Ismail Suardi Wekke
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat Email: [email protected]
ABSTRAK
Pendidikan sampai saat ini diyakini sebagai salah satu metode untuk melakukan tranformasi pengetahuan. Hanya saja, dalam implementasi pendidikan terkadang aksesibilitas yang menjadi salah satu penghambat. Untuk itu, makalah ini menguraikan beberapa hal berkenaan perluanya perluasan akses pendidikan. Tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaanpendidikan sehari-hari tetapi lebih dari itu diperlukan kebijakan politik yang berpihak terhadap ketersediaan sarana pendidikan. dengan mengambil setting di Provinsi Papua Barat, penelitian ini menguaraikan pendidikan tinggi dalam memperkuat kapasitas individu. Ketika seorang individu mampu berdaya, maka tidak saja keluarganya yang akan menikmati kemampuan tersebut. Jauh dari itu, masyarakat dan bangsa akan turut menikmati kemajuan dan daya saing atas keunggulan sumber daya manusia. Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana keterbatasan dapat saja menjadi sumber kekuatan. Sehingga tidak dapat dengan menjadikan keterbatasan sebagai hambatan. Justru itu menjadi kesempatan untuk melakukan inovasi. Penelitian ini juga menyimpulkan bagaimana pendidikan tinggi yang tidak tertata dapat berakibat kepada ekonomi tinggi. Dengan demikian akan merintangi perjalanan untuk meraih kesempatan untuk tahu. Akhirnya, dengan rekonstruksi pelbagai sumber daya, dapat saja perguruan tinggi tetap menjadi sarana terbaik bagi penyediaan tenaga untuk mengabdi bagi peradaban.
Kata Kunci: pendidikan tinggi, akses, sumber daya, hambatan
PENDAHULUAN
Pendidikan dijadikan sebagai target strategis. Ini tertuang secara implisit dalam Undang-undang Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat. Sehingga perhatian segenap lapisan masyarakat senantiasa mempersoalkan pendidikan sebagai kebutuhan utama.
Untuk itu, tuntutan akan peningkatan kapasitas pendidikan senantiasa menjadi keinginan semua pihak. Terlebih lagi, dengan pendidikan menjadi sarana untuk melahirkan tenaga terampil untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Cita-cita inilah yang menjadi kerangka kerja bagi kelangsungan pendidikan saat ini. Tidak saja untuk memenuhi amanat undang-undang tetapi lebih dari itu, menyiapkan tenaga terdidik untuk menjadi pionir di masyarakat. Sebagaimana McCrea dan Ehrich (2000) menjelaskan bahwa dengan pendidikan tinggi yang memadai dapat saja mendorong percepatan pemberdayaan masyarakat.
Kalaulah wacana universitas riset sudah menjadi bagian cita-cita ideal perguruan tinggi saat ini, maka impian itu belum digapai untuk kawasan Papua dan Papua Barat.
Saat ini, paling utama dan mendesak bagaimana untuk membuka rintangan. Sehingga kemudian akses terhadap pendidikan tinggi semakin terbuka lebar. Setelah agenda ini selesai, maka target yang perlu dikemukakan adalah bagaimana penguatan institusi yang pada gilirannya akan berdampak terhadap menguatnya kapasitas individu yang terlibat di dalamnya. Ketika ini tercapai, maka pembebasan manusia dari segala belenggu akan menjadi capaian dan prestasi tersendiri. Tetapi selama pendidikan tidak dibenahi, maka keterbelakangan tetap saja akan menjadi realitas kehidupan sehari-hari. Kegagalan ini dimulai dari ketidakmampuan membentuk komunitas ilmiah di perguruan tinggi (Roebken, 2010).
Agenda masyarakat Papua Barat sekarang ini adalah bagaimana menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai. Dalam artian mampu untuk dijangkau, sekaligus memberikan penguatan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan yang ada. Prasyarat pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang dapat digunakan sebagai bagian dari adaptasi lingkungan. Kegagalan pendidikan jika hanya memenuhi kebutuhan keilmuan tetapi tidak mampu membebaskan manusia dari belenggu alam.
Kesalahan lebih tinggi lagi jika kemudian pendidikan justru hanya menjadi alat penghambaan terhadap sesama manusia. Untuk memenuhi cita-cita ideal pendidikan, maka segala potensi harus diarahkan untuk menggali dan memaksimalkan potensi kemanusiaan itu sendiri. Dengan penggunaan teknologi yang memadai, maka memungkinkan untuk melaksanakan proses pendidikan yang dapat mengakselerasi keperluan masyarakat (Jetnikoff, 2007).
Jika dilihat dari perspektif penjenjangan, pendidikan tinggi hanyalah tingkatan yang lebih tinggi dari pendidikan yang sudah ada sebelumnya. Dengan menggunakan pandangan ini, maka seyogyanya pendidikan tinggi harus mampu mencakup pendidikan dasar dan menengah yang sudah dijalani sebelumnya. Pengalaman belajar yang didapatkan di bangku sekolah menemukan tempat untuk diasah dan dikembangkan di tingkat pendidikan tinggi. Bukanlah sesuatu yang baru sama sekali, justru pendidikan tinggi harus mampu digunakan untuk mdengidentifikasi, merangkum, dan juga mendayagunakan pengalaman belajar sebagai bagian untuk membentuk seorang sarjana dalam artian pakar. Agenda berikutnya adalah kemerdekaan dalam akademik (Balyer, 2011).
Agenda mendesak sebuah universitas adalah bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Sekecil dan seterbatas apapun yang dimiliki, ini harus mampu digunakan untuk menghasilkan apa yang menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan. Tidak bisa dengan menunggu sampai terbentuk sumber daya yang memadai baik dalam kuantitas maupun kualitas. Soekartawi (2005) mengusulkan untuk melaksanakan strategi “revitalisasi sumber daya universitas”. Peran perguruan tinggi dimulai dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Ini dimunculkan bukan karena kekurangan sumber daya tetapi tidak mengoptimalkan apa yang dimiliki dengan justru mengidam-idamkan apa yang sudah dimiliki lembaga lain. Untuk memiliki kemampuan kompetisi, maka solusi yang perlu dilakukan sejak awal adalah sinergitas antar pelbagai elemen yang ada. Di era mondial sekarang ini, bukan lagi bertumpu kepada figur
seorang pemimpin tetapi dialihkan menjadi kekuatan tim yang mampu menstimulasi setiap individu yang untuk bekerja dengan orientasi pada hasil yang maksimal.
Peran pendidikan tinggi dengan tiga pilar mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki lembaga lain. Kredibilitas pendidikan, ditunjang dengan objektifitas pendidikan kemudian dipandang dapat menjadi harapan untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang terkemuka. Uraian sebelum ini menjadi landasan bahwa ada harapan untuk mendorong warga di tanah Papua untuk maju bersama-sama. Untuk itu, tulisan ini akan mengekplorasi pendidikan tinggi sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat Papua Barat.
Politik Pendidikan: Kepemimpinan dan Manajemen Strategik
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, maka pemerintah memiliki posisi sebagai regulator dari terciptanya tatanan masyarakat. Begitu juga dalam pembentukan sistem permanen seperti dalam pendidikan. pendidikan yang tertata akan memberikan dampak positif berupa kemajuan pendidikan dengan membaiknya struktur demografi.
Ini selanjutnya akan mencapai kualitas kehidupan yang berdampak dalam pengembangan di pelbagai sektor. Kunci utama pendidikan terletak pada pemerintah berupa kepedulian dan keseriusan untuk menangani pendidikan. Maka, dalam sistem pendidikan bangsa, perguruan tinggi muncul dari suatu proses yang panjang.
Kepiawaian, kemampuan dan wawasan yang sudah diperoleh dari pendidikan dasar sampai menengah akan mendapatkan legitimasi jika sudah mendapatkan pengesahan dari pendidikan tinggi. Perubahan dinamika masyarakat dari waktu ke waktu senantiasa menuntut universitas untuk menjadi motor transformasi dalam perubahan itu sendiri.
Kepekaan terhadap perubahan ini diwujudkan sebagai tanggung jawab sosial atas didirikannya universitas untuk masyarakat. Visi pemerintah akan mengurus kebutuhan masyarakat di masa depan (Blass, Jasman, dan Shelley, 2010).
Kesempatan untuk mengeyam pendidikan menjadi tujuan utama penyelenggaraan pemerintah. Maka, muncullah kebijakan dengan kewajiban seorang warga negara untuk menempuh pendidikan. jika sebelumnya hanya enam tahun, maka ditingkatkan menjadi sembilan tahun. Sementara perkembangan terakhir sudah sampai di tahun keduabelas.
Ini berarti bahwa seorang warga negara di Indonesia, setidaknya menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah atas. Sebagai kewajiban pemerintah, maka disediakan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran negara secara keseluruhan untuk dijadikan sebagai ongkos pendidikan. apapun program yang dilaksanakan jika tidak dibarengi dengan dua hal, kekuatan kepemimpinan dan perumusan strategik manajemen. Dapat disimpulkan, dari pengalaman bangsa lain terbukti bahwa adanya tata kelola pendidikan akan memberikan dampak kecerdasan.
Jika kelompok warga negara cerdas, maka kesejahteraan dan daya saing bangsa akan terwujud secara langsung. Kesempatan berperan dalam pendidikan juga harus dimaknai bukan semata-mata menjadi urusan pemerintah tetapi diperlukan kepemimpinan pemerintah. Untuk itu, jalan menuju ketersediaan pendidikan harus dipersiapkan sejak awal (Sibbel, 2009).
Jika pendidikan dikelola dengan menggunakan prinsip kepemimpinan (Azizi, 2008), maka ini akan mempengaruhi kinerja ekonomi bangsa. Secara potensial, pemimpin harus merumuskan sekaligus menjual kepada warganya visi positif untuk masyarakat di masa depan. Disinilah pemimpin dengan meyakinkan bagaimana
gambaran visi masa depan bagi bangs ayang dipimpinnya. Kegagalan untuk merumuskan ini, tentu memainkan peranan untuk membentuk lingkungan yang aman bagi kelangsungan karir politik seorang pemimpin. Demikian pula bagi kelompoknya.
Ini harus dimulai dengan adanya visi masa depan, lalu membangun birokrasi elit dengan staf dengan keterampilan manajerial yang memadai. Berikutnya, walaupun terbentuk sistem politik yang otoriter tetapi harus ada ruang lingkup yang mendukung untuk pengambilan inisiatif kebijakan yang dikonsultasikan. Terakhir, kerjasama antar pebagai elemen dalam pembuatan kebijakan akan menjadikan kesatuan organisasi sekaligus menghindarkan diri dari perpecahan dan ketiadaan dukungan dalam aspek inisiatif dan teknis. Pesona hubungan ini akan menyajikan kekuatan untuk mewujudkan visi yang diyakini sebagai harapan kelompok besar di masa depan walaupun awalnya dimulai dari hanya keinginan seorang saja. Keberhasilan pucuk pimpinan dalam mengkomunikasikan keinginanya akan berakhir pada realitas. Begitu pula pendidikan harus berorientasi ke masa depan (Rieckmann, 2012).
Jika ingin menghasilkan keluaran dari riset yang dapat mendorong penemuan baru, maka diperlukan manajemen yang mampu mendorong research and development strategis. Sebagaimana kemajuan teknologi informasi menghasilkan layanan jasa yang lain untuk menopang industri ini, maka ini bermakna perkembangan suatu teknologi tidak hanya berpengaruh secara internal tetapi berdampak secara tidak langsung dalam bidang kehidupan lain. Makna lainnya adalah tanpa dukungan suasana yang kondusif, maka tidak akan pernah wujud inovasi. Kepemimpinan yang berorientasi pada manajemen strategik akan menjadi value driver (motor penggerak) sehingga menjadi pemicu untuk menopang kelangsungan pendidikan. jika gagal mewujudkan ini, maka secara prosedural bisa saja menjadi kegagalan untuk pembentukan keunggulan kompetitif antar lembaga sekaligus pada saat yang sama akan gagal dalam daya saing perguruan tinggi. Namun tidak berhenti sampai di situ sekaligus menjadi kegagalan untuk menjadi kekuatan daya saing bangsa.
Selain visi, ada pula aspek dari kekuatan politik dalam bentuk mengatasi hambatan yang menghalangi tujuan yang akan dicapai. Selanjutnya berusaha untuk menjalankan pilihan politik tersebut secara maksimal. Kekuatan dan kelemahan sebuah kebijakan dilihat pada efektifitas membangun sistem pendidikan. Jika kebijakan ditetapkan semata-mata karena keterpaksaan, maka ini bisa saja mencerminkan dari sebuah kelemahan pemerintahan. Salah satu lahan subur yang memungkinkan bersemainya lalu tumbuh kelemahan berada dalam wilayah korup. Jika birokrasi tidak dapat berjalan sebagai bentuk pelayanan, maka bisa saja ada bentuk pemborosan, ketidakpastian, sekaligus kelambanan dalam memutuskan sebuah pilihan. Kelangsungan seperti ini pada saatnya akan menidtorsi alokasi sumber daya. Sudah tentu masyarakat sendiri yang akan rugi. Akan ada pula konsentrasi kekayaan yang tidak produktif, sekaligus secara bersamaan akan mengikis kebudayaan, sikap dan nilai-nilai luhur yang sudah ditunkan dari waktu ke waktu. Tanpa kepemimpinan yang kuat, maka akan menjadikan perguruan tinggi secara struktur lemah dan tidak mampu mengemban amanat yang diembannya. Ini ditunjukkan di universitas-universitas Spanyol dimana dalam kajian Castro dan Ion (2011) beberapa perguruan tinggi tidak dapat menjalankan mandate otonomi akibat dari lemahnya kepemimpinan.
Ada perubahan yang terjadi secara terus menerus. Fungsi inilah yang diemban oleh pelaku politik praktis untuk senantiasa bekerja dalam usaha membangun kemampuan portofolio bangsa melalui pendidikan. Ada lingkungan umum yang didalamnya menyertai persaingan. Kohesi sosial harus dijadikan sebagai landasan bagi pergerakan selanjutnya. Pembuat kebijakan harus memusatkan perhatian tidak hanya melihat faktor pendidikan semata-mata tetapi juga melakukan sinergitas agar unsur yang lain dapat berkolaborasi dalam kerangka waktu. Ada prioritas yang perlu dijalankan setiap kurun waktu tertentu. Jika gagal membaca peluang ini, maka akan bermakna kehilangan mengekploitasi kesempatan. Ada kesempatan yang didalamnya usaha untuk memperoleh tambahan keberhasilan. Probabilitas ini tidak semata-mata dalam bentuk kompetitif tetapi sampai juga pada nilai tertinggi yang berlangsung.
Kesimpulannya, harus ada rencana-rencana untuk mengejar kesempatan dalam meningkatkan perkembangan sosial. Kesalingtergantungan global semakin memberikan kesempatan ini untuk terus bekerja sama dengan bangsa lain. Tetapi jika lingkungan tidak memberikan berkecambahnya semua proses, secara alami yang datang adalah hilangnya kemampuan dalam memanfaatkan nilai yang ada untuk dijadikan sebagai pondasi bagi kelangsungan kehidupan selanjutnya. Dengan optimalnya lingkungan akan membentuk atmosfir bagi berkembangnya performance sebagaimana dalam temuan Fernandez dan Morales, Rodriguez, dan Salmeron (2011) yang menunjukkan bahwa universitas dengan elaborasi pelbagai variable, mampu meningkatkan performance dari waktu ke waktu.
Akhirnya, memilih strategi yang tepat sama pentingnya dengan memilih tindakan politik yang dijalankan atas strategi yang dipilih. Diperlukan pula kualitas birokrasi yang unggul untuk dapat menjalankan keputusan secara maksimal. Transformasi diperlukan dari waktu ke waktu. Secara bertahap ada transformasi organisasi.
Diperlukan pula gaya kepemimpinan dengan politik yang mendasarkan strategi pada politik rasional. Tentu saja sebagus apapun nilai, keyakinan dan kebudayaan yang terbentuk tetapi arah pengembangan yang tidak menggunakan semua sumber daya itu untuk kemajuan, maka arah yang dituju tentu akan berbeda. Ketidaksesuaian dengan harapan ini semakin jauh dari harapan nasional jika kesehatan dan pendidikan semata-mata hanya menjadi alat politik. Tetapi keduanya tidak digunakan untuk membangun bangsa dengan angkatan kerja yang produktif sekaligus bersamanya ada bakat dan pengetahuan yang kuat, sudah tentu kesempatan pengembangan modal manusia akan menemui kegagalan.
Realitas dari Lapangan
Sekarang ini mulai dilihat pergeseran peran universitas yang sudah berlangsung dalam satu dekade terakhir. Seiring dengan reformasi, maka tatanan lingkungan perguruan tinggi juga berubah. Jika selama ini istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi “kitab suci” di pendidikan tinggi, maka perlu dilakukan pemaknaan bagi kelangsungan pilar tersebut. Pilar pertama pendidikan dan pengajaran. Jika pengajaran berlangsung secara sempit, maka harus diperluas dengan proses pendidikan. Pertemuan dengan lima puluh menit persatuan kredit setiap semester dapat saja diperkaya dengan adanya kesempatan untuk mengolah informasi yang setiap detik muncul melalui instrument teknologi informasi. Dosen menjadi fasilitator pendidikan. tetapi tidak lagi menjadi sumber informasi satu-satunya. Mata kuliah yang diajarkan di dalam kelas,
dapat dilengkapi dengan sumber informasi yang tersedia melalui pelbagai saluran.
Informasi yang dikemukakan dosen dapat lebih lengkap jika mahasiswa memiliki spirit belajar. Bukan karena nilai semata-mata yang merupakan dampak, tetapi keinginan untuk meningkatkan profesionalisme diri.
Kekayaan utama mahasiswa dan dosen terletak pada idealisme dimana bagian masyarakat lain tidak berada dalam lingkaran ini. Ilmu pengetahuan dapat saja diperoleh dari mana saja. Termasuk dengan berkembangnya pendidikan komunitas, lembaga pelatihan dan institusi yang juga mendorong terhadap penguasaan keterampilan. Tetapi, dalam lingkup idealisme, hanya perguruan tinggi yang senantiasa memiliki ciri khas ini. Dengan demikian, pergeseran dinamika global tidak perlu menjadi alasan untuk melunturkan kondisi ini. Justru dengan pergeseran yang ada, mempertahankan semangat dan moral yang sudah ada sebelumnya sama pentingnya dengan merespon perubahan yang terus berlangsung. Karakter bangsa diharapkan terbentuk dengan tentang langgengnya idealism. Moral dan sikap yang dimiliki dosen diharapkan dapat menular kepada mahasiswa sehingga membentuk sikap positif dan kretaif untuk kemajuan.
Pilar kedua riset. Kata ini sering juga dipertukarkan dengan istilah penelitian.
Untuk mendukung pilar ini, maka unsur yang harus selalu ada terdiri atas keinginan untuk selalu mempertanyakan sesuatu dan sikap kreatif. Jika kedua hal ini tidak ada, maka keinginan memajukan riset akan berhenti begitu saja. Proses keilmuan terutama di tingkat sarjana, namun bukan pada pendidikan vokasional yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi masalah. Seorang sarjana dituntut untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah yang diidentifikasi dengan menggunakan prosedur ilmiah yang baku. Kekuatan analisis pada gilirannya akan memperoleh nilai yang tinggi dalam objektivitas dan kebaruan penemuan. Aktivitas seperti ini akan menjadi sumbangan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Ruang-ruang kuliah akan semakin kaya dengan materi temuan riset yang dihasilkan dari lingkungan sendiri. Sebaliknya jika hanya mengandalkan apa yang sudah ada, dilanjutkan dengan menerima hasil riset dengan seadanya. Ini bukan menyumbang terhadap dialektika keilmuan tetapi jutsru merobohkan bangunan keilmuan yang sudah ada. Sehingga akan menimbulkan stagnasi.
Kelangsungan pendidikan ditopang dengan pilar ini.
Tantangan riset adalah publikasi dan pemanfaatan. Penelitian yang berjalan selama ini, sebagaimana juga menjadi prasyarat kelulusan di tingkatan pendidikan mulai strata satu sampai strata tiga tidak berlangsung secara optimal. Kendala utamanya di samping kualitas riset yag tidak memadai karena tidak dilaksanakan secara serius juga karena minimnya publikasi dari haisl riset yang ada. Penelitian berhenti di ruang ujian dan perpustakaan. Tidak dipublikasikan di jurnal yang bereputasi. Selanjutnya sematang dan sebagus apapun riset itu, hanya dinikmati dikalangan terbatas. Ini ditopang pula ketidaktertarikan birokrasi pemerintah untuk memanfaatkan hasil-hasil riset untuk membuat kebijakan. Mata rantai yang terputus antara publikasi dan pemanfaatan karena tidak dibarengi oleh iktikad baik dan justru yang muncul adalah ego sektoral. Padahal penelitian skripsi saja, belum pada disertasi, sudah menghabiskan tenaga dan dana yang tidak sedikit. Dengan tersusunnya secara rapi skripsi yang ada sampai di perpustakaan, ibarat menumpuk uang dan informasi yang dihasilkan dari mahasiswa, tim pembimbing dan juga penguji. Semuanya sia-sia, hanya karena tiak terbaca oleh orang lain.
Pilar ketiga, pengabdian masyarakat. Sebagaimana penelitian yang menjadi struktur pendidikan tinggi dengan pembentukan Lembaga Penelitian atau Pusat Penelitian, maka pengabdian masyarakat juga difasilitasi oleh lembaga yang secara khusus mengurusi keperluan pengabdian masyarakat ini. Universitas tidak terlena dengan pendidikan dan riset semata-matalalu kemudian menjauh dari realitas masyarakat. Justru keberadaan universitas adalah untuk mendorong eksistensi masyarakat untuk juga berlangsung secara dinamis. Maksud ini teriplementasi dalam bentuk pengabdian masyarakat. Komunitas masyarakat dapat dibangun dengan adanya pandangan pakar yang terlibat secara langsung dalam kondisi kekinian. Tenaga ahli dan mahasiswa secara langsung terjun untuk belajar dari masyarakat. Jika selama ini hanya tenaga pengajar saja yang menjadi dosen, maka dengan berada di masyarakat, setiap individu yang ada dalam masyarakat itu memungkinkan untuk menjadi dosen bagi mahasiswa.
Satu dekade terakhir, sejak reaktivasi Provinsi Papua Barat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menanjak ke peringkat yang lebih tinggi. Bergeser dua posisi dari sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa pertambahan perguruan tinggi memberikan sumbangsih bagi tingkat melek huruf. Di Kota Sorong, perguruan tinggi baik swasta maupun negeri memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak bangsa untuk memilih pelbagai program studi (prodi). Bahkan sejak 2010 pembukaan program studi baru mencapai angka dua digit. Dengan melihat potensi kesempatan kuliah yang terbuka, maka Kementerian Kesehatan membuka Politeknik Kesehatan Sorong.
Sementara di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah sebelum ini hanya menyelenggarakan kelas mitra untuk prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mulai 2013 menyelenggarakan kelas reguler untuk pordi tersebut. Berarti kebutuhan tengaa guru yang akan ditugaskan sebagai guru kelas di sekolah dasar dapat diperoleh dari lulusan setempat. Selama ini, untuk merekrut guru SD diperlukan lulusan dari perguruan tinggi yang ada dari luar pulau Papua.
Namun antusiasme pengelola perguruan tinggi tidak dibarengi dengan kebijakan primer pemerintah. Dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berwenang mengelola administrasi pendidikan tinggi. Parameter yang digunakan untuk memberikan izin operasional pada suatu perguruan tinggi dalam prodi yang baru kadang tidak dapat dipenuhi secara administratif sebagaimana yang diberlakukan untuk kawasan lain. Sementara kebutuhan masyarakat memerlukan adanya pengelolaan prodi tersebut. Adapun tenaga pengajar yang tersedia sudah mampu melaksanakan kelas yang akan dibuka, hanya saya indikator yang digunakan pemerintah tidak dapat dicapai.
Dalam pada itu, tidak terbuka juga pilihan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Sehingga dalam praktik sering terjadi penyelenggaraan kelas jauh terutama untuk program pasca sarjana. Kelas magister hanya diselenggarakan dalam tiga hari, mulai sabtu sampai minggu. Biasanya diikuti oleh pegawai atau karyawan. Jika menelusuri ini dalam perspektif perundang-undangan dan perangkat hukum turunannya, maka akan dianggap sebagai penyimpangan. Hanya saja atas nama kebutuhan, maka beberapa kelompok masyarakat berupaya menambah pengetahuan dengan menggunakan jalan pintas seperti ini. Tentu tidak dapat dibenarkan, namun tidak boleh dipersalahkan sepenuhnya. Ini juga harus memperhitungkan kerumitan adminsitrasi pendidikan yang tidak dapat diatasi.
Moratorium penerimaan tenaga pegawai termasuk di dalamnya guru dan dosen secara nasional merugikan masyarakat di wilayah Papua Barat. Sekolah-sekolah mengalami kekurangan guru. Satu madrasah di Kampung Tarof, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, dari enam kelas hanya diasuh dua orang guru. Bahkan salah satunya sudah diangkat menjadi kepala sekolah. Sang kepala sekolah ini juga kadang bertugas menjadi bujang sekolah yang mengurusi kunci dan kebersihan sekolah.
Sementara guru yang satu lagi bertugas juga menjadi bendahara untuk membantu pengelolaan dana operasional sekolah. Dengan guru yang hanya dua sejak delapan tahun yang lalu ditambah dengan tiga tahun moratorium, maka sempurnalah kedua guru ini mengurusi enam rombongan belajar yang ada dan berganti setiap tahun selama sebelas tahun. Kebijakan pemerintah pusat yang tidak memperhatikan kasus yang ada di pedalaman Papua Barat. Bukan saja di pedalaman, tetapi begitu juga di jantung kota Sorong dimana berdiri perguruan tinggi negeri dengan nama Sekolah Tinggi. Sejak 2010 bertambah empat program studi. Penerimaan dosen terakhir 2010 hanya bertambah lima orang sehingga menjadi enam belas orang. Sementara empat orang dosen mengikuti studi lanjut. Dengan pertambahan empat prodi yang sebelumnya hanya tiga menjadi tujuh, maka beban kerja dosen untuk mengajar sudah melebihi dua belas sks.
Dari gambaran ini, maka untuk mengharapkan maksimalnya proses perkuliahan tidak mampu dipenuhi. Tenaga yang dimiliki sang dosen juga digunakan untuk memberikan pelayanan kepada mahasiswa. Bertindak selaku ketua jurusan, atau ketua prodi, maka administrasi pendidikan dijalankan juga oleh dosen. Disamping tugas pokok untuk mengajar. Termasuk mengadakan rapat internal dan menghadiri koordinasi di tingkat yang lebih tinggi. Melayani mahasiswa yang mencapai 500 orang dengan tenaga dosen hanya 13 orang, maka kesempatan untuk menempatkan pembelajaran di kelas sebagai salah satu mekanisme menumbuhkan minat riset tidak berlangsung secara utuh. Jika dosen semata-mata dibebani dengan tugas untuk mengajar, dapat dipastikan kesempatan untuk meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat akan terkurangi.
Dengan mengasuh empat mata kuliah berbeda, maka dosen akan disibukkan dengan mempersiapkan bahan ajar, penilaian proses, evaluasi dan melengkapi perangkat pembelajaran lainnya. Tidak ada lagi kesempatan untuk menyusun buku ajar. Kadang proses kuliah diinterupsi lagi dengan rapat yang dilangsungkan di ibukota negara atau di tempat lain. Beberapa dosen kadang diminta untuk menjadi panitia kegiatan. Maka bukan suatu keanehan kalau dosen ada yang memberikan tugas mata kuliah tertentu berupa penyusunan makalah kepada mahasiswa.
Tidaklah mengerankan kalau seusai visitasi prodi dalam rangka akreditasi beberapa dosen yang menjadi panitia akreditasi memerlukan istirahat total untuk beberapa hari. Dimulai penyusunan borang, mempersiapkan bukti fisik dalam rangka visitasi, sampai kemudian menerima assesor yang khusus melakukan verifikasi segala apa yang dituliskan di borang dan begitu juga dengan bukti fisik yang menjadi pendukung bahwa prodi tersebut sudah memenuhi standar yang ditetapkan dalam kacamata Jakarta. Ada proses yang berlangsung berbulan-bulan, ini memerlukan waktu bukan saja di jam kerja, tetapi sudah di luar itu. Sekaligus ditambah dengan jam lembur yang tidak memiliki konsekwensi apa-apa dari segi keuangan. Kesediaan untuk melakukan ini, semata-mata didorong karena adanya keinginan untuk mempersiapkan lulusan yang memenuhi syarat administratif. Tetapi seharusnya ada kepedulian dan