BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Hasil assesment terdiri atas daftar riwayat hidup anak dan orangtua, data saudara, daftar riwayat kelahiran, daftar riwayat makanan, daftar toilet training, daftar perkembangan fisik, faktor sosial dan personal, riwayat pendidikan, dan skala penilaian perilaku anak. Hasil test psikologi membuat data diri siswa, data hasil test, kemudian hasil uaraian hasil dari test. 7 Pengadaan dan
pemanfaatan media pembelajaran adaptif
Guru tidak menggunakan media pembelajaran 8 Penilaian dan evaluasi pembelajaran Tugas-tugas, dan ulangan-ulangan
Tugas dan PR diberikan kepada seluruh siswa di kelas
C. Pembahasan
SD “Suka Bahagia” merupakan salah satu sekolah dasar inklusi di wilayah kabupaten Sleman, sekolah ini menjadi sekolah inklusi sejak tahun 2012 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Dinas Pendidikan kabupaten Sleman. Peneliti menyamarkan nama sekolah yang digunakan sebagai tempat penelitian menjadi SD “Suka Bahagia”, hal ini dikarenakan peneliti ingin menjaga identitas dari sekolah tersebut. Dari pengamatan peneliti secara langsung di SD “Suka Bahagia” maupun pengamatan tidak langsung, penyelenggaraan sekolah inklusi berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh Ferinda (2017) menunjukkan bahwa SD “Suka Bahagia” baru menerapkan 4 aspek dari 8 aspek sekolah inklusi. Sekolah dasar inklusi yang baik mampu menerapkan delapan aspek sekolah inklusi menurut Kustawan (2013: 90-135) meliputi: (1) penerimaan peserta didik baru yang mengakomodasi seluruh anak, (2) Identifikasi, (3) Adaptasi kurikulum, (4) Merancang bahan ajar dan kegiatan pembelajaran yang ramah anak, (5) Penataan kelas ramah anak, (6) Assesmen, (7) Pengadaan dan pemanfaatan media pembelajaran adaptif, (8) Penilaian dan evaluasi pembelajaran. Sebelum pengambilan data, peneliti mengamati dari
aspek sekolah inklusi.
Hasil observasi mengenai pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru tidak nampak bahwa panitia mengidentifikasi siswa secara langsung. Panitia pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru merupakan guru wali kelas 1 dan guru wali kelas 6, saat penerimaan peserta didik baru tidak nampak adanya Guru pendamping Khusus yang ikut dalam Penerimaan Peserta Didik Baru. Fasilitas yang disediakan SD “Suka Bahagia” sama seperti dengan sekolah-sekolah lainnya, tidak ada perbedaan yang nampak. Hasil wawancara dari ketiga narasumber menyatakan bahwa tipe anak yang diterima di SD “Suka Bahagia” seperti slow learner, hiperaktif, dan autisme. Hasil dari penelittian menunjukkan bahwa hanya beberapa tipe anak yang mampu diterima, SD “Suka Bahagia” tidak mampu apabila menerima tipe anak yang lebih susah untuk ditangani, berdasarkan Direktorat Pendidikan Luar biasa (dalam Ilahi: 2013) menjelaskan bahwa peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa juga memerlukan pendidikan khusus. Sekolah cenderung menerima siswa yang tergolong berkebutuhan khusus karena SD “Suka Bahagia” tidak mampu menolak apabila ada siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus untuk bersekolah di SD “Suka Bahagia”. Berdasarkan hasil wawancara, siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus tidak datang ketika proses. Menurut tiga narasumber yaitu Mia, Tri, dan Nia tidak adanya guru pendamping khusus karena di SD “Suka Bahagia” telah memiliki panitia tersendiri untuk pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru yang cenderung melanjutkan kepanitiaan pada tahun sebelumnya tanpa memperhatikan keberagaman peserta didik yang tergolong siswa berkebutuhan khusus. Guru di SD “Suka Bahagia” mampu memahami apabila orangua siswa datang tanpa putra/purtinya saat pendaftaran peserta didik cenderung calon peserta didik tersebut tergolong anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kepanitiaan untuk peneriman peserta didik baru sudah terbentuk tanpa adanya guru pendamping khusus. Hal ini belum sesuai dengan Penerimaan Peserta Didik Baru berdasarkan teori dari Kustawan (2013: 90-91) menyatakan bahwa perlu mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki sekolah, dalam
yang dilengkapi dengan pendidik khusus dan atau konselor yang sudah memahami tentang pendidikan inklusi dan keberagaman karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Selain hasil wawancara, didukung dengan hasil observasi saat pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tidak hadirnya Guru Pendamping Khusus dapat diketahui bahwa SD “Suka Bahagia” belum menerapkan secara maksimal pada pelaksanaan penerimaan peserta didik baru sesuai dengan aspek-aspek sekolah inklusi.
Proses mengidentifikasi peserta didik di SD “Suka Bahagia” berdasarkan pengalaman guru sebelumnya dan ketika proses pembelajaran dimulai. Cara mengidentifikasi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus dimulai sejak adanya proses belajar mengajar bukan saat pelaksanaan penerimaan peserta didik. Apabila peserta didik sudah memiliki catatan khusus tersendiri dari psikologi atau dari Taman Kanak-Kanak dan berdasarkan informasi yang diterima guru dari orangtua siswa maka sudah jelas bahwa siswa tersebut termasuk golongan anak berkebutuhan khusus. Guru akan mengobservasi siswa di kelas, siswa yang tidak terlihat adanya perubahan dari awal masuk hingga proses pembelajaran maka guru kelas akan memberikan assesment kepada siswa. Berdasarkan penelitian tersebut, telah menunjukkan bahwa guru akan mengenali siswa sesuai dengan gejala-gejela yang menyertainya. Hal ini sesuai dengan Buku Modul Pelatihan Pendidikan Inklusi (dalam Kustawan, 2013: 93) bahwa identifikasi anak berkebutuhan khusus adalah suatu upaya mengenali anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak berkelainan dengan gejala-gejala yang menyertainya. Identifikasi yang dilakukan guna mengetahui peserta didik tersebut tergolong anak berkebutuhan khusus atau tidak, Lerner (dalam Kustawan, 2013: 95) mengemukakan bahwa identifikasi dilakukan untuk lima keperluan yaitu penjaringan, pengalihtanganan, klasifikasi, perencanaan pembelajaran dan pemantauan kemajuan belajar
Berdasarkan hasil assesmen maka guru akan mengajukan test IQ atau test psikologi yang biasanya dilakukan di SD “Suka Bahagia”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru akan mengenali, mengobservasi siswa kemudian
identifikasi dimaknai sebagai proses penjaringan, sedangkan assemen dimaknai sebagai suatu upaya seseorang (orangtua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk melakukan proses pernjaringan terhadap anak yang mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, intelektual, sosial, emosional) dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari narasumber, SD “Suka Bahagia” telah menerapkan proses identifikasi dengan baik ketika memasuki tahapan belajar mengajar, dengan pemberian assesment kepada siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus sehingga mampu mendapatkan layanan yang sesuai seperti test IQ ataupun test psikologi.
Kurikulum di SD “Suka Bahagia” di kelas 1 dan 4 menerapakan kurikulum 2013 yang baru saja diterapkan pada tahun ajaran baru 2017 ini, sedangkan kelas 2, 3, 5, dan 6 tetap menerapakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sama halnya dengan hasil observasi di kelas, meskipun terkadang di kelas 1 masih terlihat pembelajaran di setiap mata pelajaran. Kurikulum fleksibel yakni mengakomodasi anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuan, maka kurikulum tingkat satuan pendidikan akan lebih peka mempertimbangkan keragaman anak agar pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya (Kustawan, 2013: 107). Pendapat tersebut didukung oleh Nasution (dalam Ilahi, 2013: 168) yang menyatakan, kurikulum merupakan salah satu komponen penting pada lembaga pendidikan formal yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolok-ukur keberhasilan, dan kualitas hasil pendidikan. Penerapan kurikulum 2013 maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidak memiliki perbedaan dalam perancangannya, letak perbedaan akan diberlakukan di kelas berdasarkan keadaan siswa di kelas. Berdasarkan informasi yang diterima dari narasumber adaptasi kurikulum yang fleksibel yang mampu mengakomodasi anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuannya dengan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) saat ini hanya diterapkan di kelas 2, 3, 5, dan 6. Bagi siswa
adaptasi karena baru saja dimulai penerapan kurikulum pada tahun ajaran 2017. Guru yang baik akan melakukan pembelajaran yang interaktif agar perhatian anak didiknya terpusat penuh kepada guru. Guru juga harus menggunakan metode pembelajaran yang cocok bagi anak didiknya agar anak didiknya mampu berpartisipasi di dalam pelajaran. Bahan ajar di kelas berdasarkan informasi yang diperoleh tidak memiliki perbedaan bagi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus maupun siswa lainnya. Hasil observasi juga tidak adanya bahan ajar ataupun materi yang membedakan bagi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus maupun siswa lainnya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa memang tidak adanya perbedaam bahan ajar yang diberikan, dan juga penyusunan RPP tidak memiliki perbedaan, hal ini belum sesuai dengan teori Ilahi (2013: 172-173) menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan mengajar yang telah ditentukan, diperlukan bahan ajar. Bahan ajar tersusun atas topik-topik dan sub-sub topik tertentu yang mengandung ide pokok yang relevan dengan tujuan yang ditetapkan. Jenis materi pelajaran yang digunakan oleh para guru dapat memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan akademis siswa-siswa penyandang disabilitas (Friend 2015: 266). Perancangan bahan ajar dan kegiatan yang ramah anak belum diterapkan dengan baik, karena belum mampu memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan siswa penyandang disabilitas di SD “Suka Bahagia”.
Penataan kelas yang ramah anak di SD “Suka Bahagia” khususnya kelas 1, 2, dan 3 bagi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus berdasarkan hasil wawancara maupun observasi dari beberapa narasumber, dijelaskan bahwa siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus berada di barisan depan dekat dengan guru apabila kondisi fisik siswa tersebut tidak menutupi beberapa teman di belakangnya. Apabila kondisi fisik siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus memiliki tubuh yang besar maka guru tetap memposisikan siswa tersebut di bangku yang tidak menutupi teman lain dan tidak memposisikan siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus di tempat yang mampu memicu kegaduhan di kelas. Hasil penelitian dilapangan menunjukkan bahwa
dengan teori Friend (2015: 270) yang menjelaskan penataan unsur-unsur fisik ruang kelas dapat mempengaruhi kondisi dan suasana belajar bagi anak yang tidak berkebutuhan khusus dan anak yang berkebutuhan khusus. Penataan unsur fisik mencakup penampilan ruang kelas dan pemanfaatan ruang kelas, yaitu meliputi area dinding, pencahayaan, area lantai serta ruang penyimpanan. Berdasarkan hasil observasi penataan ruang kelas di SD “Suka Bahagia” kelas 1, 2, 3 memiliki cahaya yang cukup baik, setiap kelas terdapat setidaknya 1 meja dan kursi yang berada di belakang sendiri yang digunakan untuk guru pendamping khusus. Lantai yang berada di SD “Suka Bahagia” sama seperti lantai di sekolah-sekolah pada umumnya. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penataan ruang kelas yang ramah anak di SD “Suka Bahagia” kelas 1, 2, dan 3 belum berjalan secara maksimal karena hanya terfokus pada tempat duduk siswa saja.
Assesmen yang digunakan di SD “Suka Bahagia” guna memantau kemajuan dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas berdasarkan hasil wawancara menggunakan test IQ atau test psikologi. Test IQ maupun test psikologi dilakukan setiap 6 bulan sekali atau ketika sangat diperlukan, namun saat ini SD “Suka Bahagia” belum melakukan test psikologi karena sistem program dari kepala sekolah sudah berganti. Assesemen yang dilakukan di SD “Suka Bahagia” memiliki tujuan tersendiri untuk mengumpulkan informasi dari siswa yang diberi assesment, sesuai dengan teri Triani (2013: 25) bahwa asesmen merupakan kegiatan secara utuh dan menyeluruh untuk tujuan tertentu, kegiatan yang dilakukan dalam asesmen adalah mengumpulkan data dan informasi yang akan digunakan untuk bahan pertimbangan dan keputusan yang berkaitan dengan pembelajaran. Berdasarkan hasil dari observasi tidak nampak adanya assesment di kelas, meskipun sudah ada bukti bahwa sekolah belum lama ini telah melakukan test psikologi. Dalam test psikologi tersebut, terdapat daftar riwayat hidup (siswa dan orangtua), saudara, riwayat kelahiran, riwayat makanan, toilet training. Selanjutnya terdapat riwayat perkembangan fisik, faktor sosial dan personal, riwayat pendidikan, dan skala penilaian perilaku anak (pemahaman auditoris, bahasa
yang dicapai siswa, berapa keterangan usia siswa yang seharusnya, dan keterangan dari hasil yang tertulis di hasil test IQ tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi, pemberian assesment bagi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus dilakukan 6 bulan sekali atau ketika sangat diperlukan.
Pengadaan dan pemanfaatan media adaptif di SD “Suka Bahagia” khususnya kelas 1, 2, dan 3 tidak diberlakukan di kelas, guru bahkan tidak menggunakan media saat pembelajaran. Guru menggunakan teknik ceramah dalam proses penyampaian materi di kelas. Begitu juga dengan siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus, meskipun diberi pendampingan oleh Guru Pendamping Khusus (GPK) tetap tidak adanya media adaptif dalam proses penyampaian materi. Hasil observasi ini juga diperkuat dengan hasil wawancara dari narasumber, bahwa tidak adanya media pembelajaran yang khusus bagi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus maupun siswa lainnya, teori dari Kustawan (2013: 117) bahwa media pembelajaran adaptif bagi anak berkebutuhan khusus hakekatnya adalah media yang dirancang, dibuat, dipilih dan digunakan dalam pembelajaran sehingga dapat bermanfaat atau berguna dan cocok dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran di SD “Suka Bahagia” khususnya kelas 1, 2, dan 3 belum disesuaikan tujuan, kebutuhan, materi, kemampuan, dan karakteristik anak akan sangat menunjang efisiensi dan efektivitas proses dan hasil pembelajaran.
Evaluasi merupakan proses yang penting dalam bidang pengambilan keputusan, memilih informasi yang tepat, mengumpulkan dan menganalisis informasi tersebut agar diperoleh data yang tepat yang akan digunakan pengambilan keputusan dalam memilih diantara beberapa alternatif. Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di kelas 1, 2, 3 sudah disesuaikan dengan keadaan siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus. Bagi siswa yang tergolong anak berkebutuhan khusus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dibedakan dengan siswa lainnya. penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ini ditentuan oleh guru wali kelas dan juga Guru Pendamping khusus (GPK) di SD “Suka Bahagia”.
88
KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN