Deskripsi Keterlaksanaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi dari keterlaksanaan pembelajaran tampak bahwa keterlaksaaan dari keempat model pembelajaran di atas telah berlangsung dengan baik sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 4 berikut.
Tabel 4 Perbandingan Keterlaksanaan Pembelajaran Model Pembelajaran Persentase Keterlaksanaan
Pembelajaran Kategori
Learning Cycle 82,73% Baik
STAD 72,77% Baik
Paduan LC-STAD 76,88% Baik
Konvensional 79,55% Baik
Persentase keterlaksanaan pembelajaran yang berbeda seperti Tabel 4 diatas disebabkan karena observer dari yang mengamati pelaksanaan pembelajaran juga berbeda satu model dengan model lainnya, sehingga faktor subyektifitasnya tampak sangat tinggi. Hasil pengamatan dikuantisasikan sehingga diperoleh angka persentase keterlaksanaan pembelajaran tersebut.
Berdasarkan deskripsi dari kemampuan awal didapatkan probabilitas (Sig.) > 0,05 artinya bahwa sebaran data terdistribusi secara normal, dan homogenitas kemampuan awal siswa didapatkan probabilitas (Sig.) = 0,548, Fhitung = 0,709 dan Ftabel (3 ; 153 ; 0,05) = 2,664, sehingga dapat disimpulkan bahwa keempat data mempunyai varians yang homogen (identik) karena nilai Sig. (0,548) > 0,05. dan Fhitung (0,709) < Ftabel (2,664). Karena asumsi di atas sudah terpenuhi maka keempat kelompok tersebut mempunyai rata-rata kemampuan awal yang identik (tidak ada perbedaan yang signifikan) karena nilai Sig. (0,527) > 0,05 , dan Fhit ( 0,745) < Ftabel (2,664).
Berdasarkan data hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil pos tes, perbandingan hasil belajar antara keempat kelompok sampel terdapat dalam Tabel 5 berikut.
Tabel 5 Data Perbandingan Hasil Belajar Siswa
Model Pembelajaran Hasil Belajar Siswa
Rerata Terendah Tertinggi
LC 53,81 40 70
STAD 59,75 45 80
Paduan LC-STAD 66,37 50 80
Konvensional 47,82 35 70
Berdasarkan Tabel 5 di atas tampak bahwa urutan skor rerata dari tertinggi ke terendah untuk keempat kelompok sampel adalah kelompok yang diajar dengan paduan model LC–STAD adalah 66,37 disusul siswa yang diajar dengan model STAD adalah 59,75 , kemudian siswa yang diajar melalui model LC adalah 53,81 dan siswa yang diajar dengan model konvensional adalah 47,82
Analisis Deskripsi Persepsi Siswa
dihasilkan dari data persepsi siswa bahwa skor rerata persepsi siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC adalah 3,81 dan persentase rerata adalah 76,34% (kriteria positif). Dengan demikian dikatakan bahwa siswa merespon positif model pembelajaran LC tersebut.
Persepsi Siswa terhadap Penggunaan Model Pembelajaran STAD
Analisis persepsi siswa terhadap penggunaan model pembelajaran STAD yang dihasilkan dari data persepsi siswa bahwa skor rata-rata persepsi siswa yang diajar dengan model pembelajaran STAD adalah 3,86 dan persentase rerata adalah 77,25% (kriteria positif). Dengan demikian dikatakan siswa merespon positif model pembelajaran STAD tersebut.
Persepsi Siswa terhadap Penggunaan Paduan Model Pembelajaran LC-STAD Analisis persepsi siswa terhadap penggunaan paduan model pembelajaran LC-STAD yang dihasilkan dari data persepsi siswa bahwa skor rata-rata persepsi siswa yang diajar dengan paduan model pembelajaran LC-STAD adalah 3,69 dan persentase rerata adalah 73,8% (kriteria positif). Dengan demikian dapat dikatakan siswa merespon positif paduan model pembelajaran LC-STAD tersebut.
PEMBAHASAN
Keterlaksanaan Pembelajaran dengan Model LC, STAD, Paduan LC-STAD dan Konvensional
Berdasarkan hasil observasi dari keterlaksanaan pembelajaran pada Tabel 4 di atas maka secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
(1) Pada Kelas LC tampak bahwa secara keseluruhan tahapan pada proses pembelajaran LC sudah berlangsung dengan baik (82,73%). Ditinjau dari aktifitas siswa berdasarkan hasil pengamatan observer pada setiap fase LC terdapat adanya
pembelajaran. Pada model pembelajaran siswa membangun pengetahuannya ditandai dengan pengumpulan data, mengorganisasi dan menganalisis data serta menyimpulkannya dengan mengerjakan LKS terlaksana dengan cukup baik pada tahap exploration. Pada tahap berikutnya siswa diminta menjelaskan konsep yang telah dimiliki tersebut dalam tahap explaination dengan saling berdiskusi yang difasilitasi oleh guru terlaksana baik. Pada tahap elaboration siswa diminta memecahkan masalah yang dalam situasi yang baru dalam kondisi yang sama yang kemudian didiskusikan dengan siswa lainnya. Akhirnya pada tahap
evaluation guru mengadakan evaluasi terhadap konsep yang telah diberikan.
(2) Pada kelas STAD tampak bahwa secara keseluruhan tahapan pada proses pembelajaran STAD berlangsung dengan baik (72,77%). Ditinjau dari aktifitas siswa terdapat adanya peningkatan usaha dari siswa untuk dapat lebih aktif dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran yang didalamnya terdapat kompetisi sehingga kelompok siswa berusaha untuk meningkatkan skor peningkatan individu untuk poin kelompok maupun ketrampilan kelompoknya untuk meraih predikat super team. Pada tahap kegiatan inti siswa dalam kelompoknya berdiskusi untuk memecahkan masalah yang diberikan kemudian menampilkannya dalam presentasi untuk berkompetisi pada diskusi kelas. Walaupun masih ada pertanyaan dari kelompok lain belum dapat dijawab dengan benar dan sempurna, namun hal ini telah menjadi motivator dari kelompok siswa untuk dapat menampilkan dan menjelaskan konsep-konsep yang dimilikinya. (3) Pada kelas paduan LC–STAD tampak bahwa secara keseluruhan tahapan pada proses pembelajaran paduan LC-STAD berlangsung dengan cukup baik (76,88%). Ditinjau dari aktifitas siswa terdapat adanya peningkatan usaha dari siswa untuk
terdapat kompetisi sehingga kelompok siswa termotivasi berusaha untuk meningkatkan skor peningkatan individu untuk peningkatan poin kelompok maupun ketrampilan kelompoknya untuk meraih predikat super team. Mengacu pada hasil penilaian ketrampilan kooperatif selama diadakannya penelitian terlihat bahwa keaktifan siswa dalam menjalankan unsur-unsur yang harus terdapat pada ketrampilan kooperatif dalam pembelajaran dengan paduan LC-STAD adalah lebih baik daripada dalam pembelajaran dengan model pembelajaran STAD saja. Pada model pembelajaran ini pada tahap kegiatan inti pada fase exploration kelompok siswa diajak untuk bagaimana mengumpulan data, mengorganisasi dan menganalisis data serta menyimpulkannya bersama-sama dalam kelompok sehingga dapat memecahkan masalah yang diberikan. Pada fase explaination kelompok siswa diminta untuk menjelaskan konsep yang diperoleh dalam diskusi kelompok. Pada fase elaboration kelompok siswa diberi kuis untuk memecahkan masalah berupa soal kemudian antar kelompok siswa saling mengecek jawaban masing-masing sekaligus diadakan evaluasi konsep yang telah dimiliki. Pada fase
evaluation guru mengadakan kuis yang dikerjakan oleh siswa secara individu
untuk melihat sejauh mana penguasaan konsep yang telah dipelajarinya. Akhirnya skor yang diperoleh oleh kelompok dalam fase explaination dan elaboration serta skor hasil kuis individu dalam evaluation dijumlahkan untuk mengetahui kelompok siswa yang menjadi kelompok terbaik (Super Team).
(4) Pada kelas konvensional tampak secara keseluruhan tahapan pada proses pembelajaran konvensional berlangsung dengan baik (79,55%). Pada proses pembelajaran konvensional aktifitas guru lebih banyak tersita untuk menyampaikan dan menjelaskan informasi konsep-konsep pengetahuan dengan
pengamatan pada model pembelajaran konvensional adalah (1) siswa kurang diberi kesempatan untuk menampilkan kreatifitas berfikirnya sehingga terlihat pasif, (2) sikap siswa lebih mengarah ke persaingan individual, (3) siswa lebih banyak mendengar dan mencatat konsep-konsep yang berasal guru dan (4) aktifitas mental siswa sebagai pebelajar belum berkembang secara maksimal. Hasil Analisis Terhadap Hasil Belajar
Berdasarkan Tabel 5 di atas tampak bahwa skor rerata tertinggi untuk keempat kelompok sampel adalah kelompok yang diajar dengan paduan model LC–STAD adalah 66,37 yang artinya tingkat pemahaman siswa berada dalam kategori baik, kemudian berturut-turut siswa yang diajar dengan model STAD adalah 59,75 yang artinya tingkat pemahaman siswa berada dalam kategori cukup; siswa yang diajar melalui model LC adalah 53,81 yang artinya tingkat pemahaman siswa berada dalam kategori cukup; dan siswa yang diajar dengan model konvensional adalah 47,82 berada dalam kategori cukup.
Selain itu dalam penelitian ini juga didapatkan data hasil belajar yang ditinjau dari perbandingan persentase jawaban benar pada setiap jenjang kemampuan (taksonomi Bloom) antara kelas eksperimen dengan kelas yang diajar dengan model pembelajaran konvensional yang terlihat bahwa pada siswa yang diajar dengan model konvensional terdapat kecenderungan penurunan persentase rerata dari jenjang kemampuan rendah (C2) ke kemampuan tinggi (C5). Sedangkan siswa yang menggunakan model pembelajaran LC, STAD maupun paduan LC-STAD memiliki persentase rerata yang lebih besar pada semua jenjang daripada model pembelajaran konvensional. Hal ini mengindikasikan bahwa pada siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC, STAD maupun
kritis yang lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
Adapun penyebab dari keadaan demikian adalah dikarenakan:
(1) Pada pembelajaran kooperatif seperti paduan model LC-STAD maupun STAD saja, siswa terbiasa dalam berkompetisi pada kelompok masing-masing dalam mengungkapkan gagasan atau ide-ide mereka. Hal ini terlihat ketika siswa mampu mengemukakan konsep-konsep yang ada dalam memecahkan masalah dalam model pembelajaran kooperatif, yang ditunjukkan oleh hasil observasi tentang skor peningkatan individu dan tingkat penghargaan kelompok yang berarti bahwa siswa yang diajar dengan paduan model LC-STAD lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan model STAD saja sehinggamenyebabkan siswa lebih terpacu dalam belajar. Hal ini terlihat pada rerata skor peningkatan individu, dimana tiap kelompok saling berlomba untuk mendapatkan predikat Super Team. Pada model pembelajaran LC kompetisi antar kelompok tidak diutamakan, sehingga sifat individu antar siswa masih tampak, kerjasama antar siswa belum berjalan secara maksimal, (2) Pada pembelajaran kooperatif terdapat peningkatan kemampuan kerjasama dan keterampilan komunikasi sesama siswa, rasa saling menghargai serta munculnya tanggung jawab personal dan kolektif. Hal ini terlihat ketika siswa belajar dalam kelompok, dimana proses saling tukar pendapat maupun saling tanggap dan kritik positif terhadap pendapat teman berjalan cukup baik. Kondisi ini dikuatkan oleh hasil observasi pada aspek ketrampilan kooperatif siswa, sedangkan pada model LC memang ada pembagian kelompok tapi tidak secara kooperatif, sehingga tidak tampak aspek ketrampilan kooperatif sebagaimana dalam paduan model LC-STAD maupun model STAD saja, (3) Pada
heterogen memfasilitasi terjadinya pertukaran ide, argumentasi dan refleksi dari masing-masing anggota kelompok dalam upaya kontruksi pengetahuan. Kondisi tersebut menyebabkan siswa lebih terangsang dalam belajar dan pada akhirnya memberikan hasil belajar yang positif. Pada kondisi ini siswa terbiasa untuk saling menyamakan persepsi, terjadi pembagian tugas yang merata serta tidak ada dominasi dari siswa yang berkemampuan tinggi, (4) Model pembelajaran LC yang dilandasi oleh teori konstruktivistik membuat tuntutan aktivitas siswa sebagai pebelajar menjadi lebih dominan, guru bukanlah satu-satunya narasumber utama bagi siswa melainkan sebagai fasilitator yang akan mengarahkan siswa ke arah bagaimana memperoleh pengetahuan dengan sendirinya. Di sisi lain penerapan model pembelajaran LC ini menuntut adanya kreativitas siswa, keberanian mengungkapkan gagasan atau ide-ide, serta kemauan dan kesungguhan dalam belajar. Sedangkan pembelajaran dengan model konvensional dilandasi oleh teori belajar behaviorisme. Dalam pembelajaran dengan model konvensional, siswa lebih pasif karena pembelajaran lebih berpusat pada guru (peran guru lebih dominan). Mengingat dari keempat kelompok sampel hanya siswa kelompok model konvensional inilah yang diajar tanpa panduan LKS, sehingga umumnya daya kreatifitas siswa kurang berkembang, hanya berbuat bila telah diminta oleh guru. Akibatnya siswa kurang memiliki kesempatan untuk mengungkapkan ide-ide dan pendapatnya, sehingga potensi-potensi yang ada pada diri siswa tidak terealisasi dengan optimal..