• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTKA

2.2 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian mengenai pengaruh iklan yang ditayangkan di televisi semakin banyak sekarang ini. Produk dan sasaran yang diteliti juga sudah sangat beragam. Hal ini dimungkinkan karena dunia pertelevisian sudah semakin mengglobal. Diantara penelitian-penelitian tersebut dapat dilihat pada lampiran.

2. 1. 1 Penelitian Tentang Iklan Melalui Media Televisi

Penelitian yang dilakukan oleh Widya (2003) dengan judul perilaku konsumsi

14

kasus pada mahasiswa TPB Institut Pertanian Bogor) bertujuan untuk (1) mempelajari perilaku konsumsi shampo dan tanggapan konsumen terhadap iklan shampo di televisi, (2) mempelajari faktor- faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli shampo, termasuk peran iklan melalui televisi. Analisis yang digunakan adalah regresi logistik.

Hasil penelitian menemukan bahwa secara umum, menurut responden, iklan (iklan komersial) lebih merupakan media promosi produsen sehingga tidak heran pada akhirnya konsumen mempercayai iklan sebagai sumber informasi tentang kualitas dan ciri-ciri produk. Artinya dengan gaya persuasifnya iklan telah menggiring citra sebagai panduan bagi konsumen untuk memutuskan membeli dan menggunakan sampo yang bersangkutan. Sebagian besar responden menyatakan bahwa iklan di televisi mampu mendorong minat beli mereka. Variabel- variabel yang berpengaruh nyata pada keputusan pembelian adalah manfaat yang diharapkan, daya tarik dan harga, sedangkan faktor jenis kelamin dan uang saku ternyata tidak berpengaruh nyata.

Penelitian lainnya dilakukan Rilliyani (1999) yang berjudul pengaruh karakteristik individu dan frekuensi menonton iklan susu anak di televisi terhadap pengetahuan tentang iklan susu anak dan perilaku konsumsi ibu (Kasus : TK Akbar dan TK Mexindo Kecamatan Bogor Utara, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat).

Tujuannya adalah (1) mengetahui hubungan antara karektiristik individu dengan frekuensi menonton iklan susu anak, (2) mengetahui hubungan antara frekuens i menonton iklan dan karektiristik individu dengan peningkatan pengetahuan tentang

iklan susu anak, (3) mengetahui apakah pengetahuan tentang iklan susu anak dapat mempengaruhi konsumsi ibu dalam membeli susu anak.

Hasilnya menyatakan bahwa pengaruh karakteristik individu terhadap frekuensi menonton menunjukkan tidak adanya hubungan nyata, baik itu usia, tingkat pendapatan dan pendidikan responden. Sedangkan hubungan antara frekwensi menonton iklan terhadap pengetahuan iklan memperlihatkan bahwa seseorang yang memiliki frekwensi tinggi menonton iklan di televisi memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai jingle, tema dan model iklannya. Selanjutnya hubungan antara pengetahuan iklan suatu produk di televisi terhadap perilaku konsumsi seseorang dalam me mbeli produk tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan nyata.

Evanita (2003) dalam penelitiannya di Propinsi Sumatera Barat yang berjudul

pengaruh terpaan iklan televisi terhadap perilaku konsumtif ibu rumah tangga di kota Padang Sumatera Barat, menghasilkan kesimpulan bahwa slogan, model, dan repetisi iklan televisi, motivasi, umur, pendidikan, pendapatan dan kelompok acuan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap sikap pemirsa ibu rumah tangga pada produk yang ditayangkan televisi di Kota Padang Sumatera Barat. Hal ini menunjukkan bahwa sikap pada produk yang diiklankan televisi tidak hanya dipengaruhi oleh variabel iklan (slogan, model, dan repetisi) saja, melainkan dipengaruhi juga oleh variabel di luar iklan yang melekat pada pemirsa.

2. 1. 2 Penelitian Tentang Anak Sekolah Dasar

Penelitian yang dilakukan oleh Nurliawati (2003), mengatakan bahwa ada kecenderungan dengan semakin rendahnya pengetahuan ibu tentang makanan jajanan

16

dengan pewarna sintetik maka jajan anak akan semakin baik. Namun berdasarkan hasil uji, tidak ada hubungan antara sikap ibu dengan kebiasaan jajan makanan dengan pewarna sintetik pada anak. Hal itu disebabkan karena anak sekolah dasar lebih mementingkan penampilan dari makanan jajanan tersebut (rasa, harga, dan warna) tanpa mementingkan faktor kesehatan, kebersihan, dan gizinya.

Nugraha (2000) melakukan penelitian yang berjudul preferensi konsumsi makanan kudapan produk ekstrusi pada anak usia sekolah menyimpulkan bahwa informasi pertama kali mengenai makanan kudapan produk ekstrusi (MKPE) terbaru diperoleh dari iklan melalui media televisi. Iklan ini dapat menimbulkan rasa ingin tahu anak untuk mengkonsumsi MKPE. Selain itu, iklan MKPE di televisi sangat selektif dalam mencapai sasarannya yaitu anak usia sekolah.

Penelitian yang dilakukan Ardiansyah (2001) yang berjudul hubungan komunikasi iklan pangan melalui media TV dengan perilaku jajan anak di SDN Polisi IV Kotamadya Bogor, bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi iklan pangan melalui media televisi terhadap perilaku jajan anak. Hasil penelitian menemukan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara lamanya anak mengalokasikan waktu untuk menonton televisi dengan tingkat pengenalan terhadap iklan, durasi menonton televisi dengan tingkat kesukaan terhadap ikla n, lamanya menonton televisi dengan sikap anak terhadap iklan pangan, waktu antara menonton televisi dengan frekuensi jajan serta besarnya uang jajan dengan frekuensi jajan.

2. 1. 3 Penelitian Tentang Makanan Ringan

Penelitian tentang produk makanan ringan dilakukan oleh Sari (2004), bertujuan menjelaskan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anak-anak dalam pembelian produk makanan ringan, khususnya yang dipengaruhi oleh iklan televisi. Hasilnya menyimpulkan bahwa faktor utama yang dipertimbangkan anak-anak dalam pembelian produk makanan ringan adalah promosi hadiah, pengalaman menggunakan produk, sikap terhadap produk, dan teman. Namun sikap terhadap produk ini bukan ditimbulkan oleh iklan. Sehingga peran iklan televisi dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anak-anak hanya sekedar menjalankan fungsi recall produk dan memberi informasi terbaru dari produk tersebut.

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi frekwensi seseorang menonton iklan di televisi, maka semakin tinggi tingkat pengetahuannya mengenai jingle, tema dan model yang mengiklankannya. Iklan sesungguhnya lebih berperan sebagai sumber informasi mengenai suatu produk. Keputusan seseorang untuk menggunakan atau tidak produk yang diiklankan ternyata dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta faktor kebutuhan terhadap produk tersebut.

Keunggulan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dibandingkan dengan penelitian terdahulu adalah (1) penelitian dilakukan terhadap anak sekolah dasar, yang biasanya mereka berperan sebagai pemberi pengaruh dalam proses pembelian. Dan hal ini dilaksanakan di sekolah terfavorit di Jakarta Selatan yang pada kenyataannya merupakan anak-anak dari kalangan menengah ke atas, dan orang tuanya kebanyakan adalah orang tua yang sangat sibuk. Sehingga pendampingan di rumah terutama dalam menonton acara-acara televisi sangat kurang, (2) makanan

18

ringan yang dijadikan produk telaahan, karena seperti diketahui bahwa banyak sekali makanan ringan yang kurang cocok dikonsumsi oleh anak-anak karena kandungan MSG-nya. Sedangkan iklan makanan ringan melalui televisi sangat banyak, terutama pada saat ”prime time” acara untuk anak-anak. Kekurangannya, karena analisis penelitiannya belum dipisahkan antara responden yang berjenis kelamin laki- laki atau perempuan.

3. 1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3. 1. 1 Iklan Sebagai Alat Bantu Pemasaran

Suatu produk dapat dikenal luas oleh masyarakat karena adanya proses perkenalan dari produk tersebut. Proses pengenalan produk ini harus memperhatikan sasaran segmentasi yang ditujukan. Seperti, apakah produk itu ditujukan untuk anak-anak, remaja, kaum dewasa atau pun berdasarkan gender. Hal ini sangat diperlukan supaya produk yang dihasilkan dapat tepat sasaran, serta dapat diterima di masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkanlah suatu cara untuk memperkenalkan produk baru, yaitu melalui periklanan. Susanto (1989) dalam Diana (2004) menyatakan bahwa produk atau jasa yang diiklankan akan memberikan status yang tinggi kepada produk atau jasa yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena suatu produk atau jasa yang diklankan, sebenarnya mempertanggungjawabkan diri terhadap masyarakat luas sekaligus mempertaruhkan nama baik dari pemasang iklan tersebut. Maka dari itu, iklan tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan suatu produk atau jasa, tetapi juga untuk mengembangkan kepercayaan dan keakraban.

Kata iklan (advertising) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya kurang lebih adalah menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian iklan secara komprehensif adalah “semua bentuk aktifitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara non personal yang dibayar oleh sponsor tertentu”. Secara umum, iklan berwujud penyajian informasi non personal

20

tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko yang dijalankan dengan kompensasi biaya tertentu. Dengan demikian, iklan merupakan suatu proses komunikasi yang bertujuan untuk membujuk atau menggiring orang untuk mengambil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan (Durianto, 2003).

Kemampua n iklan untuk menciptakan sikap yang mendukung terhadap suatu produk sering bergantung pada sikap konsumen terhadap iklan itu. Iklan yang disukai secara menguntungkan dapat menghasilkan sikap yang lebih positif terhadap suatu produk. Iklan yang tidak disukai kemungkinan akan menurunkan evaluasi produk dari sisi konsumen. Sikap terhadap suatu iklan berfungsi sebagai peramal yang signifikan atas sikap terhadap produk. Tetapi, tidak berarti bahwa konsumen harus selalu menyukai suatu iklan agar iklan tersebut efektif. Kemungkinan ada iklan yang tidak disukai tetapi tetap saja berhasil.

Menurut Durianto (2003), secara umum perusahaan mengiklankan produknya dalam rangka :

1. Menciptakan kesadaran pada suatu merek di benak konsumen (create awareness). Brand awareness yang tinggi merupakan kunci pembuka untuk tercapainya brand equity yang kuat. Pemasar seharusnya menyadari bahwa tanpa brand awareness yang tinggi, sulit untuk mendapatkan pangsa pasar yang tinggi.

2. Mengkomunikasikan informasi kepada konsumen mengenai atribut dan manfaat suatu merek (communicate information about attributes and benefits).

3. Mengembangkan atau mengubah citra atau personalitas sebuah merek (develop or change an image or personality). Sebuah merek terkadang mengalami dilusi sehingga perlu diperbaiki citranya. Hal ini dapat dilakukan adalah melalui iklan.

4. Mengasosiasikan suatu merek dengan perasaan serta emosi (associate a brand with feelings and emotion). Tujuannya, agar ada hubungan emosi antara konsumen dan suatu merek.

5. Menciptakan norma- norma kelompok (create group norms).

6. Mengendapkan perilaku (precipitate behavior). Perilaku konsumen dapat dibentuk lewat iklan.

7. Mengarahkan konsumen untuk membeli produknya dan mempertahankan

market power perusahaan. Iklan sangat powerfull dalam meningkatkan

power suatu merek di pasaran. Tetapi, iklan bukan “everything”, karena keberhasilan suatu merek di pasaran tidak hanya tergantung pada iklannya. 8. Menarik calon konsumen menjadi “konsumen yang loyal” dalam jangka

waktu tertentu.

9. Mengembangkan sikap positif calon konsumen yang diharapkan dapat menjadi pembeli potensial di masa yang akan datang.

Dalam kenyataannya saat ini, lebih banyak perusahaan yang memilih iklan sebagai media promosi yang paling efektif, khususnya melalui media televisi. Karena bagi sebagian besar masyarakat, televisi sudah menjadi sumber informasi dan sebagai alat untuk menonton berbagai macam acara.

Iklan yang ditayangkan di televisi merupakan informasi yang dapat memberikan stimulus bagi contoh dan isi pesan yang menarik, dan akan

22

membentuk persepsi terhadap suatu produk. Persepsi terhadap pesan yang disampaikan oleh sebuah iklan akan melekat dalam benak konsumen, sehingga akan timbul pilihan kesukaan atau sesuatu hal yang lebih disukai.

Iklan mempunyai dampak besar terhadap pola pemikiran dan pola konsumsi masyarakat, bahkan bisa menjadi racun bagi masyarakat terutama anak-anak. Frekuensi iklan yang terus menerus lama kelamaan akan membuat orang akan sulit untuk mempertahankan sikap rasionalnya. Anak-anak belum mempunyai kapasitas untuk membuat kesadaran kebutuhannya dan belum memahami biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhannya (Siahaan dalam Buletin Citra, 1996).

Begitupun dengan iklan produk makanan cenderung menonjolkan karakteristik fisik makanan seperti rasa renya h, rasa manis, rasa rame, dan lain-lain. Sementara itu anak dalam perkembangannya psikologisnya cenderung selalu ingin mencoba, sehingga lebih mudah dipengaruhi. Pengaruh iklan yang begitu besar seringkali lebih menarik dibandingkan pelajaran di kelas. Wiwiek (1993) menyatakan bahwa iklan dapat mempengaruhi prestasi anak dan menyebabkan kurangnya komunikasi dengan orang tua.

Menurut Kasali (1995) iklan yang efektif adalah iklan yang pesannya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sehingga dapat memberikan respon seperti yang diharapkan. Tidak semua iklan dapat dikatakan baik, karena suatu iklan dibatasi ruang, dana, dan waktu. Oleh karena itu suatu iklan seharusnya dibuat sesingkat mungkin dan mudah diingat oleh masyarkat. Iklan yang baik harus mempunya i struktur, yaitu: (1) headline, berupa judul atau kepala tulisan produk yang diiklankan, (2) sub headline, berupa penegasan sesuatu yang penting

pada suatu produk kepada calon pembeli, (3) amplikasi, berupa perluasan dari produk yang diiklankan, berupa naskah atau teks akhir yang mengikuti headline.

3. 1. 2 Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan konsumen yang secara langsung dan tidak langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa yang dibelinya, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut (Engle et. al., 1994).

Konsumen akan memutuskan atau membeli suatu produk dengan pilihan merek tertentu melalui beberapa tahap tertentu yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku proses pembelian (Kotler, 2002).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen menurut Simamora (2004) adalah :

v Faktor kebudayaan : yang meliputi kultur, subkultur dan kelas sosial.

v Faktor sosial : yang meliputi kelompok, keluarga, serta peran dan status.

v Faktor pribadi : yang meliputi usia dan tahap daur hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri.

v Faktor psikologis : yang meliputi motivasi, persepsi, proses belajar, serta kepercayaan dan sikap

Untuk mengetahui bagaimana konsumen bereaksi terhadap berbagai stimulus/rangsangan yang dikendalikan oleh pemasar, Kotler (1997) membuat suatu model “rangsangan-tanggapan”, dimana stimulus/rangsangan pemasar dan faktor- faktor lingkungan akan memasuki “kotak hitam” konsumen dan

24

menghasilkan tanggapan konsumen. Stimulus dari pemasar terdiri dari: produk, harga, saluran distribusi dan promosi, sedangkan stimulus lingkungan terdiri dari kekuatan dan peristiwa utama yang terjadi di lingkungan makro konsumen, yaitu : ekonomi, teknologi, politik, dan kebudayaan. Seluruh stimuli tersebut akan melalui kotak hitam konsumen, yang terdiri dari karakteristik konsumen dan proses keputusan konsumen. Dari kotak hitam tersebut akan dihasilkan keputusan pembelian, antara lain berupa : pilihan produk, pilihan merek, pilihan penyalur, waktu pembelian, dan jumlah pembelian.

Suatu proses keputusan membeli bukan sekadar mengetahui berbagai faktor yang akan mempengaruhi pembeli, tetapi berdasarkan peranan dalam pembelian dan keputusan untuk membeli. Simamora (2004) mengatakan bahwa terdapat lima peran yang terjadi dalam keputusan membeli:

• Pemrakarsa (initiator). Orang yang pertama kali menyarankan membeli suatu produk atau jasa tertentu.

• Pemberi pengaruh (influencer). Orang yang pandangan/nasehatnya memberi bobot dalam pengambilan keputusan akhir.

• Pengambilan keputusan (decider). Orang yang sangat menentukan sebagian atau keseluruhan keputusan pembelian, apakah membeli, dengan berbagai cara membeli, kapan hendak membeli, dengan bagaimana cara membeli, dan di mana akan membeli.

• Pembeli (buyer). Orang yang melakukan pembelian nyata.

• Pemakai (user). Orang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa.

Engel et al. (1994) mengatakan bahwa anak-anak adalah pemakai serealia, mainan, pakaian, dan banyak produk lain, tetapi mungkin bukan pembeli. Salah satu atau kedua orang tua mungkin merupakan pembuat keputusan dan pembeli, walaupun anak mungkin penting sebagai pemberi pengaruh dan pemakai. Orang tua bertindak sebagai penjaga pintu dengan mencegah anak menonton beberapa acara TV atau berusaha menetralkan pengaruh acara tersebut. Penelitian yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI), bekerjasama dengan Consumer International- Regional Officer for Asia and the Pacific (CI-ROAP) tahun 2002, disebutkan bahwa anak menduduki posisi kedua dalam mempengaruhi seseorang untuk membeli produk yang diiklankan.

Pengenalan kebutuhan tidak hanya diperoleh dari informasi (iklan) yang disimpan dalam ingatan individu saja, tetapi ada faktor lain yaitu situasi, kelas sosial yang dapat mempengaruhi pengenalan kebutuhannya. Kebutuhan konsumen dapat diinterpretasikan dalam perilaku baik dalam pembelian maupun konsumsi, yang bertujuan mencapai manfaat yang diharapkan.

Sanjur (1982) dalam Hayati (1999) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan pangan adalah karakteristik produk seperti rasa, warna, aroma, dan kemasan. Setiap individu memiliki preferensi dan penerimaan yang berbeda. Preferensi terbentuk dari persepsi produk dan mengarah kepada pemahaman dan ingatan dari informasi (iklan) yang diterima seseorang.

Dengan segala atribut yang dimiliki oleh iklan, tujuan akhir dari iklan adalah tumbuhnya sikap positif terhadap merek produk. Sikap ini akan mengaktifkan kebutuhan atau keinginan baru seseorang yang terkena terpaan

26

iklan. Sikap ini membuat orang merasa tidak puas jika barang yang diinginkan belum dimiliki. Seseorang yang melakukan tindakan dalam bentuk pembelian barang atau jasa tanpa pertimbangan rasional dapat digolongkan orang yang konsumtif. Tindakannya disebut dengan perilaku konsumtif (Evanita, 2003).

3. 1. 3 Preferensi Konsumen

Preferensi adalah derajat kesukaan seseorang terhadap suatu makanan. Preferensi merupakan tingkat kesukaan yang didasarkan atas sikap seseorang dalam memilih dan menentukan pangan yang dikonsumsinya. Sehingga dapat diduga bahwa anak memiliki tingkat kesukaan yang beragam terhadap produk makanan ringan (Sanjur, 1982 dalam Hayati, 1999).

Nicholson (1999) mengasumsikan bahwa dari berbagai macam barang/jasa yang tersedia, seorang yang rasional akan memilih barang yang paling disukainya. Dengan kata lain, dari sejumlah alternativ yang ada orang lebih cenderung memilih sesuatu yang memaksimumkan kepuasannya. Hal ini sejalan dengan konsep bahwa barang yang lebih diminati menyuguhkan kepuasan yang lebih besar dari barang yang kurang diminati. Ukuran kepuasan ini dipengaruhi oleh bermacam faktor. Jadi kepuasan yang diterima tidak hanya ditentukan oleh bentuk atau jenis barang tersebut, tetapi juga oleh sikap psikologis (psychological attitudes), tekanan kelompok (group pressures), pengalaman pribadi dan lingkungan.

Putong (2000) mengatakan bahwa dalam menganalisis tingkat kepuasan individu sehubungan dengan konsumsi barang dalam rangka memaksimalkan kepuasannya, perlu menggunakan kurva indifiren. Kurva indiferen itu sendiri

adalah sebuah kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi yang memberikan tingkat kepuasan yang sama. Secara grafik, tingkat kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dengan anggaran tertentu adalah dimana kurva indiferen menyentuh garis anggaran (Nicholson, 1999).

3. 1. 4 Anak Sekolah Dasar

Anak sekolah dasar atau anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-12 tahun. Menurut Hurlock (1999), masa ini sebagai masa akhir kanak-kanak (late chilhood) yang berlangsung dari usia 6 tahun sampai tiba saatnya anak menjadi matang secara seksual, yaitu 13 tahun bagi anak perempuan dan 14 tahun bagi anak laki- laki. Anak perempuan biasanya lebih cepat dewasa dibandingkan dengan anak laki- laki.

Namun secara umum anak usia sekolah adalah anak yang masuk sekolah dasar. Anak sekolah dasar dibagi atas dua kelas, yaitu masa kelas rendah yang berumur 6-9 tahun, dan masa kelas tinggi yang berumur 10-12 tahun (Suryabrata, 1982 dalam Nurliawati, 2003). Pada masa ini kebutuhan tubuh akan energi jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sebelumnya, karena anak lebih banyak melakukan aktifitas fisik seperti bermain, berolah raga, atau membentu orang tua. Memasuki usia 10 – 12 tahun, akan semakin besar lagi kebutuhan energi serta zat-zat gizinya dibandingkan dengan usia 7 – 9 tahun. Pada usia ini pemberian makanan untuk anak laki- laki dan perempuan mulai dibedakan. Biasanya anak laki- laki lebih aktif dan lebih banyak bergerak sehingga lebih banyak membutuhkan konsumsi zat gizi dalam makanan mereka.

28

Anak usia sekolah dasar sudah menyadari bahwa ia tidak dapat menyatakan dorongan emosinya begitu saja tanpa mempertimbangkan lingkungan. Ia mulai belajar mengungkapkan perasaan dan perilaku yang dapat diterima secara sosial, sehingga anak usia 6-12 tahun dapat dengan baik menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Gerungan, 1981 dalam Nurliawati, 2003).

Sekarang ini, pengiklan dan produsen menganggap anak-anak merupakan pasar yang sangat potensial. Menurut Sugiharto (1997), seperti dikutip Sari (2004), terdapat beberapa alasan yang membuat para produsen menjadikan anak-anak sebagai segmen pasar yang potensial bagi industri. Pertama, anak-anak lebih mengandalkan emosi dibanding rasio dalam pengambilan keputusan. Kedua, anak-anak merupakan basis kehidupan yang panjang dalam proses konsumsi mengingat usia hidupnya yang masih lama. Ketiga, mereka masih dalam proses sosialisasi dan dianggap memiliki loyalitas terhadap sesuatu hal, termasuk loyal pada komoditi dan merek tertentu. Keempat, karena masih dalam proses pembentukan kepribadian maka mereka sangat mudah dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama promosi-promosi produk tertentu. Kelima, pilihannya terhadap suatu komoditi dengan merek tertentu dapat dipaksakankepada orang tuanya.

3. 1. 5 Makanan Ringan

Kedudukan makanan ringan dalam menu harian anak-anak kini bukan sekadar kudapan. Malah ia seolah-olah mulai mengambil alih peranan makanan harian yang disediakan di rumah. Buktinya, setiap hari sekurang-kurangnya sebungkus pasti sampai ke tangan anak-anak kita. Baik itu dibelikan oleh orang

tua ataupun dibelinya sendiri. Illingworth (1991) yang merupakan seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan bahwa beberapa hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan adalah memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar4.

Apa yang dikategorikan sebagai ‘makanan ringan’ atau dahulu disebut ‘makanan kosong’ ini termasuk kerupuk, gula- gula, buah-buahan, jeruk, asam, minuman ringan dan sebagainya. Ia biasanya dijadikan sebagai hidangan sampingan dan boleh didapati dengan mudah di pelbagai tempat, antaranya kedai, terminal, panggung wayang, penjaja bergerak, dan ada yang menjangkau ke kantin-kantin sekolah.

Arintoni (2002) mengutip pendapat Blenford (1982), yang mendefinisikan makanan ringan sebagai makanan baik asin atau manis, padat atau cair, dalam jumlah kecil, membutuhkan proses persiapan sederhana atau bersifat siap santap,