokasi, serta peran aktif Pusat Studi Disabilitas untuk mengadakan pelatihan soft skill baik untuk meningkatkan wawasan maupun mempersiapkan keterampilan bekerja.
Subjek AP merupakan mahasiswa strata dua Pendidikan Luar Biasa. Orientasi karirnya berdasarkan survey adalah service dedication to a cause, dengan skor 20 dari skor maksimal 20. Hal ini sejalan dengan informasi yang diperoleh melalui wawancara, AP memilih melanjutkan studinya karena ingin mengembangkan wawasan dan kemampuannya dalam mengelola sebuah sekolah di Jawa Barat. Beliau juga mengungkapkan kebanyakan siswa di sekolahnya merupakan anak dengan tunaganda sehingga muncul keinginan untuk memfasilitasi murid-muridnya mencapai kemandirian. Adapun hambatan yang dialami oleh AP saat menjalani perkuliahan tidak krusial, karena beliau sudah mendapatkan pelayanan yang baik dan terhubung langsung dengan pihak terkait, seperti rektor yang langsung menghubungkan beliau ke kepala perpustakaan untuk kemudahan akses informasi.
Subjek WY merupakan mahasiswa strata satu Pendidikan Luar Biasa dan berasal dari SMA Inklusi di Surakarta. Orientasi karirnya berdasarkan survey adalah service dedication to a cause. Mulanya, WY lebih berminat mengambil jurusan keolahragaan, namun karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Alasan memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa adalah keresahan ketika mengenyam pendidikan di tingkat sekolah dasar, WY merasa intensitas calon guru Pendidikan Luar Biasa yang turun ke lapangan dan berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus semakin berkurang sehingga ia tertarik untuk mengetahui isi perkuliahannya dan faktor penyebab fenomena tersebut. Saat ini, WY ingin melanjutkan karirnya sebagai atlit catur sekaligus melakukan advokasi kepada masyarakat bahwa seorang disabilitas mampu berprestasi.
Nantinya WY berencana mendirikan sebuah yayasan yang memberdayakan kelompok disabilitas. Adapun hambatan yang dialaminya saat menjalani perkuliahan sama seperti subjek MH, yakni minimnya aksesibilitas bus kampus dan kesulitan mengikuti
pembelajaran mata kuliah umum. WY berharap dilakukan acara orientasi menyeluruh ke lokasi kampus secara mendetail, dan kegiatan sosialisasi untuk dosen non pendidikan luar biasa sehingga mereka dapat menyesuaikan cara menyampaikan materi maupun saat memberikan tugas.
Subjek NV adalah mahasiswa strata satu Pendidikan Luar Biasa dan berasal dari SMA Inklusi di Wanadadi. Berdasarkan suvey, orientasi karir NV adalah lifestyle, dengan skor 18 dari skor maksimal 20. Alasan beliau memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa adalah keinginannya menjadi seorang guru yang punya waktu cukup untuk mengurus rumah. NV merasa pekerjaan guru cukup ideal, semisal tidak bisa bekerja di sekolah maka ia akan menjadi tutor atau guru kunjung ke rumah anak tunanetra.
Adapun hambatan yang dialaminya saat kuliah adalah kesulitan mengakses buku di perpustakaan, ia mengharapkan fasilitas audio book dan ruang baca khusus.
Subjek SY adalah mahasiswa strata satu Pendidikan Luar Biasa dan berasal dari SMA Inklusi di Surakarta. Berdasarkan suvey, orientasi karir SY adalah technical function, dengan skor 16 dari skor maksimal 20. Alasan SY memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa adalah keinginan untuk menjadi ahli praktisi untuk anak tunanetra. Ia merasa perkembanganan media untuk anak tunanetra di Indonesia stagnan. SY ingin bekerja di lembaga yang memberdayakan kaum tunanetra, seperti Yayasan MitraNetra. Adapun hambatan yang dialaminya sama seperti subjek NV yaitu kesulitan mengakses buku di perpustakaan, ia mengharapkan peran aktif dari Pusat Studi Disabilitas untuk menyediakan relawan atau mengadakan pelatihan untuk petugas perpustakaan mengenai pelayanan untuk mahasiswa berkebutuhan khusus.
Dari keenam subjek, maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan orientasi karir pada mahasiswa tunanetra adalah service dedication for a cause, mereka mengungkapkan keinginan untuk berbagi ilmu kepada generasi penerus, baik dengan mengajar maupun mendirikan yayasan khusus untuk anak tunanetra. Pada penelitian sebelumnya, Duquette, J & Baril, F. (2013) menjelaskan bahwa kelompok tunanetra mempunyai frekuensi membentuk komunitas lebih tinggi, kelekatan yang kuat terhadap komunitasnya sehingga mempunyai kepedulian lebih tinggi terhadap isu disabilitas, dan tendensi untuk bekerja di lingkungan yang berkaitan dengan komunitasnya.
Adapun hambatan yang dialami oleh mahasiswa tunanetra berkaitan dengan aksesibilitan informasi visual saat mengikuti pembelajaran maupun mengakses buku di perpustakaan, serta orientasi mobilitas. Mereka mengharapkan adanya pendampingan khusus untuk pendalaman materi, pelatihan untuk tenaga dosen dan perpustakaan yang lebih ramah disabilitas, pembentukan wadah komunitas mahasiswa disabilitas, dan pengoptimalan bus kampus sebagai sarana mobilitas.
Subjek mahasiswa tunarungu terdiri dari satu laki-laki dan lima perempuan.
Subjek laki-laki terdiri dari BM, sementara subjek perempuan terdiri dari CY, TF, NN, WD, dan LH. Tiga orang memilih orientasi karir yang didasari otonomi kebebasan, satu orang memilih orientasi karir yang mengarah pada kewirausahaan, dan dua orang memilih orientasi karir yang sifatnya teknis atau fungsional. Berikut uraiannya secara detail.
Subjek BM adalah mahasiswa strata satu Seni Rupa Murni dan berasal dari SMK di Surakarta. Berdasarkan survey, orientasi karir BM adalah autonomy independence,
dengan skor 18 dari skor maksimal 20. Alasannya memilih jurusan Seni Rupa Murni adalah hobinya menggambar sketsa dan mural sejak SMK. BM ingin bekerja sebagai pekerja lepas, dan seniman visual, serta melanjutkan studi pascasarjana di bidang seni rupa. BM mengungkapkan selama ini tidak ada hambatan besar dalam menjalani perkuliahan, namun ia jarang mendapatkan informasi mengenai gambaran pekerjaan di masa depan maupun tawaran pekerjaan, informasi tersebut lebih banyak didapatkan dari lingkup pertemanan. Harapannya untuk Universitas Sebelas Maret adalah diadakannya kegiatan diskusi atau workshop antar seniman dalam maupun luar kampus yang akomodatif untuk tunarungu, dan pameran yang bisa meningkatkan pemahaman kaum awam tentang disabilitas sekaligus menjadi perluasan jaringan relasi.
Subjek CY adalah mahasiswa strata satu jurusan Pendidikan Luar Biasa dan berasal dari SMA inklusi di Demak. Orientasi karir CY adalah technical function dengan skor 19 dari skor maksimal 20. Alasannya memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa sejalan dengan keinginannya untuk menjadi dosen atau ahli anak berkebutuhan khusus, utamanya bidang tunarungu. Hambatan yang dialaminya selama perkuliahan adalah kesulitan mengikuti pembelajaran yang dosennya bukan berasal dari jurusan Pendidikan Luar Biasa sehingga tidak ada prinsip keterarahwajahan dan keterarahsuaraan. Selain itu, CY merasa belum mendapatkan gambaran yang jelas mengenai profesi ahli anak berkebutuhan khusus karena kesulitan mencari teman diskusi. Rencana CY untuk mendukung orientasi karirnya adalah melanjutkan studi, dan ia mengharapkan ada beasiswa khusus untuk kelompok disabilitas serta program magang yang lebih intens.
Subjek TF adalah mahasiswa strata satu jurusan Pendidikan Luar Bisa, sebelumnya ia sempat berkuliah di jurusan Sastra Inggris selama satu semester. Namun dengan pertimbangan ketidakmampuan TF mengikuti mata kuliah listening, Pusat Studi Disabilitas memindahkannya ke jurusan Pendidikan Luar Biasa. Berdasarkan survey, orientasi karir TF adalah autonomy-independence dengan skor 19 dari skor maksimal 20. TF mengakui belum ada ketertarikan untuk menjadi guru maupun bekerja di perusahaan, ia ingin bekerja sebagai freelance dan membuka usaha perawatan kucing bersama keluarga. Hambatan yang dialami selama perkuliahan adalah proses adaptasi dari perpindahan jurusan. Selain itu, TF mengaku beberapa dosen sudah memahami kebutuhannya dan memberikan perhatian lebih kepadanya, seperti mencoba berkomunikasi lewat teks. Harapan dari TF untuk Universitas Sebelas Maret adalah penyediaan konseling untuk mahasiswa berkebutuhan khusus yang mengalami perpindahan seperti dirinya, atau masalah lainnya.
Subjek NN adalah mahasiswi strata satu jurusan Pendidikan Anak Usia Dini dan berasal dari SMA inklusi di Gunungkidul. Hasil survey menunjukkan orientasi karirnya adalah autonomy-independence dengan skor 17 dari skor maksimal 20. Alasan NN memilih jurusan Pendidikan Anak Usia Dini yaitu keinginan mendirikan taman kanak-kanak khusus anak tunarungu sesuai prinsip dan refleksi pengalamannya menjadi seorang tunarungu. Selanjutnya, karena menyadari kemampuan komunikasinya sulit dipahami anak usia dini, NN tidak ingin mengajar namun memilih menjadi konsultan pendidikan yang jadwal kerjanya lebih fleksibel. Selama kuliah, NN menemui hambatan berupa kesulitan komunikasi dengan dosen dan petugas administrasi.
Harapannya untuk Universitas Sebelas Maret adalah adanya pelatihan untuk dosen dan
petugas terkait pelayanan untuk kelompok disabilitas, serta pembentukkan komunitas mahasiswa berkebutuhan khusus.
Subjek WD adalah mahasiswi diploma tiga jurusan Agribisnis dengan konsentrasi bidang Farmaka. Berdasarkan survey, orientasi karir WD adalah technical function dengan skor 16 dari skor maksimal 20. Alasan WD memilih jurusan Agribisnis adalah ketertarikannya pada pengobatan herbal, hal ini sejalan dengan latar belakang pendidikan sebelumnya yaitu SMK Farmasi. WD ingin bekerja di perusahaan produsen obat herbal, dan melanjutkan studinya. Adapun hambatan yang ditemui WD selama perkuliahan adalah dosen yang belum mengakomodasi kebutuhannya, sehingga ia berharap semua dosen dapat terbiasa untuk menuliskan poin penting ketika pembelajaran dan memberikan instruksi secara individual.
Subjek LH adalah mahasiswi strata satu jurusan Seni Rupa Murni dan berasal dari SMALB di Surakarta. Hasil survey menunjukkan orientasi karirnya adalah entrepreneurial creativity. LH memiliki keinginan mempunyai studio sendiri yang memproduksi desain interior dan animasi dua dimensi. Hambatan yang ditemui LH selama perkuliahan adalah kesulitan memahami materi dari dosen karena LH terbiasa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, baru sebagian kecil dosen yang mencoba berkomunikasi lewat teks. LH berharap ada pendampingan khusus dari Pusat Studi Disabilitas, dan program pelatihan softskill utamanya untuk meningkatkan kepercayaan dirinya dalam berinteraksi.
Dari kelima subjek, maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan orientasi karir pada mahasiswa tunarungu adalah autonomy-independence. Mereka mengakui keterbatasan komunikasi menjadi hambatan terbesar selama kuliah dan takut hal tersebut juga akan terjadi di dunia kerja. Maka dari itu, mereka cenderung memilih pekerjaan yang sifatnya memberi kebebasan namun tetap disertai pendampingan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Cooper, S.B., Emmanuel, D.C., Cripps, J.H. (2012) yang mengungkapkan bahwa bekerja di firma swasta, tenaga kerja lepas (freelance), dan berwirausaha menjadi tiga pilihan karir utama tunarungu di Kanada.
Adapun hambatan mahasiswa tunarungu selama mengikuti perkuliahan adalah mengakses informasi auditoris, terutama saat dosen mengajar atau karyawan universitas memberikan pengarahan, serta minimnya interaksi dengan teman. Mereka mengharapkan adanya kebiasaan untuk staff pengajar maupun karyawan memberikan informasi secara individual, konseling, dan program pelatihan softskills untuk meningkatkan relasi serta kepercayaan diri dalam berinteraksi.
Subjek mahasiswa tunadaksa terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan. Subjek laki-laki adalah RD, sementara subjek perempuan terdiri dari NR, AF, dan ND. Tiga orang memilih orientasi karir yang mengutamakan keamanan dan stablitas, sementara satu orang memilih orientasi karir yang mengarah pada kewirausahaan. Berikut uraiannya secara detail.
Subjek RD merupakan mahasiswa strata satu di fakultas Ilmu Hukum dan berasal dari SMA inklusi di Jakarta. Alasan RD memilih fakultas Ilmu Hukum adalah keinginannya bekerja di belakang meja atau tidak terlalu banyak terjun ke lapangan, seperti di institusi Badan Keuangan Negara, Kemenkunham, dan lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil surveynya yang menunjukkan orientasi karir RD adalah security-stability
dengan skor 18 dari skor maksimal 20. RD mengungkapkan selama kuliah sudah mendapatkan gambaran yang jelas mengenai ranah pekerjaan di bidang hukum, dan tidak menemui hambatan yang besar. Namun ia menyayangkan pemeliharaan fasilitas untuk disabilitias yang kurang, seperti toilet disabilitas, dan jalur pedestrian yang berbatu. Harapan RD terhadap Universitas Sebelas Maret adalah pengoptimalan pemeliharaan fasilitas untuk disabilitas dan pengadaan kegiatan rutin yang sifatnya inklusif sehingga label kampus inklusi dapat terwujud secara utuh.
Subjek NR merupakan mahasiswi diploma tiga Jurusan Teknik Informatika dan berasal dari MA inklusi di Bekasi. Hasil survey menunjukkan orientasi karirnya adalah security-stability dengan perolehan skor maksimal yakni 20. NR mengungkapkan ketertarikannya kepada bidang start-up, dan orang tua mendukung pemilihan jurusan tersebut dengan pertimbangan proyeksi pekerjaan yang tidak melibatkan banyak aktivitas fisik. NR menginginkan karir di sebuah perusahaan atau agency kreatif digital, desain, atau media. Keinginan ini memotivasi NR untuk mencari informasi mengenai kesiapan kerja melalui Career Development Center di kampus dan mengikuti program pre-job training. Adapun hambatan yang dialaminya selama perkuliahan adalah mobilitas kelas maupun gedung, dan saat kuliah praktikum yang melibatkan aktivitas seperti memasang kabel, dan sebagainya. Harapan NR kepada Universitas Sebelas Maret adalah Pusat Studi Disabilitas lebih aktif menjangkau mahasiswa berkebutuhan khusus dan bekerjasama dengan staff pengajar, petugas perpustakaan, maupun petugas administrasi untuk mewujudkan layanan yang akomodatif.
Subjek AF merupakan mahasiswi strata satu jurusan Pendidikan Akuntansi dan berasal dari SMA inklusi di Magelang. Hasil survey menunjukkan orientasi karirnya adalah security-stability dengan perolehan skor 18 dari skor maksimal 20. Alasan memilih jurusan Pendidikan Akuntansi adalah ketertarikan pada bidang akuntansi dan pertimbangan pekerjaan di masa depan yang lebih minim resikonya. AF mengungkapkan selama berkuliah ia sudah mendapatkan gambaran mengenai pekerjaan sebagai akuntan maupun guru. Sampai saat ini AF masih punya keinginan kuat untuk bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Hambatan yang ditemui oleh AF adalah mobilitas, terlebih jika harus berpindah gedung. Harapan AF untuk Universitas Sebelas Maret adalah penyediaan beasiswa untuk mahasiswa berkebutuhan khusus.
Subjek ND merupakan mahasiswi strata satu jurusan Pendidikan Sosio Antropologi. Berdasarkan survey, orientasi karir ND adalah entrepreneurial creativity dengan peroleh skor 18 dari skor maksimal 20. Hal ini disebabkan oleh didikan orang tuanya yang mempunyai usaha sendiri lebih baik daripada bekerja di perusahaan orang lain. Adapun alasan pemilihan jurusan Pendidikan Sosio Antropologi didasari oleh ketertarikannya walaupun mulanya ia ingin mengambil jurusan keolahragaan karena profesinya sebagai atlit atletik. Namun ada isu bahwa kondisi fisik yang tidak lengkap (re: tangan hanya satu) tidak boleh menjadi mahasiswi jurusan keolahragaan. ND mempunyai cita-cita mendirikan usaha penyewaan tempat tinggal/kos-kosan yang modalnya berasal dari jerih payahnya sebagai atlit. Adapun hambatan yang ditemui oleh ND tidak terlalu krusial, dan ia merasa pelayanan di kampus sudah akomodatif. ND juga merasa sudah menerima gambaran mengenai kewirausahaan dari mata kuliah umum dan berbagai seminar yang diikutinya.
Dari keempat subjek, maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan orientasi karir pada mahasiswa tunadaksa adalah security-stability. Mereka mengakui keterbatasan mobilitas dan aktivitas fisik menjadi pertimbangan dalam memilih jurusan serta karir yang minim resiko. Maka dari itu, mereka cenderung memilih pekerjaan yang sifatnya di belakang meja, dan tidak melibatkan banyak aktivitas fisik. Adapun hambatan mahasiswa tunadaksa selama mengikuti perkuliahan adalah mobilitas saat berpindah kelas atau gedung kuliah, dan minimnya kegiatan pendukung Mereka mengharapkan adanya pemeliharaan dan pengembangan fasilitas yang memadai, seperti bidang miring yang dilapisi karpet agar tidak licin, tangga yang disertai pegangan, dan pedestrian yang rata.
Hasil penelitian ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Dent & Rennie (2005) yakni masalah yang dihadapi oleh mahasiswa terbagi menjadi lima kategori, yakni akademik, karir, professional, personal, dan administratif. Pada mahasiswa dengan hambatan fisik di Universitas Sebelas Maret umumnya mengalami masalah akademik, karir, dan administratif.
Masalah akademik disebabkan karena tidak semua staff dosen memahami kebutuhan mereka, terlebih menyediakan akomodasi khusus. Hanya sebagian kecil yang memberi perhatian khusus seperti mencoba komunikasi melalui teks ketika mengajar mahasiswa tunarungu. Hal ini sejalan dengan pendapat Hakeem, K.A. (2015) yang menyatakan masih ada tantangan besar mengubah kompetensi guru untuk lebih menghargai kemampuan dan memberikan dukungan moral kepada siswa berkebutuhan khusus.
Pada bidang karir, umumnya mereka tidak mengalami masalah untuk praktik magang namun informasi mengenai gambaran dunia kerja maupun pelatihan softskills sangat minim. Selain itu, program konseling karir belum tersedia, padahal salah satu peran kampus adalah menyiapkan lulusannya ke dunia kerja. Terlebih kelompok disabilitas mempunyai permasalahan dalam memperoleh pekerjaan yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya hambatan yang disebabkan oleh kondisi fisik mereka sendiri, ketidakmampuan mengakses informasi pekerjaan, dan ketakutan mengulang kegagalan melamar pekerjaan (Hakeem, K.A. (2015).
Berdasarkan hasil survey dan wawancara dengan keenam belas subjek, dalam memilih orientasi karir rata-rata baru sampai tahap mengkorelasikan karakteristik diri terhadap pekerjaan tertentu namun belum mempunyai informasi atau gambaran detail mengenai karir yang diinginkan. Goldstein, T., Chunn. M., and Winkler, M. (2001) menguraikan tujuh tahap dalam menentukan orientasi karir, yaitu; a) mengetahui hambatan utama (baik fisik maupun mental); b) mengetahui minat, keterampilan, dan nilai diri; c) mengkorelasikan karakteristik diri terhadap beberapa pilihan karir;d) mengumpulkan data mengenai karir yang diinginkan; e) mengevaluasi dan membuat prioritas karir; f) menetapkan tujuan karir; dan g) merencanakan aksi untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi masih ada empat tahapan yang belum dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa dengan hambatan fisik di Universitas Sebelas Maret.
Upaya untuk menyiapkan kesiapan mahasiswa disabilitas sekaligus mencegah permasalahan dalam memperoleh pekerjaan dapat diatasi melalui konseling karir dan pelatihan softskills. Menurut Gibson & Mitchell (2011), meskipun isu-isu pengembangan karir individu penyandang disabilitas mirip dengan yang dialami
kelompok non disabilitas, namun penanganan terhadap kelompok khusus ini memerlukan strategi perencanaan yang lebih matang dan luas, termasuk memberikan pendidikan tambahan dan keterampilan spesifik.
Seorang koselor karir untuk klien mahasiswa berkebutuhan khusus sebaiknya memahami keragaman disabiliras dan implikasi karirnya. Selain itu ia harus mengetahui sumber daya, pelatihan, dan peluang karir yang tepat sehingga di saat bersamaan dapat mendukung, dan realistis. Kelompok disabilitas juga dibantu oleh konselor untuk mengakses pendidikan atau pelatihan, serta berhubungan dengan kelompok pendukung rekan sebayanya, atau rekan lain yang juga penyandang disabilitas (Punch, R., Hyde, M.
& Creed, P.A. (2004). Hal ini bertujuan untuk menguatkan konsep diri mereka dan membantu mengembangkan keahliannya.
Selain itu pelatihan softskills juga diperlukan untuk mahasiswa dengan hambatan fisik. Adapun kemampuan yang dapat dilatihkan diantaranya kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengatur waktu dan sumber daya, kepemimpinan, kemamouan berpikir logis, etika, dan evaluasi karir (O’Brien (2013); Utomo &
Hargiarto (2011)).
Sementara, masalah administratif umumnya berhubungan dengan regulasi dan kegiatan administrasi seperti peminjaman buku perpustakaan, pemberian informasi beasiswa, dan pengisian rencana studi, karena tidak semua staff karyawan memiliki kemampuan melayani mahasiswa berkebutuhan khusus. Sekilas terlihat sepele namun bagi kelompok disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam mengakses informasi akan menimbulkan masalah besar.