• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala dalam Pengumpulan Data

A. Hasil Penelusuran Produk Pengadilan

3. Kendala dalam Pengumpulan Data

Selama pengumpulan produk pengadilan, terdapat beberapa kendala yang kami hadapi sehingga hasil pengumpulan produk pengadilan kurang memuaskan. Kendala-kendala tersebut di antaranya adalah tidak tersedianya database produk pengadilan yang sistematis.

Dalam upaya mengumpulkan produk pengadilan yang relevan dengan data penelitian, kami (melalui petugas data Mahkamah Agung RI) mencarinya secara manual dengan membaca cepat produk pengadilan yang ada. Dengan demikian, meskipun telah dilakukan penelusuran terhadap semua produk pengadilan yang tersimpan di Mahkamah Agung, hasil yang kami peroleh tidak maksimal, mengingat kami hanya memperoleh beberapa produk pengadilan yang dapat digunakan dalam penelitian.

Kendala-kendala yang kami temui tersebut adalah sebagai berikut.

a. Penyusunan Produk Pengadilan dalam ANRI berdasarkan Nomor

Produk pengadilan yang berumur lebih dari 15 (lima belas) tahun kami cari melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pada ANRI, pencarian produk pengadilan tidak dapat dilakukan berdasarkan tema penelitian. Berdasarkan informasi dari petugas Arsip ANRI, penyusunan produk pengadilan dapat dicari hanya dengan menggunakan nomor produk pengadilan. Dengan demikian, kami (yang dibantu petugas dari Mahkamah Agung RI) harus mencari nomor produk pengadilan terlebih dahulu untuk dapat memperoleh produk pengadilan yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian.

isi7-1.indd 114 12/13/2010 9:29:07 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

114

Kecakapan dan Kewenangan Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

115

b. Kurangnya Keterbukaan Informasi dari Lembaga Peradilan

Di pengadilan negeri yang kami kunjungi, sulit memperoleh produk pengadilan. Penelusuran produk pengadilan dilakukan dengan menyerahkan kategori produk pengadilan yang kami butuhkan, lalu petugas pengadilan mencarikannya pada arsip pengadilan. Dari hasil pencarian tersebut, kami tidak memperoleh produk pengadilan berbentuk putusan yang terkait dengan materi penelitian. Namun demikian, kami memperoleh penetapan pengadilan (yang berkekuatan hukum tetap) yang terkait dengan materi penelitian.

4. Ruang Lingkup Perolehan Data

Dalam upaya penelusuran produk pengadilan pada lembaga yudisial maupun (quasi) yudisial yang kami datangi, lembaga-lembaga tersebut tidak seluruhnya dapat memberikan data yang kami butuhkan. Kami tidak memperoleh produk pengadilan dari Mahkamah Konstitusi RI, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, maupun Badan Arbitrase Nasional Indonesia, terkait dengan materi penelitian. Dengan demikian, data yang kami peroleh terbatas pada lembaga yudisial dalam lingkup peradilan umum, seperti Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung. Untuk itu, kami hanya melakukan analisis terhadap produk pengadilan yang termasuk dalam lingkup perdata.

5. Hasil Pengumpulan Data

Data yang relevan dengan materi penelitian yang berhasil kami kumpulkan dari sumber-sumber data yang kami telusuri seluruhnya berjumlah 47 (empat puluh tujuh) produk pengadilan, terdiri atas 19 (sembilan belas) putusan dan 28 (dua puluh delapan) penetapan. Selain itu, kami juga menemukan beberapa produk pengadilan lain. Namun, produk pengadilan tersebut tidak menghasilkan suatu jawaban atau pendapat yang berhubungan dengan substansi penelitian sehingga tidak kami sertakan dalam laporan penelitian ini.

Mengacu pada kerangka acuan (Term of Reference) penelitian, penelusuran produk pengadilan dilakukan pada periode pembacaan tahun 1900 sampai dengan Juni 2009. Namun demikian, guna menyesuaikan dengan kondisi terkini, dalam penelitian ini kami juga menggunakan data produk pengadilan yang dikeluarkan sampai dengan April 2010.

isi7-1.indd 115 12/13/2010 9:29:07 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

116

Kecakapan dan Kewenangan

Produk pengadilan yang kami kumpulkan merupakan produk yang sudah berkekuatan hukum tetap sehingga kami dapat melakukan kajian yang komprehensif terhadap produk pengadilan yang kami peroleh tersebut.

Produk pengadilan pertama yang berhasil kami peroleh adalah yang diputuskan pada tahun 1952, dan yang terakhir diputuskan pada tahun 2010. Dari produk pengadilan yang kami peroleh, tidak terdapat sengketa maupun permohonan yang secara langsung menjadikan kecakapan dan kewenangan bertindak berdasarkan batasan umur sebagai pokok gugatan maupun permohonan yang kemudian tercermin dalam amar putusan maupun penetapannya. Dengan demikian, kami menggunakan dasar pertimbangan hakim dalam produk pengadilan sebagai sandaran dalam melakukan analisis terhadap produk pengadilan yang berhasil kami himpun.

Dari hasil penelusuran produk pengadilan yang kami lakukan, tidak satu pun majelis hakim yang memeriksa perkara, secara tegas memisahkan antara kecakapan maupun kewenangan bertindak berdasarkan batasan umur. Terkait dengan tema penelitian, kami kemudian mengkaji produk pengadilan tersebut dengan bantuan literatur dan peraturan untuk dapat menguraikan kecakapan dan kewenangan bertindak berdasarkan batasan umur.

Dalam 19 (sembilan belas) putusan pengadilan yang kami peroleh, lebih dari setengahnya terdapat persamaan putusan hakim antara Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, maupun Mahkamah Agung. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar hakim Pengadilan Negeri telah sesuai dalam menerapkan hukum sehingga dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung. Di samping itu, hal ini juga menunjukkan adanya kesamaan pandangan antara hakim Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, maupun Mahkamah Agung dalam memutus perkara sehingga menunjukkan ketepatan hakim Pengadilan Negeri dalam memutus perkara. Ini penting karena dengan adanya kepercayaan masyarakat bahwa hakim Pengadilan Negeri memiliki kemampuan untuk memutuskan perkara dengan tepat maka upaya banding maupun kasasi yang diajukan akan semakin berkurang. Dengan demikian, tidak semua perkara harus banding maupun kasasi sehingga penumpukan perkara dapat diatasi.

Statistik perbandingan putusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung menunjukkan bahwa 79% putusan Pengadilan Negeri dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi pada tingkat banding, yang juga dikuatkan

isi7-1.indd 116 12/13/2010 9:29:07 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

116

Kecakapan dan Kewenangan Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

117

oleh Mahkamah Agung pada tingkat kasasi. Hanya terdapat 21% putusan yang menunjukkan perbedaan putusan antara Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung (Gambar 1).

Perbandingan Putusan Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkama Agung

PN=PT=MA 79% PN#PT#MA

21%

Gambar 1 Perbandingan Putusan Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan

Mahkamah Agung

Sementara itu, penggunaan istilah untuk menyatakan kondisi kecakapan berdasarkan batasan umur menunjukkan variasi, yaitu penggunaan istilah di bawah umur (atau belum cukup umur), penggunaan istilah belum dewasa, maupun penggunaan istilah anak. Sebanyak 57% produk pengadilan menggunakan istilah di bawah umur (atau belum cukup umur), 32% menggunakan istilah belum dewasa, 2% menggunakan istilah anak, sedangkan 9% menggunakan lebih dari satu istilah, yaitu istilah di bawah umur (atau belum cukup umur) dan belum dewasa (Gambar 2).

isi7-1.indd 117 12/13/2010 9:29:08 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

118

Kecakapan dan Kewenangan

Perbandingan Penggunaan Istilah pada Produk Pengadilan

> 1 Istilah 9% Anak 2% Belum Dewasa 32% Di Bawah Umur (Blm Ckp Umur) 57%

Gambar 2 Perbandingan Penggunaan Istilah pada Produk Pengadilan

Terkait dengan kecakapan dan kewenangan bertindak berdasarkan batasan umur, di mana salah satu faktor yang mempengaruhi kecakapan adalah kedewasaan maka akan ditemui dua pengaturan hukum yang terkait, yaitu ketentuan tentang batasan di bawah umur, dalam Pasal 330 BW, dan batasan di bawah kekuasaan orang tua atau perwalian, dalam Pasal 47 dan 50 Undang Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dari kedua ketentuan tersebut dapat ditafsirkan secara a-contrario bahwa seorang manusia yang telah melewati batas tersebut tidak lagi berada di bawah umur ataupun berada di bawah kekuasaan orang tua (maupun perwalian). Dengan demikian, terhadapnya telah memiliki kemampuan penuh untuk bertanggung jawab sehingga menjadi cakap untuk melakukan perbuatan hukum.

Merujuk pada kedua pengaturan tersebut, tahun 1974, sebagai tahun mulai berlakunya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dapat dijadikan parameter untuk mengukur perubahan pandangan hakim mengenai batasan umur yang membawa implikasi pada kecakapan.

Dari produk pengadilan yang kami telusuri, sebagian besar diputuskan setelah tahun 1974. Namun demikian, tidak serta merta terjadi pergeseran pandangan hakim, mengingat beberapa putusan maupun penetapan yang dibuat setelah tahun 1974 masih menunjukkan penggunaan Pasal 330 BW oleh hakim dalam menentukan batasan di bawah umur.

isi7-1.indd 118 12/13/2010 9:29:08 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

118

Kecakapan dan Kewenangan Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

119

Statistik perbandingan produk pengadilan menunjukkan 4% diputuskan dan ditetapkan sebelum tahun 1974 dan 96% diputuskan dan ditetapkan sesudah tahun 1974 (Gambar 3).

Perbandingan Putusan dan Penetapan Pengadilan Berdasarkan Dasar Hukum yang Digunakan

KUH Perdata 11% UU No 1/1974 13% N/A 76%

Gambar 3 Perbandingan Putusan dan Penetapan Pengadilan Berdasarkan Tahun

Sehubungan dengan berlakunya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan BW secara bersamaan, di mana tidak ditemukan ketentuan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang secara tegas mengesampingkan Pasal 330 BW terkait dengan batasan di bawah umur, ternyata berdampak pada dasar hukum pertimbangan hakim dalam putusan maupun penetapannya. Dari produk pengadilan yang kami telusuri, sebagian besar hakim tidak menguraikan dasar hukum pertimbangannya dalam menentukan seseorang berada di bawah umur atau sudah dewasa. Sementara itu, pada produk yang menguraikan dasar hukum pertimbangannya dalam menentukan seseorang belum dewasa atau sudah dewasa pun terdapat perbedaan antarmajelis hakim. Ada yang menggunakan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ada pula yang menggunakan BW.

Statistik perbandingan penggunaan dasar hukum dalam produk pengadilan menunjukkan 13% diputuskan dan ditetapkan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, 11% diputuskan dan ditetapkan berdasarkan BW, serta 76% tidak mencantumkan dasar hukum yang digunakan dalam pertimbangan hakim terkait dengan materi penelitian.

isi7-1.indd 119 12/13/2010 9:29:08 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

120

Kecakapan dan Kewenangan

Sementara itu, dari produk pengadilan yang kami telusuri, menunjukkan bahwa sebagian besar hakim hanya menyatakan bahwa seseorang berada ”di bawah umur”, tanpa menguraikan lebih lanjut batasan umur yang digunakan oleh hakim dalam mengklasifikasikan seseorang berada ”di bawah umur”. Di antara sebagian kecil yang menguraikan batasan umur dalam menentukan seseorang berada ”di bawah umur” pun masih terbagi lagi, antara majelis hakim yang menggunakan batasan umur 18 tahun dan majelis hakim yang menggunakan batasan umur 21 Tahun. Dari pertimbangan hakim yang menentukan batasan umur 18 tahun ataupun 21 tahun tersebut, tidak seluruhnya menyebutkan dengan tegas bahwa 18 tahun atau 21 tahun sebagai batasan umur untuk menentukan di bawah umur atau dewasa. Namun, dari data yang kami peroleh pada putusan, seperti umur para pihak, terlihat bahwa batasan umur yang digunakan oleh hakim dalam menentukan ”di bawah umur” adalah 18 tahun maupun 21 tahun.

Statistik perbandingan produk pengadilan menunjukkan 13% menggunakan batasan umur 18 tahun dalam menentukan seseorang berada ”di bawah umur” atau ”dewasa”, 30% menggunakan batasan umur 21 tahun dalam menentukan seseorang berada ”di bawah umur” atau ”dewasa”, sedangkan sisanya, 57%, tidak menguraikan batasan umur yang digunakan, hanya menyebutkan berada ”di bawah umur” atau ”sudah dewasa” (Gambar 4).

Perbandingan Putusan dan Penetapan Pengadilan Berdasarkan Batasan Umur dalam Menentukan

“di bawah umur” atau “dewasa”

18 Tahun 13% 21 Tahun 30% N/A 57%

Gambar 4 Perbandingan Putusan dan Penetapan Pengadilan Berdasarkan Batasan Umur dalam

Menentukan ”Di Bawah Umur” atau ”Dewasa”

isi7-1.indd 120 12/13/2010 9:29:08 PM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Penjelasan Hukum tentang Batasan Umur

121

B. Analisis Produk Pengadilan Terkait Kecakapan