sKenARiO POTensi miTiGAsi DAn
5.2 Isu-isu Strategis Perubahan Iklim Pada Sektor Limbah
Isu peraturan sebagai payung hukum untuk seluruh aktivitas terkait pengelolaan sampah di Indonesia memfokuskan pada peraturan pengelolaan sampah yang baru, yaitu UU No.18/2008, sehingga pengelolaan sampah di seluruh Indonesia harus mengikuti peraturan tersebut. Mengacu pada peraturan tersebut, aktivitas pengelolaan sampah berdasar pada pelayanan publik oleh pemerintah daerah yang menetapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dan mendukung EPR (Extended Producer Responsibility).
Strategi penting lainnya yang tercantum dalam peraturan baru tersebut adalah regulasi untuk pemerintah daerah agar menutup TPA dengan sistem open dumping dan menggantinya dengan controlled landill untuk kota kecil dan menengah serta sanitary landill untuk kota besar dan metropolitan pada tahun 2015. Selain itu, pemerintah daerah harus memonitor dan mengontrol penutupan TPA sampai 20 tahun.
Strategi pendanaan pada umumnya berkaitan dengan fakta bahwa alokasi dana pemerintah daerah untuk pengelolaan sampah masih rendah (< 3 %). Di masa yang akan datang, diharapkan pengelolaan sampah di Indonesia berdasarkan inisiatif pendanaan mandiri, seperti perusahaan sanitasi lokal atau Badan Layanan Umum (BLU). Selain itu, isu pendanaan ini berkaitan juga dengan porsi alokasi dana tahunan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta dengan jumlah retribusi yang didapatkan dari masyarakat untuk pengelolaan sampah.
Dari berbagai strategi yang telah disebutkan di atas, strategi paling penting adalah aspek sosial yaitu partisipasi masyarakat. Tanpa partisipasi masyarakat, semua rencana aktivitas pengelolaan sampah ini
tidak akan terlaksana. Pendekatan signiikan terhadap masyarakat harus dilakukan untuk mendukung
program pemerintah terkait pengelolaan sampah ini.
Dalam hal mitigasi sampah di Indonesia dapat dilakukan upaya-upaya mitigasi dengan berbagai alternatif strategi, seperti di bawah ini:
- Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.
- Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan. - Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse, recycle)
dalam pengelolaan persampahan.
- Mengembangkan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan (dengan menjaga keseimbangan 3 pilar pembangunan, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan) dengan mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan meningkatkan penyerapan karbon
- Menyelenggarakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan yang lebih memperhatikan aspek peningkatan kapasitas (capacity building) SDM dan institusi termasuk kompetensi dan
kemandirian pemda dalam pembangunan infrastruktur yang berwawasan lingkungan serta mendorong peran sektor swasta dan masyarakat.
- Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan antisipatif terhadap perubahan iklim.
- Mengembangkan penerapan EPR (Extended Producer Responsibility) untuk produsen dan importir limbah B3.
- Mengembangkan teknologi peningkatan kualitas landill:
o Controlled Landill (CLF) untuk kota kecil dan menengah,
o Sanitary Landill (SLF) untuk kota besar dan kota metropolitan
o Penghentian Open Dumping
Strategi-strategi kebijakan di atas dijabarkan dalam program-program prioritas terkait mitigasi perubahan iklim yang terbagi dalam empat kelompok utama strategi yaitu:
- kelompok program inventarisasi data dan perencanaan - kelompok program regulasi dan kebijakan
- kelompok program implementasi
- kelompok program capacity program (penguatan institusi pemda, swasta, dan masyarakat)
5.2.1 Kelompok Program Inventarisasi Data dan Perencanaan
Kelompok program inventarisasi data dan perencanaan ini hanya dilaksanakan pada lima tahun awal perencanaan (2010-2014) yaitu berupa kajian inventarisasi dan pengurangan GRK (Gas Rumah Kaca) dari sektor sampah.
5.2.2 Kelompok Program Regulasi dan Kebijakan
Regulasi dan kebijakan mitigasi sampah terbagi dalam empat periode program. Untuk periode tahun 2010-2014, strategi yang akan diterapkan untuk setiap pulau adalah sebagai berikut:
• Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan hidup untuk pengelolaan dan standardisasi persampahan (stepwise approach).
• Penerbitan produk pengaturan pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota yang sesuai NSPK.
• Penyelesaian peraturan di bidang persampahan
• Penyiapan NSPM bidang persampahan.
• Pengaturan, pembinaan, pengawasan, pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi dalam pengelolaan persampahan
• Penyediaan pedoman pengawasan persampahan.
• Pembuatan NSPK bidang persampahan
• Penyediaan Bantek, Bimtek dan pendampingan (SSK) pengelolaan persampahan Periode lima tahun berikutnya (2015-2019) mencanangkan dua program unggulan yaitu:
• Pengawasan dan pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi dalam pengelolaan persampahan
• Pengawasan produk pengaturan pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota yang sesuai NSPK.
Program utama dalam regulasi dan kebijakan pada periode tahun 2020-2024 dan 2025-2030 adalah pengawasan dan evaluasi produk pengaturan pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/ kota yang sesuai NSPK. Program lainnya pada periode 2020-2024 adalah perancangan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public private partnership) dalam pengelolaan persampahan. Sementara untuk periode akhir perancangan roadmap, dilakukan evaluasi implementasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public private partnership) dalam pengelolaan persampahan.
5.2.3 Kelompok Program Implementasi
Kelompok Program Implementasi memiliki program-program utama yang sama bagi 7 pulau utama di Indonesia hanya dengan proporsi pembagian kabupaten/kota yang berbeda dapat dilihat lebih jelas pada Lampiran B (matriks rekomendasi program implementasi mitigasi sektor sampah). Di bawah ini adalah program-program implementasi mitigasi sektor limbah secara umum:
• Pelaksanaan KPS pengembangan persampahan di kabupaten/kota.
• Pengelolaan persampahan di TPAS dari open dumping menjadi controlled landill di kota kecil dan menengah; sanitary landill di kota besar dan metropolitan.
• Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.
68
pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.
• Pengadaan replikasi bantek pengembangan persampahan di kabupaten/kota.
• Penyediaan infrastruktur persampahan di kab/kota di setiap pulau di Indonesia
• Penyediaan fasilitas TPA CDM di kota metropolitan
• Penyediaan fasilitas pengelolaan persampahan
• Pengangkutan sampah di kota/kab di tiap pulau diIndonesia
• Pengangkutan sampah di tiap pulau di Indonesia
• Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.
5.2.4 Kelompok Program Capacity Program
Pemberdayaan masyarakat menjadi aspek penting dalam mitigasi sektor limbah di Indonesia, maka perlu direncanakan program-program yang berkaitan terutama dengan program kemitraan antara masyarakat dan pemerintah daerah serta pengelola persampahan, seperti dijabarkan di bawah ini:
• Penguatan kemitraan pemerintah dan masyarakat.
• Penguatan institusi pemerintah daerah dalam pengelolaan persampahan.
• Pengadaan kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja pengembangan pengelolaan persampahan
• Pengadaan fasilitas bagi kegiatan pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi bidang persampahan melalui kerjasama pemerintah dunia usaha dan masyarakat