• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Hasil Penelitian Relevan

Penelitian ini juga didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Pertama, penelitian yang berjudul “Permasalahan-permasalahan yang dihadapi sekolah penyelenggara pendidikan inklusi pada tingkat SD” yang ditulis oleh Nissa Tarnoto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dialami guru dan sekolah dalam penyelengaraan pendidikan inklusi pada tingkat SD di wilayah Kota Yogyakarta. Data diperoleh melalui open-ended questionnaire (pertanyaan terbuka). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis menggunakan teknik koding. Desain penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan indigenous

psychology bagian dari tradisi pendekatan ilmiah dimana aspek yang penting

mengungkap fenomena dalam suatu investigasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan berbagai masalah yang ditemui oleh guru berkaitan dengan sekolah itu sendiri, permasalahan yang terkait yaitu kurangnya kepedulian orangtua terhadap Anak Berkebutuhan Khusus selain itu juga kurangnya kerjasama dari berbagai pihak, seperti pihak masyarakat, para ahli dan juga pemerintah.

Kedua, penelitian yang berjudul “ Survei Penyelenggara Sekolah Dasar Inklusi Di Wilayah Kabupaten Sleman” yang ditulis oleh Ristya Ferinda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui berapa presentasi sekolah dasar inklusi di Wilayah Kabupaten Sleman yang sesuai dengan aspek sekolah inklusi dan mendeskripsikan penerapan setiap aspek sekolah dasar inklusi yang diselenggaran oleh sekolah dasar inklusi di Wilayah Kabupaten Sleman. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 32 sekolah dasar inklusi di Kabupaten Sleman yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman untuk menyelenggarakan pendidikan inklusi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantatif non eksperimental dengan metode survei cross sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan bentuk pertanyaan terbuka, yang telah dilakukan validasi kepada dua orang validator sebelum dibagikan kepada responden. Dari hasil olahan data yang dijabarkan, penulis mendapatkan hasil bahwa hanya 22% penyelenggara sekolah dasar inklusi yang memenuhi aspek-aspek sekolah inklusi dan penerapan penyelenggaraan sekolah dasar inklusi di wilayah Kabupaten Sleman yang telah menerapkan 8 aspek sekolah inklusi, yaitu penerimaan peserta didik baru (PPDB); identifikasi; kurikulum fleksibel; merancang bahan ajar dan kegiatan pembelajaran yang ramah anak; penataan kelas yang ramah anak; asesmen; pengadaan dan pemanfaatan media pembelajaran adaptif; penilaian dan evaluasi pembelajaran.

Ketiga, penelitian yang ditulis oleh Winda Quida Sari yang berjudul “Pelaksanaan Inklusi Di Sekolah Dasar Negeri 14 Pakan Sinayan Payakumbuh”. Dalam penelitian ini, penulis menyatakan bahwa pentingnya dilakukan pelaksanaan inklusi agar dapat terlaksana sebagaimana mestinya dan dapat mencapai tujuan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Metode yang digunakan

oleh penulis adalah deskriptif untuk memahami perubahan atau intervensi terhadap sasaran penelitian. Analisis daya merupakan suatu proses penyususnan data agar dapat ditafsirkan, penelitian ini bersifat deskriptif maka teknik analisis data yang digunakan adalah dengan gambaran kata-kata.

Berdasarkan ketiga penelitian tersebut terdapat relevansi antara penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Penelitian yang pertama, memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti tentang tujuan dilakukannya penelitian tersebut, yaitu untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dialami guru dan sekolah dalam penyelengaraan pendidikan inklusi pada tingkat SD di wilayah Kota Yogyakarta. Sedangkan untuk penelitian kedua terdapat relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti mengenai tujuan dilakukannya penelitian. Penelitian tersebut memiliki tujuan yaitu mengetahui berapa presentasi sekolah dasar inklusi di Wilayah Kabupaten Sleman yang sesuai dengan aspek sekolah inklusi dan mendeskripsikan penerapan setiap aspek sekolah dasar inklusi yang diselenggaran oleh sekolah dasar inklusi di Wilayah Kabupaten Sleman. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 32 sekolah dasar inklusi di Kabupaten Sleman yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman untuk menyelenggarakan pendidikan inklusi. Sedangkan penelitian ketiga memiliki relevansi yang berkaitan dengan aspek aspek penting yang berhubungan dengan pelaksanaan dan kendala pendidikan inklusi. Pada penelitian tersebut dijelaskan bahwa meskipun sudah banyak sekolah dasar yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi, tetapi dalam implementasinya masih banyak yang tidak sesuai dengan konsep-konsep yang mendasar.

Ketiga penelitian tersebut memberikan relevansi kepada peneliti yang akan melakukan penelitian mengenai permasalahan permasalah sekolah inklusi di 4 wilayah di DIY khususnya wilayah Kabupaten Sleman. Penelitian ini juga melanjutkan penelitian yang terdahulu terkait survei penyelenggaran sekolah inklusi di wilayah Kabupaten Sleman. Pada penelitian terdahulu telah dijabarkan bahwa terdapat 22% penyelenggara sekolah inklusi yang telah memenuhi aspek-aspek sekolah inklusi dan penerapan penyelenggata sekolah inklusi di wilayah

Kabupaten Sleman yang telah menerapkan 8 aspek sekolah inklusi yaitu penerimaan peserta didik baru (PPDB); identifikasi; kurikulum fleksibel; merancang bahan ajar dan kegiatan pembelajaran yang ramah anak; penataan kelas yang ramah anak; asesmen; pengadaan dan pemanfaatan media pembelajaran adaptif; penilaian dan evaluasi pembelajaran. Peneliti akan melakukan penelitian mengenai sekolah yang paling sedikit menggunakan 8 aspek sekolah inklusi. Penelitian terdahulu menjadi pendukung pada penelitian ini terkait dengan daftar sekolah yang menerapkan pendidikan inklusi di wilayah Kabupaten Sleman. Literature map penelitian yang relevan dapat dilihat berikut ini :

Gambar 2.1 Bagan Literature Map

Anindita Nawangsari Permasalahan SD Inklusi Kelas Bawah SD Negeri “Bahagia” Di Wilayah Kabupaten Sleman Ristya Ferinda (2017)

“Survei Penyelenggara Sekolah Dasar Inklusi Di Wilayah Kabupaten Sleman”

Winda Quida Sari (2012)

“Pelaksanaan Inklusi Di Sekolah Dasar

Negeri 14 Pakan Sinayan

Payakumbuh” Nissa Tarnoto (Vol 13)

“Permasalahan-permasalahan yang dihadapi sekolah penyelenggara pendidikan inklusi pada tingkat SD”

Permasalahan-permasalahan yang dialami guru dan sekolah dalam penyelengaraan pendidikan inklusi pada tingkat SD di wilayah Kota Yogyakarta.

Penyelenggaraan sekolah dasar inklusi di wilayah Kabupaten Sleman yang telah menerapkan 8 prinsip sekolah inklusi.

Pelaksanaan inklusi dapat terlaksana sebagaimana semestinya sesuai dengan tujuan pendidikan.

Dokumen terkait