• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2.6. Hasil Penelitian Terdahulu

Maharani (2008), hasil penelitiannya mengenai Pengaruh Penerapan Disiplin Kerja Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Dinas Pendidikan Ciamis dengan menggunakan analisis regresi berganda, menyatakan bahwa terdapat pengaruh nyata dari penerapan disiplin kerja berupa disiplin preventif dan disiplin korektif terhadap prestasi kerja karyawan. Disiplin kerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis sangat tinggi, ditandai dengan tingkat ketidak hadiran Pendidikan Kabupaten Ciamis sudah termasuk ke dalam kategori yang baik. Penerapan disiplin kerja berupa disiplin preventif dan disiplin korektif memiliki pengaruh nyata terhadap prestasi kerja. Apabila terjadi peningkatan penerapan disiplin preventif, maka akan terjadi peningkatan prestasi kerja pegawai.

Jauhary (2008), hasil penelitiannya mengenai Analisis Pengaruh Disiplin Kerja Karyawan Terhadap Produktivitas Karyawan, Studi Kasus: PT Behaestex Gresik dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, menyatakan bahwa disiplin kerja telah dilaksanakan oleh karyawan PT Behaestex dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari ketaatan mereka pada peraturan perusahaan dan norma sosial, menaati jam kerja dan melakukan pekerjaan dengan baik. Produktivitas karyawan perusahan relatif cukup baik. Berdasarkan penelitian, nilai skor produktivitas karyawan menempati kategori cukup. Menaati waktu kerja, melakukan pekerjaan dengan baik dan mematuhi peraturan perusahaan dan norma sosial secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan perusahaan.

Menaati waktu kerja secara parsial mempunyai pengaruh perhadap produktivitas karyawan, sedangkan melakukan pekerjaan dengan baik dan mematuhi peraturan perusahaan dan norma sosial, secara parsial tidak mempengaruhi produktivitas karyawan.

Fauzi (2011), hasil penelitiannya mengenai Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada CV Amal Mulia Sejahtera dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, menyatakan bahwa disiplin yang berlaku di CV Amal Mulia Sejahtera adalah perspektif utilitarian. Pendekatan yang sesuai untuk perpektif utilitarian adalah tindakan disiplin progesif dengan tujuan membentuk program disiplin yang berkembang mulai dari hukuman yang ringan hingga yang sangat berat. Keempat peubah yang diuji, yaitu disiplin retributif, disiplin korektif, perpektif hak-hak individu dan perspektif utilitarian terbukti berpengaruh terhadap kinerja. Peubah utilitarian menjadi peubah yang paling berpengaruh dibanding tiga peubah yang lain dengan nilai 1,052.

3.1. Kerangka Pemikiran

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung merupakan

salah satu instansi pemerintah yang berada di bawah naungan Departemen Kehutanan. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung atau yang sering disingkat menjadi BPDAS Citarum-Ciliwung memiliki visi menjadi pusat pengkajian dan penyajian data dan informasi pengelolaan DAS secara terpadu serta partisipatif di wilayah Balai Pengelolaan DAS Citarum- Ciliwung. Tujuan BPDAS Citarum-Ciliwung dalam mengelola SDM adalah untuk mencapai kontribusi kinerja yang maksimal dari setiap individu. SDM BPDAS Citarum-Ciliwung tersebar dalam empat bidang fungsional yaitu, program DAS, evaluasi DAS, Kelembagaan DAS dan Tata Usaha.

Besarnya kontribusi kinerja pegawai BPDAS Citarum-Ciliwung setiap tahunnya diketahui melalui penilaian kinerja DP3. Unsur-unsur yang dinilai dalam DP3 menurut pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 adalah kesetiaan, prestasi kerja, tanggung jawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama, prakarsa dan kepemimpinan. Disiplin kerja yang diterapkan di BPDAS Citarum-Ciliwung berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010. Indikator disiplin kerja pegawai yang dinilai di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung adalah kepatuhan, tanggung jawab, sanksi dan hukuman, teladan pimpinan dan integritas.

Penilaian DP3 cenderung selalu meningkat mengindikasikan kinerja yang meningkat. Kinerja yang selalu meningkat seharusnya diiringi dengan disiplin kerja yang juga meningkat. Maka dari itu diperlukan penelitian untuk mengetahui apakah implementasi penilaian kinerja DP3 di BPDAS Citarum- Ciliwung berpengaruh pada disiplin kerja karyawannya atau tidak. Jika implementasi DP3 ini berpengaruh terhadap disiplin kerja yang diterapkan pada BPDAS Citarum-Ciliwung, maka tujuan organisasi untuk mencapai kontribusi kinerja yang maksimal dari setiap individu akan tercapai sehingga terjadi peningkatan kinerja organisasi. Berdasarkan uraian tersebut, maka kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Kerangka Pemikiran

3.2. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu perumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan juga dapat menuntun/mengarahkan penyelidikan selanjutnya. Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :

H1 : Kesetiaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja. H2 : Prestasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja. H3: Tanggung jawab berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin

kerja.

H4 : Ketaatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja. H5 : Kejujuran berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja. H6 : Kerjasama berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja. H7 : Prakarsa berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja.

BPDAS Citarum-Ciliwung Visi dan Misi

Tujuan Organisasi dalam Mengelola SDM

Program DAS Evaluasi DAS Kelembagaan DAS Tata Usaha

Penilaian Kinerja Disiplin Kerja

Unsur-unsur yang dinilai DP3 (Pasal 4 PP No.10 Tahun 1979) : 1. Kesetiaan 2. Pretasi Kerja 3. Tanggung jawab 4. Ketaatan 5. Kejujuran 6. Kerjasama 7. Prakarsa 8. Kepemimpinan PP No. 53 Tahun 2010: 1. Kepatuhan 2. Tanggung jawab 3. Sanksi dan hukuman 4. Teladan Pimpinan 5. Integritas

Pengaruh Unsur-Unsur Penilaian Kinerja DP3 Terhadap Disiplin Kerja Pegawai

H8 : Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja.

3.3.Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini sengaja dilakukan di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dengan alamat Jl. Rasamala Kav. 39-40, Taman Yasmin, Bogor Barat, Kota Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Januari 2012 sampai bulan Maret 2012.

3.4.Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan atau diperoleh dari sumber pertama. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dan tidak langsung. Wawancara langsung dilakukan kepada pimpinan, yaitu Kepala Sub Tata Usaha dan Penata Usaha Kepegawaian. Wawancara tidak langsung menggunakan kuesioner diisi oleh seluruh pegawai Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner pra penelitian dan kuesioner penelitian. Kuesioner pra penelitian digunakan untuk memperoleh indikator disiplin kerja yang diterapkan di Balai pengelolaan Derah Aliran Sungai, yang selanjutnya akan digunakan dalam kuesioner penelitian.

Data sekunder adalah data yang tidak langsung diperoleh melalui sumber pertama dan telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen tertulis dan diperoleh melalui studi literatur, internet, data internal dari BPDAS Citarum- Ciliwung.

3.5.Penentuan Sampel

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode sensus atau complete enumeration, yaitu menggunakan seluruh

pegawai Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung.

3.6.Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pengamatan langsung (observasi) ke Balai Pengelolaan Daerah Aliran

Sungai Citarum-Ciliwung, wawancara dan studi kepustakaan terhadap dokumen dan data-data yang diperoleh dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung. Metode wawancara yang dilakukan adalah wawancara langsung dan tidak langsung. Wawancara langsung dilakukan kepada Kepala Sub Tata Usaha dan Penata Usaha KepegawaianBalai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung dengan daftar pertanyaan yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Wawancara tidak langsung dilakukan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada pegawai BPDAS Citarum-Ciliwung. Kuesioner yang digunakan terbagi menjadi dua yaitu kuesioner pra penilitian dan kuesioner penelitian. Kuesioner pra penelitian digunakan untuk menganalisis indikator disiplin kerja, dapat dilihat pada Lampiran 2. Kuesioner pra penelitian yang berisi urutan indikator disiplin kerja akan dihitung menggunakan teknik delphi yang akan menghasilkan indikator disiplin kerja yang akan digunakan dalam kuesioner penelitian. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 3. Kuesioner penelitian dapat dilihat pada Lampiran 4.

Kevalidan dan kesahihan data yang diperoleh dari kuesioner yang diberikan kepada responden diuji menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.

1. Uji Validitas

Validitas dalam penelitian dijelaskan sebagai suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi atau arti sebenarnya yang diukur. Menurut Hasan (2002), validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen memiliki validitas yang tinggi, apabila butir-butir yang membentuk instrumen tersebut tidak menyimpang dari fungsi instrumen tersebut. Uji validitas dilakukan

dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Uji validitas

digunakan untuk menghitung nilai korelasi (r) antara data pada masing- masing pertanyaan dengan skor total. Kuesioner memiliki pertanyaan yang saling berhubungan, apabila pertanyaan yang ada tidak berhubungan, maka pertanyaan tersebut tidak valid dan akan dihilangkan atau diganti dengan konsep pertanyaan lain (Umar 2003).

Rumus yang digunakan :

r = n(∑ )−∑ −∑

�(n ∑ 2−(∑ )2)(n ∑ 2−(∑ )2)...(2) Keterangan :

n = jumlah responden

X = skor masing-masing pernyataan dari tiap responden

Y = skor total semua pernyataan dari tiap responden

r = koefisien korelasi

Dengan:

Ho = instrumen dinyatakan tidak valid

Ha = instrumen dinyatakan valid

Pengujian validitas dilakukan berdasarkan jawaban kuesioner 30 orang responden. Kuesioner terdiri dari 40 pernyataan mengenai unsur-unsur penilaian kinerja dan 32 pernyataan mengenai indikator disiplin kerja. Hasil pengujian suatu butir pertanyaan dikatakan valid jika nilai rhitung

yang merupakan nilai dari Corrected Item-Total Correlation > dari rtabel.

Selang kepercayaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05. Jika nilai rhitung untuk setiap pernyataan lebih dari rtabel, yaitu 0,361 maka

pernyataan tersebut dinyatakan valid. Terdapat dua pernyataan yang tidak valid, dari 40 pernyataan unsur-unsur penilaian kinerja, yaitu b73 dan b85. Nilai rhitung dapat dilihat pada Lampiran 5. Pernyataan disiplin kerja

dinyatakan valid seluruhnya. Oleh karena itu dua indikator yang tidak valid dikeluarkan atau dibuang tidak digunakan kembali dalam pengolahan analisis selanjutnya.

2. Uji Reliabilitas

Menurut Sugiyono (2003), reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Suatu alat pengukuran dikatakan realible, jika alat tersebut memiliki hasil pengukuran yang konsisten dua kali pengukuran pada gejala yang sama. Teknik yang digunakan untuk mengukur reliabilitas dengan menggunakan teknik Cronbach. Rumus teknik Cronbach (Umar, 2003), yaitu:

r11 = ��−� � �1−∑ ��

2

Dimana:

r11 = reliabilitas instrumen

k = banyak butir pertanyaan

∑ �� = jumlah ragam butir

�� = varian total

Dengan rumus varian yang digunakan

� =∑ � 2(∑ �)2 � � ………...(4) Dimana: N = jumlah responden

X = skor masing-masing pertanyaan

Uji reliabilitas dilakukan terhadap 30 responden yang akan diolah. Pada uji reliabilitas, diperoleh nilai α cronbach lebih besar dari 0,6 untuk semua butir pernyataan. Berdasarkan hasil pengolahan untuk variabel unsur-unsur penilaian kinerja diperoleh nilai α cronbach sebesar 0,746 dan nilai disiplin kerja α cronbach, yaitu sebesar 0,751. Kesimpulannya adalah bahwa kemungkinan terjadinya kesalahan pengukuran dalam kuesioner cukup rendah sehingga penggunaannya dapat diandalkan dan mampu memberikan hasil pengukuran yang konsisten apabila menyebarkan kuesioner secara berulang kali dalam waktu yang berlainan. Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat pada Lampiran 5.

3.7.Teknik Delphi

Menurut Chang dalam Marimin dan Nurul (2010), prosedur delphi

memiliki ciri-ciri, yaitu mengabaikan nama, iterasi dan feedback yang terkontrol dan respon kelompok secara statistik. Jumlah dari iterasi kuesioner delphi bisa dua sampai lima tergantung pada derajat kesesuaian dan jumlah penambahan informasi selama berlaku.

Teknik delphi juga melibatkan sekelompok pakar yang tidak bertemu secara langsung tetapi menyerahkan jawaban atas sejumlah kuesioner yang disiapkan oleh seorang koordinator. Teknik delphi ini tentunya memiliki beberapa tahapan itu terdiri dari( Baroto, 2002):

1. Penetuan faktor

Faktor-faktor strategis diperoleh dan ditentukan berdasarkan studi literatur dan wawancara dengan pihak terkait.

2. Penentuan bobot

Jawaban dari setiap kuesioner yang dibagikan kepada para responden dikelompokkan berdasarkan urutan prioritas. Makin besar urutan maka akan semakin kecil nilai yang akan diberikan dan semakin kecil urutan prioritas maka nilai yang diberikan akan semakin besar.

Tabel 2. Lembar evaluasi delphi

Disiplin Kerja

Urutan Prioritas

Jumlah Pakar 1 Pakar 2 Pakar 3 Pakar 4 Pakar 5

Keterangan : Kolom 1-10: Pakar Baris 1-10: disiplin kerja

Urutan prioritas: 1=8, 2=7 ...8=1

3.8.Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 dan

software SmartPLS 2.0. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan rataan skor dan Partial Least Square dengan bantuan software SmartPLS 2.0.

3.8.1 Analisis Deskriptif dengan Rataan Skor

Menurut Sugiyono (2011), statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik responden pada penelitian melalui rataan skor. Analisis deskriptif juga digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik

responden yang berpengaruh terhadap variabel pada penelitian. Pada penelitian ini variabel yang digunakan adalah unsur-unsur penilaian kinerja DP3 dan disiplin kerja pegawai pada Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung.

3.8.2 Partial Least Square

Path Modelling Partial Least Square merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis kovarian menjadi berbasis varian. Model Path Modelling Partial Least Square pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Model Path Modelling Partial Least Square

Pada metode Path Modelling Partial Least Square terdapat dua evaluasi model, yaitu model pengukuran atau outer model dan model struktural atau inner model.

1. Model Pengukuran atau Outer Model

Outer model adalah hubungan antar indikator dengan

konstruknya. Pada model reflektif, dilakukan tiga pengujian untuk menentukkan validitas dan reliabilitas, yaitu convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Ukuran reflektif dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,50 sampai

0,60 dianggap cukup (Chin diacu dalam Ghozali 2008). Pada

apabila nilai loading diatas 0,50. Discriminant validity dari model pengukuran reflektif indikator dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada konstruk lainnya, maka menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran blok yang lebih baik daripada ukuran blok lainnya. Uji lainnya adalah menilai validitas dari konstruk dengan melihat AVE, syarat untuk model yang baik adalah nilai AVE masing-masing konstruk lebih besar dari 0,50. Di samping uji validitas, dilakukan juga uji reliabilitas konstruk menggunakan composite reliability. Composite reliability digunakan untuk mengukur internal consistency. Konstruk dinyatakan reliable jika nilai composite reliability di atas 0,70 dengan tingkat kesalahan sebesar 5% (Werts, Linn dan Joreskog diacu dalam Ghozali). 2. Model Struktural atau Inner Model

Inner Model menggambarkan hubungan antara variabel

berdasarkan pada teori substantif. Model struktural dievaluasi

dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen dan

uji-t untuk menentukan signifikansi dari koefisien jalur struktural. Dinyatakan signifikan jika nilai t-value lebih besar dari ttabel. Nilai ttabel untuk tingkat kesalahan 5% adalah 1,96,

maka jika nilai t-value lebih besar dari 1,96 maka dinyatakan signifikan. Menilai model dengan Path Modelling Partial Least Square dimulai dengan R-square untuk setiap variabel laten dependen. Interpretasiya sama dengan interpretasi pada regresi.

Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai

pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh yang substantif (Ghozali, 2008).

4.1.Gambaran Umum Perusahaan

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung merupakan penyempurnaan organisasi dan tata hubungan kerja Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) Citarum-Ciliwung. BPDAS Citarum-Ciliwung yang dibentuk berdasarkan SK Menhut No. 665/Kpts-II/2002 tanggal 7 Maret 2002.Kegiatan Operasional Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung ini mengacu kepada Keputusan Menteri Kehutanan No. 665/Kpts-II/2002 tanggal 7 Maret 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengelolaan DAS dan Kebijaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan melalui beberapa program pembangunan kehutanan dengan dukungan dana APBN, DR dan dana pemerintah lainnya. Wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung meliputi DAS Citarum, Cipunagara, Cikaingan, Cibuni-Cilaki, Ciujung, Teluk Lada, Cidurian, Ciliwung-Cisadane, Cimandiri dan sekitarnya yang berada di dalam wilayah Propinsi Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota dan Banten atau dapat dibagi kedalam tiga batas ekosistem Satuan Wilayah Pengelolaan DAS, yaitu SWP Citarum (1.448.279,25 Ha), SWP Ciliwung-Cisadane (1.005.037 Ha) dan SWP Ciujung Teluk Lada (753.492 Ha.).

Berdasarkan satuan wilayah administratif, wilayah pelayanan Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung terletak di:

1. Propinsi Banten dengan 3 (tiga) kabupaten, yaitu Serang, Pandeglang dan Lebak serta 2 (dua) kota yaitu Kota Tangerang dan Cilegon.

2. Propinsi Jawa Barat dengan 7 (tujuh) kabupaten, yaitu Bandung,

Subang, Purwakarta, Karawang, Cianjur, Bogor, Sukabumi dan Bekasi serta 6 (enam) kota yaitu kota Bandung, Cimahi, Sukabumi, Bogor, Depok dan Bekasi.

3. Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dengan 5 (lima) kota Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan.

Pada kurun waktu tiga tahun lebih, yaitu sejak tahun dinas 2002 sampai dengan saat ini, Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung telah melakukan berbagai kegiatan baik yang terkait dengan tugas umum pemerintahan maupun tugas pembangunan yang berhubungan dengan upaya Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah yang tersebar di beberapa Kabupaten/Kota.

4.1.1 Visi dan Misi Perusahaan

Visi BPDAS Citarum-Ciliwung adalah terdepan dalam penyajian data dan informasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Visi tersebut dapat dicapai dengan didukung oleh misi. Misi BPDAS Citarum-CIliwung adalah sebagai berikut:

1. Memantapkan data dan informasi pengelolaan DAS melalui

penyusunan rencana, pengembangan model, kelembagaan dan kemitraan serta pemantauan dan evaluasi.

2. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan Pengelolaan

DAS.

3. Mengembangkan system penyusunan serta penyajian data dan

informasi.

4. Meningkatkan kualitas pelayanan data dan informasi

pengelolaan DAS.

Tugas Pokok BPDAS Citarum-Ciliwung adalah melaksanakan Penyusunan Rencana, Pengembangan Kelembagaan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

1. Penyusunan Rencana pengelolaan Daerah Aliran Sungai

2. Penyusunan dan Penyajian Informasi Daerah Aliran Sungai

3. Pengembangna model, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

4. Pengembangan Kelembagaan dan Kemitraan Pengelolaan

Daerah Aliran Sungai

5. Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai 6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai

4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan

Keorganisasian di BPDAS Citarum-Ciliwung terdiri atas beberapa bagian, mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:665/Kpts-II/2002 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Bab II bagian. Struktur organisasi BPDAS Citarum-Ciliwung dapat dilihat di Lampiran 6. Kepala Balai memiliki tugas pokok, yaitu melaksanakan penyusunan rencana, pengembangan kelembagaan dan evaluasi pengelolaan DAS.

Struktur organisasi yang dimiliki BPDAS Citarum-Ciliwung terdiri dari 4 bidang yang menangani kepentingan yang berbeda, yaitu:

1. Sub Bagian Tata Usaha

Tugas Pokok dan Fungsi Sub Bagian Tata Usaha BPDAS Citarum Ciliwung,yaitu melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata persuratan, perlengkapan dan rumah tangga balai.Nama jabatan dan uraian jabatan struktural dan non struktural susunannya adalah sebagai berikut:

a. Kepala Sub Bagian Tata Usaha

b. Tugas pokok jabatan ini adalah melaksanakan urusan

kepegawaian, keuangan, surat-menyurat, perlengkapan, rumahtangga BPDAS.

c. Penata Usaha Keuangan

Menatausahakan keuangan dan menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja lingkup BPDAS berdasarkan kegiatan rutin dan pembangunan, memeriksa dan mencatat kebenaran bukti pengeluaran dan penggunaan uang pada buku kas umum serta membuat laporan pengelolaan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku.

d. Penata Usaha Kepegawaian

Memproses berkas penghargaan pegawai, karsu/karsis, kesejahteraan pegawai, disiplin pegawai, cuti pegawai, absensi pegawai, statistik pegawai.

e. Penata Usaha Pengembangan Kepegawaian

Memproses berkas usulan pendidikan dan latihan, administrasi jabatan fungsional, kebutuhan pegawai, DP3 pegawai di lingkungan BPDAS.

f. Penata Usaha Mutasi Kepegawaian

Memproses berkas usulan CPNS, mutasi pangkat dan jabatan, penempatan pegawai, pensiun pegawai, kenaikan gaji berkala.

g. Penata Usaha Umum.

Menerima dan mengagendakan surat-surat masuk dan mendistribusikan surat keluar sesuai dengan disposisi, menyeleksi, mencatat dan mengarsipkan surat-surat dinas, nota dinas surat keputusan, naskah-naskah dan dokumen lain berdasarkan jenis dan perihalnya serta menyimpan dan memeliharanya.

h. Penata Usaha Pustaka

Melayani para peminjam, menata buku dan majalah, menyusun foto-foto, guntingan berita acara, dokumentasi agar fungsi dan tujuan perpustakaan dapat tercapai.

i. Pembuat Daftar Gaji

Membuat konsep dan menyimpan daftar gaji pegawai serta membayarkan dan menyusun surat pertanggungjawaban sebagai bahan laporan ke kantor pembendaharaan negara.

j. Bendaharawan

Menerima, menyimpan, mengeluarkan dan membukukan keuangan agar anggaran tertib dan terkendali.

k. Pemverifikasi Keuangan

Melaksanakan verifikasi keuangan dengan cara mengumpulkan, menyusun dan memeriksa surat tanda bukti dan SPJ serta tanda bukti lainnya lingkup BPDAS berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku untuk menghidari kesalahan dan mengetahui kesalahan yang sekecil mungkin.

l. Penata Usaha Perlengkapan

Menerima mencatat dan mendistribusikan barang- baranginventaris dan alat tulis kantor, mengatur, melayani dan memelihara barang inventaris serta membuat laporan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

m.Operator Radio Komunikasi

Menerima, mengirimkan, mencatat melayani pernyataan pengiriman berita atau pesan serta menyampaikan sesuai dengan pesan yang diterima kepada alamat yang dituju.

n. Pengetik

Mengetik konsep surat, laporan, naskah dan dokumen lainnya dengan menggunakan mesin tik/komputer sesuai dengan petunjuk atasan dan memeriksa hasil ketikan sesuai dengan konsep untuk memperoleh kebenarannya.

o. Caraka

Menerima, memeriksa kelengkapannya dan mengirimkan surat- surat dinas, nota dinas, naskah dan dokumen lain ke alamat yang dituju berdasarkan perintah atasan dan alamat.

p. Pramu Kantor

Memelihara kebersihan kantordan perlengkapannya, menyajikan minuman untuk para pegawai, menyiapkan ruang rapat sesuai dengan perintah atasan.