• Tidak ada hasil yang ditemukan

Timbulan Sampah

D.3 Penggunaan Pupuk dan Bahan Kimia Pertanian

Peningkatan produksi pada lahan pertanian menyebabkan ketergantungan petani terhadap pupuk maupun pestisida. Pupuk-pupuk sintetis lebih menunjukkan hasil di bandingkan penggunaan pupuk organik. Akan tetapi jika penggunaan pupuk sintetis melebihi dari yang dibutuhkan akan menyebabkan menurunnya kesuburan tanah dan dapat menyebabkan pencemaran serta berakibat kepada global warming.

Jenis-jenis pupuk sintetis adalah urea, SP.36, ZA dan NPK. Besarnya penggunaan pupuk ZA dan NPK untuk perkebunan adalah 400 ton dan 150 ton yang digunakan untuk perkebunan tebu. Penggunaan pupuk sintetis tersebut untuk tanaman padi dan palawija berdasarkan data yang terhimpun pada tahun 2011 (Tabel SE-4) adalah urea sebesar 8.640 ton. Digunakan untuk tanaman padi sebesar 7.790 ton dan jagung sebesar 850 ton. Pupuk SP.36 total penggunaan sebesar 612 ton yang digunakan untuk tanaman padi sebesar 433 ton, kedelai sebesar 80 ton dan kacang tanah sebesar 99 ton. Kemudian pupuk ZA dengan total penggunaan sebesar 725 ton yang digunakan untuk padi sebesar 519, kedelai 97 ton dan kacang tanah sebesar 109 ton. Dan pupuk NPK dengan total penggunaan sebesar 2.447 ton untuk padi seberat 2.300 ton dan untuk jagung seberat 147 ton.

Selanjutnya berdasarkan tabel SE-4 penggunaan pupuk organik masih kecil sekali jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk urea dan NPK, yaitu hanya 965 ton dan hanya dimanfaatkan untuk tanaman padi.

Meningkatnya jumlah penduduk saat ini khususnya Kabupaten Bantul dan pesatnya pembangunan, meningkat pula kebutuhan sarana maupun prasarana seperti rumah tinggal, gedung sekolah, industri, hotel dan lain-lain sehingga kebutuhan lahan semakin meningkat pula. Mengingat kondisi lahan yang paling banyak adalah lahan pertanian baik sawah maupun kebun, maka untuk mencukupi kebutuhan lahan tersebut dipenuhi dengan menggunakan lahan pertanian. Salah satu contoh perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian (pemukiman) seperti terlihat pada gambar 3.3.

Gambar 3.3. Perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian di Kasihan

Penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian yang terjadi di Kabupaten Bantul dari tahun 2010 sampai tahun 2013 mengalami peningkatan. Perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian meliputi pemukiman, industri, rumah sakit, toko, gudang, pendidikan dan lain-lain. Total luas perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian menurun, pada tahun 2010 sebesar 56,90 Ha menjadi 33,69 Ha ditahun 2013 (Tabel SE-5).

Dari beberapa jenis penggunaan lahan non pertanian tersebut yang terbesar untuk keperluan lain-lain sebesar 10,66 Ha dan paling sedikit untuk industri sebesar 0,56 Ha. Dampak dari perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian adalah berkurangnya lahan pertanian tanaman pangan. Jika ditinjau dari aspek pertanian, meskipun terjadi perubahan penggunaan lahan sawah namun luas lahan pertanian yang ada masih mampu untuk mencukupi kebutuhan dan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Namun demikian alih fungsi lahan tersebut harus dikendalikan secara ketat agar tidak mengancam potensi pertanian dan ketersediaan bahan pangan yang apa bila tidak ditangani secara serius dapat mengakibatkan kurangnya stok pangan.

Selain itu alih fungsi lahan berdampak menurunnya daerah resapan air karena dipenuhi bangunan serta berkurangnya ruang terbuka hijau sebagai sumber penyuplai oksigen dan menurunkan efek gas rumah kaca.

D.5 Perternakan

Usaha peternakan di kabupaten Bantul meliputi peternakan hewan ternak dan unggas. Peternakan hewan ternak meliputi ternak sapi perah, sapi potong, kerbau, kuda, kambing, domba dan babi. Dan peternakan unggas meliputi ayam kampung, ayam petelur, ayam pedaging, itik dan puyuh. Secara umum, peternak hewan sapi perah dan babi terdapat di 9 kecamatan, sapi potong, kambing dan domba di 17 kecamatan dan kerbau di 12 kecamatan (Tabel SE-8). Sedangkan untuk peternakan unggas, peternak ayam petelur terdapat di 13 kecamatan. Dan peternak lainnya terdapat di seluruh kecamatan kabupaten Bantul (Tabel SE-9).

Jenis hewan ternak terbesar adalah kambing dengan jumlah ternak sebanyak 87.911 ekor. Posisi kedua terbanyak adalah kambing dengan jumlah 84.414 ekor. Sedangkan posisi ketiga terbanyak adalah domba dengan jumlah 43.561 ekor. Dan yang paling sedikit adalah peternakan kerbau sebanyak 239 ekor di kabupaten Bantul. Peternakan kambing dan sapi potong terbesar di kabupaten Bantul terdapat di kecamatan Dlingo dengan jumlah peternakan kambing sebesar 12.231 ekor dan sapi potong sebesar 8.270 ekor. Sedangkan peternakan domba di Dlingo terkecil di kabupaten Bantul dengan jumlah hewan ternak sebanyak 708 ekor. Kecamatan Banguntapan mempunyai peternakan sapi perah dan kuda terbesar di kabupaten Bantul dengan jumlah hewan 79 ekor untuk sapi perah sedangkan jumlah kuda sebanyak 482 ekor. Peternakan kerbau terbanyak ada di kecamatan Sewon dengan jumlah 44 ekor dan peternakan babi sebesar 689 ekor terdapat di kecamatan Srandakan.

Untuk jenis ternak unggas kecamatan Pajangan mempunyai peternakan ayam petelur, ayam pedaging dan puyuh terbesar. Jumlah ternak ayam petelur sebesar 369.125 ekor, ayam pedaging sebesar 245.340 ekor dan puyuh 31.500 ekor. Kecamatan Kasihan merupakan kecamatan dengan jumlah hewan ternak ayam kampung terbesar dengan jumlah ternak sebesar 65.795 ekor. Untuk hewan ternak itik, kecamatan jetis mempunyai jumlah terbanyak yaitu sebesar 28.216 ekor.

E. INDUSTRI

Tekanan terhadap lingkungan dari sektor industri berupa produk samping dari hasil produksi yang tidak mempunyai nilai ekonomis dan sisa hasil dari kegiatan utilitas. Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dibagi menjadi empat bagian, yaitu limbah cair, padat, gas dan partikel. Oleh karena itu untuk mengurangi beban lingkungan maka perlu dilakukan pengelolaan dan pengolahan limbah baik industri skala kecil, menengah maupun besar.

Jenis industri yang terdapat di Kabupaten Bantul adalah industri spritus, kulit dan tekstil. Pada industri tersebut parameter limbah cair yang dipantau berupa BOD, COD, TSS, minyak dan lemak, krom total, dan amonia total. Untuk mengetahui beban lingkungan dari sektor industri dilakukan pemantauan terhadap limbah yang dihasilkan. Pemantauan dilakukan terhadap limbah cair yang dibuang ke sungai, seperti yang terangkum dalam tabel SP-1.

Industri dengan beban tertinggi untuk parameter BOD adalah industri spritus sebesar 296,69 ton/tahun sedangkan terendah adalah industri tekstil sebesar 1,68 ton/tahun. Kemudian beban tertinggi untuk parameter COD adalah industri spritus sebesar 643,61 ton/tahun sedangkan terendah adalah industri tektil sebesar 3,98 ton/tahun.

Selanjutnya beban tertinggi untuk parameter TSS adalah industri spritus sebesar 29,21 ton/tahun sedangkan terendah adalah industri kulit sebesar 1,79 ton/tahun. Parameter sulfida beban tertinggi adalah industri spritus sebesar 3,78 ton/tahun sedangkan terendah adalah industri kulit sebesar 0,236 ton/tahun. Parameter minyak dan lemak beban tertinggi adalah industri tekstil sebesar 6,33 ton/tahun sedangkan terendah adalah industri spritus sebesar 0,57 ton/tahun.

F. PERTAMBANGAN