• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Tambahan

Hasil tambahan diperoleh melalui pelaksanaan perlakuan GCBT pada kelompok eksperimen yaitu berupa perubahan analisis fungsional. Secara keseluruhan semua partisipan pada kelompok eksperimen mengalami perubahan pada pikiran irasional mereka terkait statusnya sebagai ODHA. Perubahan tersebut dapat dilihat melalui tabel analisis fungsional pada tabel 4.10.

Berdasarkan pada tabel 4.10 dapat diketahui bahwa perubahan pikiran para partisipan saat ini menjadi lebih rasional dan realistis setelah diberikan GCBT.

Pada saat sebelum mengikuti GCBT para partisipan cenderung menyalahkan dan menstigma dirinya sendiri sehingga menghindar dari lingkungannya, sedangkan saat ini dengan pikiran baru yang lebih rasional membuat mereka lebih siap, semangat dan percaya diri untuk kembali ke masyarakat. Para partisipan juga tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri serta fokus pada solusi dari permasalahan yang mereka hadapi.

Berikut pada tabel 4.10 merupakan uraian analisis fungsional kelompok eksperimen setelah diberikan perlakuan:

Tabel 4.10

Analisis Fungsional Kelompok Eksperimen Setelah Perlakuan

Nama Situasi (S) Organism (O) Respon (R) Konsekuensi (C)

“saya bisa mendapatkan pekerjaan seperti ODHA yang lain” menolak karena mereka tidak tau mengenai HIV”

Selain itu, perubahan perilaku yang mereka alami seperti mau bersosialisasi atau mengikuti kegiatan lagi, mempersiapkan diri untuk bekerja, mengatur gaya

hari-hari mereka saat ini terasa lebih bersemangat dan percaya diri untuk menghadapi apapun yang menjadi tantangan bagi mereka sebagai ODHA.

4.5 Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas terapi kognitif perilaku dalam kelompok untuk meningkatkan quality of life pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hipotesis (Ho) yang diajukan adalah tidak ada perbedaan quality of life ODHA yang diberikan terapi kognitif perilaku dalam kelompok dengan ODHA yang tidak diberikan terapi kognitif perilaku dalam kelompok. Pada penelitian ini terdapat kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan, serta kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan yang bertujuan untuk melihat perbedaan quality of life. Perbedaan QOL dilihat dari skala WHOQOL-HIV Bref. Berdasarkan hasil uji statistik Mann-Whitney, Ho ditolak artinya ada perbedaan quality of life pada ODHA yang diberikan terapi kognitif perilaku dalam kelompok dengan ODHA yang tidak diberikan terapi kognitif perilaku dalam kelompok.

Uji statistik Mann-Whitney melihat dari nilai U serta Asymp. Sig <.05. Pada penelitian ini nilai U hitung sebesar 2.000. Selanjutnya nilai U tabel dilihat dari panduan yang dibuat oleh Sani dan Todman (2016) dan didapatkan nilai U tabel sebesar 4. Nilai U hitung lebih kecil daripada U tabel (2<4 ), artinya peningkatan skor QOL pada kelompok eksperimen bermakna. Selain itu, jika dilihat dari nilai Asymp sig (2 tailed), nilai signifikansi yang diperoleh sebesar.028. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil daripada .05 (.028<.05) yang artinya terdapat perbedaan QOL yang signifikan antara ODHA yang diberikan GCBT dengan

meningkatkan QOL, didapatkan hasil sebesar 69% yang berarti G-CBT memiliki efek yang tergolong cukup tinggi dalam meningkatkan QOL.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yousefy.

(2012) pada pasien dengan cardiac vascular, Mazidi et al. (2016) pada kelompok perempuan dengan premenstrual syndrom, Shadegi & Emimapour (2017) pada perempuan dengan kanker payudara, Hadinia & Meyer (2017) pada pasien parkinson, Shareh & Robati (2018) pada pasien scleroris serta Pardeekooper, Thayer, Miller, Nikpour & Gascoigne (2020) pada orang dengan epilepsi. Pada penelitian tersebut partisipan diberikan GCBT yang berfokus merubah pikiran irasional, manajemen stres, serta problem solving sehingga meningkatkan quality of life.

Berdasarkan hasil skor keseluruhan QOL para partisipan, dapat dilihat bahwa kelompok kontrol mengalami peningkatan namun sangat kecil yaitu saat pretest rata-rata 100,4 menjadi 105,8 dengan rata-rata peningkatan partisipan sebesar 5,6.

Namun beda halnya dengan kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan berupa terapi kognitif perilaku dalam kelompok, skor keseluruhan QOL meningkat yaitu saat pretest rata-rata skor kelompok sebesar 96,8 meningkat menjadi 116,8 dengan rata-rata peningkatan sebesar 20 poin.

Terapi kognitif perilaku dalam kelompok (GCBT) yang diberikan pada kelompok eksperimen bertujuan untuk mengubah pikiran irasional mereka sebagai ODHA serta memberikan coping skill. Berdasarkan hasil uji mann-whitney didapatkan Asymp. Sig (2tailed) sebesar .028 (p < .05) yang mengartikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara ODHA yang mengikuti GCBT

Para partisipan mengidentifikasi dampak dari pikiran-pikiran irasional tersebut pada perasaan, perilaku, reaksi fisik serta konsekuensi yang mereka dapatkan melalui intervensi ini. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Lubis et al. (2016) bahwa adanya pikiran irasional membuat ODHA merasa tidak berdaya, tidak memiliki harapan, menganggap diri tidak berarti dan sebagainya yang berdampak pada quality of life yang rendah.

Kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan apapun. Namun hasil yang ditunjukkan adanya peningkatan skor keseluruhan QOL walaupun tidak banyak yaitu rata-rata 5.6. Jika dilihat dari rata-rata pada masing-masing domain QOL, pada kelompok kontrol terdapat beberapa yang meningkat, namun ada juga yang turun. Pada domain spiritual, rata-rata kelompok kontrol mengalami penurunan yaitu dari 11,4 menjadi 10,6. Selanjutnya pada domain kesehatan fisik yang hanya mengalami peningkatan dari 14 menjadi 14,2, domain kesehatan psikologis meningkat dari 12,6 menjadi 14. Lalu pada tingkat kemandirian juga terlihat peningkatan walaupun sangat kecil yaitu dari 14,8 menjadi 15,4 dan hubungan sosial dari 12 menjadi 12,8. Terakhir pada domain lingkungan mengalami peningkatan dari 26 menjadi 28. Jika dilihat dari kategorisasi saat pretest dan posttest, partisipan ED dan SW yang sebelumnya pada kategori tinggi menurun menjadi tidak terkategorisasi. Namun partisipan JS, MM dan UT tetap pada kategori yang sama yaitu tidak terkategorisasi.

Meningkatnya QOL kelompok eksperimen dapat dilihat juga melalui setiap domain pada QOL, yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, lingkungan dan spiritual. Rata-rata skor pretest

persepsi individu terkait kualitas kesehatan fisiknya. Lalu pada domain kesehatan psikologis juga mengalami peningkatan rata-rata dari 12,6 menjadi 16,6. Domain kesehatan psikologis berkaitan dengan persepsi individu terhadap keadaan psikologisnya. Pada awal sebelum diberikan perlakuan, para partisipan berpikir bahwa ia tidak berguna, takut ditolak, tidak percaya diri dan memiliki gambaran diri yang buruk. Hal ini dibuktikan dari peningkatan rata-rata skor QOL sebelum dan sesudah diberikan intervensi sebesar 4 poin serta danya perubahan pada analisis fungsional yang menganggap bahwa mereka bisa sehat lagi, bisa seperti sebelumnya dan seperti orang sehat lainnya.

Domain selanjutnya yaitu tingkat kemandirian para partisipan kelompok eksperimen juga terlihat peningkatan rata-rata, yaitu dari 12,8 meningkat menjadi 15,6. Tingkat kemandirian berkaitan dengan kualitas tingkat kemandirian seperti mobilitas, melakukan aktivitas sehari-hari, mampu bekerja dan sebagainya.

Adanya ketakutan beberapa partisipan kelompok eksperimen terkait tidak mampu bekerja atau bekerja maksimal terlihat juga pada skor pretest, namun meningkat setelah diberikan GCBT dan merubah persepsi mengenai tingkat kemandiriannya.

Lalu pada domain hubungan sosial, rata-rata peningkatan kelompok eksperimen dari skor 13,2 meningkat menjadi 14,4. Domain hubungan sosial berkaitan dengan hubungan pribadi, dukungan sosial, keterlibatan sosial dan sebagainya.

Pada saat sebelum diberikan perlakuan GCBT para partisipan berpikir bahwa orang lain akan mengetahui statusnya dan menolak mereka yang dibuktikan pada skor pretest lalu meningkat setelah diberikan perlakuan GCBT karena juga mengubah persepsi mengenai hubungan sosialnya.

menjadi 28,6. Domain lingkungan berkaitan dengan persepsi ODHA terhadap kualitas lingkungannya. Pada domain ini secara keseluruhan partisipan memiliki persepsi yang baik karena mendapatkan informasi dari lingkungan yang cukup banyak, tempat tinggal yang baik serta adanya jaminan kesehatan. Hal ini juga terlihat pada skor rata-rata yang tidak terlalu banyak berubah. Terakhir pada domain spiritual juga terlihat peningkatan rata-rata kelompok, saat pretest angka yang didapat 11,2 dan meningkat menjadi 15 setelah diberikan GCBT. Domain spiritual berkaitan dengan persepsi ODHA terhadap kepercayaannya. Pada awalnya beberapa partisipan berpikir mengapa mereka harus yang menjadi ODHA, namun setelah diberikan GCBT dan adanya bantuan dari partisipan lain membuat partisipan sepakat untuk memiliki pikiran bahwa Tuhan baik karena menyempatkan mereka untuk bertaubat dan tidak melakukan dosa seperti sebelumnya.

Peningkatan setiap domain pada QOL kelompok eksperimen akan dibahas lebih rinci perindividu misalnya EF yang merupakan partisipan yang mengalami peningkatan paling tinggi. Secara keseluruhan QOL, EF sebelumnya berada pada kategori rendah meningkat menjadi kategori QOL tinggi. EF pada awalnya memiliki skor domain kesehatan fisik sebesar 8 dan meningkat menjadi 15. Saat sebelum diberi perlakuan GCBT, EF berpikir bahwa HIV membuat tubuhnya jelek sehingga juga terlihat pada skornya. Melalui proses GCBT, pikiran irasional EF berubah menjadi berpikir bahwa tubuhnya dapat bagus seperti sebelumnya.

Hal ini diperkuat dengan data bahwa skor posttest meningkat sebanyak 7 poin.

Lalu pada domain kesehatan psikologis EF juga terlihat peningkatan sebanyak 6

diri yang buruk, merasa tidak percaya diri dengan tampilan fisiknya tercemin dari hasil skornya, namun meningkat saat diberikan perlakuan berupa GCBT.

Selain itu, pada domain tingkat kemandirian EF yang juga mengalami peningkatan dari 10 menjadi 17. Pada awalnya EF merasa bahwa keadaan fisiknya yang berubah drastis membuat ia tidak merasa bebas karena takut orang lain akan menilainya buruk namun setelah diberikan GCBT EF merasa siap untuk kembali bekerja dan melakukan kegiatan seperti sebelumnya. Lalu jika melihat pada domain hubungan sosial EF juga mengalami peningkatan dari 11 menjadi 15. EF sebelumnya merasa kehilangan orang-orang yang sebelumnya memujanya dan meninggalkannya karena keadaan fisiknya dan membuat ia tidak percaya diri untuk kembali aktif di lingkungannya. Melalui proses GCBT, EF merasa bahwa hubungan sosialnya bisa seperti sebelumnya yang aktif mengikuti banyak kegiatan agar memiliki banyak teman dan tidak hanya terpaku dengan pikiran negatifnya. Hal ini dibuktikan melalui perubahan skor domain hubungan sosial EF.

Lalu pada domain lingkungan EF tidak terlalu menunjukkan peningkatan karena sudah memiliki persepsi yang baik mengenai lingkungannya. Saat pretest skor EF adalah 32 dan meningkat menjadi 34. EF mengatakan bahwa ia tidak ada masalah dengan lingkungan tempat ia tinggal, merasa aman secara fisik dan sebagainya. Terakhir pada domain spiritual EF mengalami peningkatan dari skor 11 menjadi 16. EF sebelumnya menyalahkan keadaan dan Tuhan mengenai keadaan yang dialaminya, namun melalui proses GCBT dan bantuan para partisipan lain membuat EF percaya bahwa Tuhan sudah memberikan yang

Selanjutnya partisipan lain pada kelompok eksperimen yaitu MI juga memiliki peningkatan pada seluruh domain QOL. Secara keseluruhan QOL, MI sebelumnya berada pada tidak terkategorisasi meningkat menjadi kategori QOL tinggi. Pada domain kesehatan fisik MI mendapatkan skor 12 dan meningkat menjadi 16. Ia memiliki kekhawatitan bahwa keadaan fisiknya membuat dirinya terhambat untuk melakukan aktifitas. Melalui proses GCBT dan bantuan partisipan lain, kekhawatiran MI berkurang. Hal ini juga ditunjukkan pada peningkatan skor domain kesehatan fisiknya sebesar empat poin. Lalu, pada domain kesehatan psikologis MI juga menunjukkan peningkatan dari 13 menjadi 15. MI pada awalnya berpikir bahwa keadaannya menyulitkan dirinya dalam meraih cita-citanya. Namun melalui proses GCBT, pikiran tersebut berubah menjadi lebih logis bahkan beberapa kali membantu temannya dalam menunjukkan bahwa ODHA dapat berdaya jika melihat orang-orang yang sudah berhasil pulih total.

Pada domain lingkungan MI mengalami peningkatan dari 28 menjadi 34. MI menganggap lingkungannya kurang aman karena merasa banyak orang yang berperilaku buruk. Terakhir pada domain spiritual MI juga mengalami peningkatan dari 10 menjadi 16. Pada awalnya MI merasa bahwa Tuhan menghukumnya, namun melalui proses GCBT dan bantuan dari partisipan lain, ia menganggap saat ini bahwa keadaannya merupakan tanda baik dari Tuhan untuk ia karena disuruh untuk taubat dan meninggalkan kegiatan yang berdosa.

Partisipan kelompok eksperimen selanjutnya adalah AM. Secara keseluruhan QOL, AM sebelumnya berada pada tidak terkategorisasi meningkat menjadi

meningkat menjadi 16 setelah mendapatkan perlakuan GCBT. Peningkatan ini tidak terlalu banyak karena AM sebelumnya sudah memiliki persepsi bahwa ia menerima keadaan fisiknya saat ini dan jarang merasa tidak nyaman dengan fisiknya. Namun lain halnya pada domain kesehatan psikologis AM. Pada saat pretest skornya sebesar 12 dan meningkat menjadi 20 setelah diberikan GCBT.

Pada awalnya AM merasa bahwa ia memiliki penyakit yang memalukan sehingga berpengaruh pada persepsinya mengenai diri sendiri, kepercayaan diri dan tidak berguna. Melalui proses GCBT dan bantuan dari partisipan lain pikiran tersebut berubah dan menjadikan AM berpikir bahwa ia dapat menjadi lebih baik seperti sebelumnya. Hal ini terlihat pada peningkatan skornya sebanyak 8 poin.

Pada domain tingkat kemandirian AM juga mengalami peningkatan walaupun tidak banyak yaitu dari 17 menjadi 18. Ia memiliki persepsi bahwa mobilitasnya tidak terganggu, ia tetap dapat bekerja seperti sebelumnya. Namun jika dilihat pada domain hubungan sosial sebelumnya AM berada pada skor 11. Ia memiliki ketakutan ditolak dan tidak didukung oleh orang sekitarnya. Anggapan tersebut membuat hubungan sosialnya dengan orang lain juga terhambat karena sering menghindar. Namun melalui proses GCBT dan bantuan partisipan lain, pikiran AM berubah menjadi lebih logis dan skor QOL meningkat menjadi 15.

Selanjutnya adalah domain lingkungan juga mengalami peningkatan dari 24 menjadi 28. AM merasa lingkungannya sudah cukup baik dan memadai sehingga juga terlihat dari skornya yang tinggi. Pada domain spiritual AM juga mengalami peningkatan dari 13 menjadi 16. AM pada awalnya juga menyalahkan Tuhan mengenai keadaannya, namun adanya bantuan dari partisipan lain, ia saat ini

Partisipan selanjutnya adalah MF. Secara keseluruhan QOL, MF tetap pada kategori yang sama yaitu tidak terkategorisasi. MF juga mengalami peningkatan pada semua skor domain QOL. Domain kesehatan fisik MF mengalami peningkatan dari 10 menjadi 15. MF memiliki persepsi bahwa fisiknya sebelum diberikan GCBT cepat lelah dan merasa tidak dapat bekerja. Melalui proses GCBT, pikiran MF saat ini berpikir bahwa keadaannya sebagai ODHA tidak menghalangi dirinya untuk bekerja. Selanjutnya pada domain kesehatan psikologis, MF mengalami perubahan yang tidak banyak yaitu hanya dari 14 menjadi 15. Ia memiliki gambaran diri yang cukup baik, walaupun terkadang masih berpikir bahwa dirinya tidak baik sehingga membuat tidak percaya diri.

Jika dilihat pada domain tingkat kemandirian, MF tidak menunjukkan peningkatan skor. Ia tetap pada angka 15. MF merasa mobilitasnya masih tidak terbatas, ia mampu untuk bepergian sendirian. Namun jika melihat hubungan sosial, skor sebelumnya yaitu 11. MF memiliki kekhawatiran bahwa orang lain akan menolak dirinya jika mengetahui ia seorang ODHA. ketakutan-ketakutan tersebut membuat ia menarik diri dan tidak mau bergaul. Namun setelah diberikan GCBT pikiran tersebut menjadi lebih rasional. Hal ini terbukti dari skornya yang meningkat menjadi 15.

Pada domain lingkungan MF, skor yang didapat 27 dan hanya meningkat dua poin menjadi 29. MF mempunyai persepsi bahwa lingkungannya sehat, baik dan aman. Lalu pada domain spiritual, MF mengalami peningkatan dari 13 meningkat menjadi16. MF sebelumnya sering berpikir mengenai kesalahan-kesalahannya sehingga menyalahkan diri. Melalui GCBT, pikiran tersebut berubah menjadi

Partisipan terakhir pada kelompok eksperimen yaitu MU. Berdasarkan dari kategorisasi kuartil QOL skor posttest kategori MU menurun dari tidak terkategorisasi menjadi kategori rendah, walaupun jika dilihat secara keseluruhan skor total QOL MU meningkat dari 85 menjadi 92 saat posttest. Hal ini terjadi bisa dikarenakan MU belum menerapkan perubahan dari alternatif pikiran barunya sehingga peningkatan skornya tidak banyak. Jika dilihat lebih rinci pada domain QOL, domain kesehatan fisik MU mengalami peningkatan dari 11 menjadi 13. Ia memiliki pikiran bahwa kondisinya saat itu membatasi dirinya untuk bekerja. Melalui proses GCBT pikiran tersebut berubah, namun belum terlihat pada skor domain ini. Begitu juga pada domain kesehatan psikologis yang juga hanya meningkat tiga poin, dari 10 menjadi 13. Ia memiliki ketakutan orang lain akan menjauhinya dan ditolak seperti pengalaman sebelumnya. Melalui proses GCBT, MU dibantu untuk memecahkan ketakutannya tersebut sehingga ia memiliki pikiran baru bahwa ia bisa seperti dahulu lagi. Hal ini terlihat juga pada peningkatan skor sebanyak tiga poin pada domain kesehatan psikologis.

Pada domain hubungan sosial, MU tidak memiliki peningkatan yang tinggi.

Skor sebelum diberikan GCBT sebesar 11 dan meningkat menjadi 12. Ia memiliki ketakutan untuk ditolak oleh lingkungan sekitarnya karena ia memiliki pengalaman dijauhi orang satu kampong ketika mengetahui statusnya sebagai ODHA. Melalui proses GCBT, MU mengakui bahwa ketakutannya sudah menurun dan pikiran barunya bahwa ia bisa menjadi seperti sebelumnya. Hal ini tidak terlalu terlihat pada skor MU. Lalu pada domain spiritual peningkatan skor MU dari angka 8 menjadi 10. Sebelum mengikuti GCBT, MU memiliki pikiran

bahwa terdapat keadaan yang lebih parah dari dirinya dan akhirnya mengubah pikirannya bahwa keadaan saat ini sudah yang terbaik dari Tuhan.

Selanjutnya pada domain tingkat kemandirian dan lingkungan, MU tidak menunjukkan perubahan skor. MU memiliki persepsi bahwa mobilitasnya tidak terbatas karena kondisinya sebagai ODHA serta masih dapat menjalankan pekerjaannya walaupun sesekali merasa kelelahannya karena kondisi fisiknya.

Begitu juga pada domain lingkungan, MU berpikir bahwa lingkungan fisiknya sudah baik, aman dan bersih. Hal ini terlihat bahwa tidak ada perbedaan skor setelah diberikan GCBT.

Pemberian GCBT pada kelompok eksperimen juga mencakup coping skill.

ODHA seringkali menerapkan coping menghindar saat menghadapi situasi menekan seperti yang diungkapkan pada penelitian yang dilakukan oleh Basavaraj et al. (2013). Penelitian tersebut mengatakan bahwa coping menghindar merupakan salah satu bentuk ketidakberdayaan ODHA. Pada proses GCBT, para partisipan mengidentifikasi coping yang mereka gunakan sebelumnya serta menyiapkan coping plan yang dapat mereka terapkan saat menghadapi situasi menekan. Adanya coping plan membuat mereka lebih siap dalam menghadapi masyarakat atau situasi-situasi tidak terduga kedepannya.

Data ini juga terlihat pada domain hubungan sosial terdapat peningkatan rata-rata dari 13,2 menjadi 14,4 serta pada domain kesehatan psikologis yaitu dari rata-rata 12,6 menjadi 16,6. Hal ini berarti para partisipan tidak lagi merasa negatif, merasa memiliki self esteem yang baik dan gambaran diri dan penampilan yang baik.

bahwa kebersamaan dan menerima dukungan serta empati dari anggota kelompok saat terapi memberikan efek yang besar pada pembelajaran masalah dan proses memecahkan masalah. Jika dilihat dari proses intervensi GCBT, para partisipan membantu satu sama lain dengan memberikan masukan dan ikut menantang pikiran irasional partisipan lain sehingga lebih memudahkan mereka pada proses insight.

Berdasarkan pembahasan ini dapat diketahui bahwa terapi kognitif perilaku dalam kelompok efektif dalam meningkatkan quality of life ODHA. Efektifitas ini dapat diketahui berdasarkan analisis statistik Mann-Whitney serta adanya data tambahan berupa skor rata-rata partisipan pada masing-masing domain dan perubahan pikiran irasional ODHA pada analisis fungsional. Perubahan pikiran irasional berdampak pada persepsi mereka terhadap diri mereka dan berpengaruh pada QOL yang tinggi. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Basavaraj et al. (2013); Lubis et al. (2016) dan Nobre et al. (2018) bahwa faktor yang mempengaruhi QOL ODHA adalah adanya stigma negatif mengenai diri sendiri, coping style, serta adanya internalisasi pengalaman negatif yang pernah mereka alami.

Berdasarkan dari hasil penelitian yang signifikan, menggambarkan bahwa GCBT memiliki kelebihan untuk meningkatkan QOL ODHA. Hal ini sesuai dengan definisi dari QOL bahwa persepsi individu mengenai keseluruhan kualitas hidupnya sehingga ketika pikiran irasionalnya diubah maka akan mengubah persepsi mengenai QOL individu tersebut. Selanjutnya jika melihat effect size yang besar pada penelitian ini, tentu saja hal ini masih belum bisa dijadikan

kognitif perilaku dalam kelompok dapat dijadikan salah satu alternatif atau intervensi kedua setelah medis untuk meningkatkan quality of life ODHA.

BAB 5

Dokumen terkait