Dari populasi sejumlah 663 orang debitur Kretap (Kredit Tetap) tersebut, diambil sampel sebanyak 87 orang debitur (87 orang debitur Kretap) secara random. Dari jenis pekerjaan (pegawai) tersebut di atas, komposisi sampel yang dipilih adalah sebagai berikut :
1. Sampel debitur kredit pegawai berpenghasilan tetap (Kretap) a) Pegawai Dinas BINA MARGA : 87 orang debitur b) Pegawai Dinas PERTAMANAN : 87 orang debitur c) Pegawai Dinas INFOKOM : 87 orang debitur.
Jumlah (n) populasi keseluruhan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 261 debitur.
37
Tabel 1 : Komposisi Debitur Kredit Pegawai
Status Jumlah Debitur
(f) Umur
Pegawai Negeri Sipil
a. Pegawai Dinas Bina Marga b. Pegawai Dinas Pertamanan c. Pegawai Dinas Infokom Pemprovsu 180 orang 333 orang 150 orang 21 – 65 tahun 21 – 55 tahun 23 – 65 tahun *) Sumber : Dari hasil wawancara dengan pimpinan Dinas Bina Marga, Dinas
Pertamanan, dan Dinas Infokom Pemprovsu yang dijadikan sebagai sampel pada tahun 2009.
Berkaitan dengan prosedur penyaluran kredit pegawai serta dokumen- dokumen/surat-surat yang harus dipenuhi oleh pemohon kredit (debitur) untuk mendapatkan fasilitas kredit konsumtif (Kretap), responden memberikan jawaban sebagai berikut :
Tabel 2 : Prosedur Kredit Pegawai
(n = 261 debitur)
No. Jawaban Debitur Debitur
(f)
%
1. Sangat mudah dan sederhana 165 orang 63, 22
2. Cukup murah / biasa / wajar 81 orang 31, 03
3. Tidak Mudah / berbeli-belit 5 orang 1, 91
4. Tidak tahu / tidak mempunyai pembanding 10 orang 3, 84
n : 261 orang 100 %
*) Sumber : Hasil Kuesioner dengan para debitur yang diambil secara acak
di dinas Bina Marga, Dinas Pertamanan dan Dinas Infokom
Data tersebut di atas sejalan dengan profil mengenai perlu tidaknya aturan mengenai sistem dan prosedur penyaluran fasilitas kredit konsumtif diperbaharui, sebagai berikut :
Tabel 3 : Perlunya Perbaikan Prosedur Penyaluran Kredit Pegawai
(n = 261 debitur)
No. Jawaban Debitur Debitur
(f)
%
1. Perlu sekali dan mendesak untuk diperbaiki 109 orang 41, 76
2. Tidak perlu dipebaiki/sudah sesuai 92 orang 35, 25
3. Perlu diperbaiki sebagian/tidak seluruhnya 60 orang 22, 99
4. Tidak tahu 0 orang -
n : 261 orang 100 %
*) Sumber : Hasil Kuesioner dengan para debitur yang diambil secara acak
di dinas Bina Marga, Dinas Pertamanan dan Dinas Infokom
Pemprovsu, tahun 2009
Guna kelancaran angsuran pinjaman dan untuk mengantisipasi kemungkinan risiko yang mungkin timbul sebagai akibat adanya kebijakan instansi/perusahaan, maka dibuat perjanjian kerjasama (PKS) antara BRI dengan instansi/perusahaan tempat debitur bekerja. Perjanjian kerjasama tersebut isinya mencakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, tanggung jawab dan kewenangan masing-masing pihak serta ketentuan lainnya yang dipandang perlu (misal : cara penyelesaian kredit bermasalah).
Dalam memberikan pelayanan kredit, pejabat kredit lini harus melakukan analisis dan evaluasi atas instansi/perusahaan yang pegawainnya akan dilayani kredit, maupun terhadap individu per calon debitur.
1) Analisa kualiitatif
(i) Penilaian Kelayakan Instansi/Perusahaan
Penilaian terhadap instansi/ perusahaan dimaksudkan sebagai tahapan
prescreening untuk melakukan perjanjian kerja sama pemberian kredit, serta
untuk meyakinkan PKL bahwa perusahaan/instansi calon debitur layak untuk melakukan kerjasama dalam rangka pemberian kredit. Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam form penilaian kelayakan Instansi/ Perusahaan. Hal utama yang menjadi perhatian dan dicermati adalah bonafiditas dari perusahaan tempat calon debitur bekerja. Kondisi perusahaan dinilai stabil apabila laba, omzet penjualan dan asset perusahaan minimal konstan dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan demikian secara teoretis perusahaan tersebut dalam jangka panjang akan terus mampu mempekerjakan dan menggaji para pegawainya, sehingga fasilitas Kretap yang diberikan kepada karyawan perusahaan dimaksud (dilihat dari sumber pembayaran kembali/gaji) relatif dapat terhindar dari risiko bermasalah. Disamping itu, prospek perusahaan baik secara regional maupun nasional, dapat menggambarkan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang, yang pada gilirannya akan berpengaruh kepada stabilitas perusahaan. Apabila instansi / perusahaan tersebut ternyata pernah/masih menjadi nasabah BRI, maka riwayat hubungan bisnisnya dapat di gunakan sebagai acuan dalam menetapkan struktur kredit, atau sebaliknya dapat
digunakan sebagai dasar penolakan karena memiliki catatan yang buruk atau pernah merugikan BRI.
Berkaitan dengan ketentuan kepegawaian, perusahaan tersebut harus sudah memenuhi standar peraturan kepegawaian sebagaimana yang ditetapkan oleh pemerintah (misal astek,upah minimum regional). Jenjang karier pegawai harus jelas, karena apabila tidak jelas maka akan menimbulkan rasa frustasi dan suasana kerja yang tidak sehat, yang pada gilirannya akan dapat menimbulkan masalah kepegawaian. Sistem pemberian pesangon harus mendapatkan perhatian, karena merupakan sumber pengembalian kredit jika perusahaan tersebut bermasalah. Demikian juga mengenai batas usia pensiun pegawai, karena menentukan maksimum jangka waktu kredit dan akan mempengaruhi besarnya kredit yang dapat diberikan.
Hal utama lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah cara instansi/perusahaan tersebut menyalurkan atau membayarkan gaji pegawainya. Untuk lebih meningkatkan pengamanan, diupayakan secara optimal agar bersedia menyalurkan gajinya setiap bulan melalui BRI, sehingga pembayaran Kretap dapat langsung dipotong melalui rekening simpanannya (penampungan gaji debitur).
Dari sisi legal aspek, adanya perjanjian kerjasama (PKS) antara BRI dengan perusahaan, debitur bekerja merupakan syarat, mutlak dalam pelayanan
Kretap, mengingat kesediaan untuk diikat dalam PKS sangat menentukan
tersebut. Dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh BRI adalah dokumen yang lengkap, benar dan sah (misal : rekomendasi atasan, daftar perincian gaji harus dibuat dan ditandatangani atasan, daftar perincian gaji harus dibuat dan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang untuk itu).
(ii) Penilaian kelayakan calon debitur
Perangkat yang dipergunakan dalam penilaian risiko kredit adalah dengan menggunakan CSR, dimana pengukuran tingkat risiko dilakukan dengan mengevaluasi faktor-faktor utama dalam ”siklus hidup” debitur yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kegagalan pemberian kredit. Tata cara pengisian
Credit Risk Scoring (CRS) menggunakan Score Card. Calon debitur harus
memiliki status, kondisi dan karakter yang baik, yang dapat diketahui dari informasi atasannya, sesama calon debitur lainnya atau dari tetangga tempat domisili calon debitur.
Apabila calon debitur tersebut adalah merupakan debitur lama, perlu diteliti lebih jauh apakah yang bersangkutan pernah masuk daftar hitam atau pernah tercatat sebagai debitur penunggak dengan itikad tidak baik. Demikian juga apakah yang bersangkutan sedang menikmati fasilitas kredit dari bank lain. Informasi tersebut akan dipakai sebagai salah satu daftar pertimbangan pemberian kreditnya.
Status kepegawaian calon debitur harus sebagai ”pegawai tetap”, yang dibuktikan dengan asli surat keputusan pengangkatan sebagai pegawai tetap, ditambah dengan asli surat keputusan kenaikan pangkat terakhir. Untuk lebih
memperkecil risiko perlu persyaratan tambahan berupa asli kartu Taspen dan Asuransi.
Sedangkan Penilaian kelayakan calon debitur kredit pegawai dilakukan untuk memperoleh keyakinan bahwa kredit yang akan disalurkan dapat dikembalikan sesuai dengan ketentuan yang diperjanliikan, dengan melakukan penilaian yang seksama
terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha (The 5C's Of
Crediet). Untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan utuh, BRI melakukan
analisa secara : a. Analisa Kualitatif
Dilaksanakan untuk mengetahui apakah calon debitur kredit konsumtif (Kretap) dan instansi/perusahaan tempat calon debitur bekerja dibayarkan memenuhi kriteria nasabah yang dilayani (KND) dan kriteria risiko yang dapat diterima (KRD).
b. Analisa kuantitatif
Dilaksanakan untuk menentukan maksimum Kretap yang dapat diberikan kepada calon debitur, terkait dengan besar keclinya penerimaan gaji bersih per bulan, (take home pay). Maksimum plafond Kretap didasarkan pada maksimum angsuran setiap bulannya, dikaitkan dengan jangka waktu kredit.
Tabel 4 : Jangka Waktu Kredit
No Debitur Jangka Waktu (bulan)
1. Pegawai Negeri Sipil, TNI, POLRI, BUMN/BUMD
Maksimal 96 bulan
2. Pegawai Tetap perusahaan Swasta Maksimal 60 bulan
3. Pensiunan38 Maksimal 60 bulan
*) Sumber : Hasil Wawancara dengan PICA (Pimpinan Cabang) PT.
BRI Cabang Iskandar Muda Medan.
Jangka waktu kredit dari 12 bulan sampai dengan 96 bulan (12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan dan 60 bulan, 72 bulan, 84 bulan, 96 bulan). Meskipun jangka waktu kredit sampai dengan 96 bulan, namun penentuan jangka waktu benar-benar harus didasarkan kepada kebutuhan dan kemampuan membayar kembali dari calon debitur. Suku bunga flat/tetap, selama jangka waktu kreditnya sesuai dengan ketentuan suku bunga Kretap yang ditetapkan oleh BRI. Biaya provisi dan administrasi harus dibayar lunas pada saat realisasi kredit, baik secara tunai maupun overbooking sepanjang tidak berasal dari rekening pinjaman yang akan direalisasi.
Tabel 5 : Provisi dan Biaya Administrasi
N0. Plafond Biaya Administrasi Minimal Provisi Minimal 1. S/d Rp. 10 juta Rp. 15.000,- 2. > Rp. 10 Juta s/d Rp. 25 juta Rp. 25.000,- 3. > Rp. 25 juta s/d Rp. 50 juta Rp. 50.000,- 4. > Rp. 50 juta Rp. 100.000,- 1 % dari plafond *) Sumber : Wawancara dengan Bapak Edy Suriatno Kepala Bagian Kredit PT. BRI (Persero) Kantor Cabang Iskandar Muda Medan.
38
Bea materai sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan menjadi beban debitur. Agunan utama adalah gaji debitur yang bersangkutan, namun apabila dipandang perlu adanya agunan tambahan sebagai pendukung bagi keamanan kredit, maka dalam pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan kepada Judgement Pinca.
Khusus untuk Pegawai Negeri yang gajinya tidak dibayarkan melalui BRI, apabila diberikan fasilitas Kredit dengan jangka waktu sampai dengan 96 bulan, agar dipertimbangkan mitigasi risiko lainnya, misalnya melalui adanya agunan tambahan, kecuali PKL benar-benar menguasai cash flow yang menjadi sumber repayment kredit. Denda atau pinalti dikenakan sebesar 50% kali besarnya suku bunga flat per bulan kali tunggakan angsuran pokok pinjaman.
2) Tahap realisasi pinjaman :
(i) Delegasi wewenang memutus kredit
Sebelum Kretap direalisasi, harus telah diyakini bahwa permohonan pinjaman
tersebut telah diprakarsai / dianalisa, direkomendasi dan diputus oleh pejabat kredit ini yang berwenang. Pejabat kredit ini yang bertindak sebagai pemrakarsa, perekomendasi dan pemutus tidak boleh dirangkap (harus orang yang berbeda). Yang dimaksud dengan pejabat kredit ini adalah account
officer yang telah diberi delegasi wewenang memutus kredit (sesuai limit
(ii) Persiapan dan realisasi Kretap
Setelah semua persyaratan dapat dipenuhi oleh calon debitur, permohonan
Kretap dianggap layak dan telah diputus oleh pejabat kredit ini yang
berwenang, maka kredit dapat direalisasi.
Dokumen-dokumen yang perlu dan harus ada pada saat realisasi adalah: formulir permohonan, formulir analisa permohonan dan putusan, asli surat keputusan pengangkatan pegawai pertama, surat keputusan kenaikan pangkat terakhir, foto copy identitas diri dan foto suami/istri, surat kuasa memotong gaji, surat kesanggupan juru bayar untuk memotong gaji, surat keterangan gaji terakhir, rekomendasi atasan.
Debitur suami/istri diminta untuk menandatangani surat pengakuan hutang yang telah dipersiapkan oleh petugas operasional pelayanan kredit (OPK). Proses selanjutnya petugas OPK menerbitkan instruksi pencairan kredit sebagai dasar pelaksanaan realisasi kredit. Petugas pembukuan melakukan pencatatan pembukuan yang diperlukan dan teller menyerahkan uangnya kepada debitur sesuai yang tercatat dalam surat pengakuan hutang.
3) Tahap angsuran dan pelunasan pinjaman
Setiap bulan bank menerbitkan kuitansi tagihan secara perorangan (debitur), menyampaikannya kepada bendaharawan/juru bayar gaji instansi/perusahaan tempat debitur bekerja. Berdasarkan surat kuasa yang diterima dari debitur yang bersangkutan, bendaharawan/juru bayar tersebut melakukan pemotongan
gaji sebesar yang tertera didalam kuitansi tagihan. Hasil pemotongan gaji tersebut disetorkan ke BRI sebagai angsuran atau pelunasan pinjaman Kretap. Untuk memperlancar pemotongan gaji, kepada pimpinan / bendaharawan / jurubayar / pejabat yang berwenang di perusahaan tempat debitur bekerja, diberikan insentif atas jasa pemotongan gaji dan pelimpahan setoran Kretap ke BRI. Besarnya insentif adalah 1% dari jumlah angsuran pokok dan bunga yang disetorkan ke BRI pada bulan yang bersangkutan. Apabila dikehendaki tambahan insentif, sehingga menjadi lebih besar dari 1%, maka dikompensasikan dengan menaikkan suku bunga kreditnya, dengan rumus :
i + i’
==
12
Keterangan :
i = suku bunga flat per tahun i, = tambahan insentif
12 = konstanta Contoh :
Kredit dengan jangka waktu 12 bulan dengan suku bunga 1,25% perbulan flat
rate (15% per tahun), dengan insentif 1%. Apabila menghendaki tambahan insentif
menjadi 2%, maka atas tambahan tersebut dapat dikompensasikan dengan menaikkan suku bunga kreditnya menjadi :
15% + 1 % = 16 % = 1, 33% per bulan flat rate
Kenaikan insentif diberlakukan secara khusus dengan mempertmbangkan tingkat persaingan dan performance kredit instansi yang bersangkutan. Terhadap
insentif tersebut karena merupakan imbalan/penghasilan yang diterima oleh
bendaharawan sehubungan dengan pekerjaan/jasa yang telah dilakukannya, maka dikenakan pajak (PPh pasal 21).
Namun, terhadap bendaharawan pemotong gaji berupa badan/perusahaan, atas insentif yang diterimanya dikenakan PPN. Karena BRI sebagai instansi yang melaksanakan wapu (wajib pungut), maka sebelum insentif diberikan kepada bendaharawan, diperhitungkan terlebih dahulu dengan pajak yang harus dibayarkan.
Tabel 6 : Jangka Waktu Kredit Pegawai
(n = 261 debitur)
No. Usia (Tahun) Jangka Waktu
Maksimum
1. S/d 65 tahun 4 tahun (48 bulan)
2. 66 s/d 70 tahun 3 tahun (36 bulan)
3. 71 s/d 79 tahun 2 tahun (24 bulan)
* Sumber : Data PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Kantor Cabang Iskandar
Muda Medan
Untuk mengantisipasi adanya risiko kemacetan kredit yang ditanggung oleh BRI akibat meninggalnya debitur, setiap debitur Kretap harus diasuransikan dengan fasilitas asuransi jiwa kredit kepada perusahaan asuransi (penanggung) yang ditunjuk BRI, meskipun debitur yang bersangkutan secara perorangan telah mengasuransikan jiwanya.
Asuransi jiwa kredit merupakan pertanggungan jiwa oleh pihak asuransi atas risiko jiwa pihak debitur tertanggung (nasabah Kretap), apabila debitur tertanggung tersebut meninggal dalam masa jangka waktu kredit. Besar nilai pertanggungan adalah sebesar pokok pinjaman yang tercantum dalam perjanjian kredit.
Pemberlakuan ketentuan yang mewajibkan debitur kredit pegawai untuk diikut sertakan dalam asuransi jiwa adalah merupakan alternatif yang ditempuh oleh bank dalam rangka mengurangi/memperkecil risiko kredit. Apabila debitur meninggal dalam masa pertanggungan, maka hasil klaim asuransi jiwa tersebut dijadikan pembayaran/pelunasan kreditnya. Ditinjau dan sisi debitur, ketentuan pemberlakuan asuransi jiwa tersebut juga dirasakan menguntungkan, karena ahli warisnya tidak dibebani kewajiban untuk melunasi hutang debitur yang meninggal dunia.
Berkaitan dengan penggunaan surat kuasa memotong gaji (sehingga tidak menggunakan lembaga jaminan gadai), dari hasil wawancara dengan Pimpinan PT. BRI (Persero) Cabang Iskandar Muda Medan diperoleh informasi bahwa pada prinsipnya BRI adalah lembaga yang berorientasi kepada laba (profit oriented), meskipun tidak terlepas adanya misi sebagai asas pembangunan (agent of