• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelusuran Peraturan Perundang-undangan dan

A. Hasil Penelitian Berdasarkan Peraturan

1. Hasil Penelusuran Peraturan Perundang-undangan dan

Sesuai dengan tema penelitian ”Kecakapan dan Kewenangan Bertindak dalam Hukum Berdasarkan Batasan Umur” maka Bahan Hukum Primer penelitian yang diperoleh berupa peraturan perundang-undangan. Adapun tabel peraturan perundangan dan produk hukum lainnya yang diperoleh adalah sebagai berikut.

No. Judul Peraturan Perundangan Tahun

1. Undang-Undang No. 27 Tahun 1948 tentang Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemilihan Anggota-anggotanya 1948 2. Undang-Undang No.12 Tahun 1948 tentang Undang-Undang Kerja Tahun 1948 1948 3. Undang-Undang No. 7 Tahun 1953 tentang Pemilihan AnggotaKonstituante dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat 1953 4. Undang-Undang No. 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan NegaraRepublik Indonesia 1954 5. Undang-Undang No. 19 Tahun 1956 tentang Pemilihan AnggotaDewan Perwakilan Rakyat Daerah 1956 6. Undang-Undang No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer 1958 7. Undang-Undang No. 9 Tahun 1964 tentang Gerakan Sukarelawan Indonesia 1964 8. Undang-Undang No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah 1965 9. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 1974 10. Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak 1979 11. Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan 1983

isi6-1.indd 75 12/13/2010 10:00:47 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

76

Kecakapan dan Kewenangan

12. Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan 1995 13. Undang-Undang No. 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan 1997 14. Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak 1997 15. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia 1999 16. Undang-Undang No. 56 Tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih 1999 17. Undang-Undang No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik 1999 18. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia 2000 19. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 2002 20. Undang-Undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik 2002 21. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian NegaraRepublik Indonesia 2002 22. Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 2003 23. Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan UmumPresiden dan Wakil Presiden 2003 24. Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat 2003 25.

Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah 2003 26. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris 2004 27. Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional 2004 28. Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia 2004 29. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 2004 30. Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia 2004 31. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan 2006 32. Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan 2006 33. Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Per-dagangan Orang 2007 34. Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik 2008 35. Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota

Rakyat Daerah

2008 36. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas 2009 37. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 56 Tahun 1996 tentang Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia 1996 38. Peraturan Pemerintah RI No. 72 Tahun 2005 tentang Desa 2005 39. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia 2007

isi6-1.indd 76 12/13/2010 10:00:47 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

76

Kecakapan dan Kewenangan Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

77

40. Peraturan Daerah Kabupaten Ketapang No. 6 Tahun 2007 tentang Badan Pemusyawaratan Desa 2007 41. Larangan Praktik Tuna Susila, Gelandangan, dan Pengemis di Kabupaten Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai No. 25 Tahun 2007 tentang

Serdang Bedagai

2007

42. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Per-18/Men/IX/2007 tentang Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri 2007 43. Peraturan Menteri Kesehatan No. 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran 2008 44. Keputusan Menteri KehakimanRepublik Indonesia No. M.02- IZ.01.10 Tahun 1995 tentang Visa Singgah, Visa Kunjungan, Visa TinggalTerbatas, Izin Masuk,

dan Izin Keimigrasian

1995 45. SK Mendagri Dirjen Agraria Direktorat Pendaftaran Tanah (Kadaster) No. Dpt.7/539/7-77, tertanggal 13-7-1977 1977 46. Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1964 tentang Gagasan Menganggap Burgerlijk Wetboek Tidak Sebagai Undang-Undang 1964 47. Huwelijksordonantie-Indonesiers Java Minahasa en Amboina. (Ordonantie 15 Feb 1933, S.1933-74) 1933 48. Peraturan Perburuhan di Perusahaan Perkebunan. (AanvullendePlantersregeling) S. 1938-98 jo. 136, s.d. u.dg. S. 1 939-546 1938 49. Pengaturan Jabatan Notaris di Indonesia (Reglement Op Het Notaris ambt in Indonesie (Stb. 1860: 3) 1860 50. Kompilasi Hukum Islam (Inpres No. 1 Tahun 1991) 1991

a. Sumber Data

Data bahan-bahan penelitian berupa peraturan perundang-undangan diperoleh dari beberapa sumber, baik melalui internet, CD Pustaka Perundang-Undangan, berbagai perpustakaan, seperti Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Perpustakaan Nasional, dan Perpustakaan DPR RI. Selain itu, penulis juga melakukan penelusuran data ke DPR dan beberapa kementerian, seperti Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Hukum dan HAM RI, dan Kementerian Agama RI.

b. Pengolahan Data

Data diolah dengan melalui bebeberapa tahapan. 1) Pengumpulan Data

Seluruh peraturan dikumpulkan, kemudian disusun dalam suatu tabel dengan mendata tahun dan jenis peraturan terkait. Tahun diundangkannya suatu peraturan diperlukan untuk memahami kronologi perkembangan suatu aturan tertentu. 2) Pengkualifikasian

Setelah data dikumpulkan, kemudian dilakukan pengelompokan ber-dasarkan tujuan penelitian, yang terdapat dalam Term of Reference, dengan fokus pencarian data perundang-undangan dan produk hukum lainnya terhadap

isi6-1.indd 77 12/13/2010 10:00:47 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

78

Kecakapan dan Kewenangan

beberapa hal terkait dengan kecakapan dan kewenangan terkait batasan umur yang memiliki implikasi secara komersial dalam hukum keperdataan.

3) Identifikasi Masalah

Setelah didapatkan beberapa pengelompokan maka dicari beberapa masalah yang dianggap menimbulkan disharmoni perundang-undangan.

2. Pengelompokan Masalah

Dari berbagai peraturan perundang-undangan dan produk hukum lain yang terkait dengan pengaturan kecakapan dan kewenangan bertindak, terkait dengan batasan umur, kami dapat menyimpulkan beberapa permasalahan sebagai berikut:

a. ada beberapa istilah terkait dengan perumusan batasan umur yang berbeda-beda dalam peraturan perundang-undangan;

b. ada perbedaan batasan umur, baik antar undang-undang maupun peraturan perundang-undangan di bawahnya;

c. adanya implikasi yang berbeda-beda terhadap konsep batasan umur dalam kecakapan dan kewenangan di dalam putusan pengadilan.

3. Teknik Penelitian

Dalam hal ini, dilakukan pengutipan langsung dari BW berbahasa Belanda untuk menunjukkan yang aslinya dan kemudian memberi perbandingan terjemahan dari beberapa Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu

1) Prof. R. Soebekti, S.H., 2) Dr. Andi Hamzah, S.H., dan 3) Engelbrecht.

Kemudian dilakukan analisis dengan pendekatan 1) komparatif guna mem-bandingkan antarperaturan dan terjemahan dari masing-masing BW; setelah berbagai macam penggunaan istilah dan konsep terkait dengan tema dipetakan, digunakan pendekatan 2) deskriptif untuk menggambarkan berbagai istilah yang digunakan dalam masing-masing peraturan berikut landasan konsepsionalnya; dan selanjutnya 3) preskriptif, yaitu masalah-masalah disharmoni peristilahan yang diperoleh dicarikan pemecahan permasalahannya guna mendapatkan rekomendasi bagi

restatement dalam hukum perdata, khususnya terkait dengan bidang perkawinan,

perikatan, ketenagakerjaan serta hukum perusahaan.

isi6-1.indd 78 12/13/2010 10:00:47 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

78

Kecakapan dan Kewenangan Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

79

4. Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat penelitian ini diarahkan pada kajian hukum perdata yang memiliki dampak komersil, sebagaimana telah dicantumkan dalam Term of Refference (TOR) dan Inception Report maka peneliti membagi klasifikasi peraturan yang ditemukan hanya dalam lingkup permasalahan hukum yang terkait dengan kecakapan, antara lain sebagai berikut:

a. masalah perkawinan, b. masalah perikatan, c. masalah tenaga kerja, dan d. masalah penghadap ke notaris.

Ruang lingkup pembahasan yang terkait dengan kecakapan dan kewenangan bertindak terkait dengan batasan umur adalah mengenai

a. masalah peristilahan,

b. perbedaan batasan umur, dan

c. akibat adanya perbedaan batasan umur.

Adanya makna istilah kewenangan dalam hukum publik, hanya dibatasi pada hal-hal yang akan memiliki implikasi komersial sebagai perbandingan, misalnya syarat umur bagi pemegang Surat Izin Mengemudi (SIM), batasan umur untuk Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan batasan umur yang terkait dengan pengertian anak yang ada di undang-undang kewarganegaraan.

5. Definisi Kecakapan, Kewenangan, Belum Dewasa, dan Anak

Terhadap ”Kecakapan dan Kewenangan Bertindak Berdasarkan Batasan Umur”, terdapat dua hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu maknanya secara operasional, yaitu ”Kecakapan” dan ”Kewenangan”, mengingat pengertian keduanya dalam hukum berbeda. Namun peneliti mendapatkan kendala bahwa di dalam peraturan perundang -undangan tidak terdapat pengertian tentang kecakapan dan kewenangan secara eksplisit. Pengertian secara tersirat mengenai kecakapan diperoleh dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) berdasarkan interpretasi atas bunyi dalam beberapa pasal BW. Adapun pengertian-pengertian yang didapatkan dari peraturan perundang-undangan tersebut adalah sebagai berikut.

isi6-1.indd 79 12/13/2010 10:00:48 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

80

Kecakapan dan Kewenangan

a. Istilah Kewenangan

Di dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sebagai hasil terjemahan dari Burgeljk Wetboek (BW) terdapat beberapa perbedaan antara penggunaan kata ”bevoeg” untuk menunjukkan suatu ”wewenang atau hak”. Salah satunya adalah Pasal 945 alinea 2 BW yang sumber aslinya menyebutkan

”....Hij is echter bevoeg om bij een onderhandsch stuk te beschikken op den voet en de wijze als hierboven bij artikel935 is omschreven. (AB. 16, 18; Bw. 936, 938, 953; S. 10-296* bl. 183; Civ. 999v)”

Pasal tersebut kemudian diterjemahkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 945 BW menurut beberapa ahli berikut.

1. Prof. R. Soebekti, S.H.

”...sementara berhaklah ia dengan surat di bawah tangan mengambil sesuatu ketetapan atas dasar dan cara seperti dalam Pasal 935.”

2. Dr. Andi Hamzah, S.H.

”... Namun ia berwenang untuk membuat penetapan dengan surat di bawah

tangan atas dasar dan cara seperti yang diuraikan dalam Pasal 935.”

3. Engelbrecht

”... Namun, dia berwenang untuk membuat penetapan dengan surat di bawah tangan atas dasar dan dengan cara seperti yang diuraikan dalam Pasal 935.”

Pada Pasal 365 alinea 5 BW, kata ”bevoeg” digunakan secara tidak konsisten melalui terjemahan, pasal aslinya berbunyi

”Het bestuur is ook bevoegd desverkiezende het beheer over het vermogen van

beepald aangeduide minderjarigen”

Dr. Andi Hamzah, S.H. menerjemahkannya sebagai ”... Pengurus berhak pula atas kehendaknya menyerahkan pengurusan harta kekayaan anak-anak belum dewasa.”

Sementara itu, Prof. R. Soebekti, S.H. menerjemahkannya sebagai ”... Pengurus berhak pula sesuka hati, asalkan dengan surat, menyerahkan pengurus harta kekayaan anak -anak belum dewasa yang dengan tegas ditunjukkannya”. Demikian juga yang telah diterjemahkan oleh Engelbrecht menggunakan kata ”hak”.

Dalam hal ini Prof. R. Soebekti lebih konsisten mempergunakan istilah ”hak”. Dengan demikian, pengertiannya sama dengan pengertian ”bevoeg”.

isi6-1.indd 80 12/13/2010 10:00:48 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

80

Kecakapan dan Kewenangan Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

81

Dari penelusuran istilah ”wewenang” dalam bertindak terkait batasan umur dalam BW, pada umumnya memberikan persyaratan faktor-faktor tertentu, seperti penetapan Presiden (Pasal 29 BW), izin (Pasal 31 BW), surat kuasa (365 alinea 4 BW), surat di bawah tangan (945 BW), termasuk batasan umur (897 BW).

Dengan adanya penafsiran kata ”bevoeg” yang mengacu pada dua kata ”wewenang” dan ”hak”, hal ini mempunyai konsekuensi yuridis yang seharusnya berbeda.

b. Istilah Cakap

Dalam Pasal 1330 BW dinyatakan bahwa ”Onbekwaam om overeenkomsten te

treffen ziijn:

a. minderjarigen;

b. die onder curatele gesteld zijn;

c. getrouwde vrouwen, in de gevelien bij de wet voorzien.

Secara konsepsional, cakap (bekwaam) terkait kepada keadaan seseorang berdasarkan unsur fisiologis dan psikologis sehingga makna kecakapan terkait dengan umur, melekat pada mereka yang telah tidak lagi ”minderjarig”, yaitu setelah dianggap memasuki fase kedewasaan akhir atau disebut adulthood, yaitu 21 tahun (Pasal 330 BW). Hal ini terkait dengan kapasitas mental dan akal sehat seseorang untuk mengetahui akibat-akibat perbuatannya.

c. Perbedaan Istilah Belum Dewasa dan Anak

Pasal 904 BW menyatakan ”Een minderjarige, ofschoon denouderdom van achttien

jaren bereikt hebbende, kan bij uitersten wil tenvoordeele van zijnen voogd geene beschikking maken...”

Kata ”minderjarige” di dalam terjemahan BW dimaknai dengan beberapa istilah seperti ”belum dewasa”, ”di bawah umur”, maupun ”anak di bawah umur”.

Di samping ketentuan di atas, ada pula kondisi yang disebut sebagai pendewasaan (handlichting), yaitu suatu lembaga hukum di mana orang yang belum dewasa tetapi telah mencapai syarat-syarat tertentu dalam hal tertentu dan sampai batas -batas tertentu menurut ketentuan undang-undang dapat memiliki kedudukan hukum yang sama dengan orang dewasa. Selanjutnya, pendewasaan itu sendiri dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu

1. Pendewasaan Penuh

Diatur dalam Pasal 421 KUH Perdata (Venia Aetatis), yaitu seseorang yang telah

isi6-1.indd 81 12/13/2010 10:00:48 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

82

Kecakapan dan Kewenangan

berusia 20 tahun dapat mengajukan permohonan pendewasaan secara penuh dan permohonan tersebut diajukan kepada presiden.

2. Pendewasaan Terbatas

Diatur dalam Pasal 426–43 KUH Perdata, yaitu seseorang dapat mengajukan pendewasaan secara terbatas apabila usianya telah mencapai 18 tahun, dengan syarat orang tua/walinya tidak keberatan, dan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang berwenang, dan dapat ditarik kembali sewaktu-waktu.

Namun dalam praktiknya saat ini, pendewasaan jarang dilakukan seseorang, mengingat banyak peraturan perundang-undangan yang memungkinkan seseorang mendapatkan wewenang untuk bertindak. Contohnya seorang pria yang belum berusia 21 tahun sudah dibolehkan kawin dengan pihak wanita yang masih berusia 16 tahun karena adanya pengaturan Pasal 7 ayat (1) jo Pasal 6 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang membolehkan pasangan tersebut melangsungkan perkawinan, sepanjang ada izin kedua orang tua.

B. Masalah Penafsiran Atas Istilah-Istilah dalam