B. Hasil Penelitian Berdasarkan Literatur
2) Syarat-Syarat Kecakapan dalam Hukum Perdata
J. Satrio
J. Satrio mengaitkan kecakapan dengan unsur kedewasaan, dan hal itu secara tidak langsung ada kaitannya dengan unsur umur. Akan tetapi, dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam BW, antara lain Pasal 307 jo Pasal 308, Pasal 383 BW, maupun Pasal 47 dan Pasal 50 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 1330 dan Pasal 1446 BW, orang bisa menyimpulkan bahwa pada asasnya yang dapat melakukan tindakan hukum secara sah dengan akibat hukum yang sempurna adalah mereka yang telah dewasa.94
Mengingat kecakapan selalu terkait dengan kedewasaan, kedewasaan seseorang bila dilihat dari berbagai ketentuan hukum yang berlaku sangat beragam. Umumnya, ketentuan yang berlaku atas kedewasaan seseorang didasarkan pada status perkawinan yang pernah dilakukan dan umur. Seseorang dianggap dewasa selain karena ia sudah menikah juga didasarkan pada umur, yang menurut ketentuan hukum sudah dewasa. Kedewasaan berdasarkan umur ini merupakan salah satu parameter yang bersangkutan telah dianggap cakap dan berhak atas apa yang diatur oleh ketentuan hukum. Dalam hukum, kedewasaan berdasarkan umur merupakan salah satu unsur terpenting bagi seorang subjek hukum. Meskipun terdapat upaya dispensasi atau toleransi atas besaran umur yang disahkan oleh pengadilan, subjek hukum dapat dikatakan belum cakap hukum apabila yang bersangkutan belum memiliki kecukupan umur. Misalnya dalam hukum perdata kita, salah satu syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 BW adalah adanya pihak-pihaknya yang cakap (berkemampuan) untuk melakukan perbuatan hukum,
93 Bertrand A. Hasibuan, “Problematika Kedewasaan Bertindak di dalam Hukum (Studi pada Praktik Notaris di Kota Medan)”, Tesis, Universitas Sumatera Utara, 2006, hlm. 36.
94 J. Satrio, op.cit.
isi5-1 fot107.indd 46 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
46
Laporan Penelitian Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur47
yang salah satu parameternya adalah kecukupan umur. Dengan umur yang belum mencukupi seseorang tidak dapat melakukan perbuatan hukum perdata dengan sendirinya (kecuali sudah menikah atau disahkan pengadilan). Kategori orang demikian adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang berada dalam pengampuan. Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) Jakarta berdasarkan keputusan tanggal 16 Oktober 1908 menentukan kriteria cakap sebagai berikut:
1. umur 15 tahun,
2. masak untuk hidup sebagai istri (‘geslachts rijp-heid’), dan 3. cakap untuk melakukan perbuatan-perbuatan sendiri. Kriteria cakap menurut Hukum Adat95 adalah
1. dapat bekerja sendiri (mandiri),
2. cakap untuk melakukan apa yang disyaratkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bertanggung jawab, dan
3. dapat mengurus harta kekayaan sendiri.
Soedjono Dirjosisworo
96Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan staatblaad No. 54 yang berbunyi sebagai berikut:
”Oleh karena terhadap orang-orang Indonesia berlaku Hukum Adat maka timbul keragu-raguan sampai umur berapa seseorang masih di bawah umur. Guna menghilangkan keragu-raguan tersebut oleh pemerintah diadakan staatblad 1931–54 yang isinya menyatakan antara lain, istilah anak di bawah umur terhadap Bangsa Indonesia ialah 1. mereka yang belum berumur 21 tahun dan sebelumnya belum pernah kawin; 2. mereka yang telah kawin sebelum mencapai umur 21 tahun dan kemudian bercerai
dan tidak kembali lagi di bawah umur;
3. yang dimaksud dengan perkawinan bukanlah perkawinan anak-anak.
Dengan demikian, barang siapa yang memenuhi persyaratan tersebut di atas disebut anak di bawah umur (minderjarig) atau secara mudahnya disebut anak-anak.”
Menurut Pasal 330 BW, seorang telah dewasa apabila telah berumur 21 tahun, dan telah kawin sebelum mencapai umur tersebut. Selain itu, di dalam Pasal 1330 BW diatur juga yang tak cakap untuk membuat persetujuan adalah
95 Soerojo Wignjodipoero, op.cit. 96 Soerojo Wignjodipoero, op.cit.
isi5-1 fot107.indd 47 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
48
Laporan Penelitian1. anak yang belum dewasa;
2. orang yang ditaruh di bawah pengampuan;
3. perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-undang dan pada umumnya semua orang yang oleh undang-undang dilarang untuk membuat persetujuan tertentu.
Pasal ini secara a-contrario ditafsirkan menjadi persyaratan dari kecakapan. Namun demikian, khusus mengenai kedudukan seorang istri, sejak keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 tahun 1963, tanggal 5 September 1963 yang mencabut beberapa pasal BW di antaranya Pasal 108 dan 110 BW maka status sebagai istri tidak lagi mempunyai pengaruh terhadap kecakapan bertindak yang dilakukannya. Dengan kata lain, sejak dicabutnya pasal 108 dan 110 BW oleh Surat Edaran Mahkamah Agung di atas maka istri adalah cakap bertindak dalam hukum.
Di samping undang-undang juga telah menentukan bahwa walaupun tidak memenuhi syarat-syarat di atas, seorang dianggap cakap dan berwenang melakukan perbuatan hukum tertentu. Kecakapan berbuat (handelings bekwaamheid) dan kewenangan bertindak menurut hukum ini (recht bevoegdheid) adalah dibenarkan dalam ketentuan undang-undang itu sendiri, sebagai berikut.
1. Seorang anak yang belum dewasa (belum mencapai umur 21 tahun) dapat melakukan seluruh perbuatan hukum apabila telah berumur 20 tahun dan telah mendapat surat pernyataan Dewasa (venia aetatis) yang diberikan oleh Presiden, setelah mendengar nasihat Mahkamah Agung (Pasal 419 dan 420 KUH Perdata).
2. Anak yang berumur 18 tahun dapat melakukan perbuatan hukum tertentu setelah mendapat Surat Pernyataan Dewasa dari Pengadilan (Pasal 426 BW).
3. Seseorang yang belum berumur 18 tahun dapat membuat surat wasiat (Pasal 897 BW).
4. Orang laki-laki yang telah mencapai umur 18 tahun dan perempuan yang telah berumur 15 tahun dapat melakukan perkawinan (Pasal 29 BW).
5. Pengakuan anak dapat dilakukan oleh orang yang telah berumur 19 tahun (Pasal 282 BW).
6. Anak yang telah berumur 15 tahun telah dapat menjadi saksi (Pasal 1912 BW). 7. Seseorang yang ditaruh di bawah pengampuan karena boros dapat
a. membuat surat wasiat (Pasal 446 BW); b. melakukan perkawinan (Pasal 452 BW).
isi5-1 fot107.indd 48 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
48
Laporan Penelitian Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur49
8. Istri cakap bertindak dalam hukum dalam hal:
a. dituntut dalam perkara pidana, menuntut perceraian perkawinan, pemisahan meja dan ranjang serta menuntut pemisahan harta kekayaan (Pasal 111 BW); b. membuat surat wasiat (Pasal 118 BW).
Ahmad Azhar Basyir
97Untuk menentukan kapan seseorang dipandang matang dipandang rasyid, dapat diadakan penelitian terhadap orang-orang antara umur 15 dan 25 tahun, kemudian diambil angka rata-rata. Mungkin akan diketemukan angka umur 19, 20 atau 21 tahun, yang kemudian menjadi pedoman untuk menentukan batas umur rasyid tersebut.
Romualdo Manurung
98Dalam tesisnya, Romualdo menulis ”... Adapun kriteria seseorang yang dianggap cakap menurut hukum apabila:
1. seseorang dianggap telah dewasa, artinya sudah berumur 21 tahun atau telah menikah walaupun belum berumur 21 tahun;
2. tidak berada dalam pengampuan; 3. tidak mabuk.
Hal yang menyebabkan seseorang dianggap tidak cakap untuk bertindak dalam BW99
Pasal 1329 dinyatakan bahwa ”Tiap orang berwenang untuk membuat perikatan, kecuali jika ia dinyatakan tidak cakap untuk hal itu”. Selanjutnya, dalam Pasal 1330 BW ditegaskan kategori yang tidak cakap adalah sebagai berikut:
1. anak yang belum dewasa;
2. orang yang ditaruh di bawah pengampuan;
3. perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-undang dan pada umumnya semua orang yang oleh undang-undang dilarang untuk membuat persetujuan tertentu.
97 R. Subekti, R. Tjitrosudibio, loc.cit., Pasal 1329, 1330, 1331.
98 Romualdo Manurung, Pelaksanaan Ketentuan Pasal 87 dan Pasal 88 Undang-Undang Nomor 22
Ta-hun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah, Tesis, Yogyakarta:
Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, 2004, hlm. 29. 99 Djauharah Bawazir, op.cit.
isi5-1 fot107.indd 49 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
50
Laporan PenelitianImplikasi dari Pasal 1330 tersebut kemudian dinyatakan dalam Pasal 1331, yaitu ”Oleh karena itu, orang-orang yang dalam pasal yang lalu dinyatakan tidak cakap untuk membuat persetujuan, boleh menuntut pembatalan perikatan yang telah mereka buat dalam hal kuasa untuk itu tidak dikecualikan oleh undang-undang. Orang-orang yang cakap untuk mengikatkan diri, sama sekali tidak dapat mengemukakan sangkalan atas dasar ketidakcakapan seorang anak-anak yang belum dewasa, orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan dan perempuan-perempuan yang bersuami”.
Hukum Islam
Dalam Hukum Islam juga dikenal istilah ”baligh”. Baligh merupakan istilah dalam Hukum Islam yang menunjukkan seseorang telah mencapai kedewasaan. Baligh diambil dari bahasa Arab yang secara bahasa memiliki arti ”sampai”, maksudnya ”telah sampainya umur seseorang pada tahap kedewasaan”.100 Prinsipnya, seorang laki- laki yang telah baligh jika sudah pernah mimpi basah (mengeluarkan sperma). Adapun seorang perempuan disebut baligh jika sudah menstruasi. Nyatanya cukup sulit memastikan pada umur berapa seorang lelaki bermimpi basah (rata-rata umur 15 tahun) atau seorang perempuan mengalami menstruasi.101 Untuk mengatasi kesulitan itu, ulama Hanafiah kemudian memberikan batasan umur untuk kepastian hukum, karena ini terkait kecakapan hukum.102 Kedewasaan seseorang memang menjadi tolak ukur untuk menentukan apakah ia cakap secara hukum atau tidak. Dalam hukum Islam, kecakapan hukum merupakan kepatutan seseorang untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan (ahliyat al-wujub), serta kepatutan seseorang untuk dinilai perbuatannya sehingga berakibat hukum (ahliyat al-ada’).103 Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ukuran ketidakcakapan dalam Hukum Islam adalah kebelum-balighan seseorang berdasarkan ukuran tersebut di atas.
100 Belum ada sumbernya ya 101 Ningrum Puji Lestari, op.cit. 102 A. Djazuli, loc.cit.
103 Ibid.
isi5-1 fot107.indd 50 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
50
Laporan Penelitian Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur51
Munir Fuady
104Salah satu golongan orang yang dianggap tidak cakap untuk membuat kontrak adalah apabila orang tersebut ditaruh di bawah pengampuan (curatele) vide Pasal 330 Angka 2 BW tentang siapa saja yang dimaksud orang yang di bawah pengampuan diterangkan dengan jelas oleh Pasal 433 BW105, yaitu terdapat 4 kriteria antara lain: 1. orang yang dungu (onnozeilheid),
2. orang gila (tidak waras pikiran), 3. orang yang mata gelap (razenij), dan 4. orang yang boros.
Abdul Muchlis
106Abdul Muchlis menulis dalam tesisnya ”... menurut ketentuan hukum yang berlaku, yaitu Pasal 1329 BW bahwa semua orang cakap membuat perjanjian kecuali mereka yang tergolong sebagai berikut:
1. orang yang belum dewasa,
2. hukum perdata memberi batasan dewasa, yaitu umur 21 tahun atau sudah menikah;
3. Hukum Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974) memberi batasan dewasa, yaitu umur 18 tahun atau sudah menikah;
4. Hukum Perlindungan Anak (Undang-Undang No. 23 Tahun 2002) memberikan batasan dewasa pada umur 18 tahun;
5. mereka yang ditaruh di bawah pengampuan.
104 Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999, hlm. 65.
105 Pasal 433 BW: Setiap orang dewasa, yang selalu berada dalam keadaan dungu, gila atau mata gelap, harus ditempatkan di bawah pengampuan, sekalipun ia kadang-kadang cakap menggunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosan. 106 Abdul Muchlis, Implementasi “Pengawasan Pemerintah Daerah terhadap Eksportir Udang Beku pada
Perusahaan Cold Storage di Kota Tarakan”, Tesis, Program Pascasarjana, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2004, hlm. 17–18.
isi5-1 fot107.indd 51 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
52
Laporan PenelitianSetiawan (1987: 61)
Seseorang adalah tidak cakap apabila ia pada umumnya berdasarkan ketentuan undang-undang tidak mampu membuat sendiri perjanjian -perjanjian dengan akibat-akibat hukum yang sempurna. Dengan pengertian ketidakcakapan yang diuraikan di atas, kecakapan seseorang dalam membuat perjanjian dapat diartikan sebagai kemampuan orang tersebut dalam membuat dan melaksanakan perjanjian sendiri dengan segala akibat hukumnya dengan batasan umur lebih dari 18 tahun yang dianggap sudah dewasa.
Romualdo Manurung
107Secara a- contrario, yang menyebabkan seseorang dianggap tidak cakap untuk bertindak dalam hukum berdasarkan tulisan Romualdo adalah
1. belum dewasa,
2. berada dalam pengampuan, 3. boros, dan
4. dalam keadaan mabuk.
107 Romualdo Manurung, op.cit.
isi5-1 fot107.indd 52 12/13/2010 9:23:24 PM
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur
53
b. Tentang Kewenangan