METODOLOGI PENELITIAN
B. Metode Penentuan Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah wajib pajak badan (perusahaan) yang terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serpong. Metode yang digunakan peneliti dalam pemilihan sampel penelitian adalah pemilihan sampel bertujuan (purposive sampling), dengan teknik berdasarkan pertimbangan (judgement sampling) yang merupakan tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu, umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:131). Berdasarkan metode judgement sampling tersebut, maka sampel yanng digunakan dalam penelitian ini adalah sampel dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011.
48 C. Metode Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data-data pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua cara yaitu penelitian pustaka dan penelitian lapangan.
1. Penelitian Pustaka (Library Research)
Peneliti memperoleh data yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti melalui buku, jurnal, skripsi, tesis, internet, dan perangkat lain yang berkaitan dengan judul penelitian.
2. Penelitian Lapangan (Field Reserch)
Data utama penelitian ini diperoleh melalui penelitian lapangan, peneliti memperoleh data dengan cara melakukan penelitian langsung ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serpong. Yang meliputi data tahun pajak 2008 hingga tahun 2011, yang berupa; data jumlah realisasi penerimaan PPh yang diterima setiap bulannya, jumlah SPT Tahunan yang dilaporkan oleh Wajip Pajak Badan, serta data Surat Paksa yang diterbitkan.
3. Interview (Wawancara)
Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada, sehingga penulis dapat menentukan permasalahan atau variable apa yang arus diteliti. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, maka penulis perlu melakukan wawancara kepada pihak yang mewakili berbagai tingkatan dalam objek yang diteliti. Pada penelitian ini penulis melakukan wawancara kepada bagian seksi Pengolahan Data dan Informasi.
49 D. Metode Analisis Data
Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Statistik Deskriptif
Statistik diskriptif digunakan oleh peneliti untuk memberikan informasi mengenai karakteristik variabel penelitian yang utama dan daftar demografi responden. Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Imam Ghozali, 2011:19).
2. Uji Asumsi Klasik
Untuk melakukan uji asumsi klasik atas data sekunder ini, maka peneliti melakukan uji normalitas, uji multikolonieritas, uji autokorelasi dan uji heteroskedastisitas.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengukur apakah model regresi variabel independen dan dependen keduanya mempunyai distribusi normal atau mendekati normal. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini, uji normalitas menggunakan Normal Probability Plot (P-P Plot).
Suatu variabel dikatakan normal jika gambar distribusi dengan titik-titik data yang menyebar di sekitar garis diagonal, dan penyebaran titik-titik data searah mengikuti garis diagonal (Santoso, 2004:212).
50 b. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghozali, 2011:105).
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi dapat dilihat dari besaran nilai Tolerance dan VIF-nya (Variance Inflation Factor). Regresi bebas dari masalah multikolonieritas jika nilai Tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10 (Ghozali, 2011:106).
c. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penggangu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya (Ghozali, 2011:110).
Dalam mendeteksi ada atau tidaknya problem autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson, dimana nilai DW (d) akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan nilai signifikansi 5%. Apabila nilai (d) berada diantara batas atas (du) dan
51 jumlah variabel independen dikurangi batas atas (k-du), atau (du < d < k-du), maka dapat disimpulkan bahwa kita tidak dapat menolak H0 yang menyatakan bahwa tidak ada autokorelasi positif atau negatif.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah model regresi yang homokedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Imam Ghozali, 2011:139).
Deteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas dapat dilihat dengan ada tidaknya pola tertentu pada grafik scaterplot. Jika ada pola tertentu maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Tetapi jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011:139).
3. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
Moderated Regression Analysis (MRA). Uji interaksi atau sering disebut dengan MRA merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear dimana
52 dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi dengan rumus persamaannya sebagai berikut: (Imam Ghozali, 2009:225)
Y = α + β1X1 + β3 (X1Z1) + ε Dimana:
Y = Peningkatan Penerimaan Pajak
α = Konstanta
β = Koefisien Regresi
X1 = Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Badan Z1 = Penagihan Pajak
X₁*Z1 = Interaksi antara Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Badan dengan Penagihan Pajak
ε = Error
Pengujian hipotesis dilakukan melalui uji koefisien determinan
Adjusted R Square (Adj R2), dan uji t. a. Uji Adj R2
Koefisien determinasi (Adj R2) pada intinya adalah mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai Adj R2 adalah diantara nol dan satu. Jika nilai Adj R2 berkisar hampir satu, berarti semakin kuat kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen dan sebaliknya jika nilai Adj R2 semakin mendekati angka nol, berarti semakin lemah kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen (Ghozali, 2011:97).
b. Uji t
Uji ini pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual (parsial) dalam menerangkan
53 variasi variabel dependen. Langkah yang digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah dengan menentukan level of significance-nya. Level of significance yang digunakan adalah sebesar 5 % atau (α) = 0,05. Jika
sign. t > 0,05 maka Ha ditolak namun jika sign. t < 0,05 maka Ha diterima dan berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali, 2011:98).