• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Hasil Uji Statistik Deskriptif

Sebelum melakukan pengujian secara kemaknaan pengaruh variabel kepatuhan wajib pajak badan terhadap penerimaan pajak dengan penagihan pajak sebagai variabel moderating, terlebih dahulu akan ditinjau mengenai deskripsi variabel penelitian dengan analisis statistik deskriptif. Selengkapnya mengenai hasil statistik deskriptif penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut.

Tabel 4.1

Hasil Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics

Minimum Maximum Mean Std. Deviation N

Penerimaan PPh 31540 118856 5.942E10 2.0843E10 48

Kepatuhan WP 1638 15049 8261.71 4393.877 48

MODERATE 218478.20 3.57232E5 48

Sumber: Data sekunder diolah

Variabel peningkatan penerimaan pajak penghasilan menunjukan nilai minimum 31540 dan maksimun 118856. Hal ini berarti dalam jumlah penerimaan pajak yang diterima oleh kantor pelayanan pajak paling sedikit berjumlah 31540 dalam ratusan ribu rupiah dan paling banyak berjumlah 118856 dalam ratusan ribu rupiah. Rata-rata (mean) variabel peningkatan penerimaan pajak penghasilan sebesar 5.942E10. Hal tersebut berarti rata-rata jumlah penerimaan pajak pada kantor pelayanan pajak berjumlah 5.942E10.

63 Variabel tingkat kepatuhan wajib pajak badan menunjukan nilai minimum dan maksimun sebesar 1638 dan 15049. Hal ini berarti tingkat kepatuhan wajib pajak badan dalam melaporkan Surat Pemberitahuan paling sedikit berjumlah 1638 SPT yang dilaporkan dan paling banyak berjumlah 15049 SPT yang dilaporkan. Rata-rata (mean) variabel tingkat kepatuhan sebesar 8261.71. Hal tersebut berarti rata-rata jumlah SPT Masa yang dilaporkan oleh wajib pajak badan berjumlah 8261.71 SPT.

2. Hasil Uji Asumsi Klasik a. Hasil Uji Normalitas

Pada gambar 4.2 berikut ini disajikan hasil uji normalitas.

Sumber : Data sekunder diolah

Gambar 4.2

Hasil Uji Normalitas dengan Grafik P-Plot Gambar 4.2 memperlihatkan penyebaran data yang berada disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, ini

64 menunjukkan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa uji asumsi normalitas tersebut telah terdistribusi dengan normal dan dapat digunakan dalam penelitian.

b. Hasil Uji Multikolonieritas

Hasil uji multikolonieritas dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini:

Sumber : Data sekunder diolah

Berdasarkan tabel 4.2 diatas terlihat bahwa nilai tolerance

mendekati angka 1 dan nilai variance inflation factor (VIF) disekitar angka 1 untuk setiap variabel yang ditunjukkan dengan nilai tolerance

untuk kepatuhan pajak sebesar 0,910 serta VIF 1,099. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model persamaan regresi tidak terdapat terjadi multiko dan dapat digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 4.2

Hasil Uji Multikolonieritas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 2.702E10 3.707E9 7.288 .000

Kepatuhan WP

3822287.939 416196.140 .806 9.184 .000 .910 1.099

Moderating 3784.835 5119.130 .065 .739 .464 .910 1.099

65 c. Hasil Uji Autokorelasi

Tabel 4.3 berikut ini disajikan hasil uji autokorelasi. Tabel 4.3

Hasil Uji Autokorelasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .828a .685 .671 1.1958E10 1.892

a. Predictors: (Constant), mod, KP b. Dependent Variable: PP

Sumber : Data sekunder diolah

Hasil uji autokorelasi sebagaimana tercantum dalam tabel 4.3, terlihat bahwa nilai Durbin Watson (d) sebesar 1,892. Oleh karena nilai d lebih besar dari batas atas (du), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi positif. Dengan demikian, maka dapat kita simpulkan bahwa model regresi linear berganda terbebas dari asumsi klasik autokorelasi dan dapat digunakan dalam penelitian. Hal ini dikarenakan nilai d > dU, yaitu 1,892 lebih besar dari 1,674.

66 d. Hasil Uji Heterokedastisitas

Hasil uji heterokedastisitas dapat dilihat pada gambar 4.3 dibawah ini:

Sumber : Data sekunder diolah

Gambar 4.3

Hasil Uji Heterokedastisitas dengan Grafik Scatterplot Berdasarkan gambar 4.3, grafik scatterplot menunjukkan bahwa data tersebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y dan tidak terdapat suatu pola yang jelas pada penyebaran data tersebut. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model persamaan regresi, sehingga model regresi layak digunakan untuk memprediksi penerimaan pajak berdasarkan variabel yang mempengaruhinya, yaitu kepatuhan pajak.

67 3. Hasil Uji Hipotesis

a. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Hasil uji koefisien determinasi (R2) penelitian dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.4

Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .828a .685 .671 1.1958E10 1.892

a. Predictors: (Constant), mod, KP b. Dependent Variable: PP

Sumber : Data sekunder diolah

Tabel 4.4 menunjukan angka koefisien determinasi sebesar 0,671, hal ini berarti variabel peningkatan penerimaan pajak dijelaskan oleh variabel tingkat kepatuhan wajib pajak dan interaksi antara tingkat kepatuhan wajib pajak dengan penagihan pajak sebesar 67,1%, sedangkan sisanya 32,9% dijelaskan oleh sebab-sebab atau variabel lain diluar metode penelitian ini.

Dari tabel 4.4 diatas juga diketahui bahwa nilai R adalah 0.828 yang berarti bahwa terjadi hubungan yang kuat antara tingkat kepatuhan wajib pajak dan interaksi antara tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap peningkatan penerimaan pajak dengan penagihan pajak sebagai moderating karena memiliki nilai R > 0,5.

68 b. Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Hasil uji t dapat dilihat dari nilai tingkat kepatuhan pajak dan moderating dalam menerangkan variabel dependen, yaitu nilai peningkatan penerimaan pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5

Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual

Sumber : Data sekunder diolah

Dari tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa koefisien model regresi memiliki nilai konstanta sebesar 0,000 dengan nilai t hitung sebesar 0,728 dan nilai sig. sebesar 0,000. Konstanta sebesar 0,000 menadakan bahwa jika variabel independen konstan maka rata-rata peningkatan penerimaan pajak adalah sebesar 0,000.

Variabel tingkat kepatuhan wajib pajak badan dapat dilihat bahwa t hitungnya sebesar 9,184 dengan probabilitas signifikansi 0,000. Hal ini menunjukan bahwa variabel tingkat kepatuhan wajib pajak badan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan penerimaan

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) 2.702E10 3.707E9 7.288 .000

Kepatuhan WP

3822287.939 416196.140 .806 9.184 .000

Moderating 3784.835 5119.130 .065 .739 .464

69 pajak karena t hitung lebih besar dari t tabel dan probabilitas signifikansinya jauh di bawah 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha1 diterima.

Pada variabel moderating dapat dilihat bahwa t hitungnya sebesar 0,739 dengan probabilitas signifikansi 0,464. Hal ini menunjukan variabel moderating tidak mampu mempengaruhi hubungan antara tingkat kepatuhan wajib pajak badan dengan peningkatan penerimaan pajak karena t hitung lebih kecil dari t tabel dan probabilitas signifikansinya jauh di atas 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Ha2 ditolak.

Dokumen terkait