• Tidak ada hasil yang ditemukan

Grafik Tren TSP

E. LAUT, PESISIR, DAN PANTAI 1 Kondisi Pesisir dan Pantai

Kabupaten Bantul yang berlokasi di sebelah selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai kawasan pantai dengan panjang garis pantai ± 12 km memanjang dari kawasan obyek wisata Parangtritis ke barat sampai obyek wisata Pandansimo. Di Kabupaten Bantul terdapat enam desa pesisir yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Desa Poncosari dan Desa Trimurti (Kec. Srandakan), Desa Gadingsari dan Desa Srigading (Kec. Sanden) serta Desa Parangtritis dan Desa Tirtoharjo (Kec. Kretek) .

Pantai di daerah Bantul memiliki ciri berpasir, relatif landai dan terdapat gumuk pasir dengan tipe Barchan (bulan sabit). Di pantai Parangtritis terdapat sekitar 190 bentukan gumuk pasir bentuk Barchan, Longitudinal, Parabolic dan Sisir. Masing-masing bentuk tersebut mempunyai cara dan faktor pengontrol pembentukan yang berbeda. Bentuk parabolik dan sisir dipengaruhi oleh vegetasi yang memotong arah angin, sehingga kecepatan angin di belakang vegetasi kurang. Bentuk Barchan dan longitudinal dipengaruhi oleh aktivitas angin, yang bertiup keras. Barchan mempunyai proses pembentukan yang menarik. Mulanya terbentuk gumuk pasir longitudinal yang mempunyai sumbu panjang sejajar dengan arah angin, berikutnya tubuh gumuk pasir semakin tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya perputaran air di belakang gumuk, yang menyebabkan terjadinya penggerusan di belakang gumuk. Penggerusan yang semakin luas menjadikan penggerusan semakin intensif, sehingga dimensi lebar seimbang dengan dimensi panjang.

Gumuk pasir Parangtritis dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu pasif dan aktif. Gumuk pasir aktif menempati sisi timur, disini proses pembentukan gumuk pasir longitudinal dan Barchan oleh aktivitas angin yang bertiup

dan selatan sampai muara kali Opak. Secara global, gumuk pasir merupakan lahan bentukan yang terjadi karena proses angin. Gumuk pasir yang ada di Pantai selatan tidak dijumpai di wilayah Indonesia yang lain dan merupakan keajaiban dunia. Keberadaan gumuk pasir ini dapat menghalangi gelombang pasang maupun tsunami. Untuk itu keberadaan gumuk pasir harus dijaga dari kegiatan-kegiatan yang dapat merusak seperti pengambilan pasir pantai untuk pembangunan.

Ditinjau dari aspek ekonomi, secara umum kawasan pesisir Kabupaten Bantul menunjukkan kondisi cukup baik. Prasarana dan sarana transportasi berupa jalan dan kendaraan telah berkembang dengan baik, jalan pedesaan pesisir telah diaspal. Sebagian besar masyarakat pesisir masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama. Namun karena adanya pengurangan luas lahan untuk kepentingan non pertanian, masyarakat mencari alternatif lain dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Kebanyakan dari masyarakat pesisir saat ini tidak mau mengandalkan pekerjaannya hanya pada satu profesi. Mereka telah mengembangkan profesi lain yang dapat menjamin pemenuhan perekonomian keluarga mereka. Ketika musim tanam dan panen, sebagian masyarakat pesisir berprofesi sebagai petani namun di sela-sela musim tersebut, mereka berprofesi sebagai nelayan dan lain-lain.

Profesi nelayan dari tahun ke tahun mulai menjadi pilihan menarik bagi masyarakat pesisir. Alasan pemilihan tersebut adalah cepat menuai hasil dan selalu ada harapan atas potensi yang terkandung di laut selatan. Tekhnologi yang digunakan dalam penangkapan ikan tergolong sederhana yaitu dengan menggunakan perahu motor dan dilengkapi dengan alat tangkap berupa jaring, pancing rawa dasar dan trolling.

Pemanfaatan lahan pesisir beragam, lahan pantai disamping dimanfaatkan sebagai area pertambakan udang juga dimanfaatkan sebagai tempat peternakan dan penanaman tanaman produktif. Pemanfaatan lahan untuk peternakan di samping mengoptimalkan lahan yang ada, juga sebagai upaya menjaga kondisi lingkungan yang baik. Selain itu hasil limbah kotoran ternak tersebut dapat dipakai untuk pupuk organik yang diperlukan dalam pertanian. Di kawasan pesisir telah dibangun fasilitas irigasi lahan kering berupa embung dan sumur-sumur renteng yang dilengkapi dengan pompa air.

Konservasi lahan pesisir di Kecamatan Sanden, Kretek dan Srandakan dilaksanakan dalam bentuk penanaman tanaman keras yang difungsikan sebagai wind

berpasir, yaitu pandan duri, cemara udang, ketapang, sengon, kleresede dan lain-lain. Luasan lahan yang difungsikan sebagai wind barrier sebesar 122 Ha di Kecamatan Srandakan, 28 Ha di Kecamatan Kretek dan 100 Ha di Kecamatan Sanden. Selain membuat indah dan sejuk di kawasan pesisir, upaya ini sangat bermanfaat sebagai perlindungan terhadap pertanian lahan kering yang ada serta memberikan perlindungan terhadap satwa liar terutama jenis-jenis burung. Selain itu juga ditanam tanaman semusim (sayur-sayuran) seperti ubi jalar, bawang merah, cabai dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan sebagai mata pencarian tambahan penduduk diwilayah pesisir selain sebagai nelayan dan juga dikarenakan wilayah pesisir pantai selatan tidak terdapat padang lamun. Dan laut di wilayah kabupaten Bantul tidak terdapat terumbu karang.

Dukungan masyarakat pesisir terhadap upaya konservasi lahan pesisir sangat besar. Ini dibuktikan oleh kelompok tani Wonolestari di dusun Samas, desa Srigading, kecamatan Sanden menggencarkan program penanaman ribuan bakau, nyamplung dan cemara udang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mencegah terjangan tsunami, sebagai pemecah hantaman gelombang (abrasi).

Kegiatan yang sama juga dilaksanakan oleh pemuda-pemudi Baros, Desa Tirtoharjo, kecamatan Kretek yang menanam bakau di lahan seluas 5 Ha dari 25 Ha lahan pengembangan untuk tanaman bakau, prosentase tutupan mencapai 75% dengan kerapatan pohon 500 pohon/Ha (Tabel SD-21). Tujuan dari penanaman bakau ini juga mencegah terjangan gelombang pasang atau tsunami.

Bentuk konservasi lain yang ada adalah upaya pelestarian penyu yang dilaksanakan di pantai Samas dan Pandansimo dan Kuwaru yang dimulai sejak tahun 1999. Jenis kegiatan pelestarian ini adalah penjagaan telur-telur penyu yang ada di pantai sampai menetas. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan tukik (anak penyu) di tempat pemeliharaan yang dibangun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY. Kegiatan pelestarian penyu di kawasan Kabupaten Bantul dilaksanakan oleh kelompok pelestari penyu. Masyarakat sudah menyadari tentang arti konservasi penyu sebagai satwa yang dilindungi, sehingga masyarakat yang berada di pesisir tidak menangkap penyu tersebut untuk diperjual belikan. Kelompok masyarakat tersebut juga melakukan pengamanan tempat bertelur dan melakukan pemeliharaan sampai telur-telur menetas dan siap untuk dilepas ke laut. Proses pelepasan tukik ke laut telah dikemas menjadi ajang wisata pendidikan di pantai selatan.

E.2 Kulitas Air laut

Pemanfaatan wilayah pesisir dan pantai untuk kegiatan pariwisata alam menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian masyarakat. Pembangunan fasilitas pendukung seperti penginapan, atraksi-atraksi wisata, rumah makan dan lain-lain. Mengingat banyaknya kegiatan di kawasan pesisir tersebut maka banyak pula limbah yang dihasilkan, baik limbah wisatawan, hotel, rumah makan juga limbah rumah tangga. Kegiatan-kegiatan tersebut apabila tidak ditangani dengan benar dikhawatirkan terjadi pencemaran di kawasan pantai. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi, perlu dilakukan pengujian kualitas air laut. Pengujian dilakukan di dua titik, yaitu di pantai Kuwaru dan Parangtritis karena lokasi tersebut ramai pengunjung dan ada kegiatan lain seperti tempat pelelangan ikan, rumah makan dan lain-lain.

Dari hasil pemantauan kualitas air laut (SD-17), terdapat beberapa parameter yang melampaui baku mutu berdasarkan Kep. Men LH no. 51 tahun 2004 tentang baku mutu air biota laut. Untuk parameter fisika, total partikel tersuspensi dan kekeruhan. Konsentrasi tertinggi untuk parameter TSS dan kekeruhan terdapat di pantai Kwaru. Besarnya konsentrasi TSS adalah 55,5 mg/l dan tingkat kekeruhannya sebesar 12,76 FTU. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah.

Gambar 2.56 Tingkat Kekeruhan 7,08 12,76 5 0 2 4 6 8 10 12 14 P. Parangtritis P. Kwaru FT U Lokasi Sampel