sKenARiO POTensi miTiGAsi DAn
4.4 Hasil Perhitungan Mitigasi Gas Rumah Kaca dari Sektor Sampah
Gambar 3.14 menunjukkan hasil perhitungan emisi gas rumah kaca dari sektor sampah. Emisi terbesar dihasilkan dari BAU (open dumping), disusul oleh skenario lainnya. Skenario reduksi di sumber tidak bisa
menurunkan GRK yang cukup signiikan karena kegiatan kampanye dan capacity building dalam rangka mengurangi volume sampah disumber terbatas. Dengan kemajuan ekonomi masyarakat terpacu untuk terus meningkatkan jumlah sampahnya tanpa dapat dihindari. Skenario reduksi di sumber dapat berhasil jika didukung oleh kebijakan dan peraturan perundangan yang mengandung sanksi.
Skenario SL + CL (konversi dari open dumping ke Sanitary Landill dan Controlled Landill), memiliki emisi GRK yang lebih tinggi dari 3R(reduce, reuse, recycle) dan pengomposan karena pemrosesan akhir sampah dengan SL dan CL akan meningkatkan proses anaerobik yang menghasilkan CH4 walaupun tidak setinggi open dumping. Sedangkan pengomposan memroses sampah dengan proses aerobik yang tidak menghasilkan CH4. Namun kegiatan 3R, dengan mengolah dan mendaur ulang plastik misalnya, tetap menghasilkan GRK berupa gas CO2 dari proses pembakaran daur ulang. Skenario SL + LFG memiliki emisi GRK yang paling kecil karena adanya proses laring (pembakaran) CH4 menjadi CO2 dan H2O dan juga konversi gas CH4 menjadi energi listrik.
Gambar 4.13 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di perkotaan untuk setiap skenario
Gambar 4.14 menunjukkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pemrosesan sampah di pedesaan. Emisi tertinggi adalah BAU (buang/timbun dimana saja). Emisi dari skenario reduksi di sumber dan juga 3R + pengomposan menghasilkan gas rumah kaca yang lebih sedikit dibandingkan BAU. Untuk pedesaan, kegiatan pengomposan merupakan kegiatan yang sangat direkomendasikan dengan alasan sebagai berikut: (1) komposisi sampah di pedesaan didominasi oleh sampah organik yang sangat cocok untuk pengomposan, (2) kegiatan pengomposan di pedesaan akan berkembang pesat karena lahan masih tersedia luas, (3) pasar tersedia, karena pengguna utama dari kompos adalah sektor pertanian dan perkebunan, (4) pengomposan dapat meningkatkan kualitas tanah, (5) teknologi pembuatan kompos relatif sederhana sehingga mudah dilakukan oleh warga desa. Kendala terbesar adalah masalah persepsi petani yang sudah terbiasa menggunakan pupuk kimia dibandingkan pupuk organik hasil pengomposan. Sehingga diperlukan penyuluhan dan pelatihan untuk menyadarkan petani bahwa penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu panjang dapat menurunkan kualitas tanah. Masalah lainnya adalah bahwa pembuatan pupuk organik memerlukan waktu yang relatif lama. Masalah ini dapat diselesaikan dengan mengembangkan bakteri khusus untuk mempercepat proses pembuatan pupuk organik. Pengembangan bioteknologi terkait pengomposan harus dikembangkan sejalan dengan upaya memasyarakatkan penggunaan pupuk organik.
Gambar 4.14 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di pedesaan untuk setiap skenario
Gambar 4.15 dan 4.16 menunjukkan reduksi emisi GRK dari setiap skenario. Reduksi emisi dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Reduksi Emisi Skenario = Emisi BAU – Emisi Skenario
Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.15, reduksi emisi di perkotaan yang terbesar adalah skenario SL
Gambar 4.15 Reduksi emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di perkotaan untuk setiap skenario
Gambar 4.16 Reduksi emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di pedesaan untuk setiap skenario
Gambar 4.17 menunjukkan biaya pengelolaan sampah. Gambar 4.18 menunjukkan biaya mitigasi, yaitu biaya pengelolaan sampah skenario tertentu dikurangi dengan biaya BAU.
Gambar 4.17 Biaya Pengelolaan Sampah di perkotaan untuk setiap skenario
Gambar 4.19 Biaya Pengelolaan Sampah di pedesaan untuk setiap skenario
Gambar 4.20 Biaya Mitigasi (Biaya Skenario – Biaya BAU) di pedesaan
Table 4.1 Matriks Perbandingan Skenario Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Sampah di Indonesia untuk wilayah Perkotaan Skenario Periode Akumulasi Reduksi Emisi (Mt CO2) Total Biaya Mitigasi (milyar USD) Abatement Cost (USD/ t CO2) Reduksi Emisi dibandingkan terhadap BAU (%)
Kebijakan yang Diperlukan
Reduksi Sumber 2010 – 2020 17,73 0,13 7,61 5,12% (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.
(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan.
2010 – 2030 45,14 0,13 2,9 11,30%
3R +
Pengomposan 2010 – 2020 143,56 0,16 1,14 37,32%
(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.
(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan.
(3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan persampahan. (4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.
(5)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia. 2010 – 2030 211,17 0,33 1,57 35,58%
SL + CL 2010 – 2020 28,94 0,96 33,34 7,07%
(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan. (5)Pengelolaan persampahan di TPAS dari
open dumping menjadi controlled landi ll di kota kecil dan menengah;
sanitary landi ll di kota besar dan metropolitan.
2010 – 2030 35,77 1,57 43,84 4,74% ICCSR - SektoR LImbah
41
Skenario Periode Akumulasi Reduksi Emisi (Mt CO2) Total Biaya Mitigasi (milyar USD) Abatement Cost (USD/ t CO2) Reduksi Emisi dibandingkan terhadap BAU (%)
Kebijakan yang Diperlukan
SL + LFG 2010 – 2020 159,18 1,49 9,35 42,28%
(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan. (5)Pengelolaan persampahan di TPAS dari
open dumping menjadi controlled landi ll di kota kecil dan menengah;
sanitary landi ll di kota besar dan metropolitan. (6)Peningkatan metoda
pengelolaan gas sampah (landi ll gas – LFG) melalui pengumpulan
dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.
2010 – 2030 243,67 2,27 9,33 43,46%
ICCSR -
SektoR LImbah
Tabel 4.2 Matriks Perbandingan Skenario Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Sampah di Indonesia untuk wilayah Pedesaan Skenario Periode Akumulasi Reduksi Emisi (Mt CO2) Total Biaya Mitigasi (milyar USD) Abatement Cost (USD/t CO2) Reduksi Emisi dbibandingkan terhadap BAU (%)
Kebijakan yang Diperlukan
Reduksi Sumber 2010 – 2020 27,81 0,04 1,56 15,15% (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan.
2010 – 2030 43,66 0,05 1,17 20,02%
3R +
Pengomposan 2010 – 2020 50,40 0,81 16,10 24,76% (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan. (3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan persampahan. (4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA. (7)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.
2010 – 2030 64,14 1,23 19,23 22,41%
ICCSR -
SektoR LImbah