Tren Konsentrasi BOD di Sungai Bedog
D.1 Udara Ambient
D.1.1. Hasil Pengukuran Kualitas Udara Ambient
Hasil pemantauan kualitas udara yang dilaksanakan pada tahun 2013 di 6 (enam) titik pemantauan (tabel SD-16) untuk masing-masing parameter adalah sebagai berikut :
a. Sulfur Dioksida (SO2)
Konsentrasi Sulfur Dioksida (SO2) di udara dapat menyebabkan hujan asam. Hujan asam terbentuk dari senyawa SO2yang bereaksi dengan Oksigen
akan bereaksi dengan uap air membentuk asam sulfit (H2SO3). Asam sulfit inilah jika hujan turun akan ikut terbawa air yang menyebabkan hujan asam.
Hujan asam sangat merugikan karena dapat merusak tanaman maupun kesuburan tanah, juga benda-benda yang terbuat dari logam akan mengalami peristiwa perkaratan (oksidasi). Adapun hasil pengukuran SO2 di udara dapat dilihat pada gambar 2.48.
Gambar 2.48 Konsentrasi SO2
Berdasarkan pengukuran SO2 yang terlihat pada grafik tersebut diatas, besarnya konsentrasi di 6 (enam) lokasi titik pemantauan masih di bawah baku mutu udara ambient. Namun konsentrasi SO2 di udara relatif rendah tidak dapat diabaikan begitu saja, karena proses akumulasi akan tetap terjadi untuk emisi yang terus menerus. Kadar SO2 tertinggi mencapai 26,90 µg/Nm3
di titik pemantauan perempatan Madukismo, Kasihan, sedangkan yang terendah berada di titik pemantauan perempatan klodran, jalan Bantul dengan konsentrasi 20,40 µg/Nm3. Tingginya konsentrasi SO2 tersebut diindikasikan adanya kepadatan kendaraan bermotor, industri yang menggunakan bahan bakar fosil.
b. Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwana, tidak berbau dan tidak berasa yang merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari senyawa karbon. Gas tersebut terdiri dari satu atom karbon yang mempunyai
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 900,00 1.000,00 Perempatan
Jejeran PertigaanPasar Piyungan
Perempatan
ketandan Perempatandepan BRIMOB
Perempatan
Klodran PerempatanMadukismo
µg /N m 3 Lokasi Sampel Parameter SO2 SO2 Baku Mutu SO2
ikatan kovalen dengan satu atom oksigen. Adapun hasil pengukuran CO diudara dapat dilihat pada gambar 2,49.
Gambar 2.49 Konsentrasi CO
Berdasarkan gambar tersebut diatas dapat diketahui bahwa kandungan CO untuk semua titik pemantauan berada di bawah baku mutu. Konsentrasi tertinggi sebesar 11.300 µg/Nm3di lokasi titik pantau perempatan Ketandan, Jalan Wonosari sedangkan konsentrasi terendah sebesar 8.550 µg/Nm3di titik pantau perempatan Klodran, jalan Bantul. Tingginya konsentrasi CO di perempatan Ketandan mengindikasikan adanya polusi dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna.
Tingginya konsentrasi CO diatas baku mutu dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Gas CO yang terhirup kedalam tubuh menyebabkan pusing, rasa tidak enak pada mata, sakit kepala, dan mual. Hal tesebut diakibatkan oleh gas CO yang terhirup kedalam tubuh masuk kesaluran darah sehingga berikatan dengan hemoglobin dan menggantikan oksigen dalam darah.
c. Nitrogen Dioksida (NO2)
Gas Nitrogen Oksida (NOx) ada dua macam, yaitu gas Nitrogen Monooksida (NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2), yang keduanya mempunyai sifat yang sangat berbeda serta sama-sama sangat berbahaya bagi kesehatan. Gas NO2 bila mencemari udara mudah di rasakan baunya yang sangat menyengat dan warnanya coklat kemerahan. Wilayah perkotaan yang padat penduduknya biasanya kadar NOx cenderung tinggi. Hal ini disebabkan oleh
10.050 10.500 11.300 9.500 8.550 11.200 30.000 0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 Perempatan
Jejeran PertigaanPasar Piyungan
Perempatan
ketandan Perempatandepan BRIMOB
Perempatan
Klodran PerempatanMadukismo
µg /N m 3 Lokasi Sampel
Parameter CO
CO Baku Mutu COtransportasi, penggunaan generator pembangkit liatrik, pembuangan sampah dan sebagainya.
Nitrogen Dioksida (NO2) yang ada di udara ambient yang terhirup manusia, dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmospher, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang sangat halus yang dapat menembus bagian dalam paru-paru. Selain itu, zat ini jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna ataupun hidro karbon lain, akan membentuk Ozon rendah atau Smog kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.
Hasil pengukuran NO2 di 6 (enam) titik pantau di beberapa wilayah di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada gambar 2.50.
Gambar 2.50. Konsentrasi NO2
Berdasarkan gambar tersebut diatas dapat diketahui bahwa kandungan NO2untuk semua titik pemantauan berada di bawah baku mutu. Konsentrasi tertinggi sebesar 29,30 µg/Nm3di lokasi titik pantau perempatan Ketandan, Jalan Wonosari sedangkan konsentrasi terendah sebesar 27 µg/Nm3di titik pantau perempatan Klodran, jalan Bantul. Tingginya konsentrasi NO2 di perempatan Ketandan diindikasikan adanya polusi dari kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah.
d. Timbal (pb) 27,90 26 29,30 28,20 27 28,10 400 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00 350,00 400,00 450,00 Perempatan
Jejeran PertigaanPasar Piyungan
Perempatan
ketandan Perempatandepan BRIMOB
Perempatan
Klodran PerempatanMadukismo
µg/N m 3 Lokasi Sampel
Parameter NO
2
NO2 Baku Mutu NO2Timbal (Pb) merupakan logam berat yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh 327,5 °C pada tekanan atmosphere. Sumber utama pencemaran udara dari Pb yaitu asap kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar yang mengandung timbal, bahkan dapat mencemari makanan yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan secara terbuka. Udara yang tercemar timbal berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan pada saluran pernafasan.
Pencemaran Pb akibat pembakaran bensin tidak sama antara satu tempat dengan tempat lainnya, karena tergantung pada kepadatan kendaraan bermotor. Hasil pengukuran Pb di 6 (enam) titik pantau di beberapa wilayah Kabupaten Bantul dapat dilihat pada gambar 2.51.
Gambar 2.51 Konsentrasi Timbal (Pb)
Berdasarkan hasil pengukuran konsentrasi Pb di 6 (enam) titik pantau masih berada di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Pb tertinggi sebesar 0,234 µg/Nm3berada di titik pemantauan pertigaan pasar piyungan, jalan Wonosari, dan konsentrasi terendah sebesar < 0,02 µg/Nm3di lokasi perempatan Ketandan, jalan Wonosari dan perempatan Klodaran, Jalan bantul. Tingginya konsentrasi Timah (Pb) diindikasikan tingginya polutan yang berasal dari asap kendaraan bermotor di lokasi tersebut.
Polutan Pb memberikan dampak terhadap kesehatan manusia terutama pada gangguan pertumbuhan anak. Timbal (Pb) mempengaruhi fungsi
0,138 0,234 0,02 0,11 0,02 0,15 2 0,000 0,500 1,000 1,500 2,000 2,500 Perempatan
Jejeran PertigaanPasar Piyungan
Perempatan
ketandan Perempatandepan BRIMOB
Perempatan
Klodran PerempatanMadukismo
µg /N m 3 Lokasi Sampel Parameter Pb Pb Baku Mutu Pb
perilaku dan intelegensia, merusak fungsi organ ginjal, system syaraf dan reproduksi selain itu juga meningkatkan tekanan darah dan mempengaruhi perkembangan otak.
Selain itu, gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugus sulfidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat produksi haemoglobin. Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah yang besar yang dapat menimbulkan sakit perut, muntah dan diare. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan, kontipasi, lelah, sakit kepala, anemia. Pada ibu hamil, kelumpuhan anggota badan dan gangguan penglihatan.
e. Ozon (O3), PM 10, dan PM 2,5
Berdasarkan hasil pengukuran udara ambient untuk parameter-parameter Ozon, PM 10, dan PM 2,5 di seluruh titik pemantauan konsentrasinya masih dibawah baku mutu udara ambient. Konsentrasi tertinggi untuk parameter Ozon sebesar 17,10 µg/Nm3 di perempatan jejeran, jalan imogiri timur dan konsentrasi terendah di titik pantau perempatan Ketandan, jalan wonosari sebesar 9,36 µg/Nm3.
Sedangkan untuk parameter PM10, konsentrasi tertinggi di titik pantau perempatan madukismo, jalan ringroad selatan sebesar 15,70 µg/Nm3 dan terendah 4,50 µg/Nm3di titik pantau perempatan depan brimob, jalan imogiri timur. Konsentrasi tertinggi untuk parameter PM 2,5 sebesar 16,50 µg/Nm3di titik pantau perempatan ketandan, jalan wonosari dan terendah 5,40 µg/Nm3
di titik pantau perempatan depan brimob, jalan imogiri timur. f. TSP (Partikel)
Partikel dapat berupa debu padat atau titik-titik cair, dapat bersifat primer atau sekunder. Sumber partikel selain dari proses alam juga oleh aktivitas manusia seperti peleburan, pembakaran tidak sempurna, transportasi dan kegiatan industri. Bergeraknya partikel di udara dipengaruhi oleh tenaga dari luar seperti angin, hujan, tenaga bertahan dan tenaga interaksi. Partikel-partikel yang dapat mempengaruhi kesehatan yaitu bahan organik dan bahan anorganik.
Hasil pengukuran konsentrasi partikel (TSP) di 6 (enam) titik pemantauan dapat dilihat pada gambar 2.52.
Gambar 2.52 Konsentrasi Partikel (TSP)
Hasil pengukuran parameter partikel di 6 (enam) titik pantau menunjukkan masih dibawah baku mutu udara ambient (230 µg/Nm3). Konsentrasi tertinggi ada di titik pantau perempatan depan brimob, jalan imogiri timur sebesar 139 µg/Nm3. Konsentrasi terendah TSP sebesar 117,8 µg/Nm3 di perempatan ketandan, jalan wonosari.