Gambaran mengenai indikator-indikator yang termasuk dalam domain kelembagaan berdasarkan hasil analisis EAFM ditampilkan dalam Tabel di bawah ini
Tabel 11. Analisis Komposit Domain Kelembagaan
INDIKATOR DEFINISI/ PENJELASAN MONITORING/ PENGUMPULAN KRITERIA SKOR BOBOT (%) NILAI
1. Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal (Alat) Tingkat kepatuhan (compliance) seluruh pemangku kepentingan WPP terhadap aturan main baikformal maupun tidak formal Monitoring ketaatan: 1. Laporan/catatan terhadap pelanggaran formal dari pengawas, 2.
Wawancara/kuisioner (key person) terhadap pelanggaran non formal termasuk ketaaatan terhadap peraturan sendiri maupun peraturan diatasnya
1= lebih dari 5 kali terjadi pelanggaran hukum dalam pengelolaan perikanan; 2 = 2-4 kali terjadi pelanggaran hukum;
3 = kurang dari 2 kali pelanggaran hukum
2 25 62.5
Non formal
1= lebih dari 5 informasi pelanggaran,
2= lebih dari 3 informasi pelanggaran,
3= tidak ada informasi pelanggaran
3
2. Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan Sejauh mana kelengkapan regulasi dalam pengelolaan perikanan 1) Benchmark sesuai dengan Peraturan nasional, 2) membandingkan situasi sekarang dengan yang sebelumnya 3) replikasi kearifan lokal
1 = tidak ada;
2 = ada tapi tidak lengkap; 3 = ada dan lengkap
2 22 44
Elaborasi untuk poin 2
1= ada tapi jumlahnya berkurang; 2= ada tapi jumlahnya tetap; 3= ada dan jumlahnya bertambah
2
Ada atau tidak penegakan aturan main dan efektivitasnya Survey dilakukan melalui wawancara/ kuisioner: 1) ketersediaan alat, orang 2) bentuk dan intensitas penindakan (teguran, hukuman)
1=tidak ada penegakan aturan main;
2=ada penegakan aturan main namun tidak efektif;
3=ada penegakan aturan main dan efektif
2
1= tidak ada alat dan orang; 2=ada alat dan orang tapi tidak ada tindakan;
3= ada alat dan orang serta ada tindakan
2
1= tidak ada teguran maupun hukuman;
2= ada teguran atau hukuman; 3=ada teguran dan hukuman
2
3. Mekanisme pengambilan keputusan
Ada atau tidaknya mekanisme pengambilan keputusan dalam pengelolaan perikanan Survey dilakukan dengan : analisis dokumen antar lembaga dan analisis stakeholder melalui wawancara/kuisioner
1=tidak ada mekanisme pengambilan keputusan; 2=ada mekanisme tapi tidak berjalan efektif;
3=ada mekanisme dan berjalan efektif
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 62
1= ada keputusan tapi tidak dijalankan;
2= ada keputusan tidak sepenuhnya dijalankan; 3= ada keputusan dijalankan sepenuhnya
2
4. Rencana pengelolaan perikanan
Ada atau tidaknya RPP untuk wilayah pengelolaan perikanan dimaksud Survey dilakukan dengan wawancara/kuisioner: 1. Adakah atau tidak RPP disuatu daerah 2. Dilaksanakan atau tidak RPP yang telah dibuat
1=belum ada RPP; 2=ada RPP namun belum sepenuhnya dijalankan; 3=ada RPP dan telah dijalankan sepenuhnya 1 15 15 5. Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan Semakin tinggi tingkat sinergi antar lembaga (span of control-nya rendah) maka tingkat efektivitas pengelolaan perikanan akan semakin baik Survey dilakukan dengan : analisis dokumen antar lembaga dan analisis stakeholder melalui wawancara/kuisioner
1=konflik antar lembaga (kebijakan antar lembaga berbeda
kepentingan);
2 = komunikasi antar lembaga tidak efektif;
3 = sinergi antar lembaga berjalan baik
3 11 33
Semakin tinggi tingkat sinergi antar kebijakan maka tingkat efektivitas pengelolaan perikanan akan semakin baik Survey dilakukan dengan : analisis dokumen antar lembaga dan analisis stakeholder melalui wawancara/kuisioner
1= terdapat kebijakan yang saling bertentangan;
2 = kebijakan tidak saling mendukung;
3 = kebijakan saling mendukung
3 6. Kapasitas pemangku kepentingan Seberapa besar frekuensi peningkatan kapasitas pemangku kepentingan dalam pengelolaan perikanan berbasis ekosistem Survey dilakukan dengan wawancara/kuisioner terhadap:
1) Ada atau tidak, berapa kali 2) Materi
1=tidak ada peningkatan; 2 = ada tapi tidak difungsikan; 3 = ada dan difungsikan
3 9 27 7. Keberadaan otoritas tunggal pengelolaan perikanan Dengan adanya single authority akan meningkatkan efektivitas kelembagaan pengelolaan perikanan Survey dilakukan dengan : analisis dokumen antar lembaga
1= tidak ada single authority ; 2 = lebih dari satu authority;
3 = ada single authority 1 4 4
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 63
4.1.6.1 Indikator Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal (Alat)
Dalam bidang perikanan, berbagai peraturan baik formal maupun informal telah banyak dibuat untuk menjamin keberlanjutan perikanan. Beberapa peraturan formal guna menjamin perikanan berkelanjutan telah dikeluarkan dalam berbagai skala. Pada lingkup internasional, telah ditetapkan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) sebagai menjadi asas dan standar internasional mengenai pola perilaku bagi praktek perikanan yang bertanggungjawab. Pada level nasional, telah dikeluarkan berbagai perundangan dalam skala tingkat keputusan yang berbeda-beda mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri dan sampai peraturan daerah terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut.
Demikian halnya di tingkat masyarakat, sebagian masyarakat pesisir di Indonesia telah mengembangkan aturan dan norma-norma dalam mengelola sumberdaya perikanan. Hukum adat tersebut terbukti sampai saat ini masih dapat diterapkan dengan baik karena mengikat masyarakat secara sosial yang ditandai dengan aspek kepatuhan (comlience) terhadap aturan. Kapatuhan kadangkala tidak menjadi longgar ketika dibangun dalam bentuk hukum formal. Hukum positif (formal) seringkali alpa dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk mentaatinya. Tetapi hukum sosial sebagaimana yang terjadi dalam hukum adat seringkali justru membangun kesadaran masyarakat untuk mentaatinya (Modul EAFM, 2012).
Indikator kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal diberikan status sedang. Hasil wawancara dengan pihak DKP menyebutkan bahwa dalam setahun tercatat 3 pelanggaran, yaitu: 1) Perijinan tidak lengkap dengan kategori ringan dan dilakukan pembinaan serta melengkapi dokumen sesuai kebutuhan, 2) Pelanggaran daerah penangkapan dengan kategori ringan dan dilakukan pembinaan, 3) Cara penangkapan tidak ramah lingkungan dengan kategori berat dan dilakukan sosialisasi, pembinaan, pemberian sanksi dan
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 64 denda sesuai peraturan daerah yang berlaku. Untuk pelangaran terhadap aturan non formal tidak ada informasi pelanggaran.
Berdasarkan hasil kajian aktivitas pelanggaran penangkapan merusak terus terulang, terutama ketika musim migrasi tuna. Tidak hanya meningkatkan frekuensi pengawasan daerah perairan, pengembangan sistem pengawasan melalui aturan non formal perlu dikembangkan di kabupaten Flores Timur. Mengembangkan kembali kearifan lokal yang ada dalam mendukung pemanfaatan perikanan yang lestari dengan hukuman sosial, serta perlunya serangkaian pendidikan mengenai pemanfaatan dan perlindungan kawasan laut yang berkelanjutan.
4.1.6.2 Indikator Kelengkapan Aturan Main dalam Pengelolaan Perikanan
Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan didefinisikan sebagai tingkat ketersediaan regulasi (peraturan), peralatan, petugas dan infrastruktur pengelolaan perikanan lainnya dan ada tidaknya penegakan aturan main serta efektifitasnya dalam pengelolaan perikanan. Peraturan yang lengkap menjadi dasar dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan yang bertanggungjawab. Kelengkapan peraturan tidak secara otomatis dapat terimplementasi dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan adanya penegakan aturan tersebut. Ketersediaan aturan saja tidak cukup dan menjamin terlaksananya aturan dengan baik. Tetapi harus diikusi dengan penegakan hukum yang nyata. Sehingga aturan yang dibuat bersifat fungsional (Modul EAFM, 2012).
Indikator kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan diberikan status sedang. Adanya beberapa peratuan yang mendukung upaya pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Flores Timur, yaitu: ketentuan perijinan usaha penangkapan ikan dan Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur No.4 tahun 2005 tentang retribusi penggantian biaya administrasi. Dari sisi jumlah aturan formal yang ada terdapat dalam jumlah yang tetap, sementara jumlah pelanggaran yang tercatat pihak dinas terdapat pelanggaran yang sudah diproses atau ditetapkan statusnya dan dilakukan penegakan aturan main serta efektif.
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 65 Adanya upaya dan kesadaran masyarakat dalam membantu pengawasan terhadap tindak pidana di laut dan membantu dalam memberikan informasi terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di laut. Namun terkait dalam pengaturan sumberdaya perikanan belum dibakukan dalam bentuk produk hukum yang ada baik berupa Surat Keputusan hingga Peraturan Daerah di kabupaten Flores Timur. Perlunya aturan formal dalam mengelola perikanan di perairan kabupaten Flores Timur perlu dilakukan dan juga perlunya mengadopsi aturan perikanan nasional guna diterapkan di level kabupaten dengan disesuaikan kondisi perairan yang ada guna mendukung perikanan berkelanjutan di kabupaten Flores Timur.
4.1.6.3 Indikator Mekanisme Pengambilan Keputusan
Mekanisme kelembagaan didefinisikan sebagai metode/prosedur kelembagaan dalam masyarakat dibangun. Kelembagaan itu sendiri menurut Douglas North, Shaffer (1995) and Coase sebagai peraturan formal dan informal yang mengatur atau mempengaruhi perilaku masyarakat seiring interaksi mereka dalam aktivitas politik dan ekonomi. Tujuan penggunaan indikator ini dalam domain kelembagaan adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas pengambilan keputusan dalam pengelolaan perikanan. Mekanisme kelembagaan memastikan bahwa semua sistem pengelolaan telah tersedia. Semua aturan main telah disepakati dan menjadi prosedur baku dalam pengelolaan perikanan (Modul EAFM, 2012)
Berdasarkan hasil analisa pada indikator ini di Kabupaten Flores Timur digolongkan dalam status sedang. Secara spesifik belum tergambar dari rekapan kuisioner tentang mekanisme pengambilan keputusan dalam pengelolaan perikanan, namun dapat terlihat bahwa telah terbentuk wadah (kelembagaan formal) yang mendukung mekanisme kelembagaan ditingkat masyarakat dan selalu dibina/dipantau DKP Flores Timur yaitu kelompok masyarakat pengawasan (Pokmaswas) yang sudah terbentuk sebanyak 7 kelompok yang tersebar di 7 kecamatan. Namun terkait implementatif, mekanisme kelembagaan dilevel masyarakat tersebut kurang berjalan dengan efektif. Oleh karena itu langkah awal untuk melihat efektifitas suatu mekanisme kebijakan berjalan dengan efektif,
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 66 perlu adanya kajian lebih lanjut terhadap efektivitas kebijakan perikanan yang tepat guna mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
4.1.6.4 Indikator Rencana Pengelolaan Perikanan
Berdasarkan UU No.31/2004 tentang perikanan yang diubah menjadi UU No,45/2009 tentang perikanan pasal 7 ayat 1 huruf a menjelaskan bahwa dalam rangka mendukung kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan, menteri menetapkan rencana pengelolaan perikanan (RPP). RPP merupakan pedoman dan acuan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial dalam merencanakan, memanfaatkan dan mengawasi kegiatan perikanan. RPP dapat dibangun berbasis kawasan perairan (perairan pesisir, perairan umum) atau berbasis komoditas perikanan (RPP perikanan Bilih, RPP perikanan lemuru, dst). RPP mutlak diperlukan sebagai stadar operasional dalam melaksanakan tata kelola perikanan yang bertanggungjawab. Dengan demikian unit kegiatan dari indikator RPP adalah ada tidaknya RPP dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang dimaksud dan sejauhmana RPP tersebut dijalankan (Modul EAFM, 2012) dilevel Pemerinta Daerah identifikasi terkait RPP dapat dilakukan disetiap kebijakan daerah yang mendukung pengelolaan perikanan berbasis ekosistem, seperti pada dokumen RTRW, Rencana Induk Kelautan dan Perikanan, Peraturan Daerah maupun Surat Keputusan Bupati.
Berdasarkan hasil analisa Rencana Pengelolaan Perikanan dari dokumen perencanaan yang daearh belum teridentifikasi, baik yang meliputi RTRW dan Renstra. Dokumen yang teridentifikasi hanya berkaitan dengan penegakan aturan yaitu pembentukan kelompok masyarakat pengawasan (Pokmaswas). Minimnya perencanaan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dalam pembangunan, dikhawatirkan pemanfaatan perikanan tidak terarah dengan baik. Penilaian performa pemanfaatan perikanan melalui Kajian EAFM dapat menjadi dasar dalam pembuatan Rencana Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan baik dalam jangka pendek (tahunan) hingga jangka panjang yang terakomodir dalam RTRW.
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 67
4.1.6.5 Indikator Tingkat sinergisitas antar kebijakan dan lembaga dalam pengelolaan perikanan
Tingkat sinergisitas antar kebijakan dan lembaga dalam pengelolaan perikanan dapat diartikan sebagai adanya keterpaduan gerak dan langkah antar lembaga dan antar kebijakan dalam pengelolaan perikanan sehingga tidak memunculkan adanya konflik kepentingan dan benturan kebijakan.Adapun tingkat sinergitas yang diukur meliputi unsur perizinan, unsur operasional pengelolaan perikanan, dan unsur konservasi dan pemulihan (Modul EAFM, 2012)
Indikator tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan diberikan status baik. Berdasarkan hasil analisa interview responden yang meliputi Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,
Kantor Lingkungan Hidup, Polaiur, Dinas Kehutanan menyatakan tidak ada konflik yang tumpang tindih dalam kebijakan terkait pemanfaatan kelautan. Kajian dokumen kebijakan masih lebih banyak mengadopsi Undang-Undang nasional, oleh karena itu pendadaran dilevel kebijakan daerah perlu didorong untuk menjawab permasalahan yang bersifat lokal. Melalui keterlibatan Pemerintah Daerah dalam mendorong tahapan EAFM kedalam rencana pengelolaan perikanan merupakan suatu bentuk sinergitas kebijakan yang meliputi lintas SKPD.
4.1.6.6 Kapasitas Pemangku Kepentingan
Pengelolaan perikanan ditentukan oleh seberapa jauh kapasitas pemangku kepentingan dalam mengelola perikanan. Ketersediaan peraturan tidak menjamin dapat ditafsirkan dengan baik tanpa didukung oleh kapasitas pemangku kepentingan yang memadai. Kapasitas pemangku kepentingan menentukan baik
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 68 buruknya kebijakan yang akan dipilih dalam pengelolaan perikanan. Kapasitas pemangku kepentingan juga terlibat dalam menafsirkan perundangan yang berlaku terkait dengan pengelolaan perikanan. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat kompetensi pemangku kepentingan, maka efektifitas pengelolaan perikanan semakin terjamin (Modul EAFM, 2012)
Berdasarkan hasil analisa indikator kapasitas pemangku kepentingan diberikan status baik. Semenjak tahun 2009 hingga tahun 2012, telah dilakukan serangkaian peningkatan kapasitas terkait pengelolaan kelautan dan perikanan yang dilakukan bersama WWF-Indonesia. Peningkatan kapasitas pemangku kepentingan ditandai diinisiainya pembentukan tim terpadu Kawasan Konservasi Perairan Daerah dan tim pengawasan sumberdaya laut (MCS) melalui SK Bupati, dan turut terlibat aktif dalam kegiatan penelitian ekologi dan perikanan di kabupaten Flores Timur. Upaya mendorong substansi pengelolaan perikanan berbasis ekosistem dalam perencanaan daerah merupakan salah satu inisiasi adanya peningkatan kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di kabupaten Flores Timur.
4.1.6.7 Keberadaa Otoritas Tunggal Pengelolaan
Indikator keberadaan otoritas tunggal pengelolaan perikanan diberikan status buruk. Belum ditemukan adanya single authority ditingkat kabupaten mengacu pada dokumen RTRW yang ada. Pengelolaan perikanan dan mekanisme pengambilan keputusan atas kebijakan dalam pengelolaan perikanan belum teridentifikasi didalam dokumen perencanaan daerah. Saling berkaitannya dengan indikator lainnya dalam domain kelembagaan, suatu produk hukum yang mengatur pengelolaan perikanan di kabupaten Flores Timur sudah menjadi hal yang urgensi untuk dilakukan dalam meningkatkan pemanfaatan perikanan yang berkelanjutan.
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 69 Gambar 13. Agregat Domain Kelembagaan
Secara keseluruhan domain kelembagaan di Kabupaten Flores Timur diberikan status baik dengan nilai komposit 221,5 dari nilai total komposit 300, karena dari 7 indikator yang diuji/dianalisis hanya 2 indikator yang berstatus buruk yaitu belum teridentifikasinya rencana pengelolaan perikanan dan adanya Keberadaan otoritas tunggal pengelolaan perikanan, sedangkan 5 indikator lainnya berstatus baik dan sedang.
Domain kelembagaan sebagai domain yang mengkaji penataan institusi (institutional arrangements) yang ditentukan oleh beberapa unsur seperti aturan operasional untuk pengaturan pemanfaatan sumber daya, aturan kolektif untuk menentukan, menegakan hukum atau aturan itu sendiri dan untuk merubah aturan operasional serta mengatur hubungan kewenangan organisasi (Modul EAFM, 2012) baik dilevel Pemerintahan dan juga lembaga adat melalui kearifan lokal) . Kepatuhan terhadap prinsip-prisip perikanan yang bertanggungjawab baik yang formal maupun berupa hukum adat, menjadi ukuran paling penting dalam menjamin keberlanjutan perikanan, oleh karena ketegasan rencana pengelolaan perikanan yang efektif baik berupa dokumen legal hingga hukum sosial perlu ditingkatkan di kabupaten Floers Timur.
Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan Menggunakan Indikator EAFM 70
BAB V